All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
...

Pencemaran Lingkungan

by nandatom

on

Report

Category:

Documents

Download: 1

Comment: 0

3,993

views

Comments

Description

Download Pencemaran Lingkungan

Transcript

Tema :Pencemaran Lingkungan Standar Kompetensi :Membaca 3.Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca Dan membaca nyaring. Kompetensi Dasar :Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan Membaca intensif Indikator : 1.Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf 2.Menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama 3.Menemukan paragraf induktif dan deduktif 4.Mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan deduktif 5.Menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif 6.Mengidentifikasi frase nominal dalam paragrafinduktif dan deduktif Tujuan pembelajaran : Siswa diharapkan mampu menemukan paragraf deduktif dan induktif ,kalimat yang mengandung gagasan utama,kalimat utama,kalimat simpulan,cirri-ciri paragraf deduktif induktif,perbedaan deduktif dengan induktif. Pencemaran Lingkungan,Perlu Solusi yang Tepat Pencemaran lingkungan yang terjadi saat ini sudah mencapai taraf yang sangat memprihatinkan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih membuat perubahan iklim yang tidak dapat dipastikan. Karena hal itu perlu penanganan yang intensif mengenai pencemaran lingkungan yang terjadi dewasa ini. A.Membaca intensif teks Deduktif dan Induktif . Paragraf adalah bagian dari telaah wacana dalam bahasa Indonesia.Paragraf berpola deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus.Paragraf berpola induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa yang sifatnya khusus menuju pernyataan umum.Paragraf deduktif memiliki cirriciri sebagai berikut: a.letak kalimat utama di awal paragraf atau paragraf kedua, b.diawali dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan khusus Adapun cirri-ciri paragraf induktif sebagai berikut: a.letak kalimat utama diakhir paragraph, b.diawali dengan uraian bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum. Untuk menemukan paragraf,baik yang berpola deduktif maupun induktif,harus dilakukan membaca yang intensif terhadap teks. Mencermati Masalah Pncemaran Lingkungan Perlu Solusi Jangka Panjang dan Pendek Pencemaran lingkungan tampaknya semakin parah di negeri ini. Berbagai kasus pencemaran mencuat di beberapa wilayah. Penderitaan manusia maupun kerugian material pun mulai disadari sebagai akibat dari terkontaminasi alam lingkungan oleh racun dari berbagai limbah. Warga masyarakat di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi utara,banyak yang menderita penyakit yang sulit dideteksi jenisnya. Namun dipastikan bahwa penyakit itu muncul lantaran adanya kandungan logam berat didalam tubuh penderita yang melebihi takaran semestinya. Hal itu tak lain disebabkan adanya pencemaran lingkungan. Pada bagian lain,dari penelitian Universitas Sebelas maret (UNS) Solo di Kabupaten Karanganyar juga terkuak adanya pencemaran linkungan tanah pertanian dan sumur warga.Ada tiga wilayah kecamatan yang tercemar.Sementara itu dikabupaten Sragen diberitakan juga terjadi pencemaran di aliran Sungai Bengawan solo sehingga para penambang pasir di Desa Newung Sukodono,Sragen sering mengalami gatal-gatal. Dalam kesehariannya mereka bekerja menambang pasir di Bengawan Solo yang tercemar limbah. Jika instalasi pengolahan limbah suatu pabrik belum dioperasikan optimal dan sempurna atau terjadi kerusakan IPAL dan pemadaman listrik,akan mempengaruhi hasil limbah yang diolah. Pada akhirnya akan menimbulkan pencemaran limbah buangan tersebut.Limbah buangan yang mengandung larutan logam berat akan meracuni kehidupan yang terkena atau yang menggunakan air itu. Logam itu keberadaannya di bumi dapat berasal secara alamiah,yakni hasil proses mineral batuan yang bercampur dengan tanah,adanya aliran air di bawah tanah yang melalui tanah-tanah yang mengandung unsur logam berat sehinga akan mempengaruhi tanah yang dialiri tersebut.Selain itu,juga dapat melalui air hujan yang membawa partikel unsur-unsur itu di udara. Dalam kasus pencemaran lingkungan,jalan penyelesaiannya yang biasa ditempuh adalah dengan member ganti rugi kepada pihak korban.Seperti,korban pencemaran air kemudian diberi air bersih sebagai solusi. Itu merupakan penyelesaian yang sesaat dan tidak menyelesaikan masalah jangka panjang.”solusi jangka pendek memang penting,namun demikian semua pihak juga perlu duduk bersama untuk menentukan langkah solusi jangka panjang,”tutur Rosana Dewi,Direktur Eksekutif LSM Gita Pertiwi. “Masalah pencemaran lingkungan merupakan masalah yang sulit sebab semua pihak memliki kepentingan.Pihak industry juga punya kepentingan untuk berdiri,sedangkan pihak masyarakat juga mempunyai kepentingan. Namun demikian jika terjadi pencemaran lingkungan,banyak industry yang tutup mata. Di sisi lain warga yang membau limbah juga akan protes,”imbuhnya. Namun,masalah pencemaran sebenarnya ada langkah antisipasinya. Seperti adanya syarat HO untuk mendirikan pabrik. Itu langkah antisipasinya. Selain itu juga perlu policy lain yang dapat menguntungkan pelestarian alam. Di lahan pertanian memnag pencemaran tidak dilakukan oleh industry,karena pertanian sendiri juga dapat menimbulkan pencemaran. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berpuluh tahun tetu saja akan mempengaruhi tanah. Dalam hal ini petani tidak punya alternatif lain selain menggunakan pupuk itu. Ini perlu policy bukan justru mencari kambing hitam atas terjadinya pencemaran lingkungan. Jika telah terjadi pencemaran,yang diperlukan adalah solusi pemecahannnya secara bersama.Pemerintah pelaku usaha,LSM,pers,dan pihak yang berkompeten lainnya perlu duduk bersama. LATIHAN 1. Paragraf yang mempunyai pola umum – khusus adalah. . . . 2. Sebutkan cirri-ciri paragraf deduktif. . . . 3. Sebutkan cirri-ciri paragraf induktif. . . . 4. Buatlah paragraf dengan pola induktif. . . . 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pola induktif. . . . Tema : : Membaca Standar Kompetensi 3.Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca Dan membaca nyaring. Kompetensi Dasar :Membacakan berita dengan intonasi ,lafal,dan sikap membaca yang baik Indikator : 1. Membacakan naskah berita dengan memperhatikan penggunaan lafal,intonasi,kejelasan,ucapan,tatapan mata,dan sikap membaca yang benar. 2. Membahas pembacaan berita yang dilakukan teman Tujuan pembelajaran : Setelah kegiatan pembelajaran siswa diharapkan dapat membacakan naskah berita dengan memperhatikan penggunaan lafal,intonasi,kejelasan,ucapan,tatapan mata,dan sikap membaca yang benar. Berita berasal dari bahsa sansekerta "Vrit" yang dalam bahasa Inggris disebut "Write" yang arti sebenarnya adalah "Ada" atau "Terjadi".Ada juga yang menyebut dengan "Vritta" artinyaMenulis. Sesuatu yang akrab kita dengar.Berita secara umum merupakan informasi tercepat yang diinformasikan secara umum untuk khalayak melalui media cetak maupun media elektronik.Didalam sebuah berita pasti terdapat unsur-unsur yang mendukung berita itu sendiri yaitu 5W + 1H. DURIAN GORENG Durian Goreng? Wahh... kayaknya enak ya, membayangkannya saja saya sudah sangat tergoda. Glek... glek... he-he... Seperti apa ya durian goreng itu? Ya itulah salah satu menu yang ada di Kurayu Resto yang berada di Ruko Mediterania, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Jumat sore itu kebetulan sedang berada di area Kelapa Gading, jadilah kami mampir ke Kurayu untuk mencoba Duriann Goreng yang menjadi buah bibir di lingkungan tersebut. Restoran ini terbilang baru lho, berdiri sejak bulan Februari 2010 dan memang sengaja menggunakan nama Kurayu. “Kurayu kau makan,” ujar pemiliknya. Nama Kurayu sendiri mirip dengan nama Yuraku, restoran Jepang yang berada di daerah Kelapa Gading juga. Ternyata Yuraku dan Kurayu memang berhubungan, pemiliknya adalah Ibu dan Anak, wow hebat ya. Makanan yang ditawarkan di Kurayu juga lumayan beragam, ada Nasi goreng, Soto Betawi, Sop Buntut, Ayam Goreng, Rawon Sengkel, Udang Mayonnaise, dan masih ada beberapa lagi menu lainnya. Nah sesuai dengan tujuan awal tadi, kami ingin mencoba Durian Goreng ala Kurayu. Jadi kami pesan 3 buah Durian Goreng, plus Soto Betawi dan Nasi Goreng Ikan Asin. O iya kami juga pesan Es Rainbow untuk hidangan penutup. Yang pertama datang adalah Durian Gorengnya, glek-glek... aromanya sangat menggiurkan euy. Kress... renyah di luar, tapi begitu digigit terasa lembut di dalamnya. Duriannya sangat terasa sekali, Yummy banget. Yup si duriannya sudah dihaluskan (tanpa biji) dibungkus dengan kulit lumpia tipis, baru deh di goreng dengan tepung. Ini enak banget lho, 3 buah durian goreng habis dalam sekejap. Enak banget untuk disantap dalam keadaan hangat. Kami pun pesan 2 buah lagi, he-he... enak banget soalnya. Kalau Soto Betawi disini juga agak sedikit berbeda dengan soto betawi pada umumnya, karena dia tidak menggunakan santan, melainkan menggunakan susu sebagai pengganti santan. Rasanya gurihnya memang sedikit berbeda, tapi ini juga enak kok. Nasi Goreng Ikan Asinnya juga sangat menggiurkan, penampilannya memang pucat, tidak coklat gelap seperti nasi goreng pada umumnya. Karena ini tidak menggunakan kecap manis. Menurut pelayannya menu ini juga merupakan salah satu menu terlaris. Tidak heran juga, karena nasi goreng ikan asinnya memang enak. Apalagi kalau dibuat pedas, wuih mantap deh, pedasnya bercampur dengan potongan ikan asin kecil-kecil. Nyam nyam.... aromanya pun berbeda dengan nasi goreng lainnya. Weittss mantap deh Durian Goreng dan Nasi goreng Ikan Asin ala Kurayu ini. Buat para pecinta durian, rasanya Anda harus mencoba Si Durian Goreng ala Kurayu ini. Tema : Kreativitas : Menulis Standar Kompetensi 8. Mengungkapkan informasi melalui penulisan resensi. Komptensi Dasar Indikator : Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan resensi. : Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan resensi: Tujuan Pembelajaran: Setelah kegiatan pembejaran siswa dapat: Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan resensi: Identitas buku Kepengarangan Keunggulan buku Kelemahan buku Ikhtisar (Inti permasalahan) dengan bahasa yang komunikatif dan Identitas buku Kepengarangan Keunggulan buku Kelemahan buku Ikhtisar (Inti permasalahan) dengan bahasa yang komunikatif dan penggunaan Eyd. penggunaan Eyd. Prinsip-Prinsip Penulisan Resensi Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas. Apakah hanya buku yang bisa diresensi? Sebenarnya bidang garapan resensi cukup luas. Apabila diklasifikasikan, ada tiga bidang garapan resensi, yaitu (a) buku, baik fiksi maupun nonfiksi; (b) pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset; (c) pameran seni, baik seni lukis maupun seni patung. 1. Tujuan Resensi Sebelum meresensi, hendaknya peresensi memahami tujuan resensi. Apa sebenarnya tujuan resensi. Jika diamati, pemuatan resensi buku sekurangkurangnya mempunyai lima tujuan, yaitu sebagai berikut. a. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku. b. Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku. c. Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu d. pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. e. Menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit, seperti berikut. Siapa pengarangnya? Mengapa ia menulis buku itu? Apa pernyataannya? Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama? Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain? f. Untuk segolongan pembaca, resensi mempunyai tujuan berikut:- membaca agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku; - setelah membaca resensi berminat untuk membaca atau mencocokkan seperti apa yang ditulis dalam resensi; - tidak ada waktu untuk membaca buku, kemudian mengandalkan resensi sebagai sumber informasi. 2. Dasar-Dasar Resensi Sebelum meresensi, peresensi perlu memahami dasar-dasar resensi. Apa sajakah dasar-dasarnya? Berikut ini penjelasannya. a. Peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. b. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. Kemudian, dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku. c. Peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. d. Peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, dari kalangan macam apa asalnya, dan sebagainya. Atas dasar itu, resensi yang dimuat surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain. e. Peresensi memahami karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Setiap media cetak ini mempunyai identitas, termasuk dalam visi dan misi. Dengan demikian, kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai oleh redaksi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. Demikian pula, jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. Misalnya, majalah sastra tidak menampilkan resensi buku tentang teknik. Jenis buku yang dimuat pasti buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Demikian pula dengan majalah teknik dan filsafat. Selain itu, peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju, seperti surat kabar (nasional atau daerah), dan majalah (ilmiah, ilmiah populer, atau hiburan). 3. Nilai Buku Kegiatan meresensi buku pada hakikatnya melakukan penilaian terhadap buku. Menilai berarti mengulas, mempertimbangkan, mengkritik, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan serta kekurangan-kekurangan buku dengan penuh tanggung jawab. Dengan penuh tanggung jawab artinya mengajukan dasar-dasar atau argumen terhadap pendapatnya, dan kriteria-kriteria yang dipergunakan untuk membentuk pendapatnya itu, serta data yang meyakinkan (dengan menyajikan kutipan-kutipan yang tepat dan relevan). Akan tetapi, sasaran penilaian (organisasi, isi, bahasa, dan teknik) itu sering sulit diterapkan secara mekanis. Suatu unsur, sering lebih mendapat tekanan daripada unsur yang lain. Hal yang patut diperhatikan sebaiknya tidak menggunakan salah satu unsur untuk menilai keseluruhan buku. Nilai buku akan lebih jelas apabila dibandingkan dengan karyakarya sejenis, baik yang ditulis oleh pengarang itu sendiri maupun yang ditulis oleh pengarang lain. 4. Bahasa Resensi Bahasa resensi biasanya bernas (singkat-padat), tegas, dan tandas. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuatnya dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Misalnya, tulisan yang runtut kalimatnya, ejaannya benar, tidak panjang lebar (bertele-tele), dan tidak terlalu banyak coretan atau bekas hapusan. Di samping itu, penyajian tulisan resensi bersifat padat, singkat, mudah ditangkap, menarik, dan enak dibaca. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Kita perlu membiasakan diri membaca resensi itu dengan menempatkan diri sebagai redaktur atau pembaca. Untuk itu, kita mengambil jarak. Jadikanlah diri kita seolah-olah redaktur atau pembaca. Dengan cara ini, emosi kita sebagai penulis bisa ditanggalkan. Kita akan mampu melihat kekuatan dan kelemahan resensi kita. 5. Kelebihan Resensi a. Tidak Basi Jika dibandingkan dengan tulisan lain, seperti berita, artikel, dan karangan khas (features), resensi lebih tahan lama. Artinya, andaipun resensi dikembalikan oleh redaksi, resensi itu masih dapat dikirim ke media lain. Demikian pula buku yang diresensi tidak harus buku yang baru terbit. Kita boleh meresensi buku yang terbit setahun yang lalu, asalkan buku itu belum pernah dimuat di media yang akan dituju. Meskipun demikian, pada umumnya buku yang diresensi, buku-buku yang baru terbit. b. Menambah Wawasan Informasi dari buku sangat berguna untuk menambah wawasan berpikir dan mengasah daya kritis. Kita juga bisa menilai apakah buku itu bermutu atau tidak. c. Keuntungan Finansial Jika resensi kita dimuat, kita tidak menerima honor dari redaksi saja, tetapi juga dari penerbit. Kalau fotokopi resensi itu dikirim ke penerbit, minimal buku baru yang kita dapat (jika penerbit tidak bersedia memberi honor). Biasanya penerbit akan memberi beberapa buah buku baru untuk diresensi kalau resensi buku kita sering dimuat di media cetak. Jadi, lumayan koleksi buku kita bertambah tanpa harus membeli. 6. Pola Tulisan Resensi Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, menjabarkan, dan mengulas. a. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalanpersoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang bernas. b. Menjabarkan (deskripsi) berarti mengungkapkan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dibuat. Jika perlu, bagian-bagian yang mendukung uraian itu dikutip. c. Mengulas berarti menyajikan uraian sebagai berikut: - isi pernyataan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan; - organisasi atau kerangka buku; - bahasa; - kesalahan cetak; - membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun karya pengarang lain; - menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku, terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku. Urutan pola meringkas, menjabarkan, dan mengulas itu dapat pula dipertukarkan. Kita bisa langsung mengulas, menjabarkan, dan meringkas. Misalnya, kita mulai dari kesan terhadap buku, membandingkan, lalu masuk ke bagian meringkas. Sesudah itu, kita memadatkan persoalan utama atau bagian terpenting dalam uraian yang singkat dan jelas. Kemudian, kita perlu menjabarkan bagian-bagian terpenting dari sinopsis. Kita pun dapat mulai dari menjabarkan, meringkas, dan mengulas. Namun, satu hal terpenting, isi pernyataan dalam buku itu dipahami terlebih dahulu. Dari pemahaman itu, kita akan tahu pola mana yang tepat untuk menyajikannya. Evaluasi: Jelaskan prinsip-prinsip penulisan resensi! Identas buku! Kepengaran! Keunggulan buku! Kelemahan buku! Ikhtisar dengan bahasa komunikatif dan penggunaan Eyd! Standar Kompetensi : Menulis 8. Mengungkapkan informasi melalui penulisan resensi. Komptensi Dasar Indikator : Mengaplikasikan prinsip-prinsip penulisan resensi. : Menulis resensi novel dengan memperhatikan: Identitas buku Kepengarangan Keunggulan buku Kelemahan buku Ikhtisar (Inti permasalahan) dengan bahasa yang komunikatif dan penggunaan Eyd. Tujuan Pembelajaran: Setelah kegiatan pembejaran siswa dapat: Menulis resensi novel dengan memperhatikan: - Identitas buku - Kepengarangan - Keunggulan buku - Kelemahan buku - Ikhtisar (Inti permasalahan) dengan bahasa yang komunikatif dan penggunaan Eyd. Menulis Resensi Novel - Pengertian Resensi Resensi merupakan sebuah tulisan yang berisi tinjauan terhadap kualitas suatu buku atau karya lainnya. Resensi itu ditulis untuk menarik minat baca masyarakat agar mereka membaca buku yang dikupasnya. Unsur persuasi sering ditonjolkan dalam resensi. Unsur inilah yang digunakan untuk mendorong timbulnya para pembaca terhadap buku tersebut. - Hal-hal yang harus diperhatikan dlam menyusun resensi 1. Membaca buku yang akan diresensi secara cermat; 2. menceritakan identitas secara lengkap 3. memberikan penilaian secara obyektif dan kritis 4. memperhatikan unsur-unsur yang harus dinilai yang meliputi unsur intrinsik dan ekstrinsik - Langkah-langkah menyusun resensi 1. Bacalah dan pahamilah isi karya 2. Buatlah resum, ikhtisar, atau ringkasan dengan menggunakan bahasa sendiri 3. Melakukan penilaian dengan mengungkapkan alasannya, contoh, makna, kelebihan, dan kelemahan isi buku. 7. Langkah-Langkah Meresensi Buku/Novel Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut. a. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi. - Mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi isi buku. - Siapa yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format, hingga harga. - Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis, hingga mengapa ia menulis buku itu. - Buku itu termasuk golongan buku yang mana: ekonomi, teknik, politik, pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, atau sastra. b. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat. c. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data. d. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi. e. Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut. - Organisasi atau kerangka penulisan; bagaimana hubungan antara bagian yang satu dan bagian yang lain, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya. - Isi pernyataan; bagaimana bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas pemikirannya. - Bahasa; bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, kalimat dan penggunaan kata, terutama untuk buku ilmiah. - Aspek teknis; bagaimana tata letak, tata wajah, kerapian dan kebersihan, dan pencetakannya (banyak salah cetak atau tidak). Sebelum menilai, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) resensi itu. Outline ini sangat membantu kita ketika menulis. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria yang kita tentukan sebelumnya. 8. Unsur-Unsur Resensi Kita perlu mengetahui unsur-unsur yang membangun resensi buku. Apa saja unsur-unsur yang membangun resensi buku? a. Membuat Judul Resensi Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Hal yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi. b. Menyusun Data Buku Data buku biasanya disusun sebagai berikut: judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan juga judul aslinya.); pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.); penerbit; tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa); tebal buku; harga buku (jika diperlukan). c. Membuat Pembukaan (lead) Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut: memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh; membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain; memaparkan kekhasan atau sosok pengarang; memaparkan keunikan buku; merumuskan tema buku; mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku; mengungkapkan kesan terhadap buku; memperkenalkan penerbit; mengajukan pertanyaan; membuka dialog. d. Tubuh atau Isi Pernyataan Resensi Buku Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal berikut: sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis; ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya; keunggulan buku; kelemahan buku; rumusan kerangka buku; tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit); adanya kesalahan cetak Contoh Resensi Novel Penulis: Andrea Hirata Negara: Indonesia Bahasa: Indonesia Genre: Roman Penerbit: Bentang Pustaka (Yogyakarta) Novel laskar pelangi ini mengangkat kisah perjalanan hidup sang penulisnya, yah … semacam biografi dalam bentuk novel. Pada saat itu sang penulis akan diterima pada Sekolah Dasar Swasta dan mulai menjalani kehidupan bersekolah saat menduduki awal bangku SD sampai dengan tamat bangku SMP bersama dengan teman-teman sekelasnya yang hanya berjumlah 9 orang di sekolah yang bernama SD Muhammadiyah. Karena jumlah siswanya yang terlalu sedikit, hampir-hampir sekolah ini ditutup lantaran jumlah muridnya dalam 1 kelas tidak memenuhi kuota yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan saat itu yaitu minimal 10 murid siswa per kelasnya. Di saat yang mendebar-debarkan akhirnya ada seorang calon murid terakhir yang akhirnya diterima sehingga mengenapi angka ganjil menjadi 10 murid siswa. Perkenalanpun dimulai di antara mereka dengan menyebutkan nama masingmasing di depan ruang kelas. Lambat laun mereka menjadi sebuah “tim” yang solid dan kompak, mereka saling tolong-menolong apabila diantara mereka mendapatkan kesulitan. Mereka, Sang Penulis beserta teman-teman sekelasnya yang berjumlah 10 orang menyebut diri mereka Laskar Pelangi. Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Contohnya Lintang, seorang kuli kopra cilik yang harus bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan keingintahuannya akan ilmu atau hanya sekedar menyanyikan lagu kebangsaan di akhir kelas. Tokoh lainnya Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan masih banyak lagi tokoh lain yang akan menarik minat Anda dalam buku laskar pelangi ini. Mereka samua begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Kita bisa merasakan betapa ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan mendapati Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya. Novel laskar pelangi ini diakhiri dengan adanya pendatang baru yang membuat kelompok mereka bertambah. Seorang gadis tomboy dari keluarga kaya raya. Ayahnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan memiliki pengaruh pada suatu perusahaan milik BUMN di Pulau Belitong. Sangat kontras bila dibandingkan dengan murid-murid Laskar Pelangi lainnya. Dengan kedatangan pendatangan baru yang bernama Flo ini, alur cerita semakin menarik dan akan membuat kita semakin penasaran seperti apa ujung dari akhir cerita laskar pelangi ini. Mudah-mudahan resensi buku novel laskar pelangi ini bisa memberikan gambaran pada Anda sebelum memutuskan untuk membelinya. Menurut saya pribadi, buku ini sangat layak untuk dijadikan koleksi Anda karena memiliki nilai sastra yang tinggi sekaligus sangat enak untuk dinikmati terutama bagi pencinta novel. Evaluasi: - Format resensi Novel a. Identitas buku : Judul Nama Pengarang Penerbit Terbit Ukuran/hlm Nama presentasi : ………………… : ………………… : ………………… : ………………… : ………………… : ………………… : ………………………………… ………………………………… : ………………………………… ………………………………… ………………………………… ………………………………… : ………………………………… ………………………………… ………………………………… : ………………………………… b. Isi yang penting/menarik : 1. Tema (umum/khusus) 2. Alur cerita (hubungan antar peristiwa/susunan peristiwa) 3. Penokohan (karakter/keunikan tokoh-tokoh cerita) 4. Sudut pandang ………………………………… (cara pandang/wawas an penulis lewat tokoh) ………………………………… 5. Latar cerita : ………………………………… ………………………………… ………………………………… : ………………………………… ………………………………… : ………………………………… ………………………………… : ………………………………… ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… ………………………………… ………………………………… ………………………………… (mendukung/kurang men dukung kejelasan cerita) 6. Nilai-nilai (amanat) 7. Bahasa dan gaya ………………………………… Cerita (mudah/sulit dan humor/ serius/sinis) 8. Pengarang (latar belakang dan kreativitas) c. Keunggulan d. Kelemahan e. Simpulan (resume/ ringkasan cerita yang pokok) Sumber/Bahan: Prof.DR. Gorys. Keraf. Komposisi. Jakarta : Nusa Indah http://resensi-buku.com/component/content/article/37-novel/81-resensi-buku-laskarpelangi-karya-andrea-hirata http://www.crayonpedia.org/mw/Menulis_Resensi_Buku_Kumpulan_Cerpen_Berdasar kan_Unsur-Unsur_Resensi_12.1 http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/06/prinsip-prinsip-resensi-bukusastra.html http://longjournal.wordpress.com/2008/05/08/unsur-unsur-resensi/ Buku Eyd. Tema : Kuliner : Berbicara Standar Kompetensi 2. Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara. Komptensi Dasar : Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca Indikator : Mendata pokok-pokok isi artikel/buku yang diperoleh dari Menyampaikan (secara lisan) isi bacaan dengan (artikel /buku). hasil membaca. memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengemukakan hal-hal yang menarik dalam artiel/buku yang telah dibacanya dengan memberikan alasan. Tujuan Pembelajaran: Setelah kegiatan pembejaran siswa dapat: Mendata pokok-pokok isi artikel/buku yang diperoleh dari hasil Menyampaikan (secara lisan) isi bacaan dengan memperhatikan Mengemukakan hal-hal yang menarik dalam artiel/buku yang telah membaca. penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dibacanya dengan memberikan alasan. Membaca Artikel Pecel Tumpang Pincuk Lesehan Jalan Dhoho Kediri Jika anda berjalan-jalan ke Kota Kediri pada malam hari, belum lengkap jika tidak berkunjung di Jalan Dhoho. Jalan Dhoho ini layaknya Jalan Marlboro di Yogyakarta, namun versi Kediri. Berbagai pertokoan berjajar sepanjang Jalan Dhoho. Ada toko pakaian, aneka kerajinan dan swalayan. Tidak lupa berbagai makanan khas Kediri juga terpampang sepanjang jalan ini. a. Pecel tumpang Termasuk di antaranya adalah pecel tumpang. Nah, setelah anda puas berbelanja, anda bisa istirahat santai di pinggir Jalan Dhoho sembari memesan nasi pecel tumpang pincuk. Sembari makan pecel tumpang kita bisa menikmati lalu lalang kendaraan yang berjalan lambat di sepanjang Jalan Dhoho. Pecel tumpang Jalan Dhoho biasanya mulai digelar pukul 15.00 WIB hingga tengah malam. Jangan anggap bahwa pecel tumpang di sini disajikan di dalam ruangan lengkap dengan tempat duduk seperti apa yang kita bayangkan. Pembeli hanya disediakan tikar plastik atau karpet dan bebas memilih tempat duduk lesehan. Boleh di depan pertokoan yang tutup, trotoar maupun di manapun di sepanjang Jalan Dhoho, asal tidak di tengah jalan. Para penjual pecel tumpang pun tidak memiliki bedak. Mereka menggelar dagangannya di depan pertokoan dengan bermodalkan pikulan dan tempat seadanya. Walaupun tempat pedagang antara satu dengan lainnya saling berdekatan, namun mereka sama sama laku dan memiliki penggemar fanatik. Para penikmat pecel tumpang fanatik itu seringkali datang hanya untuk bersantai dan menikmati makanan khas Kediri ini. Menu yang disajikan pun beragam, sesuai dengan selera pembeli. Ada yang suka dengan nasi pecel, nasi tumpang maupun nasi campur (campuran antara tumpang dan pecel). Cara penyajian sambal tumpang tak jauh beda dengan cara penyajian sambal pecel, yaitu dengan nasi yang di atasnya di beri aneka lalapan atau sayur – mayur yang telah direbus terlebih dahulu lalu disiram dengan sambal tumpang dan diberi peyek sebagai pelengkap, bisa peyek kacang atau peyek teri. Pecel tumpang ini disajikan disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang. Anda bisa menggunakan sendok yang disediakan atau muluk pakai tangan. Jika anda muluk anda tinggal minta kobokan untuk cuci tangan. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati makanannya hanya mengeluarkan Rp. 5000,- anda sudah mendapatkan satu pincuk pecel tumpang, 1 gelas teh anget ato es teh dan sisanya bisa buat parkir. tidak mahal bukan? b. Pecel Tumpang Pincuk Sambal tumpang terbuat dari tempe yang telah busuk (bosok). Tempe yang sudah membusuk ini dimasak di campur dengan aneka bumbu seperti lombok atau cabe, bawang, garam dan bumbu dapur lainnya. Sambal tumpang memang terbuat dari tempe bosok, namun jangan keburu jijik cobalah dulu rasanya jika telah matang, pasti akan membuat anda ketagihan. Saya sudah mulai ketagihan. Di Kota Malang tempat saya tinggal sekarang setahu saya pecel tumpang yang rasanya nendang di lidah hanya ada di samping Rumah Saikit Islam Dinoyo. Namun warung itu hanya buka dari jam 06.30 sampai jam 12.00 WIB. Itu pun saya harus mengantri panjang untuk mendapatkannya. Untuk para pembaca yang hoby makan pecel tumpang bisa merekomendasikan di mana tempat-tempat yang paling nikmat untuk makan pecel tumpang menurut anda. Pasti akan menjadi refrensi para pembaca yang lain penikmat Pecel tumpang. Memahami Artikel Artikel dapat didefinisikan sebagai bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa fenomena itu terjadi. Artikel dapat menawarkan wawasan baru, baik berupa teori maupun keterampilan atau alternatif pemecahan masalah. Artikel-artikel dalam berbagai majalah dan surat kabar pada umumnya dapat digolongkan sebagai karangan eksposisi. Karangan yang berbentuk eksposisi biasanya berisi penjelasan-penjelasan yang bersifat informatif atau instruktif tentang berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, agama, keuangan, kesehatan, keluarga, olahraga, ilmu dan teknologi, kesusastraan, hukum, dan lainlain. Artikel juga dapat digolongkan sebagai karangan argumentasi. Karangan yang berbentuk argumentasi pada umumnya bertujuan untuk meyakinkan pembaca akan pendapat atau sikap engarang tentang suatu hal. Untuk tujuan itu, pengarang biasanya mengemukakan fakta-fakta, analisis fakta-fakta itu, dan kesimpulan berdasarkan analisis tersebut. Semua ini merupakan argumentasi yang digunakan oleh pengarang untuk meyakinkan pembaca. Keseluruhan artikel dapat dipahami, jika pokok pikiran dan jalinan hubungan antara semua pokok-pokok pikiran itu telah dipahami. Oleh karena itu, bacalah artikel untuk mendapatkan pikiran-pikiran pokok tiap paragraf. Evaluasi: 1. Bacalah artikel tentang yang disediakan! 2. Sampaikan (secara lisan) isi bacaan dengan memperhatikan penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar! 3. Kemuakan hal-hal yang menarik dalam artikel yang telah dibaca dengan memberikan alasan!. Sumber: Arifin, Zaenal dan Amran Tasai, 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo. http://Pecel Tumpang Pincuk Lesehan Jalan Dhoho Kediri - Jelajah Budaya.html http:// memahami-artikel-tentang-fakta-budaya.html Buku Eyd. Tema : Kegiatan : Berbicara Standar Kompetensi 2. Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara. Komptensi Dasar : Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu. Indikator : Mencatat pokok-pokok hasil wawancara topik tertentu. Membuat rangkuman hasil wawancara dengan kalimat Menyampaikan rangkuman hasil wawancara. yang efektif. Tujuan Pembelajaran: Setelah kegiatan pembejaran siswa dapat: Mencatat pokok-pokok hasil wawancara topik tertentu. Membuat rangkuman hasil wawancara dengan kalimat yang efektif. Menyampaikan rangkuman hasil wawancara. Mendata Pokok-Pokok Isi Wawancara Wawancara adalah proses dialog antara orang yang mencari informasi dengan orang yang memberikan informasi. Dalam wawancara ada penanya dan penjawab. Yang menjadi penjawab disebut sebagai narasumber. Umumnya yang menjadi narasumber adalah seorang ahli atau pakar. Misalnya, narasumber untuk masalah pendidikan adalah guru atau kepala sekolah, bidang pemerintahan adalah kepala desa ata camat, dan bidang kesehatan adalah dokter atau bidan. Wawancara dapat dilakukan secara tertutup dalam ruangan tertutup dalam ruangan khusus dan dapat pula dalam ruangan terbuka, yang disaksikan oleh umum (Talk show, gelar wicara). Wawancara tertutup umunya dilakukan berkenaan dengan masalah-masalah yan bersifat pribadi atau rahasia. Sementara itu, wawancara terbuka dilangsungkan dengan permasalahan yang menyangkut kepentingan umum. Dalam wawancara terbuka, jumlah penanya bisa lebih dari satu orang demikian juga dengan narasumbernya. Contoh wawancara terbuka dapat kita saksikan di televisi dengan judul acara seperti Debat, Dialog, Bincang-Bincang, Interupsi dan sebagainya. Dalam acara-acara itu, penanya sering pula melibatkan penonton. Menjelaskan Hasil Wawancara Wawancara pada dasarnya suatu dialog yang memungkinkan suatu pihak (pewawancara) membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Dengan demikian, percakapan itu lebih terstruktur dan mungkin melibatkan lebih dari dua orang. Wawancara umumnya bertujuan memberi fakta, alasan, opini untuk sebuah topik tertentu dengan menggunakan kata-kata narasumber sehingga pembaca/pendengar dapat membuat kesimpulan dari apa yang dikatakan narasumber. Sebelum melakukan wawancara, ada hal yang harus diperhatikan, antara lain: 1. menetapkan tujuan wawancara, 2. menentukan narasumber yang tepat untuk diwawancarai, 3. merumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai etika wawancara, yakni dengan tidak bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dan jangan menggunakan kalimat introgatif, dan 4. membuat kesepakatan jadwal melakukan wawancara dengan narasumber. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada narasumber sebaiknya dimulai dari pertanyaan umum dan terbuka, kemudian masuk ke detail, dan selanjutnya ke fakta khusus. Ragam pertanyaan yang diajukan sangat erat hubungannya dengan tujuan wawancara. Pertanyaan dapat bertujuan untuk mencari dan menemukan pendapat narasumber, meminta informasi, mengklarifikasi, atau bahkan konfrontasi. Pertanyaan sebaiknya pendek, sederhana, dan mudah dimengerti serta mengundang jawaban. Selanjutnya, pewawancara membuat laporan hasil wawancara. Dalam hal ini, penulis sebaiknya menuliskan hasil wawancara dalam kalimat yang efektif dan tidak menambahkan opini pribadi. Tips-tips wawancara: 1. Siapkan daftar pertanyaan sebelum wawancara. 2. Ajukan pertanyaan yang umum baru ke hal yang khusus. 3. Gunakan bahasa Indonesia yang efektif dan komunikatif. 4. Hindari pertanyaan yang menyinggung perasaan narasumber. 5. Bersikaplah sopan dan wajar. 6. Bila terjadi penyimpangan, arahkan pembicaraan ke pokok persoalan semula. Dalam mempergunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, penanya tidak semata-mata tergantung pada pertanyaan yang dipersiapkan itu. Bila ada informasi yang menarik dan perlu diketahui lebih lanjut, maka penanya akan mengajukan pertanyaan baru di luar daftar tersebut. Evaluasi 1. Bentuklah kelompok beranggotakan 3-4 siswa, kemudian berdiskusilah untuk menentukan: a. tujuan melakukan wawancara. b. narasumber yang tepat dan beri alasan memilih narasumber tersebut. c. jadwal wawancara. 2. Rumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan tuuan wawancara! 3. Lakukanlah wawancara dengan narasumber! 4. Setelah kelompok melakukan wawancara, buatlah laporan laporan hasil wawancara! Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Membuat Majalah Dinding Sebagai pelajar, Anda tentu menjadi bagian dari kalangan intelektual. Kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut adalah kegiatan penulisan artikel yang dipublikasikan melalui majalah dinding atau mading. Latihan ini akan sangat berguna untuk mengasah kemampuan Anda dalam mempersiapkan diri masuk kalangan intelektual. Mengingat pentingnya latihan menulis artikel ini, maka perlu adanya rencana untuk membuat majalah dinding. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan majalah dinding adalah sebagai berikut. No Dasar Penjela san Majalah dinding harus dapat dibaca jelas pada Tata Letak untuk majalah dinding jangan hanya memperhitungkan segi seni/keindahan, tetapi utamakan kenyamanan Majalah dinding + berukuran 60 x Artikel harus bersifat netral atau tidak ada tujuan memihak siapapun. Setiap majalah dinding yang dibuat harus fokus pada satu tema, misalnya lingkungan, sosial, seni, musik, artikel dan lain-lain. Isi dalam majalah dinding harus disesuaikan dengan calonterbiasa dengan pembaca. Agar bahasa baku, usahakan setiap tulisan menggunakan bahasa baku yang tetap menarik. Opini, fakta, problematika masalah pelajar dan penyelesaiannya, TTS, pengetahuan baru secara teori atau keterampilan, karikatur, sastra, pojok (berisi humor, pesan, tulisan singkat), dan lain- 1. 2. Jarak pandang Layout (tata letak) 3. 4. Ukuran Isi artikel 5. Tema 6. Pembaca 7. Bahasa 8. Isi mading Evaluasi: Kerja kelompok: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bentuklah kelompok kerja Mading yang beranggotakan 4 sampai 5 Tentukan tema Mading berdasarkan kesepakatan kelompok! Usahakan Setiap Anggota kelompok ditugaskan membuat artikel dengan tema yang Susunlah artikel-artikel itu dalam Mading dengan rapi, indah, dan menarik! Tambahkan jenis tulisan lain sebagai pelengkap tampilan Mading! Tempelkan Mading di tempat strategis agar mudah menarik perhatian Mintalah komentar kepada pembaca Mading! siswa! tema kelompok Anda berbeda dengan kelompok lain. telah disepakati! pembaca Mading! Bonar, S.K. 1987. Teknik Wawancara. Jakarta: Bina Aksara. Keraf, Gorys, 1980. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah. http:// org. madding-majalah dinding disekolah.html Buku Eyd.
Fly UP