15
Otitis Media Akut: dari Diagnosis hingga Pencegahannya. Ringkasan Pedoman Italia 1. PENDAHULUAN Otitis Media Akut (OMA) adalah penyakit bakteri yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak: hampir semua anak mengalami setidaknya satu episode, dan mengalaminya sekitar dua pertiga atau lebih episode dalam 3 tahun pertama kehidupan. Data Eropa, yang juga mencakup sampel dari subyek Italia, menunjukkan bahwa kejadian tahunan OMA pada anak-anak adalah 268 episode per 1.000 anak. Jika kita mempertimbangkan populasi anak Italia dan tingkat insiden dalam rentang usia yang berbeda, dapat dihitung bahwa hampir satu juta kasus OMA didiagnosis di Italia setiap tahunnya. Penyakit ini memiliki efek besar terhadap sisi medis, sosial dan ekonomi. Penyakit ini juga selalu membutuhkan implikasi klinis dan dana yang cukup besar karena melibatkan setidaknya satu pemeriksaan oleh dokter dan resep antipiretik, serta tergantung pada negara, antibiotik (lebih dari 80% kasus di Italia dan sekitar 40% di Jerman). Selain itu, OMA dapat menyebabkan komplikasi utama seperti mastoiditis. Biaya tidak langsung sering lebih tinggi, terutama karena hilangnya hari kerja orang tua. Dampaknya, gejala akut dan kambuh- kambuhan mengindikasikan bahwa OMA memiliki dampak yang cukup besar pada kualitas hidup anak-anak dan keluarga mereka. Cara penelitian OMA telah banyak berubah selama beberapa tahun terakhir karena tersedianya instrumen baru yang memberikan diagnosis yang lebih tepat; penelitian yang memiliki kemanjuran terapi antibiotik dan pemilihan pasien yang akan dirawat; dan vaksin yang memiliki khasiat pencegahan. Namun, variasi ini lebih lambat diterima oleh petugas kesehatan dan hal ini berarti bahwa ada kebutuhan untuk menerjemahkan pengetahuan yang baru

Otitis Media Akut

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Otitis Media Akut

Citation preview

Page 1: Otitis Media Akut

Otitis Media Akut: dari Diagnosis hingga Pencegahannya.

Ringkasan Pedoman Italia

1. PENDAHULUAN

Otitis Media Akut (OMA) adalah penyakit bakteri yang paling umum

terjadi pada bayi dan anak-anak: hampir semua anak mengalami setidaknya satu

episode, dan mengalaminya sekitar dua pertiga atau lebih episode dalam 3 tahun

pertama kehidupan. Data Eropa, yang juga mencakup sampel dari subyek Italia,

menunjukkan bahwa kejadian tahunan OMA pada anak-anak adalah 268 episode

per 1.000 anak. Jika kita mempertimbangkan populasi anak Italia dan tingkat

insiden dalam rentang usia yang berbeda, dapat dihitung bahwa hampir satu juta

kasus OMA didiagnosis di Italia setiap tahunnya.

Penyakit ini memiliki efek besar terhadap sisi medis, sosial dan ekonomi.

Penyakit ini juga selalu membutuhkan implikasi klinis dan dana yang cukup

besar karena melibatkan setidaknya satu pemeriksaan oleh dokter dan resep

antipiretik, serta tergantung pada negara, antibiotik (lebih dari 80% kasus di Italia

dan sekitar 40% di Jerman). Selain itu, OMA dapat menyebabkan komplikasi

utama seperti mastoiditis. Biaya tidak langsung sering lebih tinggi, terutama

karena hilangnya hari kerja orang tua. Dampaknya, gejala akut dan kambuh-

kambuhan mengindikasikan bahwa OMA memiliki dampak yang cukup besar

pada kualitas hidup anak-anak dan keluarga mereka.

Cara penelitian OMA telah banyak berubah selama beberapa tahun

terakhir karena tersedianya instrumen baru yang memberikan diagnosis yang

lebih tepat; penelitian yang memiliki kemanjuran terapi antibiotik dan pemilihan

pasien yang akan dirawat; dan vaksin yang memiliki khasiat pencegahan.

Namun, variasi ini lebih lambat diterima oleh petugas kesehatan dan hal ini

berarti bahwa ada kebutuhan untuk menerjemahkan pengetahuan yang baru

Page 2: Otitis Media Akut

diperoleh ke dalam rekomendasi ilmiah secara tepat yang menggabungkan

temuan terbaru dengan ilmu terdahulu.

1.1 LATAR BELAKANG PEDOMAN ITALIA

Berbagai upaya telah dilakukan secara nasional dan internasional

untuk memperjelas cara yang paling tepat di mana OMA harus dikelola

(lihat Lampiran B). Terdapat perbedaan besar sehubungan dengan kriteria

diagnostik dan metode diagnostik yang digunakan (misalnya otoskopi

pneumatik, timpanometri dan otoskopi). Dalam kebanyakan pedoman,

antibiotik diindikasikan untuk anak-anak dengan OMA di bawah usia 6

bulan. Untuk anak yang lebih tua (6-24 bulan) indikasinya berbeda antara

negara: beberapa pedoman merekomendasikan antibiotik pada semua anak

dengan OMA, sedangkan pedoman yang lain menyarankan untuk

meresepkan antibiotik sesuai dengan adanya efusi, demam, durasi keluhan

dan komorbiditas. Dalam kebanyakan pedoman, amoksisilin adalah pilihan

pertama, namun tidak ada konsensus internasionalnya. Di Italia, masalah

pengelolaan OMA telah dihadapi di tingkat lokal maupun regional dengan

berbagai macam rekomendasi, tanpa dukungan resmi dari golongan

ilmuwan. Terdapat konsensus pediatri secara menyeluruh bahwa AAP 2004

dan pedoman klinis praktis AAFP kadang dapat diberlakukan untuk pasien

Italia, namun konsensus ini tidak dimiliki oleh otolaringologis. Selain itu,

pedoman AAP 2004 belum diperbarui, sementara data literatur baru telah

tersedia. Kesenjangan ini dipenuhi oleh Ahli Pediatri Italia, didorong oleh

golongan Pediatri Pencegahan Italia dan golongan Otolaringologi Pediatri

Italia, yang mengkoordinasikan persiapan pedoman Multidisiplin Nasional

Italia. Partisipasi dari bagian pediatri dan otolaringologis dalam proyek yang

sama tidak akan terbentuk hingga beberapa tahun yang lalu dan telah

disepakati bahwa strategi ini sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan OMA

ditangani oleh dua ahli tersebut sehingga penggunaan pendekatan diagnostik

Page 3: Otitis Media Akut

dan terapetik yang berbeda dapat menyebabkan kebingungan. Selain itu,

proyek bersama ini dapat mencegah adopsi dari bahasa klinis umum yang

menghambat pendekatan multidisiplin optimal. Hasil dari pedoman tersebut

meliputi rekomendasi yang paling relevan untuk pengelolaan OMA dan

perbedaannya dengan pedoman internasional.

1.2 TUJUAN PEDOMAN

Pedoman Italia hanya memeriksa pengelolaan OMA pada anak-

anak, sedangkan pengelolaan otitis media akut berulang, otitis media dengan

efusi atau otitis media supuratif kronis tidak termasuk. Persetujuan pedoman

hanya pada anak-anak usia 2 bulan sampai 12 tahun, tidak termasuk subyek

dengan imunodepresi kongenital maupun didapat, perforasi kronis spontan

pada gendang telinga, penyakit kronis yang mendasari kolonisasi nasofaring

oleh patogen yang tidak umum (misalnya fibrosis kistik), atau malformasi

cranio-facial. Periode neonatal (diperpanjang hingga 2 bulan pertama

kehidupan) juga tidak termasuk karena penyakit ini jarang terjadi selama

periode ini, etiologinya juga berbeda dari yang biasa terlihat pada anak-anak,

dan hanya sedikit penelitian yang diterbitkan.

1.3 PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PEDOMAN

Dokumen ini dibuat sesuai dengan rekomendasi-rekomendasi yang

dibuat dalam Manual for Writing Clinical Practice Guidelines of the

Programma Nazionale Linee Guida (PNLG: Program Pedoman Nasional

Italia). Perhimpunan Ilmiah yang disebutkan di atas menciptakan kelompok

multidisiplin ahli dari semua bidang terkait (termasuk perwakilan dari orang

awam dan konsumen), yang mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan klinis

kunci yang terkait dengan (a) diagnosis, (b) pengobatan, (c) komplikasi dan

(d) pencegahan OMA, serta berkonsentrasi pada hal yang memiliki

Page 4: Otitis Media Akut

ketidakpastian terbesar. Pencarian literatur termasuk tinjauan sistematis dan

protokol, baik yang dikembangkan oleh kolaborasi Cochrane maupun yang

tidak, menghasilkan pedoman dan dokumen lain yang menyediakan bukti

dari efektivitas pengobatan, randomised control trial, dan jenis-jenis

penelitian utama pada masalah-masalah klinis yang tidak tercakup dalam

tinjauan sistematik.

2. DIAGNOSIS

2.1 DIAGNOSIS TERTENTU

Panel tersebut menyatakan bahwa diagnosis yang benar dari OMA

sangat penting untuk menghindari hal yang tidak berguna, tidak dapat

dibenarkan, dan prosedur terapi yang berpotensi membahayakan dan mahal.

Para ahli sepakat bahwa semua upaya praktisi, baik dokter anak atau

otolaringologis, harus ditujukan untuk diagnosis tertentu OMA.

Rekomendasinya adalah :

Diagnosis OMA dipastikan hanya ketika hal berikut ini dapat secara

bersamaan menunjukkan :

(1) Akut, gejala yang baru terjadi.

(2) Tanda-tanda peradangan pada membran timpani.

(3) Kehadiran efusi pada telinga tengah..

Selain itu, pedoman ini mengingatkan bahwa demonstrasi

peradangan membran timpani dan efusi telinga tengah harus didasarkan

pada:

(a) Temuan otoskopi ditandai eritema dari membran timpani, dengan bulging

dan tidak adanya mobilitas karena adanya efusi telinga tengah atau

(b) Temuan otoskopi kekuningan dari membran dengan mengamati adanya

bahan purulen di telinga tengah atau

Page 5: Otitis Media Akut

(c) adanya perforasi spontan dengan otorrhea. Bulging adalah tanda klinis

yang dianggap optimal untuk mendeteksi efusi telinga tengah seperti

memiliki korelasi terdekat dengan bakteri pada OMA yang dipastikan

dengan tympanocentesis. Kemerahan saja dari membran timpani dianggap

tidak cukup untuk menegakkan diagnosis.

INSTRUMEN DIAGNOSTIK

Panel memutuskan bahwa penggunaan otoscope pneumatik adalah sebagian

cara sederhana dan efisien yang mendukung diagnosis. Hal ini juga membuat

semakin jelas bahwa pemeriksaan otoskopi harus mengarah pada identifikasi dan

deskripsi semua fitur dari membran timpani di kedua sisi dan dengan demikian dokter

anak harus selalu rinci melihat temuan otoskopi dalam rekam medis anak. Dalam

kasus tertentu, jika tidak ada otoscope pneumatik, dokter anak diijinkan untuk

menggunakan otoscope statis dalam kombinasi dengan tympanometer atau

reflectometer. Sebagai alternatif, dokter anak harus merujuk pasien ke THT yang

dapat menggunakan instrument otomicroscopy dan/atau otoendoscopy selain yang

telah disebutkan sebelumnya .

Otoscope pneumatik diindikasikan sebagai instrumen optimal oleh beberapa

pedoman (Kanada, Inggris, Finlandia, Perancis, Jerman, Israel, Skotlandia, Swedia,

Amerika Serikat), namun sejauh ini sebagian besar sudah tidak digunakan di Italia.

Namun pada panel multidisiplin, dengan pikiran diagnosis tertentu disimpulkan

bahwa instrumen yang melampaui fase pneumatik adalah hal terbaik dalam

mendiagnosis OMA. Pedoman ini menyoroti pentingnya hal yang sering diremehkan

yaitu karakteristik dari suatu otoscope yang optimal seperti sumber cahaya yang tepat

(dengan baterai yang harus diganti secara berkala) dan peralatan dengan spekulum

yang tidak berwarna dengan ukuran yang berbeda dalam rangka untuk menghindari

dispersi cahaya dan memungkinkan spekulum yang akan dipilih pada dasar ukuran

saluran pendengaran.

Page 6: Otitis Media Akut

PENGANGKATAN KOTORAN TELINGA

Berbeda dengan sebagian besar pedoman yang ada, yang mengabaikan

pentingnya kotoran telinga, panel memutuskan untuk menekankan bahwa kanal

eksternal harus benar-benar bebas dan membran timpani sepenuhnya terlihat. Untuk

mengatasi kemungkinan konflik antara spesialis dan pada saat yang sama untuk

menghargai kemampuan yang berbeda, para ahli merekomendasikan bahwa kotoran

telinga harus dihapus oleh dokter anak atau otolaringologis tergantung pada

metodologi kesulitan dan kekhasan pengaturan lokal dan sumbatan kanal auditorik

eksternal lainnya yang seharusnya ditangani oleh otolaringologis. Namun, tidak ada

metode khusus yang disarankan karena tidak ada sistem pengangkatan kotoran telinga

(irigasi, obat tetes telinga atau penghapusan manual) yang terbukti lebih unggul

daripada yang lain.

3. PENGOBATAN

3.1 SAKIT TELINGA

Panel menyetujui bahwa tujuan pertama pengobatan adalah untuk

membatasi gejala karena nyeri adalah hal yang paling relevan secara klinis.

Rekomendasinya : Pengobatan utama sakit telinga adalah pemberian

analgesik dosis sistemik yang tepat (paracetamol atau ibuprofen),

penggunaan formulasi analgesik topikal sebagai satu-satunya cara mengobati

rasa sakit yang tidak disarankan. Anestesi lokal harus digunakan secara

sistematik dan berkaitan dengan terapi analgesik sistemik pada anak usia

lebih dari tiga tahun dan hanya dalam keadaan tidak ada perforasi.

Disarankan bahwa jika nyeri telinga dikaitkan dengan demam, parasetamol

atau ibuprofen oral yang sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit pada

dosis yang dapat mengontrol demam.

Page 7: Otitis Media Akut

3.2 PEMILIHAN DARI PASIEN YANG HARUS SEGERA DIOBATI

DENGAN ANTIBIOTIK

Panel tersebut setuju terhadap fakta bahwa angka yang sangat tinggi

dari kasus OMA menjelaskan secara spontan terhadap pengobatan antibiotik

yang universal dari semua anak yang terkena OMA. Selain itu, panel telah

mempertimbangkan bahwa beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa

kewaspadaan telah terbukti dapat mengurangi kebutuhan resep antibiotik

sehingga mengurangi tindakan medis dan biaya pengobatan, membatasi efek

samping sekunder terhadap pengobatan, dan mengurangi tekanan selektif

pada flora saprophytic. Hal ini mengakibatkan menurunnya risiko

munculnya jenis yang resistan terhadap obat baru. Di sisi lain, data yang

bertentangan menunjukkan bahwa pengobatan segera dapat memiliki efek

menguntungkan yang signifikan dalam hal durasi dan intensitas nyeri, dosis

analgesik dan kunjungan medis, bahkan dengan mempertimbangkan

peningkatan risiko efek samping yang berhubungan dengan pemberian

antibiotik. Berdasarkan tinjauan sistematis yang disepakati bahwa

pengobatan antibiotik segera adalah menguntungkan dalam jangka pendek

pada pasien dengan OMA tertentu yang berusia kurang dari 2 tahun, pada

mereka dengan episode bilateral, dan pada mereka dengan otorrhea spontan,

rekomendasinya adalah : pengobatan antibiotik harus diresepkan segera

untuk kasus OMA yang parah, pada anak-anak berusia kurang dari dua tahun

dengan OMA bilateral, dan dalam kasus perforasi spontan. Dalam semua

kasus lain, dan dalam perjanjian dengan orang tua, merupakan hal yang

mungkin untuk menunggu dan mengawasi gejala dan meresepkan

pengobatan antibiotik hanya jika episode memburuk atau tidak membaik

dalam 48-72 jam. Pernyataan itu berbeda dari pedoman praktek klinis AAFP

dan AAP 2004 karena mencakup dan menekankan penilaian lateralitas dari

episode, padahal anak-anak dengan OMA bilateral lebih rentan terhadap

hasil negatif, serta mengesampingkan secara pasti semua episode OMA yang

Page 8: Otitis Media Akut

didiagnosis tidak pasti, dalam rangka untuk menghindari penyalahgunaan

antibiotik.

Keterbatasan pedoman kami adalah bahwa tidak ada konsensus

tentang jenis nilai yang akan digunakan untuk kelas keparahan episode

tersebut. Skor yang digunakan bervariasi dari satu penelitian ke penelitian

lainnya dan sebagian besar menggunakan validasi data dengan pendekatan

watchful waiting yang berasal dari anak-anak yang menderita episode

ringan. Namun, seperti yang diketahui bahwa episode yang berhubungan

dengan demam tinggi dan sakit telinga paling sering memiliki hasil negatif

dan panel menganggap cukup dengan adanya gejala ini untuk

mempertimbangkan berat OMA tertentu.

Sebuah perhatian khusus diberikan kepada kenyataan bahwa

penerapan dari watchful waiting memerlukan partisipasi aktif dari orangtua

atau pengasuh yang perlu menjadi informan yang memadai tentang potensi

risiko dan manfaat pengobatan dan pengelolaan hasil penyakit. Hal ini

menekankan bahwa orangtua atau pengasuh harus dibuat untuk merasa

menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan kontrol pasien

selama sakit, dapat berkomunikasi segera dengan dokter dan, jika perlu

memiliki akses ke pemeriksaan klinis.

3.3 PILIHAN OBAT ANTIMIKROBA

Panel tersebut menyatakan bahwa pilihan obat yang optimal untuk

pengobatan OMA harus didasarkan terutama pada pertimbangan

mikrobiologi: yaitu analisis terhadap bakteri patogen penyebab yang paling

sering dan kerentanan mereka terhadap obat yang paling banyak digunakan.

Situasi yang ideal, salah satunya dimana ada kemungkinan untuk

mengidentifikasi otopathogen yang bertanggung jawab untuk infeksi dan

pengobatan antibiotik yang didasarkan pada hasil kerentanan, yang jarang

Page 9: Otitis Media Akut

terjadi dalam praktek klinis yakni ketika gendang telinga pecah dan

memungkinkan untuk terkumpulnya efusi di telinga tengah dalam waktu 12-

24 jam, atau ketika hal itu terjadi, tympanosintesis sangat mungkin untuk

dilakukan. Panel tersebut mengakui bahwa pengobatan antibiotik dari OMA

terutama empiris, dan didasarkan pada sebuah pengetahuan tentang bakteri

patogen yang paling umum yang diberikan pada wilayah geografis dan

kepekaan antibiotik mereka. Streptococcus pneumoniae (S. p.), Non typable

Haemophilus influenzae (NTHI), Moraxella catarrhalis (M. c.) dan

Streptococcus pyogenes (S. pys.) adalah penyebab paling umum dari OMA

di hampir semua wilayah geografis dan semua rentang usia. Italia memiliki

karakteristik mikrobiologis spesifik yang mempengaruhi pilihan antibiotik:

(a) resistensi terhadap S. p. penisilin ini masih terbatas pada 20%, dengan

hanya setengah dari strain resisten yang memiliki nilai MIC lebih dari 4

mcg/mL, sedangkan ada 30% sampai 50% resistensi terhadap makrolida dan

azalides, (b) NTHI ditandai dengan 20-40% resistensi aminopenicillin

karena produksi b-laktamase, (c) M. c. cukup langka pada anak-anak Italia

tapi resistensi penisilin dan aminopenicillin mencapai 80%. (d) S. pys.

bertanggung jawab untuk persentase yang cukup relevan terhadap OMA dan

masih sangat rentan terhadap obat beta-laktam, namun telah berkembang

resistensinya terhadap akrolida dan azalides pada sekitar 40% kasus.

Atas dasar karakteristik farmakokinetik dari berbagai antibiotik dan

MICs untuk otopathogens potensial, panel memutuskan bahwa biasanya

menjaga konsentrasi dosis amoksisilin 40-50 mg/kg/hari dapat berguna

cukup lama untuk membasmi patogen dalam kasus infeksi karena S. p.

rentan terhadap penisilin atau S. p. dengan kerentanan menengah. Jadi

amoxicillin diindikasikan sebagai obat pilihan pertama dalam kasus OMA

tanpa adanya komplikasi pada anak-anak yang berisiko rendah mengalami

resistensi patogen (mereka yang berusia lebih dari 3 tahun yang tidak

dititipkan pada pusat penitipan anak, belum menerima antibiotik dalam 30

Page 10: Otitis Media Akut

hari terakhir, tidak memiliki kakak yang dititipkan di penitipan anak, dan

belum divaksinasi dengan PCV - 7 pada tahun pertama kehidupan) dan tanpa

riwayat berulang OMA. Sebagai alternatif untuk amoksisilin, dan

berlawanan dengan pedoman AAP 2004, cefaclor memiliki palatabilitas dan

bioavailabilitas yang baik. Dalam kasus lain, amoxicillin dan asam

klavulanat direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama dan sebagai

alternatif diusulkan cefpodoxime proxetil dan cefuroxime axetil. Makrolida

dan azalides dianggap sebagai pilihan yang tidak cocok.

3.4 DURASI TERAPI ANTIBIOTIK

Pengobatan OMA dianjurkan selama 10 hari, meskipun beberapa

pedoman nasional (Finlandia, Jerman, Swedia, Skotlandia, Australia)

merekomendasikan regimen 5 hari dan negara lainnya (Belanda atau Afrika

Selatan) merekomendasikan 7 hari. Di negara-negara lain (Kanada, Perancis,

Amerika Serikat dan Luksemburg), durasi dapat dibedakan berdasarkan usia

pasien, 10 hari untuk anak usia kurang dari 2 (atau 5) tahun, dan 5 hari untuk

anak usia lebih dari 2 (atau 5) tahun. Panel setuju bahwa di antara beta

laktam oral, penelitian klinis acak terkontrol menunjukkan kemungkinan

untuk menurunkan terapi OMA mejadi 5 hari hanya munking untuk

amoxicillin dan asam klavulanat, cefpodoxime proxetil, cefuroxime axetil

dan cefaclor. Selain itu , seperti yang telah ditunjukan bahwa usia kurang

dari 2 tahun, ada otorrhea akibat perforasi spontan membran timpani, dan

riwayat episode OMA berulang meningkatkan risiko kegagalan terapi ketika

pengobatan dipersingkat menjadi 5 hari, rekomendasi terakhir adalah terapi

antibiotik harus diberikan selama 10 hari. Hal ini dapat dikurangi sampai

lima hari pada anak usia lebih dari dua tahun tanpa adanya risiko hasil yang

negatif.

Page 11: Otitis Media Akut

3.5 KEGAGALAN TERAPI

Dengan mempertimbangkan bahwa perjalanan klinis OMA yang

diterapi antibiotik biasanya ditandai dengan perbaikan gejala dalam 48-72

jam, dengan penurunan progresif demam dan rasa sakit, dinyatakan bahwa

setelah 72 jam pemberian antibiotik, anak-anak dengan episode OMA yang

tidak menunjukkan perbaikan atau yang memburuk harus dipertimbangkan

kegagalan terapi. Jika mereka diterapi dengan amoksisilin atau cefaclor,

mereka harus menerima amoksisilin ditambah asam klavulanat atau

cefpodoxime proxetil atau cefuroxime axetil. Jika mereka sedang dirawat

dengan antibiotik spektrum luas, mereka harus diresepkan ceftriaxone

intramuskular atau intravena. Penggunaan kuinolon harus dihindari pada

kegagalan pengobatan.

3.6 MANFAAT JANGKA PANJANG DARI PENGOBATAN ANTIBIOTIK

Panel menyatakan bahwa terapi antibiotik langsung tidak mencegah

perkembangan otitis media dengan efusi dan tidak mengurangi persistensi

efusi telinga tengah. Demikian pula, hal ini tampaknya tidak mengurangi

risiko episode berulang (meskipun datanya kurang kuat). Mengenai

komplikasi, telah disepakati bahwa jika kejadian komplikasi dan kematian

terkait komplikasi keduanya berkurang secara signifikan setelah adanya

pengobatan antibiotik, korelasi antara insiden mastoiditis akut dan peresepan

antibiotik masih bisa diperdebatkan karena di beberapa negara (seperti

Australia dan Inggris), penurunan yang signifikan dalam peresepan

antibiotik tidak dikaitkan dengan peningkatan frekuensi komplikasi dan

dengan demikian penggunaan universal antibiotik dalam setiap kasus OMA

tidak dapat dianggap sebagai sarana yang valid untuk mengurangi risiko

mastoiditis.

Page 12: Otitis Media Akut

3.7 KEGUNAAN TERAPI LAIN

Mengenai kemungkinan terapi ajuvan, panel setuju bahwa

penggunaan pengobatan lain (termasuk analgesik) dalam hubungannya

dengan antibiotik tidak dianjurkan, penggunaan dekongestan sistemik atau

topikal harus dihindari dan pemberian steroid atau antihistamin tidak

dianjurkan. Pernyataan ini bertentangan dengan pedoman lain yang biasanya

tidak menilai peran pengobatan lain. Selain itu, kelompok ini menyoroti

pentingnya pembersihan sekresi hidung dengan cara pencucian hidung

sebagai pengobatan komplementer yang berguna. Kegunaan mencuci hidung

masih dibatasi oleh kekurangan bukti ilmiah khususnya pada anak-anak dan

yang berkaitan dengan penyakit telinga tengah. Namun, mengingat dekatnya

hubungan antara hidung, nasofaring dan telinga tengah, dihipotesiskan

bahwa pembersihan sekresi hidung dengan cara irigasi saline mungkin

berperan untuk meningkatkan fungsi tabung Eustachio dan membersihkan

efusi telinga tengah, sebagaimana telah dibuktikan dalam kasus rinosinusitis

dan rhinitis. Terakhir, panel memutuskan untuk tidak menyarankan

pengobatan komplementer dan alternatif.

4. KOMPLIKASI

Suatu bagian dari pedoman Italia dikhususkan untuk membahas

komplikasi OMA, yang diabaikan oleh sebagian besar pedoman lainnya. Terkait

mastoiditis akut, rekomendasi ini mendasarkan diagnosis utama pada

pemeriksaan klinis dan untuk menekankan perlunya pemantauan ketat pada

pasien. Rekomendasi itu menyatakan bahwa diagnosis mastoiditis akut

didasarkan pada kriteria klinis. CT scan daerah mastoid sangat membantu dalam

mengevaluasi perpanjangan proses dan adanya komplikasi, dan harus dilakukan

secara sistematis ketika diduga ada mastoiditis akut dengan periosteitis atau

komplikasi intrakranial. Pengobatan diindikasikan pada semua kasus non-

Page 13: Otitis Media Akut

komplikasi, sedangkan pengobatan medis atau bedah diperlukan jika ada

empyema mastoid dan atau komplikasi intrakranial.

5. PENCEGAHAN

Dalam kelompok multidisiplin ini, peran pencegahan OMA, dalam hal

menghindari episode pertama pada anak-anak sehat, diakui sebagai salah satu

tujuan utama dari perawatan anak. Jadi bagian khusus yang ditujukan untuk

masalah ini, berlawanan dengan AAP 2004 dan pedoman lain yang memberikan

ruang terbatas atau tidak ada pencegahan. Karena memiliki faktor prediposisi

yang banyak dan biasanya mengikuti infeksi virus pada saluran pernapasan

bagian atas, upaya untuk mencegah OMA terutama tergantung pada pengurangan

faktor risiko, infeksi virus pernapasan, dan kolonisasi bakteri nasofaring.

5.1 MENGURANGI FAKTOR-FAKTOR RISIKO

Meninjau beberapa literatur, jelas bahwa (a) perawatan di rumah

dapat menghindari satu dari lima episode OMA pada populasi anak umum,

dan dua dari lima pada anak dengan penyakit telinga tengah, (b) mencuci

tangan dengan hati-hati dan penggunaan larutan beralkohol pada balita

mengurangi episode OMA sebesar 27%, (c) pemberian ASI eksklusif selama

minimal 3 bulan mengurangi insiden OMA sebesar 13%, dan menyusui 6

bulan untuk meningkatkan 50% perlindungan selama tahun pertama

kehidupan, (d) 30% peningkatan risiko OMA telah ditemukan pada anak-

anak yang menggunakan dot terus menerus, dan penurunan 29% jika

penggunaannya terbatas hanya pada waktu segera sebelum tertidur. Panel

juga merekomendasikan bahwa bayi mendapat ASI selama setidaknya tiga

bulan, menghadiri pusat penitipan anak di mana langkah-langkah kebersihan

akurat dipraktekkan, mengurangi penggunaan dot seminimal mungkin, dan

tidak terpapar rokok pasif.

Page 14: Otitis Media Akut

5.2 VAKSIN INFLUENZA

Kelompok multidisiplin sepakat bahwa vaksin influenza

mengurangi insiden OMA ketika virus tersebut beredar di antara anak-anak

yang sehat. Namun, hasilnya bervariasi tergantung pada jenis vaksin dan

usia anak : vaksin yang mengandung virus hidup yang dilemahkan mengarah

pada hasil yang lebih baik (dengan pengurangan hingga 90% pada anak usia

kurang dari 18 bulan) daripada vaksin influenza (pengurangan hingga 50%),

terutama pada anak usia kurang dari 18 bulan. Para ahli berpikir bahwa jika

satu-satunya tujuan dari vaksinasi influenza adalah pencegahan OMA,

pemberian vaksin hanya akan dibenarkan pada anak-anak dengan frekuensi

tinggi dari episode berulang. Namun, pencegahan influenza memiliki tujuan

yang lebih penting untuk mencegah penyakit yang komplikasnyai sering

lebih parah daripada OMA, keraguan tentang kemanjuran yang terbatas dari

vaksinasi influenza dalam mencegah episode pertama OMA pada anak-anak

sebagian besar ditutupi oleh keuntungan medis, sosial dan ekonomi lainya.

Oleh karena itu, rekomendasi vaksin Influenza harus didorong karena selain

keuntungannya yang lebih penting, dapat berguna dalam mencegah OMA

episode pertama.

5.3 VAKSIN PNEUMOCOCCAL

Tiga vaksin pneumokokus yang dikenal imunogenik yang berbeda

dalam hal protein pembawa digunakan untuk konjugasi polisakarida

kapsuler dan atau jumlah serotipe yang termasuk dalam formulasi (7, 10 dan

13). Ada data yang kuat mengenai khasiat PCV-7 dan dampak

penggunaannya secara umum terhadap kejadian kunjungan rawat jalan OMA

dan peresepan antibiotik. Ketika diberikan dalam tahun pertama kehidupan,

PCV-7 mencegah 6-7% dari semua episode OMA, lebih dari 30% dari

Page 15: Otitis Media Akut

episode pneumokokus, dan lebih dari 50% dari episode yang disebabkan

oleh serotipe yang dikandungnya. Dampak dari PCV-7 pada prevalensi

OMA pada populasi anak telah teliti di Amerika Serikat, di mana vaksin

tersebut telah secara umum diberikan sejak tahun 2000. Kelompok tersebut

mengakui bahwa perbandingan dari data yang diperoleh sebelum dan

sesudah diperkenalkan menunjukkan bahwa penurunan signifikan jumlah

kunjungan terkait OMA (rata-rata 20%, kisaran 4-43%) dan peresepan

antibiotik lebih besar dari tingkat kemanjurannya. Ia juga mencatat bahwa

masih kurangnya data mengenai efek PCV-13 pada OMA, namun data

kemanjuran yang sejauh ini dihasilkan pada vaksin 10-valent (berasal dari

studi terhadap vaksin prekursor 11 komponen yang tidak dipasarkan)

menunjukkan penurunan 33,6% dalam semua episode OMA, penurunan

57,6% pada episode yang disebabkan oleh serotipe pneumokokus, dan

penurunan 35,3% pada mereka karena nontype H. influenzae. Rekomendasi

terakhir adalah vaksin konjugat pneumokokus dapat secara siknifikan

mengurangi insiden dan beban OMA.