PANDUAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT CENTERED ?· Student centered learning ... dengan SCL maka para peserta…

  • Published on
    10-Mar-2019

  • View
    217

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

PANDUANMODEL PEMBELAJARAN STUDENT

CENTERED LEARNING (SCL)

UNIT PENGKAJIAN & PENGEMBANGAN SISTEM MUTU PEMBELAJARAN

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA (PPNS)

2016

TIM PENYUSUN

EKO JULIANTO

ADI WIRAWAN HUSODO

ANDA IVIANA JUNIANI

MUHAMMAD ARI

DENNY OKTA R.

IKA ERAWATI

PURWIDI ASRI

KATA PENGANTAR

Student centered learning (SCL) merupakan pendekatan pembelajaran yangmenempatkan peserta didik di pusat kegiatan pembelajaran. Di dalam SCL para peserta didikmemiliki dan memanfaatkan peluang dan / atau keleluasaan untuk mengembangkan segenapkapasitas dan kemampuannya (prior knowledge and experience) sebagai pembelajarsepanjang hayat, melalui berbagai macam aktivitas. Aktivitas peserta didik mencakuppembelajaran aktif dan interaktif yang dikemas dalam pembelajaran kolaboratif dan kooperatif.Aktivitas pembelajaran seperti ini mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi bidang ilmuyang diminatinya dan kemudian membangun pengetahuannya secara bertanggung jawab yangpada akhirnya mencapai kompetensi sebagaimana ditetapkan di dalam kurikulum. Selain itu,dengan SCL maka para peserta didik berlatih untuk belajar beyond the classroom dan thinkingoutside the box (berpikir di luar pakem yang ada, berpikir secara berbeda atau denganmenggunakan perspektif baru), serta berlatih memecahkan masalah. Berpikir di luar kontendikenal pula sebagai suatu process of lateral thought. Pola berpikir seperti ini akan efektifmanakala institusi pendidikan vokasi bersifat kontekstual sehingga para peserta didik masuk kedalam pengalaman nyata (minds-on dan hands-on).

Student teacher aesthetic role-sharing (STAR) merupakan peningkatan intensitashubungan antara dosen dan peserta didik sebagaimana tersirat di dalam SCL. Sesuai denganjiwa SCL maka di dalam STAR para dosen beralih posisi dan fungsi, dari sumber utama informasiilmiah menjadi sumber informasi ilmiah sekaligus sebagai fasilitator dan mitra pembelajaranbagi para peserta didik dalam suasana yang serasi. Tujuan STAR adalah character building untukmenuju kepribadian kesarjanaan, yang dicirikan oleh disiplin yang kuat, kemampuanberartikulasi (penalaran dan argument yang memadai), tutur bahasa yang baik / baku terutamabahasa tertulis, bersikap santun dan arif. Nilai-nilai kearifan mencakup terpelajar, kecerdasan,tilikan yang luas, sikap hati-hati, penalaran terhadap norma kebenaran dan kemampuanmencerna informasi ilmiah. Dengan demikian STAR perlu dihayati oleh seluruh civitas academikPoliteknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dalam segala macam aktivitasnya. Berdasarkanhal inilah UP2SMP-PPNS menyusun Panduan Pelaksanaan SCL. Semoga panduan ini mudahdipahami dan menjadi sahabat setia bagi para dosen dan peserta didik dalam melakukanTridharma Perguruan Tinggi.

Surabaya, Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . iii

DAFTAR ISI ... iv

1 PENDAHULUAN ........................................................................................................7

2 METODE SCL DAN STAR ........................................................................................10

3. PENUTUP DAN UCAPAN TERIMA KASIH .... 59

BAB 1

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan dan teknologi (termasuk teknologi informasi) telah dan terusberkembang dengan pesatnya. Namun demikian masih terdapat kelambanan dalampenyesuaian terhadap perkembangan tadi, yaitu perubahan proses pembelajaran.Metode pembelajaran I lecture, you listen masih mewarnai pendidikan di PerguruanTinggi. Dosen merupakan tokoh sentral, dan lebih-kurang 80% waktunya digunakanuntuk memindahkan (transfer) ilmunya secara konvensional (one-way traffic),sementara itu para peserta didik duduk mendengarkan ceramahnya dengan aktivitasminimal tanpa mengaktifkan prior knowledge mereka yang relevan dengan pokokbahasan.

Di dalam one-way traffic method para peserta didik menunjukkan sikap apatisdan tidak tertarik terhadap proses pembelajaran. Lebih dari itu, kemampuankonseptualisasi sebagian besar peserta didik bersifat terbatas karena mereka belajardalam struktur dan pengarahan yang kaku. Mereka tidak dapat think outside the box(berpikir di luar pakem). Pada hakekatnya para peserta didik adalah sekelompokmanusia yang beranjak dewasa dengan berbagai macam perubahan fisik, sosial, danpsikologik. Mereka bukan lagi anak-anak yang menunggu untuk disuapi oleh orangtuanya. Mereka sudah mulai kritis, tahu apa yang dibutuhkan (bukan sekedardiinginkan) dan dipilihnya, serta makin paham tentang bagaimana menentukan skalaprioritas. Dalam konteks Teacher Centered Learning (TCL), spoon-feeding untuk parapeserta didik tidak lagi sesuai karena proses pembelajaran bersifat lamban dan parapeserta didik tidak memiliki peluang untuk memilih menu yang sesuai. Kelambananproses pembelajaran yang terjadi di dalam paradigma TCL akan menyebabkan pesertadidik selalu tertinggal di belakang, tidak dapat segera menyesuaikan diri dengankemajuan zaman. Untuk mengatasi kelambanan dan ketertinggalan tadi maka prosespembelajaran perlu diubah, dari one-way traffic menjadi two-way traffic dan interaktif.Dengan pembelajaran interaktif para peserta didik diajak bersama-sama secara aktifuntuk mencari, menemukan, mengolah, membangun dan memaknai ilmu pengetahuanyang diminatinya. Pembelajaran interaktif merupakan salah satu karakteristika SCL. Idedasar dari student-centeredness adalah student might not only choose what to study,but how and why that topic might be an interesting one to study.

SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didiksebagai subyek/peserta didik yang aktif dan mandiri, dengan kondisi psikologik sebagaiadult learner, bertanggung jawab sepenuhnya atas pembelajarannya, serta mampu

belajar beyond the classroom. Dengan prinsip-prinsip ini maka para peserta didikdiharapkan memiliki dan menghayati jiwa life-long learner serta menguasai hard skillsdan soft skills yang saling mendukung. Di sisi lain, para dosen beralih fungsi menjadifasilitator, termasuk sebagai mitra pembelajaran, tidak lagi sebagai sumberpengetahuan utama. Secara operasional, di dalam SCL para peserta didik memilikikeleluasaan untuk mengembangkan segenap potensinya (cipta, karsa, dan rasa),mengeksplorasi bidang/ilmu yang diminatinya secara bertanggung jawab, membangunpengetahuan serta kemudian mencapai kompetensinya melalui proses pembelajaranaktif, interaktif, kolaboratif, kooperatif, kontekstual dan mandiri. Keleluasaan parapeserta didik ini difasilitasi oleh dosen yang menerapkan Patrap Triloka secara utuh.Metode pendidikan di Perguruan Tinggi perlu diselaraskan dengan perkembangan sertakemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal penyelarasan denganperkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini maka SCLmerupakan suatu keniscayaan bagi Perguruan Tinggi. Di dalam SCL terdapatkarakteristika sebagai berikut: (a) pembelajar dewasa yang aktif (mentally notphysically), interaktif, mandiri, bertanggung jawab atas pembelajarannya, mampubelajar beyond the classroom, dan memiliki jiwa pembelajar sepanjang hayat, (b)adanya keleluasaan bagi para peserta didik untuk mengembangkan segenappotensinya, mengeksplorasi dan mentransformasi ilmu pengetahuan, (c) pembelajaranyang bersifat kolaboratif, kooperatif dan kontekstual, (d) alih fungsi dosen dari sumberutama ilmu pengetahuan menjadi fasilitator yang menerapkan Patrap Triloka.Pembelajaran kontekstual memerlukan rencana pembelajaran (course design) berbasiskonteks yang sesuai dengan bidang ilmu yang disajikan oleh setiap program studi. Didalam pembelajaran kontekstual para peserta didik berlatih tentang kecakapanmelakukan sesuatu (hands-on) dan memikirkan sesuatu (minds-on) secara terpadu.

1.1. Pergeseran Paradigma Pembelajaran

Perubahan paradigma pendidikan di Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT)mencakup pengertian a paradigm shift from a teacher-centered instruction paradigmto a student-centered learning paradigm. Perubahan paradigma ini bersifatinstitusional yang apabila diterapkan pada staf pengajar akan berubah menjadiperubahan mindset. Perubahan paradigma ada yang menyebutnya sebagaitransformasi, revolusi pembelajaran, atau sekedar sebagai suatu pergeseranparadigma. Perubahan paradigma maupun perubahan mindset membawa implikasiperubahan sistem, organisasi, implementasi, dan evaluasi yang cukup kompleks.Dengan demikian perubahan paradigma harus disiapkan secara arif, mencakuppemahaman tentang rasional, hati-hati, sedikit-demi sedikit, sederhana (tidak ruwet),terus-menerus, konsisten, terukur, terkontrol, dan gejolak maupun penolakan yangminimal. Apabila persiapan sudah (dianggap) matang, maka implementasi perubahanparadigma juga tetap memerlukan kearifan, dalam hal ini mencakup bidang efisiensi

dan keefektivan yang dapat diukur/dievaluasi dengan metodologi baku. Keberhasilan,kekurangan, deviasi, keterlambatan, dan bahkan kegagalan pencapaian tujuan harusdilaporkan kepada seluruh civitas academica secara jujur dan terbuka. Kejujuranmerupakan kearifan yang melindungi institusi dari berbagai masalah. Setiap perubahanmengakibatkan berbagai macam reaksi bagi individu yang mengalaminya, terutamakelompok individu yang tidak diikutsertakan secara aktif dalam perencanaanperubahan. Pengambil kebijakan atau keputusan atas perubahan yang diberlakukanperlu memperhatikan berbagai gejala negatif di antara para stafnya, yaitu mudahmarah, selalu merasa lelah, depresi, defensif, dan sinis. Individu yang menunjukkangejala atau sekelompok gejala tadi menunjukkan tidak adanya resiliency pada dirinya.Resiliency menggambarkan kemampuan untuk segera pulih seperti sediakala sebagaiakibat dari adanya perubahan, kerja keras, atau perasaan tidak beruntung. Bagi setiapindividu, pengembangan resiliency memerlukan perhatian terhadap kompleksitaspengalaman, emosi, dan kemauannya untuk belajar dari keberhasilan dan kekecewaanatau kegagalannya. Individu yang mempunyai resiliency menunjukkan fleksibilitas, dayatahan yang tinggi, sikap optimis, dan terbuka untuk selalu belajar. Dalam hubunganantar individu diperlukan kearifan (kemampuan) untuk menilai adanya resiliency atautidak. Perubahan paradigma memerlukan pimpinan yang arif. Seorang yang arif ataubijaksana tidak bereaksi segera secara ekstrem terhadap suatu stimulus, sebelum iamenelaahnya lebih dari dua sisi. Mengajak tanpa memaksa, mendorong tanpamendesak, menjelaskan tanpa menggurui, memberi contoh tanpa maksud pamer, danmenilai tanpa maksud mencela merupakan nilai-nilai kearifan yang perludipertimbangkan dalam pelaksanaan SCL. Akhirnya, keharmonisan antara realitas danidealisme perlu dijadikan pegangan bagi para penentu kebijakan dalam rangkaperubahan paradigma pembelajaran.

1.2. Student Teacher Aesthetic Role-sharing

Di dalam SCL peran dosen bergeser, dari sumber utama informasi menjadifasilitator dan mitra pembelajaran. Peran ini masih perlu ditingkatkan, dengan cara lebihmendekatkan hubungan batin (dari hati ke hati) antara dosen dan peserta didik.Peningkatan ini selaras dengan kandungan Patrap Triloka (ing ngarsa sung tuladha,ing madya mangun karsa, tut wuri andayani). Patrap Triloka menginspirasi adanyaSCL-Plus, yaitu peningkatan mitra pembelajaran timbal-balik antara dosen danpeserta didik yang berkarakter serasi. Hal ini kemudian dikemas dalam satu programyang disebut sebagai Student Teacher Aesthetic Role-sharing (STAR). STAR adalahsuatu kegiatan untuk membawa peserta didik dan dosen dalam suatuhubungan/suasana akademik yang lebih erat dan serasi. Dengan STAR diharapkanpeserta didik lebih merasa nyaman dalam berkomunikasi dengan dosen dansebaliknya dosen memperhatikan/membimbing peserta didik dengan intensitas yanglebih tinggi. Dengan demikian terbangun atmosfer akademik yang kondusif, peserta

didik mandiri, aktif, kreatif, dan inovatif, serta dosen yang peduli terhadap pertumbuhanakademik peserta didik (mengikuti perkembangan peserta didik satu per satu secaraindividual).

Tujuan STAR adalah character building, yaitu menciptakan hubungan serasiantara peserta didik dan dosen menuju kepribadian kesarjanaan, yang dicirikan oleh:

1. Penguasaan disiplin yang kuat2. Kemampuan berartikulasi (penalaran dan argumen yang memadai)3. Tutur bahasa yang baik/baku, terutama tertulis4. Bersikap santun5. Kearifan, mencakup:

a. terpelajar (learned)b. kecerdasan (smartness)c. tilikan yang luas (insight)d. sikap hati-hati (prudent)e. penalaran terhadap norma kebenaran (ethical)f. kemampuan mencerna informasi ilmiah (ability to digest)

BAB 2

METODE SCL DAN STAR

2.1. Individual Learning

2.1.1 Definisi

Individual learning adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitasindividual peserta didik. Hal ini dilakukan karena pertimbangan adanya perbedaan-perbedaan di antara para peserta didik. Individual learning merujuk pada perubahankeahlian, wawasan, pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai yang diperoleh seseorangmelalui pengalaman, wawasan, dan observasi (Marquardt, 1996). Dapat dikatakanbahwa pendidikan formal merupakan satu cara untuk meningkatkan kemampuanindividu, selanjutnya organisasi atau kelompok memperoleh keuntungan dari berbagaiaktivitas individu terdidik tersebut. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaranmerupakan sebuah fenomena dimana organisasi atau kelompok memperolehkeuntungan dari anggotanya yang terampil. Pada saat ini, pembelajaran individu tidakmenjamin pembelajaran organisasi, tetapi pembelajaran organisasi tidak akan terjaditanpa pembelajaran individu (Garvin, 2000; Kim, 1993).

2.1.2 Tujuan

Tujuan individual learning bagi para peserta didik adalah agar mereka secaramandiri dapat mengatur tujuan pembelajaran jangka pendek dan jangka panjang yangingin dicapai, melacak kemajuan dan prestasi selama waktu periode tertentu. Bagidosen/fasilitator individual learning memungkinkan tersedianya sistem untukmenetapkan dan memantau tujuan pembelajaran setiap peserta didik, mendorongpeserta didik untuk mengambil kepemilikan pendidikan/pembelajaran mereka sendiri.Secara ringkas, dengan individual learning memungkinkan dosen/fasilitator dan pesertadidik dapat mengakses dan menentukan tujuan pembelajaran pribadi, mengidentifikasimasalah dan kemajuan dokumen dan hasil dalam format cepat dan sederhana.

2.1.3 Manfaat

Model pembelajaran ini mampu memenuhi kepentingan peserta didik secaraindividual. Salah satu model pembelajaran individu model Keller Plan ialah membukakesempatan bagi peserta didik untuk belajar menurut kecepatan masing-masing,dengan cirinya adalah: a) memungkinkan peserta didik belajar sendiri; b)memperhatikan perbedaan kecepatan belajar peserta didik; c) terdapat kejelasan

tujuan yang harus dipahami; d) memungkinkan peserta didik berpartisipasi aktif; e)secara optimal menerapkan belajar tuntas.

2.1.4 Sifat

Dalam individual learning, instruktur/fasilitator sangat terlibat dan responsifterhadap kebutuhan individual dari setiap peserta dalam mengembangkan danmembentuk tujuan...

Recommended

View more >