of 22 /22
FIRWAN TEAMPACOOL SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN WELCOME TO MY BLOG Senin, 08 April 2013 LAPORAN PENDAHULUAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) LAPORAN PENDAHULUAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) 1. ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA. Indera pendengaran merupakan bagian dari organ sensori khusus yang mampu mendeteksi sebagai stimulus bunyi. Indera pendengaran sangat penting dalam percakapan dan komunikasi sehari-hari. Organ yang berperan dalam indera pendengaran adalah telinga. STRUKTUR TELINGA: 1. Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna / aurikula) dan saluran telinga luar (meatus auditorius eksternus). Daun telinga terletak di dua sisi kepala setinggi mata. Tersusun oleh

Otitis Media Supuratif Kronik OMSK Docx

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mengenal OMSK

Text of Otitis Media Supuratif Kronik OMSK Docx

  • FIRWAN TEAMPACOOL

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

    WELCOME TO MY BLOG

    Senin, 08 April 2013

    LAPORAN PENDAHULUAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

    (OMSK)

    LAPORAN PENDAHULUAN OTITIS MEDIA SUPURATIF

    KRONIK (OMSK)

    1. ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA.

    Indera pendengaran merupakan bagian dari organ sensori khusus yang mampu

    mendeteksi sebagai stimulus bunyi. Indera pendengaran sangat penting dalam percakapan

    dan komunikasi sehari-hari. Organ yang berperan dalam indera pendengaran adalah telinga.

    STRUKTUR TELINGA:

    1. Telinga Luar

    Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna / aurikula) dan saluran telinga luar (meatus

    auditorius eksternus). Daun telinga terletak di dua sisi kepala setinggi mata. Tersusun oleh

  • tulang rawan atau kartilago dan otot kecil yang di lapisi oleh kulit sehingga menjadi tinggi

    keras dan lentur. Daun telinga di persarafi oleh saraf fasialis. Fungsi dari daun telinga adalah

    mengumpulkan gelombang suara untuk di teruskan kesaluran telinga luar yang selanjutnya ke

    gendang telinga.

    Saluran telinga luar merupakan lintasan yang sempit, panjangnya sekitar 2,5 cm dari

    dauun telinga ke membran timpani. Saluran ini tidak beraturan dan di lapisi oleh kulit yang

    mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa yang menghasilkan serumen. Serumen ini

    berfungsi untuk melindungi kulit dari bakteri, menangkap benda asing yang masuk ke telinga.

    Serumen juga dapat mengganggu pendengaran jika terlalu banyak. Batas telinga luar dengan

    telinga tengah adalah membran timpani atau gendang telinga.

    Membran timpani berbentuk kerucut dengan diameter sekitar 1 cm. Tersusun atas tiga

    lapisan, yaitu bagian luar adalah lapisan epitel, bagian tengah lapisan fibrosa dan lapisan

    dalam adalah mukosa. Fungsi dari membran timpani adalah melindungi organ telinga tengah

    dan menghantarkan fibrilasi suara dari telinga luar ke tulang pendengaran (osikel). Kekuatan

    getaran suara mempengaruhi tegangan, ukuran, dan ketebalan membran timpani.

    2. Telinga Tengah

    Telingga tengah merupakan rongga yang berisi udara dalam bagian petrosus tulang

    temporal. Rongga tersebut di lalui oleh tiga tulang kecil yaitu meleus, inkus, dan stapes yang

    membentang dari membran timpani keforamen ovale. Sesuai dengan namanya tulang meleus

    bentuknya seperti palu dan menempel pada membran timpani. Tulang inkus mehubungkan

    meleus dengan stapes dan tulang stapes melekat pada jendela oval di pintu masuk telinga

    dalam. Tulang stapes di sokong oleh otot stapedius yang berperan menstabilkan hubungan

    antara stapes dengan jendela oval dan mengatur hantaran suara. Jika telinga menerima suara

    yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang akan kaku ,

    sehingga hanya sedikit suara yang di hantarkan. Fungsi dari tulang-tulang pendengaran

    adalah mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenesta vestibuli yang merupakan

    pemisah antara telinga tengah dengan telinga dalam.

    Rongga telinga tengah berhubungan dengan tuba eustachius yang menghubungkan

    telinga tengah dengan faring. Fungsi tuba eustachius adalah untuk keseimbangan tekana

    antara sisi timpani dengan cara membuka atau menutup. Pada keadaan biasa tuba menutup,

    tetapi dapat membuka pada saat menguap, menelan atau mengunyah.

    3. Telinga Dalam atau Labirin.

    Telinga dalam atau labirin mengandung organ-organ yang sensitif untuk pendengaran,

    keseimbangan dan saraf kranial ke delapan. Telinga dalam berisi cairan dan berada pada

    petrosa tulang temporal. Telinga dalam tersusun atas dua bagian yaitu labirin tulangg dan

    labiriin membranosa.

    a. Labirin Tulang

    Labirin tulang merupakan ruang berisikan cairan menyerupai cairan serebrospinalis

    yang di sebut cairn perilimf. Labirin tulang tersusun atas vestibula, kanalis semisirkularis dan

    koklea. Vestibula menghubungkan koklea dengan kanalis semisirkularis. Saluran

    semisirkularis merupakan tiga saluran yang berisi cairan yang berfungsi menjaga

    keseimbangan pada saat kepala di gerakkan. Cairan tersebut bergerak di salah satu saluran

    sesuai arah gerakan kepala. Saluran ini mengandung sel-sel rambut yang memberikan respon

    terhadap gerakan cairan untuk disampaikan pesan ke otak sehingga terjadi proses

    keseimbangan. Koklea berbentuk seperti rumah siput, didalamnya terdapat duktus koklearis

    yang berisi cairan endolimf dan banyak reseptor pendengaran. Koklea bagian labirin di bagi

    atas tiga ruangan (skala) yaitu bagian atas disebut skala vestibuli, bagian tengah disebut skala

  • media, dan pada bagian dasar disebut skala timpani. Antara skala vestibuli dengan skala

    media dipisahkan oleh membran reisier dan antara skala media dengan skala timpani

    dipisahkan oleh membran basiler.

    b. Labirin Membranosa.

    Labirin membranosa terendam dalam cairan perilimf dan mengandung cairan endolimf.

    Kedua cairan tersebut terdapat keseimbangan yang tepat dalam telinga dalam sehingga

    pengaturan keseimbangan tetap terjaga. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, sakulus,

    dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organ korti. Utrikulus terhubung dengan

    duktus semisirkularis, sedangkan sakulus terhubung dengan duktus koklearis dalam koklea.

    Organ korti terletak pada membrane basiler, tersusun atas sel-sel rambut yang merupakan

    reseptor pendengaran. Ada dua tipe sel rambut yaitu sel rambut baris tunggal interna dan tiga

    baris sel rambut eksterna. Pada bagian samping dan dasar sel rambut bersinap dengan

    jaringan ujung saraf koklearis.

    Mekanisme Pendengaran :

    Gelombang suara dari luar dikumpulkan oleh daun telinga (pinna), masuk ke saluran

    eksterna pendengaran (meatus dan kanalis auditorius eksterna) yang selanjutnya masuk ke

    membrane timpani. Adanya gelombang suara yang masuk ke membrane timpani

    menyebabkan membrane timpani bergetar dan bergerak maju mundur. Gerakan ini juga

    mengakibatkan tulang-tulang pendengaran seperti meleus, inkus, dan stapes ikut bergerak dan

    selanjutnya stapes menggerakkan foramen ovale serta menggerakkan cairan perilimf pada

    skala vestibule. Getaran selanjutnya melalui membrane reisner yang mendorong endolimf

    dan membrane basiler ke arah bawah dan selanjutnya menggerak perilimf pada skala timpani.

    Pergerakan cairan dalam skala timpani menimbulkan potensial aksi pada sel rambut yang

    selanjuttnya diubah menjadi inpuls listrik. Inpuls listrik selanjutnya dihantarkan ke nukleus

    koklearis, thalamus kemudian korteks pendengaran untuk diasosiasikan. (Tarwoto, 2009 :

    234-253).

    2. PENGERTIAN Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan

    perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga tengah secara terus menerus atau

    hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening, atau berupa nanah. Biasanya disertai

    gangguan pendengaran. (Arif Mansjoer, 2001 : 82).

    Jadi, menurut saya Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut

    dengan istilah sehari-hari congek. Dalam perjalanannya penyakit ini dapat berasal dari OMA

    stadium perforasi yang berlanjut, sekret tetap keluar dari telinga tengah dalam bentuk encer,

    bening ataupun mukopurulen. Proses hilang timbul atau terus menerus lebih dari 2 minggu

    berturut-turut. Tetap terjadi perforasi pada membran timpani. Perforasi yaitu membran

    timpani tidak intake / terdapat lubang pada membran timpani itu sendiri.

    3. ETIOLOGI. Sebagian besar Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari

    Otitis Media Akut (OMA) yang prosesnya sudah berjalan lebih dari 2 bulan. Beberapa faktor

    penyebab adalah terapi yang terlambat, terapi tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, dan daya

    tahan tubuh rendah. Bila kurang dari 2 bulan disebut subakut. Sebagian kecil disebabkan oleh

    perforasi membran timpani terjadi akibat trauma telinga tengah. Kuman penyebab biasanya

    kuman gram positif aerob, pada infeksi yang sudah berlangsung lama sering juga terdapat

    kuman gram negatif dan kuman anaerob. (Arif Mansjoer, 2001 : 82).

  • Kuman penyebab OMSK antara lain kuman Staphylococcus aureus (26%),

    Pseudomonas aeruginosa (19,3%), Streptococcus epidermidimis (10,3%), gram positif lain

    (18,1%) dan kuman gram negatif lain (7,8%). Biasanya pasien mendapat infeksi telinga ini

    setelah menderita saluran napas atas misalnya influenza atau sakit tenggorokan. Melalui

    saluran yang menghubungkan antara hidup dan telinga (tuba Auditorius), infeksi di saluran

    napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat menjalar sampai mengenai telinga.

    4. PATOFISIOLOGI. OMSK dibagi dalam 2 jenis, yaitu benigna atau tipe mukosa, dan maligna atau tipe

    tulang. Berdasarkan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif juga dikenal tipe aktif

    dan tipe tenang. (Arif Mansjoer, 2001 : 82).

    Pada OMSK benigna, peradangan terbatas pada mukosa saja, tidak mengenai tulang.

    Perforasi terletak di sentral. Jarang menimbulkan komplikasi berbahaya dan tidak terdapat

    kolesteatom. (Arif Mansjoer, 2001 : 82).

    OMSK tipe maligna disertai dengan kolesteatom. Perforasi terletak marginal, subtotal,

    atau di atik. Sering menimbulkan komplikasi yang berbahaya atau fatal. (Arif Mansjoer, 2001

    : 82).

    Kolesteotoma yaitu suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin).

    Deskuamasi terbentuk terus, lalu menumpuk. Sehingga kolesteotoma bertambah besar.

    PATHWAY OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

  • 5. TANDA DAN GEJALA Pasien mengeluh otore, vertigo, tinitus, rasa penuh ditelinga atau gangguan

    pendengaran. (Arif Mansjoer, 2001 : 82).

    Nyeri telinga atau tidak nyaman biasanya ringan dan seperti merasakan adanya tekanan

    ditelinga. Gejala-gejala tersebut dapat terjadi secara terus menerus atau intermiten dan dapat

    terjadi pada salah satu atau pada kedua telinga. (www.health central.com, 2004).

    1. Telinga berair (otorrhoe)

    Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer) tergantung

    stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga

    tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau

    busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran

    timpani dan infeksi. Keluarnya sekretbiasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret

    dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah

  • mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga.

    Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan

    produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap.

    Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena

    rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan

    adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang

    mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan

    tuberkulosis.

    2. Gangguan pendengaran

    Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanyadijumpai tuli

    konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan

    sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat

    menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli

    konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik.

    Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran

    lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani

    serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK

    tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran,

    tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang

    pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea

    biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui

    jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila

    terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat

    menggambarkan sisa fungsi kohlea.

    3. Otalgia ( nyeri telinga)

    Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu tanda

    yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri

    dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya

    durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga

    mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda

    berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus

    lateralis.

    4. Vertigo

    Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhanvertigo

    seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh

    kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak

    atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar

    membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan

    suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo

    juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius, karena

    infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga

    timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula perlu

    dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian

    tekanan positif dan negatif pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui

    rongga telinga tengah.

    TANDA KLINIS

    Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :

    a. Adanya Abses atau fistel retroaurikular

    b. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.

  • c. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom)

    d. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

    6. PENATALAKSANAAN.

    Menurut Arief Mansjoer, dkk. 2001 halaman 82 - 83 :

    Terapinya sering lama dan harus berulang-ulang karena :

    1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen

    2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal,

    3. Telah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid

    4. Gizi dan kebersihan yang kurang.

    Prinsip terapi OMSK tipe benigna ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila

    sekret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2

    3% selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan

    obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kartikosteroid. Banyak ahli berpendapat

    bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotika yang bersifat

    ototoksik. Oleh sebab itu penulis menganjurkan agar obat tetes telinga jangan diberikan

    secara terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara

    oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin, atau eritromisin, (bila pasien alergi

    terhadap penisilin), sebelum tes resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena

    penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.

    Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan,

    maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk

    menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi,

    mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta

    memperbaiki pendengaran.

    Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya infeksi

    berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu

    melakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi.

    Prinsip terapi OMSK tipe maligna ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi, bila

    terdapat OMSK tipe maligna, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi

    dengan atau tanpa timpanopplasti. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah

    merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses

    subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum

    kemudian dilakukan mastoidektomi.

    Infeksi telinga tengah dan mastoid.

    Rongga telinga tengah dan rongga mastoid berhubungan langsung melalui aditus

    adantrum. Oleh karena itu infeksi kronis telinga tengah yang sudah berlangsung lama

    biasanya disertai infeksi kronis di rongga mastoid. Infeksi rongga mastoid dikenal dengan

    mastoiditis. Beberapa ahli menggolongkan mastoiditis ke dalam komplikasi OMSK.

    Jenis pembedahan pada OMSK.

    Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK

    dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain adalah sebagai berikut :

    1. mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy),

    2. mastoidektomi radikal,

  • 3. mastoidektomi radikal dengan modifikasi,

    4. miringoplasti,

    5. timpanoplasti,

    6. pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty).

    Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau

    koleasteatom, sarana yang tersedia serta pengalaman operator.

    Sesuai dengan luasnya infeksi atau luasnya kerusakan yang sudah terjadi, kadang-

    kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau modifikasinya.

    1. Mastoidektomi sederhana.

    Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif

    tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan permbersihan ruang mastoid dari

    jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada

    operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

    2. Mastoidektomi Radikal.

    Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah

    meluas.

    Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan

    patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah tengah dengan rongga

    mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi suatu ruangan.

    Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah

    komplikasi ke intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

    Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya.

    Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol, supaya tidak terjadi infeksi kembali.

    Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat menghambat pendidikan atau karier pasien.

    Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta

    membuat meatal plasty yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat

    cacat anatomi, yaitu meatus luar liang telinga menjadi lebar.

    3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi Bondy)

    Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum

    merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang

    telinga direndahkan.

    Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid,

    dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

    4. Miringoplasti

    Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan

    nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani.

    Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK

    tipe benigna dengan perforasi yang menetap.

    Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian

    ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani.

    5. Timpanoplasti

    Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat

    atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa.

  • Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran.

    Menurut Fung 2004, terapi difokuskan kepada penghilangan gejala dan infeksi. Antibiotik

    mungkin dikesepkan untuk infeksi bakteri, terapi antibiotik biasanya untuk jangka panjang,

    yaitu melalui pemberian per oral atau tetes telinga jika ada perforasi membran tympani.

    Pembedahan untuk mengangkat adenoid mungkin cocok untuk membuka tuba eustachius.

    Pembedahan dengan membuka membrana tymponi (miringotomi) dengan maksud untuk

    mengalirkan atau mengeluarkan cairan dari daerah ditelinga dalam.

    Decangestan atau antibismin dapat digunakan untuk membantu mengeluarkan cairan

    dari tuba eustachius.

    Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga

    rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang

    dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, IV dan V.

    Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani

    dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang pula

    operasi ini terpaksa dilalakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.

    6. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty)

    Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK

    tipe maligna atau OMSK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas.

    Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa

    melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior ling telinga).

    Membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan

    melalui dua jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid

    dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe maligna

    belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali.

    7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagaiberikut :

    1. Pemeriksaan Audiometri

    Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tapi

    dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak

    perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga

    tengah. Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli

    sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui

    membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang

    secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi

    dapat meluas kebagian apek kohlea. Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian

    ringan, sedang, sedang berat, dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan (

    audiometri atau test berbisik). Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata

    kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang

    ekivalen dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut

    ISO 1964 dan ANSI 1969.

    Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran

    Normal : -10 dB sampai 26 dB Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB

  • Tuli total : lebih dari 90 dB. Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi kohlea.

    Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian

    tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan, dan bisa ditentukan

    manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. Untuk melakukan

    evaluasi ini, observasi berikut bias membantu :

    a. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB

    b. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif30-50 dB

    apabila disertai perforasi.

    c. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh

    menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.

    d. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran

    tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.

    Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengarandengan

    menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan maskingadalah dianjurkan,

    terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur.

    2. Pemeriksaan Radiologi.

    Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilaidiagnostiknya

    terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri. Pemerikasaan radiologi

    biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi

    leb ih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama

    pada daerah atik memberi kesan kolesteatom. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa

    digunakan adalah :

    a. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dariarah lateral dan

    atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan

    tegmen. Pada keadaan mastoid yang skleritik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli

    bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.

    b. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akantampak

    gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan

    tulang telah mengenai struktur-struktur.

    c. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosusdan yang lebih jelas

    memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi

    ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya

    pembesaran akibatkolesteatom.

    d. Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat

    memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat

    menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-tulang

    pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.

    Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada

    keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan

    adanya penyakit mastoid.

    8. PROGNOSIS

    Biasanya OMC berespon terhadap terapi dapat terjadi dalam beberapa bulan. Biasanya

    kerusakan bukan merupakan suatu ancaman bagi kehidupan penderita tetapi dapat

  • menyebabkan ketidak nyamanan dan dapat berakhir dengan komplikasi yang serius (Fung,

    2004).

    9. KOMPLIKASI

    Kerusakan yang permanen dari telinga dengan berkurangnya pandangan atau ketulian.

    Mastuiditis

    Cholesteatoma

    Abses apidural (peradangan disekitar otak)

    Paralisis wajah

    Labirin titis. (Fung, 2004)

    Menurut Arief Mansjoer, dkk. 2001 halaman 82 :

    Paralisis nervus fasialis, fistula labirin, labirinitis, labirinitis supuratif, petrositis,

    tromboflebitis sinus lateral, abses ekstra dural, abses subdural, meningitis, abses otak, dan

    hidrosefalus otitis.

    10. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Resiko terjadi injuri / trauma berhubungan dengan ketidakseimbangan labirin : vertigo

    Tujuan : Pasien tidak mengalami injuri / trauma dengan :

    - Mengurangi / menghilangkan vertigo / pusing

    - Mengembalikan keseimbangan tubuh

    - Mengurangi terjadinya trauma

    Intervensi :

    a. Kaji ketidakseimbangan tubuh pasien

    b. Observasi tanda vital

    c. Beri lingkungan yang aman dan nyaman

    d. Anjurkan teknik relaksasi untuk mengurangi pusing

    e. Penuhi kebutuhan pasien

    f. Libatkan keluarga untuk menemani saat pasien bepergian

    g. Kolaborasi pemberian analgetik

    h. Evaluasi :

    - Pusing berkurang - Pasien tidak mengalami injuri

    b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan

    OMA yang tepat.

    Tujuan : Pengetahuan pasien tentang penatalaksanaan OMA meningkat

    Intervensi :

    a. Kaji tingkat pengetahuan pasien

    b. Berikan informasi berkenaan dengan kebutuhan pasien

    c. Susun bersama hasil yang diharapkan dalam bentuk kecil dan realistik untuk memberikan

    gambaran pada pasien tentang keberhasilan

    d. Beri upaya penguatan pada pasien

    e. Gunakan bahasa yang mudah dipahami

    f. Beri kesempatan pada pasien untuk bertanya

  • g. Dapatkan umpan balik selama diskusi dengan pasien

    h. Pertahankan kontak mata selama diskusi dengan pasien

    i. Berikan informasi langkah demi langkah dan lakukan demonstrasi ulang bila mengajarkan

    prosedur

    j. Beri pujian atau reinforcement positif pada klien

    k. Evaluasi :

    - Pasien menyatakan pemahaman tentang pemberian informasi

    - Pasien mampu mendemonstrasikan prosedur dengan tepat.

    c. Cemas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan

    Tujuan : Kecemasan pasien berkurang / hilang

    Intervensi :

    a. Kaji tingkat kecemasan pasien dan keluarga tentang prosedur tindakan pembedahan

    b. Jelaskan pada pasien tentang apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah tindakan

    pembedahan

    c. Berikan reinforcement positif atas kemampuan pasien

    d. Libatkan keluarga untuk memberikan semangat pada pasien

    e. Evaluasi :

    - Pasien tidak cemas

    - Keluarga mau menemani pasien

    Post Operasi : 1. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan mastoidektomi

    Tujuan : Nyeri pasien berkurang

    Intervensi :

    a. Kaji tingkat nyeri pasien

    b. Kaji faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

    c. Ajarkan teknik relaksasi untuk menghilangkan nyeri

    d. Anjarkan pada pasien untuk banyak istirahat baring

    e. Beri posisi yang nyaman

    f. Kolaborasi pemberian analgetik

    g. Evaluasi : Nyeri hilang

    2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan post operasi mastoidektomi

    Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi

    Intervensi :

    a. Kaji kemungkinan terjadi infeksi / tanda-tanda infeksi

    b. Observasi pasien

    c. Lakukan perawatan ganti balutan dengan teknik steril setelah 24 jam dari operasi

    d. Kaji keadaan daerah poerasi

    e. Ganti tampon setiap hari

    f. Pasang pembalut tekan bila dilakukan insisi mastoid

    g. Bersihkan daerah operasi setelah 2 3 minggu h. Anjurkan pasien untuk kontrol

    i. Kolaborasi pemberian antibiotic

    j. Evaluasi :

    - Infeksi tidak terjadi

    - Luka operasi dalam kondisi baik

  • DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1998, Otitis Media Chronic, http://www.healthcentral.com

    Fung, K., 2004, Otitis Media Chronic, http://www.medline.com

    Mansjoer, Arif. dkk. (2001). Kapita Selwkta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Media

    Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.

    Tarwoto, Aryani. Ratna, Wartonah. (2009). ANATOMI DAN FISIOLOGI untuk MAHASISWA

    KEPERAWATAN. Jakarta : Trans Info Media.

  • OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

    Published : 18.01 Author : Akademik Ibnu Sina FK UNILA

    Otitis media supuratif

    Otitis media akut (OMA)

    Otitis media supuratif kronik

    Otitis media non-supuratif

    Otitis media serosa akut (barotraumas = aerotitis)

    Otitis media serosa kronik

    Otitis media spesifik

    Otitis media tuberkulosa

    Otitis media sifilitika

    Otitis media adhesive

    ETIOLOGI Otitis media supuratif kronik adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi

    membrane timpani dan sekret yang keluar dari tengah terus-menerus atau hilang timbul dan

    sekretnya mungkin encer, kental, bening atau berupa nanah.

    Terdapat beberapa etiologi dari otitis media diantaranya adalah:

    Gangguan fungsi tuba

    Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal

    ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang

    inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan

    umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi

    normal.

    Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada

    OMSK adalah:

    Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret

    telinga purulen berlanjut.

    Obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

    Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi

    epitel.

    Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas

    sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari

    perforasi.

    Infeksi

    Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada

    otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang

    digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora

    tipe usus, dan beberapa organisme lainnya.

  • Riwayat infeksi telinga tengah

    Sumbatan (secret,tumor,tampon)

    Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba

    Alergi

    Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang

    bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap

    antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti

    kemungkinannya.

    Autoimune

    Lingkungan

    Hubungan penderita OMSK dan faktor sosioekonomi belum jelas, tetapi kelompok

    sosioekonomi rendah memiliki insiden OMSK yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir

    dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang

    padat.

    Hal-hal tersebut menyebabkan gangguan pada tuba eustachius. Terjadi perubahan tekanan

    udara di telinga dari tekanan positif menjadi negative sehingga terbentuklah efusi. Efusi di

    liang telinga tengah dapat sembuh dengan sendiri. Dapat juga terjadi otitis media efusi

    (OME) bila efusi tetap ada karena tuba eustachius tetap terganggu tetapi tidak terdapat

    infeksi. Bila tuba eusthacius tetap terganggu dan terdapat infeksi maka terjadi otitis media

    akut (OMA). Otitis media akut dapat sembuh sendiri tetapi dapat juga terus berlanjut menjadi

    otitis media supuratif kronis (OMSK). Faktor predisposisi yang menyebabkan OMA dapat

    berlanjut menjadi OMSK adalah sbb:

    1. Terapi yang terlambat 2. Terapi yang tidak adekuat 3. Virulensi kuman tinggi 4. Daya tahan tubuh rendah 5. Hygiene yang kurang terjaga.

    Pada anak, semakin sering terkena infeksi saluran napas, makin tinggi resiko terkena OMA

    yang bila penanganannya dan terapinya terlambat dan tidak adekuat dapat berlanjut menjadi

    OMSK. Pada bayi terjadinya otitis media dipermudah karena tuba eustachiusnya yang

    pendek, lebar dan horizontal.

    PATOGENESIS

  • Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan dari OMA dengan perforasi membrane

    timpani yang sudah terjadi lebih dari 2 bulan. Berdasarkan perubahan mukosa tengah maka

    terdapat 5 stadium terjadinya Otitis Media Akut (OMA) yang bila berlangsung terus-menerus

    selama 2 bulan dapat menjadi Otitis Media Supuratif Akut (OMSK).

    1. Stadium oklusi tuba Eustachius

    Tanda adanya oklusi tuba yaitu gambaran retraksi membrane timpani akibat terjadinya

    tekanan negative di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membrane

    timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah

    terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini susah dibedakan dengan otitis media serosa

    yang disebabkan oleh virus atau alergi.

    2. Stadium hiperemis (pre-supuratif)

    Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh

    membrane timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin

    masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar dilihat.

    3. Stadium supuratif

    Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial serta

    terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membrane timpani

    menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar. Pada stadium ini pasien tampak sangat sakit,,

    nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan pus di

    kavum tidak berkurang maka terjadi ischemia akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta

    timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan sub-mukosa. Nekrosis

    ini pada membrane timpani tampak sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna

  • kekuningan dan di tempat ini akan terjadi rupture. Bila tidak dilakukan insisi membran

    timpani (miringitomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan

    rupture dan pus keluar ke liang telinga luar.

    4. Stadium perforasi

    Karena beberapa sebab seperti terlambatnya diberikan antibiotika atau virulensi kuman yang

    tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani dan pus mengalir keluar dari telinga

    tengah ke liang telinga luar. Anaknya yang tadinya gelisah menjadi tenang, suhu badan turun,

    dan dapat tertidur nyenyak.

    5. Stadium resolusi

    Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani perlahan-lahan akan

    normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi maka secret akan berkurang dan akhirnya kering.

    OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan secret yang keluar terus-

    menerus atau hilang timbul.

    Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK.

    Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik.

    1. Perforasi sentral = Perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan diseluruh tepi perforasi masih ada sisa membrane timpani.

  • 2. Perforasi marginal = Pada perforasi marginal ini maka sebagian tepi perforasi langsung

    berhubungan dengan annulus atau sulkus timpanikum.

    3. Perforasi atik = Perforasi ini adalah perforasi yang terletak di pars flaksida.

    JENIS OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

    1. OMSK tipe aman (tipe mukosa/benigna) = Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang dan perforasinya

    terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang

    berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma.

    2. OMSK tipe bahaya (tipe tulang/maligna), Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna yaitu OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe

    ini terletak di marginal atau di atik, kadang-kadang juga terdapat kolesteatoma pada

    OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi timbul pada OMSK tipe

    ini.

    3.

    Berdasarkan secret yang keluar maka dikenal juga 2 jenis OMSK yaitu:

    1. OMSK tipe aktif

  • OMSK tipe aktif merupakan OMSK dengan secret yang keluar dari kavum timpani secara

    aktif.

    1. OMSK tipe tenang

    OMSK tipe tenang merupakan keadaan dimana kavum timpani terlihat basah atau kering.

    GEJALA KLINIS 1. Telinga Berair (Otorrhoe)

    Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe jinak,

    cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi

    mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret

    biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga.

    Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena

    rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan

    adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang

    mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan

    tuberkulosis.

    2. Gangguan Pendengaran

    Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian

    tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas

    sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli

    konduktif berat.

    3. Otalgia (Nyeri Telinga)

    Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti

    adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau

    dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda

    berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus

    lateralis.

    4. Vertigo

    Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding

    labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang

    mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena

    perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang

    oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan

    vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.

    KOMPLIKASI Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang

    menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya

    pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien

    OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman

    yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi intra

    kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan

    dengan kolesteatom.

    A. Komplikasi ditelinga tengah :

    1. Perforasi persisten

    2. Erosi tulang pendengaran

    3. Paralisis nervus fasial

    B. Komplikasi telinga dalam

    1. Fistel labirin

    2. Labirinitis supuratif

  • 3. Tuli saraf ( sensorineural)

    C. Komplikasi ekstradural

    1. Abses ekstradural

    2. Trombosis sinus lateralis

    3. Petrositis

    D. Komplikasi ke susunan saraf pusat

    1. Meningitis

    2. Abses otak

    3. Hindrosefalus otitis

    Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam

    lintasan:

    1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak

    2. Menembus selaput otak.

    3. Masuk kejaringan otak.

    PENATALAKSANAAN Prinsip pengobatan OMSK adalah:

    1. 1. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. 2. 2. Pemberian antibiotika:

    1. a. Topikal antibiotik ( antimikroba)

    Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan

    dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang

    mengandung antibiotik dan kortikosteroid.Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan

    agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya

    neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik

    dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Bubuk telinga yang digunakan

    seperti:

    Acidum boricum dengan atau tanpa iodine

    Terramycin

    Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

    Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang

    dikombinasi dengan pembersihan telinga. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis

    media kronik adalah :

    Polimiksin B atau polimiksin E

    Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli Klebeilla,

    Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal

    dan susunan saraf.

    Neomisin

    Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus, Proteus

    sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.

    Kloramfenikol

  • Obat ini bersifat bakterisid

    1. sistemik antibiotik

    Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.

    Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada

    pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama

    daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman

    terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah

    antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis

    tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam.

    Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah:

    Pseudomonas : Aminoglikosida karbenisilin

    P. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin

    P. morganii, P. vulgaris : Aminoglikosida Karbenisilin

    Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida

    E. coli : Ampisilin atau sefalosforin

    S. Aureus : penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida

    Streptokokus : Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida

    B. fragilis : Klindamisin

    Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam

    nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi

    tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin generasi

    III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus

    diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK

    belum pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek

    bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan

    dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg

    per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu.