of 15/15
PEMEROLEHAN BAHASA IBU : Komunikatif, Integratif dan Ekspresif Oleh : I Nengah Sudipa untuk Panitia Seminar Nasional Bahasa Ibu Universitas Udayana 2013

PEMEROLEHAN BAHASA IBU...pemerolehan bahasa oleh anak-anak atau (b) pemerolehan bahasa Ibu. Pemerolehan bahasa Pemerolehan bahasa ibu bisa dilihat dari (1) tahapan menurut usia anak

  • View
    6

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of PEMEROLEHAN BAHASA IBU...pemerolehan bahasa oleh anak-anak atau (b) pemerolehan bahasa Ibu....

  • PEMEROLEHAN BAHASA IBU :

    Komunikatif, Integratif dan Ekspresif

    Oleh : I Nengah Sudipa

    untuk

    Panitia Seminar Nasional Bahasa Ibu

    Universitas Udayana

    2013

  • Abstract

    Pemerolehan Bahasa Ibu is a term used to refer to the process of a child acquiring his/her first languages with certain stages, methods and functions. This paper aims at analyzing the functions of the first language acquired by its own speakers. It turns out that it is termed as Bahasa Ibu when it is able to imply the communicative, integrative and expressive functions.

    Keywords : acquisition, bahasa ibu, function.

    I. PENDAHULUAN

    Dalam kajian Psikolinguistik, ada tiga persoalan mendasar yang menjadi tumpuan

    keilmuan yang pasti diurai yakni : (1) Pemahaman bahasa; (2) Pemerolehan Bahasa dan (3)

    Produksi bahasa (Dardjowidjojo, 2003; Sudipa, 2009:1). Masalah Pemerolehan bahasa bisa juga

    dilihat dari tiga aspek sesuai dengan status kebahasaan yang ditelaah, yakni : (1) Pemerolehan

    bahasa Pertama; (2) Pemerolehan/Pengajaran bahasa Kedua dan (3) Pengajaran bahasa Asing.

    Pemerolehan bahasa pertama sering diistilahkan dengan (a) child language acquisition -

    pemerolehan bahasa oleh anak-anak atau (b) pemerolehan bahasa Ibu. Pemerolehan bahasa

    ibu bisa dilihat dari (1) tahapan menurut usia anak : cooing, babbling, vocable, dstnya (2) cara

    memperolehnya : imitating (peniruan model bahasa orang dewasa oleh anak-anak);

    reinforcement yaitu penguatan yang terdiri atas : penguatan positif kalau peniruan anak itu

    benar, atau penguatan negatif bila peniruan anak salah, lalu diberi pengulangan peniruan lagi,

    demikian berulang-ulang sehingga pemerolehan bisa sempurna. Untuk memperoleh bahasa

    tentu fungsi yang bersifat : communicative, integrative dan expressive pantas dijadikan

    pedoman dalam menentukan status bahasa yang diperoleh.

    II. BAHAN DAN METODA

    Bahan kajian ini bersumber dari hasil bacaan sumber tertulis tentang Pemerolehn

    bahasa melalui telaah baca dan analisis kritis, dibandingkan dengan data empiris dari berbagai

    bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu penutur sebagai responden.

  • Data empiris bersumber dari bahasa Bali, Minang, Kei-Maluku, Dawan, Rote dan Sasak yang

    dipakai mengungkapkan identitas diri. Dipilihnya identitas diri ini disebabkan karena ada

    keyakinan bahwa topik ini bisa dikomunikasikan, sekaligus menjadi bagian dari dirinya sendiri

    dan mampu mengekspresikan kebutuhan yang bersifat kejiwaan (Schumann et al, 1974:39-40).

    Data empiris diperoleh dari sejumlah infoman dengan cara mengisi blanko terjemahan

    dari Bahasa Indonesia ke dalam bahasa masing-masing. Ada lima responden dengan bahasa

    daerahnya masing-masing diminta mengisi dan menerjemahkan bahan berikut ini.

    2.1 Bahasa Indonesia

    (1) Nama saya

    (2) Saya dilahirkan di …. Pada tanggal ….

    (3) Saya menetap di …

    (4) Pekerjaan saya ………

    (5) Saya pernah sebagai …..…..

    (6) Saya melanjutkan kuliah di S2 karena ……..

    (7) Hobi saya adalah ……………

    (8) Keluarga saya bermukim di ……………

    (9) Bahasa ……….. untuk berkomunkasi dengan keluarga ………

    (10) Obsesi saya setelah menyelesaikan program …..

    2.2 Bahasa Bali

    Subjek : tiang lekad “ saya lahir’ tiang nongos’saya tinggal

    Posessessive : adan tiangé “nama saya

  • 2.3 Bahasa Minang

    Subjek : ambo lahia ‘saya lahir , ambo tingga ‘saya menetap di

    Pos : namo ambo ‘ nama saya, kaluarga ambo ‘keluarga saya

    2.4 Bahasa Dawan-Timor

    Subjek : Au ‘tok at ‘saya menetap di ‘, Au unaba’tein skol ‘saya melanjutkan kuliah

    Pos : Au kanka’ nama saya; au fain ‘pekerjaan saya; au malinat ‘hobi saya

    2.5 Bahasa Kei-Maluku

    Subjek : yaa dok naa ‘saya menetap di; yaa lanjut kuliah ‘saya melanjutkan kuliah;

    Pos : ya’a miman ‘nama saya’; ya’a nung hobi is ‘hobi saya adalah”

    2.6 Bahasa Rote

    Subjek : O leo nai ‘saya menetap di..”;

    Pos : O hobim ‘hobi saya’; O na’dem ‘nama saya

    2.7 Bahasa Sasak

    Subjek : akuw bebale lik ‘Saya menetap di..”; akuw uwahkah jari ‘ saya pernah sebagai

    Pos : Pegoyankah akuw ‘pekerjaan saya; kedemenankah Akuw ‘hobi saya

    Data yang sudah dikumpulkan melalui daftar isian, kemudian dianalisis dengan metode

    deskriptif kualitatif untuk disajikan secara informal (Sudaryanto, 1993:23)

  • III. HASIL DAN DISKUSI

    3.1 Pemerolehan bahasa

    Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang digunakan

    oleh anak-anak untuk menguasai, mengerti dan memproduksi bahasa yang mereka dengar di

    sekeliling mereka tanpa disengaja ataupun tanpa perintah. Pada umumnya anak yang normal

    memperoleh kecakapan bahasa melalui bunyi-bunyi bahasa yang ada disekelilingnya tanpa

    disadari ‘sub-consious’. Ada tiga teori yang berkaitan dengan Pemerolehan Bahasa yang pantas

    dijadikan pertimbangan

    (a) Teori Mentalistik/Nativistik

    Teori Pemerolehan Bahasa menurut kaum mentalistik adalah bahwa bahasa merupakan

    pemberian biologis, hipotesis pemberiaan alam (Purwo, 1989:5); bekal kodrati (Dardjowidjojo,

    2003:5); hipotetis nurani (Chaer, 2003:56). Menurut Pateda (1990:46-47) kajian Pemerolehan

    Bahasa yang terkait dengan pandangan kaum Nativistik selalu dihubungkan dengan nama

    linguis besar, Noam Chomsky. Dikatakan bahwa menurut Chomsky anak yang lahir ke dunia ini

    telah membawa kapasitas atau potensi bahasa. Kapasitas bahasa ini akan turut menentukan

    struktur bahasa yang akan mereka gunakan. Pandangan ini yang kelak disebut hipotesis

    rasionalis atau hipotesa ide-ide bawaan. Kaum mentalistis beranggapan bahwa setiap anak

    yang lahir telah dilengkapi dengan piranti pemerolehan bahasa (disebut Language Acquisition

    Device disingkat LAD, yang terdiri atas :

    - kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyia-bunyi lainnya

    - kecakapan mengorganisasi satuan lunguistis ke dalam sejumlah kelas yang akan berkembang

    kemudian

    - Pengetahuan tentang sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkin

    - kecakapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian perkembangan

    sistem linguistik

  • (b) Teori Behavioristik

    Teori Pemerolehan Bahasa menurut padangan kaum Behavioristik disebutkan bahwa

    lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa, sama sekali tidak ada

    struktur linguistik yang dibawa sejak lahir. Anak yang lahir dianggap sebagai kertas kosong yang

    tidak membawa kapasitas atau potensi, lingkungannyalah yang akan memberi warna dan

    membentuknya, dengan perlahan –lahan dikondisikan oleh lingkungan dan pengukuhan

    terhadap tingkah lakunya. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui

    pengalaman dan proses belajar. Gagasan behavioristik terutama didasarkan pada teori belajar

    yang pusat perhatiannya tertuju pada peranan lingkungan, baik verbal maupun nonverbal.

    Teori belajar behavioristik menjelaskan perubahan tingkah laku dengan menggunakan model

    stimulus (S) dan respon (R) . Setiap ujaran dan bagian ujaran yang dihasilkan adalah reaksi atau

    respon terhadap stimulus. Nama linguis yang terkenal penganut kelompok behavioristik adalah

    F.B Skinner yang menambahkan bahwa anak-anak memperoleh bahasa melalui hubungan

    dengan lingkungannya, dengan jalan meniru dalam frekuensi yang berulang-ulang suatu kata

    atau ujaran dan akhirnya akan mendapat pengukuhan sehingga anak lebih berani menghasilkan

    kata atau urutan kata. Seandainya kata atau urutan kata itu salah, maka lingkungan tidak akan

    memberi pengukuhan. Dengan cara ini, lingkungan akan mendorong anak untuk menghasilkan

    tuturan yang gramatikal dan tidak sebaliknya.

    (c) Teori Kognitif

    Teori Pemerolehan Bahasa menurut pandangan Kognitif selalu dihubungkan dengan

    nama linguis besar yaitu Piaget. Beliau pada intinya memandang bahwa bahasa itu sendiri

    bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa

    kemampuan yang berasal dari pematangan kognitif. Menurut Piaget (1954, dalam Purwo,

    1990), bahasa distrukturkan oleh nalar, perkembangan bahasa harus berlandaskan pada

    perubahan yang lebih mendasar dan umum di dalam kognisi. Dengan demikian urut-urutan

    perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa.

    Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam

    menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik pemahaman

  • ‘comprehension’ maupun produksi ‘production’ bahasa pada anak dipandang sebagai hasil

    proses kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi stimulus merupakan

    masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi mekanisme

    internal yang diatur oleh perangkat kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahannya.

    Dari ketiga pandangan ini, khususnya yang dikaitkan dengan proses Pemerolehan Bahasa,

    secara singkat bisa dikatakan bahwa kelompok nativistis bertumpu pada faktor biologis

    (bawaan, innate, insani, nurani); kelompok behaviouristik pada faktor lingkungan sedangkan

    kaum kognitif pada pematangan nalar.

    3.1.1 Pemerolehan Bahasa Pertama

    Proses pemerolehan bahasa pertama atau sering disebut Child Language Acquisition

    umumnya dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ibu. Kalau anak-anak di Inggris, sejak masa

    kanak-kanak, mereka sudah mendengar bunyi-bunyi bahasa Inggris dari lingkungannya tanpa

    disengaja. Pemerolehan ini melalui metode : peniruan dan reinforcement.

    3.1.2 Pemerolehan Bahasa Kedua dan Pengajaran Bahasa Kedua

    Istilah bahasa Kedua, kalau menggunakan contoh bahasa Inggris, bisa didefinisikan

    sebagai bahasa yang digunakan dalam situasi formal. Seperti misal, Bahasa Inggris di Singapora

    yang secara politis menempatkan posisi Bahasa Inggris sebagai bahasa Kedua. Masyarakat

    Singapore secara garis besar terdiri dari empat etnik besar yang ditandai dengan penggunaan

    bahasa ibunya. Ada kelompok etnis dari India menggunakan bahasa Tamil sebagai bahasa

    ibunya; guyub masyarakat Melayu berbahasa Melayu; kelompok Tionghoa menggunakan

    bahasa China Mandarin dan sisanya menggunakan bahasa Inggris. Kalau berada pada situasi

    formal, di sekolah, di kantor misalnya mereka menggunakan bahasa Inggris, kalau sudah

    berbicara intra etnik, mereka menggunakan bahasa ibu masing-masing.

    Dalam kaitan dengan pemerolehan Bahasa Kedua, sebaiknya ditelaah dulu bahwa ada

    enam dimensi yang menjadi renungan demi keberhasilan proses ini. Menurut Klein (1986:33)

    dimensi pemerolehan bahasa adalah

  • (a) Propensity, sejenis desakan yang ada pada setiap orang untuk mencapai kemajuan.

    Kehadiran propensity memang diperlukan tetapi merupakan kondisi yang tidak cukup demi

    keberhasilan proses Pemerolehan Bahasa ini. Orang ini harus memiliki (b) Language Faculty,

    yakni kemampuan untuk belajar bahasa – kesan yang menggambarkan kemampuan

    memproses bahasa – yakni memproduksi dan memahami ujaran. Kedua kondisi ini belum

    cukup untuk mencapai tujuan di atas. Di dalam mengembangkan potensi bahasa dan

    merealisasikan desakan tersebut, perlu adanya (c) Access, peluang untuk belajar dan

    mempraktekkan bahasa. Bila ketiga kondisi ini telah terpenuhi dengan bagus, sebenarnya

    proses Pemerolehan Bahasa baru bisa dimulai. Proses ini menggambarkan bahwa suatu bahasa

    yang diperoleh atau dipelajari memiliki (d) Structure, ciri, kaidah tertentu dan khusus yang

    perlu kita kenal dan akrabi karena masalah ini akan terjadi berulang-ulang pada bahasa

    tersebut. Kalau ada norma bahasa yang tidak sama atau tidak teratur kejadiannya, itu artinya

    bahasa memeiliki perkecualian ‘irregular’. Kecepatan proses Pemerolehan Bahasa ini sangat

    tergantung dari propensity, language faculty dan access yang ada. Proses ini bisa cepat atau

    lamban, cepat atau lambannya proses ini disebut (e) Tempo. Perlu juga disadari bahwa proses

    Pemerolehan Bahasa pada saat tertentu bisa berhenti atau tidak mengalami kemajuan. Ini bisa

    disebabkan karena sudah sempurnanya proses itu sehingga tidak ada lagi perkembangan, atau

    sebaliknya karena tidak lagi ada desakan untuk menguasai bahasa itu, atau kemampuan

    berbahasa sudah menurun karena beberapa piranti proses ini rusak, usang atau menua

    dan/atau karena peluang untuk mempraktekkan tidak masih tersedia. Faktor-faktor seperti

    inilah bisa mengantarkan seseorang sampai pada keadaan mandeg yang disebut (f) end-state.

    3.1.3 Pengajaran Bahasa Asing

    Sebuah bahasa berstatus sebagai bahasa asing apabila bahasa itu hanya merupakan

    mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, bukan dipakai untuk komunikasi sehari-hari, dan

    bukan juga digunakan pada situasi formal. Mari kita lihat status bahasa Inggris di Indonesia

    yang diajarkan sejak TK-perguruan Tinggi hanyalah sebagai mata pelajaran/kuliah, kecuali di PS

    Sastra Inggris. Keberhasilan seseorang belajar bahasa asing, sangat tergantung dari beberapa

    hal:

  • (a) . Concrete Goal ‘tujuan yang pasti’, jawab dulu pertanyaan ini, apa tujuan konkret

    seseorang belajar bahasa Inggris?, ini harus sudah jelas dan pasti. Misalkan akan ada rencana

    studi ke Australia, atau menulis artikel internasional, ini pasti berbeda dengan orang yang

    belajar hanya bertujuan iseng-iseng mengisi waktu luang.

    (b) Urge “rasa keterdesakan’, bisa menjadi urgent‘ mendesak’ kalau sudah jelas tujuannya,

    selalu kita merasa ada yang mendesak, seperti lagu : mau makan ingat bahasa Inggris, mau

    tidur ingat bahasa Inggris, mau ….. ingat ……. dst

    (c). Desire ‘hasrat’ mulai merencanakan untuk memilah dan memilih desakan-desakan itu, lalu

    mengatur sesuai potensi diri - pasti prioritas untuk bahasa Inggris lebih diutamakan.

    (d) Motivation ‘motivasi’ merealisasikan hasrat dengan cara berkonsentrasi, memaksimalkan

    daya dan waktu – tentu kita lebih fokus untuk tujuan itu.

    (e) Action ‘tindakan’ mulai tertarik membeli Kamus, serius baca buku bahasa Inggris, rajin ikut

    les- kursus dan intensif belajar mandiri.

    Kelima butir urutan ini mesti ada - tergantung intensitas per individu yang bisa

    menyebabkan cepat atau lamban – agar seseorang menggapai keberhasilan. Lebih jelas simak

    diagram di bawah.

    CONCRETE GOAL

    URGE

    DESIRE

  • 3.2 Bahasa Ibu

    Konsep bahasa ibu atau bahasa pertama masih menjadi polemik kalau kita mengacu

    pada situasi masyarakat tutur yang dwibahasawan, seperti masyarakat yang sejak lahir hidup di

    perkotaan. Pada masyarakat eka-bahasawan, seperti di Inggris akan tetap mengatakan bahwa

    bahasa ibu / pertamanya adalah bahasa Inggris (Platt, 1985). Pada masyarakat ekabahasawan,

    pemerolehan bahasa ibu memiliki stages, method dan function. Dari kajian inilah diperoleh

    postulat yang kuat bahwa definisi bahasa ibu bisa diformulasikan.

    3.2.1 Tahapan

    Perkembangan kemampuan prilaku berbahasa pada bayi tidaklah muncul dengan tiba-

    tiba, malah melalui tahapan yang seirama dengan bertambahnya usia si bayi.

    (a) Bayi baru lahir

    Tahapan usia ini juga disebut dengan stadia mula yang ditandai dengan ‘kenyut-telan’

    pada saat menyusu dengan ibunya. Untuk mengenyut, bayi yang baru lahir harus mampu

    menutup rongga nasal dengan menaikkan velum. Setelah rongga nasal tertutup si bayi dapat

    membuat ruang kosong di rongga mulut dengan menurunkan rahang bawah. Bunyi yang paling

    umum yang dapat dibuat oleh bayi ialah menangis.

    ACTION

    MOTIVATION

  • (b) Berdekut

    Usia bayi dua bulan ditandai dengan kemampuan memproduksi bunyi dengan ciri-ciri

    tertawa yang diistilahkan berdekut ‘cooing’. Bunyi yang dihasilkan adalah bunyi konsonan

    belakang dan tengah dengan vocal belakang, tetapi tanpa resonansi penuh. Bunyi konsonannya

    terdiri atas bunyi frikatif velar yang mirip dengan /s/ dan bunyi depan letupan velar yang mirip

    /k/ dan /g/

    (c) Meraban/ berlétér

    Usia bayi 4-6 bulan ditandai dengan berlétér yang ciri-cirinya berupa bunyi dengan

    resonansi penuh seperti contoh /a/, selama masa meraban ‘cooing’ ini, si anak mencoba

    mengeluarkan macam-macam bunyi. Kadangkala bunyi yang dihasilkan bukanlah bunyi yang

    terdapat di dalam bahasa ibunya.

    (d) Vokabel

    Menjelang usia 11 bulan, kemampuan memproduksi bunyi sudah berkembang dari

    berlétér dengan rentetan bunyi yang mirip bicara orang dewasa. Mendekati usia satu tahun,

    anak mulai menghasilkan apa yang disebut ‘vocable’ yang hampir menyerupai ‘kata’ tidak

    memiliki arti, dan bukan merupakan tiruan orang dewasa. Namun secara fonetis, vokabel ini

    sudah konsisten.

    (e) Kata Pertama

    Munculnya kata pertama banyak ditentukan oleh penguasaan artikulasi dan juga oleh

    kemampuannya mengaitkan kata dengan benda yang dimaksud. Pengaitan kata yang

    bersangkutan secara konsisten terhadap benda tertentu dapat membantu penguasaan anak

    untuk mengucapkan kata itu (Purwo, 1990:15). Dari segi filosofi India, diceritakan bahwa anak

    usia satu tahun sudah bisa memproduksi kata dengan mengaitkan ke benda tertentu. Ini

    dinyatakan dengan adanya legenda Sanghyang Pasupati pada saat berumur satu tahun yang

    berhasil mengucapkan kata pertama dan dihubungkan dengan terciptanya dunia atau benda.

  • Kata-kata bhur lalu lahirlah dunia manusia; bhuah lahirlah dunia dewa dan swah lahirlah

    dunia Tuhan (Fromkin, et al. 1982).

    (f) Kalimat Satu Kata

    Sering anak membuat kalimat yang ada maknanya dengan sebuah kata, misalnya : ma

    ‘mama’; guk ‘guguk yang dimaksud anjing; Walaupun terdiri atas satu kata tetapi konteks akan

    memberi makna

    (g) Kalimat Dua Kata

    Usia 18 bulan, anak mulai menggabungkan kata, meskipun masih pula banyak

    menggunakan kalimat satu kata. Dalam menggabungkan kata, anak mengikuti urutan kata yang

    terdapat pada bahasa orang dewasa. Misalnya : ma tang - mama datang; la kan ‘Sora makan’

    3.2.2 Teknik Pemerolehan Bahasa Ibu

    Seorang anak dalam kaitan dengan proses Pemerolehan bahasa pertama, sering

    menggunakan cara atau teknik peniruan. Lingkungan atau orang di sekitar anak itu

    memproduksi ujaran, dari tingkat sederhana sampai kompleks lalu didengar, dengan

    kemampuan anak itu memperoleh ujaran tersebut. Untuk membuktikan proses pemerolehan

    tersebut berhasil, perlu dicermati dari kemampuan si anak memproduksi bahasa, dengan kata

    lain berbicara. Pada waktu awal-awal kemampuan berbicara tentu si anak itu menggunakan

    teknik imitation, meniru bahasa orang dewasa, kemudian lingkungan juga yang akan

    memberikan penguatan. Penguatan ada dua kemungkinan yaitu (a) Positive reinforcement

    karena si anak meniru bahasa orang dewasa dengan baik dan benar untuk dimotivasi agar

    melanjutkan; (b) Negative reinforcement karena ada belum tercapai standar kaidah yang ditiru

    oleh si anak itu, ada bagian atau seluruh ujaran yang mesti diperbaiki sebelum melanjutkan

    tahap berikutnya.

    3.2.3 Fungsi Bahasa Ibu

    Menurut buku yang berjudul New Frontiers in Second Language Learning, disunting

    oleh John. Schumann dan Nancy Stenson mengatakan bahwa

  • The functions of language are three components : communicative, integrative and expressive. Through the communicative function information is exchanged among persons. The integrative function serves to mark one’s identity within the society and the expressive function is designed to allow the expression of certain psychological needs. (1974:39-40).

    Dari kutipan ini terlintas bahwa fungsi bahasa seperti ini bisa digunakan untuk

    mendefinisikan konsep bahasa ibu tersebut. Uraian berikut dengan data empiris akan

    memberikan hasil yang bisa lebih memadai.

    3.2.3.1 Komunikatif

    Bahasa dikatakan berfungsi komunikatif bertendensi memiliki kemampuan untuk

    mentransfer infromasi dari seseorang ke orang lain atau menyebakan terjadi interaksi diantara

    pemakai bahasa. Dari data bahasa yang ada untuk nama saya dalam bahasa Bali, wastan

    tiangé, bahasa Minang namo ambo, bahasa Kei, Maluku Ya’a minan. Pemarkah –é dan ya’a

    akan dengan mudah dan tanpa keraguan berhasil mengkomunikasikan posesif pada bahasa

    yang dijadikan contoh.

    3.2.3.2 Integratif

    Bahasa dikatakan berfungsi integrative apabila memiliki potensi menjadi identitas,

    karakter, jati diri dalam guyub tutur bahasa bersangkutan. Dalam bahasa Rote dan Dawan

    dialek Amanuban, Timor untuk posisi Subyek dan Posesif tidak ada perbedaan, tetap berada di

    depan untuk terjemahan untuk saya = O, seperti : Nama saya, : ‘O na’dem se?; Saya menetap

    di ‘O leo nai be?; Pekerjaan saya ‘O karjam hata?; Saya pernah sebagai … ‘O parna da’di hata;

    Hobi saya ‘O hobim na bek?; keluarga saya bermukim di ..’O tolanom la leo nai be?. Begitu pula

    dalam bahasa Dawan dialek Amanuban/Meto , Timor : saya ‘Au’ seperti : nama saya ‘Au kanka;

    saya menetap di … Au ‘tok at; Saya melanjutkan kuliah ‘Au unaba’tein skol at..; Hobi saya ‘Au

    malinat es; keluarga saya bermukim ‘Au biaenu ntokon at ..

    3.2.3.3 Ekspresif

    Bahasa dikatakan berfungsi ekspresif bila dirancang untuk mengungkapkan kebutuhan

    yang bersifat psikologis. Penutur dengan jitunya memilih sebutir leksikon yang digunakan

  • dalam ujaran dengan harapan Petutur sudah dengan serta merta mendapatkan pemahaman

    dan sekaligus memiliki dampak kejiwaan akan makna kata tersebut. Contoh untuk leksikon

    keluarga, Bahasa Bali ‘kulawarga’; bahasa Minang ‘kaluarga’; bahasa Dawan ‘biaenu’; bahasa

    Kei, Maluku ‘keluarga’; bahasa Rote ‘tolanom; dan bahasa Sasak ‘keluargengkah’

    IV. PENUTUP

    Dari hasil analisis di atas, pemerolehan bahasa ibu selalu dikaitkan dengan bahasa

    Pertama atau bahasa anak-anak. Konsep pengertian bahasa ibu, selain dicirikan dengan stages

    (tahapan produksi bahasa); teknik pemerolehan dan yang juga patut dipertimbangkan adalah

    fungsi bahasa bersangkutan. Bila sebuah bahasa, seperti bahasa Inggris yang mampu

    mewahanai ketiga fungsi bahasa : komunikatif, integratif dan ekspresif sekaligus, maka

    kecenderungan bahasa itulah bahasa ibu bagi orang yang berasal dari England.

  • Pustaka Acuan

    Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik : kajian teoritik Jakarta : Rineka Cipta

    Clark, H and Clark, E. 1977. Psychology and Language. New York : Harcourt Brade Jovanovitch

    Crystal, D. 1985. Dictionary of Phoenetics and Linguistics London: Basil Balckwell

    Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik : Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta :

    Yayasan Obor

    Fromkin, V dan R. Rodman. 1982: An Introduction to Language. New York : Holt-Saunders

    International

    Klein, Wolfgang. 1986. Second Language Acquisition. Cambridge : Cambridge University Press

    Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores : Nusa Indah

    Platt. John T., Heidi Weber dan Ho. 1985. New Englishes. Singapore: Kegen & Routledge

    Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Perkembangan bahasa Anak. Jakarta :Peba 3

    Samsunuwiyati, Ma’rat. 2005. Psikolinguistik, Suatu Pengantar. Jakarta : Aditama

    Schumann, John dan Nancy Stenson (eds). 1974.New Frontiers in Second Language Learning.

    Massachusetts: Newburry House Publishers

    Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yaigyakarta: Duta Wacana

    University Press.

    Sudipa, I Nengah. 2009. Psycholinguistics : An Introductory Note. Essay Majalah volume 16.

    English Department, Udayana University

    Titone, R dan M. Daneshi. 1985. Applied Psycholinguistics. Rowley, Massachussetts : Newburry

    House