Peluang di Jalur Lambat C - .Jalan Perbanas, Karet Kuningan Setiabudi, Jakarta 12940 Telepon: (021)

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Peluang di Jalur Lambat C - .Jalan Perbanas, Karet Kuningan Setiabudi, Jakarta 12940 Telepon: (021)

Dari Redaksi

PENERBITPerhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas)

PELINDUNGPengurus Pusat Perbanas

PEMIMPIN REDAKSIDanny Hartono, Wakil Sekretaris Jenderal Perbanas

WAKIL PEMIMPIN REDAKSIRita Mirasari, Ketua Bidang Humas Perbanas

REDAKTUR PELAKSANAEri Unanto

SIRKULASIWara Sri IndrianiAdrian Burhan

KONSULTANInfobank Communication

Redaksi menerima tulisan dari pihak luar. Panjang tulisan 3.0006.500 karakter.

TARIF IKLANCoverDepan dalam dan belakang dalam/luar berwarna 1 halaman: Rp5.000.000,00Isi 1 halaman: Rp4.000.000,00 halaman: Rp2.000.000,00

Probank menerima pemasangan iklan dalam bentuk laporan keuangan, display produk, dan suplemen profil perusahaan.

ALAMAT REDAKSI/IKLANGriya Perbanas Lantai 1Jalan Perbanas, Karet KuninganSetiabudi, Jakarta 12940Telepon: (021) 5255731,5223038Faksimile: (021) 5223037, 5223339

website: www.perbanas.orge-mail: sekretariat@perbanas.org

IZIN PENERBITAN KHUSUS MENPEN No. 1882/SK/DITJEN PPG/STT/1993, 2 September 1993ISSN: 0854-4174

Peluang di Jalur Lambat

Catatan tebal yang kerap menghiasi ruang publik di Tanah Air belakangan ini ialah menyangkut perlambatan pertumbuhan ekonomi dan persoalan langkah-langkah pemerintah menempuh keseimbangan neraca perdagangan.

Memang, bukan hal yang mudah membalikkan dua-duanya ke arah dan posisi yang lebih stabil dan mantap dalam waktu yang singkat. Republik ini butuh waktu setidaknya dua hingga tiga tahun atau bahkan lebih untuk mencapai kestabilan yang permanen dan benar-benar memiliki durasi jangka panjang.

Hari-hari belakangan menjelang pengujung 2013, kita semua masih dihadapkan pada masalah-masalah ekonomi, yang sialnya itu merupakan persoalan struktural bangsa ini. Untuk memperbaikinya,

negeri ini butuh kemauan yang keras.Ini semua tentu menjadi pekerjaan rumah seluruh stakeholders negeri ini. Setidaknya,

sebelum kembali ke titik normal, dua tahun ke depan, pemerintah dan pelaku ekonomi di Tanah Air akan diuji dengan sederet tantangan, baik yang bersumber dari lalu lintas global maupun pembenahan masalah struktural di tingkat domestik.

Empat paket kebijakan yang dirilis pemerintah beserta bauran kebijakan bank sentral (di sektor moneter dan perbankan) memang diarahkan untuk mengantisipasi perlambatan maupun tekanan global. Namun, sejauh ini efek konkretnya belum terasa mewabah ke seantero negeri dan membikin suasana tenang.

Pada triwulan ketiga 2013 kita dikejutkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi menjadi 5,62%, lebih rendah daripada triwulan sebelumnya. Catatan itu pula yang kemudian mempertebal asumsi bahwa pada akhir 2013 pertumbuhan ekonomi kita tidak akan melewati 5,8%. Pencapaian itu seolah menjadi preferensi pertumbuhan ekonomi kita pada tahun depan yang kemudian muncul angka perkiraan sebesar 5,6%, yang notabene melambat.

Artinya, pada tahun politik mendatang, meski diperkirakan konsumsi domestik bakal naik tensinya, tak banyak yang bisa kita harapkan secara mendasar. Perubahan yang signifikan dan konstan juga belum tentu bisa kita wujudkan. Bukan bermaksud pesimistis, melainkan ke depan kita harus lebih realistis jika berkaca pada kondisi sekarang. Makanya, tak heran jika kemudian tercetus pemikiran bahwa dua tahun mendatang ekonomi nasional akan memasuki fase stabilisasi sebelum kemudian running well seperti harapan semua pihak.

Di ranah pelaku usaha, termasuk industri perbankan di dalamnya, 2014 dinilai masih belum sepenuhnya memberi rasa aman bagi sepak terjang bisnis yang mereka tempuh. Setidaknya, hingga triwulan ketiga tahun depan, ada pandangan yang beredar, pelaku usaha masih akan melakukan aksi menunggu dan melihat alias wait and see. Sampai dengan masa pemilu tuntas dan kemudian terpilih kepemimpinan nasional, barulah kemudian opsi-opsi bisnis akan diambil dan dieksekusi. Kondisi inilah yang setidaknya bakal mewarnai 2014 mendatang.

Kendati demikian, pelaku industri perbankan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional tidak lantas tinggal diam. Upaya-upaya strategis untuk tetap mempertahankan portofolio dan pencapaian bisnisnya terus dilakukan. Kendati sadar ke depan terjadi perlambatan (dari sisi permintaan kredit, misalnya), perbankan tak kalah gesit.

Salah satu langkah yang kini kembali dan mulai ditingkatkan tensi dan intensitasnya ialah memompa pendapatan nonbunga, yakni melalui layanan wealth management. Ini merupakan upaya taktis yang patut diapresiasi. Satu sisi perbankan berharap masih bisa mengantongi pendapatan (fee based income), di lain sisi perbankan juga turut berperan memperbesar sekaligus menguatkan portofolio investasi di dalam negeri.

Hal itu sejalan dengan hajat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini getol memperdalam pasar keuangan di Tanah Air. Nah, jika itu nyata adanya, upaya tersebut diyakini bisa makin menguatkan likuiditas makro di dalam negeri. Dan, kita tak perlu khawatir lagi bakal terjadi capital outflow karena memang fulus yang ditanam benar-benar berasal dari kantong-kantong domestik, bukan uang panas seperti yang terjadi sekarang. n

No. 109 Tahun XXX September-Oktober 2013 l PROBANK 1

Daftar Isi

DARI REDAKSI .............................................................................1PERBANAS UTAMAMenguatkan Struktur dan Ekonomi Domestik ..........................................................3Meski masih rentan terhadap gejolak ekonomi global, kondisi perekonomian Indonesia tahun depan diprediksi lebih baik ketimbang tahun ini. Diperlukan berbagai perbaikan dan langkah antisipasi. Kredit Melambat, Likuiditas Mengetat ...........................6

UMKM Bakal Digenjot .............................................................8Sektor Tradable Perlu Stimulus Fiskal .........................10Sektor riil perlu diperkuat dengan pemberian stimulus fiskal sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Sektor tradable menjadi prioritas utama.

Dua Langkah Antisipasi Krisis...............................................12Kuatkan Mental dan Berpikir Positif .............................13SEKILAS BERITACEO Forum Perbanas .............................................................11In House Training FATCA .....................................................23Silaturahmi KMPP dengan Kepala Sekolah dan Guru SD Perbanas .........................................................24Perbanas Sumut Bantu Korban Erupsi Gunung Sinabung ......24

PROFILParwati SurjaudajaMewaspadai Kondisi Likuiditas.........................................14LIPUTAN KHUSUSLayanan Terpadu dalam Mobile Payment System.........................................17

Penerapan bank tanpa kantor dan penggunaan teknologi mobile memperluas jangkauan layanan keuangan dan sistem pembayaran. Pemahaman masyarakat masih jadi kendala sehingga perlu edukasi kontinu.

Era Branchless Banking: Makin Efisien ............................................................................18

KINERJABerburu Saham Bank ............................................................20

INTERNASIONALSiap-Siap Hadapi Tapering Off AS ..................................22Tapering off pasti dilakukan The Fed. Dalam waktu dekat mungkin saja tidak dilakukan. Bagaimana dengan tahun depan?

2 PROBANK l No. 109 Tahun XXX September-Oktober 2013

Perbanas Utama

Hingga saat ini, perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian dan cenderung melambat. Kinerja perekonomian negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang, memang masih belum kuat, kendati mulai menunjukkan perbaikan. Sementara itu, perekonomian negara berkembang dibayangi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi, penurunan kinerja transaksi berjalan, dan pelemahan nilai tukar.

Kondisi tersebut berdampak pada kinerja perekonomian Indonesia yang cenderung melambat. Lihat saja, perekonomian domestik pada triwulan ketiga hanya tumbuh sekitar 5,6%, dan pada akhir 2013 diperkirakan berada di kisaran 5,5%-5,9%.

Walau demikian, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 8 Oktober 2013, Bank Indonesia (BI)

Menguatkan Struktur dan Ekonomi DomestikMeski masih rentan terhadap gejolak ekonomi global, kondisi perekonomian Indonesia tahun depan diprediksi lebih baik ketimbang tahun ini. Diperlukan berbagai perbaikan dan langkah antisipasi.

memprediksikan, kinerja perekonomian Indonesia pada 2014 akan membaik, sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang diperkirakan membaik pada tahun mendatang. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh lebih tinggi pada 2014, yakni mencapai 5,8%-6,2%.

Dalam proyeksi tersebut, BI memperkirakan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) membaik pada triwulan ketiga 2013. Defisit transaksi berjalan akan menyempit, terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Sebagai catatan, hingga posisi Juli 2013, defisit transaksi berjalan mencapai 4,4% atau sebesar US$9,8 miliar. Hingga akhir tahun, posisi defisit transaksi berjalan akan diupayakan mencapai 3,4%.

Di lain sisi, surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF)

No. 109 Tahun XXX September-Oktober 2013 l PROBANK 3

Perbanas Utama

akan lebih besar seiring dengan kembali masuknya investor asing pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN) serta berkurangnya net sell (jual bersih) asing atas saham domestik sebagai respons kebijakan BI dan pemerintah serta penundaan tapering off di AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa akhir September 2013 diperkirakan menjadi US$95,7 miliar, meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 yang sebesar US$93,0 miliar. Cadangan devisa tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

S