Click here to load reader

Otitis Media Akut

  • View
    7

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

semoga bermanfaat

Text of Otitis Media Akut

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangTelinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas. Fungsi saluran Eustachius ini adalah menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar dan mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung. Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena faktor pertahanan tuba Eustachius ini terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.Otitis media akut insidennya sering dijumpai di masyarakat terutama mengenai bayi dan anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa, dan masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala, pengobatan, dan komplikasi yang timbul dari penyakit ini. Pada bayi dan anak-anak sering terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal, dan juga adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Penyakit otitis media ini masih sering dianggap remeh oleh sebagian besar masyarakat padahal komplikasi lanjut dari penyakit ini bila tidak diobati adalah gangguan pendengaran menjadi tuli dan timbul abses di otak sampai menyebabkan kematian.Kurangnya pengetahuan tentang penyakit OMA dan bahayanya komplikasi yang ditimbulkan maka perhatian dan pengobatan pada penyakit ini tidak boleh diabaikan agar terhindar dari komplikasi, berdasarkan kondisi tersebut maka dokter muda perlu mengetahui tentang dasar klinis pada penyakit otitis media agar dapat menegakkan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang baik.Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat laporan kasus pada pasien dengan otitis media akut.

B. Tujuan Dengan pembuatan laporan kasus ini, dokter muda berharap dapat:1. Mengetahui dan memahami dasar klinis penyakit otitis media2. Mampu menganalisa kasus, penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat untuk penyakit otitis media akut3. Menambah keilmuan dokter muda tentang penyakit di bidang THT4. Penulisan laporan kasus ini dapat dijadikan sumber informasi ilmiah yang dapat dipergunakan oleh sejawat lainnya5. Penulisan laporan kasus ini dapat dijadikan informasi yang komunikatif kepada pembacanya.

BAB IILAPORAN KASUS

A. Identitas PasienNama:Ny.Kariyah Bt. H.BaehakiJenis kelamin:Perempuan Umur:50 tahunAlamat:Kp.SingkupNo. RM:542318Tanggal berobat:30 November 2012

B. Anamnesis1. Keluhan utama: Telinga kanan berdenging 2 minggu yang lalu.

2. Riwayat penyakit sekarang:Pasien datang dengan keluhan telinga kanan berdenging 2 minggu yang lalu, dirasakan tiba-tiba pada saat pasien selesai berkebun. Keluhan ini dirasakan hilang timbul. Keluhan tersebut timbul pada saat beraktivitas dan hilang pada saat istirahat. Tetapi suara denging tersebut kadang timbul juga pada saat isitrahat, terutama pada malam hari ketika pasien hendak tidur. Suara denging ini menyebabkan pasien sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari, tidur pasien menjadi tidak nyenyak. Pasien mengeluhkan belakangan sering pusing akibat suara denging tersebut. Pasien tidak pernah mengeluhkan adanya nyeri pada telinga, demam, batuk, dan pilek. Menurut cucu pasien, semenjak pasien mengeluhkan keluhan seperti ini pendengaran pasien jadi menurun.

3. Riwayat penyakit dahulu:Keluhan keluarnya cairan dari telinga sebelumnya (-).

4. Riwayat penyakit keluarga:Keluhan yang sama di keluarga tidak ada, hipertensi (-).

5. Riwayat alergi:Pasien tidak memiliki riwayat alergi dingin, debu, makanan, ataupun obat-obatan.

6. Riwayat pengobatan:Pasien sudah 3 kali berobat ke puskesmas, tetapi tidak ada perubahan. Kemudian oleh bidan puskesmas disarankan oleh dokternya untuk berobat ke spesialis THT.

7. Riwayat psikososial:Pasien mengatakan bahwa jarang membersihkan telinganya. Sehari-hari pasien bekerja di kebun.

C. Pemeriksaan FisikKeadaan umum : tampak sakit ringan Kesadaran :composmentisTanda Vital Tekanan darah : 110/70 mmHgPenafasan : 20 x/ menit Nadi : 84 x/menit Suhu : 37.1 CStatus Generalis1. Kepala :normocephal simetris2. Mata:konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva hiperemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+) isokor, pergerakan mata kesegala arah baik3. Telinga:lihat status lokalis4. Hidung :lihat status lokalis5. Mulut:bibir kering (-), sianosis (-), stomatitis (-), lidah kotor dan tremor (-), 6. Tenggorok: lihat status lokalis7. Leher:lihat status lokalis8. Thorax a. Inspeksi :normochest simetris, retraksi dinding dada (-)b. Palpasi:tidak ada bagian dada yang tertinggal saat bernapasc. Perkusi : sonor pada semua lapang parud. Auskultasi :suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)9. Jantunga. Inspeksi:ictus cordis tidak terlihat b. Palpasi:ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistrac. Perkusi: batas jantung relatif dalam batas normald. Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, bising jantung (-)10. Abdomena. Inspeksi: permukaan datarb. Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)c. Perkusi:timpani pada seluruh kuadran abdomen d. Auskultasi:bising usus (+) normal11. Ekstremitasa. Superior: akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik b. Inferior:akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik.

D. Status lokalis THT1. Telinga

Tabel 1. Pemeriksaan telingaADAS

Normotia, helix sign (-), tragus sign (-)Aurikula

Normotia, helix sign (-), tragus sign (-)

Preaurikula appendege (-) tanda radang(-), pus(-), nyeri tekan(-), fistula(-)Preaurikula

Preaurikula appendege (-) tanda radang(-), pus(-), nyeri tekan(-), fistula(-)

Tenang, udem(-), fistel(-), sikatriks(-), nyeri tekan(-)RetroaurikulaTenang, udem(-), fistel(-), sikatriks(-), nyeri tekan(-)

Hiperemis(-), udem(-), sekret(-), serumen (-) banyak konsistensi lunak, massa(-)MAEHiperemis(-), udem(-), serumen(-), sekret(-) banyak, mukopurulen, massa(-)

Intak, reflek cahaya (-), perforasi (-), hiperemis (+)Membran timpaniIntak, reflek cahaya (+), perforasi (-), hiperemis (-)

(+)Uji Rinne(+)

Tidak ada lateralisasiUji WeberTidak ada lateralisasi

Sama dengan pemeriksaUji SchwabachSama dengan pemeriksa

Interpretasi : Membran timpani telinga kanan hiperemis, reflek cahaya negatif

2. HidungTabel 2. Pemeriksaan hidungDextra Rhinoskopi anteriorSinistra

Tenang Mukosa Tenang

(-)Sekret (-)

Eutrofi Konka inferior Eutrofi

Deviasi (-)SeptumDeviasi (-)

(-)Massa (-)

(+)Passase udara(+)

a. Sinus paranasal1) Inspeksi:pembengkakan pada wajah (-), bagian bawah mata (-), daerah diatas mata (-)2) Palpasi:nyeri tekan kedua pipi (-), atas orbita (-), medius kontur (-)b. Rinoskopi posterior : tidak dilakukan

3. TenggorokTabel 3. Pemeriksaan OrofaringDextraPemeriksaan OrofaringSinistra

Mulut

TenangMukosa mulutTenang

Bersih, basahLidahBersih, basah

TenangPalatum molleTenang

Karies (-)Gigi geligiKaries (-)

SimetrisUvulaSimetris

Tonsil

TenangMukosaTenang

T1BesarT1

tidak melebarKriptatidak melebar

-Detritus-

-Perlengketan-

Faring

Tenang Mukosa Tenang

-Granula -

-Post nasal drip-

Tabel 4. Pemeriksaan NasofaringNasofaring (Rhinoskopi posterior)

Konka superior Tidak dilakukan

Torus tubarius Tidak dilakukan

Fossa RossenmullerTidak dilakukan

Plika salfingofaringeal Tidak dilakukan

Tabel 5. Pemeriksaan LaringofaringLaringofaring (Laringoskopi indirect)

Epiglotis Tidak dilakukan

Plika ariepiglotika Tidak dilakukan

Plika ventrikularisTidak dilakukan

Plika vokalis Tidak dilakukan

Rima glotis Tidak dilakukan

4. Pemeriksaan MaksilofasialTabel 6. Pemeriksaan MaksilofasialDextraNervusSinistra

NormosmiaI. OlfaktoriusPenciumanNormosmia

Sulit dinilai(+)II. Optikus Daya penglihatan Refleks pupilSulit dinilai(+)

(+)(+)(+)(+)(+)III. Okulomotorius Membuka kelopak mata Gerakan bola mata ke superior Gerakan bola mata ke inferior Gerakan bola mata ke medial Gerakan bola mata ke laterosuperior(+)(+)(+)(+)(+)

(+)IV. TroklearisGerakan bola mata ke lateroinferior(+)

(+)(+)(+)V. Trigeminal Tes sensoris Cabang oftalmikus (V1) Cabang maksila (V2) Cabang mandibula (V3)

(+)(+)(+)

(+)VI. AbdusenGerakan bola mata ke lateral(+)

(+)(+)(+)BaikVII. Fasial Mengangkat alis Kerutan dahi Menunjukkan gigi Daya kecap lidah 2/3 anterior(+)(+)(+)Baik

Lihat status lokalis telingaVIII. AkustikusTes garpu talaLihat status lokalis telinga

(+)(+)IX. Glossofaringeal Refleks muntah Daya kecap lidah 2/3 anterior(+)(+)

(+)(-)(+)X. Vagus Refleks muntah dan menelan Deviasi uvula Pergerakan palatum(+)(-)(+)

(+)(+)XI. Assesorius Memalingkan kepala Kekuatan bahu(+)(+)

(-)(-)XII. Hipoglossus Tremor lidah Deviasi lidah (-)(-)

5. Leher Tabel 7. Pemeriksaan LeherDextraPemeriksaanSinistra

Pembesaran (-)ThyroidPembesaran (-)

Pembesaran (-)Kelenjar submentalPembesaran (-)

Pembesaran (-)Kelenjar submandibulaPembesaran (-)

Pembesaran (-)Kelenjar jugularis superiorPembesaran (-)

Pembesaran (-)Kelenjar jugularis mediaPembesaran (-)

Pembesaran (-)Kelenjar jugularis inferior