25
Resusitasi Asfiksia Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya : 1. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh ke posterior. 2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya 3. Kerusakan neurologis. 4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan / atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan / sirkulasi. 5. Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya. Penting untuk resusitasi yang efektif : 1. Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik 2. Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksia yang progresif 3. Kemampuan / alat pengaturan suhi, ventilasi, monitoring 4. Obat-obatan dan cairan yang diperlukan Asfiksia perinatal merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang penting. Akibat jangka panjang asfiksia perinatal ini dapat diperbaiki secara bermakna bila hal ini diketahui sebelum

Penatalaksanaan Resusitasi Bayi Baru Lahir

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mmmmm

Citation preview

ResusitasiAsfiksia Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya :1. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuhke posterior.2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnyaobat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya3. Kerusakan neurologis.4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /sirkulasi.5. Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahanResusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.Penting untuk resusitasi yang efektif :1. Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik2. Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksiayang progresif3. Kemampuan / alat pengaturan suhi, ventilasi, monitoring4. Obat-obatan dan cairan yang diperlukan

Asfiksia perinatal merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang penting. Akibat jangka panjang asfiksia perinatal ini dapat diperbaiki secara bermakna bila hal ini diketahui sebelum kelahiran (misalnya pada keadaan gawat janin ), sehingga dapat diusahakan memperbaiki sirkulasi / oksigenasi janin intrauterin atau segera melahirkan janin untuk mempersingkat masa hipoksemia janin yang terjadi. Proses yang terjadi pada asfiksia perinatal dapat diramalkan meskipun penyebabnya belum diketahui. Kekurangan oksigen pada janin sering disertai hiperkapnia dan asidosis campuran metabolik-respiratorik.Asfiksia yang terdeteksi sesudah lahir, prosesnya berjalan dalam beberapa fase / tahapan (Dawes) :1. Janin bernapas megap-megap (gasping), diikuti dengan2. Masa henti napas (fase henti napas primer).3. Jika asfiksia berlanjut terus, timbul seri pernapasan megap-megap yang kedua selama4-5 menit (fase gasping kedua), diikuti lagi dengan4. Masa henti napas kedua (henti napas sekunder)Bayi yang berada dalam keadaan henti napas primer, biasanya pletorik (walaupun banyak yang sianotik). Bayi dalam henti napas sekunder, berwarna biru sampai ungu dan pucat.Bayi yang dilahirkan dalam keadaan henti napas primer, sering dapat mulai bernapas spontan setelah stimulasi sensorik (misalnya telapak kaki ditepuk, atau punggung diusap-usap dengan agak cepat dan keras).Bayi yang berada dalam keadaan henti napas sekunder, tidak akan dapat mulai bernapas spontan, dan harus dibantu dengan ventilasi tekanan positif dan oksigen (resusitasi pernapasan artifisial / mekanik).Makin lama selang waktu dari saat mulai henti napas sekunder sampai dimulainya resusitasi ventilasi tekanan positif, makin lama pula waktu yang diperlukan bayi untuk mulai bernapas spontan yang adekuat, prognosis makin buruk.Selama asfiksia, curah jantung dan tekanan darah menurun. Terjadi redistribusi curah jantung untuk mempertahankan aliran darah ke otak, jantung dan adrenal. Pada asfiksia yang terus berlanjut, curah jantung makin menurun dan aliran darah ke organ-organ vital tidak mencukupi lagi.Pada bayi dengan asfiksia, secara kasar terdapat korelasi antara frekuensi jantung dengan curah jantung. Karena itu pemantauan frekuensi jantung (misalnya dengan stetoskop, atau perabaan nadi tali pusat ) merupakan cara yang baik untuk memantau efektifitas upaya resusitasi.Prinsip-prinsip umum prosedur resusitasi neonatusT (temperature), baru kemudian A-B-C-D

Pengaturan suhuSemua neonatus dalam keadaan apapun mempunyai kesukaran untuk beradaptasi pada suhu lingkungan yang dingin. Neonatus yang mengalami asfiksia khususnya, mempunyai sistem pengaturan suhu yang lebih tidak stabil, dan hipotermia ini dapat memperberat / memperlambat pemulihan keadaan asidosis yang terjadi.Segera sesudah lahir, badan dan kepala neonatus dikeringkan dengan kain kering hangat, dan diletakkan telanjang di bawah alat / lampu pemanas radiasi untuk mencegah kehilangan panas. Namun harus diperhatikan pula agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada tubuh bayi.Penilaian status klinikDigunakan penilaian Apgar untuk menentukan keadaan bayi pada menit ke 1 dan ke 5 sesudah lahir.Nilai pada menit pertama : untuk menentukan seberapa jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan asidosis dan kelangsungan hidup.Nilai pada menit kelima : untuk menilai prognosis neurologik.Ada pembatasan dalam penilaian Apgar ini, yaitu :1. Resusitasi segera dimulai bila diperlukan, dan tidak menunggu sampai ada penilaianpada menit pertama.2. Keputusan perlu-tidaknya resusitasi maupun penilaian respons resusitasi dapatcukup dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktifitas respirasi dan tonusneuromuskular, daripada dengan nilai Apgar total. Hal ini untuk menghemat waktu.Posisi Dari Bayi Baru LahirBayi baru lahir rata rata mempunyai lidah yang relatif besar yang dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas. Tempatkan kepala dalam posisi sniffing position ( posisi sedikit flexi kepala) dengan handuk yang diletakkan di bawah bahu. Hal ini dapat membantu menggerakkan lidah dari orofaring bagian posterior dan membuka jalan nafas.Bebaskan/bersihkan jalan nafas Pastikan bahwa jalan nafas bayi bebas dari berbagai bahan atau material yang dapat menghalangi masuknya udara ke dalam paru. Hal ini dapat dilakukan dengan :1. Ekstensikan kepala dan leher dengan mengganjal bahu bayi menggunakan lipatan kain2. Hisap lendir/cairan pada mulut, hidung atau jalan nafas dari cairan ketuban,mekoneum atau bahan-bahan lainnya.Suction tidak boleh terlalu dalam karena dapat menyebabkan laringospasme dan bradikardi karena rangsangan N. vagus (vagal reflek). Selama prosedur dilakukan sebaiknya kita memantau denyut jantung. Suctioning dilakukan dalam interval 5 detik dan dihentikan jika terjadi bradikardi yang berat.Rangsang TaktilPada umumnya bayi baru lahir dengan depresi kardiorespirasi ringan sedang akan berespon baik terhadap rangsang taktil yang ditandai dengan meningkatnya denyut jantung dan bertambahnya usaha respirasi. Usaha yang lain adalah dengan menggosok punggung bayi dan memukul telapak kaki bayi. Mengeringkan tubuh bayi, pengisapan lendir atau cairan ketuban dari mulut dan hidung, pada dasarnya adalah tindakan rangsangan. Untuk bayi yang sehat, prosedur tersebut sudah cukup untuk menimbulkan pernafasan.Prosedur rangsangan taktil yang berbahayaSatu atau dua kali perangsangan taktil pada umumnya sudah cukup untuk menimbulkan usaha bernafas pada bayi dengan asfiksia/depresi pernafasan ringan atau apneu primer (apneu yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak melebihi waktu 5 menit sehingga belum terjadi hipoksia berat atau penurunan fungsi kardiopulmonal). Bila setelah rangsangan taktil yang adekuat ternyata bayi belum bernafas, segera lakukan resusitasi. Melanjutkan rangsangan taktil pada bayi yang tidak memberikan reaksi atau respons, dianggap membuang-buang waktu dan kesempatan untuk menyelamatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir.Adabeberapa cara perangsangan taktil yang sering dilakukan tetapi sudah tidak dianjurkan lagi karena mempunyai risiko atau dampak yang kurang menguntungkan pada bayi baru lahir.TindakanAkibat

Menepuk bokongTrauma dan melukai

Menekan rongga dadaFraktur, pneumotoraks, gawat nafas, kematian

Menekankan paha ke perut bayiRuptura hati/limpa, perdarahan

Mendilatasi sfingter aniRobek atau lecet pada sfingter

Kompres dingin/panasHipotermia, luka bakar

Meniupkan oksigen atau udara dingin ke muka tubuh bayiHipotermia

Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar SKOR APGAR

TAMPILAN012NILAI

AAPPEARANCE / WARNA KULITPucatBadan merah, ekstremitas kebiruanSeluruh tubuh kemerahan

PPULSE / DENYUT JANTUNGTidak ada> 100

GGRIMACE / REAKSI TERHADAP RANGSANGANTidak adaMenyeringaiBersin/batuk

AACTIVITY / TONUS OTOTTidak adaEkstremitas sedikit fleksiGerakan aktif

RRESPIRATION / PERNAFASANTidak adaLemah/tidak teraturMenangis kuat

JUMLAH NILAI APGAR :

1. Nilai Apgar menit pertama 7 10 : biasanya bayi hanya memerlukan tindakanpertolongan berupa penghisapan lendir / cairan dari orofaring dengan menggunakanbulb syringe atau suction unit tekanan rendah. Hati-hati, pengisapan yang terlalu kuat /traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan bradikardia sampai henti jantung.2. Nilai Apgar menit pertama 4 6 : hendaknya orofaring cepat diisap dan diberikan O2100%. Dilakukan stimulasi sensorik dengan tepukan atau sentilan pada telapak kakidan gosokan selimut kering pada punggung. Frekuensi jantung dan respirasi terusdipantau ketat. Bila frekuensi jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harusdiberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan sungkup muka. Jikatidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung-mulut.3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang : bayi mengalami depresi pernapasan yangberat dan orofaring harus cepat dihisap. Ventilasi dengan tekanan positif dengan O2100% sebanyak 40-50 kali per menit harus segera dilakukan. Kecukupan ventilasidinilai dengan memperhatikan gerakan dinding dada dan auskultasi bunyi napas. Jika frekuensi jantung tidak meningkat sesudah 5-10 kali napas, kompresi jantung harus dimulai. Kompresi dinding dada dapat dilakukan dengan melingkari dinding dada dengan kedua tangan dan menggunakan ibu jari untuk menekan sternum atau dengan menahan punggung bayi dengan satu tangan dan menggunakan ujung dari jari telunjuk dan jari tengah dari tangan yang lain untuk menekan sternum. Tehnik penekanan dengan ibu jari lebih banyak dipilih karena kontrol kedalaman penekanan lebih baik.Tekanan diberikan di bagian bawah dari sternum dengan kedalaman 1,5 cm dan dengan frekuensi 90 X / menit. Dalam 3 X penekanan dinding dada dilakukan 1X ventilasi sehingga didapatkan 30 X ventilasi per menit. Perbandingan kompresi dinding dada dengan ventilasi yang dianjurkan adalah 3 : 1. Evaluasi denyut jantung dan warna kulit tiap 30 detik. Bayi yang tidak berespon, kemungkinan yang terjadi adalah bantuan ventilasinya tidak adekuat, karena itu adalah penting untuk menilai ventilasi dari bayi secara konstan.Jika frekuensi jantung tetap di bawah 100 kali per menit setelah 2-3 menit, usahakan melakukan intubasi endotrakeal.Kalau frekuensi jantung tetap kurang dari 100 setelah intubasi, berikan 0.5 1 ml adrenalin (1:10.000). Dapat juga secara intrakardial atau intratrakeal, tapi lebih dianjurkan secara intravena.Jika tidak ada ahli yang berpengalaman untuk memasang infus pada vena perifer bayi, lakukan kateterisasi vena atau arteri umbilikalis pada tali pusat, dengan kateter umbilikalis. Sebelum penyuntikan obat, harus dipastikan ada aliran darah yang bebas hambatan. Dengan demikian pembuluh tali pusat dibuat menjadi drug/fluid transport line.Jangan memasukkan larutan hipertonik seperti glukosa 50% atau natrium bikarbonat yang tidak diencerkan melalui vena umbilikalis, karena dapat merusak parenkim hati.Bayi dengan asfiksia berat yang tidak responsif terhadap terapi atau mempunyai frekuensi jantung yang adekuat tetapi perfusinya buruk, hendaknya diberikan cairan ekspansi volume darah ( plasma volume expander ) : 10 ml/kgBB Plasmanate atau albumin 5% secara infus selama 10 menit.Kalau diduga banyak terjadi perdarahan, berikan transfusi 10 ml/kgBB darah lengkap (whole blood).Bila bradikardia menetap : ulangi dosis adrenalin. Dapat juga diberikan kalsium glukonat 10% untuk efek inotropik 50-100 mg/kgB intravena perlahan-lahan, atau sulfas atropin untuk antikolinergik / terapi bradikardia 0.01 mg/kgBB.Asidosis respiratorik : dikoreksi dengan memperbaiki ventilasiAsidosis metabolik : dikoreksi dengan infus natrium bikarbonat dan cairan ekspansi volume darah.Ada 3 masalah penting berkaitan dengan pemberian natrium bikarbonat pada bayi :1. Zat ini sangat hipertonik. Bila diberikan dengan cepat dan dalam jumlah besar akanmengekspansi volume intravaskular.2. Jika diberikan dalam keadaan ventilasi tidak adekuat, PaCO2 akan meningkat nyata,pH akan turun, asidosis makin berat dan dapat terjadi kematian. Hendaknya natriumbikarbonat hanya diberikan jika ventilasi adekuat, atau telah terpasang ventilasimekanik yang baik.3. Pemberian bikarbonat dapat pula menyebabkan hipotensi.Bagan resusitasi neonatus

Letakkan bayi dibawah radiant heaterKeringkan tubuh bayiSisihkan kain yang basahTempatkan bayi pada posisi yang benarPenghisapan dari mulut lalu hidungStimulasi taktil bila perlu

Observasi bila kulit merah atau sianosis perifer

Obat-obatan bila bunyi jantung

60-100

Penyulit yang mungkin terjadi selama resusitasi

HipotermiaDapat memperberat keadaan asidosis metabolik, sianosis, gawat napas, depresi susunan saraf pusat, hipoglikemia.PneumotoraksPemberian ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat dan tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan komplikasi ini. Jika bayi mengalami kelainan membran hialin atau aspirasi mekonium, risiko pneumotoraks lebih besar karena cadangan jaringan paru lebih lemah.Trombosis venaPemasangan infus / kateter intravena dapat menimbulkan trauma pada dinding pembuluh darah, potensial membentuk trombus. Selain itu, infus larutan hipertonik melalui pembuluh darah tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis hati dan trombosis vena.INTRODUKSI TENTANG PERAWATAN INTENSIF NEONATUS(NEONATAL INTENSIVE CARE)Transfer ke unit perawatan intensif neonatus

Transfer ke unit perawatan intensif neonatus ( NICU neonatal intensive care unit ) dipertimbangkan pada keadaan / kasus :1. Gawat napas (sianosis, takipnea, retraksi dinding dada, pernapasan cuping hidung, atauhenti napas) yang memerlukan O2 40% atau lebih untuk mencegah sianosis sentral2. Bayi prematur kurang dari 2000 gram atau usia gestasi kurang dari 37 minggu3. Bayi yang sedang mengalami pemulihan dari upaya resusitasi besar4. Bayi yang sangat mungkin memerluka bantuan respirasi atau bantuan medis besarlainnya.Masalah pada neonatus risiko tinggi1. Khusus pada bayi prematur : hiperbilirubinemia akibat organ hati belum matang,volume darah rendah, hipoglikemia, defisiensi faktor-faktor imunologik, defisiensisurfaktan.2. Pada neonatus risiko tinggi umumnya : rentan terhadap infeksi.Hal yang diperhatikan pada perawatan intensif neonatusPengendalian infeksiInfeksi nosokomial merupakan penyebab infeksi yang sering menyerang neonatus dalam perawatan. Penularan dapat melalui petugas medis maupun peralatan yang digunakan.Keadaan neonatus risiko tinggi sangat lemah, dapat segera memburuk jika terserang infeksi, lebih cepat dan lebih berat dibandingkan bayi normal lainnya.Sterilisasi dan kebersihan merupakan syarat utama suatu unit perawatan intensif pada umumnya, termasuk pada unit perawatan intensif neonatus.Hati-hati bila ada gejala-gejala yang mengarah ke sepsis neonatorum :1. Gejala umum : bayi tidak kelihatan sehat, tidak mau minum, suhu badan naik (febris)atau turun (hipotermia) padahal berada dalam kontrol suhu ruangan yang benar.2. Gejala gastrointestinal : muntah, diare, hepatomegali, perut kembung, warnakemerahan3. Gejala respiratorik : dispneu, takipneu, sianosis4. Gejala kardiovaskular : takikardia, oedem, dehidrasi, produksi urine kurang5. Gejala susunan saraf pusat : letargi, iritabel, kejang, tidak sadar6. gejala hematologik : ikterus, splenomegali, petekiae, perdarahan lain, hitung leukositdan/atau trombosit menurun.Pengendalian suhuNeonatus tidak mampu mempertahankan suhu tubuhnya dalam lingkungan yang terlalu panas atau dingin. Hal ini karena luas permukaan tubuhnya relatif besar perbandingannya terhadap berat badan, sehingga kehilangan panas badan lebih tinggi.Jika terdapat keadaan hipoksia dan stabilitas kardiovaskular yang rendah, daya tahan terhadap suhu lingkungan akan semakin menurun.MonitoringKeadaan umum, tanda vital, gejala-gejala patologis, peningkatan / penurunan berat badan, keseimbangan cairan, kadar elektrolit dan osmolaritas serum, pemeriksaan urine, dilakukan rutin.Cairan, elektrolit dan nutrisiSemua neonatus dalam unit perawatan intensif sebaiknya menerima cairan / nutrisi / obat melalui infus intravena.Jumlah cairan tergantung pada usia bayi, ukuran / berat badan, status klinis dan fisiologis, serta keadaan patologik yang mungkin menyertai (misalnya diare, ikterus, anemia, dan sebagainya).Kebutuhan cairan basal umumnya 50-100 cc/kgbb pada hari pertama, kemudian turun sampai 60-70 cc/kgbb pada hari ketiga. Jika bayi memiliki berat badan lebih rendah atau usia kehamilan lebih prematur, kebutuhan cairan menjadi lebih tinggi.Infus cairan dimonitor setiap 6-8 jam, dengan input / output balans yang ketat. Tiap 24 jam dibuat rekapitulasi meliputi keseimbangan cairan dan elektrolit, input/output termasuk insensible water loss, fungsi ginjal, dan pemeriksaan elektrolit serum.Elektrolit Na+ diberikan 3 mEq/dl cairan, dan K+ 2 mEq/dl.Nutrisi maksimum diberikan 75 kalori per 100 cc cairan, dalam bentuk asam amino dan larutan glukosa, melalui infus intravena.Jika bayi dapat minum dan ibu dapat mengeluarkan ASI, bayi harus diberikan ASIObat-obatan1. Untuk asidosis, digunakan natrium bikarbonat.2. Untuk stimulasi kardiovaskular dan vasopresor, digunakan epinefrin.3. Kalsium glukonas meningkatkan kontraktilitas miokardium, hati2, pemberian terlalucepat dapat menyebabkan aritmia.4. Glukosa untuk sumber energi. Hati-hati dalam perhitungan, dapat terjadi hipo /hiperglikemia atau hiper/hipoosmolalitas.5. Albumin dipakai sebagai plasma volume expander jika ada hipovolemia, terutama jikatidak ada transfusi darah.6. Naloxon dapat digunakan jika terjadi depresi kardiovaskular dan/atau pernapasanakibat anastesia atau analgesia yang diberikan pada ibu sebelum persalinan.7. Furosemide dapat dipakai jika dicurigai ada oedem paru atau gagal jantung akibatoverload cairan.8. Antibiotik umum dipakai golongan penicillin atau aminoglikosid, dipilih yang berspek-trum luas, dapat menembus sawar darah otak, tidak toksik , dapat diberikan secaraparenteral.Transfusi darahBayi prematur sering mengalami anemia. Anemia pada neonatus jangan berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin atau hematokrit, karena nilai itu tidak representatif terha-dap status oksigenasi jaringan oleh sel-sel darah merah.Anemia pada neonatus seharusnya mempertimbangkan :1. Jumlah absolut hemoglobin dalam sirkulasi yang menentukan transport oksigen didalam darah.2. Fungsi yang menentukan kemampuan melepaskan oksigen ke dalam jaringanSehingga pada neonatus, massa eritrositlah yang menjadi variabel yang menentukan kapasitas angkut oksigen dalam sirkulasi, bukan nilai Hb atau Ht.Berdasarkan prinsip itu, karena masalah utama adalah oksigenasi jaringan dan bukan semata-mata nilai Hb atau Ht,maka terapi dengan oksigenasi lebih banyak diberikan pada neonatus dibandingkan transfusi darah.Umumnya transfusi darah jarang diberikan pada neonatus kecuali terjadi hipovolemia yang bermakna.Ventilasi mekanikPada bayi dengan fungsi respiratorik yang tidak adekuat, alat bantu pernapasan (ventilasi mekanik) memegang peranan yang sangat penting.Dalam penggunaan ventilasi mekanik di mana frekuensi pernapasan diatur oleh alat, diperlukan relaksasi otot pasien yang baik, serta depresi pernapasan spontan pasien, karena jika terjadi pola pernapasan spontan pasien yang tidak sesuai dengan pola yang diatur oleh alat, dapat terjadi pneumotoraks sampai perdarahan intrakranial. Untuk itu dapat digunakan misalnya pelumpuh otot pancuronium, atau obat golongan morfin atau barbiturat yang juga memiliki efek sedasi. Penting juga diperhatikan suhu, kelembaban, tekanan dan volume aliran oksigen yang digunakan.Penatalaksanaan Resusitasi Bayi Baru Lahir

Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa BBL perlu resusitasi, tindakan harus segera dilakukan. Penundaan pertolongan membahayakan bayi. Letakkan bayi di tempat yang kering. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan di atas perut ibu atau dekat perineum.

Pemotongan tali pusat Pola di atas perut ibuBidan yang sudah terbiasa dan terlatih meletakkan bayi di atas kain yang ada di perut ibu dengan posisi kepala sedikit ekstensi, selimuti bayi dengan kain, tetapi bagian dada dan perut tetap terbuka kemudian klem dan potong tali pusat. Tali pusat tidak usah diikat dulu, tidak dibubuhkan apapun dan tidak dibungkus. Pola dekat perineum ibuJika tali pusat sangat pendek sehingga cara pertama tidak memungkinkan, setelah bayi baru lahir dinilai, letakkan bayi di atas kain yang ada di dekat perineum ibu, kemudian segera klem dan potong tali pusat (tanpa diikat), tidak bubuhi apapun dan tidak dibungkus.

Tindakan resusitasi bayi baru lahir (bagan alur) Jika bayi tidak cukup bulan dan tidak bernapas atau bernapas mega-megap dan atau tonus otot tidak baikSambil memulai langkah awal: Beritahukan ibu dan keluarga, bahwa bayi mengalami kesulitan bernapas dan bahwa Anda akan menolongnya Mintalah salah seorang keluarga mendampingi ibu untuk memberi dukungan moral, menjaga ibu dan melaporkan bila ada perdarahan.

Tahap I: Langkah Awal1. Jaga bayi tetap hangat Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau sekitar 45 cm dari perineum Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap terbuka, potong tali pusat Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2 yang telah digelar di tempat resusitasi Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah pemancar panas.

2. Atur posisi bayi Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar 45 cm dari perineum Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.

Posisi menghidu. Sumber gambar: glown.com

3. Isap lendirGunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut: Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu dimasukkan Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk hidung jangan melewati cuping hidung.Jika dengan balon karet penghisap lakukan dengan cara sebagai berikut: Tekan bola di luar mulut dan hidung Masukkan ujung pengisap di mulut dan lepaskan tekanan pada bola (lendir akan terisap) Untuk hidung, masukkan di lubang hidup sampai cuping hidung dan lepaskan.

Resusitasi. Isap lendir BBL. Sumber gambar: helid.digicollection.org

4. Keringkan dan rangsang bayi Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat merangsang BBL mulai menangis Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang BBL mulai bernapas: Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak tangan Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering dibawahnya Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi.5. Atur kembali posisi kepala bayi Atur kembali posisi bayi menjadi posisi menghidu

Langkah penilaian bayiLakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.

Tahap II: VentilasiVentilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.Langkah-langkah:1. Pasang sungkupPasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.2. Ventilasi 2 kaliLakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm airTiupan awal tabung-sungkup atau remasan awal balon-sungkup sangat penting untuk menguji apakah jalan napas bayi terbuka dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas.Lihat apakah dada bayi mengembang

Tindakan ventilasi BBL sambil memperhatikan dada bayi.Sumber gambar: helid.digicollection.org

Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada bayi mengembang. Jika tidak mengembang: Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan pengisapan Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30 cm air, jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.3. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai bernapas spontan dan menangis Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.Jika bayi mulai bernapas/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap. Lihat dada apakah ada retraksi Hitung frekuensi napas per menitJika bernapas >40 per menit dan tidak ada retraksi berat: Jangan ventilasi lagi Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan lanjutkan asuhan BBL Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatanJangan tinggalkan bayi sendiri.Lakukan asuhan pasca resusitasi.Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan ventilasi.4. Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang napas Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air) Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan penilaian ulang bayi, apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megapJika bayi mulai bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi.Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, teruskan ventilasi 20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang napas setiap 30 detik.5. Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit resusitasi Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan dan mengapa Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik persalinan6. Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut jantung Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air) Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan nilai ulang napas dan nilai jantung.Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar, ventilasi 10 menit. Hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta lakukan pencatatan.Bayi yang mengalami henti jantung 10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak yang permanen.Tahap III: Asuhan pasca resusitasiSetelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi yang merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan pasca resusitasi)yaitu: Jika resusitasi berhasil Jika perlu rujukan Jika resusitasi tidak berhasilTindakan resusitasi BBL jika air ketuban bercampur mekonium Apakah mekonium itu?Mekonium adalah feses pertama dari BBL. Mekonium kental pekat dan berwarna hijau kehitaman.Kapan mekonium dikeluarkan?Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali sesudah persalinan (12 24 jam pertama). Kira-kira 15% kasus mekonium dikeluarkan sebelum persalinan dan bercampur dengan air ketuban, hal ini menyebabkan cairan ketuban ebrwarna kehijauan. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan. Bila mekonium telah terlihat sebelum persalinan dan bayi pada posisi kepala, monitor bayi dengan seksama karena ini merupakan tanda bahaya.Apa yang menyebabkan janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan?Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. Kadang-kadang janin tidak memperoleh oksigen yang cukup (gawat janin). Kekurangan oksigen dapat meningkatkan gerakan usus dan membuat relaksasi otot anus sehingga janin mengeluarkan mekonium. Bayi-bayi dengan risiko lebih tinggi untuk gawat janin seringkali memiliki lebih sering pewarnaan air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan), misalnya bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) atau bayi post matur.Apakah bahaya air ketuban bercampur mekonium?Mekonium yang dikeluarkan dan bercampur air ketuban dapat masuk ke dalam paru-paru janin di dalam rahim atau sewaktu bayi mulai bernapas saat lahir. Tersedak mekonium dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin kematian.Apa yang dapat dilakukan untuk membantu seorang bayi bila terdapat air ketuban bercampur mekonium?Siap untuk melakukan resusitasi bayi apabila cairan ketuban bercampur mekonium. Langkah-langkah tindakan resusitasi pada bayi baru lahir jika air ketuban bercampur mekonium sama dengan pada bayi yang air ketubannya tidak bercampur mekonium hanya berbeda pada: Setelah seluruh badan bayi lahir: penilaian apakah bayi menangis/ bernapas/ bernapas normal/ megap-megap/ tidak bernapas?Jika menangis/ bernapas normal, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, lanjutkan dengan langkah awal.Jika megap-megap atau tidak bernapas, buka mulut lebar, dan isap lendir di mulut, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan langkah awal.Keterangan: Pemotongan tali pusat dapat merangsang pernapasan bayi, apabila masih ada air ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bisa tersedak (aspirasi).

Top of Form

Bottom of FormMacam-macam Reflek Primitif pada Bayi Baru Lahir

Reflek Ketuk Glabella : Reflek ini diperiksa dengan mengetuk secara berulang pada dahi. Ketukan akan diterjemahkan sebagai sinyal yang diterima oleh saraf sensori aferen yang akan dipindahkan oleh nervus trigeminal dan sinyal saraf eferen akan kembali ke otot orbicularis oculi melalui saraf facial yang akan menggerakkan reflek pada mata yaitu berkedip. Kedipan mata akan mucul sebagai reaksi terhadap ketukan tersebut namun hanya timbul sekali yaitu pada ketukan pertama. Jika kedipan mata terus berlangsung pada ketukan-ketukan selanjutnya, maka disebut tanda-tanda Myerson, yang merupakan gejala awal penyakit Parkinson, dan hal tersebut tidak normal.

Reflek Mata Boneka : Reflek ini diperiksa sebagai salah satu cara untuk menentukan mati batang otak. Jika kepala diputar-putar (ditolehkan ke samping kanan dan kiri) maka bola mata akan bergerak. Namun jika pada pemeriksaan ini bola mata tetap berhenti atau tidak bergerak sama sekali berarti dimungkinkan ada kematian batang otak.

Reflek Rooting : Reflek ini ditunjukkan pada saat kelahiran dan akan membantu proses menyusui. Reflek ini akan mulai terhambat pada usia sekitar empat bulan dan berangsur-angsur akan terbawa di bawah sadar. Seorang bayi baru lahir akan menggerakkan kepalanya menuju sesuatu yang menyentuh pipi atau mulutnya, dan mencari obyek tersebut dengan menggerakkan kepalanya terus-menerus hingga ia berhasil menemukan obyek tersebut. Setelah merespon rangsang ini (jika menyusui, kira-kira selama tiga minggu setelah kelahiran) bayi akan langsung menggerakkan kepalanya lebih cepat dan tepat untuk menemukan obyek tanpa harus mencari-cari.

Reflek Sucking : Reflek ini secara umum ada pada semua jenis mamalia dan dimulai sejak lahir. Reflek ini berhubungan dengan rreflek rooting dan menyusui, dan menyebabkan bayi untuk secara langsung mengisap apapun yang disentuhkan di mulutnya. Ada dua tahapan dari reflek ini, yaitu :Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir bayi dan disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara langsung menekan (mengenyot) puting dengan menggunakan lidah dan langit-langitnya untuk mengeluarkan air susunya.Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air susu dari payudara ibu untuk ditelan oleh bayi.

Reflek tonick neck dan asymmetric tonick neck ini disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan menghilang pada sekitar usia lima bulan. Saat kepala bayi digerakkan ke samping, lengan pada sisi tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan menekuk (kadang-kadang pergerakan akan sangat halus atau lemah). Jika bayi baru lahir tidak mampu untuk melakukan posisi ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi dimungkinkan mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian, reflek tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang akan menyiapkan bayi untuk mencapai gerak sadar.

Reflek Palmar Grasping : Reflek ini muncul pada saat kelahiran dan akan menetap hingga usia 5 sampai 6 bulan. Saat sebuah benda diletakkan di tangan bayi dan menyentuh telapak tangannya, maka jari-jari tangan akan menutup dan menggenggam benda tersebut. Genggaman yang ditimbulkan sangat kuat namun tidak dapat diperkirakan, walaupun juga dimungkinkan akan mendorong berat badan bayi, bayi mungkin juga akan menggenggam tiba-tiba dan tanpa rangsangan. Genggaman bayi dapat dikurangi kekuatannya dengan menggosok punggung atau bagian samping tangan bayi.

Reflek Plantar : Reflek ini juga disebut reflek plantar grasp, muncul sejak lahir dan berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran. Reflek plantar ini dapat diperiksa dengan menggosokkan sesuatu di telapan kakinya, maka jari-jari kakinya akan melekuk secara erat.

Reflek Babinsky : Reflek babinsky muncul sejak lahir dan berlangsung hingga kira-kira satu tahun. Reflek ini ditunjukkan pada saat bagian samping telapak kaki digosok, dan menyebabkan jari-jari kaki menyebar dan jempol kaki ekstensi. Reflek disebabkan oleh kurangnya myelinasi traktus corticospinal pada bayi. Reflek babinsky juga merupakan tanda abnormalitas saraf seperti lesi neuromotorik atas pada orang dewasa.

Reflek Galant : Reflek ini juga dikenal sebagai reflek Galants infantile, ditemukan oleh seorang neurolog dari Rusia, Johann Susman Galant. Reflek ini muncul sejak lahir dan berlangsung sampai pada usia empat hingga enam bulan. Pada saat kulit di sepanjang sisi punggung bayi diigosok, maka bayi akan berayun menuju sisi yang digosok. Jika reflek ini menetap hingga lewat enam bulan, dimungkinkan ada patologis.

Reflek Swimming : Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisii air, ia akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Reflek ini akan menghilang pada usia empat sampai enam bulan. Reflek ini berfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia tenggelam. Meskipun bayi akan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun meletakkan bayi di air sangat berisiko. Bayi akan menelan banyak air pada saat itu. Disarankan untuk menunda meletakkan bayi di air hingga usia tiga tahun.

Reflek Moro : Reflek ini ditemukan oleh seorang pediatri bernama Ernst Moro. Reflek ini muncul sejak lahir, paling kuat pada usia satu bulan dan akan mulai mengjilang pada usia dua bulan. Reflek ini terjadi jika kepala bayi tiba-tiba terangkat, suhu tubuh bayi berubah secara drastis atau pada saat bayi dikagetkan oleh suara yang keras. Kaki dan tangan akan melakukan gerakan ekstensi dan lengan akan tersentak ke atas dengan telapak tangan ke atas dan ibu jarinya bergerak fleksi. Siingkatnya, kedua lengan akan terangkat dan tangan seperti ingin mencengkeram atau memeluk tubuh dan bayi menangis sangat keras. Reflek ini normalnya akan menghilang pada usia tiga sampai empat bulan, meskipun terkadang akan menetap hingga usia enam bulan.

Reflek Walking / Stepping : Reflek ini muncul sejak lahir, walaupun bayi tidak dapat menahan berat tubuhnya, namun saat tumit kakinya disentuhkan pada suatu permukaan yang rata, bayi akan terdorong untuk berjalan dengan menempatkan satu kakinya di depan kaki yang lain. Reflek ini akan menghilang sebagai sebuah respon otomatis dan muncul kembali sebagai kebiasaan secara sadar pada sekitar usia delapan bulan hingga satu tahun untuk persiapan kemampuan berjalan.