of 47 /47
PEMBAHASAN 1. Sebutkan penyakit-penyakit pada Sistem Endokrin yang memiliki gejala Polifagia, Polidipsi, dan Poliuria ? Diabetes Melitus Diabetes Melitus memiliki ketiga gejala tersebut. Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Diabetes Insipidus Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat menganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus pernah ditemui merupakan kasus idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelamin Hipertiroid Tirotoksikosis adalah keadaan hipermetabolik yang disebabkan oleh meningkatnya T 3 dan T 4 bebas, karena terutama disebabkan hiperfungsi kelenjar tiroid, maka tirotoksikosis sering disebut dengan hipertiroidisme. Namun pada keadaan tertentu peningkatan tersebut berkaitan dengan pengeluaran berlebihan hormon tiroid yang sudah jadi (misal, pada tiroiditis) atau yang berasal dari sumber di luar tiroid, dan bukan karena hiperfungsi jaringan. Oleh karena itu, sebenarnya hipertiroidisme hanyalah salah satu (walaupun yang tersering) kategori tirotoksikosis. Sindrom Chusing Penyakit Cushing disebabkan oleh hiperplasia dari kelenjar pituitari. Kelenjar ini terletak di dasar otak. Orang dengan

PEMBAHASAN DM.docx

Embed Size (px)

DESCRIPTION

-

Citation preview

PEMBAHASAN

1. Sebutkan penyakit-penyakit pada Sistem Endokrin yang memiliki gejala Polifagia, Polidipsi, dan Poliuria ?

Diabetes MelitusDiabetes Melitus memiliki ketiga gejala tersebut. Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.Diabetes InsipidusDiabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat menganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus pernah ditemui merupakan kasus idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelaminHipertiroidTirotoksikosis adalah keadaan hipermetabolik yang disebabkan oleh meningkatnya T3 dan T4 bebas, karena terutama disebabkan hiperfungsi kelenjar tiroid, maka tirotoksikosis sering disebut dengan hipertiroidisme. Namun pada keadaan tertentu peningkatan tersebut berkaitan dengan pengeluaran berlebihan hormon tiroid yang sudah jadi (misal, pada tiroiditis) atau yang berasal dari sumber di luar tiroid, dan bukan karena hiperfungsi jaringan. Oleh karena itu, sebenarnya hipertiroidisme hanyalah salah satu (walaupun yang tersering) kategori tirotoksikosis.Sindrom ChusingPenyakit Cushing disebabkan oleh hiperplasia dari kelenjar pituitari. Kelenjar ini terletak di dasar otak. Orang dengan penyakit Cushing ACTH memiliki terlalu banyak. ACTH merangsang produksi dan pelepasan kortisol, hormon stres. ACTH terlalu banyak berarti kortisol terlalu banyak. Kortisol biasanya dilepaskan selama situasi stres. Ini mengontrol penggunaan tubuh dari karbohidrat, lemak, dan protein dan juga membantu mengurangi respon sistem kekebalan tubuh terhadap pembengkakan (inflamasi).

1. Jelaskan anatomi, histologi, patohistologi, dalam sistem endokrin !

Anatomi Sistem EndokrinKelenjar Endokrin :1. Kelenjar endokrin atau kelenjar yang tidak mempunyai saluran keluar ( ductus exretorius) adalah kelenjar yang mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan dan menyekresi zat kimia yang disebut hormon. Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel. Meliputi : Mempengaruhi pertumbuhan, metabolisme, reproduksi dll

1. Adapun fungsi kelenjar endokrin adalah sebagai berikut :1. Menghasilkan hormon yang dialirkan kedalam darah yang yang diperlukan oleh jaringan tubuh tertentu.2. Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh3. Merangsang aktivitas kelenjar tubuh4. Merangsang pertumbuhan jaringan5. Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus6. Memengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.

Histologi Sistem EndokrinHormon merupakan molekul mediator yang dikeluarkan oleh salah satu bagian tubuh (sel pensinyal) tetapi mengatur aktivitas sel pada bagian tubuh lainnya (sel target). Hormone tersebut dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Oleh karena itu, hormone akan memasuki cairan interstisial untuk selanjutnya berdifusi ke dalam pembuluh darah.Sebagian besar hormone endokrin adalah hormone yang bersirkulasi melalui aliran darah untuk mencapai sel target yang jauh. Beberapa lainnya bekerja secara local dan disebut sebagai :1. Sekresi parakrin ketika bekerja mempengaruhi sel yang berdekatan, contoh ketika gastrin dihasilkan oleh sel G dan mencapai sel target di fundus.1. Sekresi jukstakrin ketika molekul sinyal berada di permukaan sel penyekresi atau matriks ekstraseluler dan baru mempengaruhi sel lainnya ketika berkontak. Fungsi dari pensinyalan dengan cara ini penting untuk pensinyalan perkembangan jaringan.1. Sekresi autokrin ketika molekul sinyal bekerja pada sel pensinyal itu sendiri, contoh IGF (insulin growth factor) yang bekerja pada sel penghasilnya itu sendiri.

Kelenjar endokrin di dalam tubuh manusia terdiri dari kelenjar pituitary (hipofisis), tiroid, paratiroid, adrenal dan pineal. Selain kelenjar endokrin, terdapat pula sel pada organ atau jaringan yang menghasilkan hormone yaitu hipotalamus, timus, pancreas, ovarium, testis, ginjal, lambung, hati, usus halus, jantung dan kelenjar adiposa.

Dalam Tubuh Manusia Ada Tujuh Kelenjar Endokrin yang Penting, Yaitu :

1. Thyroid Gland (Kelenjar Tioroid )1. Kelenjar endokrin yg terdiri dari dua buah Lobus yg simetris 1. Berbentuk konus, cranial kecil dan caudal besar 1. Antara ke-2 lobus dihubungkan dengan isthmus dari tepi superior isthmus berkembang ke cranial lobus pyramidalis yg dapat mencapai os. Hyoideum yang setiap lobusnya berukuran 5 cm dan dibungkus oleh true capsula ( fascia propria )1. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan trakea1. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin dan Hormon tiroksin berfungsi untuk mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh.Histologi Kelenjar TiroidBerbentuk kupu-kupu dan terletak di servikal tepatnya di anterior laring. Kelenjar ini berasal dari endoderm usus depan berdekatan dengan bakal lidah. Lobus lateral kanan dan kiri dihubngkan oleh isthmus yang terletak di anterior trakea. Terkadang, lobus piramidalis yang berukuran kecil dapat menonjol ke atas dari isthmus. Berat normal tiroid adalah 30 g dan kaya vaskularisasi dengan suplai darah 80-120 ml per menit.Hormone yang dihasilkan adalah tirosin (T4) dan triiodotironin (T3) yang berperan penting dalam pertumbuhan, diferensiasi sel, control laju metabolisme basal, dan konsumsi oksigen. Selain itu, hormone ini berperan pula dalam metabolism lipid, karbohidrat, dan protein.

Secara mikroskopik, parenkim tiroid disusun oleh struktur epithelial berbentuk lingkaran yang disebut folikel tiroid. Setiap folikel berisi koloid yang terdiri dari glikoprotein tiroglobulin, precursor untuk hormone yang aktif. Kelenjar tiroid merupakan satu-satunya kelenjar dengan simpanan terbanyak. Pada manusia, simpanan tersebut cukup untuk digunakan lebih dari tiga bulan tanpa adanya sintesis yang baru.Bentuk sel folikular yang gepeng dan lumen penuh berisi koloid menandakan bahwa kelenjar inaktif. Sebaliknya, jika sel folikular berbentuk kuboid dan lumen kososng maka kelenjar aktif. Selain itu, sel folikular memiliki inti yang bulat dengan daerah basal yang kaya dengan reticulum endoplasma kasar dan apical (yang menghadap ke lumen), terdapat kompleks Golgi dan granul sekretorik berisi koloid.

2. Glandula Parathyroidea 1. Merupakan 4 buah benjolan kecil yang terletak pada permukaan dorsal ujung-ujung gld, thyroidea. 1. Mempunyai kapsul sendiri dan berada di dalam capsula gld. Parathyroidea 1. Berasal dari kantong brankhial 1. Pada orang dewasa kel. Ini berupa tonjolan bersimpai, berwarna kuning coklat berbentuk ovoid1. Paratiroid menempel pada kelenjar tiroid1. Kelenjar ini menghasilkan parathormon.dan Parathormon berfungsi mengatur kandungan fosfor dan kalsium dalam darah.

Histologi Kelenjar ParatiroidEmpat buah kelenjar dengan berat total 0,4 g terletak di belakang kelenjar tiroid. Kelenjar ini berasal dari endoderm tepatnya kantung faringeal ke-3 (kelenjar superior) dan ke-4 (kelenjar inferior).Selain sel folikular, terdapat sel parafolikular yang berasal dari krista neuralis yang berukuran lebih besar dan terpulas lebih pucat. Di samping itu, sel ini lebih sedikit mengandung reticulum endoplasmic kasar dan granul hormone polipeptida. Sel tipe ini menghasilkan kalsitonin yang menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas.Dua jenis sel yang menyusun kelenjar paratiroid adalah :1. Sel principal (chief cells) : jumlahnya banyak, berbentuk polygonal kecil dengan inti bulat, sitoplasma sedikit, dan pucat. Sel ini menghasilkan PTH (parathyroid hormone) yang mengatur kadar kalsium, magnesium, dan fosfat.1. Sel oksifil : terkadang dijumpai dalam jumlah sedikit, berukuran lebih besar dengan sitoplasma asidofilik dan bentuk mitokondria abnormal. Beberapa sel oksifil menunjukkan kadar PTH yang rendah.

3. Thymus 1. Berasal dari endoderm, yaitu celah brachial ke-3 dan ke-4, kelenjar ini membesar perlahan-lahan sampai membesar pada masa pubertas. Lalu akan mengalami atrofi sehingga waktu dewasa menghilang dan hanya tersisa berupa jaringan ikat lemak dan jika jaringan ikat lemak ini menetap bisa terjadi misal pada hyperthyroidisme atau pada penyakit Addison disease.1. Terletak di sepanjang rongga trachea di rongga dada bagian atas.1. Timus membesar sewaktu pubertas dan mengacil setelah dewasa.1. Kelenjar ini merupakan kelenjar penimbunan hormon somatotrof atau hormon pertumbuhan dan setelah dewasa tidak berfungsi lagi.1. Menghasilkan timosin yang berfungsi untuk merangsang limfosit

4. Pineal Gland1. Berupa kel. yang kecil sekali terletak pd bagian belakang ventrikel tertius. Kelenjar ini terdiri dari stroma jar. Ikat 1. Menghasilkan salah satu hormon melatonin yg berasal dari serotonin, mempunyai efek antagonis terhadap melanocyt-stimulating hormon ( msh). Juga menghasilkan bahan yg menghambat fungsi gonade 1. Hyperfungsi pineal berhubungan dengan pubertas yg terlambat dan hypofungsi dg pubertas yg terlalu cepat (precox)1. Beberapa tumor kel pineal dpt menimbulkan perubahan-2 dalam pematangan seksual dan kelainan dalam tingkah laku seksual.

Histologi Badan PinealDisebut pula epifisis serebri dan berasal dari neuroektoderm di bagian atap di ensefalon. Kelenjar ini berbentuk biji pinus, berat 150 g, dan terletak di dekat ventrikel 3. Ciri khas dari kelenjar ini adalah adanya corpora arenacea yang terbentuk dari matriks kalsifikasi (dari garam kalsium dan magnesium).Terdiri dari dua jenis sel yaitu :1. Pinealosit : basofilik, berukuran besar, inti regular, banyak mitokondria. Sel ini menghasilkan melatonin yang berfungsi menciptakan irama sikardian, antioksidan, dan mengatur onset pubertas serta kematangan seksual.1. Astroglia : memiliki prosesus sitoplasmik yang panjang, ditemukan pada area perivaskuler, dan diantara pinealosit. 1. glukosa ke dalam sel, meningkatkan glikogenesis, meningkatkan lipogenesis, dan sintesis protein.1. Sel delta : menghasilkan somatostatin dan letaknya tersebar. Fungsi hormone ini adalah menghambat sekresi insulin dan glucagon serta absorpsi nutrient.1. Sel F : menghasilkan polipeptida pancreas yang berfungsi menghambat sekresi somatostatin, kontraksi kandung empedu, dan sekresi dari enzim pancreas.

5. Hipofise Gland1. Lobus anterior berasal dari evaginasi atap kantong rathke.1. Evaginasi ini bersatu dg suatu tonjolan yg berasal dari dasar ventrikel tertius yg membentuk lobus posterior1. Pars intermedia di bentuk oleh bagian posterior kantong rathke. 1. Lobus posterior tetap mempertahankan hubungan dg ventrikel tertius atau hypothalamus1. Terletak pada dasar otak besar.1. Menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master gland.1. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian anterior, bagian tengah, dan bagian posterior.

Histologi Kelenjar Pituitary (Hipofisis)Terletak dibawah otak dalam rongga resesus sphenoid, tepatnya di sella turcica. Berbentuk seperti kacang polong dengan panjang 1-1,5 cm dan berat 0,5 g pada orang dewasa. Kelenjar ini dikenal sebagai master gland meskipun belakangan diketahui bahwa kelenjar ini bekerja di bawah pengaruh hipotalamus. Hipotalamus pula yang menghubungkan antara ystem saraf dan endokrin. Keduanya terhubung melalui struktur seperti tangkai yaitu infundibulum dan membentuk system portal hipotalamo-hipofisis. Suplai darah berasal dari arteri carotid interna yang kemudian bercabang menjadi arteri hipofisis superior (memperdarahi eminens mediana dan tangkai infundibular) dan arteri hipofisis inferior (memperdarahi terutama neurohipofisis).Kelenjar pituitary terdiri dari 2 bagian yaitu :A.1. Kelenjar Hipofisis Anterior (adenohipofisis, 75% dari berat total kelenjar)Berasal dari ectoderm atap mulut primitive dan tumbuh secara kranial membentuk kantung Rathke. Selanjtunya, kantung ini berkonstriksi sehingga terpisah dari faring.

A.2. Kelenjar Hipofisis Posterior (neurohipofisis)Neurohipofisis berasal dari tunas yang tumbuh dari dasar di ensefalon. Oleh karena itu, mengandung 100.000 akson tidak bermielin (dari neuron sekretorik) yang terletak nucleus supraoptikus dan nucleus paraventrikularis hipotalamus. Neurohipofisis terdiri dari pars nervosa (tidak mengandung sel sekretorik) dan tangkai infundibular. Selain akson, terdapat pula sel glia bercabang yang disebut pituisit dengan jumlah sel yang terbanyak.

Adapun hormone yang dihasilkan adalah :1. ADH (antidiuretic hormone/vasopressin) oleh nucleus supraoptikus : menurunkan produksi urin dengan cara meningkatkan permeabilitas duktus koligens terhadap air.1. Oksitosin oleh nucleus paraventrikularis : meningkatkan kontraksi uterus ketika melahirkan dan menstimulasi pengeluaran air susu.Setelah dihasilkan di hipotalamus, kedua hormone ini akan ditransportasikan ke pars nervosa dan terakumulasi di badan Herring (badan neurosekretorik) yang bersifat granul eosinofilik. Di permukaan granul tersebut terdapat protein pembawa yang disebut neurophysin I dan II. Nantinya, impuls saraf akan merangsang pengeluaran peptide dari badan Herring sehingga beredar di dalam aliran darah.6. Pancreas Gland 1. Merupakan kelenjar exocrine dan endocrine yg sedikit mengandung jar. Ikat. Terdiri dari caput, corpus dan cauda pancreatic dan terletak pada bagian concaf dari duodenum, antara caput dan corpus terdapat collum pancreatic sebelah dorsal collum terletak vena portae1. Pancreas ditutupi oleh peritonium (retroperitoneal) 1. Saluran keluar kelenjar dimulai dari cauda pancreatis, berjalan di bagian cranial disebut ductus pancreaticus wirsungi . Kadang-kadang terdapat ductus pancreaticus accessorius santorini yg berada disebelah cranial ductus wirsungi 1. Menghasilkan hormon insulin dan Hormon insulin ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan dibawa ke sel hati dan selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. dan Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes.

Histologi PulauBerbentuk telur yang berasal dari endoderm yang berada dekat dengan duktus biliaris dan terdiri dari ratusan pulau. Tiap pulau disusun oleh sel polygonal atau bulat, lebih kecil, dan pucat dibandingkan sel asinar di sekelilingnya. Pulau Langerhans dillihat secara imunohistokimia terdiri dari :1. Sel alfa : menghasilkan glucagon dan biasanya berada di pinggir pulau. Fungsi glucagon adalah memecah glikogen di hati.1. Sel beta : menghasilkan insulin dan terletak di bagian tengah pulau. Fungsi insulin adalah mempercepat transport

7. Supradrenal Gland1. Kel. Ini tidak termasuk sistem uropoetica, melainkan bagian dari sistem endokrin. Beratnya mencapai 3-6 gram. Terletak pd puncak extremitas superior ren, tepatnya bagian ventro-superio-media1. Yang dextra berbentuk pyramid, berada disebelah ventral diaphragma thoracis.1. Kelenjar ini berbentuk bola, menempel pada bagian atas ginjal. Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal dan dibagi atas dua bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula).1. Menghasilkan hormon Adrenalin.1. Terletak di kutub atas ginjal berbentuk bulan sabit pipih dengan panjang 4-6 cm dan lebar 1-2 cm. Berat keduanya adalah 8 g. Tiap kelenjar ditutup oleh kapsula jaringan ikat yang padat dan bagian stroma kaya akan serat retikularis yang mendukung sel sekretorik.

1. Jelaskan fisiologi dari sistem endokrin !

Fisiologi Hormon

Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel. Sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. Sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol. Hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.

Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. Ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. Pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan:1. Hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri seksual1. Hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energy1. Hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah.

Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh. Misalnya, TSH dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. Sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.

Pengendalian Endokrin

Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.

Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar hormon lainnya yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. Jika kadar hormon kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi dan mereka berhenti melepaskan hormon.

Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa. Hormon tertentu yang berada dibawah kendali hipofisa memiliki fungsi yang memiliki jadwal tertentu. Misalnya, suatu siklus menstruasi wanita melibatkan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh kelenjar hipofisa setiap bulannya. Hormon estrogen dan progesteron pada indung telur juga kadarnya mengalami turun-naik setiap bulannya. Mekanisme pasti dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa terhadap bioritmik ini masih belum dapat dimengerti. Tetapi jelas terlihat bahwa organ memberikan respon terhadap semacam jam biologis.

Faktor-faktor lainnya juga merangsang pembentukan hormon. Prolaktin (hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa) menyebabkan kelenjar susu di payudara menghasilkan susu. Isapan bayi pada puting susu merangsang hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak prolaktin. Isapan bayi juga meningkatkan pelepasan oksitosin yang menyebabkan mengkerutnya saluran susu sehingga susu bisa dialirkan ke mulut bayi.

Kelenjar semacam pulau pakreas dan kelenjar paratiroid, tidak berada dibawah kendali hipofisa. Mereka memiliki sistem sendiri untuk merasakan apakah tubuh memerlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon. Misalnya kadar insulin meningkat segera setelah makan karena tubuh harus mengolah gula dari makanan. Jika kadar insulin terlalu tinggi, kadar gula darah akan turun sampai sangat rendah1. Jelaskan substansi biokimia hormon yang terlibat pada sistem endokrin !.

Fisiologi dan substansi biokimia endokrin dari hormone yang terlibat dalam penyakit dengan gejala bayak kencing dan banyak minum !Metabolisme karbohidrat1. Glikolisis : oksidasi glukosa untuk energy.1. Glikogenesis : sintesis glikogen dari glukosa.1. Glikogenolisis : perubahan glikogen menjadi glukosa.1. Glukoneogenesis : perubahan glukosa dari zat non karbohidrat.1. HMP SHUNT : menghasilkan NADPH dan ribose sebagai reduksi, tidak terjadi stress oksidatif.

Piruvat (erobik)Laktat (anerobik)

Berlangsung di semua sel dan memiliki mitondriaBerlangsung di sel-sel yang tidak memliki mitondria seperti eritrosit dan sel otot putih (tipe 2) atau anoksia (infark miokard)

Memerlukan OksigenTidak memerlukan oksigen

Menggunakan NAD+ sebagai oksidator dimana NAD+ tereduksi menjadi NADH dan NADH dioksidasi kembali menjadi NAD+ melalui rantai pernapasan di mitokondriaMenggunakan NAD+

Pada oksidasi NADH menjadi NAD+ akan terbentuk 3 ATP per NADH yang di oksidasi.NADH yang terbentuk tidak dapat direoksidasi melalui rantai pernapasan, tetapi melalui reduksi piruvat menjadi laktat pada saat yang sama NADH teroksidasi menjadi NAD+.

Glikolisis merupakan penghasil energi. Glikolisis merupakan oksidasi glukosa menjadihormon yang terkait dalam scenario adalah hormone insulin. Hormon insulin diproduksi oleh kalenjar pankreas. Dalamkalenjar pankreasmengandung kurang lebih 100.000 pulau Langerhans dan setiap pulau mengandung 100 sel beta.Oleh sel beta-lahhormon insulin diproduksi, dimana sel beta dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel. Untuk kemudian di dalam sel, glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga energi.Jika hormon insulin tidak ada, maka glukosa tak dapat masuk ke sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Sebaliknya, disamping sel beta, terdapat juga sel alfa yang memiliki fungsi memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari hormon insulin, yakni meningkatkan kadar glukosa darah.Pada penyakit diabetes mellitus tipe 1 adalah penyakit auto imun yang ditentukan secara genetik dengan gejala-gejala yang pada akhirnya menuju proses bertahap pengerusakan imunologik sel-sel yang memproduksi insulin. Individu yang peka secara genetic tampaknya memberikan respon terhadap kejadian-kejadian pemicu yang diduga berupa infeksi virus, dengn memproduksi autoantibody terhadap sel-sel beta, yang akan berkurangnya sekresi insulin yang di rangsang oleh glukosa. Jika terjadi kelainan, fungsi limfosit T yang terganggu akan berperan dalam pathogenesis perusakan sel-sel pulau langerhands yang ditujukan terhadap komponen antigenic tertentu dari sel beta. Kejadian pemicu yang memicu proses autoimun pada individu yang peka secara genetic berupa infeksi virus coxsackie B4 atau gondongan atau virus lain.Di kelenjar hipofisis hormone TRH merangsang TSH dan mempengaruhi kerja tiroksin di kelenjar thyroid untuk menghasilkan T3 dan T4. Yang terjadi dalam tubuh tiroksin normal tetapi merasa mengalami kekurangan dalam memproduksi T3 dan T4 sehingga TRH dan TSH terangsang terus untuk meningkatkan kerjanya yang selanjutnya mengalami hipertrofi pada tiroksin yang mengakibatkan tyroid mengalami hiperttiroid.

1. Jelaskan patomekanisme gejala-gejala pada skenario !

POLIURIAPoliuria adalah keadaan di mana volume air kemih dalam 24 jam meningkat melebihi batas normal disebabkan gangguan fungsi ginjal dalam mengkonsentrasi air kemih. Definisi lain adalah volume air kemih lebih dari 3 liter/hari, biasanya menunjukkan gejala klinik bila jumlah air kemih antara 4-6 liter/hari. Poliuria biasanya disertai dengan gejala lain akibat kegagalan ginjal dalam memekatkan air kemih antara lain rasa haus, dehidrasi, dll.Menurut Brenner poliuria dibagi 2 macam :1. Poliuria non fisiologis : pada orang dewasa dengan konsumsi diet Eropa, poliuria didapatkan bila air kemih lebih dari 3 liter/hari.1. Poliuria berbasis fisiologi : volume air kemih dibandingkan dengan volume air kemih yang diharapkan karena rangsangan yang sama, dikatakan poliuri bila volume air kemih lebih besar dari volume yang diharapkan.PatofisiologiPoliuria merupakan hasil dari satu dari empat mekanisme ini : 1. peningkatan cairan yang masuk, 1. peningkatan GFR (glomerular filtration rate), 1. peningkatan bahan seperti sodium chlorida dan glukosa yang keluar, dan 1. ketidakmampuan ginjal untuk mereabsorpsi air di tubulus distalEtiologi1. cuaca dingin1. intake cairan berlebih1. gangguan sekresai ADH oleh berbagai sebab (trauma kepala, tumor hipofisis)1. psikogenik1. gangguan sistem urinariusPenyebab poliuria yang sering adalah diabetes mellitus, diabetes insipidus sentral (diabetes insipidus neurogenik, diabetes insipidus kranial atau hipotalamik), diabetes insipidus nefrogenik (diabetes insipidus renal, diabetes insipidus resisten ADH), polidipsi primer atau diabetes insipidus dipsogenik. Diantara berabagai penyebab di atas yang, penyebab yang paling utama adalah diabetes mellitus dan diabetes insipidus. Selain itu dalam beberapa keadaan fisiologik dapat meningkatkan pengeluaran urin misalnya : stress, latihan, dan cuaca panas dengan minum yang berlebihan.POLYDIPSIEtiologi umum: kekurangan cairan tubuh secara bermaknaPatomekanisme :Terjadinya polidipsi berhubungan erat dengan adanya poliuri yang ditemukan pada kasus. Poliuri (pengeluaran cairan tubuh secara berlebih) mengakibatkan terjadinya perangsangan pusat haus di hipotalamus yang kemudian menuntun kita mengkonsumsi air sebanyak-banyaknya untuk menghindari deplesi air yang berlebih dan membahayakan hidup seseorang. Pembahasan ini lebih lanjut akan dibahas selanjutnya.Haus dan mekanismenyaJika terjadi peningkatan osmolalitas plasma terjadi perangsangan pusat haus.Karena ambang rangsang haus lebih tinggi dari ambang rangsang AVP, kondisi ini disebut mekanisme perlindungan dari deplesi yang berlebihan. Haus sebagai reaksi fisiologisSistem Umpan Balik Osmoreseptor-AdhBila osmolaritas (konsentari natrium plasma) meningkat diatas normal akibat kekurangan air , maka sistem umpan balik ini akan bekerja sebagai berikut :1. peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (yang secara praktis berarti peningkatan konsentrasi natrium plasma) menyebabkan sel saraf khusus yang disebut sel osmoreseptor, yang terletak di hipotalamus anterior dekat nukleus supraoptik, mengkerut.1. Pengerutan sel osmoreseptor menyebabkan sel tersebut terangsang, yang akan mengirimkan sinyal saraf ke sel saraf tambahan di nukleus supraoptik, yang kemudian meneruskan sinyal ini menelusuri infundibulum hipofisis ke hipofisis posterior.1. potensial aksi yang disalurkan ke hipofisis posterior akan merangsang pelepasan ADH, yang disimpan dalam granula sekretorik (atau vesikel) di ujung saraf.1. ADH memasuki aliran darah dan ditranspor ke ginjal, tempat ADH meningkatkan permeabilitas air di bagian akhir tubulus distal dan tubulus koligentes. peningkatan permeabilitas air di segmen nefron distal menyebabkan peningkatan reabsorsi air dan ekskresi sejumlah urin yang pekat.Kekurangan air Peningkatan Osmolaritas ekstraselPenurunan H2O yang dieksresiPeningkatan Permeabilitas tubulus distal, duktus koligentes terhadap airPeningkatan Reabsorbsi H2OPeningkatan Sekresi ADHPeningkatan ADH plasma

Peranan Rasa Haus dalam Mengatur Osmolaritas Cairan Ekstrasel dan Konsentrasi NatriumGinjal meminimalkan kehilangan cairan selama terjadi kekurangan air, melalui sistem umpan balik osmoreseptor ADH. Akan tetapi, asupan cairan yang adekuat diperlukan untuk mengimbangi kehilangan cairan yang terjadi melalui keringat dan nafas serta melalui pencernaan. Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa haus, yang bersama dengan mekanisme osmoreseptor ADH, mempertahankan kontrol osmolaritas cairan ekstrasel dan konsentrasi natrium secara tepat. Banyak faktor yang sama yang merangsang sekresi ADH juga akan meningkatkan rasa haus, yang akan didefinisikan sebagai keinginan sadar terhadap air. Pusat Rasa Haus di Sistem Saraf PusatTerdapat suatu daerah kecil yang terletak anterolateral dari nucleus peroptik, yang bila distimulasi secara listrik, menyebabkan kegiatan minum dengan segera dan berlanjut selama rangsangan berlangsung. Semua daerah ini bersama-sama disebut pusat rasa haus. Neuron-neuron dipusat rasa haus memberi respons terhadap penyuntikan larutan garam hipertonik dengan cara merangsang perilaku minum. Sel-sel ini hampir berfungsi sebagai osmoreseptor untuk mengaktivasi mekanisme rasa haus, dengan cara yang sama saat osmoreseptor merangsang pelepasan ADH.Peningkatan osmolaritas cairan serebrospinal di ventrikel ketiga memberi pengaruh yang pada dasarnya sama, yaitu menimbulkan keinginan untuk minum. Organum vasculosum lamina terminalis yang terletak tepat dibawah permukaan ventrikel pada ujung inferior daerah AV3V, agaknya ikut diperantarai respons tersebut.Stimulus terhadap rasa hausSalah satu yang terpenting adalah peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel, yang menyebabkan dehidrasi intrasel di pusat rasa haus, yang akan merangsang sensasi rasa haus. Kegunaan respons ini sangat jelas; membantu mengencerkan cairan ekstrasel dan mengembalikan osmolaritas ke dalam normal. Penurunan volume cairan ekstrasel dari tekanan arteri juga merangsang rasa haus melalui suatu jalur yang tidak bergantung pada jalur yang distimulasi oleh peningkatan osmolaritas plasma. Jadi, kehilangan volume darah melalui pendarahan akan merangsang rasa haus walaupun mungkin tidak terjadi perubahan osmolaritas plasma. Hal ini mungkin terjadi akibat input netral dari baroreseptor kardiopulmonal dan baroreseptor . Stimulus rasa haus yang ketiga yang penting adalah angiotensin II. Penelitian terhadap binatang telah menunjukkan bahwa angiotensin II bekerja pada organ subfornikal dan pada organus vaskulosum lamina terminalis. Karena angiotensin II juga distimulasi oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan hipovolemia dan tekanan darah rendah, pengaruhnya pada rasa haus membantu memulihkan volume darah dan tekanan darah kembali normal, bersama dengan kerja lain dari angiotensin II pada ginjal untuk menurunkan eksresi cairan.Kekeringan pada mulut dan membran mukosa esofagus dapat mendatangkan sensasi rasa haus. Akibatnya seseorang yang kehausan dapat segera melepaskan rasa hausnya setelah ia minum air walaupun air tersebut belum diabsorbsi dari saluran pencernaan dan belum memberi efek terhadap osmolaritas cairan ekstrasel.Stimulus gastrointerstinal dan faring mempengaruhi timbulnya rasa haus. Contohnya pada binatang yang memiliki pintu oesophagus ke arah eksterior, sehingga air tidak pernah diabsrobsi ke dalam darah, kelegaan yang terjadi setelah minum hanya bersifat sebagian, walaupun kelegaan itu bersifat sementara. Akan tetapi penurunan sensasi haus melalui mekanisme gastrointestinal atau faringeal hanya bertahan singkat, keinginan untuk minum hanya dapat dipuaskan sepenuhnya bila osmolaritas plasma dan/atau volume darah kembali normal.POLIFAGIA Polifagia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas dua suku kata; poli (yang berarti banyak) dan fago (yang berarti makan). Secara umum, polifagia bisa diartikan sebagai suatu gejala kelainan sistem metabolisme pada kondisi tertentu dimana penderitanya mengalami rasa lapar yang berkelanjutan sehingga menyebabkan dirinya mengkonsumsi makanan secara berlebih. Hal ini disebabkan menyusutnya kadar kaloridalam tubuh yang dikeluarkan lewat saluran air kemih dalam jumlah yang cukup besar, sehingga penderita akan mengalami penurunan berat badan secara drastis. Akibatnya si penderita akan mengalami rasa lapar yang dahsyat dan terjadi secara kontinyu (terus menerus) sehingga menuntutnya untuk lebih sering mengkonsumsi makanan tanpa henti.Jadi kesimpulan dari Patomekanisme dari gejala di atas adalah :Poliuria pada Diabetes MelitusKelebihan glukosa pada darah (hiperglikemi) yang melewati amabang ginjal, ginjal akan membuangkelebihan tersebut melauli urin atau yang disebut glikosuria. Glikosuria ini akan menyebabkan dieresis osmotic, karena pengenceran glukosa membutuhkan air, yang meningkatkan pengeluaran urin.Polidipsia pada Diabetes MelitusAkibat pemakaian air dalam tubuh untuk pengenceran glukosa dalam urin pada proses poliuria,akibatnya air di dalam tubh akan berkurang, sehingga akan menimbulkan efek haus terhadappenderitanya.Polifagia pada Diabetes Melituskarena glukosa hilang bersama urin, ditambah glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel maka berat tubuh akan berkurang. Hal ini akanmenyebakan timbulnya rasa lapar.

1. Adakah hubungan antara gejala utama pada skenario dengan penurunan berat badan ?

Poliuri : pada penderita DM, insulin tak dapat mengubah glukosa menjadi glikogen, akibatnya banyak sekali glukosa yang masuk keginjal dan menyebabkan hiperfiltrasi pada ginjal dan akhirnya kecepatan filtrasi di ginjal meningkat, sehingga pembuangan glukosa, natrium dan zat zat pada urine lebih cepat. Hal itulah yang menyebabkan penderita menjadi lebih sering kencing.Polidipsi : pada gejala ini, ginjal yang biasanya melakukan proses difusi berubah menjadi osmosis dikarenakan kadar glukosa yang tinggi dalam darah. Untuk menyeimbangkannya ginjal mengambil kadar air pada darah, dan mengakibatkan darah menjadi pekat dan sel menjadi kekurangan cairan, sehingga merangsang penderita untuk sering minumPolifagi : glukosa setelah dirubah menjadi glikogen, sebagian akan disimpan di hati sebagai cadangan energy. Tapi sayangnya pada penderita DM, hal itu tidak terjadi dikarenakan adanya kerusakan organ pembuat insulin, atau insulin yang di hasilkan menjadi sedikit, akhirnya glukosa seperti jadi sia sia karena tidak dapat menjadi energy untuk sel dalam tubuh, sehingga otak merespon dengan memberikan sinyal lapar ke pada tubuh dan menyebabkan penderita menjadi banyak makan.Hubungan dengan berat badan menurun :Ketika tidak ada glukosa yang diubah menjadi glikogen oleh insulin, tubuh mulain memecah protein untuk sumber energy alternative. Sehingga secara otomatis juga akan mempengaruhi penurunan berat badan. Di samping itu, ginjal yang berusaha menurunkan kadar gula bekerja keras dan membutuhkan kalori yang lebih banyak dan mengambilnya dari dalam sel sel tubuh1. Adakah hubungan gejala dengan faktor jenis kelamin dan usia pada skenario ?

Kasus pada skenario :Wanita 20 tahun, menderita 3p (polouria, polidipsia, polifagia), adanya penurunan berat badan.Faktor risiko Wanita :1. Kehamilan1. Abortus1. Menopouse1. Penyakit degeneratif1. Penyakit infeksi1. Pemakaian obat obatan1. Penyakit keturunan (genetik)Kesimpulan, ada hubungan usia dan jenis kelamin dengan keluhan yang diderita, karena adanya faktor risiko yang dapat mempengaruhi hidup penderia tersebut.

1. Sebutkan nilai-nilai normal pemeriksaan penunjang pada sistem endokrin !

Pemeriksaan Endokrin :

1. Pemeriksaan Glukosa

TesSampelBukan DM (mg/dl)Belum pasti DM (mg/dl)DM (mg/dl)

GDSPlasma vena< 100110 199 200

Darah kapiler< 9090 199 200

GDPPlasma vena< 100110 125 126

Darah kapiler< 9090 109 110

GD2PPDarah vena< 140140 200> 200

Darah kapiler< 120120 200> 200

1. Tes Toleransi Glukosa OralKriteriaGDP (mg/dl)2 Jam TTGO (mg/dl)

GDPT 110 serta < 126< 140

TGT< 126 140 serta > 200

DM 126 200

1. Tes HbA1cKriteria pengendalianKriteria A1c (%)

Baik< 6,5

Sedang6,5 8

Buruk> 8

1. Tes urin (Mikroalbuminuria), Nilai rujukan : < 20 mg/L (, 0,02 g/L) atau 30 mg/24 jam ( 0,03 g/24 jam)

1. Tes Tiroid-stimulating hormone

1. T es T 4Nilai Rujukan : 1. Dewas a : 50- 113 ng/L (4,5mg/dl)1. Anak- anak : diat as 15,0 mg/dl1. Us ila : menurun s es uai penurunan kadar pro t ein plas ma1. Wanit a hamil, pemberian ko nt ras eps i o ral : 16,5 mg/dl

1. Tes T3Nilai Rujukan :1. Dewasa : 0,8 2,0 ng/ml (60 118 ng/dl)1. Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral, infant dan anak anak : meningkat

1. Te s FT4 (Free Thyro xin), Nilai Rujukan : 10 27 pmo l/L

1. Tes FT 3 (Free Triiodotiro nin), Nilai Rujukan : 4,4 9,3 pmo l/L

1. Tes TSH (Tiroid Stimulating Hormone), Nilai Rujukan : 0,4 5,5 mIU/l

1. T es T SHs (TSH 3rd Generation)Nilai rujukan : 0,4 5,5 mIU/l

1. Jelaskan alur pemeriksaan untuk kasus pada skenario !

ALUR DIAGNOSTIK Diabetes Melitus1. AnamnesisDiabetes melitus bisa timbul akut berupa ketoasidosis diabetik, koma hiperglikemia, disertai efek osmotik diuretik dari hiperglikemia (poliuria, polidipsi, nokturia), efek samping diabetes pada organ akhir (IHD, retinopati, penyakit vaskular perifer, neuropati perifer), atau komplikasi akibat meningkatnya keretanan terhadap infeksi (misalnya ISK, ruam kandiada). Keadaan ini juga bisa ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan pemeriksaan darah atau urin. Maka hal di atas harus ditanyakan secara lengkap! 1. Riwayat Penyakit DahuluApakah pasien diketahui mengidap diabetes? Jika ya, bagaimana manifestasinya dan apa obat yang didapat? Bagaimana pemantauan untuk kontrol: frekuensi pemeriksaan pemeriksaan urin, tes darah, HbA1C, buku catatan, kesadaran akan hipoglikemia? Tanyakan mengenai komplikasi sebelumnya.1. Riwayat masuk rumah sakit karena hipoglikemia/hipergikemia.1. Penyakit vaskular: iskemia jantung (MI, angina, CCF), penyakit vaskular perifer (klaudikasio, nyeri saat beristirahat, ulkus, perawatan kaki, impotensi), neuropati perifer, neuropati otonom (gejala gastroparesis muntah, kembung, diare).1. Retinopati, ketajaman penglihatan, terapi laser.1. Hiperkolesterolemia, hipertrigliserida.1. Disfungsi ginjal (proteinuria, mikroalbuminuria).1. Hipertensi tetapi.1. Diet/berat badan/olahraga.

1. Riwayat Pengobatan

1. Apakah pasien sedang menjalani terapi diabetes: diet saja, obat-obatan hipoglikemia oral, atau insulin? 1. Tanyakan mengenai obat yang bersifat diabetogenik (misalnya kortikosteroid, siklosporin)? 1. Tanyakan riwayat merokok atau penggunaan alkohol?1. Apakah pasien memiliki alergi?

1. Riwayat Keluarga dan Sosial

1. Adakah riwayat diabetes melitus dalam keluarga?1. Apakah diabetes mempengaruhi kehidupan?1. Siapa yang memberikan suntikan insulin/tes gula darah, dan sebagainya (pasangan/pasien/perawat)

1. Faktor Risiko1. Pola makan yang banyak mengandung Karbohidrat dan Fastfood1. Aktifitas fisik1. Usia1. Obesitas1. Kehamilan1. Riwayat DM1. Riwayat Kehamilan dengan DM1. Kadar Trigliserin Tinggi1. Jenis Kelamin1. Ras2. Pemeriksaan FisikDiabetes melitus merupakan penyakit yang memiliki efek kepada seluruh tubuh. Maka dalam pemeriksaan fisik harus dialkukan pemeriksaan secara lengkap.

3. Pemeriksaan Penunjang3.1. Pemeriksaan PenyaringPemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah satu resiko DM sebagai berikut:1. Usia > 45 tahun1. Berat badan lebih: BBR > 110% BB idaman atau IMT > 23 kg/m2. 1. Hipertensi (> 140/90 mmHg)1. Riwayat DM dalam keluarga1. Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir bayi > 4000 gram1. Kolesterol HDL 35 mg/dl dan atau TG 250 mg/dlPemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien DM, TGT dan GDPT, sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mereka. Pasien dengan TGT dan GDPT merupakan tahap sementara menuju DM. setelah 5-10 tahun kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM. 1/3 tetap TGT dan 1/3 lainya kembali normal. Adanya TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. pada kelompok TGT ini resiko terjadinya aterosklerosis lebih tinggi dibandingkan kelompok normal. TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan dislipidemia. Peran aktif para pengelola kesehatan sangat diperlukan agar deteksi DM dapat ditegakkan sedini mungkindan penegahan primer dan skunder dapat segera diterapkan. Pemeriksaan penyaring dapat dialakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar.

Tabel : Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM.Bukan DMBelum pasti DMDM

Kadar glukosa darah sewaktu (mg/dl)Plasma Vena

< 110110-199200

Plasma Kapiler

126 mg/dl (7 mol/L) pada sekurang-kurangnya 2 kesempatan1. Kadar glukosa plasma selama tes toleransi glukosa oral (TTGO) > 200 mg/dl pada 2 jam dan

PatofisiologiHiperglikemia, tanda utama diabetes melitus, terjadi akibat penurunan penyerapan glukosa oleh sel-sel, disertai oleh peningkatan glukosa oleh hati.Karena sebagian besar sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa tanpa bantuan insulin, terjadi kelebihan glukosa ekstrasel sementara terjadi defisiensi glukosa intrasel. Kadar glukosa darah meninggi ke tingkat pada saat jumlah glukosa yang difiltrasi melebihi kapasitas sel-sel tubulus melakukan reabsorpsi, sehingga glukosa akan timbul dalam urin (glukosuria). Glukosa diurin menimbulkan efek osmotik yang menarik H20 bersamanya, sehingga menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai dengan poliuria( sering berkemih). Cairan yang keluar belerbihan dati tubuh menyebabkan dehidrasi yang pada gilirannya menyebabkan kegagalan sirkulasi perifer karena volume darh turun.

Manifestasi Klinis

1. poliuria1. Polidipsi1. Polifagi1. Parestesi1. Pruritus1. Letih, lesu, dan Lemah badan1. Berat badan menurunKriteria Diagnosis DM

1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu 200 mg/dl.1. Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa 126 mg/dl1. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dl

Penatalaksanaan

1. Medika Mentosa

1. Pemicu sekresi insulin1. SULFONILUREA : Khlorpropamid, Glibenklamid, Glikasid, Glikuidon, Glipisid, Glimepirid1. GLINID : Repaglinid, Nateglinid

2. Penambah Sensitivitas terhadap Insulin1. BIGUANID :Metformin1. THIAZOLIDINDION / GLITAZON : Pioglitazon, Rosiglitazon

1. Non Medika Mentosa, Terapi dietetik bertujuan mengurangi masukan kalori dan menurunkan berat badan khusunya pada DM tipe 2

Komplikasi

Komplikasi jangka lama termasukpenyakit kardiovaskular(risiko ganda),kegagalan kronis ginjal(penyebab utamadialysis), kerusakanretina yang dapat menyebabkankebutaan, serta kerusakansaraf yang dapat menyebabkan impotensidan gangrendengan risikoamputasi.

1. DD 2 ( Diabetes Insipidus )

DIABETES INSIPIDUS

Diabetes insipidus adalah penyakit yang jarang di temukan. Diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan dalam tubuh mengkonversi air. Etiologi 1. Kegagalan pelepasan hormon ADH 1. Kerusakan nukleus supraoptik, paraventikular, dan filiformis hipotalamus yang menisntesis ADH1. Ganguan pengangkutan ADH1. Kegagalan melepaskan vasopressin

Gejala KlinisKeluhan dan gejala utama diabetes insipidus adalah poliuria dan polidipsia. Jumlah cairan yang diminum maupun produksi urin per 24 jam sangat banyak, dapat mencapai 510 liter sehari. Berat jenis urin biasanya sangat rendah, berkisar antara 10011005 atau 50200 mOsmol/kg berat badan. Selain poliuria dan polidipsia, biasanya tidak terdapat gejalagejala lain kecuali jika ada penyakit lain yang menyebabkan timbulnya gangguan pada mekanisme neurohypophyseal-renal reflex. Selama pusat rasa haus pasien tetap utuh , konsentrasi zat zat yang terlarut dalam cairan tubuh akan mendekati nilai normal bahayanya baru timbul jika intake air tidak dapat mengimbangi pengeluaran urin yang ada, dengan akibat pasien akan mengalami dehidrasi dan pengingkatan konsentrasi zat zat terlarut.PatofisiologiVasopresin arginin merupakan suatu hormon antidiuretik yang dibuat di nucleus supraoptik, paraventrikular, dan filiformis hipotalamus, bersama dengan pengikatnya yaitu neurofisin II. Vasopresin kemudian diangkut dari badan-badan sel neuron tempat pembuatannya, melalui akson menuju ke ujung-ujung saraf yang berada di kelenjar hipofisis posterior, yang merupakan tempat penyimpanannya. Secara fisiologis, vasopressin dan neurofisin yang tidak aktif akan disekresikan bila ada rangsang tertentu. Sekresi vasopresin diatur oleh rangsang yang meningkat pada reseptor volume dan osmotic. Suatu peningkatan osmolalitas cairan ekstraseluler atau penurunan volume intravaskuler akan merangsang sekresi vasopresin. Vasopressin kemudian meningkatkan permeabilitas epitel duktus pengumpul ginjal terhadap air melalui suatu mekanisme yang melibatkan pengaktifan adenolisin dan peningkatan AMP siklik. Akibatnya, konsentrasi kemih meningkat dan osmolalitas serum menurun. Osmolalitas serum biasanya dipertahankan konstan dengan batas yang sempit antara 290 dan 296 mOsm/kg H2O.Gangguan dari fisiologi vasopressin ini dapat menyebabkan pengumpulan air pada duktus pengumpul ginjal karena berkurang permeabilitasnya, yang akan menyebabkan poliuria atau banyak kencing.Selain itu, peningkatan osmolalitas plasma kan merangsang pusat haus, dan sebaliknya penurunan osmolalitas plasma akan menekan pusat haus. Ambang rangsang osmotic pusat haus lebih tinggi dibandingkan ambang rangsang sekresi vasopresin. Sehingga apabila osmolalitas plasma meningkat, maka tubuh terlebih dahulu akan mengatasinya dengan mensekresi vasopresin yang apabila masih meningkat akan merangsang pusat haus, yang akan berimplikasi orang tersebut minum banyak (polidipsia).Secara patogenesis, diabetes insipidus dibagi menjadi 2 yaitu diabetes insipidus sentral, dimana gangguannya pada vasopresin itu sendiri dan diabetes insipidus nefrogenik, dimana gangguannya adalah karena tidak responsifnya tubulus ginjal terhadap vasopresin.

1. Diabetes insipidus sentral (DIS) DIS disebabkan oleh karena gagalnya pelepasan hormon Antidiuretik hormon yang secara fisiologis dapat merupakan kegagalansintesis attau penyimpanan. Secara anatomis kelainan tersebut bisa terjadi akibat kerusakan nukleus supraoptik, peraventrikular dan filiformis hipotalamus yang mensisntesis ADH. Selain itu DIS juga timbul karena gangguan pengangkutan ADH akibat kerusakan pada akson traktus supraoptikohipofisealis dan akson hipofisis posterior dimana ADH di simpan untuk sewaktu waktu di lepaskan ke dalam sirkulasi jika dibutuhkan. Secara Biokimia, DIS tejadi karena tidak adanya sintesis ADH atau sintesis ADH yang kuantitatif tidak mencukupi kebutuhan, atau kuantitatif cukup tetapi ADH tidak dapat berfungsi sebagaimana ADH yang normal. Sintesis neurofism suatu binding protein yang abnormal uga dapat menggangu pelepasan ADH. Selain itu DIS di duga akibat adanya antibodi terhadap ADH. Karena pada pengukuran kadar ADH dalam dalam serum secara radio immunoassay, yang menjadi marker bagi ADH adalah neurofisin yang secara fisiologis tidak berfungsi, maka kadar ADH yang normal atau meingkat belum dapat memastikan bahwa fungsi ADH itu adalah normal atau meningkat. Termasuk dalam klasifikasi DIS adalah diabetes insipidus yang diakibatkan kerusakan osmoreseptor yang terdapat pada hipotalamus anterior yang disebut verney.s omoreseptor yang berada di luar sawar darah otak.EtiologiAda beberapa keadaan yang mengakibatkan diabetes insipidus sentral, termasuk di dalamnya adalah tumor-tumor pada hipotalamus, tumor-tumor besar hipofisis dan menghancurkan nucleus-nukleus hipotalamik, trauma kepala, cedera operasi pada hipotalamus, oklusi pembuluh darah pada intraserebral, dan penyakit-penyakit granulomatosa.Gejala klinikKeluhan dan gejala utama diabetes insipidus adalah poliuria dan polidipsia. Jumlah produksi urin maupun cairan yang diminum per 24 jam sangat banyak. Selain poliuria dan polidipsia, biasanya tidak terdapat gejala-gejala lain, kecuali bahaya baru yang timbul akibat dehidrasi yang dan peningkatan konsentrasi zat-zat terlarut yang timbul akibat gangguan rangsang haus1. Diabetes Insipidus Nefrogenik (DIN)DIN adalah diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen. Diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen. Secara fisiologis dapat di sebabkan oleh : 1. kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotik dalam medula renalis1. kegagalan utilisasi gradient pada keadaan dimana ADH berada dalam jumlah yang cukup dan berfungsi normal.

EtiologiDiabetes Insipidus Nefrogenik dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu1. Penyakit ginjal kronik1. Penyakit ginjal polikistik1. Medullary cystic disease1. Pielonefretis1. Obstruksi ureteral1. Gagal ginjal lanjut

1. Gangguan elektrolit1. Hipokalemia1. Hiperkalsemia

1. Obat-obatan1. Litium1. Demeklosiklin1. Asetoheksamid1. Tolazamid1. Glikurid1. Propoksifen1. Amfolarasin1. Vinblasin1. Kolkisin

1. Penyakit sickle cell anemia

1. Gangguan diet (intake air yang berelebihan, penurunan intake Nacl dan protein)

DiagnosisAnamnesis 1. Menanyakan keseringan dan banyaknya kencing pasien perhari?1. Apakah disertai rasa haus serta bagaimana timbulnya? 1. Apakah pasien sering bangun dan tidurnya terganggu karena buang air kecil?1. Apakah ada riwayat keluarga DM?1. Bagaimana dengan riwayat trauma kepala 3 bulan yang lalu?1. Apa penyebab ketidaksadarannya selama 5 hari?1. Sebelum mengalami kecelakaan, apakah memang sudah mengalami rabun pada mata?

Pemeriksaan PenunjangJika kita mencurigai penyebab poliuria ini adalah Diabetes Insipidua, maka harus melakukan pemeriksaan untuk menunjang diagnosis dan untuk membedakan apakah jenis Diabetes Insipidus yang dialami, karena penatalaksanaan dari dua jenis diabetes insipidus ini berbeda. Ada beberapa pemeriksaan pada Diabetes Insipidus, antara lain:1. Hickey Hare atau Carter-RobbinsPemberian Cairan infus NaCl hipertonis diberikan intravena dan akan menunjukkan bagaimana respon osmoreseptor dan daya pembuatan ADH. Caranya (Williams) 1. Infuse dengan dextrose dan air sampai terjadi dieresis 5 ml/menit (biasanya 8-10 ml/menit).1. Infuse diganti dengan NaCl 2,5 % dengan jumlah 0,25 ml/menit/kgbb. Dipertahankan selama 45 menit.Pada orang normal akan menurunkan jumlah urin, sedangkan pada diabetes insipidus urin akan menetap atau bertambah. Pemberian pitresin akan menyebabkan turunnya jumlah urin pada pasien DIS dan menetapnya jumlah urin DIN. Pada orang normal , pembebanan larutan garam akan menyebabkan terjadinya diuresis solute yang akan mengeluarkan efek ADH. Interpretasi pengujian coba ini adalah all or none. Sehingga tidak dapat membedakan defect partial atau komplit.

1. Fluid deprivation1. Sebelum pengujian dimulai, pasien diminta untuk mengosongkan kandung kencingnya kemudian ditimbang berat badannya, diperiksa volum dan jenis atau osmolalitas urin oertama. Pada saat ini pasien diambil sampel plasma untuk diukur osmolallitasnya.1. Pasien diminta buang air kecil sesering mungkin paling sedikit setiap jam.1. Pasien ditimbang setiap jam bila dieresis lebih dari 300ml/jam atau setiap 3 ja bila dieresis kurang dari 300ml/jam.1. Setiap sampel urin sebaiknya diperiksa osmolalitasnya dalam keadaan segar atau kalau hal ini tidak mungkin dilakukan semua sampel harus disimpan dalam botol yang tertutup rapat serta disipan dalam lemari es. 1. Pengujian dihentikan setelah 16 jam atau berat badan menurun 3-4% tergantung mana yang terjadi lebih dahulu.

1. Uji nikotin1. Pasien diminta merokok dan menghisap dalam-dalam sebanyak 3 batang dalam waktu 15-20 menit. 1. Teruskan pengukuran volume, berat jenis dan osmolalitas/berat jenis urin menurun dibandingkan dengan sebelum diberi nikotin

1. Uji Vasopressin1. Berikan pitressin dalam minyak 5m, IM. 1. Ukur volume, BJ, dan osmolalitas urin pada diuresis berikutnya atau 1 jam kemudian.Apapun pemeriksaannya, prinsipnya adalah untuk mengetahui volume, berat jenis, atau konsentrasi urin. Sedangkan untuk mengetahui jenisnya, dapat dengan memberikan vasopresin sintetis, pada Diabetes Insipidus Sentral akan terjadi penurunan jumlah urin, dan pada Diabetes Insipidus Nefrogenik tidak terjadi apa-apa.PENATALAKSANAANPengobatan pada Diabetes Insipidus harus disesuai dengan gejala yang ditimbulkannya. Pada pasien DIS parsial dengan mekanisme rasa haus yang utuh tidak di perlukan terapi apa apa selama tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Pada pasien DIS parsial mekanisme haus yang tanpa gejala nokturia dan poliuria yang mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari tidak diperlukan terapi khusus.Pada DIS yang komplit, biasanya diperlukan terapi hormone pengganti (hormonal replacement) DDAVP (1-desamino-8-d-arginine vasopressin) yang merupakan pilihan utama. Obat ini merupakan analog arginine vasopressin manusia sintetik, mempunyai lama kerja yang panjang dan hanya mempunyai sedikit efek samping jrang menimbulkan alergi dan hanya mempunyai sedikit pressor effect. Vasopressin tannate dalam minyak (campuran lysine dan arginine vasopressin)memerlukan suntikan 3-4 hari. Lama kerja nya pendek. Selain tearapi hormon dapat juga dilakukan adjuvant yang secara fisiologis mengatur keseimbangan air dengan cara:1. Mengurangi jumlah air ke tubulus distal dan collecting ductmemacu penglepasan ADH endogen1. Meningkatkan efek ADH endogen yang masih ada pada tubulus ginjal.itu, bisa juga digunakan terapi adjuvant yang mengatur keseimbangan air, seperti:1. KlorpropamidMeningkatkan efek ADH yangmasih ada terhadap tubulus ginjal dan mungkin pula dapat meningkatkan penglepasan ADH dari hipofisis. Dengan demikian obat ini tidak dapat dipakai pada diabetes inipidus sentral komplit atau diabetes insipidus nefrogenik. Efek samping yang harus dipehatikan adalah timbulnya hipoglikemia. Dapat dikombinasi dengan tiazid untuk mencapai efek ,aksimal. Tidak ada sulfonylurea yang lebih efektif dan kurang toksik dibandingkan dengan klorpropamid pengobatan diabetes insipidus.1. KlofibratSeperti klopropamid, klofibrat juga meningkatkan penglepasan ADH endogen. Kekurangan klofibrat dibandingkan dengan klorpropamid adalah harus diberikan 4 kali sehari, tetapi tidak menimbulkan hipoglikemia. Efek gangguan fungsi hati. Dapat di kombinasi dengan tiazid dan klopropamid untuk dapat memperoleh efek maksimal dan mengurangi efek samping pada DIS parsial.1. KarbamazepinAntikonvulsan yang terutama efektif dalam pengobatan tic doulourex, mempunyai efek seperti klofibrat tetapi hanya mempunyai sedikit kegunaan dan tidak di anjurkan untuk di pakai secara rutin

KomplikasiKonsumsi cairan yang tidak memadai dapat menyebabkan komplikasi berikut :0. DehidrasiMulut keringKulit keringMembran mukosa kering

Tampilan cekung mata

cekung fontanalles (soft spot) pada bayi

Denyut jantung cepat

DemamBerat badanHipernatremia

Tekanan darah rendah (hipotensi)Kelemaha otot

0. Ketidakseimbangan elektrolit 1. Kelelahan1. Kelesuan1. Sakit kepala1. Sifat lekas marah1. Nyeri otot

PrognosisDiabetes insipidus nefrogenik primer merupakan penyakit seumur hidup dengan prognosis baik jika dehidrasi hipernatremik dapat dihindari. Konseling genetic harus diberikan pada keluarganya. Prognosis bentuk penyakit sekunder tergantung pada sifat gangguan primer. Sindrom ini dapat sembuh sesudah koreksi lesi obstruktif.