Ngelmu Kyai Petruk

  • View
    2.385

  • Download
    39

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kumpulan dari beberapa falsafah2 jawa yang mungkin berguna bagi kita

Text of Ngelmu Kyai Petruk

NGELMU KYAI PETRUKby wayang in Falsafah Wayang http://wayang.wordpress.com Berbeda dengan filsafat Barat, yang berakar dari filsafat Yunani (Socrates dkk.), filsafat Jawa tidak mau bersusah payah untuk berusaha menemukan apa kiranya unsur zat terkecil yang tidak bisa dibagi lagi yang membentuk suatu benda. Bagi orang Jawa semua itu adalah urusan dan pekerjaan Sing Ngecet Lombok. Bukan tugas manusia memikirkannya. Jika Plato setelah melalui pemikiran yang mendalam akhirnya memiliki keyakinan bahwa: terdapat kuda sempurna di alam kekal yang menjadi blue-print dari kuda-kuda yang ada dan kita lihat sekarang, maka bagi orang Jawa: yang penting adalah bagaimana merawat kuda dengan baik. Dan untuk menjadi seorang kusir dokar yang terampil kita memang tidak perlu tahu apakah memang benar ada kuda sempurna di alam kekal. Filsafat Jawa berbicara tentang hal-hal yang sederhana, namun sangat mendasar dan mendalam. Orang Jawa tidak mau pusing-pusing memikirkan apakah bumi berbentuk bulat ataukah lonjong, tapi yang penting adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya: uripku aja nganti duwe mungsuh. Filsafat Jawa mengajarkan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki: sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah. Meski demikian manusia harus bekerja: urip kudu nyambut gawe, dan mengetahui kedudukannya di dalam tatanan masyarakat. Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri: pipi padha pipi, bokong padha bokong. Kebijaksanaan kuno ini bahkan selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok dengan karakternya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang tersebut, sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satupun pekerjaan yang terselesaikan: Urip iku pindha wong njajan. Kabeh ora bisa dipangan. Miliha sing bisa kepangan. Berikut ini kutipan lengkap salah satu pitutur luhur yang sering disampaikan ki dalang dalam pertunjukan wayang kulit melalui tokoh Petruk: NGELMU KYAI PETRUK Kuncung ireng pancal putih Swarga durung weruh Neraka durung wanuh Mung donya sing aku weruh Uripku aja nganti duwe mungsuh. Ribang bumi ribang nyawa

Ana beja ana cilaka Ana urip ana mati. Precil mijet wohing ranti Seneng mesti susah Susah mesti seneng Aja seneng nek duwe Aja susah nek ora duwe. Senenge saklentheng susahe sarendheng Susah jebule seneng Seneng jebule susah Sugih durung karuan seneng Ora duwe durung karuan susah Susah seneng ora bisa disawang Bisane mung dirasakake dhewe. Kapiran kapirun sapi ora nuntun Urip aja mung nenuwun Yen sapimu masuk angin tambanana Jamune ulekan lombok, bawang uyah lan kecap Wetenge wedhakana parutan jahe Urip kudu nyambut gawe Pipi ngempong bokong Iki dhapur sampurnaning wong Yen ngelak ngombea Yen ngelih mangana Yen kesel ngasoa Yen ngantuk turua. Pipi padha pipi Bokong padha bokong Pipi dudu bokong. Onde-onde jemblem bakwan Urip iku pindha wong njajan Kabeh ora bisa dipangan Miliha sing bisa kepangan Mula elinga dhandhanggulane jajan: Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji Le ngaji nyang be jadah Gedang goreng iku rewange Kepethuk si alu-alu Nunggang dangglem nyengkelit lopis Utusane tuwan jenang Arso mbedhah ing mendhut Rame nggennya bandayudha Silih ungkih tan ana ngalah sawiji

Patinira kecucuran Ki Daruna Ni Daruni Wis ya, aku bali menyang Giri Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi Lho ratu kok kadi pak tani? Sumber: buku Air Kata-Kata, karangan Sindhunata, Galang Press, 2003, Yogyakarta, hal. 110

5 FALSAFAH JAWAby wayang in Falsafah Wayang http://wayang.wordpress.com Ada 5 falsafah jawa yang berguna untuk kita menghadapi perjalanan kehidupan kita: 1. Kukilo (Burung) 2. Wanito (Wanita) 3. Curigo (Waspada) 4. Turonggo (Kuda) 5. Wismo (Rumah) 1. Kukilo (Burung) Kebanyakan orang jawa selalu memelihara binantang peliharaan, dan kebanyakan pula binatang peliharaan yang umum di rawat adalah burung perkutut. Karena suaranya yang bagus merdu dan menentramkan suasana. Didalam kehidupan ini kita harus bisa mengikuti burung perkutut, yaitu dengan selalu bersuara yang bagus untuk didengar oleh orang lain, tidak selalu mengeluarkan suara yang bisa menyakiti hati orang lain. 2. Wanito (Wanita) Wanita secara universal melambangkan kelembutan, cinta kasih, perasaan sayang. Kita hidup didunia pastilah berada ditengah-tengah manusia dan makhluk lainnya. Kita harus selalu memberikan rasa kelembutan kita, cinta kasih kita dan rasa sayang kita kepada semua makhluk ciptaan sang Maha Kuasa. 3. Curigo (Waspada) Didunia kita pasti tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita beberapa detik, menit atau jam kedepan. Dengan sikap waspada ini maka kita diharapkan bisa selalu waspada akan gerak dan segala tingkah laku kita agar kejadian yang akan datang tidak menjadikan penderitaan pada diri kita sendiri. Curigo juga bisa diartikan dengan Eling terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena Beliau lah yang menciptakan masa lalu, masa sekarang dan masa depan kita. 4. Turonggo (Kuda) Untuk dapat mengendalikan kuda disaat kita menungganginya, maka tali

kendali yang harus kita pegang erat. Dalam kehidupan pengendalian diri akan segala nafsu dan ego harus kita kendalikan. Bukan dengan mengumbar nafsu, ego dan angkara murka. 5. Wismo (Rumah) Rumah, setiap kali kita pergi pasti akan kembali kerumah. Dari sini diartikan kita hidup didunia ini hanya keluar sebentar dari rumah kita yang sebenarnya, dan suatu saat pasti akan kembali ke rumah abadi kita yaitu rumah Tuhan. Dan kita selagi didunia harus tahu apa yang akan kita bawa sebagai oleh-oleh untuk-NYA agar kita lebih disayang oleh Beliau.

ASTHABRATAby wayang in Falsafah Wayang, Kitab & Kidung http://wayang.wordpress.com Berasal dari kata Asto atau Hasto yang artinya delapan, kemudian Baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi ASTHA BRATA atau Hasto Broto berati delapan laku atau delapan perbuatan. ASTHA BRATA terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna kepada Arjuna. Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau delapan macam watak-watak delapan dewa. Kewajiban seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap: 1. Dewa Surya atau Watak Matahari Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan serta memberi sarana hidup. Pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan dengan didasari pikiran yang matang dan teliti serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran dan kehati-hatian.

2. Dewa Chandra atau Watak Bulan Yang memberi kesenangan dan penerangan dengan sinarnya yang lembut. Seorang pemimpin bertindak halus dengan penuh kasih sayang dengan tidak meninggalkan kedewasaannya.

3. Dewa Yama atau Watak Bintang Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas keamanan anak buah, wilayah kekuasaannya.

4. Dewa Bayu atau Watak Angin Yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan seluruh rakyat secara teliti.

5. Dewa Indra atau Watak Mendung Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian memberikan manfaat dan menghidupkan, maka pemimpin harus berwibawa murah hati dan dalam tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya.

6. Dewa Agni atau Watak Api Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar dan membinasakan lawan. Pemimpin harus berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan berpijak pada kebenaran dan kesucian hati.

7. Dewa Baruna atau Watak Samudra Sebagai simbol kekuatan yang mengikat. Pemimpin harus mampu menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menjaga keseluruhan dan keutuhan rakyat serta melindungi rakyat dari segala kekuatan lain yang mengganggu ketentraman dan keamanan secara luas dan merata.

8. Dewa Kuwera atau Watak Kekayaan atau Watak Bumi Yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya karena harus memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan kejujuran terhadap kenyataan yang ada.

Sumber Penulisan : BUKU WYATA PRAJA, STPDN untuk Angkatan XIII Tahun 2005. FALSAFAH PANUNGGALAN by wayang in Kitab & Kidung Aras Dasar Budaya Spiritual Jawa (Tinjauan Selayang Pandang KAWRUH KEJAWEN) Oleh: Ki Sondong Mandali Pendahuluan Hamit-hamit tabik kaliman, Tertera dalam susunan acara pada Sarasehan Selasa Kliwon Yayasan Kanthil malam ini, temanya Budaya Spiritual. Maka saya yang didhawuhi sesorah menjadi gedandaban menyusun makalah yang sesuai tema. Apalagi saya sadar audiens yang akan saya sesorahi para tokoh pinunjul semua. Jujur kawula rumaos grogi saestu. Meski didera kegamangan, maka malam ini saya mencoba ngaturaken wacana bawarasa tentang Falsafah Panunggalan sebagai Aras Dasar Budaya Spiritual Jawa. Wacana ini juga saya maksudkan sebagai tinjauan selayang pandang Kawruh Kejawen. Semoga saja wacana pemikiran saya ini bisa diterima dengan legawa. Sebagaimana kita ketahui, sejarah panjang Jawa telah menerima sebaran budaya dan peradaban dari luar. Setidaknya ada sebaran budya dan peradaban besar dunia (Hindu, Buddha, Islam, Kristiani, dan modern sekuler) yang mengalir masuk ke ranah budaya dan peradabanJawa.

Melalui jejak sejarah kita bisa mengetahui bahwa budaya Hindu dan Budha dari Asia Daratan (India) pernah mengkooptasi dan mewarnai budaya Jawa selama lebih seribu tahun. Anehnya, ketika rejim wangsa-wangsa yang berasaskan budaya Hindu dan Budha tersebut surut, ternyata tidak meninggalkan komunitas Jawa pemeluk dua agama tersebut yang signifikan. Hal ini menarik untuk dikaji, karena mengesankan penerimaan Jawa terhadap agama Hindu dan Buddha sepertinya hanya di lapis luar atau lamis. Inner budaya dan peradaban Jawa tetap utuh t