21
Filariasis Bancrofti 1. Judo Darfin 102013012 2. Oktaviana Linda Fermina 102013133 3. Hendra Susanto 102013188 4. Nur tasya ruri 102013259 5. Bryan Jeremiah Fiady Simanjuntak 102013375 6. Veneranda Venny Grishela 102013383 1

pbl B5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah

Citation preview

Page 1: pbl B5

Filariasis Bancrofti

1. Judo Darfin 102013012

2. Oktaviana Linda Fermina 102013133

3. Hendra Susanto 102013188

4. Nur tasya ruri 102013259

5. Bryan Jeremiah Fiady Simanjuntak 102013375

6. Veneranda Venny Grishela 102013383

7. Nur Fadhilah Husna Binti Shaharudin 102013510

8. Valencia Suwardi 102012404

9. Debbie Cinthia Dewi 102009021

Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Telephone: (021) 5694-2061 (hunting)

Fax: (021) 563-1731

1

Page 2: pbl B5

Abstrak

Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti yang

ditularkan oleh nyamuk yang mengandung stadium Larva 3 (sudah ada mikrofilaria). Dimana

penyakit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis. Daur hidup dari parasit ini

memerlukan waktu yang sangat panjang di mulai dari stadium Larva 1-5. Gejala klinis

filariasis mempunyai beberapa stadium yaitu stadium tanpa gejala klinis, stadium akut, dan

stadium menahun. Untuk memperkuat diagnosis diperlukan beberapa pemeriksaan, yaitu

diagnosis parasitologi, radiodiagnosis, dan diagnosis imunologi. Pencegahan fialriasis

dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan pengobatan menggunakan DEC yang

dikombinasikan dengan Albendazol dan Ivermektin.

Kata kunci : Filariasis bancrofti, Wuchereria bancrofti, limfadenitis, DEC

Abstract

Filariasis is a disease caused by Wuchereria bancrofti transmitted by mosquitoes that contain

3-stage larvae (microfilariae already). Where the disease is widespread in tropical areas. The life

cycle of this parasite requires a very long time at the start of stage larvae 1-5. Clinical symptoms of

filariasis has some stage in their disease without clinical symptoms, the acute stage, and the chronic

stage. To confirm the diagnosis takes some investigation, namely diagnostic parasitology,

Radiodiagnosis, and immunological diagnosis. Prevention fialriasis done by avoiding mosquito bites

and treatment using DEC combined with Albendazol and Ivermectin.

Keywords: bancrofti filariasis, Wuchereria bancrofti, lymphadenitis, DEC

Pendahuluan

Penyakit filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi satu atau dua cacing

jenis filaria yaitu Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filaria ini termasuk famili

Filaridae, yang bentuknya langsing dan ditemukan di dalam sistem peredaran darah, limfe,

otot, jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrata. Cacing bentuk dewasa dapat ditemukan

pada pembuluh dan jaringan limfa pasien.

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar kita lebih mengenali beberapa cacing yang dapat

menyebabkan filariasis dengan mengetahui siklus hidupnya dan lain lain. Juga agar kita dapat

menegakkan diagnosis saat mendapat pasien serupa sehingga kita dapat melakukan

anamnesis hingga prognosis dengan baik.

2

Page 3: pbl B5

Anamnesis

Menanyakan riwayat penyakit disebut ‘Anamnesa’. Anamnesa berarti ‘tahu

lagi’,‘kenangan’. Jadi anamnesa merupakan suatu percakapan antara penderita dan dokter,

peminta bantuan dan pemberi bantuan. Tujuan anamnesa pertama-tama mengumpulkan

keteranganyang berkaitan dengan penyakitnya dan yang dapat menjadi dasar penentuan

diagnosis.Mencatat (merekam) riwayat penyakit, sejak gejala pertama dan kemudian

perkembangan gejala serta keluhan, sangatlah penting. Perjalanan penyakit hampir selalu

khas untuk  penyakit bersangkutan.Selain itu tujuan melakukan anamnesa dan pemeriksaan

fisik adalah mengembangkan pemahaman mengenai masalah medis pasien dan membuat

diagnosis banding. Selain itu, proses ini juga memungkinkan dokter untuk mengenal

pasiennya, juga sebaliknya, serta memahami masalah medis dalam konteks kepribadian dan

latar belakang sosial pasien.

Anamnesis yang dilakukan pada pasien di skenario 5 adalah sebagai berikut :

Keluhan utama adalah hal yang menjadi alasan pasien datang untuk berobat ke dokter.

Di skenario : Bengkak dari telapak kaki kemudian membesar sampai ke tungkai

bawah, nyeri dan menyebabkan sulit untuk berjalan. Dimana keluhan bengkak sejak 1

bulan yang lalu.

Riwayat penyakit sekarang

Perkembangan keluhan utama : sudah minum obat atau belum dan ada

perubahan atau tidak.

Faktor pencetus : lingkungan yang kumuh dan padat penduduknya.

Keluhan penyerta: Demam naik turun setiap 3 hari namun tidak terlalu tinggi,

buang air kecil berwarna keputihan seperti susu.

Riwayat penyakit dahulu

Di skenario : Ditanyakan apakah pernah menderita penyakit Filariasis limfadenitis

sebelumnya atau tidak.

Riwayat keluarga

Di skenario : menanyakan apakah di keluarganya ada yang menderita penyakit

Filariasis limfadenitis atau tidak.

Keadaan lingkungan adalah keadaan dimana pasien tersebut tinggal.

Di skenario : Tinggal di daerah padat dan kumuh sehingga sering terkena gigitan

nyamuk pada malam hari.

3

Page 4: pbl B5

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan dilakukan untuk menunjang diagnosis yang akan dibuat dalam menangani

kasus pasien yang ada. Pemeriksaan seperti yang sempat disinggung, terbagi atas 2 jenis,

yaitu pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari skenario didapatkan data hasil

pemeriksaan sebagai berikut :

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Kesadaran : Compos mentis (sadar penuh)

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Denyut nadi : 80 x/menit

Suhu tubuh : 37,2 oC

Respiratory rate : 20 x/menit

Lidah kering dan putih

Nyeri tekan epigatrium (+)

Ekstremitas hangat degan uji RL (+)

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan :

Belum dilakukan pemeriksaan penunjang

Diagnosis

Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar dapat dilakukan

pemberian terapi yang tepat guna menghindari terjadinya komplikasi. Pengetahuan gambaran

klinis dari suatu penyakit sangat dibutuhkan untuk pendeteksian secara dini. Namun untuk

beberapa kasus penyakit dibutuhkan adanya pemeriksaan penunjang untuk menegakkan

diagnosis.

Diagnosis pada pasien ini dapat dipastikan dengan pemeriksaan diagnosis parasitologi,

radiodiagnosis, diagnosis imunologi.1

Diagnosis parasitologi

Deteksi parasit yaitu menemukan microfilaria di dalam darah, cairan

hidrokel,atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah. Pengambilan darah

4

Page 5: pbl B5

hanyadilakukan pada malam hari (pukul 20.00) karena periodisitas

microfilariaumumnya nokturna. Selain itu teknik biologi molekuler dapat digunakan

untuk mendeteksi parasit melalui DNA parasit dengan menggunakan reaksi

rantai polimerase. Teknik ini mampu memperbanyak DNA sehingga dapat

digunakanuntuk mendeteksi parasit.

 

Radiodiagnosis

Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar

getah bening inguinal pasien akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-

gerak. Pemeriksaan ini hanya dapat digunakan untuk infeksi filarial

olehW.bancrofti.c.

 

Diagnosis Imunologi

Deteksi antigen dengan imunochromatographic (ICT) yang

menggunakanantibody monoclonal telah dikembangkan untuk mendeteksi

antigenW.bancrofti dalam sirkulasi darah. Hasil tes positif menunjukkan

adanyainfeksi aktif walaupun microfilaria tidak ditemukan dalam darah.

Deteksiantibody dengan menggunakan rekombinan telah dikembangkan

untuk mendeteksi antibody subklas IgG4 pada filariasis Brugia. Kadar antibody

IgG4meningkat pada penderita mikrofilaremia. Pada stadium obstruktif,

microfilariasering tidak ditemukan lagi di darah. Kadang-kadang microfilaria

tidak dijumpai dalam darah, tetapi ada di dalam cairan hidrokel atau cairan kiluria.

Dari anamnesis yang telah dilakukan, kita dapat menentukan WD pada kasus ini. WD

pada kasus ini adalah Wuchereria bancrofti. Sedangkan DD pada kasus ini adalah Filiariasis

malayi dan Filiariasis timori.

5

Page 6: pbl B5

Etiologi

Gambar 1. Wuchereria Bancrofti.2

Cacing dewasa hidup dalam pembuluh dan kelenjar limfe. Cacing betina ukurannya

65-100mm x 0,25mm. Sedangkan cacing jantan mempunyai ukuran 40mm x 0.1 mm. Cacing

betina mengeluarkan mikrofilaria.mikrofilaria ini mempunyai ukuran 250-300 mikron x 7-8

mikron. Mikrofilaria bersarung dan pada umumnya ditemukan dalam darah tepi dan pada

waktu malam hari karena periodisitasnya nokturna artinya mikrofilia hanya terdapat di dalam

darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari, mikrofilia terdapat di kapiler alat dalam (paru,

jantung, ginjal, dan sebagainya).1

Yang mempunyai gejala pada stadium mikrofilaremia menyebabkan limfedema didaerah

yang terkena, stadium akut ditandai dengan peradangan ada saluran dan kelenjar limfe,

berupa limfadenitis dan limfangitis retrograde yang disertai demam dan malaise serta stadium

menahun gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah hidrokel dan dapat pula dijumpai

gejala limfedema dan elephantiasis. Kadang-kadang terjadi kiluria yaitu urin berwarna putih

susu yang terjadi karena dilatasi pada pembuluh limfe pada sistem ekskretori dan urinari.1,3

Pada daerah perkotaan ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus sedangkan pada

daerah pedesaan parasit ini dibawa oleh nyamuk Anopheles atau aedes. Parasit ini tidak

ditularkan oleh nyamuk Mansonia.1

Daur hidup parasit ini memerlukan waktu sangat panjang. Masa pertumbuhan parasit di

dalam nyamuk murang lebih 7 bulan, sama dengan masa pertumbuhan parasit ini di dalam

Presbytis cristata (lutung). Mikrofilia yang terisap nyamuk, melepaskan sarungnya di dalam

lambung, menembus dinding lambung dan bersarang di antara otot-otot toraks. Mula-mula

parasit ini memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I (L1) dalam

waktu 3 hari. Dalam waktu kurang lebih seminggu larva ini bertukar kulit tumbuh menjadi

6

Page 7: pbl B5

lebih gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II (L2). Pada hari ke 10-14 selanjutnya

larva ini bertukar kulit sekali lagi tumbuh makin panjang dan lebih kurus, disebut larva

stadium III (L3) yang merupakan bentuk infektif dan dapat dijumpai di dalam selubung

probocis nyamuk. Larva bermigrasi ke alat tusuk nyamuk dan masuk ke dalam kulit hospes

definitif melalui luka tusukan ketika sedang mengisap darah dan bersarang di saluran limfe

setempat. Di dalam tubuh hospes, larva mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi

larva stadium 4 lalu stadium 5 atau cacing dewasa.1

Gambar 2. Siklus Hidup Wuchereria bancrofti.2

Brugia malayi dan Brugia timori

B. malayi hanya didapat di asia dari India sampai jepang. Di Indonesia ditemukan di

daerah-daerah endemik dengan frekuensi yang berbeda-beda. Cacing ini memiliki hospes

manusia, kera, lutang, kucing, anjing. B.timori hanya terdapat di indonesia bagian timur yaitu

nusa tenggara timur dan juga timor timur. B.timori memiliki hospes manusia. B.malayi

memiliki ukuran 55mm x 0,16mm pada betina, sedangkan pada jantan 22-23mm x 0.09mm.

B.timori memiliki ukuran 21-39mm x 0,1mm untuk betina sedangkan pada jantan 13-23mm x

0,08mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung dengan ukuran 200-260 mikron

x 8 mikron pada B.malayi dan 280-310 mikron x 7 mikron pada B.timori.1,4

7

Page 8: pbl B5

B. malayi mempunyai periodisitas nokturna atau sub periodisitas nocturna. B.timori

mempunyai periodisitas nokturna. B.malayi yang berperiodisitas nokturna ditularkan oleh

An. Barbirostris sedangkan yang sub-periodisitas nokturna ditularkan oleh nyamuk mansonia.

B. timori ditularkan oleh nyamuk An. Barbirostris. Siklus hidupnya sama dengan W.

Bancrofti. Daur hidup kedua parasit ini cukup panjang tetapi lebih pendek dari W.bancrofti.

masa tumbuhnya di dalam tubuh nyamuk kurang lebih 10 hari sedangkan pada tubuh manusia

sekitar 3 bulan. 1,4

Di dalam tubuh nyamuk kedua parasit inu juga mengalami pergantian kulit 2 kali

berkembang dari larva stadium 1 sampai larva stadium 3. Di dalam tubuh manusia

perkembangan kedua parasit ini juga disebut sebagai perkembangan W.bancrofti.4

Epidemiologi

Filariasis bancrofti dapat dijumpai di perkotaan atau di pedesaan. Di indonesia parasit

ini lebih sering dijumpai di pedesaan daripada perkotaan dan penyebarannya bersifat lokal.

Kurang lebih 20 juta penduduk Indonesia bermukim di daerah endemi filariasis bancrofti,

malayi dan timori dan mereka sewaktu-waktu dapat ditulari. Kelompok umur dewasa muda

merupakn kelompok penduduk yang paling sering menderita, terutama mereka yang

tergolong penduduk berpenghasilan rendah. Obat DEC tidak mempunyai khasiat pencegahan.

Oleh sebab itu, penduduk perlu dididik untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk.1

Patologi

Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat

inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa

hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan

pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma,

eosinofil, dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh getah bening yang mengalami

inflamasi bersama dengan ploliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan

berliku-likunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah

bening.5

Limfedema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan edema keras terjadi pada kulit

yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh

efek langsung dari cacing ini dan oleh respon imun pejamu terhadap parasit. Respon imun ini

dipercaya menyebabkan proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi

total pembuluh getah bening. Diduga bahwa pembuluh-pembuluh tersebut tetap paten selama

8

Page 9: pbl B5

cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebut menyebabkan reaksi granulomatosa

dan fibrosis. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik.5

Gejala Klinis

Manifestasi dini penyakit ini adalah peradangan, sedangkan bila sudah lanjut akan

menimbulkan gejala obstruksi. Mikrofilia yang tampak dalam darah pada stadium akut akan

menimbulkan peradangan yang nyata, seperti limfangitis, limfadenitis, funikulitis,

epididimitis dan orkitis. Namun adakalanya peradangan tidak menimbulkan gejala sama

sekali terutama bagi penduduk yang sejak kecil sudah berdiam di daerah endemik. Gejala

peradangan tersebut sering timbul setelah bekerja berat dan dapat berlangsung antara

beberapa hari hingga beberapa minggu (2-3 minggu). Gejala dari limfadenitis adalah nyeri

lokal, keras didaerah kelenjar limfe yang terkena dan biasanya disertai demam, sakit kepala

dan badan, muntah-muntah, lesu, dan tidak nafsu makan. Stadium akut ini lambat laut akan

beralih ke stadium menahun dengan gejala hidrokel, kiluria, limfedema, dan elephantiasis.5

Karena filariasis bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun, maka ia dapat

mempunyai perputaran klinis yang berbeda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria

berbeda-beda sehingga mungkin stadiumnya tidak dapat dibatasi dengan pasti. Oleh karena

itu seringkali kita membaginya berdasarkan gejala infeksi filaria yaitu: 1) bentuk tanpa

gejala, 2) filariasis dengan peradangan, 3) filriasis dengan penyumbatan.5

Bentuk Tanpa Gejala

Pada penderita mikrofilaremia tanpa gejala klinis, pemeriksaan dengan limfosintigrafi

menunjukkan adanya kerusakan saluran limfe. Cacing dewasa hidup dapat menyumbat

saluran limfe dan terjadi dilatasi pada saluran limfe, disebut lymphangiektasia. Jika jumlah

cacing dewasa banyak dan lymphangiektasia terjadi secara intensif menyebabkan disfungsi

sistem limfatik. Cacing dewasa yang mati menyebabkan reaksi inflamasi. Setelah infiltrasi

limfositik yang intensif, lumen tertutup dan cacing mengalami kalsifikasi. Sumbatan sirkulasi

limfatik terus berlanjut pada individu yang terinfeksi berat sampai semua saluran limfatik

tertutup menyebabkan limfedema di daerah yang terkena. Selain itu juga terjadi hipertrofi

otot polos di sekitar daerah terkena.1

9

Page 10: pbl B5

Umumnya penduduk yang tinggal di daerah endemis tidak menunjukkan reaksi perdagangan

yang berat, walaupun mereka mengandung banyak mikrofilaria. Pada pemeriksaan dengan

radionukleotida menunjukkan adanya gangguan drainase limfatik.1

Filariasis dengan Peradangan

Filariasis dengan peradangan. Manifestasi terakhir yang biasanya terlihat di awal

infeksi pada mereka dengan infeksi primer adalah limfangitis. Limfangitis terjadi di sekitar

larva dan cacing dewasa muda yang sedang berkembang, mengakibatkan inflamasi eosinofil

akut. Infeksi ini berdasarkan fenomen alergik terhadap metabolisme cacing dewasa yang

hidup atau mati, atau sekunder, infeksi oleh streptococcus dan jamur. Demam, menggigil,

sakit kepala, muntah, dan kelemahan menyertai serangan tadi, dapat berlangsung beberapa

hari sampai beberapa minggu, dan yang terutama terkena adalah saluran limfe ketiak,

tungkai, epitrochlear dan alat genital. Pada orang laki-laki umumnya terdapat funikulitis

disertai dengan penebalan dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan skrotum.5

Demam pada filaria terjadi karena adanya inflamasi yang berawal dari kelenjar getah bening

(biasanya KGB inguinal) dengan perluasan retrograd ke bawah aliran getah bening dan

disertai edema dingin. Di sini, inflamasi tampaknya diperantarai oleh imun dan kadang (10-

20% kasus) beberapa episode inflamasi diawali dengan infeksi kulit. Salah satu gejala lain

yang kadang timbul pada filariasis adalah hematuria. Sekitar 40% pasien dengan

mikrofilaremia terdapat hematuria dan proteinuria yang menunjukkan adanya kerusakan

ginjal dalam derajat rendah.5

Filariasis dengan Penyumbatan

Filariasis dengan penyumbatan merupakan stadium menahun. Stadium ini terjadi jaringan

granulasi yang poliferatif serta terbentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang

tinggi dalam jaringan limfe merangsang pembentukan jaringan ikat dan kolagen.

Penyumbatan duktus torasikus atau saluran limfe perut bagian tengan turut mempengaruhi

skrotum dan penis pada laki-laki dan bagian luar alat kelamin wanita (jadi elephantiasis

menahun). Infeksi pada kelenjar inguinal dapat mempengaruhi tungkai dan bagian luar alat

kelamin.5

Limfedema tungkai pada filariasis bisa dibagi dalam 4 tingkat. Tingkat 1 edema pitting yang

dapat kembali normal bila tungkai diangkat. Tingkat 2 pitting/non pitting edema yang tidak

dapat kembali jika tungkai diangkat. Tingkat 3 edema non pitting tidak dapat kembali normal

bila tungkai diangkat, kulit menjadi tebal. Tingkat 4 edema non pitting dengan jaringan

fibrosis dan verukosa pada kulit.5

10

Page 11: pbl B5

Bila saluran limfe kandung kencing dan ginjal pecah akan timbul kiluria, sedangkan episode

berulang adenolimfangitis pada saluran testis yang mengakibatkan pecahnya tunika vaginalis

akan terjadi hidrokel/kolakel, dan bila yang pecah saluran limfe peritonium terjadi asites

kilus.5

Gambar 3. Contoh dar Gejala Klinis Filariasis.6

Pengobatan

Obat-obat kemoterapi yang dapat diberikan, diuraikan dibawah ini. Pengobatan

dalam waktu lama dengan preparat antimon dan arsen dapat membunuh mikrofilaria dalam

darah, tetapi tidak jelas dapat membunuh cacing dewasa, keculi jika dilakukan pengobatan

dalam waktu yang lebih lama. Lebih spesifik, efeknya lebih cepat daripada preparat antimon

atau arsen serta toleransinya cukup baik, akan tetapi karena pemberian intravena, obat ini

tidak berkembang luas serta tidak diberikan pada pengobatan masal di daerah hiperendemik.7

Diethylcarbamazine (DEC), hetrazan (1-diethyl carbamyl 1-4-methylpiperazine dihydrogen

citrate). Pertama kali dicoba klinik tahun 1947 dan telah menjadi obat pilihan untuk Filariasis

bancrofti. Pada pemberian peroral, cepat menghilangkan mikrofilaria dalam darah perifer dan

terkumpul di dalam pembuluh darah visceral yang kemudian diserang oleh fagosit. Akan

tetapi, pengaruh terhadap cacing dewasa tidak nyata. Dosis yang dianjurkan (0,5-2) mg/kg

berat badan, diberikan setelah makan, 3 kali per hari dalam waktu 2-3 minggu, cepat

menghilangkan mikrofilaria dalam darah walaupun efek terhadap cacing dewasa lambat.

Toleransinya terhadap Filariasis bancrofti cukup baik.7

11

Page 12: pbl B5

Di daerah Polynesia dengan pemberian hetrazan yang tepat dapat menimbulkan erupsi bulosa

pada kulit yang merupakan reaksi alergi akibat cepatnya kematian mikrofilaria di dalam

darah. Erupsi yang timbul dalam 1-14 hari dapat diobati dengan kortikosteroid dan sembuh

dalam 1-3 hari. Obat sintesis, dari preparat arsen Mel W dan antimon MSbB telah

memperlihatkan banyak harapan sebagai filarisidal maupun sebagai mikrofilarisidal dengan

toleransi cukup baik. Hal-hal lain yang dapat dipikirka diantaranya modifikasi operasi

Kondoleon dapat dilakikan pada keadaan elephantiasis. Kompres cairan MgS dapat diberikan

selama serangan akut lymphangitis. Sulfonamid atau antibiotik diberikan jika terjadi infeksi

sekunder oleh bakteri. 7

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan baik secara masal atau pencegahan individu. Pencegahan

secara masal dapat dilakukan dengan pemberian obat dosis tunggal, sekali pertahun, 2

regimen obat (Albendazol 400 mg dan ivermectin 200 mg/kgBB) cukup efektif.8

Hal ini merupakan pendekatan alternatif dalam menurunkan populasinya. Pencegahan

individu dapat dilakukan mengurangi kontak dengan nyamuk melalui penggunaan obat oles

anti nyamuk, atau obat nyamuk bakar maupun semprot, kelambu, memasang kasa pada

ventilasi udara dan penyuluhan dampak filariasis bancrofti.8,9

Selain itu tempat hidup vector bisa dibasmi dengan menjaga kebersihan lingkungan sehingga

vector tidak dapat hidup dan berkembang biak

Komplikasi

Wuchereria bancrofti dapat menimbulkan beberapa komplikasi, dapat berupa

kiluria,yaitu urin berwarna putih susu yang terjadi karena dilatasi pada pembuluh limfe pada

systemeksretori dan urinary, selain itu filariasis bancrofti dapat menyebabkan Hidrokel.

Prognosis

Pada kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah dari daerah

endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan dengan pemberian obat,

serta pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema tungkai,

prognosis lebih buruk.5

12

Page 13: pbl B5

Skenario 5

Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang dengan keluhan bengkak pada tungkai kiri sejak 1

bulan yang lalu. Bengkak awalnya muncul dari telapak kaki kemudian membesar sampai ke

tungkai bawah, nyeri sampai menyebabkan pasien sulit berjalan. Keluhan disertai demam

naik turun setiap 3 hari namun tidak terlalu tinggi. Os buang air kecil berwarna keputihan

seperti susu. Os tinggal di daerah padat dan kumuh sehingga terkena gigitan nyamuk pada

malam hari.

Kesimpulan

Hipotesis di terima. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun

penunjang akan mendapatkan diagnosis kerja dan diagnosis lain. Dan dapat disimpulkan di

dalam skenario pasien menderita filariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti.

13

Page 14: pbl B5

Daftar Pustaka

1. Sutanto I, Ismid S, Sjahrifuddin PK, Sungkar S. Parasitologi kedokteran. Jakarta :

Departemen parasitologi FKUI 2008.p.31-40.

2. www.en.wikipedia.org . Gambar morfologi dan siklus hidup wuchereria bancrofti.

Diunduh tanggal 19 November 2014, pukul 21.03 WIB.

3. Widyono. Penyakit tropis. Jakarta : Penerbit Erlangga;2008.p.139-41.

4. Safar R. Parasitologi kedokteran : protozoologi, helmintologi, entomologi. Bandung :

Yrama media ; 2009.p.76-80.

5. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, dkk. Ilmu penyakit

dalam. Edisi 6. Jilid 1. Jakarta : Penerbit Interna Publishing;2014.p.769-75.

6. www.melisasolo.blogspot.com . Gambar Gejala Klinis Filariasis. Diunduh tanggal 19

November 2014, pukul 23.26 WIB.

7. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran : ditinjau dari organ tubuh yang

diserang. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;2005.p.155.

8. Mubin H. Panduan praktis ilmu penyakit dalam. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit EGC;

2007.p.94-5.

9. Hardjodisastro D. Menuju seni ilmu kedokteran. Jakarta: Penerbit

Gramedia;2006.p.51.

14