of 14 /14
PEMUPUKAN PADI A.DEFINISI Pemupukan padi adalah kegiatan penambahan nutrisi tanaman sesuai kebutuhan dan target hasil yang realistis. B. TUJUAN Setelah berlatih peserta dapat: 1. Menentukan dosis pemupukan spesifik lokasi 2. Menyiapkan pupuk 3. Melakukan pemupukan dengan baik dan benar C. MANFAAT Peserta dapat melakukan penanaman padi secara benar D. METODE Praktek E. ALAT DAN BAHAN Peralatan penanaman F.TEMPAT Lapangan/ usaha agribisnis G. LANGKAH KEGIATAN No Tahapan Uraian kegiatan Alat dan bahan 1 Menentukan dosis pemupukan spesifik lokasi a. Menentukan dosis melalui KATAM (P dan K) 1. Sediakan HP yang dapat digunakan untuk SMS 2. Buka menu SMS dan ketik “INFO PUPUK PADI TUNGGAL/PHONSKA/KUJANG /PELANGI (LOKASI KECAMATAN)” 3. Contoh INFO PUPUK PADI PHONSKA LAWANG 4. Kirim ke nomor KATAM 082123456500 - HP

Pemilihan Teknologi Pasca Panen (Sortasi, Grading dan ... Pemupukan.pdf · oksidasi sangat diperlukan dalam rangka menekan kehilangan ... memperbanyak anakan dan pertumbuhan ... Amonia

Embed Size (px)

Text of Pemilihan Teknologi Pasca Panen (Sortasi, Grading dan ... Pemupukan.pdf · oksidasi sangat...

  • PEMUPUKAN PADI

    A.DEFINISI

    Pemupukan padi adalah kegiatan penambahan nutrisi tanaman sesuai kebutuhan dan

    target hasil yang realistis.

    B. TUJUAN

    Setelah berlatih peserta dapat:

    1. Menentukan dosis pemupukan spesifik lokasi

    2. Menyiapkan pupuk

    3. Melakukan pemupukan

    dengan baik dan benar

    C. MANFAAT

    Peserta dapat melakukan penanaman padi secara benar

    D. METODE

    Praktek

    E. ALAT DAN BAHAN

    Peralatan penanaman

    F.TEMPAT

    Lapangan/ usaha agribisnis

    G. LANGKAH KEGIATAN

    No Tahapan Uraian kegiatan Alat dan bahan

    1 Menentukan dosis pemupukan spesifik lokasi a. Menentukan

    dosis melalui KATAM (P dan K)

    1. Sediakan HP yang dapat digunakan untuk SMS

    2. Buka menu SMS dan ketik INFO PUPUK PADI TUNGGAL/PHONSKA/KUJANG/PELANGI (LOKASI KECAMATAN)

    3. Contoh INFO PUPUK PADI PHONSKA LAWANG

    4. Kirim ke nomor KATAM 082123456500

    - HP

  • 5. Baca hasil balasan SMS yang merupakan dosis pemupukan rekomendasi spesifik lokasi kecamatan

    b. Mengawal dosis pemupukan N dengan BWD

    - Amati tanaman dengan BWD pada umur 21-28 untuk pemupukan susulan I, umur 38-42 untuk pemupukan susulan II dan khusus hibrida pada saat tanaman berbunga

    - Pilih daun termuda yang telah kembang sempurna dan sehat dari suatu tanaman untuk pengukuran warna daun.

    - Dari tiap lahan, pilih 10 daun dari 10 tanaman yang dipilih secara random (lebih banyak lebih baik) dan mewakili daerah penanaman.

    - Pastikan memilih tanaman dalam suatu area dimana populasi tanaman seragam.

    - Ukur warna dari tiap daun yang terpilih dengan memegang BWD dan menempatkan bagian tengah daun di atas standar warna untuk dibandingkan.

    - Selama pengukuran, tutupi daun yang sedang diukur dengan badan karena pembacaan warna

    - BWD

  • daun dipengaruhi oleh sudut matahari dan intensitas cahaya matahari.

    - Jangan memotong ataupun merusak daun, dan bila mungkin sebaiknya pengukuran dilakukan oleh orang yang sama pada waktu yang sama di hari-hari pengamatan.

    - Bila warna daun nampaknya berada diantara dua standar warna, ambil rata-rata dari keduanya sebagai pembacaan warna daun. Contoh; bila warna suatu daun padi terletak antara No. 3 dan No. 4, maka bacaan warna daun adalah 3,5.

    - Hitung rata-rata dari 10 pembacaan BWD. Bila nilai rata-rata pembacaan warna daun lebih rendah dari batas kritis yang sudah ditetapkan,

    - Lakukan sesuai contoh berikut, apabila target hasil 5 ton/ha dan pembacaan warna daun adalah 3,5 maka perlu ditambahkan 50 kg urea.

    2 Melakukan pemupukan

    - Kondisikan lahan macak macak - Tutup saluran pemasukan dan

    pengeluaran air - Lakukan pemupukan dengan

    cara menebar pada lajur jajar legowo untuk efektifitas pemupukan

    - Ember - Pupuk

    H. EVALUASI

    1. Bagaimana cara menentukan dosis pemupukan dari KATAM ?

    2. Bagaimana cara melakukan pemupukan?

  • I. HASIL

    . .. J. INFORMASI

    MENENTUKAN KEBUTUHAN PUPUK

    Dosis pupuk padi adalah kebutuhan pupuk yang diperlukan dalam satu musim tanam padi.

    Penentuan dosis pupuk untuk tanaman padi dapat dilakukan dengan berbagai cara,

    menggunakan BWD khusus untuk Nitrogen, menggunakan PUTS untuk menentukan dosis

    N, P dan K, menggunakan internet dengan memasukkan riwayat lahan, menggunakan

    omission plot, menggunakan analisa abu dsb. Dalam kontek ini akan dijelaskan tentang

    penentuan dosis pemupukan dengan menggunakan BWD dan PUTS.

    Pemupukan untuk tanaman padi bergantung pada :

    1. Status hara atau suplai hara tanah

    2. Kebutuhan tanaman akan hara

    3. Kandungan hara dalam pupuk.

    1. Beberapa gejala defisiensi

    Gejala defisiensi / kekurangan Nitrogen (N)

    1) Tanaman kerdil, daun kekuningan (klorosis) terutama daun tua

  • 2) Anakan sedikit dengan daun kecil-kecil

    3) Jumlah gabah sedikit

    Gejala Defisiensi N Pada Tanaman Padi .

    Gejala defisiensi/kekurangan fosfor (P)

    1). tanaman kerdil, hijau gelap

    2). akar dan anakan sedikit

    3). daun kecil, hijau gelap, pendek

    4). jumlah anakan, malai dan gabah per malai menurun

    5). sering timbul warna keunguan pada pelepah daun / batang

    6). pemasakan terlambat (terlebih pada pemupukan N tinggi)

    7). kehampaan gabah tinggi

    8). respon terhadap pemupukan N, rendah

    Gejala defisiensi Fosfor (P) pada padi sawah

    Gejala-gejala defisiensi/kekurangan K

    1) Pinggir daun berwarna kuning kecoklatan disertai bercak warna jingga terutama

    pada daun tua tanaman tumbuh kerdil dan daun-daun terkulai

    2) Sering terjadi rebah karena N/K ratio tinggi

    3) penuaan daun lebih cepat (leaf senescence)

  • 4) kehampaan gabah tinggi dan pengisian gabah tidak sempurna (banyak butir hijau)

    5) Pertumbuhan akar tidak sehat (banyak akar yang busuk karena kehilangan daya

    oksidasi, sehingga jerapan hara terganggu)

    6) Tanaman mudah terserang penyakit seperti blast, sheath blight, bercak daun,

    terlebih bila dipupuk N berlebihan

    2. Penggunaan Bagan Warna Daun

    Bagan Warna Daun atau BWD adalah alat bantu pengukuran dosis pemupukan yang

    terbuat dari plastik yang mempunyai 4 atau 6 skala warna yang dijadikan dasar

    penilaian kualitatif warna daun padi.

    1). Cara pengukuran warna daun dengan BWD :

    Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu

    pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.

    Taruh bagian tengah daun diatas BWD dan bandingkan warnanya. Jika warna

    daun berada diantara 2 skala, gunakan ilai rata ratanya, misal, nilai 3,5 untuk

    warna antara 3 dan 4.

    Mengukur warna daun dengan BWD

    Sewaktu mengukur dengan BWD jangan menghadap sinar matahari.

    Lakukan pengukuran pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama pula

    Jika lebih 5 dari 10 warna daun yang diamati berada dalam batas kritis, yaitu

    dibawah skala 4, maka tanaman perlu segera diberi pupuk N susulan sesuai

    dengan target hasil yang ingin dicapai. Pada tingkat hasil yang ingin di capai

    sebesar 5 ton/ha (GKG), takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 50

    kg/ha. Selanjutnya setiap peningkatan target hasil sebesar 1 ton/ha, diperlukan

    urea tambahan 25 kg urea /ha.

  • 2). Penggunaan BWD berdasarkan waktu yang telah ditetapkan :

    - Berikan 50-75 kg urea/ha sebagai pemupukan dasar atau pemupukan N

    pertama, sebelum tanaman berumur 14 HST. Pada saat ini BWD belum

    diperlukan.

    - Pada saat pemupukan susulan 2 dan 3 bandingkan skala warna daun dengan

    BWD.

    a) Bila warna daun berada pada skala 3 atau kurang, berikan 75 kg urea/ha, bila

    target hasil adalah 5 ton/ha GKG. Tambah 25 kg urea setiap kenaikan target

    hasil 1 ton/ha.

    b) Bila warna daun mendekati skala 4, berikan 50 kg urea/ha pada target hasil 5

    ton/ha GKG dan tambahkan urea 25 kg urea/ha untuk setiap kenaikan target

    hasil 1 ton/ha.

    c) Bila warna daun pada skala 4 atau mendekati 5 tanaman tidak perlu dipupuk

    untuk target hasil 5-6 ton/ha. Tambahkan urea 50 kg/ha untuk target hasil diatas

    6 ton/ha.

    MELAKUKAN PEMUPUKAN

    Pemupukan dasar adalah pemberian pupuk pada awal tanam. Pemupukan dasar dengan

    menggunakan pupuk organik dilakukan sebelum tanam, sementara pemberian pupuk

    anorganik dilakukan sesaat setelah tanam sampai tanaman umur 14 HST.

    A. Pupuk Organik

    Hasil survey dari Pusat penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak) Bogor

    menyatakan sebagian besar lahan sawah Indonesia kandungan C-Organiknya sangat

  • rendah, kurang dari 2 %. Sedangkan tanah yang subur kandungan C-organik tanahnya

    adalah 5%. Dengan kandungan C-organik yang rendah itu respon tanah terhadap

    pupuk kimia semakin menurun . Kesuburan (fisik dan biologi) tanah pun anjlok.

    Bahan organik adalah sesuatu yang utuh atau sebagian dari mahluk hidup, baik berupa

    kotoran maupun mahluk hidup itu sendiri yang sudah mati. Perombakan bahan organik

    oleh biota perombak (makro maupun mikro organisme) akan menghasilkan humus

    yang kaya akan bahan makanan bagi tanaman. Disamping itu bahan organik tanah

    juga dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan mengkelat beberapa unsur

    hara sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Pupuk organik juga dapat memperbaiki

    struktur tanah serta daya pegang air tanah.

    Demikian pentingnya pupuk organik sehingga Menteri Pertanian mengeluarkan

    peraturan No. 02/Pert./HK.060/2/2006 yang menetapkan bahwa pupuk organik adalah

    pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal

    dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat

    atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia

    dan biologi tanah.

    Fungsi bahan organik :

    Sebagai sumber bahan makanan (nutrisi) untuk tanaman secara langsung.

    Sebagai sumber nutrisi dan energi serangga perombak dan mikro-organisme

    pengurai. Pada tahap selanjutnya, biota mengurai tersebut akan menjadi sumber

    bahan makanan organisme lain termasuk tanaman.

    Memperbaiki aerasi tanah.

    Meningkatkan kapasitas menahan air dan kapasitas menahan nutrisi.

    Membantu proses nutrisi yang tidak tersedia menjadi tersedia melalui proses

    fiksasi dan mengurangi keasaman tanah.

    Meningkatkan ketebalan lapisan oksidasi pada saat tanah sawah di airi. Lapisan

    oksidasi sangat diperlukan dalam rangka menekan kehilangan nitrogen dari dalam

    tanah.

    B. Pupuk Anorganik

    1. Nitrogen

    Peranan/fungsi

  • Bagian terpenting dari asam-asam amino, asam nucleat, dan chlorophyl

    Mempercepat pertumbuhan vegetatif (pembentukan anakan, tinggi tanaman,

    lebar daun), panjang malai, jumlah gabah dsb.

    Meningkatkan kadar protein tanaman

    Nitrogen diambil tanaman dari larutan tanah dalan bentuk NO3- atau NH4

    +.

    Tanaman padi umumnya mengambil N dalam bentuk NH4+

    2. Fosfor (P)

    Peranan / fungsi

    bagian terpenting dari ATP (adenosin phosphate) energi kimia berfungsi

    untuk menyimpan dan transfer energi dalam seluruh proses metabolisme

    tanaman

    bagian utama inti sel dan asam nucleat

    memperbanyak anakan dan pertumbuhan akar

    mempercepat pembungaan dan pemasakan

    P diambil tanaman dari larutan tanah dalam bentuk ion H2PO4-, dan HPO4

    2-

    Kebutuhan P optimum : 2,6 kg P per ton gabah (> 30% berada di jerami)

    Tingkat efisiensi 385 kg gabah per kg P

    3. Kalium

    Peranan/fungsi

    tranportasi hasil-hasil asimilasi/proses fotosintesa di daun kebagian-bagian

    tanaman lainnya (akar, tunas/anakan, biji/gabah)

    mengatur tekanan osmose/turgor, memperkuat dinding sel

    aktivator enzym pada seluruh proses metabolisme tanaman

    menunda penuaan/ senesence daun

    meningkatkan jumlah gabah bernas dan menurunkan kehampaan

    K diambil tanaman dari larutan tanah dalam bentuk K+. Kebutuhan optimum K : 14,5

    kg K per ton gabah (> 80% berada di jerami). Tingkat efisiensi : 69 kg gabah per

    kg K

    C. Cara Pemupukan

    Pupuk nitrogen merupakan pupuk yang sangat mobil dan banyak kehilangannya di

    lapangan. Urea merupakan pupuk penyedia nitrogen yang sangat populer di

    masyarakat. Dengan kandungan 45% N dan sifatnya yang tidak menyebabkan tanah

    menjadi asam, urea menjadi pilihan utama dalam pemupukan padi. Namun, aplikasi

  • urea yang ditebar begitusaja, menggelitik penulis untuk mencoba memberikan sedikit

    ulasan tentang nasib urea di lahan sawah. Pada kesempatan ini penulis ingin

    menyampaikan bahwa di tanah tergenang terdapat 3 zona seperti gambar berikut :

    Gambar skema lapisan oksidasi dan lapisan reduksi Sumber : Mikkelsen, 1987

    Zona A

    Zona A merupakan zona volatilisasi atau zona penguapan nitrogen dalam bentuk NH3.

    Setelah ditebar Urea mengalami hidrolisis enzimatik dan diubah menjadi NH4+ :

    NH2CONH2 + 3H2O 2 NH4+

    + HCO3- + OH-

    NH4 ini merupakan ion yang dapat di serap oleh tanaman untuk proses metabolisme.

    Namun yang perlu diketahui selanjutnya bahwa NH4 rentan mengalami volatilisasi setelah

    menjadi ammonia (NH3), menyebabkan urea yang kita aplikasikan terbuang percuma.

    Beberapa faktor yang mempengaruhi volatilisasi ammonia diantaranya pH tanah, tekanan

    parsial CO2(pCO2)dan kimia karbonat, sifat pertukaran kation dan aktivitas jasad renik.

    Selain itu kecepatan angin, konsentrasi NH3 terlarut, tekanan parsial NH3 dalam air, udara

    suhu udara serta radiasi langsung juga mempengaruhi laju volatilisasi NH3. Pada

    percobaan yang dilakukan oleh Zhenghu dan Honglang pada tahun 2000, laju volatilisasi

    amonia berkorelasi positif dengan pH tanah, kandungan CaCO3, dan garam total tetapi

    berkorelasi negatif dengan kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation dan

  • kandungan liat. Artinya semakin meningkat nilai pH dan kandungan CaCO3 serta garam

    total, maka semakin besar volatilisasi NH3. Sedangkan semakin tinggi nilai KTK,

    kandungan bahan organik dan liat, semakin kecil volatilisasi. Dalam percobaan itu

    disebutkan pula bahwa pH tanah merupakan faktor yang paling doniman dalam volatilisasi

    NH3.

    Amonia yang dihasilkan dalam sistem karbonat aquatik melibatkan reaksi sbb:

    NH4+ + OH- (NH3)aq + H2O

    NH4+ + HCO3

    - H2O + CO2

    NH4+ + CO3

    2- 2(NH3)aq + H2O + CO2

    Menurut greenland, Volatilisasi terjadi bila pH air genangan meningkat diatas pH 7,5,

    sedangkan nilai pH air genangan ditentukan oleh konsentrasi CO2 dalam air. Konsentrasi

    CO2 dalam air dapat berkurang karena fotosintesis dan respirasi tumbuhan alga dan jasad

    renik lainnya serta perubahan suhu genangan air pada siang hari. Semakin berkurang

    konsentrasi CO2 dalam air maka semakin tinggi pH, sesuai dengan reaksi dalam sistem

    karbonat sebagai berikut :

    CO2 +H2O HCO3- + H+

    HCO3- CO3

    2- + H+

    Dari persamaan diatas, bila fotosintesis meningkat maka terjadi penurunan konsentrasi

    CO2 yang menyebabkan asam karbonat meningkat sehingga pH meningkat. Setiap hari

    terjadi fluktuasi pH dalam genangan air dari 7,5 9,5 dan nilai ph maksimum adalah pukul

    14 dan menurun sampai sore hari. Pola perubahan ini sesuai dengan siklus fotosintesis

    dan respirasi dari jasad renik aquatik. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa volatilisasi

    NH3 pada tanah yang dipupuk urea lebih besar dari pada yang dipupuk amonium sulfat,

    hal ini terjadi karena hidrolisis urea medorong terciptanya lingkungan yang ideal untuk

    volatilisasi, yaitu alkalinitas dan pH tinggi. Volatilisasi ammonia dapat berkurang 50% jika

    pupuk dimasukkan kedalam tanah.

    Zona B

    Zona B ini merupakan Zone lapisan tanah yang teroksidasi. Zona ini terbentuk dengan

    adanya oksigen yang terlarut didalam air genangan yang berasal dari atmosfir dan dari

    aktifitas fotosintetik berbagai hidrofit akan berdifusi ke lapisan tanah permukaan dibawah

    genangan air sehingga bersifat oksidatif. Pada lapisan oksidatif ini terjadi oksidasi NH4+

    hasil hidrolisis urea menjadi NO2- oleh bakteri nitrosomonas.

    2NH4+ + 3O2

    oksidasi enzimatik 2NO2- + 2H2O + 4H

    + + energi

  • Dan dilanjutkan bakteri nitrobacter yang mengubah nitrit menjadi nitrat (NO3-)

    2NO2- + O2 oksidasi enzimatik 2NO3

    - + energi

    Ion nitrat merupakan ion bermuatan negatif sehingga tidak dapat dijerap oleh pertikel

    tanah yang bermuatan negatif pula, sehingga menjadi sangat mobil dalam larutan. Ion

    nitrat ini merupakan sumber nitrogen bagi tanaman, bila ion nitrat tidak segera

    diasimilasikan tanaman, ion nitrat berpotensi untuk hilang karena diasimilasikan jasad

    renik, pencucian dan denitrifikasi.

    Konsentrasi O2 di lapisan tanah teroksidasi yang tipis, menurun dengan cepat seiring

    penggunaan oleh jasad renik dan pengaruh suhu menjadi lapisan tereduksi.

    Zona C

    Zona C merupakan zone lapisan tanah yang tereduksi, tetapi pada zone ini terdapat juga

    lapisan teroksidasi yaitu di ketebalan 3 mm disekitar akar tanaman padi, karena padi

    mempunyai saluran aerenchyma yang mampu mengalirkan O2 dari daun ke korteks akar

    sehingga akar tanaman padi dapat mengaerasi tanah tanpa mengambil O2 dari tanah.

    Pada zone yang tereduksi, NO3 yang berdifusi dari zone B akan mengalami denitrifikasi

    oleh bakteri pseudomonas dan terbuang menjadi gas N2O dan N2. Menurut beberapa

    percobaan dihasilkan bahwa kehilangan N melalui denitrifikasi bervariasi dari 0 70%.

    Selain keterangan mengenai hilangnya N diatas, kehilangan N dapat terjadi karena aliran

    permukaan dan pencucian. Aliran permukaan yaitu ketika terdapat aliran air dipermukaan

    lahan menuju daerah atau lahan yang lain bahkan ke saluran pembuangan. Pencucian

    yaitu ketika lahan sangat porous dan N menuju bawah permukaan sampai akar tanaman

    padi tidak dapat menjangkaunya lagi.

    Dari pengetahuan diatas diharapkan petani semakin menyadari begitu banyak

    kemungkinan kehilangan N dari aplikasi urea sehingga petani tergerak melakukan

    antisipasi. Pertama, antisipasi yang paling ideal adalah penggunaan urea tablet. Terlepas

    banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan, penggunaan urea tablet ini sangat efektif dalam

    menekan kehilangan N, karena urea masuk kedalam lapisan reduksi sehingga setelah

    urea mengalami hidrolisis menjadi NH4+ tidak mudah berubah menjadi NO2 dan NO3 yang

    riskan berdifusi ke lapisan reduksi dan menjadi gas N2O dan N2. Selain itu hal yang paling

    utama pembenaman urea menghindari penguapan N karena menjadi gas NH3. Kedua,

    apabila menggunakan urea pril, maka hendaknya pelaksanaan pemupukan di laksanakan

    sesaat sebelum penyiangan. Yang diharapkan dari penyiangan adalah kaki tenaga kerja

    penyiangan membantu memasukkan urea ke tanah lapisan bawah. Ketiga, memberikan

  • genangan pada lahan sawah saat pemupukan dengan membendung pematang 3-5 cm

    air tanpa menambahkan lagi debit air setelah pemupukan. Hal ini dilakukan dengan

    mempertimbangkan bahwa beberapa jam kemudian air genangan tersebut meresap

    kedalam tanah karena porositas dan aliran massa penyerapan air oleh tanaman sehingga

    menghindari penguapan NH3. Pada antisipasi yang ketiga ini diharapkan penambahan

    bahan organik yang terdekomposisi pada pengolahan lahan untuk memperbaiki porositas

    dan sebagai buffer pH tanah. Keempat, penggunaan pupuk organic untuk mempertebal

    lapisan oksidasi sehingga NO3 sebagai anion yang dapat diserap tanaman dapat

    dipertahankan ketersediaannya untuk tanaman padi.

    Pupuk Nitrogen sangat disarankan dipandu dengan menggunakan BWD tetapi apabila

    menggunakan dosis dari PUTS maka pupuk nitrogen diaplikasikan 25% dari dosis pada

    saat pemupukan dasar, 50% pada masa pembentukan anakan, dan 25% pada masa

    primordia.

    Penyediaan Pupuk

    Cara menghitung takaran pupuk

    (135 kg N, 35 kg P2O5 dan 20 kg K2O per ha)

    Apabila semuanya digunakan pupuk tunggal, maka jumlah pupuk yang dibutuhkan

    sebagai berikut:

    N = 135/45 x 100 = 300 kg Urea (urea mengandung 45% N)

    P2O5 = 35/36 x100 = 100 kg SP-36 (SP-36 mengandung 36% P2O5)

    K2O = 20/60 x 100 = 33 kg/ha KCl (KCl mengandung 60% K2O)

    Apabila digunakan pupuk tunggal dan majemuk, maka jumlah pupuk tunggal dan

    majemuk yang dibutuhkan sebagai berikut:

    Contoh Phonska (15, 15, 15) yang berarti pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5,

    dan 15% K2O. Berapa kg Phonska yang diperlukan, maka gunakan standar dari

    kebutuhan pupuk tunggal yang paling rendah, yaitu 20 kg K2O/ha.

    Pupuk Phonska yang diperlukan = 20/15 x 100 = 133 kg/ha.

    Dalam 133 kg pupuk Phonska mengandung 20 kg N, 20 kg P2O5, dan 20 kg K2O. Oleh

    sebab itu kebutuhan hara K sebesar 20 kg/ha sudah terpenuhi, namun keperluan hara N

    dan P belum tercukupi.

  • Kekurangan hara N adalah 135 kg N 20 kg N = 115 kg N atau sama dengan 115 /45 x

    100 = 256 kg urea.

    Kekurangan hara P adalah 35 kg P2O5 - 20 kg P2O5 = 15 kg P2O5 atau sama dengan 15

    /36 x 100 = 42 kg SP-36.