Click here to load reader

Paper Manajemen Perioperatif

  • View
    77

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Paper Manajemen Perioperatif

BAB I PENDAHULUAN

Manajemen jalan nafas perioperatif adalah hal yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan proses anestesi dalam suatu operasi atau pembedahan. Melalui evaluasi yang cermat, penyulit intra dan pasca operatif dapat diramalkan, sehingga dapat dipersiapkan obat/alat untuk menanggulangi penyulit tersebut. Salah satu penyulit yang perlu mendapat perhatian adalah adanya sumbatan jalan nafas. Diperlukan kemampuan untuk mengenal adanya sumbatan jalan nafas atau bahaya sumbatan jalan nafas, tersedianya peralatan, kecakapan dalam mengelola jalan nafas, dan memastikan adanya ventilasi yang adekuat. Menjamin terbukanya jalan nafas merupakan langkah penting pertama untuk pemberian oksigen pada pasien.1 Sumbatan jalan nafas, hipoventilasi, henti nafas, syok, dan bahkan henti jantung cepat sekali menimbulkan kematian bila tidak mendapat pertolongan yang cepat dan tepat. Penguasaan jalan nafas yang cepat dan tepat merupakan hal terpenting untuk berhasilnya penanganan pasien gawat darurat. Pedoman European Resuscitation Council (ERC) mengenai advanced cardiac life support (ACLS) menyatakan bahwa intubasi endotrakea harus dilakukan hanya jika penyedia layanan kesehatan telah dilatih dan memiliki pengalaman yang memadai dengan teknik tersebut.2

sebuah survei terhadap dokter umum di daerah urban dan pedesaan menunjukkan bahwa sebagai praktisi kegawatdaruratan, merekan hanya melakukan satu intubasi setiap 2 hingga 7 bulan.3 Tanpa kemampuan yang cukup, tidak hanya dalam hal intubasi namun juga melakukan verifikasi terhadap posisi pipa yang berdasarkan panduan bantuan hidup lanjut (advanced life support) menjadi tidak mungkin tanpa menimbulkan risiko bagi pasien. Pada saat dokterdokter yang merupakan anggota Helicopter Emergency Medical Services (HEMS) Jerman menilai posisi pipa pada pasien yang diintubasi oleh dokter emergensi, maka persentase intubasi esophagus (6,7%) ternyata sangat rendah.4 Banyak dari kekeliruan manajemen jalan napas di lapangan seharusnya dapat dihindari dengan pelatihan yang lebih baik mengenai teknik intubasi dan alat-alat yang digunakan dalam manajemen jalan napas.5

1

BAB II ISI

2.1 Anatomi dan Fisiologi Pernafasan 2.1.1 Anatomi Sistem Pernafasan Sistem pernafasan dibagi menjadi 4 bagian yaitu 6 Pusat nafas yang terdapat di batang otak, terdiri dari area inspirasi, area ekspirasi dan area pneumotaksik. Saluran nafas yang terdiri atas hidung, rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkiolus, bronkiolus terminalis, duktus alveolaris dan berakhir pada alveolus. Dada sebagai unit pompa dan daya regangnya (terdiri dari otot-otot pernafasan antara lain Musculus Intercostalis internus, Musculus Intercostalis eksternus, Musculus Sternocleidomastoideus, Musculus Rectus Abdominis, Musculus Scalenus dan Musculus Serratus anterior), tulang dan diafragma. Paru yang merupakan struktur utama dengan fungsi membuang CO2 yang terkandung dalam darah dan menyerap sejumlah O2 ke dalamnya. Ada 2 pintu masuk pernafasan manusia yaitu hidung yang terhubung ke nasofaring (pars nasalis) dan mulut yang terhubung ke orofaring (pars oralis), pada bagian depan mereka dipisahkan oleh palatum sedangkan pada bagian belakang mereka terhubung oleh faring. Nasofaring merupakan bagian teratas dari faring, dibatasi pada bagian superior oleh dasar tengkorak, bagian inferior oleh palatum mole, bagian anterior oleh rongga hidung (koana), dan bagian posterior oleh margo tulang posterior dari nasofaring yang dibentuk oleh basis tulang tengkorak, khususnya clivus, serta 2 corpus vertebrae pertama (C1 dan C2). Aspek lateral ruang nasofaring diapit oleh mukosa dan fasia faringealis yang juga melapisi margo tulang posterior. 7 Nasofaring memiliki ukuran relatif kecil, dimensi anteroposterior nasofaring ialah 2-3 cm, sedangkan dimensi vertikal dan transversalnya 3-4 cm. Kavitas orofaring terletak dibawah dari nasofaring serta tepi anterior inferior ditandai oleh palatum mole. Margo superior dan dinding posterior mengandung banyak jaringan limfoid pada saat usia anak-anak dan seiring dengan umur akan menghilang dengan sendirinya. Jika jaringan limfoid ini (tonsil dan adenoid) persisten hingga dewasa dapat membingungkan dalam membedakan dengan tumor. Nasofaring terpisah dari orofaring oleh suatu batas imaginer. Pada basis dari lidah, epiglotis 2

berfungsi sebagai pembatas dari orofaring ke laringofaring. Epiglotis ini melindungi sistem pernafasan dari aspirasi dengan menutup glotis yang merupakan pintu masuk menuju laring pada saat menelan.6,7 Sistem persarafan sensori pada sistem pernafasan bagian atas berasal dari saraf kranialis. Membran mukosa hidung dan palatum dipersarafi oleh nervus trigeminalis cabang oftalmikus (N V1) pada bagian anterior dan cabang maksilaris (N V2) pada bagian posterior dan maksila. Cabang ketiga mempersarafi bagian mandibula. Nervus glosofaringeus dan lingual (cabang nervus fasialis) memberikan sensasi rasa pada lidah. Nervus glosofaringeus juga menginervasi atap faring, tonsil dan lapisan bawah dari soft palate. Nervus vagus memberikan sensasi pada pernafasan di bagian bawah epiglotis. Superior laryngeal nerve yang merupakan cabang dari nervus vagus mempersarafi laring di antara epiglotis dan pita suara (sensori dan motori). Cabang lain dari nervus vagus yaitu Reccurent laryngeal nerve menginervasi laring di bawah pita suara dan trakea.7 Laring menerima suplai darah dari cabang arteri tiroid. Salah satu cabang arteri tiroid adalah arteri tiroid superior yang kemudian menjadi arteri krikotiroid.

Gambar 1. Anatomi Sistem Pernafasan Bagian Atas Pembagian lain menyebutkan sistem pernafasan dibagi menjadi bagian atas yang terdiri dari hidung, ruang hidung, sinus paranasalis dan faring yang berfungsi menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara pernafasan dan bagian bawah yang terdiri dari laring, trakea, bronki, bronkioli dan alveoli. Trakea merupakan sebuah pipa fibromuskular dengan ukuran panjang 10-12 cm dengan diameter 18-20 mm, memiliki sel-sel bersilia yang selalu bergerak 12-20 3

kali tiap menit dan sel-sel yang dapat menghasilkan lendir. Cabang-cabangnya antara lain bronkus utama dengan ukuran 13 mm, bronkus lobaris 5-7 mm, bronkus segmentalis 3-4 mm, bronkus kecil 1 mm, bronkiolus utama 0,5-1 mm, bronkiolus terminalis 0,5 mm, bronkiolus respiratorius 0,5 mm dan duktus alveolaris 0,3 mm.6,7 2.1.2 Fisiologi Pernafasan Fisiologi pernapasan dibagi menjadi 2 antara lain:7 1. Respirasi Eksternal Ketika udara masuk ke dalam paru-paru terjadilah oksigenisasi darah (terjadi difusi antara darah dan udara yang masuk ke dalam paru-paru), CO2 dilepas dan O2 diikat oleh darah. Respirasi eksternal ini terdiri dari 4 komponen yaitu: Ventilasi : Merupakan pergerakan udara atau gas dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Lebih spesifik lagi adalah pergerakan udara ke dalam paru-paru dan dari dalam paru-paru. Distribusi : Merupakan perjalanan dan percampuran molekul-molekul gas intrapulmoner. Difusi : Merupakan proses pertukaran O2 dalam alveoli dan CO2 yang berada dalam darah di arteri pulmonaris. Perfusi7

: Merupakan pengambilan gas-gas oleh aliran darah kapiler paru yang adekuat.

2. Respirasi Internal

Ketika darah yang sudah teroksigenisasi tersebut meninggalkan paru-paru, kemudian darah tersebut menuju ke jantung dan keseluruh tubuh. Proses dilanjutkan dengan cara darah beroksigenisasi mentransfer oksigen ke jaringan kemudian darah pun akan menyerap CO2 dari jaringan tersebut. Respirasi eksternal dibagi menjadi: Efisiensi kardiosirkulasi Distribusi kapiler Difusi, perjalanan gas ke ruang interstisial dan menembus dinding sel. Metabolisme sel yang melibatkan enzim.

2.2 Peralatan yang Digunakan dalam Manajemen Airway8 2.2.1 Oral dan Nasal Airway Oropharyngeal airway (juga dikenal sebagai oral Airway, OPA atau Guedel) adalah perangkat medis yang disebut Airway adjunct digunakan untuk menjaga jalan nafas tetap 4

terbuka. Ini dilakukan dengan mencegah lidah (baik sebagian atau sepenuhnya) meliputi katup nafas, yang dapat mencegah pasien bernapas. Saat seseorang berada dalam keadaan tidak sadar, otot di rahang berelaksasi sehingga lidah akan jatuh dan menghambat jalan nafas, kenyataannya lidah adalah yang paling umum penyebab tersumbatnya jalan nafas. OPA didesain oleh Arthur E. Guedel (1883-1956).6,8 Oropharyngeal airways memiliki beragam ukuran, dari anak-anak sampai dewasa dan biasanya digunakan di pre-hospital emergency care.

Gambar 2. OPA dalam Berbagai Ukuran Oropharyngeal airways diindikasikan pada pasien yang tidak sadar karena pada pasien yang sadar alat ini dapat menstimulasi reflek muntah yang dapat semakin menyumbat jalan nafas. Pada pasien yang sadar biasanya digunakan nasopharyngeal airway.8 Pemilihan ukuran guedel dapat dilakukan dengan mengukur jarak antara daun telinga dan sudut mulut pasien, kemudian OPA dimasukkan ke dalam mulut dari arah atas ke bawah (berputar 180). Untuk mengeluarkan langsung mengikuti lekukan lidah, tidak perlu rotasi. Risiko penggunaan OPA adalah: Jika pasien mengalami reflek gag maka pasien akan muntah Jika ukurannya terlalu besar maka OPA dapat menutup glotis sehingga jalan nafas akan tersumbat Ukuran yang salah juga dapat menyebabkan pendarahan pada jalan nafas.

2.2.2 Sungkup Muka Sungkup muka atau face mask adalah suatu alat yang digunakan untuk mengefektifkan udara pernafasan atau O2 atau gas yang akan dimasukkan ke dalam paru melalui suatu selang. Sungkup muka ini didesain sedemikian rupa sehingga udara tidak bocor keluar saat digunakan 5

pada pernafasan spontan tetapi hal ini juga tergantung pada praktisi yang menggunakannya. Terbuat dari bahan transparan agar terlihat jika terjadi muntah atau keluar cairan atau lendir dari mulut atau hidung pasien.8 Ukuran dan bentuk yang digunakan berragam tergantung dari usia pengguna dan pembuatnya. Ukuran 03 untuk bayi baru lahir, ukuran 02, 01 dan 1 untuk anak-anak, ukuran 2 dan 3 untuk anak yang lebih

Search related