32
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JOMBANG 2014

PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JOMBANG

2014

Page 2: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

DAFTAR ISI

COVER ……………………………………………………………………………………. I

KATA PENGANTAR ……………………………………………….……………………. II

PROSEDUR ANASTHESI UNTUK LAPARATOMI…………………….……………… 1

PROSEDUR ANASTHESI UNTUK TUBEKTOMI …………………………………….

PROSEDUR ANASTHESI UNTUK SEKSIO CAESAREA…………………….………

PROSEDUR ANASTHESI BENDA ASING DIJALAN NAFAS…………………..…..

PROSEDUR ANASTHESI PADA HIPERTIROID……………………………………..

PROSEDUR ANASTHESI PADA PJK (Penyakit Jantung Koroner)……………………

PROSEDUR ANASTHESI PADA ASTHMA BRONCHIAL ………………………….

PENANGANAN NYERI PASCA BEDAH …………………………………………….

PROSEDUR ANASTHESI KRANIOTOMI UNTUK TRAUMA KEPALA………….

PROSEDUR ANASTHESI UNTUK PEMBEDAHAN CEDERA TULANG LEHER…

Page 3: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANESTESI UNTUK LAPARATOMI

A. Pendahuluan

Anestesi untuk laparatomi dapat terjadi setiap saat hal hal yang harus

diperhatikan bahwa penderita yang dilakukan laparatomi umumnya gangguan

pasase usus, sehingga terjadi kelambanan pengosongan lambung, karenanya

tindakan pengosongan lambung secara aktif harus dilakukan sebelum induksi

anestesi.

B. Persiapan Pra-Bedah

Fokus utama prabedah

- Mencari tanda tanda dehidrasi, apabila ada harus koreksi setidaknya sampai

volume cairan intra vaskuler cukup (ditandai dengan tilt-test yang negatip).

- Mengosongkan lambung secara aktif dengan memasang masslang diameter

besar dan menghisap secara aktif, lalu melepasnya sebelum dilakukan induksi.

- Apabila penderita masih febris harus diupayakan turun, setidaknya sampai

tempertur rectal 38,5° c

C. Anestesi dan Pembedahan

- Premedikasi diberikan intra muskuler yang merupakan kombinasi narkotik,

sedativa dan atropine. Pada oprasi darurat lebih diutamakan diberikan intravena.

- Posisi intubsi dilakukan dengan head up 45 ° bila hemodinamik setabil atau head

down 30° bila hemodinamik tidak stabil

- Preoksigenasi dilakukan sebelum induksi anestasi dengan oksigen 8 ml/menit

selama minimal 2 menit

- Obat induksi dapat diberikan

o Ketamin 1-2 mg/kg bb iv

o Pentotal 3-5 mg/ kg bb iv

o Propofol 2-3 mg/ kg bb iv

- Obat inhalasi anestesi yang dipilih diutamakan influran

- Obat lainnya dapat dipilih dengan tambahan obat pelumpuh otot non depol dan

dilakukan control respirasi

- Selama operasi penderita harus dilakukan intubasi endotracheal, pada bayi

dilakukan intubasi sleep non apnoe atau apnoe dan pada anak atau dewasa

dilakukan intubasi sleep apnoe.

- Kedalaman anestasi dijaga secukupnya dengan monitor : tekananan darah, nadi,

ECG, Sa O2. Selama pembedahan harus dilakuakan monitoring produksi urine

untuk mengetahui cairan yang kita berikan sudah cukup atau belum.

Page 4: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

D. Akhir pembedahan

Bila menggunakan obat pelumpuh otot non dipol, harus diyakini bahwa efek sisa

obat telah minimal ditandai dengan adequatnya volume napas, sadar baik, bisa

mengangkat kepala, menggenggam cukup kuat

Ekstubasi sebaiknya dilakukan pada saat penderita hampir sadar sehingga

bahaya aspirasi dapat dikurangi.

Page 5: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANESTESI UNTUK TUBECTOMI (MOW)

A. Pendahuluan

Steralisasi pada wanita dapat dilakukan pada saat post partum atau pada saat

penderita tidak post partum (masa interval). Operasi ini umumnya merupakan hasil

kerja sama antara depkes- BKKBN dalam upaya mensukseskan program kb

nasional, sehingga masalah keterbatasan biaya harus diipertimbangkan dalam

pemilihan teknik anestesi yang digunakan, tetapi harus tetap aman bagi penderita.

B. Persiapan Pra-Bedah

1. Sebelum dimuali anestasi harus dipastikan cukup tidak puasa, minimal 6 jam

2. untuk kasus post partum harus diberikan syrup Mg Trisilikat untuk mengurangi

tingkat keasaman lambung.

3. untuk kasus interval, memastikan bahwa penderita datang ke RS dengan diantar

oleh pengantar dewasa yang bisa bertanggung jawab.

C. Tehnik Anastesi

Yang dipilih umumnya adalah tehnik intravena dengan ketamin, kecuali ada

kontra indikasi terhadap pengunaan obat ketamin

- Premedikasi diberikan intravena, lewat pemasangan wing nedlle diberikan

diazepam iv dan pethidin ½ mg/kg BB iv

- Induksi digunakan ketamin 1 mg /kg bb iv bolus

- Jalan napas dijaga supaya tetap bebas dan diberikan suplai oksigen nasal prong

2,5- 3 lt/ menit.

- Bila operasi perlu waktu lebih lama dapat diberikan tambahan ketamin dosis ½

mg/ kg BB iv

- Monitor selama operasi: Tensi, nadi, Na pco2 dan Sa O2

D. Pasca Bedah

Penderita diobservasi diruang pulih sadar. Penderita post op sterilisasi poli

klinik boleh dipulangkan bila sudah mengalami mobilisasi secara bertahap dari

posisi tiduran ½ duduk duduk berdiri pakai pakaian dan jalan tanpa

ada keluhan pusing, mual atau muntah. Penderita boleh pulang kerumah dengan

pengantar dewasa dan tidak boleh mengendarai atau naik kendaraan roda dua.

Page 6: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANASTESI UNTUK BEDAH CAESAR

A. Pendahuluan

Anestesi untuk bedah Caesar dapat terjadi setiap saat. Hal yang harus selalu

diingat adalah perubahan fisologis pada ibu hamil, terutama system respirasi,

sirkulasi, pemberian obat anestesi pada ibu hamil dapat mempengaruhi hamil,

karena sebagain obat dapat menembus sawar uri sehingga masuk kejanin .

pengelolaan anestesi ibu hamil perlu mempertimbangkan tiga faktor, yaitu obat baik

untuk ibu, untuk janin dan tidak mempengaruhi kontraksi rahim.

B. Persiapan pra bedah

1. persiapan untuk ibu

- Evaluasi klinik dan penentuan status fisik

- Perbaikan status hidrasi terutama pada persalinan lama

- Perbaikan kadar Hb ≥ 8 gr %, bila tidak ada indikasi operasi segera

- Pencegahan aspirasi.

- Dengan pengosongan lambung secara aktif (pemasangan pipa lambung,

diisap pada posisi kepala lebih rendah), atau secara pasif (puasa).

- Pemberian antasida yang mengandung magnesium triksilikat 20 -30 cc ½ jam

sebelumnya

- Pemberian H2 Reseptor Antagonis (ranitidine)

- Antisipasi terhadap perdarahan dengan infuse yang berjalan, jarum no 16 atau

18, menyediakan darah bila perlu

2. persiapan untuk janin

- periksaan detik jantung janin segera sebelum anestesi dimulai

- persiapan alat untuk resusitasi bayi, dengan tempat yang hangat.

- Pemberian cairan yang mengandung dekstrose untuk meningkatkan kadar

gula darah bayi.

3. persiapan untuk rahim

Persiapan uterotonika yang akan diberikan pada ibu setelah bayi

dilahirkan (metergin, piton).

C. Anestesi dan Pembedahan

1. pemberian premedikasi hanya dengan antikolinergik (atropine) yang diberikan 1

¼ - ½ jam sebelum induksi. Teknik anastesi yang dipilih : regional atau umum.

2. teknik Anestesi regional

a. anestesi regional sab dengan lidokain 5% dalam dekstrose 5% ditambah

adrenalin 1/200.000 atau tergantung pada tinggi badan pasien dengan

bupivacain dosis 0,5 % heave 3-4 cc

Page 7: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

b. Anastesi regional peridural dengan lidocain, 5% ditambah adrenalin

1/200.000 bisa juga dipakai bupifokain 0,25dosis yang digunakan tergantung

pada tinggi block yang dikehendaki. Juga bisa digunakan bupivacain 0,25,

ropivacain.

3. teknik anestasi umum

a. induksi ketamin bolus 1-1 mg/kg diikuti subsinil kolin 1 mg/kg untuk

memudahkan intubasi. Setelah bayi lahir baru diberikan ether inhalasi bila

pasien bangun sebelum bayi dilahirkan dapat ditambahkan setengah dosis

ketamin K

b. induksi dengan etomidate 0,1 – 0,2 mg /kg BB bila tidak ada bisa diganti

dengan propofol dengan dosis 2-3 mg/ kg BB sebelumnya disuntik trculium

0,6 mg/kg BB untuk memudahkan intubasi. Rumatan anestesi N2O/ 02 pada

waktu bayi terpegang gas N20 dihentikan sampai tali pusat dipotong segera

setalah tali pusat dipotong anesetesi dilanjutkan dengan isofluran/

sefoflurane/ enflurane teknik ini dilkukan pada eklamsia atau pre eklamsia

berat

4. Monitoring Ibu

a. Tensib. Nadic. EKG d. SA O2e. Produsi urine

5. Posisi terlentang dengan ganjal dipinggul kanan atau meja miring kekkiri sedikit

untuk menghindari supine hipotensive syndrome.

7. Penilaian Bayi Setelah dilahirkan yaitu bayi dinilai dengan score apgar, penilaian

dilakukan satu menit dan lima menit setelah dilahirkan.

Faktor yang di nilai SCORE 0 Score1 Score 2

Detak jantung - < 100 >100

Napas - Tangis lemah Tangis keras

Tonus otot (fleksi) - ± ++++

Refelek respon - ± ++++

Warna kulit

pucat

ekstrimtas merah

Biru pucat Tubuh merah,

ekstrimitas biru

Merah

8. Melakukan Tindakan Pertolongan Berdasarkan Skor Apgar (AS).

a. Tanpa depresi/ depresi ringan nilai apgar 7-10

Membersihkan jalan napas menghangatkan tubuh rangsangan taktil

Page 8: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

b. Depresi sedang (nilai apgar 4-6). Tindakan seperti pada depresi ringan

ditambah pemberian oksigen

c. depresi berat nilai apgar (0-3) seperti diatas bila tak berhasil intubasi

dilanjutkan RJP

D. Penglolaan Pasca Bedah

1. Terapi cairan sampai pasien dapat menerima alimentasi peroral

2. Memberikan obat perangsang untuk kontraksi otot rahim samapi 12 Am (tetesan)

3. Memberikan obat analgesia sesuai setandar

E. Pesanan Perawat

1. Monitor tensi nadi, perdarahan produksi urine

2. Melaporkan bila terjadi gangguan hemodinamik atau terjadi perdarahan

berlebihan.

Dokumentasi : Dokumen medik

Rujukan: anastesia for obstetric

Page 9: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

BENDA ASING DI JALAN NAPAS

A. Pendahuluan

Benda asing dalam trachea menyebabkan berbagai derajat pembuntuan jalan

napas, yang bila tidak ditangani segera dapat menimbulkan kecacatan sampai

dengan kematian. Keadaan ini sangat berbahaya bila terjadi pada anak anak.

Gambaran klinis berupa batuk, wheezing, penurunan suara napas stridor retraksi

antar iga. Macam benda asing berpengaruh terhadap gambaran klinis.

B. Persiapan PraBedah

1. Diagnosis fisik ( gambaran klinis)

2. Diagnosis radiologi:

- Bila benda asing radiopaqua – terlihat

- Bila benda asing radiolucent – secara tidak langsung: etelektasis disebelah

distal benda asing dan emfisema obstruksi atau hiperinflasi pada saat ekspirasi.

C. Anestesi dan Tindakan Aspirasi

1. Teknik induksi bergantung pada berat ringannya gejala. Induksi dengan obat

inhalasi anestesi yang tidak menyebabkan iritasi (halotan) dilakukan pada anak-

anak, terutama bila obtruksi berat.

2. Induksi dengan obat intravena dilakukan dengan gejala tidak berat, dilanjutkan

dengan inhalasi. Juga dilakukan pada orang dewasa/ anak yang sudah besar.

3. Pengambilan benda asing dilaring dilakukan pada waktu laringoskopi, tanpa

intubasi.

4. Pengambilan benda asing ditrakea atau bronkus dilakukan dengan bronkoskopi

obat anestesi diberikan melalui “ventilating bronchos cope”. Bila tidak tersedia,

anestesi dilakukan melalui pipa indotrakeal.

5. Waspada terhadap kemungkinan obstruksi jalan nafas, pecahnya benda asing

yang diambil, hipoksemia, hiperkapnia.

D. Pasca Bedah

Penyulit : waspada terhadap edema subglotik atau terjadinya laserasi mukosa jalan

nafas.

Terapi : humidified oksigen, steroid.

E. Pesanan Untuk Perawat

Observasi pernafasan, perhatian pada timbulnya gejala edema jalan nafas

sendini mungkin, retraksi stridor. Bila terdapat penyulit-segera lapor.

DOKUMENTASI : Dokumen medik.

RUJUKAN : Anesthesia and co-existing diseases

Page 10: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANASTESI PADA HIPERTIROID

A. Pendahuluan

Indikasi pembedahan Morbus Basedowi, toxis multinoduler golter, adenoma,

THS- secreaningtumotiroiditis, atau kelebihan hormon tiroid. Gejala umum hipertiroid:

berkeringat, intoleransi panas, nafsu makan meningkat, nadi meningkat, berat badan

menurun, struma, eksoftalmos, kelemahan otot skelet. Mungkin didapatkan fibrilasi

atrium, palpitasi, gagal jantung kongestif. Pada umumnya pasien sudah mendapat

terapi untuk mencapai keadaan eutiroid. Obat-obat yang digunakan biasanya satu

atau dua macam dari obat berikut: PTU, metimazol, glukokortikoid atau B-bloker.

B. Persiapan PrabBedah

1. Fokus utama evaluasi prabedah: mencari tanda-tanda bahwa dalam keadaan

eutiroid. Indikator: berat badan naik, tremor halus hilang, gangguan irama

jantung hilang.

2. Waspada terhadap adanya penekanan trakea. Pastikan foto leher (AP/Lat),

terutama bila struma besar, atau bila ada gangguan nafas.

3. Lugolisasi : 8-14 hari – tumor lebih padat, lebih mudah pembedahan,

pendarahan berkurang.

4. Pembedahan darurat pada hipertiroid: diberikan B-blocker untuk menghambat

efek simpatomimetik dari hiperteroid. Harus diingat bahwa pemberian B-blocker

dapat menimbulkan masalah pada CHF.

Lab : EKG

Endokrin T4 T3 TSH

Hipertiroid ! ! Normal/

Lab: fungsing tiroid, Ca,Mg, fosfat, alkalin fosfatase, glucose

BUN, serum kreatinin, elektrolit.

Faal hemastatis, darah lengkap, hitung trombosit

Badai tiroid adalah Suatu keadaan yang mengancam jiwa akibat

eksaserbasi hipertiroid yang terjadi pada periode stres, yang manifesatasinya

berupa: hipertermia kardiopaskuler tidak stabil, cemas, perubahan status mental,

dan takikardia.

Terapi: meningkatkan FlO², sodium jodida (1-2,5,mg iv) +hidrokortisom

(100mg iv) + B bloker, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

D. Anestesi dan Pembedahan

Obat-obatan antitiroid diteruskan sampai hari pembedahan. Premedikasi

kombinasi narkotik dan sedativa midazolam atau diazepam, tanpa atropin.

Page 11: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

F. Teknis Anestesi

Anestesi Umum: perhatikan kedalaman anestesi sedemikian untuk mencegah

meningkatnya respon simpatetik terhadap stimulus pembedahan. Hindari

penggunaan obat anestesi yang menstimulasi saraf simpatis ( ketamin, petidhin,

pavulonl)

Induksi:

Preoksigenasi cukup, pentotal suksinilkolin, disediakan pipa trakeal ( tiga ukuran)

sesuai standar, dengan stiletnya. Bila dari semula diperkirakan akan terjadi kesulitan

intubasi, siap dengan Fiber optic

Rumatan anestesi: Isoflurane, enflurane, sefoflurane

Kebutuhan darah dan cairan

Perdarahan seharusnya minimal

Pasangan infuse dengan jarum nomor 16 atau 18

Cairan NS/RL 5-8 ml/kg/jam

Posisi head-up: menguranagi perdarahan bila tangan pembedahan.

Ginjal dipundak. Perhatikan pada mata dan tempat lain.

Monitoring:

- Tensi

- Nadi

- EKG

- Suhu,

- Sa O2

Penyulit: Jalan nafas, perdarahan (bila persiapan kurang baik), krisis tiroid (bila belum

eutiroid besar).

G. Akhir Pembedahan

Bahaya obtruksi jalan nafas : kerusakan nervous rekuren trakeomalasi, atau

hematoma. Pastikan dengan laringoscopi sebelum ekstubasi.

H. Pasca Bedah

1. Penyulit

Kerusakan nervur laryngeal recurrent :

- Bila terjadi bilateral: pasien tidak mampu berbicara dan memerlukan

reintubasi.

- Bila unilateral: serak, tes fungsi pita suara: kemampuan mengucapkan

huruf i. Trakeomalsia atau hematoma yang menyebabkan gangguan jalan

nafas

- Terapi: intubasi cepat untuk menyelamatkan jiwa, jahitan dibuka untuk

mengurangi tekanan akibat hematoma.

- Hipoparatiroid : manifest sebagai stridor ( 24- 48 jam pasca bedah )

- Terapi: periksa kadar Ca bila perlu segera diganti.

- Krisis tiroid dapat menimbulkan malignan hipertermia.

I. Pengelolaan Nyeri

Page 12: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

Sesuai standart

J. Pesanan untuk Perawat

1. Monitoring

Tensi, Nadi, Suhu, pernapasan, perdarahan. Bila terjadi gangguan napas

waspada terhadap gejala dini timbulnya badai tiroid (kenaikan suhu lebih dari

seharusnya).

2.. Bila timbul hal hal diatas segera lapor dokter.

DOKUMENTASI: Dokumen medik

RUJUKAN : Anesthesiologist s manual of surgical procedures

Anesthesia for endhocrin diseases

Page 13: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANESTESI PADA PJK

(PENYAKIT JANTUNG KORONER)

A. Pendahuluan

Mortalitas pasien yang mengalami infark jantung pada waktu dilakukan anestesi

cukup tinggi (50%), dibanding dengan yang tidak menjalani anastesi atau

pembedahan, pembuluh darah koroner akan mengalami vasodilatasi bila kebutuhan

oksigen otot jantung meningkat kan iskemia akan terjadi bila kebutuhan tersebut

tidak dipenuhi, misalnya pada pasien dengan penyakit jantung koroner.

B. Persiapan Pra-Bedah

1. Menggali riwayat penyakit

- adanya nyeri dada: onset frekuensi penjalaran kaitan dengan aktifitas

- ada tidaknya aritmia

- obat yang diminum sejak kapan, contnuitas, obat mana yang paling aktif

- ada tidaknya tanda payah jantung kiri atau kanan

2. Memperhatikan adanya faktor predisposisi

- usia tua, obesitas, laki laki, riwayat keluarga, hipertensi, diabetus militus, perokok

berat, hiperlipidmia,

3. Memperhatikan faktor resiko anastesi dan pembedahan

- Ringan : angina mudah terkontrol dengan istirahat atau obat, tidak ada disritmia

atau gagal jantung, tidak megalami ami 1 tahun sebelumnya

- Ringan sampai sedang : keluhan terkontrol dengan obat tidak ada aritmia atau

payah jantung. Ami 6-12 bulan sebelumnya.

- Sedang sampai berat keluahan terkontrol dengan obat, mungkin ada aritmia

atau tanda gagal jantung, ami 3-6 bulan sebelum operasi (kalau operasi tidak

darurat sebaiknya ditunda 6 bulan setelah ami).

- Berat : angina intraktabel, dengan atau tanpa aritmia/ tanda gagal jantung, ami

< 3 bulan. (hanya untuk operasi dengan monitoring lengkap).

- obat obatan yang digunakan, dan harus tetap diberikan sampai pagi hari

operasi:

- Golongan nitrate

- Beta blocker

- Calcium antagonis (nifedipin, diltiazen).

- Aspirin perhatian pembekuan darah

Pemeriksaan laboratorium :

- Darah lengkap, BUM, serum keratinin, elektrolit, dan CK-MB

- Faal hemotasia, kadar gula darah, profil lemak.

Page 14: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

C. Premedikasi dan Anestesi

Pilihan premedikasi:

o Morfin 0,1 mg/kg dan midazolam 0,07-0,1 mg/kg (lm)

o Pada penderita > 50 tahun, PS 2-3 dosis diturunkan

Pilihan anestesia :

- regional ( untuk operasi di daerah perineum, abdomen, tungkai bawah)

- anestesi umum : perhatikan saat induksi, pilihan obat anestesi, saat pulih

sadar. Induksi dan intubasi dapat menyebabkan hipoksia, hipertensi dan

takikardia: gunakan obat pelumpuh otot golongan non dipolarisasi dan

premedikasi sebelum induksi dengan fentanyl dosis 2-4 µ g/ kg BB

Obat anestesi : halutan, enflural, isoluran, atau sefoflurane dan supleman narkotik.

Monitoring : Denyut nadi 60-80 x/menit

MAP 90 mmHg

SaO2 >95 %

Hindari vasokonstriksi

D. Pasca Bedah

Pada waktu pulih sadar dapat terjadi menggigil (terutama bila anastesi dengan

holotan) rasa nyeri,dan hipoventilasi.

F. Penanganan Perawatan

- Monitoring selama pembedahan berlangsung

- Denyut jantung bila <60 atau >80/menit=segera lapor

- MAP <90mmHg=lapor

- Vasokontriksi perifer (akral dingin)=lapor

- Pemberian oksigen sesuai standar

DOKUMENTASI: dokumen medik

RUJUKAN

Page 15: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANASTESI PADA PASIEN ASTHMA BRONKIAL

A. Pendahuluan

Asthma bronchial adalah suatu penyakit yang didefinisikan sebagai naiknya

kepekaan terhadap segala rangsangan, sehingga menyebabkan sumbatan aliran

udara pernafasan yang sulit kembali (reversible), serta didapatkan perubahan

inflamasi kronis submukosa jalan nafas.

Pathogenesis asthma menggambarkan pelepasan mediator kimiawi secara

mendadak (histamine, otrin, prostaglandin). Hipotesis lain karena abnormalitas

pengaturan tonus jalan nafas oleh saraf otonom.Didapatkan radang kronis pada jalan

nafas.

B. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan adanya keluhan sesak nafas, batuk-batuk,

terdengar wheezing dan serangan akut, takipnea gejala/tanda hanya didapatkan

pada waktu serangan akut.

C. Persiapan Pra-Bedah

Tujuan untuk mencegah terjadinya serangan akut dan mengoptimalkanfungsi

paru pasien.

Pelaksanaan :

- Fisioterapi nafas

- Hidrasi yang cukup

- Antibiotik

- Bronkodilator ( aminophilin )

- Antihistamin

- Bila perlu : kortikosteroid

Pada pembedahan terencana bila mungkin dilakukan pemeriksaan FEV,

sebelum pemberian obat bronkodilator dan sesudah pemberian bronkodilator. Bila

ada keraguan faal nafas dan oksigenasi, dilakukan pemeriksaan analisis gas darah.

D. Anestesi dan Pembedahan

Premedikasi

- Obat-obatan yang bisa digunakan : petidin, benzodiazepine ( midazolam).

- Bronkodilator diteruskan

- Kortikosteroid diberikan bila pasien mengunakan obat tersebut dalam jangka

lama

- Obat yang tidak dianjurkan penggunaannya : morfin, atropine, H2 reseptor

antagonis induksi dan rumatan

- Tujuan mendepresi reflek jalan nafas, mencegah bronkokontriksi, mencegah

rangsangan yang berlebihan pada jalan nafas.

Page 16: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

- Prainduksi dapat diberikan aminofilin iv.

- Obat induksi yang dapat digunakan ketamin, propofol

- Obat induksi yang harus digunakan dengan sangat hati-hati : pentotal, karena

menaikkaan Kepekaan jalan nafas

- Pemberian lidokain 1-2 mg/kg iv sebelum intubasi apnea dengan suksinilkolin

- bila diperlukan relaksan, hindari pemakaian kurare, atrakurium ( menyebabkan

pelepasan histamine). Obat dipilih norpuron atau rocuronium.

Ekstubasi :

o Dilakukan pada stadium anestesi yang masih dalam, atau Diberikan

lidokain 1-2 mg/kg iv sebelum ekstubasi.

E. Pasca Bedah

Tujuan : mencegah terjadinya serangan mendadak.

Obat-obatan : antibiotik, bronkodilator, hidrasi cukup.

F. Pesanan Perawat

Perhatikan keluhan pasien : sesak, batuk-batuk, Timbulnya takipnea, wheezing

Bila didapatkan kedua hal tersebut segera lapor dokter, siapkan obat-obat

bronkodilator.

DOKUMENTAS: Dokumen medik

SUMBER RUJUKAN

- Anesthesia and co-existing diseases.

- ABC asthma

- Principle and Practice of Medical Intensif Care

- Pocket Manual of Anasthesia

- Clinical Anasthesia Proceduras of the Massachusetts General Hospital

- Handbook for Anasthesia and Co-existing diseases

- Manual of Medical Therapeutics

- Medical Pharmacology at a glance

Page 17: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

NYERI PASCA BEDAH

A. Pendahuluan

Pengalaman nyeri pasca bedah untuk masing masing pasien bervariasi

intensitasnya. Pengelolan nyeri pasca bedah yang tidak adekuat mencapai 60%.

Morbiditas pasca bedah akan meningkat sebagai akibat pengaruh tidak langsung

dari nyeri yang tidak ditangani dengan baik. Dengan demikian penanggulangan nyeri

pasca bedah akan dapat mengurangi penyakit tersebut.

B. Aspek yang Perlu diketahui

1. Insiden, intensitas dan lama nyeri, faktor yang mempengaruhi, mekanisme nyeri,

patofisiologi dan penyulit nyeri pasca bedah.

2. penanganan nyeri sebelumnya yang menyebabkan penanganan nyeri tidak

adekuat.

3. profilaksis dan terapi nyeri pasca bedah.

Manjemen:

1. Tujuan : mencegah penyulit sebagai akibat tidak langsung nyeri pasca bedah

2. Kriteria : menggunakan visual analog scale ( VAS ) :

0 = tanpa nyeri

10 = sangat nyeri

Untuk anak anak digunakan “wong baker”

Pelaksanan

1. Profilaksis :

- informasi perbedaan yang baik dan benar pada waktu kunjungan prabedah

- premedikasi

- teknik pembedahan yang baik

- perawatan luka pembedahan

2. Terapi aktif

Non-invasif : analgesic sistemik : narkotika, NSAID, tramadol.

Invasif : - Analgesi regional : epidural/spinal dengan narkotik atau obat anastesi

lokal.

- Blok interlokal.

- P.C.A ( Patient Control Analgesia ) atau PCFA

C. Pesanan Perawatan

1. Monitoring: frekuensi nafas, Tensi, Nadi, EKG, Mual/muntah, Produksi urine,

Timbulnya Urtikaria, V.A.S.

2. Lapor : tanda-tanda dini penyulit tindakan( infasif/non-invasif)

DOKUMENTASI: Dokumen medik

RUJUKAN: Textbook of the management of pain

Page 18: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

KRANIOTOMI UNTUK TRAUMA KEPALA

A. Pendahuluan

Trauma kepala merupakan penyebab kematian utamanya pada kelompok usia

muda kecelakaan lalu lintas tampaknya menjadi penyabab utama trauma kepala,

disamping penyebab yang lain. Kebanyakan kerusakan otak akibat trauma di daerah

supratentorial. Tindakan bedah bergantung pada macam dan letak kerusakan

(misalnya epidural, subdural, intraserebral, impresi fraktur). Tindakan bedah pada

umumnya darurat, berupa evakuasi hematoma dan menghentikan perdarahan

hematoma epidural berasal dari robekan arteri, sehingga waktu sangat berharga,

untuk menghindari terjadinya kerusakan yang menetap.

Pada umumnya trauma di daerah frontal dan parietal tidak menyebabkan

gangguan pernafasan, kecuali bila TIK meninggi yang menyebabkan nafas lambat

dan dalam, dapat menyebabkan hipokapnia.Obstruksi jalan nafas sering dijumpai

akibat jatuhnya pangkal lidah kebelakang pada pasien yang tidak sadar. Bila

kerusakan didaerah lobus oksipitalis dapat terjadi apnea.

B. Persiapan

1. Menjaga agar jalan nafas bebas dan pernafasan adekuat

2. Observasi T/N/ pernafasan, untuk mendeteksi terjadinya herniasi

3. Pemeriksaan devisit neurologi, observasi derajat kesadara (GCS)

4. CT Scan bila keaadan memburuk segera dibawah ke kamar bedah tanpa CT

Scan.

5. Pemeriksaan laboratorium, terutama faal hemostasis: bila waktu memungkinkan

dapat dilengkapi yang lain (darah lengkap, BUN, kreatinin, elektrolit)

6. Persediaan darah secukupnya sesuai perkiraan

7. Semua pasien dianggap sebagai pasien sebagai lambung penuh.

C. Anastesia dan Pembedahan

1. Perhatian terhadap TIK yang meningkat, anastesia menggunakan obat-obat

yang tidak menaikkan TIK.

2. Induksi setelah preoksigenasi : bila kardiovaskuler stabil dengan propofol 2-3 mg/

kg BB dosis maksimal (5 mg/kg BB) sebelumnya diberikan recorinium dengan

dosis 0,6mg/ kg bb.

3. Intubasi tanpa didahului pemberian napas buatan, tetapi dengan pemberian

spray lidocain, digunakan pipa oro tracheal non kink a dengan balon dan

ditampon dengan pertimbangan khusus juga bisa digunakan ett biasa.

Page 19: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

4. Pernapasan terkontrol dengan mesin, hiperventilasi ringan (PaCO2 28-30

mmHg) dan PaO2 dipertahankan >100 mmHg, digunakan obat pelumpuh otot

non depolarisasi (recoronium)

5. Rumatan anestesi dengan isoflurane atau sefoflurane.

6. Analgetik fentanyl dengan dosis 4-6 µ g/ kg BB pre intubasi dan suplemen

dengan dosis 1-2 µ g /kg BB

7. suplemen lain: midazolam

8. Cairan infuse: RL atau NS 2-4 ml/kg BB. Hindari pengunaan cairan yang

mengandung glucose. Bila darah dipertahankan 80-200 mg%

9. Monitor:TENSI, NADI, RR, Sa O2

10. pada akhir pembedahan bila mungkin dilakukan ekstubasi dikamar operasi,

pertimbangan untuk melakukan pernapasan buatan pasca bedah selain atas

kondisi pasien juga logistic mendukung atau tidak.

11. bila gcs rendah di usulkan untuk tracheostomy guna mempermudah bronchial

toilet.

D. Pasca Bedah dan Pesanan Perawatan

1. Observasi tanda tanda kenaikan TIK, deficit neurologi, derajat kesadaran.

2. Pada trauma kepala tidak digunakan kortikosteroid.

3. Observasi terjadinya kejang, siap dengan dilantin (1g loading dose).

4. Observasi perdarahan

DOKUMENTASI: Dokumen Medik

RUJUKAN

1. Jaffe, R.A., Samuels, S.I., (ed), 1994. Anesthesiologist manual of surgical

procedures Raven Press, New York.

2. Cottrel, J.E., Smith, D.S.,(ed), 1994. Anesthesia and Neurosurgery, 3rd ed. Mosby,

St. Louis, Baltimore.

3. Frost, E.A.M.,(ed), 1991. Clinical Anesthesia in neurosurgery, 2nd ed. Butterworth-

Heineman, Boston

Page 20: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

ANASTESI UNTUK PEMBEDAHAN TULANG LEHER

A. Pendahuluan

Cedara tulang leher dapat menyebabkan kerusakan medulla spinalis yang

berakibat gangguan neurologist (motorik, sensorik, dan otonom)atau kelumpuhan

otot pernpaasan, dan gangguan sirkulasi. Beratnya gangguan sesuai dengan luas

dan tinggi kerusakan medulla tersebut. Berat ringannya kelumpuhan motorik dan

sensorik diklasifikasikan menurut frengkel. Kompresi di daerah servikal dapat

menyababkan gangguan napas sebagai akibat kelumpuhan otot pernapasan dan

diafragma.

Hipotensi dan bradikardi (shock spiral) disebabkan oleh hilangnya control

pada sistem simpatis (bila kerusakan setinggi vertebra thoracal V atau lebih

keatas).

B. Persiapan

1. imobilisasi dengan colar brace bantal pasir tidur pada alat datar dan keras

2. cairan diberikan dengan monitoring CVP

3. bila ada bradikardi diberikan sulfas atropine diteruskan dengan pemberian

dopamine infuse continue

4. bila bradikardi membandel dipertimbangkan pemasangan pace macker

5. pasang pipa lambung dan kateter urin lengkap

6. dilakukan pengukuran faal Napas.

C. Anestesi dan Pembedahan

1. pre-medikasi sulfas atropine 0,5 mg IM bila perlu diulang dengan dosis yang

sama IV sebelum induksi

2. induksi dengan midazolam atau propofol dengan atau tanpa obat pelumpuh otot,

tergantung pada derajat kelumpuhan (frankle) dan kondisi pasien. Obat

pelumpuh otot pilihan: NON DEPOLARISASI yang mula kerja dan lama kerjanya

pendek

3. suplemen analgetik: fentanyl atau narkotik yang lain

4. intubasi dengan pipa tracheal non Kink dengan memepertahankan posisi kepala

in line

5. monitoring: sesuai standar dengan memepertahankan MAP > 60 mmHg end tidal

PaCO2 28-30 mmHg

6. bila pendekatan pembedahan dari posterior, pasien di posisikan tengkurap

dengan cara “log rolling” sambil mempertahankan kepala dalam posisi in Line.

Page 21: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

D. Pasca Bedah

1. Akhir anastesi dilakukan ekstubasi pada keadaan pasien sadar baik dan fungsi

nafas sesuai pengukuran pra bedah

2. bila kerusakan diatas servikal V, tidak dilakukan ekstubasi dan diberikan bantuan

nafas minimal selama 24 jam pertama di icu

3. perawatan intensif diperlukan pada pasien dengan gangguan fungsi pernapasan

dan sirkulasi.

F. Pesanan Perawatan

1. Observasi fungsi nafas, Sirkulasi, defisit neurologi, suhu.

2. Observasi produk urine

3. Dijaga agar tidak terjadi dilatasi lambung dengan memperhatikan caiaran dari

pipa lambung.

DOKUMENTASI : Dokumen Medik

RUJUKAN :

1. Clinical anesthesia procedures of mssachusetts general hospital, 1993:

Anesthesia for trauma and burn

2. Anesthesia for surgeryof the spine, Acute and chronic cervical spine injury

3. fundamental critical care support, 1996: basic trauma menjement.

Page 22: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

BANTUAN HIDUP DASAR UNTUK ORANG DEWASA

A. Pendahuluan

Bantuan hidup dasar (BHD) merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat

yang bertujuan untuk : (1) mencegah berhentinya pernapasan dan atau sirkulasi

melalui pengenalan dan penanganan segera memberikan bantuan eksternal terhadap

ventilasi dan sirkulasi, terhadap korban ynag mengalami henti jantung dan napas,

melalui resusuitasi kasus jantung paru atau RJP

Tujuan utama melakukan rjp – BHD ialah memberikan okseigen ke otak, jantung dan

organ vital yang lain:

Indikasi

1. gawat napas

2. gawat sirkulasi

B Tahapan BHD

1. A: Airway – Pembebasan jalan napas, memebebaskan jalan napas secara

manual HEAD TILL juga dilakukan untuk pasien trauama, chin lift juga boleh

untuk pasien trauma, nect lift tidak boleh dilakukan sama sekali, jaw trust hanya

dilakukan sebagai pilihan terakhir jika cara lain tidak berrhasil.

2. B: breating – bantuan pernapasan, kali hembusan satu detik disususl dengan

hembusan keduasebalah ekhalasi, bila sudah di intubasi napas buatan 10x/

menit, bila belum diintubasi atau dipasang LMA maka setiaap 30 pijatan jantung

diselingi 2 kali tiupan napas (ratio 30:2), Usahakan dada terangkat , @ 500-600

ml atau volume tidal 6-8cc/kg BB Beri oksigen 100% lebih dini.

3. C: circulation – bantuan sirkulasi, pijat dulu baru tiup, pijat jantung yang pertama

tanpa meraba karotis, titik tumpu pijat jantung pada setengah bagaian bawah

sternum, bila belum bila belum diintubasi atau dipasang LMA maka setiaap 30

pijatan jantung diselingi 2 kali tiupan napas (ratio 30:2) bila sudah di intubasi pijat

jantung 100x/ menit, diperioritaskan agar tidak ada cela, push hard, push fast,

pijat jantung 100x/ permenit. Napas buatan 10 x/ menit, beri kesempatan diding

toraks untuk re coll setelah pijatan, jika trachea sudah diintubasi tidak usah

singkronasi antara pijat napas. Dua atau satu penolong tidak dibedakan.

C. Pijat jantung

Langsung letakkan tangan pada setengah bagian sternum, pijat jantung 30x

disusul dengan napas 2X. Pijat jantung dan napas buatan, Saat pijat jantung hitung

dengan suara keras

Satu, dua, tiga, empat, SATU Satu, dua, tiga, empat, DUA Satu, dua, tiga, empat, TIGA Satu, dua, tiga, empat, EMPAT Satu, dua, tiga, empat, LIMA Satu, dua, tiga, empat, ENAM Total = 30x pijatan, disela dengan 2X tiupan napas.

Page 23: PANDUAN PRAKTIK KLINIK anastesi

D. Posisi penolong

Tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus menekan tengah tengah

dada, tekan sedalam 2 inchi. Perabaan nadi karotis dari tengah ke lateral dalam

waktu max 5 detik.

F. Pengunaan DC Shock

CPR dilakukan sambil menunggu datangnya DC shock (De-FIBRILLATION/ DC

shock) DC shock sendiri mungkin (sebelum 5-10 menit) dengan kekuatn 360 Joules

1x (dulu 3x shock, repeated shock). (jika DC shock biphasic 150-200 Joules),

Setelah a single shock, segera CPR lagi 2 menit tanpa. Check ECG sudah ROSC

atau belum. Baru setelah 2 menit CPR, berhenti sebentar untuk Check ECG apakah

sudah ROSC

DC shock:

1. Oles dulu paddles Dengan jelly ECG Tipis rata, baru Kemudian : Switch ON,

Pasang paddles Pada posisi apex Dan parasternal (boleh terbalik)

2. Tempelkan di dada, baru Charge 360 joules (Non-synchronized)

Ucapkan dengan keras :

Awas semua lepas dari pasen

napas buatan berhenti dulu

bawah bebas,

Samping bebas,

Atas bebas,

Saya bebas! Shock!!

3. Tekan dua tombol paddles bersama, Lepas paddles dari dada, lanjutkan chest

compression

4. Segera pijat jantung lagi, Setelah 2 menit baru raba lagi/ baca lagi ECG.

G. Pasca Resusitasi

1. stabilisasi dan observasi ketat fungsi fital

2. komunikasi pada keluarga

3. transportasi dan rujukan (bila dibutuhkan).

Rujukan :

1. CPCR guidelines

2. Texbook of advanced cardiac life support

3. Makalah pelatihan 2014.