OP DIGITAL - ftp.unpad.ac.id Research Unit Media Convergence di Johannes Gutenberg University Mainz

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of OP DIGITAL - ftp.unpad.ac.id Research Unit Media Convergence di Johannes Gutenberg University Mainz

BUKU mana yang paling pas untuk dibaca, buku versi cetakan yang konvensional atau buku dalam format digital?

Ternyata keduanya sama saja. Menurut sebuah studi oleh Research Unit Media Convergence di Johannes Gutenberg University Mainz (JGU), Jerman, tak ada hal negatif atau kekurangan yang ditemukan dari mem-baca buku di layar jika diban-dingkan dengan versi cetak.

Penelitian itu dilakukan setelah banyak pembaca di Jerman men-j a d i s k e p t i s untuk mem-baca buku di perangkat elek-tronik mereka seperti e-reader dan tablet.

E-book dan e -reader k ini m e r u p a k a n medium penting yang me-mengaruhi industri buku dunia. Tapi, banyak yang ber-sikap skeptis terhadapnya, kata Stephan Fussel, Kepala Gutenberg-Institute of Book Studies sekaligus juru bicara untuk Media Convergence Research Unit di JGU, dalam Science Daily.

Dalam penelitian itu, para relawan diajak untuk mem-baca berbagai macam teks bertingkat pemahaman yang berbeda dengan mengguna-kan Amazon Kindle 3, Apple Ipad, dan buku versi cetak.

Perilaku membaca dan ak-tivitas otak diperiksa dengan menggunakan mesin elek-troensefalograf (EEG) dan perangkat deteksi mata.

Hasilnya membuktikan bahwa membaca buku dalam format digital tidak memiliki efek yang negatif jika diban-dingkan dengan membaca buku versi cetak. Hal itu bertentangan dengan konsep yang diciptakan oleh pem-baca buku di Jerman.

Tak ada pertentangan kultural yang terjadi perihal membaca buku. Tak ma-

salah apakah itu digital atau cetak, karena membaca ma-s i h m e n j a d i kultur yang pa-ling penting, lanjut Fussel.

Walau tak ada perbedaan b e r a r t i , s e -

perti dikutip dari Mashable.com, satu kelompok relawan ternyata dapat membaca le-bih cepat saat menggunakan Ipad.

Adapun di dunia digital se-perti sekarang ini, kebanyakan relawan masih menyatakan bahwa membaca buku da-lam versi cetak terasa lebih nyaman ketimbang membaca dari layar digital. Namun, tetap saja penggunaan e-book kini semakin meningkat. Apa-lagi ketika perpustakaan juga sudah mulai menggunakan e-book. (CE/M-3)

CHRISTINE FRANCISKA

FIND out who is view-ing your Facebook pro-file. Kalimat tersebut pasti familier bagi para pengguna Facebook Tanah Air. Disertai dengan sebuah tautan, pesan itu diberikan seolah-olah dari teman sendiri, mem-buat pengguna tak ragu untuk mengekliknya.

Alih-alih menggiring peng-guna pada sebuah aplikasi Fa-cebook, tautan tersebut ternyata merupakan sebuah scam yang otomatis mengirim pesan yang sama ke semua teman Anda tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Di Twitter, tautan pendek de-ngan kata-kata yang menarik juga bisa mendorong pengguna mengklik tanpa pikir panjang. Pada Maret 2011, misalnya, sebuah scam lewat pesan sing-kat di situs kicauan itu tersebar luas. Pesannya sederhana saja, I have spent 11.6 hours on Twit-ter. How much have you? Find out here.

Seperti dikutip Techland.com, lebih dari 10 ribu orang tertipu oleh tautan palsu ini. Penjahat dunia maya menggunakan taut an itu untuk menggiring pengguna Twitter ke sebuah la-man survei. Dari situ, penjahat bisa meraup uang dengan jum-lah klik dari pengunjung.

Menyusul penggunaan me-dia sosial yang kian diminati, kejahatan digital juga semakin merebak. Menurut data dari Trend Micro, sebuah perusa-haan keamanan internet berba-sis awan, ada 3,5 malware baru yang tercipta setiap detik di du-nia, termasuk situs phising, scam, Trojan, hingga URL palsu.

PerlindunganUntuk memancing peng-

guna supaya terjebak di dalam-nya, penjahat dunia maya bisa menggunakan berbagai fitur di Facebook, seperti memberi-kan chat, pesan, posting, hingga event palsu.

Tak hanya di komputer, mal-ware pun berpotensi untuk diakses pada ponsel. Dalam

platform Android, misalnya, terdapat 1.410% peningkatan malware yang dideteksi dari Januari hingga Juli 2011.

Karena itu, berbagai perusa-haan pengaman internet ber-lomba-lomba untuk menjadi po-lisi pintar di dunia maya. Trend Micro, salah satunya, Rabu (19/10) lalu meluncurkan Trend Micro Cloud Edition Maximum Security 2012. Dengan peranti lunak berbasis awan itu, Trend Micro menjamin perlindungan malware bagi pengguna ketika berselancar di internet.

Karena berbasis awan, perangkat ini memindai data di jaringan, bukan di desktop pengguna. Ini membuat per-forma PC berjalan lebih cepat dan ringan jika dibandingkan dengan menggunakan peranti keamanan lain, ujar Jean Lim, Direktur Marketing dan Con-sumer Bussiness Trend Micro Malaysia dan Indonesia.

Jika terdapat pesan atau tautan yang mencurigakan, perangkat ini akan membe-rikan peringatan lewat tanda

silang merah secara spesifi k di jejaring sosial pengguna. Jadi, tak perlu bingung mana yang aman dan mana yang tidak, kata Andy Wijaya, Direktur PT Amandjaja Multifortuna Perkasa--distributor Trend Mi-cro di Indonesia.

Trend Micro juga membe-rikan penyimpanan berbasis awan sebesar 10 GB. Lewat Save Sync, pengguna bisa meng aksesnya di mana pun dan kapan pun dengan meng-gunakan koneksi internet.

Loker penyimpanan ini sa-ngat terlindungi. Bahkan jika pemerintah ingin mengetahui isi loker ini, kita tidak bisa memberikan informasi apa pun, lanjut Andy.

Untuk perangkat Android, ada juga Trend Micro Mobile Security for Android Personal Edition, yang tak hanya me-lindungi, tapi juga memiliki kemampuan untuk menghapus semua data penting ketika pon-sel dicuri. (M-3)

christine@mediaindonesia.com

MEDIA INDONESIA | SENIN, 24 OKTOBER 2011 | HALAMAN 32

POP DIGITAL

Aman Berjejaring di Media Sosial REUTERS/BRIAN SNYDER

Elektronik atau Cetak, Sama Saja

HATI-HATI: Para pengguna jejaring sosial harus makin hati-hati karena belakangan kejahatan melalui teknologi digital kian marak.

E-book dan e-reader

kini merupakan medium penting yang memengaruhi industri buku dunia.

Sembarangan mengeklik pesan yang muncul di jejaring sosial bukanlah tindakan tepat.

MI/RAMDANI

AP/MARK LENNIHAN