Pemberdayaan Komunitas Vol_ 5 No_ 3 September-Desember 2006.pdf

  • View
    85

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pemberdayaan

Text of Pemberdayaan Komunitas Vol_ 5 No_ 3 September-Desember 2006.pdf

P

JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

emberdayaan Komunita

S

ISSN 1412-6133 Volume 5, Nomor 3, September 2006 Hal. 232 347

DAFTAR ISIVivi Tresnawati & Hayaruddin Siagian Aprilyani & Agus Suriadi Dewi Hartika Nasution Almaidafiani & Sudirman Edward & Husni Thamrin Sichmen Pandiangan Matias Siagian Sukarman Purba Program Pertanian Polikultur dan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa................. Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Implementasi Program Beras untuk Keluarga Miskin (RASKIN)....................... Adaptasi Masyarakat Miskin terhadap Inflasi Akibat Kenaikan Harga BBM................................................. Pengaruh Program Penyuluhan Pertanian Organik terhadap Sosial Ekonomi Petani........................................................... Peranan Organisasi Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial Masyarakat.......................................... Bentuk-Bentuk Perlawanan Petani terhadap Dominasi Negara................................................................................. Kemiskinan dan Kebijakan Setengah Hati Negara dalam Mengatasinya.............................................................. Menuju Perguruan Tinggi Masa Depan..........

232 248

249 270 271 286 287 303 304 323 324 336 337 340 341 347

PK (JIKS)

Vol. 5

No. 3

Hal. 232 347

Medan, September 2006

ISSN 1412-6133

PROGRAM PERTANIAN POLIKULTUR DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESAVivi Tresnawati & Hayaruddin Siagian AbstractAgriculture modernization is identical with the using of chemical fertilizer producted by modern factory, pesticide, and mechanization. All of them said as green revolution. Was it result improvement of social welfare for famers? This research knowing was the natural agriculture gived positive or negative result for farmers social welfare in Tanjung Selamat village, Namorambe, Deli Serdang wich followed the Polyculture Agriculture Program. Data analysis showed that Polyculture Agriculture Program carry out by Bitra Foundation (NGO) resulted the positive impact for the famers social welfare. The raising of social welfare is seen in some indicators of life condition. Keywords: polyculture agriculture, agriculture sector, social welfare

PendahuluanNegara Indonesia adalah salah satu negara agraris potensial di dunia. Oleh karena itu sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai sumber bahan makanan, sumber bahan mentah untuk industri, lapangan kerja, sumber devisa serta sebagai pasar barang dan jasa bagi hasil produksi sektor-sektor lainnya. Data BPS menunjukkan bahwa sektor pertanian masih tetap dominan dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia, mencapai 40 juta orang lebih atau sekitar 45,3% dari jumlah pekerja yang hampir 90 juta orang.Tabel 1 Distribusi Pekerja Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2000 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Perdagangan, Hotel/ Restoran Angkutan, Komunikasi Keuangan, Asuransi, Persewaan Jasa Kemasyarakatan Lainnya Jumlah Sumber: BPS, Sakernas 2000 Jumlah 40.676.713 11.641.756 3.497.232 18.498.005 4.553.855 882.600 9.574.009 522.560 89.837.730

Dari data di atas dapat diketahui bahwa jumlah pekerja paling banyak berada di sektor pertanian. Namun kenyataannya sebagian besar petani Indonesia berpenghasilan rendah. Untuk meningkatkan sektor pertanian, berbagai usahapun dilakukan agar pertanian menghasilkan dengan cepat, tanpa pertimbangan, yakni melalui pola pertanian yang dilakukan secara parsial atau atas dasar komoditas yang umumnya lebih menguntungkan produktivitas sumberdaya lahan dengan masukan sarana produksi (pupuk dan pestisida) anorganik ke dalam agroekosistem pertanian yang cukup tinggi (www. bumikita. com). Sistem Usahatani ini hanya berorientasi pada maksimalisasi produktivitas, yang mengakibatkan kemunduran kualitas lingkungan dan pengurangan stabilitas produksi oleh timbulnya biotipe dan strain hama dan penyakit, terbentuknya senyawa beracun bagi tanaman dan menurunnya kesuburan tanah, serta terjadinya kerusakan lingkungan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan (www. bumikita. com). Praktik Pertanian yang menggunakan bibit unggul yang dihasilkan oleh perusahaan benih, bahanbahan kimia buatan pabrik (agrokimia) seperti untuk pemupukan lahan dan pengendalian

Vivi Tresnawati adalah Staf di Centra Mitra Remaja Medan, Hayaruddin Siagian adalah Peneliti LIPI Jakarta 232

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, September 2006, Volume 5, Nomor 3, Halaman 232 248

hama awalnya dirasakan meningkatkan hasil produksi pertanian. Namun, setelah beberapa dekade, praktik tersebut menimbulkan permasalahan khususnya terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri (info organis, Biocert). Penurunan hasil pertanian yang dibarengi dengan meningkatnya daya tahan hama dan penyakit tanaman, disebabkan karena fauna tanah yang bermanfaat bagi tanaman semakin berkurang dan mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah pun nyaris hilang akibat pemakaian input agrokimia yang berlebihan. Bahkan hama dan penyakit tanaman bukannya menurun, tapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia tersebut sehingga petani memerlukan dosis yang lebih tinggi lagi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri (info organis, BIOCert). Demikianlah yang dialami oleh banyak petani Indonesia, karena tergiur akan pertanian yang menghasilkan dengan cepat, mereka pun mengikuti usahatani konvensional yang identik dengan pupuk dan pestisida (berbasis kimia) tanpa memperhatikan efeknya ke berbagai hal, baik terhadap kualitas produksi maupun pengaruhnya terhadap lingkungan seperti kesuburan tanah. Demikian pula yang terjadi di Sumatera Utara, khususnya Deli Serdang, di mana pada tahun 1970-an bagi kalangan para petani boleh dikatakan tengah menuai berkah tapi sekaligus bencana. Pada masa itu mulai dikenal apa yang dimaksud Revolusi Hijau. Secara sederhana, Revolusi Hijau adalah modernisasi pertanian yang mengandalkan asupan kimia dan biologi (J. Anto, 2003; 16). Menurut Tandon (seperti dikutip Sutanto, 2002; 72) bahwa akibat pemupukan yang tidak berimbang dan penggunaan bahan organik yang sangat terbatas maka apabila situasi ini terus berlanjut, Revolusi Hijau bukan membawa keberhasilan pembangunan pertanian tetapi akan membawa malapetaka yang besar. Pada kondisi semacam ini, praktik pertanian organik membantu dalam memperbaiki tanah yang terdegradasi dan mendorong tercapainya sistem pertanian yang berkelanjutan. Lebih jelasnya lagi, perbedaan yang cukup lebar antar kebutuhan dan pasokan hara dari pupuk kimia dapat diperkecil melalui daur ulang bahan organik yang efektif di samping pemanfaatan pupuk hayati.233

Akibatnya, penggunaan bahan-bahan kimia pada sektor pertanian menjadi sumber pencemaran utama karena produk yang membahayakan kesehatan. Pada tahun 1968 pemerintah Orde Baru mencanangkan Program Bimas (Bimbingan Massal) yang mempromosikan penggunaan meluas bibit unggul, pupuk buatan, pestisida, insektisida, kredit dan tentunya tenaga kerja murah serta lahan sawah beririgasi, revolusi Hijau secara radikal telah mengubah wajah pertanian di banyak daerah, termasuk di wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara. Melalui Revolusi Hijau yang dikenal dengan Panca Usaha Tani, para petani di Deli Serdang, yang pada tahun 1982 luas areal sawahnya mencapai 22,93% dari total luas areal 139.054,62% hektar, memang mulai mengenal berbagai hal baru dalam bidang pertanian seperti benih unggul, pupuk anorganik, sistem tanam, pestisida, dan lain-lain. Padahal, sebelumnya petani hanya menanam bibit lokal dan memupuk tanamannya dengan pupuk kandang (kompos) yang diambil dari pekarangan sendiri (J. Anto, 2003; 16). Seiring dengan dikenalkannya jenis varietas unggul, petani pun tidak terpisahkan lagi dengan adanya pestisida. Awalnya, pertanian konvensional ini memang membawa berkah bagi petani, karena produksi pertanian meningkat. Namun, ini tidak berlangsung lama karena dibalik meningkatnya produktivitas petani, justru muncul wereng atau seranggaserangga yang merusak tanaman di manasemua itu dikarenakan pemakaian pestisida yang tidak terkendali, sehingga mengakibatkan fisik hama menjadi toleran dan resistan terhadap racun kimia. Hal ini mengakibatkan kerugian bagi petani baik ekonomi, maupun sosial juga kerusakan bagi kesuburan tanah (J. Anto, 2003; 16). Bahan-bahan agrokimia yang digunakan tersebut juga dapat mempengaruhi kesehatan. Bahan-bahan tersebut masuk ke tubuh kita melalui pernafasan, pori-pori kulit atau terbawa ke dalam tubuh kita dalam bentuk residu dari hasil-hasil pertanian yang kita konsumsi. Beberapa zat kimia hasil industri, seperti pestisida, dapat bekerja sebagai pengganggu sistem hormon (hormone disruptors/kankyo hormone) dalam tubuh manusia (Info Organis, BIOCert). Seperti yang dikutip oleh BIOCert dari Alternative therapies (volume 4, 1998), bahwa berdasarkan penelitian dr Virginia Worhington, ahli gizi

Tresnawati & Siagian, Program Pertanian...

dari Amerika Serikat, disebutkan bahwa bahan makanan-makanan yang mengandung residu pestisida, hormon atau antibiotik dapat merangsang timbulnya alergi bagi individuindividu tertentu. Dari studinya dengan membandingkan kandungan nutrisi lebih dari 300 produk-produk yang dihasilkan secara organik dengan yang produk konvensional, diperoleh rata-rata kandungan vitamin C, besi (Fe), magnesium (Mg) dan Pospat (P) produkproduk organik lebih tinggi dibandingkan dengan produk-produk konvensional. Pendapat tersebut diperkuat oleh Pither & Hall (1999), bahwa bobot kering produk-produk organik mengandung lebih tinggi vitamin C, kalium dan beta karoten dibandingkan dengan produkproduk konvensional. Pertanian organik sebagai bagian pertanian yang akrab lingkungan perlu segera di