Click here to load reader

Nisa_ LBM 1 Saraf

  • View
    239

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

saraf

Text of Nisa_ LBM 1 Saraf

MODUL SARAFLBM 1 PENURUNAN KESADARAN STEP 71. Mengapa terjadi penurunan gangguan kesadaran?Batang otak ujung rostral bersambung dengan otak,sedangkan ujung kaudal bersambung dengan medulla spinalis mudah teregangakibat trauma terjadi akselerasis otak secara mendadak menimbulkan blockade reversible pada lintasan retikularis ascenden otaknya tdk mendapat input afferentkesadaran menurun pingsan.Trauma Tek intracranial meningkat 0ksigen berkurang iskemik kerja otak terganggu ,pusing, kesadaraan menurun,pingsan2. Mengapa terjadi perdarahan dari kedua telinga?Traumafraktur merobek a. carotis interna perdarahan lewat telinga, hidung3. Mengapa terjadi epistaksis?

Rinorhoe : durameter dan arachnoid robek karena fraktur pada lamina kribrosa. Trauma pada fosa anterio cranial LCS keluar lewat lamina kribosa. Otorhoe : robeknya lapisan pembungkus disekitar parstemporal karena fraktur pada parstemporal. Fraktur os. Temporal LCS keluar lewat tuba eustsius (menghubungkan telinga tengah dengan hidung) Amnesia retrograde : penyebab belum diketahui tetapi cedera pada batang otak dapat membuat hilangnya ingatan. Adanya gangguan di lobus occipital, temporal, dan parietal.

Karena robeknya plexus hasselbach yg merupakan cabang dari a.carotis interna terjadi perdarahan di hidung.Banyak energy yang di serap oleh rambut,kulitkepala,tengkorak tetapi pada trauma hebat pertahanan tdk kuat sisa energy tadi di teruskan ke otakterjadi kerusakan jaringan otak4. Mengapa terjadi ecymosis periorbital bilateral?Karena perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah di mataTekanan intracranial papil edem di mataa seperti edem di mata5. Mengapa vital sign normal tapi temperature tinggi?Mekanisme inflamasi6. Bagaimana cara penilaian GCs ?Pemeriksaaan Glasgow Coma ScaleDilakukan dengan memeriksa respon dari 3 area : membuka mata, respon verbal dan respon motorik. Skor terendah 3 dan tertinggi 15. Respon motorik dinilai yang terbaik dari kedua sisi.

7. Mengapa dokter menyarankan utk CT-scan dan foto kepala polos?Yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah:1. CT-ScanUntuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.2. Lumbal PungsiUntuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam dari saat terjadinya trauma3. EEGDapat digunakan untuk mencari lesi4. Roentgen foto kepalaUntuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorakRUMAH SAKIT HUSADAFAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDAJAKARTATRAUMA KAPITISDefinisi: Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas.RUMAH SAKIT HUSADAFAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDAJAKARTATrauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung / tidak langsung sehingga menyebabkan gangguan fungsi neurologis ( gangguan fisik, gangguan kognitif, fungsi psikososial ) baik temporer maupun permanen.Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas.( KAPITA SELEKTA,Jilid 2 )EtiologiAda dua jenis utama lesi trauma serebral: lesi primer, yang dihasilkan dari dampak traumatis langsung (trauma kepala), dan lesi sekunder yang terjadi setelah dampak langsung atau sebagai gejala sisa dari cedera primer Trauma kepala, Tabel 1 . Lesi primer

cedera neuronal:

difus aksonal cedera (DAI)

kortikal memar

subkortikal masalah cedera abu-abu

cedera otak primer batang

pendarahan:

hematoma epidural

subdural hematoma

hematoma intraserebral

intraventricular perdarahan

perdarahan subaraknoid

cedera vaskular

gua fistula karotid

arteri pseudoaneurysm

pembedahan / oklusi / laserasi

dural sinus laserasi / oklusi

lainnya

cedera saraf kranial

subdural hygromas

Lesi sekunder

infark zona terminal

menyebar cedera hipoksia

berdifusi pembengkakan otak / edema

batang otak cedera

pendarahan

emboli lemak

KlasifikasiAdapun pembagian trauma kapitis adalah: Simple head injury Commotio cerebri Contusion cerebri Laceratio cerebri Basis cranii fractureSimple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat.PEMBAGIAN CEDERA KEPALA1. Simple Head InjuryDiagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan: Ada riwayat trauma kapitis Tidak pingsan Gejala sakit kepala dan pusingUmumnya tidak memerlukan perawatan khusus, cukup diberi obat simptomatik dan cukup istirahat.2. Commotio CerebriCommotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak pucat.Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak, EEG, pemeriksaan memori. Terapi simptomatis, perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap.3. Contusio CerebriPada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Yang penting untuk terjadinya lesi contusion ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Oleh karena itu, otak membentang batang otak terlalu kuat, sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. Akibat blockade itu, otak tidak mendapat input aferen dan karena itu, kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung.Timbulnya lesi contusio di daerah coup , contrecoup, dan intermediatemenimbulkan gejala deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran puli kembali, si penderita biasanya menunjukkan organic brain syndrome.Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu, sehingga terjadi vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat, atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif terlibat, maka rasa mual, muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul.Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Terapi dengan antiserebral edem, anti perdarahan, simptomatik, neurotropik dan perawatan 7-10 hari.4. Laceratio CerebriDikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung.Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis.5. Fracture Basis CraniiFractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa posterior. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala: Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding Epistaksis RhinorrhoeFraktur pada fossa media menimbulkan gejala: Hematom retroaurikuler, Ottorhoe Perdarahan dari telingaDiagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii. RUMAH SAKIT HUSADAFAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDAJAKARTA

Pathogenesis

MEKANISME DAN PATOLOGICedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut coup atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup)PATOFISIOLOGIGangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian meninggal.Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok.Karena itu, pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup.RUMAH SAKIT HUSADAFAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDAJAKARTATIK(tekanan intracranial)Kranium merupakan kerangka kaku yang berisi tiga komponen : otak, cairan serebro-spinal dan darah yang masing-masing tidak dapat diperas. Kranium hanya mempunyai sebuah lubang keluar utama yaitu foramen magnum. Ia juga memiliki tentorium kaku yang memisahkan hemisfer serebral dari serebelum. Otak tengah terletak pada hiatus dari tentorium.Fenomena otoregolasi cenderung mempertahankan aliran darah otak (ADO) stabil bila tekanan darah rata-rata 50-160 mmHg (