35
Thalassemia pada Anak Maria Mustika Dewanti* 102011072 Pendahuluan Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited) dan masuk ke dalam kelainan hemoglobinopati, yakni kelainan yang di sebabkan oleh penurunan sintesis atau kemampuan produksi satu atau lebih rantai globin α atau β, ataupun rantai globin lainnya. Pada saat transkripsi dan translasi dalam pembentukan asam amino dalam tubuh yang merupakan bahan pembentukan protein terjadi kesalahan pada pengekspresian gen khususnya pada gen globin. Maka, protein globin yang dihasilkan tidak dapat berikatan dengan heme membentuk hemoglobin. Sehingga, kadar haemoglobin pada penderita itu menurun. Akibatnya, terjadi thalassemia yang jenisnya sesuai dengan rantai globin yang terganggu produksinya. 1 Hemoglobin merupakan cairan berwarna merah yang berada dalam eritrosit. Apabila eritrosit dilisiskan, cairan ini ke luar dan disebut hemolisat. Hemoglobin berfungsi untuk menangkap dan mengikat oksigen di paru-paru dan melepaskannya di jaringan. Di jaringan hemoglobin berfungsi untuk menagkap dan mengikat karbondioksida dan melepaskannya di paru-paru. Struktur hemoglobin terdiri dari molekul Hb dan gugus globin. Tiap molekul Hb terdiri dari empat (4) gugus Heme dan satu(1) gugus globin. 1

Penda Hulu An

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mAKALAH

Citation preview

Page 1: Penda Hulu An

Thalassemia pada Anak

Maria Mustika Dewanti*

102011072

Pendahuluan

Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited) dan masuk ke

dalam kelainan hemoglobinopati, yakni kelainan yang di sebabkan oleh penurunan sintesis atau

kemampuan produksi satu atau lebih rantai globin α atau β, ataupun rantai globin lainnya. Pada

saat transkripsi dan translasi dalam pembentukan asam amino dalam tubuh yang merupakan

bahan pembentukan protein terjadi kesalahan pada pengekspresian gen khususnya pada gen

globin. Maka, protein globin yang dihasilkan tidak dapat berikatan dengan heme membentuk

hemoglobin. Sehingga, kadar haemoglobin pada penderita itu menurun. Akibatnya, terjadi

thalassemia yang jenisnya sesuai dengan rantai globin yang terganggu produksinya.1

Hemoglobin merupakan cairan berwarna merah yang berada dalam eritrosit. Apabila

eritrosit dilisiskan, cairan ini ke luar dan disebut hemolisat. Hemoglobin berfungsi untuk

menangkap dan mengikat oksigen di paru-paru dan melepaskannya di jaringan. Di jaringan

hemoglobin berfungsi untuk menagkap dan mengikat karbondioksida dan melepaskannya di

paru-paru. Struktur hemoglobin terdiri dari molekul Hb dan gugus globin. Tiap molekul Hb

terdiri dari empat (4) gugus Heme dan satu(1) gugus globin. Satu gugus globin terdiri dari dua

pasang rantai polipeptida. Rantai polipeptida ini merupakan rangkaian dari asam amino. Rantai

polipeptida terdiri dari rantai α, rantai β, rantai γ, rantai δ, rantai ε, dan rantai ζ.

*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 06 Jakarta 11510

email: [email protected]

Skenario 9

Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan utama pucat

sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan disertai mudah lelah dan lesu. Riwayat demam dan perdarahan

1

Page 2: Penda Hulu An

tidak ada. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan denyut nadi 130X/menit, TD 80/50mmHg, sclera

dan kulit ikterik (+), konjungtiva anemis (+), splenomegaly (+).

Anamnesis

Anamnesis yang dilakukan pada pasien anak biasanya adalah alloanamnesis, dimana

setiap pertanyaan yang dibutuhkan untuk diagnosis kasus tersebut ditanyakan kepada orangtua

atau yang mengantar anak tersebut. Namun bisa juga pada anaknya sendiri jika anak tersebut

sudah bisa berbicara tentang bagaimana penyakitnya. Ditanyakan identitas anak tersebut serta

identitas kedua orangtuanya. Kemudian setelah itu ditanyakan keluhan utamanya. Pada kasus ini

keluhan utamanya adalah pucat sejak 3 bulan lalu, sehingga perlu ditanyakan riwayat penyakit

sekarangnya yaitu kronologi yang jelas dan singkat mengenai peristiwa seputar masalah. Kapan

penyakit dimulai ? bagaimana perubahannya sepanjang waktu, semakin membaik atau semakin

memburuk ? pemeriksaan apa dan pengobatan apa yang sudah dilakukan ? kemudian setelah itu

dilakukan anamnesis medis. 2,3

Riwayat prenatal, yaitu kenaikan berat badan ibu, jumlah kehamilan, lama kehamilan,

komplikasi, perdarahan abnormal, penyakit, pajanan terhadap penyakit, dan obat yang

digunakan. Riwayat kelahiran yaitu paritas ibu, berat lahir, lama persalinan, induksi, anestesi,

dan penggunaan forceps. Riwayat Neonatal yaitu ikterus, sianosis, masalah respirasi, kondisi saat

lahir, adanya temuan fisik yang berhubungan dengan masalah sekarang, metode pemberian

makanan, lamanya di rumah sakit, dan saat keluar rumah sakit bersama ibu. Riwayat

perkembangan yaitu tahap perkembangan tersenyum, tengkurap, duduk, berdiri, berbicara, dan

latihan buang air. Pertambahan berat badan dan tinggi badan. Riwayat perilaku yaitu

kepribadian, teman, aktivitas bermain, minat, program televise favorit, tidur, dan makan.

Riwayat imunisasi yaitu ringkasan jenis dan waktu pemberian imunisasi, waktu pemberian

booster terakhir, dan hasil tes TB terakhir. Riwayat penyakit dahulu yaitu riwayat penyakit masa

kanak-kanak dan perkiraan frekuensi terkena infeksi. Riwayat bedah yaitu operasi, komplikasi,

dan waktu setiap pembedahan. Kemudian ditanyakan juga riwayat keluarganya yaitu usia

orangtua dan saudara kandung, dan riwayat penyakit keluarga, yaitu kejang, asma, kanker,

masalah perilaku, alergi, penyakit jantung, serangan jantung, kelainan darah seperti anemia,

leukemia, kematian yang tidak diketahui sebabnya, dan kelainan lemak. Dan juga ditanyakan

kematian di dalam keluarga yaitu penyebab dan usia kematian. Yang terakhir ditanyakan adalah

2

Page 3: Penda Hulu An

riwayat social yang meliputi orang yang tinggal serumah, jadwal tidur, status perkawinan

orangtua, pekerjaan orangtua, dan status asuransi kesehatan.2,3

Hasil anamnesis

Anak laki-laki yang berusia 6 tahun dengan keluhan utama pucat sejak 3 bulan yang lalu

disertai mudah lelah dan lesu. Tida ada riwayat demam dan perdarahan.

Pemeriksaan Fisik

Yang dinilai pertama kali adalah gambaran umum pasien yaitu usia, kooperatif, bukti

penyakit yang akut atau kronis, dan deformitas. Kemudian pengukuran dan tanda vital yaitu

tinggi badan atau panjang badan dan berat badan yang dibandingkan dengan persentil rata-rata

menurut usia.3,4

Nilai normal menurut WHO untuk tanda-tanda vital adalah :4

Nadi

Bayi                : 120-130 x/mntAnak              : 80-90 x/mntDewasa          : 70-80 x/mntLansia            : 60-70 x/mnt

Catatan :Takikardia (Nadi di atas normal)     : Lebih dari 100 x/mntBradikardia (Nadi dibawah normal) : Kurang dari 60x/mnt

Tekanan darah

Bayi                          : 70-90/50 mmHgAnak                         : 80-100/60 mmHgRemaja                     : 90-110/66 mmHgDewasa muda           : 110-125/60-70 mmHgDewasa tua               : 130-150/80-90 mmHg

Catatan :Hipotensi : Kurang dari 90/60 mmHgNormal                      : 90-110/60-80 mmHgPre Hipertensi              : 120-140/80-90 mmHg

3

Page 4: Penda Hulu An

Hipertensi Stadium 1   : 140-160/90-100 mmHgHipertensi Stadium 2   : Lebih dari 160/100 mmHg

Suhu Tubuh

Normal                    : 36,6oC - 37,2 oCSub Febris               : 37 oC - 38 oCFebris                      : 38 oC - 40 oCHiperpireksis          : 40 oC - 42 oCHipotermi                : Kurang dari 36 oCHipertermi              :  Lebih dari 40 oC

Catatan :Oral       : 0,2 oC – 0,5 oC lebih rendah dari suhu rektalAxilla      : 0,5 oC lebih rendah dari suhu oral

Pernapasan / Respirasi

Bayi              : 30-40 x/mntAnak              : 20-30 x/mntDewasa          : 16-20 x/mntLansia            : 14-16 x/mnt

Catatan :Dispnea : Pernapasan yang sulitTadipnea : Pernapasan lebih dari normal ( lebih dari 20 x/menit)Bradipnea : Pernapasan kurang dari normal ( kurang dari 20 x/menit)Apnea : Pernapasan terhentiIpnea               : Pernapasan normal

Kemudian setelah itu periksa kulit yaitu lihat ada ruam, ikterik, dan tanda yang

membedakan seperti nevi atau hemangioma. Mata dilihat warna sclera, warna konjungtiva dan

kejernihan mata. Dada, dilihat bentuk, pergerakan yang seimbang secara keseluruhan saat

respirasi. Paru, dilihat ada retraksi atau tidak pada thorax, kesimetrisan saat perkusi, udara yang

masuk, suara napas yang terdengar jelas di semua segmen, terdengar rales, mengi, ronki (suara

yang di transmisikan dari saluran napas bagian atas). Jantung, dilihat ada pulsasi atau tidak,

thrill, kemudahan mendengar suara jantung, kualitas suara jantung, deskriosi suara jantung kedua

di basis jantung, frekuensi denyut jantung, irama jantung, lokasi murmur. Abdomen dilihat

bentuknya (distensi atau datar ), vena yang terlihat, peristaltic, kualitas bising usus, nyeri atau

4

Page 5: Penda Hulu An

tidak, organ teraba (jika ada pembesaran hepar atau lien/limpa). Kemudian ekstremitas, di

perhatikan jangkauan pergerakannya, deformitas, pincang, dislokasi panggul. Otot juga perlu di

tes untuk mengetahui bagaimana tonus dan kekuatan ototnya.3

Hasil Pemeriksaan Fisik

Denyut nadi: 130x/menit, TD: 80/50 mmHg, sclera dan kulit ikterik, konjungtiva anemis,

dan pada palpasi abdomen teraba adanya pembesaran limpa (splenomegaly).

Pemeriksaan Penunjang

Anemia biasanya berat, dengan kadar Hb berkisar 3-9 g/dL. Eritrosit memperlihatkan

anisositosis, poikilositosis, dan hipokromia berat. Sering ditemuakn sel target dan tear drop cell.

Normoblas (eritrosit berinti) banyak dijumpai pasca splenoktomid. Gambaran sumsum tulang

memperlihatkan eritropoiesis yang hiperaktif sebanding dengan anemianya. Diagnosis definitif

ditegakkan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb. Pada talasemia beta kadar HbF bervariasi 10-

90%,sedangkan dalam keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%Pada pemeriksaan

laboratorium, penderita thalassemia berat memiliki penurunan Hemoglobin (2-5 g/dl),

hematokrit, eritrosit, MCV, MCHC, MCH, namun terjadi kenaikan retikulosit. Pada anak-anak,

jumlah hemoglobin normal adalah 10 – 16 gr/dl, jumlah AL adalah 9000-12.000/ μl, AL pada

anak-anak adalah 200.000-400.000 / μl darah, dan Hematokrit pada anak-anak adalah 33-38

volume %. CBC (Complete Blood Count) pemeriksaan ini akan memberikan informasi mengenai

berapa jumlah sel darah merah yang ada, berapa jumlah hemoglobin yang ada di sel darah

merah, dan ukuran serta bentuk dari sel darah merah.4,5

Diketemukan Hb F meningkat : 20%-90% Hb total, elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan

mengukur kadar Hb F, pemeriksaan pedigree : kedua orangtua pasien thalassemia mayor

merupakan trait  (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb total) pada penderita

talasemia.4

Sediaan Darah Apus. Pada pemeriksaan ini darah akan diperiksa dengan mikroskop untuk

melihat jumlah dan bentuk dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Selain itu dapat

juga dievaluasi bentuk darah, kepucatan darah, dan maturasi darah. Pada penderita talasemia

didapatkan gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis berat

5

Page 6: Penda Hulu An

dengan makro ovalositosis, mikrosferosit, polikromasi,basophilic stippling, benda Howell-Jolly,

poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.4

Gambar 1 Morfologi sel darah pada thalasemia 4

Indeks sel darah merah (MCV,MCH,MCHC,RDW)

Anak : SDM = 3,8-5,5 (juta/mikroliter x 10^12/liter)

MCV : 82-92 fl.

MCH : 27-31 pg.

MCHC : 32-36%

RDW : 11,5-14,5

Indeks sel darah merah meliputi hitung SDM, ukuran SDM (MCV=corpuscular volume,

MCH=corpuscular hemoglobin, MCHC=mean corpuscular hemoglobin concentration) dan

perbedaan ukuran (RDW=RBC distribution width).

MCV mengindikasikan ukuran SDM : mikrositik (ukuran kecil), normositik (ukuran normal),

dan makrositik (ukuran besar). Penurunan MCV atau mikrosit, dapat menjadi indikasi terjadinya

anemia defisiensi zat besi, malignansi, RA, hemoglobinopati (talasemia, anemia sel sabit,

hemoglobin C), keracunan timbal, radiasi. Peningkatannya dapat menjadi anemia makrositik

(aplastik, hemolitik, pernisiosa), penyakit hati kronis, hipotiroidisme, defisiensi vitamin B12.

6

Page 7: Penda Hulu An

MCH : mengindikasikan berat hemoglobin di dalam SDM, tanpa memerhatikan ukurannya. Pada

anemia makrositik nilai MCH meningkat, sedangkan pada anemia mikrositik hipokrom nilainya

menurun.4

MCHC mengindikasikan konsentrasi hemoglobin per unit volume SDM. Penurunan nilai

MCHC dapat mengindikasikan anemia hipokromik, anemia defisiensi zat besi, talasemia.4

RDW perbedaan ukuran dari SDM (pengukuran luas distribusi ukuran kurva pada

histogram). Nilai RDW berguna untuk memperkirakan terjadinya anemia dini, sebelum nilai

MCV berubah dan sebelum terjadi tanda dan gejala. Peningkatan nilai RDW mengindikasikan

anemia defisiensi zat besi, anemia defisiensi asam folat, anemia pernisiosa, homozigos

(hemoglobinopati S,C,H). Nilai RDW dan MCV digunakan untuk membedakan berbagai

gangguan SDM.4

Working Diagnosis

Working diagnosis pada kasus ini adalah thalassemia. Thalassemia merupakan suatu

sindrom yang mencerminkan sekelompok gangguan diwariskan yang disebabkan oleh kelainan

sintesis rantai polipeptida alfa atau beta hemoglobin manusia. ketidakseimbangan sintesis rantai

globin menyebabkan dihasilkannya kompleks hemoglobin yang tidak stabil. Hal ini

menyebabkan presipitasi lisis rantai globin yang tidak berpasangan dengan eritrosit. Misalnya

pada thalasemia β terjadi kelebihan rantai globin α. Rantai α yang bebas ini tidak stabil,

mengalami presipitasi dalam eritrosit dan membentuk inclusion bodies sejak eritrosit masih

muda, sehingga eritrosit ini harus dihancurkan (eritropoiesis inefektif). Eritrosit yang lolos ke

sirkulasi darah akan dihancurkan di limpa, dengan akibat terjadi splenomegali sampai

hipersplenisme. Ketidakseimbangan rantai globin α dan β ini berkurang bila thalasemia α dan β

terjadi bersamaan dan dengan demikian gambaran klinisnya lebih ringan. Komplikasi

thalassemia disebabkan oleh anemia, hemolisis, dan peningkatan kompensasi produksi eritrosit.5,6

Klasifikasi Thalassemia

Thalassemia di klasifikasikan menjadi beberapa jenis menurut kelainan pada rantai

globinnya. Thalassemia α yang terjadi akibat berkurangnya (defisiensi parsial atau defisiensi

total) produksi rantai globin α. Thalassemia β terjadi akibat berkurangnya rantai globin β atau

tidak di produksi sama sekali rantai globin β. Thalassemia δβ terjadi akibat berkurangnya atau

tidak diproduksinya kedua rantai δ dan rantai β. Hal yang sama pun terjadi pada thalassemia γδβ,

7

Page 8: Penda Hulu An

dan thalas semia αβ, yang terakhir adalah heterozigot ganda thalassemia α atau β dengan varian

hemoglobin thalassemik: contohnya pada thalassemia β atau HbE yaitu yang diwarisi oleh salah

satu orangtuanya yang sebagai pembawa sifat thalassemia β, dan yang lainnya adalah pembawa

sifat HbE. 1

Thalassemia β

a) Syndrome thalassemia β dikategorikan atas 3 derajat beratnya keadaan klinis. Pasien

thalassemia mayor atau anemia cooleys mengalami anemia hipokromik sedang sampai

berat dan bergantung pada tranfusi darah. Thalasemia Mayor terjadi bila kedua orang tuanya

membawa gen pembawa sifat thalassemia. Gejala penyakit muncul sejak awal masa kanak-

kanak dan biasanya penderita hanya bertahan hingga umur sekitar 2 tahun. Penderita

memerlukan transfusi darah seumur hidupnya.5

Pasien talassemia intermedia mengalami anemia hipokromik ringan sampai sedang dan

tidak tergantung pada tranfusi darah. Pasien thalassemia minor atau talasemia β bersifat

asimptomatikg gejala yang muncul pada penderita Thalasemia minor bersifat ringan, biasanya

hanya sebagai pembawa sifat. Istilah Thalasemia trait digunakan untuk orang normal namun

dapat mewariskan gen thalassemia pada anak-anaknya.5

Jika dua orang tua dengan beta thalassemia trait (carriers) mempunyai seorang bayi, salah

satu dari tiga hal dapat terjadi:

Bayi bisa menerima dua gen normal (satu dari masing-masing orang tua) dan

mempunyaidarah normal (25 %).

Bayi bisa menerima satu gen normal dan satu varian gen dari orangtua yang thalassemia trait

(50 persen).

Bayi bisa menerima dua gen thalassemia (satu dari masing-masing orangtua) dan menderita

penyakit bentuk sedang sampai berat (25 persen). Dan mengalami anemia hipokromik

ringan. Thalassemia β harus dibedakan dengan anemia defisiensi besi. Pasien yang menderita

thalassemia β, dapat memiliki MCV yang kurang dari 75 fentoliter disertai peningkatan

jumlah (massa) eritrosit. Juga, pada pasien-pasien yang memiliki sifat talasemia β, MCV

terlalu rendah untuk anemia ringan jika anemia tersebut akibat defisiensi besi. Elektroforesis

hemoglobin akan menunjukkan peningkatan jumlah HbA2 atau peningkatan jumlah HbF,

atau keduanya. Hasil pemeriksaan besi pada pasien talasemiaβ dapat tidak memberi kesan

8

Page 9: Penda Hulu An

adanya defisiensi besi. Akan tetapi defisiensi besi dan sifat talasemia β dapat muncul

bersamaan. 5

Penderita talasemia β mayor biasanya datang untuk dievaluasi dalam usia 2 tahun

pertama kehidupan dengan keluhan pucat. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai tanda-tanda

hematopoiesis ekstramedular. Anemia hipokromik mikrositik dapat berat, dengan kadar

hemoglobin berkisar 3-4. Pada pemeriksaan elektoforesis, kadar hemoglobin A dapat rendah atau

tidak dijumpai sama sekali. Pemeriksaan besi pada pasien-pasien ini dapat memperlihatkan

peningkatan kadar feritin yang sesuai dengan peningkatan absorpsi besi. Pada kedua orangtua

pasien sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Jika terdapat anemia mikrositik pada

salah satu atau kedua orang tua pasien maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan elektroforesis

hemoglobin. Terapi tranfusi ditujukan untuk mengobati anemia dan menurunkan produksi

eritrosit endogen. Splenektomi diindikasikan pada paisen yang mengalami peningkatan

kebutuhan tranfusi eritrosit atau pasien-pasien yang mengalami retardasi pertumbuhan yang

signifikan.5,6

Thalassemia α

Thalassemia α terjadi dimana satu atau lebih varian gen ini hilang. Delesi gen globin-α

menyebabkan sebagian besar kelainan ini. Talasemia α dapat dibagi 4 klasifikasi klinis. Karier

laten (silent carrier) talasemia α terjadi delesi satu gen globin-α menghasilkan pengidap tenang

fenotip talasemia α, ditandai dengan tidak di temukannya penyakit klinis dan kadar hemoglobin

serta MCV yang normal. Pasien yang memiliki sifat talasemia α atau talasemia trait

mengalami anemia mikrositik ringan karena terjadi kekurangan dua gen globin-α. Lagipula

derajat mikrositosis tidak sesuai dengan derajat anemia, sehingga menyingkirkan diagnosis

anemia defisiensi besi. Penyakit hemoglobin H ditandai dengan anemia hipokromik mikrositik

sedang-berat. Karena terjadi delesi tiga gen globin-α menyebabkan kelebihan rantai beta

sehingga akan membentuk tetramer yang terlihat sebagai migrasi hemoglobin yang cepat disebut

sebagai “hemoglobin H”. Hemoglobin Bart’s atau tetramer rantai gamma globin dapat juga

terjadi pada neonatus yang menderita penyakit hemoglobin H atau sifat thalasemiaα. Dapat

terjadi anemia berat, dengan kadar hemoglobin berkisar 3-4. Episode hemolitik dapat di

eksaserbasi oleh demam atau infeksi. Splenektomi dapat bermanfaat pada hipersplenisme yang

berkaitan dengan memburuknya anemia. Bentuk thalasemia α yang paling berat hidrops fetalis,

9

Page 10: Penda Hulu An

yang disebabkan oleh mutasi keempat gen alfa. Bayi-bayi ini gagal memproduksi alfa globin

sewaktu masih berada di dalam rahim, sehingga bayi ini lahir mati.5,6

Differential Diagnosis

Anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi

untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya

mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi ditandai oleh

anemia hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong.

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering dijumpai, terutama di Negara-

negara tropic atau Negara dunia ketiga, oleh karena sangan berkaitan erat dengan taraf social-

ekonomi. Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk dunia yang memberikan dampak

kesehatan yang sangat merugikan serta dampak social yang cukup serius.6

Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya masukan besi, gangguan

absorbs, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun, yaitu dapat berasal dari saluran cerna,

akibat tukak peptic, kanker lambung, kanker kolon, dan hemoroid. Factor nutrisi juga dapat

mempengaruhi kadar besi dalam tubuh, sehingga menyebabkan anemia yaitu jika jumlah besi

total dalam makanan berkurang, atau kualitas besi (biovailabilitas) besi yang tidak baik

(makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging). Anemia defisiensi besi juga dapat

terjadi pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan karena kebutuhan besi

yang meningkat. Serta dapat terjadi juga karena adanya gangguan absorbs besi seperti pada

gastrektomi dan colitis kronik.6

Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi makin

menurun. Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut iron depleted state atau negative iron

balance. Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum, peningkatan absorbsi besi

dalam usus, serta pengecatan besi dalam sumsum tulang negative. Apabila kekurangan besi

berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk

eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk erotrosit tetapi anemia

secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut sebagai iron deficient erythropoiesis. Pada fase

ini kelainan pertama yang dijumpai adalah peningkatan kadar free protophorphyrin atau zinc

10

Page 11: Penda Hulu An

protophorpyrin dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan total iron binding capacity

(TIBC) meningkat. Akhir-akhir ini parameter yang sangat spesufik ialah peningkatan reseptor

transferin dalam serum. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu

sehingga kadar hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer,

disebut sebagai iron deficiency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel

serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut, dan faring

serta berbagai gejala lainnya.6,7

Secara laboratories untuk menegakkan defisiensi besi dapat dipakai criteria diagnosis

anemia defisiensi besi yaitu, ditemukan adanya gambaran anemia hipokromik mikrositer pada

hapusan darah tepi, atau MCV <80 fl dan MCHC <31%. Kemudian jika ditemuakan dua dari tiga

parameter dibawah ini yaitu, besi serum <50mg/dl; TIBC>350mg/dl; Saturasi transferin <15%,

atau feritin serum <20mg/l. dapat juga dilakukan pengecatan pada sumsum tulang dengan biru

prusia (perl’s stain) menunjukkan cadangan besi (butir-butir hemosiderin) negative atau bisa juga

dengan pemberian sulfas ferosus 3x200mg/hari (atau preparat besi yang lain yang setara) selama

4 minggu disertai kenaikan kadar hemoglobin lebih dari 2 g/dl.6

Anemia pada Penyakit Kronis

Anemia sering dijumpai pada pasien dengan infeksi atau inflamasi kronis maupun

keganasan. Anemia ini umumnya ringan atau sedang, disertai oleh rasa lemah dan penurunan

berat badan dan disebut anemia pada penyakit kronis. Penyakit infeksi seperti pneumonia, sifilis,

HIV-AIDS dan juga pada penyakit lain seperti arthritis rheumatoid, limfoma hodgin dan kanker

sering disertai anemia dan disebut sebagai anemia pada penyakit kronis. Pada umumnya anemia

pada penyakit kronis ditandai oleh kadar Hb berkisar 7-11g/dL, kadar Fe serum menurun,

disertai TIBC yang rendah, cadangan Fe yang tinggi di jaringan serta produksi sel darah merah

berkurang. Derajat anemia sebanding dengan berat ringannya gejala, seperti demam, penurunan

berat badan, dan debilitas umum. 6,7

Pathogenesis anemia pada penyakit kronis dibagi menjadi tiga bagian penting yaitu

karena pemendekan masa hidup eritrosit, dimana anemia pada kedaan ini terjadi karena adanya

sindrom stress hematologic, dimana terjadi produksi sitokin yang berlebihan karena kerusakan

jaringan akibat infeksi, inflamasi atau kanker. Sitokin tersebut dapat menyebabkan sekuestrasi

11

Page 12: Penda Hulu An

makrofag sehingga mengikat lebih banyak zat besi, meningkatkan destruksi eritrosit di limpa,

menekan produksi eritropoietin oleh ginjal, serta menyebabkan perangsangan yang inadekuat

pada eritropoiesis di sumsum tulang. Penghancuran eritrosit pada anemia penyakit kronis terjadi

pada 20-30%. Defek ini terjadi di ekstrakorpuskular. Dan aktivasi makrofag oleh sitokin

menyebabkan peningkatan daya fagositosis makrofag tersebut dan sebagai bagian dari filter

limpa (convulsife screening) menjadi kurang toleran terhadap perubahan/ kerusakan minor dari

eritrosit. Selain itu juga terjadi gangguan metabolisme zat besi yang menyebabkan berkurangnya

produksi eritrosit. Sehingga terjadi anemia. Kadar besi yang rendah meskipun cadangan besi

cukup menunjukkan adanya gangguan metabolisme zat besi pada penyakit kronis. Hal ini

memberikan konsep bahwa anemia disebabkan oleh penurunan kemampuan Fe dalam sintesis

Hb .6,7

Gambaran klinis anemia pada penyakit kronik ini derajatnya ringan sampai sedang

sehingga gejalanya tertutup oleh gejala penyakit dasarnya, karena kadar Hb 7-11 gr/dL

umumnya asimptomatik. Dan pada pemeriksaan fisik umumnya ditemukan konjungtiva yang

pucat tanpa kelainan yang khas dari anemia jenis ini. Pada pemeriksaan laboratorium umunya

ditemukan adanya anemia normokrom-normositer, meskipun banyak pasien mempunyai

gambaran hipokrom dengan MCHC <31 gr/dL dan beberapa mempunyai sel mikrositer dengan

MCHC <80 fL. Nilai retikulosit absolute dalam batas normal atau sedikit meningkat. Perubahan

pada leukosit dan trombosit tidak konsisten, tergantung dari penyakit dasarnya.6

Epidemiologi Thalassemia

Sebaran thalassemia terentang lebar dari Eropa selatan sampai Mediteranian, Timur

tengah, dan Afrika sampai dengan Asia Tenggara. Thalassemia ini mengenai 3% sampai 10%

orang di Asia, Afrika dan Mediterania.7

Etiologi Thalassemia

1. Gangguan genetik

Orangtua memiliki sifat carier (heterozygote) penyakit thalasemia sehingga klien memiliki

gen resesif homozygote.7

12

Page 13: Penda Hulu An

Gambar 1. Penurunan genetic pada thalasemia. 7

2.      Kelainan struktur hemoglobin

Kelainan struktur globin di dalam fraksi hemoglobin. Sebagai contoh, Hb A (adult, yang

normal), berbeda dengan Hb S (Hb dengan gangguan thalasemia) dimana, valin di Hb A

digantikan oeh asam glutamate di Hb S. Menurut kelainan pada rantai Hb juga, thalasemia

dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : thalasemia alfa (penurunan sintesis rantai alfa) dan

beta (penurunan sintesis rantai beta).7

3.      Produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai polipeptida terganggu

Defesiensi produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai a dan b.7

4.      Terjadi kerusakan sel darah merah (eritrosit) sehingga umur eritrosit pendek (kurang

dari 100 hari).

Struktur morfologi sel sabit (thalasemia) jauh lebih rentan untuk rapuh bila dibandingkan

sel darah merah biasa. Hal ini dikarenakan berulangnya pembentukan sel sabit yang

kemudian kembali ke bentuk normal sehingga menyebabkan sel menjadi rapuh dan lisis.7

13

Page 14: Penda Hulu An

Patogenesis Thalassemia

Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis

hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. Pada thalassemia mutasi gen globin

ini dapat menimbulkan perubahan rantai globin α atau β, berupa perubahan kecepatan sintesis

(rate of cynthesis) atau kemampuan produksi rantai globin tertentu, dengan akibat menurunnya

atau tidak di produksinya rantai globin tersebut. Perubahan ini diakibatkan oleh adanya mutasi

gen globin pada clusters gen α dan β berupa bentuk delesi atau non-delesi. Cluster gen-α terletak

pada kromosom 16 dan cluster gen-β terletak pada kromosom 11. Penurunan secara bermakna

kecepatan sintesis salah satu jenis rantai globin (rantai-α atau rantai-β) menyebabkan sintesis

rantai globin tidak seimbang. Bila pada keadaan normal rantai globin yang disintesis

seimbangantara rantai α dan rantai β, yakni berupa α2β2, maka pada thalassemia-β°, dimana tidak

disintesis sama sekali rantai β, maka rantai globin yang di produksi berupa rantai α yang

berlebihan (α4). Sedangkan pada thalassemia α°, dimana tidak disintesis sama sekali rantai α,

maka rantai globin yang diproduksi berupa rantai β yang berlebihan (β4). Walaupun telah lebih

dari dua ratus mutasi gen thalassemia yang telah diidentifikasi, tidak jarang pada analisis DNA

thalassemia belum dapat di tentukan jenis mutasi gennya. Hal inilah yang merupakan kendala

terapi gen pada thalassemia.6-8

Teori genetik setiap sifat dan fungsi fisik pada tubuh kita dikontrol oleh gen, yang

bekerja sejak masa embrio. Gen terdapat di dalam setiap sel tubuh kita. Setiap gen selalu

berpasangan. Satu belah gen berasal dari ibu, dan yang lainnya dari ayah. Diantara banyak gen

dalam tubuh kita, terdapat sepasang gen yang mengontrol pembentukan hemoglobin pada setiap

sel darah merah. Gen tersebut dinamakan gen globin. Gen-gen tersebut terdapat di dalam

kromosom. Timbulnya gangguan pada proses produksi protein globin adalah penyebab yang

paling sering dari beta talasemia. Kedua gen beta globin dijumpai pada sel, namun gagal

memproduksi protein dalam jumlah yang cukup (pada alfa talasemia, satu atau lebih gen alfa

tidak dijumpai). Jika satu gen beta globin gagal maka jumlah beta globin dalam sel berkurang

setengahnya. Kondisi ini disebut talasemia trait atau thalassemia minor. Jika kedua gen gagal,

maka tidak ada protein beta globin yang diproduksi. Keadaan ini disebut talasemia mayor.8

Pada beberapa kasus, kegagalan yang dijumpai tidak bersifat total. Gen beta globin masih

memproduksi sejumlah kecil protein beta yang normal. Kadangkala seseorang mewarisi dua gen

14

Page 15: Penda Hulu An

thalassemia, produksi protein dari dua gen beta berkurang namun tidak mencapai nol. Keadaan

klinis yang ditimbulkan lebih berat dari thalassemia minor, dimana satu gen gagal namun yang

lainnya bekerja normal. Di sisi lain, kondisi klinisnya lebih ringan dari thalassemia mayor,

dimana kedua gen gagal secara total. Keadaan ini disebut thalassemia intermedia. Thalassemia

intermedia adalah kondisi klinis yang sangat bervariasi dan harus dievaluasi secara konstan oleh

hematologis. Dua orang penderita thalassemia intermedia dapat sangat berbeda manifestasi

klinisnya. Thalassemia minor (trait) biasanya hanya ditandai dengan anemia ringan. Keadaan

yang lebih berat dijumpai pada orang yang mewarisi dua gen thalassemia. Probabilitas yang

muncul pada kedua orang tua dengan thalassemia minor. Satu dari empat anak akan mewarisi

gen yang normal. Satu dari empat anak akan mewarisi gen thalassemia (thalassemia mayor atau

thalassemia intermedia). Dua dari empat anak akan mewarisi gen normal dari salah satu pihak

Tingkat keparahan secara klinis pada penderita thalassemia yang mewarisi dua gen thalassemia

sangat dipengaruhi oleh jumlah protein beta globin yang diproduksi oleh gen yang mengalami

defek. Gen talasemia yang sama sekali tidak memproduksi protein beta globin disebut gen betao

talasemia. Seseorang yang memiliki dua gen ini akan sangat bergantung pada transfusi darah dan

disebut talasemia mayor. Sering kali gen talasemia memproduksi sejumlah protein beta globin,

namun dalam jumlah yang sangat sedikit (kurang). Gen talasemia ini disebut beta+. Seseorang

dengan satu gen beta+ dan gen betao talasemia akan mengidap talasemia mayor. Biasanya

seseorang dengan dua gen beta+ akan membutuhkan terapi transfusi kronik dan juga disebut

talasemia mayor. Terkadang kedua gen beta+ thalassemia dapat memproduksi protein beta globin

dalam jumlah yang cukup sehingga pasien tidak memerlukan transfusi. Keadaan ini disebut

thalassemia intermedia. Seseorang secara klinis dapat berubah dari talasemia intermedia menjadi

talasemia mayor, meskipun secara genetika kemungkinan itu tidak terlihat.7,8

Pada thalassemia α dapat terjadi mutasi gen yang berbentuk delesi dan non- delesi gen-α.

Sedangkan pada thalassemia β yang merupakan kelainan hemoglobin terdapat banyak bentuk

mutasi gen. hampir dari dua ratus bentuk mutasi gen yang terjadi pada thalassemia β. Secara

garis besar mutasi gen pada thalassemia β dibagi menjadi dua kelompok bentuk mutasi gen, yaitu

bentuk delesi dan non-delesi.7

15

Page 16: Penda Hulu An

Delesi Gen-α

Delesi pada thalassemia-α yang mencakup satu atau kedua gen α dapat di klasifikasikan

berdasarkan ukurannya. Contohnya (-α37) menunjukkan delesi 3,7 kb pada satu gen-α. Bila

ukuran delesi belum dapat ditentukan, maka ditulis sebagai (- -MED) yang artinya delesi kedua

gen-α yang pertama kali diidentifikasi pada individu yang berasal dari Mediteranian. Pada

thalassemia-α°, terdapat 14 delesi yang mengenai kedua gen-α, sehingga produksi rantai-α

hilang sama sekali dari kromosom yang abnormal. Bentuk thalassemia-α yang paling umum (-

α3,7 dan –α4,2) mencakup delesi satu atau duplikasi lainnya gen globin-α.7

Non-delesi Gen-α

Pada lesi non-delesi kedua haplotip gen-α utuh (αα), sehingga diberikan nomenklatur

(αTα), dimana superscript T menunjukkan bahwa gen tersebut thalassemik. Namun, bila defek

molekularnya diketahui, seperti pada hemoglobin constant spring, nomenklatur (αTα) dapat

diubah menjadi (αCTα). Ekspresi gen-α2 lebih kuat dua sampai tiga kali dari ekspresi gen-α1,

sehingga sebagian besar mutasi non-delesi ditemukan predominasi pada ekspresi gen-α2. 7

Delesi gen globin-β

Paling sedikit 17 delesi yang berbeda yang hanya dijumpai pada thalassemia-β, namun

jarang dan tampaknya terisolasi, berupa kejadian tunggal, kecuali delesi619-bp pada ujung akhir

3’ gen-β lebih sering ditemukan, walaupun terbatas pada populasi Sind dan Gujarat di Pakistan

dan India. Delesi ini mencakup lebih kurang 50% allel thalassemia-β. Bentuk homozigot delesi

ini menghasilkan thalassemia-β, bentuk homozigot delesi ini menghasilkan thalassemia-β°.

Heterozigot delesi ini menghasilkan peningkatan HbA2 dan HbF sama yang dijumpai pada

bentuk mutasi lainnya thalassemia-β.7

Mutasi Non-delesi Gen Globin-β

Mutasi non-delesi globin-β mencakup proses transkripsi, prosesing dan translasi, berupa

mutasi titik (point mutations): region promotor, mutasi transkripsional pada lokasi CAP (CAP

sites, 5’-untranslated region), mutasi prosesing RNA: intron-exon boundaries, polyadenilation

signal (Poly A signal), splice site consensus sequences, cryptic sites in exons, cryptic sites in

16

Page 17: Penda Hulu An

introns. Mutasi yang menyebabkan translasi abnormal m-RNA: inisiasi, nonsense, dan mutasi

frameshift.7

Selain delesi dan non-delesi pada thalassemia-β juga ada bentuk mutasi lainnya, yaitu

yang khas pada thalassemia-β diwariskan secara dominan, varian globin β tidak stabil,

thalassemia β tersembunyi, mutasi thalassemia β yang tidak terkait cluster gen globin β.7

Manifestasi Klinis

Gejala yang Nampak adalah anak lemah, pucat, perkembangan fisik tidak sesuai dengan

umur, berat badan kurang. Pada anak yang lebih besar lagi sering di jumpai adanya gizi buruk,

perut membuncit, karena adanya pembesaran hati dan limpa yang mudah diraba. Adanya

pembesaran limpa dan hati tersebut akam mempengaruhu gerak si pasien karena kemampuannya

terbatas.8

Gejala lain yang khas ialah bentuk muka yang mongoloid, hidung pesek tanpa pangkal

hidung, jarak antara kedua mata lebar dan tulang dahi juga lebar. Hal ini disebabkan oleh adanya

gangguan perkembangan tulang muka dan tengkorak, gambaran radiologis tulang

memperlihatkan medulla yang lebar, korteks tipis dan trabekula kasar. Keadaan kulit pucat

kekuning-kuningan. Jika pasien sudah sering mendapat tranfusi darah kulit akan menjadi kelabu

serupa dengan besi akibat penimbunan besi dalam jaringan kulit. Penimbunan besi

(hemosiderosis) dalam jaringan tubuh seperti pada hepar, limpa, jantung, akan mengakibatkan

gangguan faal alat-alat tersebut (hemokromatosis).8,9

Penatalaksanaan Klinis

Pendidikan penderita: jelaskan bahwa gambaran klinis menyerupai defisiensi besi. Buat

penderita waspada untuk melindungi dirinya sendiri dari defisiensi besi. Tekankan perjalanan

alamiah penyakit yang ringan pada heterozigot. Jelaskan bahwa anemia yang ringan biasanya

tidak menyebabkan gejala (Ht sebesar 35% tidak menjelaskan sebab terjadinya kelelahan).

Peringatkan untuk tidak memakan prebarat besi peroral.9

Konsultasi genetika: suatu pasangan, keduanya thalassemia-β heterozigot , mempunyai

kesempatan 25% memiliki anak dengan thalassemia homozigot (thalassemia mayor, “cooley’s

anemia”). Cacat gen pada talasemia-β dan pada HbS serta HbC merupakan alel. Thalassemia-β-

17

Page 18: Penda Hulu An

HbS adalah suatu penyakit yang penting secara klinis. Adanya talasemia-α 1 heterozigot atau

homozigot pada pasien dengan penyakit Sel Sabit atau Sicle Cell tampaknya dapat memperbaiki

keparahan klinis sindrom-sindrom tersebut.9,10

Talasemia mayor: para penderita ini memerlukan pengobatan khusus dan harus di pantau

oleh dokter yang berpengalaman menangani mereka. Selain itu penatalaksanaan thalasemia pada

anak untuk talasemia mayor dapat diberikan tranfusi darah, untuk mempertahankan kadar

hemoglobin tetap normal dan menekan produksi sel darah merah abnormal, akan menghasilkan

perkembangan fisik yang normal. Kelebihan besi karena seringnya tranfusi darah menyebabkan

kecacatan serius dan kematian pada usia 25 tahun, kecuali bila dicegah dengan menggunakan

desferioksamin atau dengan terapi kelasi besi. Desferioksamin membentuk kompleks besi yang

dapat diekskresikan terutama melalui urin, tetapi hingga sepertiganya juga diekskresikan dalam

tinja. Sayangnya deferoksamin tidak aktif bila diberikan secara oral. Jika pasien patuh dengan

regimen khelasi besi yang intensif ini, harapan hidup penderita talasemia mayor yang mendapat

transfuse darah yang teratur membaik secara nyata. Deferoksamin memiliki efek samping,

khususnya pada anak yang kadar feritin serumnya relative rendah, berupa tuli nada tinggi,

kerusakan retina, kelainan tulang, dan retardasi pertumbuhan. Kebanyakan pasien talasemia yang

diterapi dengan baik bertahan sampai usia 30 dan 40 tahun. Transplantasi sumsum tulang dapat

di pertimbangkan bila ditemukan donor saudara kandung yang cocok.10

Komplikasi Thalasemia

Infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, serta jamur yang terjadi karena system imun

yang turun disebabkan oleh kurangnya produksi sel darah merah sehingga dapat terjadi

splenomegaly yang dapat fungsi limpa menjadi kurang peka adanya infeksi.10

Hemosiderosis

Hemosiderosis adalah akibat terapi transfusi jangka panjang yang tidak dapat dihindari,

karena dalam setiap 500 mL darah dibawa 200 mg besi ke jaringan. Pada individu normal,

semua besi plasma terikat pada transferin. Kapasitas transferin untuk mengikat besi terbatas

sehingga bila terjadi kelebihan besi seperti pada pasien thalassemia, seluruh transferin akan

berada dalam keadaan tersaturasi. Akibatnya besi akan berada dalam plasma dalam bentuk

tidak terikat, atau disebut juga Non-Transferrin Bound Plasma Iron (NTBI). NTBI akan

18

Page 19: Penda Hulu An

menyebabkan pembentukan radikal bebas hidroksil dan mempercepat peroksidasi lipid

membran in vitro.Besi yang berlebihan dalam tubuh terbanyak berakumulasi dalam hati,

namun efek paling fatal disebabkan oleh akumulasi di jantung. Siderosis miokardium

merupakan faktor penting yang ikut berperan pada kematian awal penderita. Gejala kelainan

jantung lain yang ditemui adalah perikarditis dan gagal jantung kongestif. Gagal jantung

yang berkelanjutan akan menyebabkan blok atrioventrikular sehingga dapat menyebabkan

blok jantung total atau kanan atau kiri. Juga ditemukan aritmia atrial pada setengah pasien

thalassemia yang mendapat transfusi teratur tanpa terapi pengikatan besi.10

Pada pasien-pasien yang lebih tua, penyakit hati adalah penyebab kematian yang umum,

dan sering diperberat dengan infeksi virus hepatitis C. Kelainan fungsi endokrin juga Kadar

kelebihan besi dalam tubuh dapat diukur dengan melakukan berbagai pemeriksaan

penunjang, baik pengukuran secara langsung maupun tidak langsung.10

Terapi kelasi besi secara umum harus dimulai setelah kadar feritin serum mencapai 1000

µg/L, yaitu kira-kira 10-20 kali transfusi (± 1 tahun). Olivieri dkk menyarankan pemeriksaan

kadar besi hati dengan biopsi hati sebelum memulai terapi kelasi besi. Terapi hanya dimulai

bila konsentrasi besi hati minimal 3.2 mg/g berat kering hati. Apabila biopsi tidak mungkin

dilakukan, terapi kelasi besi dapat dimulai pada pasien usia < 3 tahun yang sudah mendapat

transfusi teratur selama 1 tahun.10

Hemosiderosis dapat diturunkan atau bahkan dicegah dengan pemberian parenteral obat

pengkelasi esi (iron chelating drugs).Obat pengkelasi besi yang dikenal adalah deferoksamin,

deferipron, dan deferasirox.Deferoksamin (DFO). Dosis standar adalah 40 mg/kgBB melalui

infus subkutan dalam 8-12 jam dengan menggunakan pompa portabel kecil selama 5 atau 6

malam/minggu. Lokasi infus yang umum adalah di abdomen, daerah deltoid, maupun paha

lateral. Penderita yang menerima regimen ini dapat mempertahankan kadar feritin serum <

1000 µg/L.10

Efek samping mungkin terjadi adalah toksisitas retina, pendengaran, gangguan tulang dan

pertumbuhan, reaksi lokal dan infeksi.10

Deferipron (L1). Terapi standar biasanya menggunakan dosis 75 mg/kgBB/hari dibagi

dalam 3 dosis. Kelebihan deferipron dibanding deferoksamin adalah efek proteksinya

19

Page 20: Penda Hulu An

terhadap jantung. Anderson dkk menemukan bahwa pasien thalassemia yang menggunakan

deferipron memiliki insiden penyakit jantung dan kandungan besi jantung yang lebih rendah

daripada mereka yang menggunakan deferoksamin. Meskipun begitu, masih terdapat

kontroversi mengenai keamanan dan toksisitas deferipron sebab deferipron dilaporkan dapat

menyebabkan agranulositosis, artralgia, kelainan imunologi, dan fibrosis hati. Saat ini

deferipron tidak tersedia lagi di Amerika Serikat.11

Deferasirox (ICL-670). Deferasirox adalah obat kelasi besi oral yang baru saja

mendapatkan izin pemasaran di Amerika Serikat pada bulan November 2005. Terapi standar

yang dianjurkan adalah 20-30 mg/kgBB/hari dosis tunggal. Deferasirox menunjukkan potensi

4-5 kali lebih besar dibanding deferoksamin dalam memobilisasi besi jaringan hepatoseluler,

dan efektif dalam mengatasi hepatotoksisitas. Efek samping yang mungkin terjadi adalah

sakit kepala, mual, diare, dan ruam kulit.11

Dapat berupa terapi kombinasi secara simultan maupun sekuensial. Terapi kombinasi

secara simultan adalah pemberian deferoksamin 2-6 hari seminggu dan deferipron setiap hari

selama 6-12 bulan. Terapi kombinasi sekuensial adalah pemberian deferipron oral 75

mg/kgBB selama 4 hari diikuti deferoksamin subkutan 40 mg/kgBB selama 2 hari setiap

minggunya. Terapi kombinasi diharapkan dapat menurunkan dosis masing-masing obat,

sehingga menurunkan toksisitas obat namun tetap menjaga efektifitas kelasi.11

Pencegahan Thalasemia

Program pencegahan berdasarkan penapisan pembawa sifat thalassemia dan

diagnosis prenatal telah dilakukan dan sampai saat ini sudah dapat menurunkan kejadian

thalassemia – β pada anak – anak di Yunani, Siprus, Italia dan Sardania.Penapisan pembawa sifat

thalassemia – β lebih berdaya guna bila dikerjakan dengan penilaian indeks sel darah

merah.Individu dengan MCV dan MCH yang rendah dinilai konsentrasi HbA2 – nya.7

Di Indonesia program pencegahan thalassemia – β mayor telah dikaji oleh

Departemen Kesehatan melalui program “health technology assessment” (HTA), dimana

beberapa butir rekomendasi, sebagai hasil kajian, diusulkan dalam program prevensi thalassemia,

termasuk teknik dan metode uji saring laboratorium, strategi pelaksanaan dan aspek psikososial

dan agama.7

20

Page 21: Penda Hulu An

Prognosis Thalassemia

Prognosis  bergantung  pada  tipe  dan  tingkat  keparahan  dari  thalassemia.  Seperti

dijelaskan sebelumnya, kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan

asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa, tergantung pula pada terapi dan komplikasi

yang terjadi. Bayi dengan thalassemia α mayor kebanyakan lahir mati atau lahir hidup dan

meninggal dalam beberapa jam. Anak dengan thalassemia dengan transfuse darah biasanya

hanya bertahan sampai usia 20 tahun, biasanya meninggal karena penimbunan besi.9

Kesimpulan

Dari apa yang sudah dibahas tentang kasus tersebut, mulai dari anamnesis, pemeriksaan

fisik, pemeriksaan penunjang maka working diagnosis nya adalah thalassemia. Thalassemia

merupakan sindrom kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi

di dalam atau dekat gen globin. Pada thalassemia mutasi gen globin ini dapat menimbulkan

perubahan rantai globin α atau β, berupa perubahan kecepatan sintesis (rate of cynthesis) atau

kemampuan produksi rantai globin tertentu, dengan akibat menurunnya atau tidak di produksinya

rantai globin tersebut. Perubahan ini diakibatkan oleh adanya mutasi gen globin pada clusters

gen α dan β berupa bentuk delesi atau non-delesi. Cluster gen-α terletak pada kromosom 16 dan

cluster gen-β terletak pada kromosom 11.

Sehingga pada thalassemia ini dibedakan antara thalassemia α dan thalassemia β. Dengan

diagnosis banding yang juga dapat menyebabkan penurunan sintesis hemoglobin yaitu pada

anemia defisiensi besi dan anemia pada penyakit kronik. Penatalaksanaan yang di perlukan pada

penderita thalassemia adalah mengobati gejalanya saja karena thalassemia merupakan penyakit

genetic. Jika keadaan anemia sangat parah maka dapat diberikan tranfusi dengan ditambahkan

desferioksamin atau dengan terapi kelasi besi. Desferioksamin membentuk kompleks besi yang

dapat diekskresikan terutama melalui urin. Prognosis  bergantung  pada  tipe  dan  tingkat

keparahan  dari  thalassemia.  Seperti dijelaskan sebelumnya, kondisi klinis penderita

thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan asimtomatik hingga berat dan mengancam

jiwa, tergantung pula pada terapi dan komplikasi yang terjadi.

Daftar Pustaka

21

Page 22: Penda Hulu An

1. Sudiono H, Iskandar I, Edward H, Halim SL, Santoso R. Penuntun patologi klinik

hematologi. Cetakan ketiga. Biro Publikasi FK UKRIDA. Jakarta: 2009. Hal43-8 dan

132-8.

2. Schwartz MW. Pedoman klinis pediatri. Edisi 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC.2005.h.381-4.

3. Marcdante KJ, Kliegman R, Jenson H B, Behrman RE. Nelson essentials of pediatrics.

Ed 6th. Elsevier Health Scienses. Canada: 2010.p.654-6.

4. Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Penerbit

Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 2000.hal.1708-12.

5. Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. Anemia defisiensi besi. Dalam: Sudoyo AW,

Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam.

Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam,2005.h.634-40.

6. Supandiman I, Fadjari H. Anemia pada penyakit kronis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi

B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II.

Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam,2005.h.641-3.

7. Davey P. At a glance medicine: hematologi. Edisi 1. Jakarta: Penerbit

Erlangga.2006.h.78-83.

8. Permono, Bambang H, Sutaryo, Ugrasena, IDG. Hemoglobin abnormal: talasemia. Buku

Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Cetakan ketiga. Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta :

2010. hal 64-84.

9. Waterburry L. Buku saku hematologi. Edisi ketiga. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta: 2001.hal.23-5.

10. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi: hematologi. Edisi ketiga revisi. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta: 2009.hal. 397-440.

11. Atmakusuma D, Setyaningsih I. Dasar-dasar thalassemia: salah satu jenis

hemoglobinopati. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S,

editor. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu

Penyakit Dalam,2005.h.1379-93.

22

Page 23: Penda Hulu An

23