of 40 /40
1102013009 – FK A PBL SKENARIO 1 BLOK MPT “Mencegah Penyakit Dengan Vaksinasi30 April 2014 (Langkah 1) LI. 1 MEMAHAMI & MENJELASKAN VAKSINASI DAN VAKSINASI BSG LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI VAKSINASI LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI BSG LO.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI BSG LO.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME VAKSINASI BSG LO.7 MEMAHAMI & MENJELASKAN EFEK SAMPING VAKSINASI BSG LI.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN SISTEM IMUN LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI SISTEM IMUN LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN FUNGSI SISTEM IMUN LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME SITEM IMUN LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI SISTEM IMUN LI.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIGEN LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIGEN LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIGEN LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME ANTIGEN L1.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIBODI LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIBODI LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIBODI LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN STRUKTUR ANTIBODI LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI LI.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN ORGAN LIMFOID LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MAKROSKOPIS LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MIKROSKOPIS LI.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN PANDANGAN ISLAM TERHADAP VAKSINASI ADITYA SURYA

Pbl Skenario 1- Mpt 2013

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mpt

Citation preview

1102013009 – FK A

PBL SKENARIO 1 BLOK MPT “Mencegah Penyakit Dengan Vaksinasi”30 April 2014 (Langkah 1)

LI. 1 MEMAHAMI & MENJELASKAN VAKSINASI DAN VAKSINASI BSG LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI VAKSINASI LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI BSGLO.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI BSGLO.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME VAKSINASI BSGLO.7 MEMAHAMI & MENJELASKAN EFEK SAMPING VAKSINASI BSG

LI.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN SISTEM IMUN LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI SISTEM IMUNLO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN FUNGSI SISTEM IMUN LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME SITEM IMUN LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI SISTEM IMUN

LI.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIGEN LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIGEN LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIGENLO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME ANTIGEN

L1.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIBODILO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIBODILO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIBODILO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN STRUKTUR ANTIBODILO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI

LI.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN ORGAN LIMFOID LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MAKROSKOPIS LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MIKROSKOPIS

LI.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN PANDANGAN ISLAM TERHADAP VAKSINASI

ADITYA SURYA PRATAMA

LI. 1 MEMAHAMI & MENJELASKAN VAKSINASI DAN VAKSINASI BSG

LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI

Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit.

Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI VAKSINASI

a. Vaksin hidup (Live attenuated vaccine)

Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih antigenik namun tidak patogenik. Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai infeksi alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal. Sekresi IgA lokal yang ditingkatkan akan mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubuh.

b. Vaksin mati (Killed vaccine / Inactivated vaccine)

Vaksin mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang biak dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian beberapa kali.

c. Rekombinan

Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.

d. Toksoid

Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Pemanasan dan penambahan formalin biasanya digunakan dalam proses pembuatannya. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteriil toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya.

e. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)

Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian. Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.

Jenis-jenis vaksin :

1) Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin)

Merupakan vaksin galur Mikobakterium bovis yang dilemahkan dan digunakan pada manusia terhadap pencegahan tuberculosis.Vaksin ini dapat mencegah penyakit berat pada anak, tetapi tidak mengontrol penyakit.BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin

disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,005 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.

Vaksin ini mengandung bakteri Bacille Calmette-Guerin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000 – 1.000.000 partikel/dosis.

Kontraindikasi : penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita infeksi HIV)

Komplikasi yang mungkin timbul :

a. Abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.

b. Limfadenitis supurativa,terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan akan membaik dalam waktu 2 – 6 bulan

2) Vaksin Campak

Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dari ggalur virus dengan antigen tunggal yang dibiakkan dalam embrio ayam.MMR adalah vaksin yang dimatikan dan diberikan dalam suntikan tunggal, untuk pencegahan penyakit campak, mumps (gondong) dan rubella.

Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.Pada KLB dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulang 6 bulan kemudian.

Kontraindikasi :

a. Infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38°C.

b. Gangguan sistem kekebalan.

c. Pemakaian obat imunosupresan.

d. Alergi terhadap protein telur.

e. Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin.

f. Wanita hamil.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

3) Imunisasi DPT

Vaksin ini melindungi terhadap difteri (infeksi bakteri yang menyerang tenggoorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal), pertusis (batuk rejan, infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernapasan yang melengking) dan tetanus (infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang).

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan, selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.

DPT sering menyebabkan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari.

Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi :

a. Demam tinggi (lebih dari 40,5°C).

b. Kejang.

c. Kejang demam.

d. Syok.

1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.

4) Vaksin DPT.

Jadwal Pemberian:

Diberikan 3 kali (DPT 1,2,3), selang 4 minggu, umur antara 2-11 bulan.

Cara Pemberian dan Dosis:

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.

Disuntikkan secara im dengan dosis pemberian 0,5ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada anak umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan

dengan interval paling cepat 4 minggu. Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan

selama 4 minggu, dengan ketentuan: Vaksin belum kadaluarsa. Vaksin disimpan dalam suhu 2oC s/d 8oC. Tidak pernah terendam air. Sterilitasnya terjaga. VVM masih dalam kondisi terjaga. Di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari

berikutnya.

5) Vaksin Jerap TT

Jadwal Pemberian:

Pada WUS atau ibu hamil, dosis primer diberi 2 kali, ke 3 kali waktu 6 bulan kemudian. Diberikan 5 kali, ke 4 dan ke 5 diberikan interval minimal 1 tahun setelah pemberian ke 3 dan ke 4.

Cara Pemberian dan Dosis:

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok lebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.

Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara im atau sc dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ke 3 setelah 6 bulan berikutnya.Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada WUS, maka

dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke 3 dan ke 4. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.

Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:

1. Vaksin belum kadaluarsa.2. Vaksin disimpan dalam suhu 2oC s/d 8oC.3. Tidak pernah terendam air.4. Sterilitasnya terjaga.5. VVM masih dalam kondisi A dan B.6. Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan

lagi untuk hari berikutnya.

6) Vaksin Polio

Jadwal Pemberian:

Diberikan 4 kali (Polio 1, 2, 3, 4) selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan.

Cara Pemberian dan Dosis:

Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.

Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru. Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan

selama 2 minggu dengan ketentuan:1. Vaksin belum kadaluarsa.2. Vaksin disimpan dalam suhu 2oC s/d 8oC.3. Tidak pernah terendam air.4. Sterilitasnya terjaga.5. VVM masih dalam kondisi A atau B.6. Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan

lagi untuk hari berikutnya

7) Vaksin Hepatitis B

Jadwal pemberian:

Pemberian 3 kali selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan.

Cara Pemberian dan Dosis:

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.

Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara im, sebaiknya pada anterolateral paha.

Pemberian sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval

minimum 4 minggu (1 bulan). Untuk Hepatitis B vial. Di unit pelayanan statis, vaksin Hep B yang telah dibuka

hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:1. Vaksin belum kadaluarsa.

2. Vaksin di simpan dalam suhu 2oC s/d 8oC.3. Tidak pernah terendam air.4. Sterilitasnya terjaga.5. VVM masih dalam kondisi A dan B.6. Sedangkan di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan

lagi untuk hari berikutnya.

8) Vaksin DPT-HB

Vaksin mengandung DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktivasi serta vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious.Jadwal Pemberian:

Dosis pertama umur 2 bulan, diberikan 3 kali, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu.

Cara Pemberian dan Dosis:

Pemberian dengan cara intramuskular, 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4

minggu. Di unit pelayanan statis, vaksin DPT-HB yang telah dibuka hanya boleh

digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:1. Vaksin belum kadaluarsa.2. Vaksin disimpandalam suhu 2oC s/d 8oC.3. Tidak pernah terendam air.4. Sterilitasnya terjaga.5. VVM masih dalam kondisi A dan B.

A. KLASIFIKASI VAKSIN

Jenis vaksin Penyakit Keuntungan Kerugian

Vaksin hidup

Campak, parotitis,

polio(sabin), virus rota,

rubella, yellow fever,

tuberkolosis

Respon imun kuat, sering

seumur hidup dengan

bebrapa dosis

Memerlukan alat

pendingin untuk

menyimpan dan dapat

berubah menjadi bentuk

virulen

Vaksin mati

Kolera, influenza,

hepatitis A, pes, polio,

(salk), rabies

Stabil, aman dibanding

vaksin hidup, tidak

memerlukan alat pendingin.

Respons imun lebih

lemah dibanding vaksin

hidup, biasanya

diperlukan suntikan

booster.

Toksoid Difteri, tetanusRespons imun dipacu untuk

mengenal toksin bakteri

Subunit (eksotoksin

yang diinaktifkan)

Hepatitis B, pertusis, S.

pneumoni

Antigen spesifik

menurunkan kemungkinan

efek samping

Sulit untuk

dikembangkan

KonjugatH. influenza B, S.

Pneumoni

Memacu sistem imun bayi

untuk mengenak sistem

teetentu

DNA Dalam uji klinis

Respons imun humoral dan

selular kuat, relatif tidak

mahal untuk

manufaktur

Belumdiperoleh

Vektor rekombinan Dalam uji klinis

Menyerupai infeksi

alamiah,menghasilkan

respon imun kuat.

Belumdiperoleh

B. VAKSIN VIRUS

Kelas vaksin Virus Catatan

Virus vaksin hidup

Adenovirus

Cacar air

Campak

Parotitis

Polio

Rotavirus

Rubella

Cacar, Yellow fever

Imunisasi aktif menggunakan

galur tidak virulen yang

dilemahka. Efektif memacu

respons antibodi dan limfosit

sitotoksit

Virus vaksin mati

Hepatitis A

Influenza

Polio

Rabies

Imunisasi aktif menggunakan

partikel virus panas atau kimia

yang tidak aktif. Vaksinasi

dapat dikombinasikan dengan

virus lainnya (polivalen)

Vaksin subunit AdenovirusImunisasi aktif menggunakan

protein yang dimurnikan

Vaksin polipeptida Hepatitis B

Imunisasi aktif menggunakan

sintesa urutan protein

polipeptida

Vaksin DNA

(hanya evaluasi)HIV

Penelitian: bermanfaat untuk

memacu respon Tc

Antibodi pasif

Hepatitis A

Hepatitis B

Campak

Parotitis

Rabies

RSV

Rubella

Varisella zoster

Penyuntikan antibodi yang

dimurnikan hasil dari sumber

lainnya. Hanya sementara dan

hanya sedikit bermanfaat

diberikan setelah awitan

penyakit.

LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI

Tujuan imunisasi atau vaksinasi adalah meningkatkan derajat imunitas, memberikan proteksi imun dengan menginduksi respons memori terhadap patogen tertentu / toksin dengan menggunakan preparat antigen non-virulen/non-toksik.

Untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk memebentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit.

Antibodi yang diproduksi oleh imunisasi harus efektif terutama terhadap mikroba ekstraselular dan produknya. Antibodi akan mencegah adherensi atau efek yang merusak sel dengan menetralisasi toksin (dipthteria, clostridium). IgA berperan di permukaan mukosa, mencegah virus/ bakteri menempel pada mukosa (efek polio oral). Mengingat respons imun baru timbul beberapa minggu, imunisasi aktif biasanya diberikan jauh sebelum pajanan dengan patogen.

LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI VAKSINASI BSG

Imunisasi BSG adalah imunisasi untuk mencegah penyakit TB / tuberculosis . Vaksin BSG ini adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobaterium bovis yang dibiak berulang .

(sebanyak 50.000 – 1.000.000 partikel/dosis)

LO.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN TUJUAN VAKSINASI BSG

Imunisasi BSG ini bertujuan hanya mengurangi risiko terrjadinya tuberkulosis berat seperti meningitis TB / penyakit radang selaput otak oleh kuman TB.

Tujuan lainya dari imunisasi BSG / Basil Calmette Guerin ini yaitu untuk mencegah bayi atau anak terserang penyakit TBC yang brat contohnya TB Miller.

LO.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME VAKSINASI BSG

Vaksin BSG diberikan secara intradermal 0.10ml untuk anak, 0.05 untuk bayi baru lahir. BCG sebaiknya diberikan pada deltoid kanan, sehingga bila terjadi limfadenitis lebih mudah terdektesi.

LO.7 MEMAHAMI & MENJELASKAN EFEK SAMPING VAKSINASI BSG

A. Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.

B. Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.

Komplikasi :

Abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.

Limfadenitis supurativa,terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan akan membaik dalam waktu 2 – 6 bulan.

LI.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN SISTEM IMUN

LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI SISTEM IMUN

Merupakan sistem pertahanan internal yang berperan dalam mengenal dan menghancurkan benda-benda di dalam tubuh yang asing bagi “diri normal”.Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba.

LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN FUNGSI SISTEM IMUN

A. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit dengan menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing yang masuk ke dalam tubuh.

B. Menghilangkan jaringan atau sel yang mati / rusak untuk pernaikan jaringanC. Mengenali dan menghilangkan sel yang abormal

Tahap Respon Imun terjadi : Deteksi dan mengenali bend asing Komunikasi dengan sel lain untuk berespons Rekruitmen bantuan dan koordinasi respons Destruksi atau supresi penginvasi

SIFAT UMUM :A. Imunitas aktif, akibat kontak langsung dengan mikroorganisme sehingga tubuh memproduksi

sendiri antibodinya.1. Imunitas aktif didapat secara alami, jika terpapar suatu penyakit dan system imun

memproduksi antibody serta limfosit khusus. Bisa bersifat sementara atau seumur hidup.

2. Imunitas aktif didapat secara buatan, hasil vaksinasi, vaksin dapat merangsang respon imun, tetapi tidak menyebabkan penyakit.

B. Imunitas pasif, terjadi jika antibody dipindah dari satu individu ke individu lainnnya.1. Imunitas pasif alami, terjadi pada janin saat antibody IgG ibu masuk ke plasenta.2. Imunitas pasif buatan, diberikan melalui injeksi antibody yang diproduksi oleh orang

yang kebal karena terpapar suatu antigen.

LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME SITEM IMUN

Mekanisme efektor adalah cara bagaimana respons imun spesifik dan non spesifik menghancurkan dan menyingkirkan patogen dari tubuh. Fase efektor adalah bagian respons imun setelah pengenalan antigen dan fase aktivasi selama antigen asing seperti mikroba diinaktifkan atau dihancurkan. Inflamasi merupakan respons kompleks terhadap cedera lokal atau trauma lain dan melibatkan berbagai komponen sistem imun dan sejumlah mediator.

a. Sistem Imun Nonspesifik

Merupakan komponen normal tubuh. Tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir.

Mekanismenya tidak menunjukan spesifitas terhadap benda asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial.

Pertahan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroba dan dapat memberikan respon langsung

o Pertahanan fisik/mekanik: kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, batuk dan bersin adalah pertahanan terdepan terhadap infeksi.

o Pertahanan biokimia: beberapa mikroba bisa masuk melalui, Kelenjar sebaseus dan folikel rambut, pH asam keringat dan sekresi sebaseus,

berbagai asam lemak yang dilepas kulit mempunya efek denaturasi terhadap protein membrane sel sehingga dapat mencegah infeksi.

Lizosim pada keringat,ludah, air mata dan air susu ibu melindungi tubuh dari kuman Gram (+) dengan menghancurkan lapisan peptidoglikan.

Laktooksidase dan asam neuraminik di air susu ibu mempunyai sifat antibacterial terhadap E.coli dan stafilokokus.

Di saliva mengandung laktooksidase yang merusak dinding sel mikroba dan menimbulkan kebocoran sitoplasma dan mengandung antibody yang komplemen yang berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel mikroba.

Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibody dan empedu dalam usus halus membantu menciptakan lingkungan yang mencegah infeksi mikroba.

pH yang rendah dalam vagina, spermin dalam semen dan jaringan lain dapat mencegah tumbuhnya bakteri positif-Gram.

Pembilasan oleh urin dapat menyingkirkan kuman patogen. Laktoferin dan transferin dalam serum mengikat besi yang merupakan metabolit

esensial untuk hidup beberapa jenis mikroba. Bahan yang disekresi mukosa saluran napas (enzim dan antibodi) dan telinga dalam

pertahanan secara biokimiawi.o Pertahanan humoral: sistem imun nonspesifik menggunakan berbagai molekul larut,

diantaranya adalah peptida antimikroba seperti defensin, katelisidin dan IFN dengan efek antiviral.

Komplemen Rusak pada pemanasan 56oC selama 30 menit. Terdiri atas sejumlah besar protein yang bila diaktifkan dapat memberikan

efek proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon inflamasi. Komplemen dengan spektrum aktivitas yang luas diproduksi oleh hepatosit

dan monosit serta langsung dapat diaktifkan oleh mikroba atau produknya. Komplemen berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis,

sebagai faktor kemotaktik, menimbulkan destruksi/lisis bakteri dan parasit. Antibodi dengan bantuan komplemen dapat menghancurkan membran

lapisan LPS dinding sel yang akhirnya berujung pada kematian mikroba. Protein fase akut (PFA)

Selama fase akut infeksi, terjadi perubahan pada kadar protein dalam serum yang disebut APP.

Protein yang meningkat atau menurun selama fase akut disebut juga APRP yang berperan dalam pertahanan dini. Diinduksi oleh sinyal yang berasal dari tempat cedera atau infeksi melalui darah. Hati merupakan tempat sintesis APRP.

C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu PFA, termasuk golongan protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai respon imunitas nonspesifik. Sebagai opsonin, CRP mengikat berbagai mikroorganisme. Pengukuran CPR digunakan untuk, menilai aktivitas penyakit inflamasi dan jika tetap tinggi maka menunjukkan infeksi yang persisten. CRP dapat meningkat dengan bantuan Ca++.

Lektin/kolektin merupakan molekul larut dalam plasma yang dapat mengikat manan/manosa dalam polisakarida (karenanya disebut MBL) yang merupakan permukaan banyak bakteri seperti galur pneumokokus dan banyak mikroba, tetapi tidak pada sel vertebrata. Lektin berperan sebagai opsonin yang mengaktifkan komplemen.

Protein fase akut lainnya adalah α1-antitripsin, amilod serum A, haptoglobin, C9, factor B dan fibrinogen yang juga berperan pada peningkatan laju endap darah akibat infeksi, namun dibentuk jauh lebih lambat dari CRP.

Mekanisme fosfolipid diperlukan untuk produksi PG dan LTR yang berguna untuk meningkatkan respons inflamasi melalui peningkatan permeabilitas vaskular dan vasodilatasi.

Sitokin IL-1, IL-6, TNF-α disebut sitokin proinflamasi, merangsang hati untuk mensintesis dan melepas sejumlah protein plasma.

o Pertahanan selular: fagosit, sel NK, sel mast dan eosinofil berperan dalam sistem imun nonspesifik selular. Sel-sel tersebut dapat ditemukan di jaringan atau di dalam sirkulasi dan dapat mengenal produk mikroba esensial yang diperlukan untuk hidupnya.

b. Sisten Imun Spesifik

Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Pajanan tersebut menimbulkan sensitasi, sehingga antigen yang sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan.

Sistem imun spesifik humoral: yang berperan adalah limfosit B atau sel B yang berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Sel B yang dirangsang oleh benda asing akan berpoliferasi, berdefisiensi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas ditemukan didalam serum, berfungsi untuk pertahanan terhadap infeksi ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralkan toksinnya.

Sistem imun spesifik selular: yang berperan adalah limfosit T atau sel T yang dibentuk dalam sumsum tulang, tetapi poliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus. Faktor timus disebut timosin yang dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai hormon asli dan dapat mempengaruhi diferensiasi sel T diperifer. Fungsi utama sistem imun spesifik selular adalah pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraselular,virus, jamur, parasit dan keganasan. (Karnen, Iris, 2012)

LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI SISTEM IMUN

a. Imunitas alamiah

Diperoleh tanpa didahului oleh kontak dengan antigen, bersifat nonspesifik.

b. Imunitas adaptif

Didapat setelah terjadi paparan terhadap antigen, bersifat spesifik.

Imunitas pasif : diperankan oleh antibody atau limfosit yang telah dibentuk sebelumnya didalam tubuh pejamu yang lain, diberikan dalam antiserum.

Imunitas aktif : diinduksi setelah kontak (klonik atau subklinis) dengan antigen.

A. SIstem imun non spesifikDisebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir.

1. Pertahanan Fisik/Mekanik kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin : garis pertama terdepan terhadap infeksi.

2. Pertahanan Biokimia a. As.lemak pada kel.sebaseus di kulit : mempunyai efek denaturasi terhadap protein

membranb. Lisozim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu : hancurkan lapisan

peptidoglikan dinding bakteri positif gramc. ASI-->laktooksidase dan as.neuraminik : antibakterial terhadap e.coli dan

stapilococusd. Saliva-->laktooksidase : merusak dinding dan menimbulkan kebocoran sitoplasma ,

dan berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel mikrobae. HCL , enzim proteolitik, antibodi, empedu dalam usus halus, menciptakan

lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikrobaf. Mukus yang kental melindingi sel epitel mukosa dapat menangkap bakteri dan bahan

lainnya --> dikeluarkan oleh silia3. Pertahanan Humoral

Molekul larut yang diproduksi ditempat infeksi atau cedera dan berfungsi lokala. Komplemen

Berbagai bahan dalam sirkulasi seperti lektin, interferon, CRP.Berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, sebagai faktor kemotaktik dan juga menimbulkan lisis bakteri dan parasit

b. Protein Fase AkutAPP : kadar beberapa protein dan serumAPRP : bila protein naik atau turun selama fase akutBerperan sebagai antimirobial dalam serum yang meningkat dengan cepat setelah sistem imun nonspesifik diaktifkan.Contoh ; CRP , Lektin

c. Protein fase akut lainmengurangi cedera jaringan dan meningkatkan resolusi, dan perbaikan cedera inflamasi. Contoh; haptoglobin, amiloid serum A.

d. Mediator asal fosfolipid

Untuk produksi PG dan LTR --> meningkatkan permeabilitas vaskular dan vasodilatasi.

e. Sitokin IL-1 , IL-6 , IL-aSebagai proinflamasi : merangsang hati untuk mengeluarkan protein fase akut.

4. Pertahanan Selulera. Fagosit mononuklear

Terdiri atas monosit dalam sirkuasi dan makrofag dalam jaringan. Pada dasarnya, monosit dan makrofag sama-sama mempunyai fungsi yg sama, yaituuntuk fagositosis mikroba patogen, melepas mediator inflamasi dan sitokin, sertamempresentasikan antigen dari patogen yg dicerna kepada sel limfosit T. Penghancurankuman(fagosit) dilakukan dengan membentuk fagolisoson, yaitu fusi antar fagosom ygdidalamnya terdapat patogen dan lisosom, yg akan mendestruksi patogen, baik dengan mengunakan enzim pencernaan dari lisosom maupun menggunakan spesies oksigen reaktif.Hal ini juga mengawali pengelepasan mediator inflamasi maupun sitokin yg akanmenginduksi baik sel-sel imun spesifik maupun nonspesifik lainnya.

b. Fagosit Polimorfonuklear atau GranulocyteMerupakan 60-70% dari seluruh jumlah darah putih normal dan dapat keluar dari pembuluh darah(kemotaksis/responinflamasi). Granulosit dibagi menurut pewarnaan histologiknya menjadi neutrofil, eosinofildan basofil.Sel-sel ini mempunyai granul-granul yg mengandung enzim pencernaan.

c. NeutrofilMerupakan sel pertama yg dikerahkan ketempat bakteri masuk. Fungsi utamaneutrofil adalah fagositosis, baik dengan jalur oksigen dependen dan independen. Neutrofil jgdapat mengenal patogen scr langsung.

d. EosinofilMerupakan 2-5% dari sel darah putih orangsehat. Eosinofil jg berfungsi sebagai fagosit, dengan cara melepaskan isi granul nya yg bersifat toksik ke sel sasaran. Sel ini berperan penting pada infeksi parasit.

e. BasofilBerjumlah sangat sedikit,sekitar <0,5% dari seluruh sel darah putih. Basofil dapat berfungsi sebagai fagosit dengan memiliki enzim pencernaan(protease) tapi fungsi utamanyadengan melepas mediator inflamasi, seperti histamin,leukotrien,heparin, dll.

f. Sel mastSel mast adalah sel yg dalam struktur, fungsi dan proliferasinya serupa dengansel basofil, bedanya adalah sel mast hanya ditemukan dalam jaringan yg berhubungan dengan pembuluh darah. Sel mast diaktifkan dengan pengaruh PAF, C3a,C5a dan mediator lainnya.Bila sudah teraktivasi, maka sel mast akan degranulasi mengeluarkan berbagai sitokin yg berperan dalam proses inflamasi.

g. Sel Natural Killer (NK)Termasuk sel limfosit karena berkembang dari sel asal progenitor yg sama dengan sel B dan T. Sel NK dapatmengenali dan membunuh berbagai selyg sudah terinfeksi

tanpa bantuan tambahan untuk aktivasinya. Sel NK mengandung perforinyg dapat melubangi membran sel sasaran dan granzim untuk sitotoksik, sama seperti Th. Selini memproduksi IFN-γ dan TNF-α yg merupakan sitokin proinflamasi serta berperan dalam pengaktifan makrofag dan regulator sel Th

h. Sel Dendritik(SD)Merupakan antigen presenting cell(APC) paling efektif karenaletaknya yg strategis di tempat-tempat mikroba masuk tubuh. SD mengenali antigen,mengawali respon imunitas seluler dan humoral yg mengaktifkan sel T dan sel B. APCmempresentasikan peptida antigen ke sel T CD4 melalui MHC-II atau ke sel T CD* melaluiMHC-I, sehingga dapat mengaktifkan kedua sel tersebut.

B. Sistem imun spesifikTimbulnya sensitifitas setelah terkena pajanan pertama kali.

1. Sistem imun spesifik humoralSel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba ekstraselular

2. Sistem imun spesifik selularSel T mengaktifkan makrofag sebagai efektor untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel CTC/Tc sebagai efektor yang menghancurkan sel terinfeksi.

LI.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIGEN

LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIGEN

Antigen adalah molekul asing besar yang unik yang memicu respons imun spesifik terhadap dirinya jika masuk ke dalam tubuh Antigen merupakan bahan yang dapat merangsang sel B atau sel T atau keduanya.Antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respons imun yang dirangsang oleh imunogen spesifik seperti antibodi atau TCR.

Antigen lengkap adalah antigen yang menginduksi baik respons imun maupun bereaksi dengan produknya.Yang disebut antigen inkomplit atau hapten, tidak dapat dengan sendiri menginduksi respons imun, tetapi dapat bereaksi dengan produknya seperti antibodi.Hapten dapat dijadikan imunogen melalui ikatan dengan molekul besar yang disebut molekul atau protein pembawa.

Imunogenitas merupakan kemampuan menginduksi respon imun humoral (sel B

memproduksi Ig) dan selular (aktivasi sel T melepaskan sitokin), sedangkan antigenitas merupakan

bahan yang dapat menginduksi respon imun spesifik. Semua molekul yang bersifat imunogenitas

juga memiliki sifat antigenitas, namun tidak sebaliknya. Antigen merupakan bahan asing yang

dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen

ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang

tidak bereaksi terhadap selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat

yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antigen biasanya protein

atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil (hapten)

dipasangkan ke protein-pembawa.

Antigen dibedakan menjadi imunogen dan hapten. Untuk memicu respon antibody, bahan

kecil (hapten) tersebut perlu diikat oleh molekul besar (molekul pembawa). Hapten membentuk

epitope pada molekul pembawa yg dikenal system imun dan merangsang pembentukan antibody.

Respon sel B terhadap hapten memerlukan protein pembawa untuk dapat dipresentasikan ke sel Th.

Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat membuat kontak

fisik dengan reseptor antibody, menginduksi pembentukan antibody yg dapat diikat dgn spesifik.

Paratop adalah bagian dari antibody yang mengikat epitop.

LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIGEN

a. Pembagian antigen menurut epitop1. Unideterminan, univalent = hanya satu jenis determinan/epitop pada satu

molekul2. Unideterminan, multivalent = hanya satu jenis determinan tetapi dua atau

lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul3. Multideterminan, univalent = banyak epitop yang bermacam-macam tetapi

hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein)4. Multideterminan, multivalent = banyak macam determinan dan banyak dari

setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi)

b. Pembagian antigen menurut spesifiksitas1. Heteroantigen = dimiliki oleh banyak spesies2. Xenoantigen = dimiliki spesies tertentu3. Aloantigen (isoantigen) = spesifik untuk individu dalam satu spesies4. Antigen organ spesifik = dimiliki organ tertentu5. Autoantigen = dimiliki alat tubuh sendiri

c. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T1. T dependent = memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk

dapat menimbulkan respons antibody. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini

2. T independent = dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibody. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar poliremik yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficcol, dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri

d. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi1. Hidrat arang (polisakarida) = pada umumnya imunogenik, glikoprotein yang

merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibody. Contoh lain adalah respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen dan

spesifitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah

2. Lipid = biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa. Lipid dianggap hapten, contohnya adalah sfingolipid

3. Asam nukleat = tidak imunogenik, tetapi bisa menjadi imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi pada penderita LES

4. Protein = biasanya imunogenik dan umumnya multideterminan dan univalent

LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME ANTIGEN

Didalam tubuh manusia antibodi dihasilkan oleh organ limfoid sentral yang terdiri atas sumsum tulang dan kelenjar timus, terutama oleh sel sel limfosit

L1.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANTIBODI

LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN DEFINISI ANTIBODI

Antibodi adalah molekul immunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik yang menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama; digolongkan menurut cara kerja seperti agglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi disintesis oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor permukaan sel. Antibodi biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab.

LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN KLASIFIKASI ANTIBODI

Keterangan gambar :

unit dasar antibody yang terdiri dari 2 rantai berat dan 2 rantai ringan yang identic diikat jadi satu

oleh ikatan disulfide. 2 jenis rantai ringan (kappa dan lambda) terdiri dari 230 asam amino.

5 jenis rantai berat, yg tergantung pada kelima jenis immunoglobulin : IgM, IgG, IgE, IgA, IgD yg

terdiri dari 450-600 asam amino. (sehingga panjang rantai berat adalah dua kali rantai ringan).

1. Immunoglobin G (IgG)Adalah immunoglobin utama pada serum manusia yang meliputi sekitar 70–80%

dari seluruh immunoglobin. Setiap molekul IgG terdiri dari 2 rantai, yaitu rantai L dan 2 rantai H yang dihubungkan oleh ikatan sulfida (formula molekul H2L2). Karena mempunyai 2 tempat pengikatan yang identik, immunoglobulin bersifat divalen. Berdasarkan pada perbedaan anigenik rantai H dan pada jumlah dan lokasi ikatan disulfida, ada 4 sub kelas IgG, yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. Sebagian besar IgG adalah IgG1 (65%). Antibodi IgG2 ditunjukkan pada antigen polisakarida yang merupakan bagian sistem pertahanan penting terhadap bakteri berkapsul. IgG merupakan antibodi terpenting pada respons imun sekunder dan juga merupakan antibodi penting untuk pertahanan terhadap bakteri dan virus. IgG adalah satu-satunya antibodi yang dapat melewati plasenta IgG yang tersebar merata di intravaskular dan ekstravaskular merupakan satu-satunya kelas antibodi yang bersifat antitoksin. IgG dapat mengopsonosasi karena mempunyai reseptor rantai gama H pada permukaan fagosit, sedangkan IgM tidak dapat secara langsung mengopsonisasi karena tidak mempunyai reseptor rantai mikro H pada permukaan fagosit.

2. Immunoglobin A (IgA)Merupakan immunoglobin utama pada sekret, seperti kolostrum, saliva, air mata, dan

sekret saluran perrnapasan, gastrointestinal, dan genitalia. IgA melindungi membran mukosa dari bakteri dan virus. Setiap molekul IgA sekretonik (berat molekul 400.000) terdiri dari 2 unit H2L2, satu molekul rantai J (joining, penghubung), dan komponen sekretonik. Komponen sekretonik adalah suatu polipeptida yang disintesis oleh sel-sel epitel yang dilewati perjalanan IgA ke permukaan mukosa. Komponen sekretonik ini juga memproteksi IgA dari degradasi di saluran intestinal. Dalam serum, IgA berada dalam bentuk monomer H2L2 (BM 170.000)

3. Immunoglobin M (IgM)Adalah immunoglobin utama yang diproduksi pada awal respons primer. IgM dapat

ditemukan sebagai monomer pada permukaan hampir semua sel B dan tempatnya berfungsi sebagai reseptor pengikatan antigen. Pada serum, IgM merupakan pentamer yang terdiri dari 5 unit H2L2 ditambah satu molekul rantai J (joining, penghubung). Pentamer ini mempunyai 10 tempat pengikatan antigen dan 5-10 valensi. IgM merupakan immunoglobin paling penting untuk aglutinasi, fiksasi komplemen, dan reaksi antibodi lain. IgM merupakan antibodi penting untuk pertahanan terhadap virus dan bakteri. IgM dapat diproduksi oleh janin pada beberapa infeksi tertentu..

4. Immunoglobin D (IgD)Sejauh ini belum diketahui fungsi antibodi immunoglobulin ini. Yang diketahui

hanyalah fungsinya sebagai reseptor antigen karena dapat ditemukan pada permukaan beberapa limfosi B. Jumlahnya dalam serum sangat terbatas.

5. Immunoglobulin E (IgE)Regio Fc IgE berikatan dengan permukaan sel mast dan basofil. IgE yang terikat

berfungsi sebagai reseptor antigen (alergen) dan kompleks antigen-antibodinya memicu terjadinya respons alergi melalui pelepasan mediator. Jumlah IgE pada serum normal sangat sedikit (sekitar 0,004%), tetapi penderita reaksi alergi dapat mempunyai IgE dalam jumlah yang sangat meningkat. IgE juga dapat dijumpai pada sekresi eksterna. Konsentrasi IgE serum juga meningkat pada infeksi cacing. IgE tidak dapat memfiksasi komplemen maupun melewati plasenta.

Kelas dan sifat immunoglobulinIgG1-4 IgA IgM IgD IgE

Sifat utama Paling banyak ditemukan dalam cairan tubuh terutama ekstravaskular untuk memerangi mikroorganisme dan toksinnya

Ig utama dalam sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan luar tubuh

Aglutinator yang sangat efektif; diproduksi dini pada respons imun.Pertahanan terdepan terhadap bacteremia

Umumnya ditemukan di permukaan limfosit

Pengerahan agens anti microbial. Meningkat pada infeksi parasit. Berperan pada gejala alergi atopi.

Fungsi OpsonisasiADCCImunisasi neonatal

Ditemukan dalam sekresi (asam lambung) Proteksi terhadap mukosa disekresi dalam air susu

Mengikat komplemenOpsonin baik

Menimbulkan alergi, syok anafilaksis. Pertahanan terhadap parasit.

Ikatan sel MononuklearLimfositNeutrofilTrombosit

LimfositNeutrofil

LimfositReseptor sel B

Reseptor sel B

Sel mastBasofilLimfosit

Fiksasi komplemen Klasik ++ - +++ - - Alternatif - + - - -Lewat plasenta

++ - - - -

Sensitisasi sel mast dan basophil

- - - - +++

Ikatan dengan makrofag dan polimorfisme

+++ + - - +

LO.3 MEMAHAMI & MENJELASKAN STRUKTUR ANTIBODI

Enzim papain memecah molekul antibodi (dengan berat molekul 150.000 dalton) dalam fragmen masing-masing dari 45.000 dalton. Dua fragmen tetap memiliki sifat antibodi yang dapat mengikat antigen secara spesifik, bereaksi dengan determinan antigen serta hapten disebut Fab (fragmen antigen binding) dan dianggap univalent. Fragmen ke 3 dapat dikristalkan dari larutan dan disebut Fc dan tidak dapat mengikat antigen. Fc menunjukkan fungsi biologis sesudah antigen diikat oleh Fab.

Semua molekul immunoglobulin mempunyai 4 rantai polipeptida dasar yang terdiri atas 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang identik.

Ada 2 jenis rantai ringan (kappa dan lambda) yang terdiri atas 230 asam amino serta 5 jenis rantai berat yang tergantung pada kelima jenis immunoglobulin, yaitu IgM, IgG, IgE, IgA dan IgD.

Rantai berat terdiri atas 450-600 asam amino, sehingga berat dan panjang rantai berat tersebut adalah dua kali rantai ringan.

Molekul immunoglobulin mempunyai rumus bangun yang heterogen, meskipun hanya terdiri dari 4 unit polipeptida dasar.

LO.4 MEMAHAMI & MENJELASKAN MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI

Antibodi diproduksi melalui proses yang disebut seleksi klonal (clonal selection). Setiap

individu mempunyai jumlah besar limfosit B (sekitar 107). Setiap sel B mempunyai reseptor

permukaan (IgM dan IgD) yang dapat bereaksi terhadap satu antigen (atau kelompok

antigen yang serupa).

Suatu antigen akan bereaksi dengan limfosit B yang mempunyai reseptor permukaan yang

paling sesuai. Setelah berikatan dengan antigen, sel B akan terstimulasi untuk berpoliferasi

dan membentuk klon sel. Sel-sel B yang terpilih ini akan segera berubah menjadi sel plasma

dan mensekresi antibodi yang spesifik terhadap antigen. Sel plasma mensintesis

immunoglobin dengan spesifitas antigenik yang sama dengan yang dibawa oleh sel B yang

di seleksi. Spesifisitas antigenik tidak akan berubah meskipun terjadi perubahan kelas rantai

berat antibodi.

LI.5 MEMAHAMI & MENJELASKAN ORGAN LIMFOID

LO.1 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MAKROSKOPIS Sistem limfatikus adalah sistem sirkulasi sekunder pada tubuh yang berfungsi mengalirkan

cairan limfa atau disebut juga sebagai getah bening yang ada di dalam tubuh. Cairan limfe berasal dari plasma darah yang keluar dari pembuluh darah kapiler arteriole sistem kardivaskular ke dalam jaringan sekitarnya.

Jaringan limfoid terdiri dari 4 buah, yaitu dan ini termasuk dari organ limfois sekundr atau perifer:

1. Limfonodus Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfosit dan anti bodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik sekurang-kurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran darah melalui duktus torasikus, sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapat permukaan cembung dan bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat masuknya pembuluh darah dan saluran limfe eferen yang membawa aliran limfe keluar dari limfonodus. Saluran afferen memasuki limfonodus pada daerah sepanjang permukaan cembung.

a. Bentuk LimfonodusOval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan pinggiran cekung (hillus)

b. Ukuran Limfonodus

Sebesar kepala peniti atau buah kenari, dapat diraba pada daerah leher, axilla, dan inguinal dalam keadaan infeksi.

Daerah tubuh yang terdapat limfonodus

1. Dilihat dari letaknya pada tubuha. Limfonodus superfisial b. Limfonodus servikal (leher)c. Limfonodus axilla (ketiak)d. Limfonodus inguinal (lipat paha)

2. Limfonodus profundusa. Limfonodus iliaka (berkenaan dengan ilium)b. Limfonodus lumbal (sepanjang vertebra lumbalis)c. Limfonodus torasikus (pada pangkal paru)d. Limfonodus mesenterikus (melekat pada mesenterium usus haluse. Limfonodus portal (pada fissura portal hepar/ celah porta hati)

3. Menurut Snell’s letak limfonodus terbagi atas a. Kepala dan leher bagian lateral dan belakang yaitu di sepanjang m.sternocleidomastoideus,

lingual, pharynx, cavum nasi, palatum, muka, mandibular/dasar mulut.b. Extremitas superior yaitu manus, antebrachii, brachii, dan region axillaris.c. Kelenjar mammae yaitu dibawah musculo pectoralis meliputi kulit dan otot.d. Thorax yaitu meliputi dinding thorax, jantung, pericardium dan paru, pleura, esophagus

menuju aliran limfe thorax dan kelenjar mamae masuk ke dalam node limfaticus abterior dan posterior.

e. Abdomen dan pelvis yaitu meliputi daerah peritoneum dan disekitar aorta, vena cava inferior serta pembuluh darah intestinum. Aliram limfe superficialis bagian depan dan lateral dan belakang diatas pusat masuk menuju nn II axillaris anterior dan posterior dan dibawah pusat ke nn llmfatisi inguinalis superficialis.

f. Extremitas inferior yaitu disepanjang a,v tibialis, region popliteal, region inguinale. Aliran limfe masuk limfonodus inguinale.

2. Lien

Merupakan organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh, vaskular berwarna kemerahan karena banyak mengandung darah dan berbentuk oval. Pembesaran limpa disebut dengan splenomegali. Pembesaran ini terdapat pada keaadan leukimia, cirrosis hepatis, dan anemia berat.

a. Letak TimusRegio hipochondrium sinistra intra peritoneal. Pada proyeksi costae 9, 10, dan 11. Setinggi vertebrae thoracalis 11-12. Batas anterior yaitu gaster, ren sinistra, dan flexura colli sinistra. Batas posterior yaitu diafragma, dan costae 9-12.

b. Ukuran Timus Sebesar kepalan tangan masing-masing individu.

c. Fiksasi 1. Fiksasi lien ke renal melalui ligamentum renolienalis.2. Fiksasi lien ke gaster melalui ligamentum gastrolienalis.3. Fiksasi lien ke colon melalui ligamentum colic

d. Aliran darah Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri lienalis dan keluar melalui vena lienalis ke vena porta menuju hati.

Lien dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang disebut kapsula lienalis dan lien memiliki serat otot polos yang membantu pengaturan volume darah didalam lien, juga serat kolagen dan elastis.

3. Thymus

Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas, timus akan mengalami involusi dan mengecil seiring umur kadang sampai tidak ditemukan. akan tetapi masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru dan darah. Mempunyai 2 buah lobus, mempunyai bagian cortex dan medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan. Thymus mempunyai 2 batasan, yaitu :

a. Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IVb. Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)

a. Letak TimusTerdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum. Dasar timus bersandar

pada perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta, dan trakea. Batas anterior yaitu manubrium sterni, dan rawan costae IV. Batas Atas yaitu regio colli inferior (trachea).b. Perdarahan Timus

Berasal dari arteri thymica cabang dari arteri thyroidea inferior dan mammaria interna. Kembali melalui vena thyroidea inferior dan vena mammaria interna.

4. Tonsil

Tonsil terletak dalam satu lekukkan yang dikenal sengan Fossa Tonsilaris yamh dibatasi 2 otot yang melengkung berbentuk arcus Palatoglosus dan arcus Palatopharyngeus. Dasar fossa tonsilaris dinamakan dengan istilah Tonsila bed dan tonsil termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila yaitu Tonsila Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila Pharyngealis. Ketiga tonsil tersebut membentuk cincin pada saluran limf yang dikenal dengan “Ring of Waldeyer” hal ini yang menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut meradang. Organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila, yaitu :

a. Tonsila palatine1. Terletak pada dinding lateralis, orofaring dekstra dan sinistra2. Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsilaris, dasar dari

lekukan itu adal tonsil bed3. Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris4. Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula5. Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus (N V2)6. Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris externa (facialis)

dan arteria tonsilaris vabang a.pharyngica ascendens lingualisb. Tonsila inguialis

1. Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya papilla sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel).

2. Pendarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang arteria lingualis), arteria carotis eksterna

c. Tonsila pharyngealis1. Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang2. Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak nafas karena dapat

menyumbat pintu nares posterior (choanae), terletak di daerah nasopharynx, tepatnya diatas torus tobarius dan OPTA

Perdarahan tonsil yaitu aliran darah berasal dari arteri tonsillaris yang merupakan cabang dari arteri maxillaris externa (fascialis) dan arteri pharyngica ascendens lingualis.

LO.2 MEMAHAMI & MENJELASKAN ANATOMI LIMFOID SECARA MIKROSKOPIS

1. LIMFONODUS

A. Korteks

b. Korteks luar : - susunan limfosit membentuk nodulus limfatikus.

- Terlihat terang, ada limfosit besar dan mikrofag : germinal center.

Germinal center adalah terjadi diferensiasi limfosit B menjadi sel

plasma.

c. Korteks dalam : - limfosit difus, dan didominasi oleh limfosit T.

B. Medula

Terdapat korda medularis yang menjadi dinding dari sinus-sinus medularis.

2. LIENLien berwarna merah tua karena banyak mengandung darah.

Tampak bintik2 putih dlm parenkim nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba) Pulpa alba tdp dlm jaringan merah tua yg penuh dg darah pulpa merah/pulpa rubra.

Pulpa rubra tda bangunan memanjang yaitu Korda limpa (korda billroth) yg tdpt diantara sinusoid

3. THYMUSa. Cortex : zona merah yang gelap dan terdapat banyak limfosit T.b. Medula : zona pusat yang terang, dan terdapat badan hassal.

4. TONSILa. Tonsil lingualis

Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

Terdapat di 1/3 bagian posterior lidah.

Limfonodulus umumnya mempunyai germinal center yang umumnya terisi

limfosit dan sel plasma.

Lebih kecil dan banyak dan masing mempunyai kriptus.

b. Tonsil palatina

Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

Terletak di dinding lateral faring.

Bagian melipat jauh masuk kedalam disebut “kriptus”

Terdapat germinal center

c. Tonsila faringea atau adenoid

Epitel bertingkat torak bersilia dengan sel goblet.

Terletak dipermukaan medial dari dinding dorsal nasofaring.

Aliran Sistem Limfatik

Drainase cairan limfe dari regio leher dan kepala

Dari pipi ke bagian belakang telinga, turun kebawah dari sisi lateralis ke medial sepanjang otot leher strenomastideus ke duktus limfatikus dekstra dan sinistra.Regio bahu dan punggung masuk ke nodus limfatikus aksilaris posterior.

Drainase cairan limfe pada daerah perut

Lokasi regio di atas pusat, masuk ke nodus limfatikus aksilaris anterior.Lokasi regio di bawah pusat, masuk ke nodus limfatikus inguinalis dekstra dan sinistra.

Drainase cairan limfe pada sistem pencernaan

Semua aliran limfe sistem pencernaan, gaster, usus, hepar dan lien, semuanya masuk ke dalam nodi limfatici coeliaca.Seterusnya masuk ke dalam Cysterna chile yang terletak dibawah diafragma, lalu naik ke atas dan masuk ke dalam duktus thoracicus pada rongga toraks.

Drainase cairan limfe regio panggul dan pinggang masuk ke nodus limfatikus subinguinalis

LI.6 MEMAHAMI & MENJELASKAN PANDANGAN ISLAM TERHADAP VAKSINASI

1. Haram

Para ulama, pemikir, mujtahid ada yang menghukumi haram terhadap tindakan vaksinasi-imunisasi. Argumen yang diajukan antara lain memasukkan barang najis dan racun ke dalam tubuh manusia. Manusia itu merupakan khaifatullah fi al-ard (makhluk yang paling mulia) dan memiliki kemampuan alami melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.Berbeda dengan orang kafir yang berpendirian manusia sebagai makluk lemah sehingga perlu vaksinasi untuk meningkatkan imunitas pada manusia.

2. Halal

Kelompok kedua mengatakan bahwa vaksinasi-imunisasi adalah halal. Pada prinsipnya vaksinasi-imunisasi adalah boleh alias halal karena; (1) vaksinasi-imunisasi sangat dibutuhkan sebagaimana penelitian-penelitian di bidang ilmu kedokteran, (2) belum ditemukan bahan lainnya yang mubah, (3) termasuk dalam keadaan darurat,(4) sesuai dengan prinsip kemudahan syariat di saat ada kesempitan atau kesulitan. Ayat tersebut menjelaskan prinsip kemudahan dalam pelaksanaan syariat Islam:

Artinya:Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS al-Baqarah/2 : 172).

Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :

1. Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pinti fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur dengan memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.

2. Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.

Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir”(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).

Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.

Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : “… Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya….” (QS. Al- An’am [6]:119)

Kami memandang bolehnya imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.5.Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Dorland edisi 31

Ereschenko, Victor P. 2012. Atlas Histologi diFiore.Jakarta : EGC

Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : FKUI

Karnen, Baratawidjaja & Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar. Jakarta : Badan Penerbit FKUI

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem ed. 6.Jakarta : EGC