pembahasan Tionghoa

  • View
    1.111

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of pembahasan Tionghoa

BAB I IDENTIFIKASI Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa. Salah satunya adalah suku Tionghoa. Kebanyakan orang Indonesia asli telah banyak bergaul dengan orang Tionghoa Indonesia, tetapi sebagian besar belum mengenal golongan penduduk ini sebenarnya.Orang Tionghoa yang ada di Indonesia,sebenarnya bukan merupakan satu kelompok yang asal dari satu daerah saja di negara Cina, tetapi terdiri dari beberapa suku bangsa yang berasal dari dua propinsi, yaitu Fukien dan Kwngtung. Ada empat bahasa Cina di Indonesia ialah bahasa Hokkien, Teo-Chiu, Hakka dan Kanton. Tionghoa di Indonesia merupakan keturunan leluhur mereka yang berimigrasi secara periodik dan bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu. Catatan-catatan literatur Tiongkok menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinastidinasti yang berkuasa di Tiongkok. Faktor inilah yang menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun orang dari Tiongkok ke Nusantara dan sebaliknya. Para imigran Tionghoa tersebar di Indonesia mulai dari abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-19. Hokkien adalah yang pertama ke Indonesia yang berasal dari propinsi Fukien bagian selatan. Di antara pedagang-pedagang Tionghoa di Indonesia, merekalah yang paling berhasil, karena sebagian besar dari mereka sangat ulet, tahan uji dan rajin. Mereka dan keturunannya telah berasimilasi sebagai keseluruhan paling banyak terdapat di Indonesia Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur dan pantai Barat Sumatra. Imigran yang lain adalah orang Teo-Chiu yang berasal dari pantai selatan negeri Cina di bagian timur propinsi Kwantung. Orang Teo-Chiu dan Hakka (Khek) disukai sebagai kuli perkebunan dan pertambangan di Sumatra Timur, Bangka dan Biliton. Di sebelah barat dan selatan daerah asal orang Hakka di propinsi Kwantung, tinggallah orang-orang Kanton (Kwong Fu). Di Indonesia, mereka terkenal sebagai ahli dalam pertukangan, pemilik toko-toko besi dan industri kecil. Mereka lebih tersebar merata dibandingkan dengan yang lain. Walaupun orang Tionghoa perantau itu terdiri dari paling sedikit enpat suku bangsa, namun dalam pandangan orang Indonesia pada umumnya mereka terbagi ke dalam dua golongan, yaitu1

Peranakan dan Totok. Pada masa sekarang, terdapat dua penggolongan suku bangsa Tionghoa yang bermukim di wilayah Indonesia. Golongan pertama adalah golongan Tionghoa peranakan yang merupakan keturunan Tionghoa asli yang bersatu dengan penduduk Indonesia melalui ikatan pernikahan atau orang Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia. Tionghoa peranakan ini mulai tumbuh ketika pada awal masa perantauan penduduk Cina ke Indonesia masih sedikit golongan wanita yang ikut sehingga para pria memilih untuk menikahi para wanita pribumi. Masyarakat Tionghoa peranakan itu kini ciri-ciri fisiknya sudah menyerupai dengan ciri-ciri fisik masyarakat Indonesia asli. Populasinya tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Golongan kedua dari suku bangsa Tionghoa di Indonesia adalah golongan Tionghoa totok atau Tionghoa asli, tidak menjalin ikatan pernikahan dengan bangsa pribumi, bahkan ada di antara mereka yang sampai saat ini masih belum bisa berbahasa Indonesia dan ciri-ciri fisiknya masih menyerupai ciri-ciri fisik orang Cina. Selain itu golongan masyarakat Tionghoa ini agak susah dalam melakukan akulturasi terhadap budaya setempat karena pengaruh adat istiadat mereka sendiri. Biasanya mereka hidup dalam desa-desa orang Tionghoa yang mereka bangun sendiri. Populasi Tionghoa totok terdapat di wilayah Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bagan Siapiapi. Orang Peranakan bukan hanya orang Tionghoa yang lahir di Indonesia, melainkan juga hasil perkawinan campuran antara orang Tionghoa dan orang Indonesia. Sedangkan orang Totok bukan hanya orang Tionghoa yang lahir di negara Cina, melainkan juga orang yang lahir di negara lain. Penggolongan tersebut juga menyangkut soal derajat penyesuaian dan akulturasi dari para perantau Tionghoa terhadap kebudayaan Indonesia yang ada di sekitarnya. Demikianlah terdapat orang Tionghoa Peranakan di Jawa Timur dan Tengah sekarang ini, yang dalam banyak unsur kehidupannya telah menyerupai orang Jawa, yang telah lupa akan bahasa asalnya dan bahkan dalam ciri-ciri fisiknya sudah menyerupai orang Indonesia asli. Adapun proses akulturasi itu kurang sifatnya di Jawa Barat dan lebih kurang lagi di Kalimantan Barat. Walaupun banyak di antara oang Tionghoa di Kalimantan Barat dan daerah-daerah lain itu sudah banyak juga yang lahir di Indonesia, tetapi toh mereka masih akan disebut orang Tionghoa Totok oleh orang Indonesia asli. Orang Tionghoa Totok banyak bertambah dengan gelombang imigrasi yang terjadi di antara tahun 1920-1930 di Jawa. Hal itu terjadi karena keadaan tekanan di negara Cina yang waktu itu mengalami zaman pergolakan dan revolusi.

Proses Masuknya Bangsa Tionghoa Ke Indonesia Suku bangsa tionghoa merupakan suku bangsa yang telah mendiami tanah air sejak zaman prasejarah. Proses masuknya suku bangsa tionghoa ke nusantara telah terjadi sejak migrasi besar-besaran manusia prasejarah yang masuk ke wilayah Nusantara (yang kini dikenal sebagai melayu tua dan juga melayu muda ). Kemudian hal ini berlanjut pada masa kerajaan-kerajaan mulai berdiri di wilayah Nusantara yang bukti peninggalan yang dapat merekam kedatangan bangsa tionghoa tersebut terdapat pada beberapa prasasti yang menuliskan mengenai berita kedatangan bangsa tionghoa tersebut. Suku bangsa tionghoa tersebut kebanyakan datang dan masuk ke wilayah Nusantara karena alasan perdagangan dan kemudian bangsa tionghoa atau bangsa Cina tersebut melakukan akulturasi dengan penduduk sekitar, bahkan ada yang sampai menikahi penduduk sekitar tersebut sehingga mereka memiliki keturunan yang bertahan hingga sekarang. Orang-orang Tionghoa yang berada di Indonesia berasal dari beberapa suku bangsa yang berasal dari dua propinsi di Cina, yaitu Fukien dan Kwangtung. Perbedaan asal masyarakat Tionghoa di Indonesia ini kemudian menyebabkan perbedaan kebudayaan tiap suku bangsa beserta dengan bahasanya sehingga di Indonesia terdapat bermacam bahasa Cina yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa Indonesia. Bahasa tersebut antara lain bahasa Hokkien, Teo Chiu, Hakka, dan Kanton. Terdapat perbedaan yang besar antara masing-masing bahasa tersebut sehingga pembicara yang menggunakan satu bahasa akan tidak dapat dimengerti oleh pengguna jenis bahasa yang lain. Suku bangsa Hokkien, salah satu suku bangsa Tionghoa yang berasal dari wilayah propinsi Fukien bagian selatan dan masuk ke wilayah Nusantara dari abad ke-16 sampai kirakira pertengahan abad ke-19, membawa keahlian berdagang yang telah diwariskan secara turun temurun ketika bermigrasi ke Indonesia. Kepandaian berdagang ini yang terus bertahan hingga sekarang sehingga suku bangsa Hokkian merupakan suku bangsa yang paling sukses dan berhasil. Hal ini juga disebabkan karena sebagian besar dari mereka sangat ulet, tahan ujian, dan rajin. Sementara itu, keturunan orang Hokkien di Indonesia mendiami daerah Indonesia Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan pantai Barat Sumatera. Suku bangsa Tionghoa lainnya yang mendiami wilayah Indonesia adalah suku bangsa Teo Chiu yang berasal dari pedalaman Swatow, bagian timur propinsi Kwantung. Orangorang ini banyak berperan sebagai kuli perkebunan dan pertambangan bersama dengan orang3

Hakka di daerah Sumatera Timur, Bangka dan Belitung. Kebiasaan merantau orang-orang Hakka terjadi karena desakan kebutuhan hidup sehingga orang Hakka merupakan yang termiskin diantara para perantau dari Tionghoa. Kini populasi orang Hakka banyak terdapat di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Suku bangsa Tionghoa terakhir yang akan dijelaskan yang merantau ke Indonesia adalah suku bangsa Kanton yang berasal dari propinsi Kwantung sebelah barat dan selatan. Orang Kanton ini pun terkenal sebagai kuli pertambangan dengan modal yang besar dan keterampilan teknis serta pertukangan yang tinggi sehingga mereka terkenal ahli dalam pertukangan, pemilik toko besi dan industri kecil. Penyebaran orang Kanton di Indonesia terjadi lebih merata namun populasi terbesar terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bangka, dan Sumatera Tengah. Sistem Religi Masyarakat Tionghoa Masyarakat bangsa Tionghoa khususnya di Indonesia, sangat menarik untuk dibahas lebih mendalam dalam sisi religinya. Orang Tionghoa di Cina mayoritas memeluk agama Buddha. Walaupun begitu orang Tionghoa di Indonesia memeluk agama Buddha, Kung Futse, Tao, Kristen, Katolik, dan Islam.Untuk agama Buddha, Kung Fu-tse, dan Tao dipuja bersama-sama oleh perkumpulan Sam Kuw Hwee (Perkumpulan Tiga Agama). Pada awalnya, bangsa Tionghoa menjadikan aliran Kong Hu Chu sebagai aliran kepercayaan. Aliran ini mengajarkan bahwa manusia untuk hidup dengan baik dan untuk mengetahui hakikat kehidupannya di dunia, selain itu manusia juga harus bersikap adil terhadap sesama dan sesuai dengan peranannya di masyarakat. Kepercayaan lain yang dianut oleh penduduk Tionghoa adalah ajaran Sidharta Gauthama atau ajaran Budha dan juga aliran Taoisme yang diajarkan oleh Tao. Ketiga aliran ini tidak bisa dipisahkan dari perjalanan religi bangsa Tionghoa sehingga aliran-aliran ini disebut Tridharma. Namun banyak juga orang Tionghoa yang tetap melakukan suatu ritual peribadatan berupa pemujaan terhadap leluhur dengan cara memelihara abu dari seseorang yang telah meninggal kemudian dikremasi. Dalam sebuah keluarga, ayah menjadi pemuka upacara, kemudian kewajiban ini diteruskan secara turun temurun kepada anak-anaknya. Hal yang menarik adalah ketika anak perempuan tidak disebutkan dalam pemujaan terhadap leluhur karena anak perempuan setelah menikah akan langsung ikut dengan suaminya sehingga ia

akan turut mengurus pemujaan leluhur pihak suaminya. Dapat dikatakan bahwa dalam budaya masyarakat Tionghoa berbakti, terutama kepada orang-orang yang telah mendahului, merupakan hal yang sangat keramat dan wajib untuk dilaksanakan. Oleh karena itu masyarakat