Nervus Cranialis

  • View
    1.253

  • Download
    8

Embed Size (px)

Transcript

NERVI CRANIALES Ada 12 saraf kranial yang meninggalkan otak melalui foramina dan didistribusikan fissura di tengkorak. Semua saraf ini

ke kepala dan leher kecuali saraf kranial

kesepuluh, yang mempersarafi struktur-struktur yang berada di toraks dan abdomen. Saraf-saraf otak tersebut diberi nama sebagai berikut: olfactorius (n.I), opticus (n.II), oculomotorius (n.III), trochlearis (n.IV), trigeminus (n.V), abducens (n.VI), facialis (n.VII), vestibulocochlearis (n.VIII), glossopharyngeus (n.IX), vagus (n.X), accessorius (n.XI), dan hypoglossus (n.XII) (Snell, 2002). Nervus olfactorius, nervus opticus, dan nervus vestibulocochlearis merupakan saraf sensorik murni. Nervus oculomotorius, nervus trochlearis, nervus abducens, nervus accessorius, dan hypoglossus adalah saraf motorik murni. Nervus trigeminus, nervus facialis, nervus glossopharyngeus, dan nervus vagus merupakan saraf campuran motorik dan sensorik (Snell, 2002). Nervus kranialis memiliki nuklei motorik dan/ atau sensorik di dalam otak dan serabutserabut saraf perifer keluar dari otak serta meninggalkan tengkorak menuju organ sensorik atau efektor (Snell, 2002). Adapun serabut-serabut saraf kranial dikelompokkan menjadi beberapa jenis: a. Serabut aferen somatik, yang menghantarkan impuls rasa nyeri, suhu, raba, tekanan, dan sensasi propioseptif melalui reseptor-reseptornya di kulit, sendi, otot, dan sebagainya. b. Serabut aferen otonom (viseral), yang menghantarkan impuls (nyeri) dari organ visera. c. Serabut aferen khusus (SAK), yang terdiri atas SAK somatik yang menghantarkan impuls dari reseptor khusus (mata, telinga) dan SAK viseral yang menghantarkan impuls kecap dan bau. d. Serabut eferen somatik umum, yang mempersarafi otot-otot rangka (III, IV, VI, XII). e. Serabut eferen viseral, yang mempersarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar (parasimpatis/ simpatis)1

f. Serabut eferen brankhio-metrik khusus yang mempersarafi otot-otot derivat arkus brankhialis (n.V untuk arkus 1, n.VII untuk arkus 2, n. IX untuk arkus 3, n. X dan n. XI untuk arkus selanjutnya). Berbagai komponen saraf otak, fungsi, serta celah di cranium yang dilewati oleh saraf-saraf tersebut untuk meninggalkan cavum crania diringkas sebagai berikut:Saraf-Saraf Kranial (Nervi Craniales) No Nama Komponen I Olfactorius Sensorik (SVA)

Fungsi Penghidu

II III

Opticus Oculomotorius

Sensorik (SSA) Motorik (GSE, GVE)

IV

Trochlearis

Motorik (GSE)

Penglihatan Mengangkat kelopak mata atas, menggerakkan bola mata ke atas, bawah, dan medial; konstriksi pupil; akomodasi mata Membantu menggerakkan bola mata ke bawah dan lateral Kornea, kulit dahi, kulit kepala, kelopak mata, dan hidung; juga membran mukosa sinus parasanal dan rongga hidung Kulit wajah di atas maxilla; gigi geligi rahang atas; membrane mukosa hidung, sinus dan lempeng maxilla Otot-otot pengunyah, M. mylohyoideus, m. digastricus venter anterior, m. tensor veli palatini, dan m. tensor tympanicum. Kulit pipi; kulit di atas mandibula dan sisi kepala, gigi geligi rahang bawah dan articulation temporo mandibularis; membrane mukosa mulut dan bagian anterior lidah M. rectus lateralis menggerakkan mata ke lateral Otot-otot wajah dan kulit kepala, m. stapedius, m. digastricus venter posterior, dan m. stylohyoideus. Pengecapan dari dua-pertiga bagian anterior lidah, dari 2

Tempat keluar di otak Celah-celah di lamina cribrosa ossis ethmoidalis Canalis opticus Fissura orbitalis superior

Fissura orbitalis superior

V

Trigeminus Divisi ophtalmicus

Sensorik (GSA)

Fissura orbitalis superior

Divisi maxillaris

Sensorik (GSA)

Foramen rotundum

Divisi mandibularis

Motorik (SVE)

Foramen ovale

Sensorik (GSA)

VI

Abducens

Motorik (GSE)

Fissura orbitalis superior

VII

Facialis

Motorik (SVE)

Meatus acusticus interna, canalis facialis, foramen sylomastoideus

Sensorik (SVA)

Sekretomotorik parasimpatis (GVE)

dasar mulut dan palatum. Kelenjar ludah submandibula dan sublingual, kelenjar lakrimalis, dan kelenjar hidung dan palatum.

VIII

Vestibulocochlear Vestibular

Sensorik (SSA)

Cochlear IX Glossopharyngeus

Sensorik (SSA) Motorik (SVE) Sekretomotorik parasimpatis (GVE) Sensorik (GVA, SVA, GSA)

Dari utriculus, sacculus, dan canalis semicircularis- posis dan gerakan kepala Organ Corti- pendengaran M.stylopharingeusmembantu menelan. Kelenjar parotis.

Meatus internus

acusticus

Meatus acusticus internus Foramen jugulare

Sensasi umum dan pengecap dari dua pertiga bagian posterior lidah dan faring; sinus carotis (baroreseptor); corpus carotis (kemoreseptor) X Vagus Motorik (GVE, SVE) Jantung dan pembuluh darah Foramen jugulare besar di toraks; laring, trakea, Sensorik (GVA, SVA, bronkus, dan paru; traktus GSA) alimentary dari faring ke fleksura splenicus kolon; hepar, ginjal, dan pankreas XI Accessorius Motorik (SVE) Otot-otot palatum molle Foramen jugulare Radix cranialis (kecuali m. tensor veli palatini), faring (kecuali m. stylopharyngeus), dan laring (kecuali m. cricothyroid) di cabang-cabang n. vagus Radiks spinalis Motorik (SVE) M. sternocleidomastoideus Foramen jugulare dan m. trapezius XII Hypoglossus Motorik (GSE) Otot-otot lidah (kecuali m. Canalis hypoglossus palatoglossus) mengatur bentuk dan pergerakan lidah Keterangan: GSA: aferen somatik umum, SSA: aferen somatik khusus, GVA: aferen viseral umum, SVA: aferen visceral khusus, GSE: eferen somatik umum, GVE: eferen viseral umum, SVE: eferen viseral khusus.

1. Nervus Olfactorius (Saraf Otak I) Nervus olfactorius muncul dari sel-sel reseptor saraf di dalam membran mukosa olfaktori yang terletak di rongga hidung bagian atas di cranial conchae superior. Sel reseptor olfaktori tersebar di antara sel penyokong. Setiap sel reseptor terdiri dari sel-sel saraf bipolar kecil dengan processus perifer yang kasar yang berjalan ke permukaan membran dan sebuah processus sentral yang halus. Dari processus perifer yang kasar timbul cilia-cilia pendek, rambut olfactorius yang menembus ke dalam mucus yang

3

menutupi permukaan membran mukosa. Tonjolan serabut-serabut ini bereaksi terhadap bau di udara dan menstimulasi sel-sel olfactorius (Snell, 2002). Processus sentralis yang halus

membentuk serabut saraf olfactorius. Berkas serabut-serabut saraf ini masuk ke bulbus olfactorius melalui lubang-lubang di lamina cribrosa os ethmoidale. Serabut-serabut nervus olfactorius tidak bermielin dan diliputi oleh sel Schwann (Snell, 2002). Gangguan-gangguan yang melibatkan saraf otak I sebagai berikut: 1) Anosmia Hilangnya sensasi penciuman yang dapat disebabkan oleh kelainan agenesis traktus olfaktorius (merupakan cacat bawaan), gangguan mukosa olfaktorius (rinitis, tumor hidung), robekan fila olfaktoria akibat fraktur lamina kribosa, destruksi bulbus dan traktus olfactorius akibat adanya kontusi kontrakup

(biasanya karena jatuh dan belakang kepala terbentur), trauma region orbita, dan infeksi sekitarnya serta tumor fosa cranial anterior (Satyanegara, 1998). 2) Hiperosmia Sensasi penciuman akut yang berlebihan. Keadaan ini dapat dijumpai pada kasuskasus histeria, kadang pada kasus adiksi kokain. 3) Parosmia Abnormalitas penciuman yang dapat terjadi pada kasus-kasus skhizofrenia, lesilesi girus unsinatus, dan histeria. 4) Kakosmia Timbulnya bau-bau tak enak, biasanya merupakan akibat dekomposisi jaringan. 5) Halusinasi olfaktorius Halusinasi penciuman yang dapat terjadi pada penderita-penderita psikosis, epilepsi, girus unsinatus (uncinate fits) akibat lesi unkus dan hipokampus (Satyanegara, 1998).

4

2. Nervus Opticus (Saraf Otak II) Serabut- serabut N. II adalah aksonakson sel di lapisan ganglionik retina. Serabut tersebut berkonvergensi pada discus opticus dan keluar dari mata, pusatnya sekitar 3 atau 4 mm dari sisi nasal sebagai N. II. Serabutserabut N.II bermielin, namun selubungnya dibentuk oleh sel oligodendrosit bukan sel Schwann. Oleh karena itu, N. II disamakan dengan traktus saraf di susunan saraf pusat. Saraf otak II meninggalkan rongga orbita melalui canalis opticus dan bergabung dengan nervus opticus sisi kontralateral untuk membentuk chiasma opticum (Snell, 2002). Gangguan lapang pandang cenderung dapat mengarahkan adanya gangguan atau kerusakan sistem penglihatan di lokasi tertentu seperti: 1) Buta sirkumferensial (tubuler) Neuritis optikum retrobulbar buta total sebelah mata: kerusakan seluruh serabut N. II 2) Hemianopsia bitemporalis Gangguan daerah khiasma karena tumor hipofise, meningioma, tuberkulum sela, kraniofaringioma 3) Hemianopsia nasal unilateral Lesi prekhiasma karena perkapuran a. karotis interna 4) Hemianopsia homonimus unilateral (refleks pupil negatif) Lesi lobus parietal/temporal kontralateral yang menekan traktus optikus 5) Kuadranopsia hominimus inferior unilateral Gangguan radiasio optika kontralateral 6) Hemianopsia homonimus unilateral (reflek pupil normal) Gangguan kedua sisi khiasma optikus serebelum serabut-serabut n. II menghilang, misalnya aneurisma a. karotis bilateral, arakhnoiditis khiasmatika. 7) Macular spring Gangguan di belakang khiasma optikum/ lesi lobus oksipitalis (Satyanegara, 1998).5

3. Nervus Oculomotorius (Saraf Otak III) Nervus oculomotorius mempunyai dua nuklei motorik, yaitu nukleus motorik utama dan nukleus parasimpatis asesorius (nukleus Edinger-Westphal). Nervus oculomotorius muncul dari permukaan anterior mesencephalon. Nervus ini melintas kedepan di antara arteria cerebri posterior dan arteria cerebella superior. Selanjutnya, nervus ini berjalan ke dalam fossa crania media di dinding lateral sinus cavernosus. Disini, nervus oculomotorius terbagi menjadi ramus superior dan inferior yang memasuki rongga orbita melalui fisura orbitalis superior (Snell, 2002). N.