of 96 /96
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user NASKAH PUBLIKASI ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Program Studi Agrobisnis Oleh : Rinda Saptianuri H 1308508 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

NASKAH PUBLIKASI ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI … · pengolahan pangan maupun industri agribisnis atau agroindustri. Agroindustri mempunyai rentang pengertian yang amat lebar. Agroindustri

  • Author
    dinhque

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of NASKAH PUBLIKASI ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI … · pengolahan pangan maupun industri agribisnis...

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

NASKAH PUBLIKASI

ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU

DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Program Studi Agrobisnis

Oleh :

Rinda Saptianuri

H 1308508

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

PERNYATAAN

Dengan ini kami selaku Tim Pembimbing Skripsi Mahasiswa Program

Sarjana :

Nama : Rinda Saptianuri

NIM : H 1308508

Jurusan/Program Studi : Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis

Menyetujui Naskah Publikasi Ilmiah yang disusun oleh yang bersangkutan

dan dipublikasikan dengan / tanpa*) mencantumkan nama tim pembimbing

sebagai Co-Author.

*) Coret yang tidak perlu

Pembimbing Utama

Prof. Dr. Ir. Darsono, Msi NIP. 19660611 199103 1 002

Pembimbing Pendamping

Nuning Setyowati, SP. MSc NIP. 19820325 200501 2 002

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU

DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR

RINDA SAPTIANURI H 1308508

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya biaya, penerimaan, keuntungan, profitabilitas, risiko usaha, dan efisiensi usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.

Metode dasar penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di Desa Karanglo dan Desa Bandardawung Kecamatan Tawangmangu, karena hanya wilayah tersebut yang memproduksi keripik ketela ungu di Kabupaten Karanganyar. Pengambilan responden dilakukan dengan teknik sensus dan diperoleh responden yang berjumlah 19 produsen. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan pencatatan. Analisis data yang digunakan meliputi analisis biaya, penerimaan, keuntungan dan profitabilitas, analisis risiko serta analisis efisiensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya rata-rata yang dikeluarkan produsen keripik ketela ungu dalam satu bulan selama bulan Oktober 2010 sebesar Rp 28.092.681,90. Penerimaan rata-rata yang diperoleh pengusaha adalah sebesar Rp 36.340.580,36 dan keuntungan rata-rata yang diperoleh produsen keripik ketela ungu adalah sebesar Rp 8.247.898,46 dengan profitabilitas sebesar 23,00%.

Nilai koefisien variasi usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar sebesar 0,93 atau lebih besar dari 0,5 dan batas bawah keuntungan Rp -7.047.041,60 atau bernilai negatif (L < 0), maka dapat dinyatakan bahwa usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar memiliki peluang mengalami kerugian. Usaha industri keripik ketela ungu yang dijalankan selama ini sudah efisien yang ditunjukkan dengan R/C rasio lebih dari satu yaitu sebesar 1,29.

Kata Kunci : Analisis Usaha, Keripik Ketela Ungu, Keuntungan, Risiko, Efisiensi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

BUSSINESS ANALYSIS AT AGROINDUSTRY OF PURPLE CASSAVA CHIP IN TAWANGMANGU DISTRICT

KARANGANYAR REGENCY

RINDA SAPTIANURI H1308508

ABSTRACT

The aims of this research is to analyse how much the cost is, income, profit, profitability, business risk, and business efficiency at agroindustry of purple cassava chip in Tawangmangu district, Karanganyar regency.

Basic method of research used is analytic descriptive method. It was performed purposively, that is in Karanglo and Bandardawung village of Tawangmangu district, because only that village which produce of purple cassava chip in Karanganyar regency. The taking of responds was performed with census technic and it was gained respondents amounting 19 producers. Data used is primary data and secondary data. Technique of data collecting used consist of analyzis cost, income, profit and profitability, risk analyzis, and analyzis of efficiency.

The result of the research showed that average total cost which is issued by producers of purple cassava chip in a moth for October 2010 is 28.092.681,90 rupiah. Average income which gained by producers is 36.340 580,36 and average profit gained by producer of purple cassava chip is 8.247.898,46 with profitability amounting 23,00%.

Coeficient value of agrobusiness variation of purple cassava chip in Tawangmangu of Karanganyar regency amounting 0,93 or greater from 0,5 and ground limit of profit is 7.047.041,60 or has negative value (L

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri pangan merupakan salah satu bidang yang sangat penting

peranannya dalam perekonomian Indonesia. Di samping mampu memenuhi

kebutuhan pangan Indonesia, juga dapat menghasilkan devisa bagi negara.

Keberadaan industri pangan di Indonesia dapat menyerap tenaga kerja dalam

jumlah yang cukup banyak serta mampu mendorong berdirinya industri

penunjang seperti industri pengolahan makanan, industri mesin dan peralatan

pengolahan pangan maupun industri agribisnis atau agroindustri.

Agroindustri mempunyai rentang pengertian yang amat lebar.

Agroindustri adalah suatu kegiatan yang mengolah bahan yang dihasilkan dari

usaha pertanian dalam arti luas, baik dari pertanian tanaman pangan, maupun

non pangan, peternakan ataupun perikanan. Agroindustri merupakan

industrialisasi di bidang pertanian dalam rangka peningkatan nilai tambah dan

daya saing produk pertanian. Agroindustri merupakan solusi penting untuk

menjembatani keinginan konsumen dan karakteristik produk pertanian yang

variatif dan tidak tahan lama bila disimpan (Nopianto, 2010).

Agroindustri dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

Setidaknya ada lima alasan utama, yaitu : (1) industri pengolahan mampu

mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif, yang akhirnya

akan memperkuat daya saing produk; (2) produk agroindustri memiliki nilai

tambah dan pangsa pasar yang besar sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan

perekonomian nasional; (3) agroindustri memiliki keterkaitan yang besar baik ke

hulu maupun ke hilir, sehingga mampu menarik kemajuan sektor lain; (4)

memiliki basis bahan baku lokal (keunggulan komparatif) sehingga terjamin

keberlanjutannya; dan (5) berpeluang mengubah struktur ekonomi nasional dari

pertanian ke industri (Supriyati dan Tarigan, 2008).

Salah satu cara yaitu mewujudkan penganekaragaman pangan

sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan

pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama

disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan

lainya. Umbi-umbian merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia.

Umbian-umbian mempunyai kandungan gizi yang cukup memenuhi jika

dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Jenis umbi-umbian yang sering

ditemukan di pasaran antara lain jenis talas-talasan, ketela rambat, kentang, ketela

pohon. Ketela rambat mempunyai kulit tipis dan berkadar air tinggi sehingga

perlu penanganan yang baik selama proses panen, dan pengangkutan serta

penyimpanan sebelum dimanfaatkan. Apabila kulit yang tipis tersebut rusak,

maka akan mudah sekali mikroorganisme (bakteri, jamur, dan lain-lain) masuk ke

dalam umbi, sehingga seluruh bagian umbi akan cepat rusak. Untuk

memperpanjang masa simpan, ketela rambat dapat diolah dan dijadikan sebagai

camilan dengan cara direbus, digoreng, atau dijadikan keripik (Anonim, 2008).

Ketela rambat (Ipomoea batatas) merupakan salah satu tanaman yang

mempunyai potensi besar di Indonesia. Penghasil utama ketela rambat di

Indonesia adalah Jawa dan Irian Jaya. Peluang perluasan areal panen masih

sangat terbuka. Dan dengan perbaikan teknik budidaya dan penggunaan

varietas unggul nasional, dapat meningkatkan produktivitas ketela rambat

(Anonim, 2010).

Berdasarkan data BPS Provinsi Jawa Tengah, hampir semua di

Kabupaten/Kota terdapat budidaya ketela rambat. Dari 35 Kabupaten/Kota di

Jawa Tengah, hanya 5 Kabupaten/Kota yang tidak terdapat budidaya ketela

rambat. Luas panen, rata-rata produksi dan produksi ketela rambat di 30

Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

Tabel 1. Luas Panen, Rata-rata Produksi dan Produksi Ketela Rambat di Jawa Tengah Tahun 2008

No. Kabupaten/ Kota

Ketela Rambat Luas

Panen (Ha)

Rata-rata Produksi (Kw/Ha)

Produksi (Ton)

1. Kab. Cilacap 293 133,04 3.898 2. Kab. Banyumas 85 130,12 1.106 3. Kab. Purbalingga 327 122.69 4.012 4. Kab. Banjarnegara 291 129,42 3.766 5. Kab. Kebumen 66 125,76 830 6. Kab. Purworejo 58 124,48 722 7. Kab. Wonosobo 841 134,01 11.270 8. Kab. Magelang 1.298 144,53 18.760 9. Kab. Boyolali 35 126,29 442 10. Kab. Klaten 65 136,31 886 11. Kab. Wonogiri 245 140,53 3.443 12. Kab. Karanganyar 557 148,65 8.280 13. Kab. Sragen 5 74 37 14. Kab. Grobogan 118 129,07 1.523 15. Kab. Blora 422 130,09 5.490 16. Kab. Rembang 240 128,88 3.039 17. Kab. Pati 78 126,41 986 18. Kab. Kudus 138 115,22 1.590 19. Kab. Jepara 50 120 600 20. Kab. Demak 165 123,82 2.043 21. Kab. Semarang 692 131,73 9.116 22. Kab. Temanggung 356 125,08 4.453 23. Kab. Kendal 256 132,58 3.394 24. Kab Batang 669 126,25 8.446 25. Kab. Pekalongan 209 121,55 2.504 26. Kab. Pemalang 301 128,34 3.869 27. Kab. Tegal 229 128,54 2.939 28. Kab. Brebes 283 141,31 3.999 29. Kota Salatiga 36 121,67 438 30. Kota Semarang 61 125,08 763

Jumlah 8466 133,1 112.689

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah 2009

Berdasarkan Tabel 1, salah satu wilayah di Indonesia yang

membudidayakan ketela rambat adalah Kabupaten Karanganyar. Meskipun

pada tabel tersebut luas lahan dan produksi ketela rambat di Kabupaten

Karanganyar tidak seluas dan sebesar di Kabupaten Magelang dan Wonosobo,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

akan tetapi produksi rata-rata per hektarnya memiliki urutan tertinggi. Dan

hampir semua ketela rambat yang dibudidayakan di Kabupaten Karanganyar

adalah jenis ketela rambat yang memiliki warna daging buah ungu.

Ketela ungu merupakan salah satu umbi sumber karbohidrat yang

banyak ditanam oleh masyarakat yang menyimpan potensi besar baik sebagai

pangan alternatif maupun pengembangan potensi bisnis. Salah satu produk

olahan ketela ungu yaitu keripik ketela ungu yang sudah populer dan sudah

banyak diproduksi untuk memenuhi kebutuhan komersial (Rukmana, 2010).

Tanaman ketela ungu (Ipomoea batatas L. Sin. batatas edulis choisy)

berasal dari Amerika bagian tengah. Kemudian tersebar ke berbagai negara di

dunia yang memiliki sistem pertanian cukup maju, termasuk Indonesia. Pada

sekitar tahun 1990, ketela ungu sudah tersebar dan ditanam hampir di seluruh

wilayah Nusantara. Daerah yang cocok digunakan untuk membudidayakan ketela

ungu adalah dataran rendah sampai ketinggian 500 m diatas permukaan laut.,

yang bersuhu 21-27oC, berkelembaban 50-60%, mendapat panas sinar matahari

11-12 jam/hari, dengan curah hujan 750-1.500 mm/tahun. Di dataran tinggi

(pegunungan) dengan ketinggian mencapai 1.000 m di atas permukaan laut,

ketela ungu masih mampu tumbuh dengan baik, namun pencapaian umurnya

lebih lama. Tanaman ketela ungu akan tumbuh dengan baik dan berproduksi

optimal bila ditanam pada tanah yang subur, gembur, banyak mengandung

humus, dan ber-pH 5,5-7,5 (Rukmana, 2010).

Kondisi geografis Kabupaten Karanganyar yang terletak pada ketinggian

511 m diatas permukaan laut dengan curah hujan 2.453 mm/tahun dan bersuhu

antara 22-31oC serta dengan tanah yang subur dan mengandung humus yang

cukup, cocok untuk membudidayakan ketela ungu (BPS Karanganyar, 2009).

Seperti yang terlihat pada Tabel 1 bahwa Kabupaten Karanganyar memiliki rata-

rata produksi tertinggi tiap hektarnya.

Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Karanganyar 14 kecamatan

diantaranya membudidayakan ketela ungu, sedangkan 3 kecamatan lainnya tidak

membudidayakan dikarenakan kondisi lahan kurang memungkinkan untuk

budidaya ketela ungu tersebut. Berdasarkan data 5 tahun terakhir dari Dinas

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

Pertanian Kabupaten Karanganyar (2005-2009) secara terinci luas lahan tanaman

ketela ungu di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Lahan Tanaman Ketela ungu di Kabupaten Karanganyar Tahun 2005-2009

No. Kecamatan Luas Lahan (Ha) Rata-

rata (Ha) 2005 2006 2007 2008 2009 1. Jatipuro - - 2 - 1 0,6 2. Jumapolo 6 5 7 7 - 5 3. Jumantono 12 5 45 16 - 15,6 4. Matesih 230 99 117 152 36 126,8 5. Tawangmangu 56 66 118 83 82 81 6. Ngargoyoso 196 168 68 290 105 165,4 7. Karangpandan 79 125 99 94 43 88 8. Karanganyar - - - - 1 0,2 9. Tasikmadu - - - - 4 0,8 10. Colomadu 3 3 - - - 1,2 11. Kebakkramat - - - - 16 3,2 12. Mojogedang 44 50 103 83 63 68,6 13. Jenawi 126 52 32 83 148 88,2 14. Kerjo 24 10 34 27 36 26,2

Jumlah 776 583 621 754 535 670,8

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar 2009

Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa Kecamatan yang

mempunyai rata-rata lahan yang cukup luas dan setiap tahunnya

membudidayakan ketela ungu terdapat di Kecamatan Ngargoyoso, Matesih

dan Jenawi. Total lahan terluas yang digunakan untuka budidaya ketela ungu

terdapat pada tahun 2005. Di setiap tahunnya luas lahan yang digunakan

berubah, akan tetapi perubahannya tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan

karena kondisi cuaca sekarang ini yang tidak stabil, kadang juga beralih

budidaya tanaman lain.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

Dari luas lahan yang digunakan untuk budidaya ketela ungu, maka dapat

dilihat produksi ketela ungu pada Tabel 3 berikut ini :

Tabel 3. Produksi Tanaman Ketela Ungu di Kabupaten Karanganyar Tahun 2005-2009

No. Kecamatan

Produksi (Ton) Rata-rata (Ton) 2005 2006 2007 2008 2009

1. Jatipuro - - 45 - 20 13 2. Jumapolo 132 95 156 154 - 107,4 3. Jumantono 264 95 1.002 354 - 343 4. Matesih 5.064 1.878 2.607 3.405 688 2.728,4 5. Tawangmangu 1.233 1.252 2.629 1.859 1.578 1.710,2 6. Ngargoyoso 4.316 3.167 1.515 4.682 1.993 3.134,6 7. Karangpandan 1.740 2.372 2.117 2.106 816 1.830,2 8. Karanganyar - - - - 19 3,8 9. Tasikmadu - - - - 76 15,2 10. Colomadu 66 57 - - - 24,6 11. Kebakkramat - - - - 290 58 12. Mojogedang 969 969 2.295 1.851 1.147 1.446,2 13. Jenawi 2.774 986 712 1.843 2.702 1.803,4 14. Kerjo 528 190 756 595 683 550,4

Jumlah 17.086 11.061 13.836 16.849 10.012 13.768,4

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar 2009

Berdasarkan Tabel 3 diatas, dapat diketahui bahwa jumlah produksi

tertinggi ketela ungu pada data 5 tahun terakhir terdapat pada tahun 2005. Dan

Kecamatan yang memiliki rata-rata produksi tertinggi yaitu di Kecamatan

Ngargoyoso, diikuti Kecamatan Matesih dan Karangpandan. Ketela ungu yang

diproduksi di Kabupaten Karanganyar tidak hanya dipasarkan langsung, akan

tetapi sebagian besar diolah untuk memberikan nilai tambah pada ketela ungu

tersebut. Salah satu produk olahan ketela ungu yang diproduksi adalah keripik

ketela ungu. Mekipun pada Tabel 2 menunjukan hasil produksi ketela ungu yang

ada di Kabupaten Karanganyar cukup tinggi, akan tetapi untuk memenuhi

permintaan para pengusaha keripik ketela ungu belum mencukupi. Sehingga

membutuhkan ketela ungu dari luar Kabupaten Karanganyar, seperti dari

Magetan, Ngawi dan Bandung.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

Berdasarkan data Tabel 2 dan 3 diatas, dapat dilihat bahwa Kecamatan

Tawangmangu tidak mempunyai lahan yang cukup luas dan produksi ketela ungu

yang tinggi, akan tetapi sentra industri pengolahan keripik ketela ungu justru

terdapat di Kecamatan Tawangmangu. Pengusaha agroindustri keripik ketela

ungu yang terdapat di Kecamatan Tawangmangu dapat dilihat pada Tabel 4

berikut ini:

Tabel 4. Pengusaha Agroindustri Keripik Ketela Ungu di Kecamatan

Tawangmangu

No. Nama Usaha Alamat 1. Gito Dukuh, Karanglo 2. Yamdi Dukuh, Karanglo 3. Parjo Dukuh, Karanglo 4. Wagyo Dukuh, Karanglo 5. Wagino Dukuh, Karanglo 6. Arjoyono Dukuh, Karanglo 7. Wirosuparno Dukuh, Karanglo 8. Nurhadi Dukuh, Karanglo 9. Parno Dukuh, Karanglo 10. Jumadi Sadakan Lor, Karanglo 11. Suyanto Sadakan Lor, Karanglo 12. Suyatno Sadakan Lor, Karanglo 13. Jumini Sadakan Lor, Karanglo 14. F. Wilarso Sadakan Lor, Karanglo 15. Supadi Sadakan Lor, Karanglo 16. Kamto Blimbing, Karanglo 17. Parno Blimbing, Karanglo 18. Karjo Bandar, Bandardawung 19. Sutrisno Jabalkanil, Bandardawung

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan, Penanaman Modal dan Koperasi Kabupaten Karanganyar 2008

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa terdapat 19 pengusaha

agroindustri keripik ketela ungu yang masih memproduksi keripik ketela ungu.

Agroindustri tersebut hanya terdapat di dua desa di Kecamatan Tawangmangu,

yaitu Desa Karanglo dan Bandardawung. Usaha agroindustri keripik ketela ungu

tersebut dikelola secara perorangan dengan jumlah tenaga kerja antara 12-15

orang. Jadi agroindustri ini tergolong industri skala kecil (5-19 orang).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

Keripik ketela ungu merupakan makanan ringan yang mudah diproduksi.

Selain itu agroindustri keripik ketela ungu juga mempunyai peranan penting

dalam menambah pendapatan keluarga dan dapat juga menciptakan lapangan

kerja bagi masyarakat. Agroindustri keripik ketela ungu hingga saat ini masih

terus berproduksi, bahkan sedang dikembangkan oleh pemerintah setempat,

dengan harapan keripik ketela ungu ini dapat menjadi jajanan atau oleh-oleh khas

dari Tawangmangu, di mana Tawangmangu itu sendiri merupakan tempat wisata

yang sudah cukup dikenal masyarakat luas. Selain itu agroindustri keripik

ketela ungu ini mempunyai prospek pasar yang baik. Karena selain sebagai

oleh-oleh khas dari Tawangmangu, keripik ketela ungu ini juga dipasarkan ke

kota-kota lain di Pulau Jawa, seperti Solo, Bandung dan Jakarta. Melihat

pentingnya agroindustri ini maka perlu dilakukan penelitian tentang analisis

usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar.

B. Perumusan Masalah

Pembangunan agroindustri masih dihadapkan pada berbagai tantangan,

baik tantangan atau permasalahan yang ada di dalam negeri atau di luar negeri.

Beberapa permasalahan agroindustri ini khususnya permasalahan dalam negeri

adalah kurang tersedianya bahan baku yang cukup dan kontinu, kurang

konsistennya kebijakan pemerintah terhadap agroindustri, kurangnya fasilitas

permodalan (perkreditan), keterbatasan pasar, lemahnya infrastuktur,

kurangnya penelitian dan pengembangan, lemahnya keterkaitan industri hulu

dan hilir, kualitas produksi dan prosesing yang belum mampu bersaing serta

lemahnya enterpreneurship (Soekartawi, 2001).

Agroindustri keripik ketela ungu Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar ini dapat tergolong dalam usaha kecil yang masih berhadapan

dengan berbagai kendala sehingga membutuhkan pembinaan dari pihak terkait,

yakni dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Penanaman Modal dan Koperasi

Kabupaten Karanganyar. Adanya keterbatasan bahan baku, dan lemahnya

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

sarana produksi menjadikan produksi keripik ketela ungu di Kecamatan

Tawangmangu Kabupaten Karanganyar ini kurang optimal.

Meskipun demikian, tujuan dari agroindustri keripik ketela ungu ini

sama dengan tujuan dari usaha lainnya, yaitu mencari keuntungan yang

sebesar-besarnya. Oleh karena itu besarnya biaya yang dikeluarkan harus

diperhitungkan disesuaikan dengan penerimaan yang diperoleh.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diangkat beberapa permasalahan

antara lain :

1. Berapa besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan profitabilitas dari

agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar?

2. Apakah usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar yang diusahakan berisiko?

3. Apakah usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar yang diusahakan efisien?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan profitabilitas dari

agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar.

2. Menganalisis risiko usaha dari agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan

Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.

3. Menganalisis efisiensi usaha agrondustri keripik ketela ungu di Kecamatan

Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. D. Kegunaan Penelitian

1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan wawasan tentang agroindustri keripik

ketela ungu dan merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar

Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

2. Bagi Pemerintah Daerah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran

dan sebagai bahan penyusunan kebijakan pangan yang lebih baik di masa

mendatang, terutama usaha agroindustri keripik ketela ungu.

3. Bagi Pengusaha Keripik Ketela Ungu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran

dan pertimbangan pengusaha keripik ketela ungu untuk meningkatkan

penerimaan, keuntungan, profitabilitas dan efisiensi serta nilai tambah

produk.

4. Bagi Akademisi dan Pemerhati Agroindustri

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan sumber

informasi bagi pemerhati mengenai permasalahan yang sama di masa

mendatang.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

II. LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian Alhuda (2004) yang berjudul Analisis Usaha dan

Efisiensi Agroindustri Kripik Ubi Jalar (Studi Kasus di Agroindustri Kripik Ubi

Jalar Sehati Desa Kemiri Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto) yang telah

dilakukan, agroindustri kripik ubi jalar Sehati dalam satu kali proses produksi

rata-rata mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 25.388,2 dan biaya variabel

sebesar Rp 864.157,2. Dengan jumlah produksi sebanyak 3911 Kg dengan

harga perkilogramnya Rp 7.000,00 maka agroindustri ini mendapatkan total

penerimaan rata-rata satu kali produksi sebesar Rp 1.244.409,1. Dalam

penelitian ini pada agroindustri kripik ubi jalar Sehati mendapatkan rata-rata

keuntungannya adalah sebesar Rp 354.863,7. Nilai R/C dalam penelitian ini

adalah sebesar 1,39 hal ini berarti jika agroindustri kripik ubi jalar Sehati

mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000.000,00 maka agroindustri ini akan

memperoleh penerimaan sebesar Rp 13.900.000,00. Dalam penelitian ini

diperoleh nilai BEPq rata-rata sebesar 127,07 Kg dan nilai BEPr rata-rata

sebesar Rp 5003,5 / Kg.

Ningrum (2006), dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Nilai

Tambah dan Kelayakan Usaha Agroindustri Bakpao Telo (Studi Kasus pada

Home Industri Lestari Malang), menyatakan bahwa dari penerimaan selama

1 bulan Rp 14.400.000,00 dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan

selama 24x proses produksi Rp 5.783.083,00 maka akan didapatkan

keuntungan usaha sebesar Rp 8.616.917,00. Dilihat dari skala industri yang

tergolong industri rumah tangga (kecil), maka dapat dikatakan bahwa usaha

bakpao telo Lestari sangat menguntungkan. Hasil perbandingan total revenue

dan total cost ( R/C Ratio ) sebesar 2,59 ( >1), yang berarti bahwa usaha

pembuatan bakpau telo Lestari efisien. Nilai tambah yang tercipta pada

pengolahan ketela rambat menjadi bakapo telo adalah sebesar Rp 3.051,00

dengan imbalan tenaga kerja Rp 1.358,00 dan keuntungan sebesar Rp 1.693,00

dalam tiap satu kali proses produksi. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha

11

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

di home industri Lestari selama 23 triwulan menunjukkan bahwa usaha

pengolahan bakpao telo layak untuk dikembangkan, ini dibuktikan dengan nilai

NPV sebesar Rp 251.256.483,00 IRR 32,008%, dan Net B/C Ratio 5,6 pada suku

tingkat bunga 17% dan waktu pengembalian biaya investasi pada triwulan ke-2.

Berdasarkan dari penelitian Alhuda (2004) dan Ningrum (2006) di atas,

menunjukan bahwa agroindustri dengan bahan baku ketela rambat mempunyai

prospek yang baik untuk dikembangkan. Demikian pula dengan agroindustri

keripik ketela ungu yang ada di Kecamatan Tawangmangu, memiliki bahan baku

yang sama dengan kedua penelitian diatas, yaitu ketela rambat. Ketela rambat

dapat diolah dengan cara yang mudah dan sederhana. Dengan diolah menjadi

berbagai macam produk olahan makanan, akan memberikan nilai tambah pada

ketela rambat.

Dinarti (2009), dalam penelitian yang berjudul Analisis Usaha

Agroindustri Keripik Pisang di Kabupaten Karanganyar menyatakan bahwa

dalam produksi keripik pisang rata-rata per bulan mengeluarkan biaya total

sebesar Rp 4.107.934,90 dan dengan penerimaan sebesar Rp 5.613.252,80

sehingga diperoleh keuntungan Rp 1.505.317,82 tiap bulannya dengan

profitabilitas usaha sebesar 36,64%. Sehingga usaha agroindustri keripik

pisang ini menguntungkan. Nilai koefisien variasi sebesar 3,46>0 dengan

batas bawah keuntungan (-)Rp 8.923.829,98 setiap pengolahan buah pisang

sebanyak 330,31 kg. Ini berarti bahwa ada peluang kerugian yang akan

diterima oleh agroindustri keripik pisang sebesar Rp 8.923.829,98. Dengan

demikian usaha ini memiliki risiko yang tinggi. Tingkat efisiensi sebesar 1.37,

artinya usaha agroindustri ini sudah efisien untuk dijalankan meskipun

memiliki risiko yang tinggi. Dan setiap satu kg bahan baku pisang memiliki

nilai tambah produk senilai Rp 8.778,08.

Valentina (2009), dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Nilai

Tambah Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Keripik Singkong di Kabupaten

Karanganyar (Kasus pada KUB Wanita Tani Makmur), menunjukkan bahwa

keuntungan yang diterima dari usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

singkong dalam satu kali proses produksi pada anggota KUB Wanita Tani

Makmur dari ubi kayu mentah sampai keripik singkong jadi sebesar

Rp 10.375,61. Sedangkan pada KUB Wanita Tani Makmur keuntungan yang

diterima dari keripik singkong jadi sampai matang (keripik singkong) sebesar

Rp 1.610.418,99. Efisiensi usaha pengolahan ubi kayu mentah sampai keripik

singkong jadi di Kabupaten Karanganyar pada anggota KUB Wanita Tani

Makmur adalah sebesar 1,11. Sedangkan efisiensi usaha pengolahan keripik

singkong jadi sampai matang pada KUB Wanita Tani Makmur sebesar 1,68.

Pengolahan ubi kayu mentah menjadi keripik singkong jadi yang dilakukan

pada anggota KUB Wanita Tani Makmur memberikan nilai tambah bruto sebesar

Rp 52.043,74 nilai tambah netto sebesar Rp 50.558,25 nilai tambah per bahan

baku sebesar Rp 979,55/kg dan nilai tambah per tenaga kerja sebesar

Rp 3.097,84/JKO. Sedangkan pengolahan keripik singkong jadi menjadi

matang pada KUB Wanita Tani Makmur memberikan nilai tambah bruto

sebesar Rp 1.690.750,00 nilai tambah netto sebesar Rp 1.686.461,45 nilai

tambah per bahan baku sebesar Rp 7.773,56/kg dan nilai tambah per tenaga

kerja sebesar Rp 37.572,22/JKO.

Berdasakan penelitian Dinarti (2009) dan Valentina (2009) tersebut

dapat diambil kesimpulan bahwa usaha agroindustri mampu memberikan

keuntungan dan efisien untuk dijalankan meskipun terdapat peluang kerugian.

Dan mengacu pada kedua penelitian diatas, usaha agroindusti keripik ketela

ungu di Kecamatan Tawangmangu juga menggunakan analisis usaha yang

sama. Analisis keuntungan dapat digunakan untuk mengetahui besarnya

keuntungan yang diperoleh. Dalam setiap usaha agroindustri terdapat resiko

usaha, oleh karena itu diperlukan analisis resiko untuk mengetahui tingkat

resiko yang dihadapi. Dan juga diperlukan analisis efisiensi untuk mengetahui

tingkat efisiensi usaha, sehingga dapat diketahui apakah usaha tersebut sudah

efisien atau belum untuk dijalankan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

B. Tinjauan Pustaka

1. Ketela Rambat

Tumbuhan bergetah putih, umbi akarnya sangat bervariasi bentuk,

ukuran, warna kulit (putih, kuning, coklat, merah dan ungu) dan warna

didalamnya (putih, kuning, jingga, ungu). Batang menjalar, bercabang-

cabang. Daun tunggal tersusun spiral, helaian daun membundar telur, rata,

bersudut atau bercuping menjari. Bunga aksiler, tunggal atau perbungaan

terbatas, mahkota bunga bentuk corong, putih atau lembayung muda, ungu

dibagian dalam tabungnya. Buah kapsul dengan 1-4 biji.

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Convolvulales

Famili : Convolvulaceae

Genus : Ipomoea

Spesies : I. batatas

Nama Inggris : Sweet potato

Nama Indonesia : Ubi jalar

Nama Lokal : ketela rambat (Jawa), huwi boled (Sunda)

Sinonim : Convolvulus batatas L. (1753), Convolvulus edulis

Thunb. (1784), Batatas edulis (Thunb.) Choisy (1833)

Tanaman ketela rambat ada 3 varietas, yaitu ketela rambat kuning, merah

dan ungu. Dibanding ketela rambat putih, tekstur ketela rambat merah atau

ungu memang lebih berair dan kurang masir (sandy) tetapi lebih lembut.

Rasanya tidak semanis yang putih padahal kadar gulanya tidak berbeda.

Ketela rambat putih mengandung 260 mkg (869 SI) betakaroten per 100 gram,

ubi merah yang berwarna kuning emas tersimpan 2900 mkg (9675 SI)

betakaroten, ubi merah yang berwarna jingga 9900 mkg (32967 SI).

Makin pekat warna jingganya, makin tinggi kadar betakarotennya yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

merupakan bahan pembentuk vitamin A dalam tubuh. Namun dari ketiganya,

yang mengandung paling banyak antosian adalah varietas yang berwarna

ungu. Dua varietas ketela rambat ungu introduksi (Ayamurasaki dan

Yamagawa-murasaki) saat ini telah diusahakan secara komersial di beberapa

daerah di Jawa Timur dengan potensi hasil 15-20 ton/ha. Beberapa varietas

lokal sesungguhnya juga ada yang daging umbinya berwarna ungu, hanya

intensitasnya masih jauh dibanding kedua varietas tersebut (Riata, 2010).

Ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya.

Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan

kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ketela rambat menjadi

salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain

dimanfaatkan umbinya, daun muda ketela rambat juga dibuat sayuran.

Terdapat pula ketela rambat yang dijadikan tanaman hias karena keindahan

daun dan bunganya.

Ketela rambat (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu tanaman

yang mempunyai potensi besar di Indonesia. Areal panen ketela rambat di

Indonesia tiap tahun seluas 229.000 hektar, tersebar di seluruh propinsi, baik

di lahan sawah maupun tegalan dengan produksi rata-rata nasional 10 ton per

hektar. Penghasil utama ketela rambat di Indonesia adalah Jawa dan Irian

Jaya yang menempati porsi sekitar 59 persen. Peluang perluasan areal panen

masih sangat terbuka. Dengan perbaikan teknik budidaya dan penggunaan

varietas unggul nasional, produktivitas bisa dinaikkan menjadi 30 ton per

hektar. Ketela rambat bisa secara terus menerus, bergantian maupun secara

tumpang sari. Ketela rambat bisa ditanam sepanjang tahun di jenis tanah apa

saja dan di mana saja. Pada tanah Ultisol yang kurang subur di Kalimantan,

produksinya juga cukup tinggi, 20 ton per hektar. Teknik budidaya ketela

rambat mudah, tidak perlu penguasaan pengetahuan dan kultur teknis serta

teknologi yang rumit, serta hama dsan penyakitnya juga sedikit. Keunggulan

lain dari ketela rambat adalah umur panen ketela rambat yang singkat yaitu

hanya empat bulan, sementara ubi kayu delapan bulan (Anonim, 2010).

2. Keripik Ketela Ungu

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

Keripik ketela ungu adalah irisan ketela ungu yang telah digoreng

sampai garing. Keripik ketela ungu dapat dengan mudah dibuat, sehingga

keripik ketela ungu mulai cukup banyak diusahakan.

Berikut ini adalah tahapan pembuatan keripik ketela ungu :

a. Pengupasan dan pengirisan

Umbi dicuci, kemudian dikupas. Umbi yang telah dikupas, tapi tidak

langsung diproses lebih lanjut harus direndam di dalam air. Setelah itu

umbi diiris tipis-tipis.

b. Perendaman di dalam larutan natrium bisulfit dan kapur

Irisan umbi direndam di dalam larutan natrium bisulfit 500 ppm selama

60 menit. Kemudian irisan umbi diangkat, dan direndamkan ke larutan

kapur sirih 2% selama 30 menit. Setelah itu, irisan umbi ditiriskan.

c. Pemasakan ringan

Air dipanaskan sampai suhu 90C. Ke dalam dimasukkan garam (10 gram

garam untuk 1 liter air). Kemudian iris umbi yang telah ditiriskan

dimasukkan ke dalam air tersebut, dan diaduk pelan-pelan. Tidak lama

kemudian (1-2 menit), irisan umbi segera diangkat dan ditiriskan.

d. Pengeringan

Irisan umbi dijemur, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai

cukup kering dengan tanda mudahnya umbi patah jika diremas.

e. Penggorengan

Irisan umbi digoreng di dalam minyak panas (170C) sampai garing.

f. Penggulaan

Untuk mendapatkan keripik manis, lakukan penggorengan diulang.

Kedalam minyak agak panas (suhu 110C) dimasukkan gula halus

(50 gram gula untuk setiap 1 liter minyak), dan diaduk agar gula mencair.

Setelah itu, keripik yang telah garing dimasukkan ke dalam minyak,

diaduk dengan pelan, dan segera diangkat untuk ditiriskan dan

didinginkan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

g. Pengemasan

Keripik matang harus disimpan pada wadah tertutup. Keripik dapat

dikemas di dalam kantong plastik, atau kotak kaleng. Kemasan harus

ditutup rapat sehingga tidak dapat dimasuki oleh uap air dan udara luar.

(Anonim, 2010).

3. Agroindustri

Menurut BPS (1999), industri dapat digolongkan berdasarkan

jumlah tenaga kerja dan jumlah investasi. Berdasarkan jumlah tenaga

kerja, industri dapat dikategorikan menjadi 4 kelompok, yaitu :

a. Jumlah tenaga kerja 1-4 orang untuk industri rumah tangga

b. Jumlah tenaga kerja 5-19 orang untuk industri kecil

c. Jumlah tenaga kerja 20-99 orang untuk industri menengah

d. Jumlah tenaga kerja lebih atau sama dengan 100 untuk industri besar

Agroindustri dapat diartikan dua hal, yang pertama, agroindustri

adalah industri yang berbahan baku utama dari produk pertanian. Arti

yang kedua adalah bahwa agroindustri itu diartikan sebagai suatu tahapan

pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian, tetapi

sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai tahapan pembangunan

industri. Permasalahan dalam pengembangan agribisnis (dan agroindustri)

adalah lemahnya keterkaitan antar subsistem di dalam agribisnis, yaitu

distribusi dan penyediaan faktor produksi, proses produksi pertanian,

pengolahan dan pemasaran (Soekartawi, 2001).

Kegiatan agroindustri dapat mempunyai peranan penting baik dalam

pembangunan pertanian maupun pembangunan ekonomi. Dalam

pembangunan pertanian, agroindustri berperan dalam diversifikasi produk

hasil pertanian. Sedangkan dalam pembangunan ekonomi, agroindustri

berperan dalam pemerataan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan

penyumbang devisa negara (Wulandari, 2006).

4. Biaya

Pengertian biaya bagi perusahaan yang kegiatannya memproduksi

barang adalah nilai dari masukan yang digunakan untuk penghasilan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

keluarganya. Biaya atas penggunaan suatu barang dalam suatu usaha

tertentu merupakan manfaat yang dikorbankan (atau kehilangan

kesempatan) dengan tidak menggunakan barang itu pada alternatif

penggunaan yang sebaiknya (Lipsey, et al, 1990).

Dilihat dari segi biaya dalam hubungannya dengan tingkat output,

maka biaya produksi bisa dibagi menjadi :

a. Total fixed Cost (TFC) atau biaya tetap total, adalah jumlah biaya-

biaya yang tetap dibayar perusahaan (produsen) berapapun tingkat

outputnya. Jumlah TFC adalah tetap untuk setiap tingkat output.

Misalnya, penyusutan alat dan sewa gedung.

b. Total Variabel Cost (TVC) atau biaya variabel total, adalah jumlah

biaya-biaya yang berubah menurut tinggi rendahnya output yang

diproduksi. Misalnya, biaya untuk bahan mentah, upah, biaya,

angkutan.

c. Total Cost (TC) atau biaya total, adalah penjumlahan dari biaya tetap

dan biaya variabel. Secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut :

TC = TFC + TVC

(Boediono, 2002).

Menurut Djuwari (1994), biaya yang digunakan untuk produksi

dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a. Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata dibayarkan selama

proses produksi oleh produsen untuk masukan (input) yang berasal dari

luar seperti penggunaan tenaga kerja dan sarana produksi dari luar.

b. Biaya implisit adalah biaya dari faktor produksi sendiri yang

diikutsertakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk

(output). Termasuk dalam biaya ini ntara lain adalah biaya penyusutan,

sewa tanah milik sendiri, upah tenaga kerja keluarga dan bunga modal

sendiri.

5. Penerimaan

Menurut Boediono (2002), yang dimaksud dengan penerimaan

(revenue) adalah penerimaan produksi dari hasil penjualan outputnya. Untuk

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

mengetahui penerimaan total diperoleh dari output atau hasil produksi

dikalikan dengan harga jual output. Secara matematis dapat ditulis sebagai

berikut :

TR = Q x P

Dimana :

TR = penerimaan total

Q = jumlah output/produk yang dihasilkan

P = harga jual

Semakin banyak jumlah produk yang dihasilkan semakin tinggi harga

per unit produk yang bersangkutan, maka penerimaan total yang diterima

produsen akan semakin besar. Sebaliknya jika produk yang dihasilkan sedikit

dan harganya rendah maka penerimaan total yang diterima produsen semakin

kecil. Penerimaan total yang diterima oleh produsen dikurangi biaya total

yang dikeluarkan akan memperoleh pendapatan bersih yang merupakn

keuntungan yang diperoleh produsen (Soekartawi, 1995).

Bentuk penerimaan dapat digolongkan atas dua bagian, yaitu

penerimaan yang berasal dari hasil penjualan barang-barang yang diproses

dan penerimaan yang berasal dari luar barang-barang yang diproses.

Penerimaan yang berasal dari luar kegiatan usaha tapi berhubungan

dengan adanya kegiatan usaha, seperti penerimaan dalam bentuk bonus

karena pembelian barang-barang kebutuhan kegiatan usaha, penerimaan

bunga bank, nilai sisa aset (scrap value), sewa gedung, sewa kendaraan,

dan lain sebagainya (Ibrahim, 2003).

6. Keuntungan

Menurut Suparmoko (1992), keuntungan adalah selisih antara

penerimaan total dengan biaya produksi sesuai dengan tingkat efisiensi

penggunaan faktor produksi pada penggunaannya yang terbaik. Secara

matematis dapat ditulis sebagai berikut :

p = TR - TC

Dimana :

p = keuntungan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

TR = penerimaan total

TC = biaya total

Keuntungan atau laba menunjukan niali tambah (hasil) yang

diperoleh dari modal yang dijalankan. Setiap kegiatan yang dijalankan

perusahaan tentu berdasar modal yang dijalankan. Dengan modal itulah

keuntungan atau laba diperoleh. Hal inilah yang menjadi tujuan utama

setiap perusahaan (Muhammad, 1995).

7. Profitabilitas

Menurut Asri (1987), profitabilitas merupakan kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, istilah rasio

profitabilitas menggambarkan efisiensi usaha perusahaan. Sebuah

perusahaan dikatakan lebih efisien menggunakan modalnya daripada

perusahaan lain apabila mampu menunjukkan rasio profitabilitas yang

tinggi, dan sebaliknya. Profitabilitas menunjukkan porsi keuntungan dari

penjualan yang mampu dicapai perusahaan dalam suatu periode waktu

tertentu. Rasio ini dihitung dengan membandingkan keuntungan dengan

penerimaan. Secara sistematis dirumuskan sebagai berikut :

8. Risiko Usaha

Setiap aktivitas usaha di sektor pertanian atau agribisnis selalu

dihadapkan dengan situasi ketidakpastian (uncertainly) dan risiko (risk).

Faktor ketidakpastian dan risiko usaha merupakan faktor eksternalitas

yaitu faktor yang sulit dikendalikan oleh produsen. Dikatakan risiko (risk)

apabila diketahui berapa besarnya peluang terjadi risiko tersebut.

Sebaliknya dikatakan ketidakpastian (uncertainly) apabila peluang

terjadinya risiko tidak diketahui (Soekartawi, et al, 1993).

Hakim (2009), menyatakan bahwa terdapat berbagai fungsi dalam

manajemen, yang meliputi fungsi pemasaran, keuangan, produksi dan

personalia. Adapun risiko tersebut antara lain :

%100Pr =PenerimaanKeuntungan

asofitabilit

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

1. Risiko Fungsi Pemasaran

Fungsi pemasaran dikenal dengan rumus 4P yang dimaksud

sebagai singkatan dari product, price, place dan promotion. 4P ialah

variabel-variabel pemasaran yang dapat dimanfaatkan agar mampu

dicapai tingkat penjualan yang diinginkan, yaitu : produk (kualitas,

karakteristik, jenis, ukuran, pelayanan purna jual, pengembalian);

harga (daftar harga, jangka waktu pembayaran); tempat (saluran

distribusi, lokasi penjualan, transportasi); dan promosi (penjualan

langsung, promosi penjualan).

2. Risiko Fungsi Keuangan

Berbagai risiko keuangan yang terjadi meliputi : kas (penggunaan

kas yang tidak efisien atau boros, sebagai akibat tidak memiliki

anggaran kas yang baik dan benar); dan tingkat bunga (tingkat bunga

yang tinggi akan menyebabkan biaya produksi tinggi, pengaruhnya

terhadap harga jual produk yang tidak mampu bersaing).

3. Risiko Fungsi Produksi

Risiko fungsi produksi tersebut meliputi : persediaan (perubahan

harga persediaan, persediaan yang menumpuk sebagai akibat lesunya

penjualan, persediaan yang rusak); mutu (perubahan mutu akan

mempengaruhi tingkat penjualan); mesin (mesin rusak atau mogok);

dan karyawan (karyawan mogok, bertindak di luar rencana).

Kegagalan dalam mencapai pendapatan yang diharapkan

diantaranya disebabkan karena adanya berbagai risiko yang tidak dapat

diselesaikan. Risiko-risiko tersebut dapat dibedakan antara risiko

perusahaan dan risiko keuangan. Risiko perusahaan terjadi karena adanya

berbagai alternatif penyaluran modal atau investasi yang mengakibatkan

perbedaan tingkat pendapatan yang diterima oleh setiap arus investasi.

Perbedaan tingkat pendapatan ini disebabkan karena setiap unit usaha

memiliki sifat dan kegiatan produksi sendiri-sendiri. Risiko dalam bidang

pertanian, misalnya, karena kegiatan di dalam unit usaha ini sangat

dipengaruhi oleh cuaca, sifat alam lainnya, wabah penyakit dan perubahan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

harga yang tidak dapat dikuasai petani. Risiko keuangan terjadi karena

hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan

dibidang keuangan dan pembiayaan. Risiko ini menyangkut

ketidakmampuan perusahaan membayar utang dan membayar keuntungan

kepada pemilik saham (Kadarsan, 1995).

Risiko pasar (market risk) adalah suatu risiko yang timbul karena

menurunnya nilai suatu investasi karena pergerakan pada faktor-faktor pasar.

Empat faktor standar risiko pasar adalah risiko modal, risiko suku bunga,

risiko mata uang, dan risiko komoditas. Risiko suku bunga adalah risiko

yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau

obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Risiko nilai

tukar atau risiko mata uang adalah suatu bentuk risiko yang muncul karena

perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang yang lain.

Risiko nilai tukar yang terkait dengan instrumen mata uang asing penting

diperhatikan dalam investasi asing. Risiko ini muncul karena perbedaan

kebijakan moneter dan pertumbuhan produktivitas nyata, yang akan

mengakibatkan perbedaan laju inflasi (Wikipedia, 2010).

9. Efisiensi Usaha

Pengertian efisiensi tidak cukup hanya dikaitkan dengan jumlah

barang tanpa memperhatikan mutu atau nilai barang yang dihasilkan.

Seseorang dapat saja menghasilkan jumlah yang lebih banyak per satuan

waktu, atau tenaga, atau biaya, namun mungkin mutu dan nilai barang

yang dihasilkan relatif lebih rendah daripada yang dihasilkan orang lain

pada jumlah yang lebih sedikit. Pada akhirnya tingkat efisiensi dalam

suatu usaha umumnya diukur dengan nilai uang atau sesuatu yang dapat

memajukan usaha atau perusahaannya (Wijandi, 1988).

Pendapatan yang tinggi tidak selalu memajukan efisiensi yang

tinggi, karena kemungkinan pendapatan yang besar tersebut diperoleh dari

investasi yang besar. Efisiensi mempunyai tujuan memperkecil biaya

produksi per satuan produk yang dimaksudkan untuk memperoleh

keuntungan yang optimal. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

tersebut adalah memperkecil biaya keseluruhan dengan mempertahankan

produksi yang telah dicapai untuk memperbesar produksi tanpa

meningkatkan biaya keseluruhan (Rahardi, 1999).

Menurut Soekartawi (1995), perhitungan efisiensi usaha yang sering

digunakan adalah Return Cost Ratio (R/C Ratio). R/C Ratio adalah

perbandingan nisbah antara penerimaan dan biaya.

R/C Ratio = R/C

Keterangan :

R = penerimaan total (Rupiah)

C = biaya total (Rupiah)

C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

Agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

merupakan industri yang mengolah ketela ungu menjadi produk olahan berupa

keripik ketela ungu beserta pemasarannya. Dari usaha tersebut akan dikaji

mengenai biaya, penerimaan, keuntungan, profitabilitas, efisiensi dan risiko

usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar.

1. Biaya

Biaya adalah nilai korbanan yang dicurahkan dalam proses produksi.

Biaya pengeluaran usaha agroindustri keripik ketela ungu dapat dibagi

menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel). Biaya tetap

merupakan biaya yang tidak tergantung pada tingkat output. Biaya tetap

pada keseluruhan usaha agroindustri keripik ketela ungu skala rumah

tangga berupa biaya penyusutan alat dan biaya bunga modal investasi.

Biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh kuantitas

produksi. Biaya variabel pada keseluruhan usaha agroindustri keripik

ketela ungu berupa biaya bahan baku, biaya bahan penolong (minyak

goring, zat pemanis makanan, bahan bakar dan bahan pengemas), biaya

tenaga kerja, biaya transportasi dan pemasaran produk.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

Dari perhitungan biaya tetap dan biaya variabel maka dapat diketahui

besarnya biaya total. Biaya Total/Total Cost (TC) adalah penjumlahan

antara biaya variabel total/Total Variable Cost (TVC) dan biaya tetap

total/Total Fixed Cost (TFC).

2. Penerimaan

Proses produksi adalah suatu proses dimana beberapa barang atau

jasa yang disebut input diubah menjadi barang lain atau output. Proses

produksi pada usaha agroindustri keripik ketela ungu adalah mengolah

ketela ungu menjadi keripik beserta pemasarannya.

Dalam kegiatan produksi tersebut akan diperoleh penerimaan yaitu

dengan mengalikan total produksi keripik ketela ungu yang terjual (Q)

dengan harga produk (P).

3. Keuntungan

Dari perhitungan data akan diperoleh keuntungan dan profitabilitas.

Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya yang

dikeluarkan.

Semakin besar penerimaan total atau semakin kecil biaya maka

keuntungan yang diterima akan semakin besar, sebaliknya jika penerimaan

total semakin kecil atau biaya semakin besar maka keuntungan yang

diperoleh semakin kecil.

4. Profitabilitas

Profitabilitas adalah perbandingan antara keuntungan dari penjualan

dengan penerimaan yang dinyatakan dalam persen (%).

5. Efisiensi usaha

Perhitungan fisiensi usaha yang sering digunakan adalah Return Cost

Ratio (R/C Ratio). R/C Ratio adalah merupakan perbandingan antara

penerimaan dan biaya. Semakin besar nilai R/C Ratio maka semakin besar

pula keuntungan yang diperoleh.

Menurut Mubyarto (1989), apabila hasil bersih usaha besar maka ini

mencerminkan rasio yang lebih baik dari nilai hasil dan biaya. Makin

tinggi rasio ini berarti usaha yang dijalankan semakin efisien.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

6. Risiko usaha

Dalam menjalankan usaha untuk mencapai keuntungan, pengusaha

akan menghadapi risiko atas kegiatan usaha tersebut. Misalkan risiko

harga, risiko selama proses produksi, dan risiko pasar.

Usaha agroindustri keripik ketela ungu adalah dengan

menggunakan perhitungan koefisien variasi dan batas bawah keuntungan.

Koefisien merupakan perbandingan antara risiko yang harus ditanggung

oleh pengusaha agroindustri keripik ketela ungu dengan jumlah keuntungan

yang akan diperoleh, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

CV = V E

Dimana :

CV = koefisien variasi usaha agroindustri keripik ketela ungu

V = simpangan baku agroindustri keripik ketela ungu

E = keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Sebelum mengukur koefisien variasi harus mencari pendapatan

rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu dan simpangan bakunya

dirumuskan : n Ei E = i=1 k

n

Dimana :

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

n = Jumlah agroindustri keripik ketela ungu (unit)

Setelah mengetahui keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik

ketela ungu selanjutnya mencari simpangan baku dengan menggunakan

metode analisis ragam, karena simpangan baku merupakan akar dari

ragam, yaitu :

V = V2

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

Adapun dalam perhitungan analisis ragam dirumuskan sebagai

berikut :

n

(Ei-E)2

V2 = i=1 n 1

Dimana :

V2 = Ragam keuntungan

n = Jumlah agroindustri keripik ketela ungu (unit)

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Untuk mengetahui batas bawah pendapatan usaha agroindustri

keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

digunakan rumus :

L = E 2 V

Dimana :

L = Batas bawah keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

V = Simpangan baku keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu

(Rp)

Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa risiko yang harus

ditanggung pengusaha semakin besar. Kriteria yang digunakan adalah

apabila nilai CV 0,5 atau L 0 menyatakan bahwa pengusaha keripik

ketela ungu akan selalu terhindar dari kerugian. Dan apabila nilai CV > 0,5

atau L < 0 berarti ada peluang kerugian yang akan diderita oleh pengusaha

keripik ketela ungu (Hernanto, 1993).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

Kerangka teori pendekatan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian pada Analisis Usaha Keripik

Ketela Ungu

Agroindustri Keripik Ketela Ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

Proses Produksi

Input

Output

Biaya Tetap : a. Penyusutan Alat b. Bunga Modal

Investasi c. Cicilan pinjaman

modal d. Ijin Departemen

Kesehatan

Biaya Variabel : a. Bahan Baku

- Ketela ungu b. Bahan Penolong

- Gula - Garam - Pemanis buatan - Vanili - Minyak goreng

c. Bahan bakar d. Pengemas e. Tenaga Kerja f. Transportasi g. Listrik

Biaya Total

Penerimaan Total

Analisis Usaha a. Keuntungan b. Profitabilitas c. Risiko d. Efisiensi e.

Risiko Harga

Risiko Produksi

Risiko Pasar

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

D. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel

1. Agroindustri adalah kegiatan yang mengolah hasil pertanian menjadi

barang jadi atau setengah jadi.

2. Keripik ketela ungu adalah makanan ringan berupa irisan tipis yang dibuat

dari ketela ungu yang digoreng.

3. Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan untuk pembuatan keripik

ketela ungu yaitu ketela ungu.

4. Bahan penolong adalah bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan

keripik selain bahan utama (ketela ungu), seperti gula, garam, pemanis

buatan, dan minyak goreng.

5. Responden adalah pengusaha agroindustri keripik ketela ungu yang

memproduksi keripik ketela ungu.

6. Biaya total adalah semua biaya yang digunakan dalam usaha pembuatan

keripik ketela ungu yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel,

dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).

7. Biaya tetap adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang

besarnya tidak dipengaruhi oleh kuantitas output yang dihasilkan dan

dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).

8. Biaya tetap berupa :

a. Biaya penyusutan peralatan dinyatakan dalam rupiah, dihitung dengan

menggunakan metode garis lurus :

Penyusutan : (bulan) ekonomisumur akhir nilai - awal nilai

(Hernanto, 1993)

b. Biaya bunga modal investasi, yaitu perkalian dari nilai investasi

dengan suku bunga riil yang dinyatakan dalam satuan rupiah. Besarnya

bunga modal investasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

B = Biaya Modal Sendiri x r (Suratiyah, 2006)

Dimana :

r = ( i f ) / ( 1 f ) (Gray, et al, 1993)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

Keterangan :

B = Bunga modal investasi (Rp)

r = Suku bunga riil bulan Oktober 2010 (1,830%)

i = Suku bunga kredit investasi Bank BRI bulan Oktober 2010 (2%)

f = Inflasi bulan Oktober 2010 (0,06%)

9. Biaya variabel (biaya tidak tetap) adalah biaya yang besarnya berubah-

ubah secara proporsional terhadap kuantitas output yang dihasilkan dan

dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). Yang termasuk dalam biaya variabel

dalam penelitian ini adalah biaya bahan baku, biaya bahan penolong,

bahan bakar (kayu dan serbuk gergaji), pengemas (plastik), biaya tenaga

kerja dan transportasi.

10. Biaya bahan baku merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli

bahan baku pembuatan keripik ketela ungu yaitu ketela ungu yang

dinyatakan dalam rupiah (Rp).

11. Biaya bahan penolong adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli

bahan-bahan penolong, seperti gula pasir, garam, pemanis buatan, dan

minyak goreng yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).

12. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga

kerja yang dinyatakan dalam rupiah (Rp), dimana tenaga kerja tersebut

berasal dari dalam dan luar keluarga.

13. Biaya transportasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk transportasi

selama proses produksi mulai dari pengadaan input hingga pemasaran

yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).

14. Penerimaan total agroindustri keripik ketela ungu adalah penerimaan dari

usaha agroindustri keripik ketela ungu yang diperoleh dengan cara

mengalikan produksi total yang terjual dengan harga per satuan produk

yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) per bulan.

15. Keuntungan agroindustri keripik ketela ungu adalah selisih antara

penerimaan total dengan biaya total yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

16. Profitabilitas agroindustri keripik ketela ungu adalah perbandingan antara

keuntungan agroindustri keripik ketela ungu dengan penerimaan yang

dinyatakan dalam persen (%).

17. Efisiensi usaha agroindustri keripik ketela ungu adalah perbandingan

antara penerimaan total dengan biaya total yang dikeluarkan yang

dinyatakan dalam angka.

18. Risiko adalah kemungkinan merugi yang dihadapi pengusaha, yang

diperhitungkan terlebih dahulu. Risiko usaha agroindustri keripik ketela

ungu ditunjukkan dari nilai koefisien variasi dan batas bawah keuntungan.

E. Pembatasan Masalah

1. Analisis usaha yang dimaksud dalam penelitian ini didasari pada biaya,

penerimaan, keuntungan, profitabilitas, efisiensi, dan risiko usaha

agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar.

2. Agroindustri keripik ketela ungu merupakan industri yang memproduksi

keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

berskala kecil yang sampai periode penelitian masih berproduksi.

3. Penelitian ini menggunakan data produksi dan biaya selama 1 bulan

(Oktober 2010).

F. Hipotesis

1. Diduga agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar yang diusahakan menguntungkan.

2. Diduga agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar yang diusahakan berisiko.

3. Diduga agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu

Kabupaten Karanganyar yang diusahakan sudah efisien.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

G. Asumsi

1. Harga input dan output menggunakan harga yang berlaku di daerah

penelitian.

2. Jumlah keripik ketela ungu yang diproduksi diasumsikan terjual

seluruhnya.

3. Faktor-faktor produksi berupa tenaga kerja keluarga diasumsikan

menerima upah yang besarnya sama dengan upah tenaga kerja luar yang

berlaku di daerah penelitian.

4. Aset rumah dan bangunan tidak diikutsertakan dalam perhitungan biaya

tetap karena mempunyai fungsi ganda.

5. Variabel-variabel yang tidak diamati dianggap tidak berpengaruh.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

III. METODE PENELITIAN

A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif analitis. Menurut Surakhmad (1994), metode ini mempunyai ciri-

ciri, memusatkan diri pada pemecahan masalah yang aktual. Data yang

dikumpulkan mula-mula disusun, dianalisis dan kemudian dijelaskan.

Teknik pelaksanaan dari penelitian ini menggunakan metode survey,

yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan

menggunakan kuisioner sebagai alat bantu untuk mengumpulkan data

(Singarimbun dan Effendi, 1995).

B. Metode Penentuan Sampel

1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di Desa

Karanglo dan Desa Bandardawung Kecamatan Tawangmangu, karena hanya

wilayah tersebut yang memproduksi keripik ketela ungu di Kabupaten

Karanganyar.

2. Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha keripik ketela ungu

yang mengolah ketela ungu menjadi keripik. Data mengenai jumlah

pengrajin tersebut dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini :

Tabel 5. Jumlah Unit Usaha Agroindustri Keripik Ketela Ungu di Kecamatan

Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

No. Desa Jumlah Unit Usaha 1. 2.

Karanglo Bandardawung

16 3

Jumlah 19

Sumber : Data Dinas Perindustrian, Perdagangan Penanaman Modal dan Koperasi Kabupaten Karanganyar 2008

32

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

Dari data pada Tabel 5, pengambilan responden dilakukan dengan

cara sensus, yakni dengan cara mencatat semua responden yang diselidiki

tersebut (Marzuki, 2002). Metode sensus dipilih karena jumlah responden

terbatas yaitu 19 unit usaha.

C. Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden

melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (quisioner) yang

sudah dipersiapkan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah

pengusaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu.

Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu data mengenai

karateristik responden, proses produksi, alat dan bahan yang digunakan,

biaya-biaya (tetap dan variabel) yang dikeluarkan selama proses produksi,

penerimaan, kendala dan risiko usaha.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari referensi, buku, jurnal, dan instansi-

instansi yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Instansi-instansi

tersebut meliputi : Badan Pusat Statistik Karanganyar, Dinas Perindustrian

Perdagangan, Penanaman Modal dan Koperasi Kabupaten Karanganyar, dan

Kantor Kecamatan Tawangmangu. Data tersebut adalah data mengenai

keadaan umum daerah penelitian, keadaan perekonomian, dan keadaan

penduduk.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Teknik observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan

langsung terhadap obyek yang akan diteliti sehingga didapatkan gambaran

yang jelas mengenai obyek yang akan diteliti.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

2. Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data primer

dengan melakukan wawancara secara indepth (luas dan mendalam) kepada

responden berdasarkan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan

sebelumnya.

3. Pencatatan

Teknik pencatatan digunakan untuk mengumpulkan data sekunder

dari instansi atau lembaga yang ada hubungannya dalam penelitian ini.

E. Metode Analisis Data

1. Biaya, Penerimaan, Keuntungan dan Profitabilitas Usaha Agroindustri

Keripik Ketela Ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten

Karanganyar.

a. Biaya

Menurut Boediono (2002), untuk menghitung biaya dalam

proses produksi diperhitungkan dari penjumlahan biaya tetap total dan

biaya variabel total dengan rumus :

TC = TFC + TVC

Dimana :

TC = Biaya total (Rp)

TFC = Biaya tetap total (Rp)

TVC = Biaya variabel total (Rp)

b. Penerimaan

Menurut Boediono (2002), penerimaan merupakan keseluruhan

produk yang dihasilkan dikalikan harga. Untuk menghitung besarnya

penerimaan yang diterima, digunakan rumus :

TR = Q x P

Dimana :

TR = Penerimaan total usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Q = Jumlah keripik ketela ungu yang dihasilkan (kg)

P = Harga per Kg (Rp)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

c. Keuntungan

Menurut Suparmoko (1992), keuntungan adalah selisih antara

penerimaan total yang diterima dengan biaya (biaya tetap ditambah

biaya tidak tetap/variabel) yang dikeluarkan dalan usaha agroindustri

keripik ketela ungu. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai

berikut :

= TR TC

Dimana :

= Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

TR = Penerimaan total usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

TC = Biaya total usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

d. Profitabilitas

Menurut Asri (1987), profitabilitas merupakan perbandingan

antara keuntungan penjualan dengan penerimaan. Secara sistematis

dirumuskan sebagai berikut :

2. Risiko Usaha

Usaha agroindustri keripik ketela ungu adalah dengan

menggunakan perhitungan koefisien variasi dan batas bawah keuntungan.

Koefisien merupakan perbandingan antara risiko yang harus ditanggung oleh

pengusaha agroindustri keripik ketela ungu dengan jumlah keuntungan yang

akan diperoleh, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

CV= V E Dimana :

CV = koefisien variasi usaha agroindustri keripik ketela ungu

V = simpangan baku agroindustri keripik ketela ungu

E = keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Sebelum mengukur koefisien variasi harus mencari pendapatan rata-

rata usaha agroindustri keripik ketela ungu dan simpangan bakunya.

Simpangan baku merupakan besarnya risiko yang harus ditanggung produsen.

%100Pr =PenerimaanKeuntungan

asofitabilit

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

n Ei E = i = 1 k

n

Dimana :

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

n = Jumlah pengusaha agroindustri keripik ketela ungu (unit)

Setelah mengetahui keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik

ketela ungu selanjutnya mencari simpangan baku menggunakan metode

analisis ragam, karena simpangan baku merupakan akar dari ragam, yaitu :

V = V2 Adapun dalam perhitungan analisis ragam dirumuskan sebagai berikut :

n

(Ei-E)2

V2 = i = 1 n 1 Dimana :

V2 = Ragam keuntungan

n = Jumlah agroindustri keripik ketela ungu (unit)

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Untuk mengetahui batas bawah pendapatan usaha agroindustri keripik

ketela ungu di Kecamatan tawangmangu Kabupaten Karanganyar digunakan

rumus :

L = E 2 V

Dimana :

L = Batas bawah keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

V = Simpangan baku keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa risiko yang harus

ditanggung pengusaha semakin besar. Kriteria yang digunakan adalah apabila

nilai CV 0,5 atau L 0 menyatakan bahwa pengusaha keripik ketela ungu

akan selalu terhindar dari kerugian. Dan apabila nilai CV > 0,5 atau L < 0

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37

berarti ada peluang kerugian yang akan diderita oleh pengusaha keripik

ketela ungu (Hernanto, 1993).

3. Efisiensi Usaha

Menurut Soekartawi (1995), untuk mengetahi efisiensi usaha

agroindustri keripik ketela ungu yang telah dijalankan selama ini dengan

menggunakan perhitungan R/C rasio. R/C rasio adalah singkatan dari

Return Cost Ratio atau dikenal dengan nisbah antara penrimaan dan biaya.

R/C ratio = Biaya

Penerimaan

Dimana :

R = Penerimaan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

C = Biaya total usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)

Kriteria yang digunakan dalam penilaian efisiensi adalah :

a. R/C ratio < 1 : Usaha agroindustri keripik ketela ungu tidak efisien (merugi)

b. R/C ratio = 1 : Usaha agroindustri keripik ketela ungu break even point atau

baru mencapai kondisi impas (belum efisien)

c. R/C ratio > 1 : Usaha agroindustri keripik ketela ungu efisien

(menguntungkan)

F. Pengujian Hipotesis 1. Untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama dan membuktikan

hipotesis yang pertama, dapat diuji dengan menggunakan rumus :

a. Biaya

TC = TFC + TVC

b. Penerimaan

TR = Q x P

c. Keuntungan

= TR TC

e. Profitabilitas

Hipotesis diterima jika keuntungan hasilnya positif dan profitabilitas lebih dari

nol.

%100Pr =PenerimaanKeuntungan

asofitabilit

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

2. Untuk menjawab tujuan penelitian yang kedua dan membuktikan hipotesis

yang kedua, dapat diuji dengan menggunakan rumus :

a. Koefisien Variasi

CV= V E

Keuntungan Rata-rata n

Ei E = i = 1 k

n Simpangan Baku

V = V2

Ragam Keuntungan n

(Ei-E)2

V2 = i = 1 n 1 b. Batas Bawah

L = E 2 V

Kriteria yang digunakan dalam penilaian risiko adalah:

Nilai CV 0,5 atau L 0 menyatakan bahwa pengusaha keripik ketela

ungu akan selalu terhindar dari kerugian.

Nilai CV > 0,5 atau L < 0 berarti ada peluang kerugian yang akan diderita

oleh pengusaha keripik ketela ungu.

3. Untuk menjawab tujuan penelitian yang ketiga dan membuktikan hipotesis

yang ketiga, dapat diuji dengan menggunakan rumus :

R/C ratio = Biaya

Penerimaan

Kriteria yang digunakan dalam penilaian efisiensi adalah :

R/C ratio < 1 Usaha agroindustri keripik ketela ungu tidak efisien (merugi)

R/C ratio = 1 Usaha agroindustri keripik ketela ungu break even point atau

baru mencapai kondisi impas (belum efisien)

R/C ratio > 1 Usaha agroindustri keripik ketela ungu efisien

(menguntungkan)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

39

IV. KONDISI UMUM

A. Kabupaten Karanganyar

1. Keadaan Alam

a. Letak Geografis

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten di

Provinsi Jawa Tengah yang terletak pada 11040-11070 BT dan

728-746 LS, mempunyai ketinggian rata-rata 511 meter di atas

permukaan laut serta beriklim tropis dengan temperatur

22o31oC. Kabupaten Karanganyar mempunyai batas-batas wilayah

adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Sragen

Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri

Sebelah Timur : Provinsi Jawa Timur

Sebalah Barat : Kota Surakarta dan Kabupaten Boyolali.

Kabupaten Karanganyar memiliki 17 kecamatan yaitu Jatipuro,

Jatiyoso, Jumapolo, Jumantono, Matesih, Tawangmangu, Ngargoyoso,

Karangpandan, Karanganyar, Tasikmadu, Jaten, Colomadu,

Gondangrejo, Kebakkramat, Mojogedang, Kerjo, dan Jenawi.

Letak geografis Kabupaten Karanganyar ini sesuai dengan

syarat tumbuh ketela ungu yaitu dataran rendah sampai ketinggian

500 m diatas permukaan laut, yang bersuhu 21-27oC.

b. Curah Hujan

Berdasarkan data dari 6 stasiun pengukur yang ada di

Kabupaten Karanganyar yaitu di Kecamatan Colomadu, Kecamatan

Tasikmadu, Kecamatan Mojogedang, Kecamatan Jumapolo, Kecamatan

Karangpandan, dan Kecamatan Tawangmangu maka banyaknya hari

hujan selama tahun 2009 adalah 95 hari dengan rata-rata curah hujan

2.453 mm, dimana curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Maret serta

curah hujan terendah terjadi pada Bulan Juli, Agustus, dan September.

39

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

c. Keadaan Tanah

Kabupaten Karanganyar sebagian besar mempunyai jenis tanah

yang terdiri dari tanah litosol yang berwarna cokelat (dibagian tengah)

dan dibagian timur terdiri dari tanah pegunungan yang berwarna

cokelat tua sampai kehitam-hitaman. Dibagian barat terdiri dari tanah

mediteran andosal yang berwarna hitam, dengan dasar tanah debu

andesit sampai pasir bergeluh. Berikut ini rincian jenis tanah di 17

Kecamatan yang ada di Kabupaten Karanganyar :

Tabel 6. Jenis Tanah Menurut Kecamatan di Kabupaten Karanganyar

No. Kecamatan Jenis Tanah 1. Jatipuro Litosol Cokelat Kemerahan

2. Jatiyoso Litosol Cokelat Kemerahan, Kompleks Andosol Cokelat, Andosol Cokelat Kekuningan Dan Litosol

3. Jumapolo Litosol Cokelat Kemerahan 4. Jumantono Litosol Cokelat Kemerahan 5. Matesih Mediteran Cokelat, Litosol Cokelat

6. Tawangmangu Kompleks Andosol Cokelat, Andosol Cokelat Kekuningan dan Litosol

7. Ngargoyoso Kompleks Andosol Cokelat, Andosol Cokelat Kekuningan dan Litosol

8. Karangpandan Mediteran Cokelat Tua 9. Karanganyar Mediteran Cokelat 10. Tasikmadu Mediteran Cokelat 11. Jaten Aluvial Kelabu dan Grumosal Cokelat 12. Colomadu Regosol Kelabu

13. Gondangrejo Asosiasi Gumosol Kelabu Tua dan Mediteran Cokelat Kemerahan

14. Kebakkramat

Aluvial Kelabu, Asosiasi Aluvial Kelabu dan Aluvial Kelabu, Mediteran Cokelat, Asosiasi Grumosol Kelabu Tua, dan Mediteran Cokelat Kemerahan

15. Mojogedang Litosol Cokelat, Mediteran Cokelat 16. Kerjo Litosol Cokelat

17. Jenawi

Litosol Cokelat, Mediteran Cokelat Kemerahan, Kompleks Andosol Cokelat, Andosol Cokelat, Andosol Cokelat Kekuningan dan Litosol

Sumber : Kabupaten Karanganyar dalam Angka 2009

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41

d. Luas Wilayah

Kabupaten Karanganyar memiliki luas wilayah sebesar

77.377,64 Ha. Jenis tanah berpengaruh terhadap kesuburan tanah

sehingga akan berpengaruh juga pada keputusan dalam penggunaan

wilayah. Penggunaan wilayah di Kabupaten Karanganyar bermacam-

macam sesuai dengan kebutuhan dan kesesuaian dari kemampuan

wilayah tersebut. Berikut ini adalah rincian penggunaan wilayah

Kabupaten Karanganyar :

Tabel 7. Penggunaan Wilayah di Kabupaten Karanganyar Tahun 2009

No. Macam Penggunaan Luas (Ha) Persentase (%) 1.

2.

Luas Tanah Sawah a. Sawah Irigasi Teknis b. Sawah Non Teknis c. Sawah Tidak Berpengairan Luas Tanah Kering a. Pekarangan/Bangunan b. Tegalan/Kebun c. Perkebunan d. Hutan negara e. Lain-lain

22.474,91 12.929,62 7.587,62 1.957,67

54.902,73 21.171,97 17.863,40 3.251,50 9.729,50 2.886,36

29,05 16,71 9,81 2,53

70,95 27,36 23,09 4,20 12,57 3,73

Total 77.377,64 100,00

Sumber: Kabupaten Karanganyar dalam Angka 2009

Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa secara

umum penggunaan wilayah di Kabupaten Karanganyar meliputi

22.474,91 Ha luas tanah sawah dengan persentase 29,05% dan

54.902,73 Ha luas tanah kering dengan persentase 70,95%.

Penggunaan wilayah untuk tanah sawah yang memiliki luas terbesar

adalah sawah irigasi teknis dengan luas 12.929,62 Ha dan persentase

16,71% terhadap luas total, luas terbesar kedua adalah sawah non

teknis dengan luas 7.587,62 Ha dan persentase 9,81% terhadap luas

total, sedangkan luas penggunaan wilayah tanah sawah yang nilainya

terkecil adalah sawah tidak berpengairan dengan luas 1.957,67 Ha dan

persentase 2,53% terhadap luas total.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

Penggunaan wilayah pada tanah kering terdiri dari

pekarangan/bangunan, tegalan/kebun, perkebunan, hutan negara, dan

lain-lain. Penggunaan luas tanah kering yang terbesar adalah

pekarangan/bangunan dengan luas 21.171,97 Ha dengan persentase

27,36% terhadap luas total. Hal ini disebabkan adanya peningkatan

jumlah penduduk dan peningkatan jumlah rumah tangga baru yang

menetap di Kabupaten Karanganyar. Dengan demikian tidak menutup

kemungkinan terjadi perubahan penggunaan lahan pertanian sawah

atau tegal menjadi pekarangan/ bangunan. Sedangkan untuk

penggunaan tanah kering yang memiliki luas terkecil adalah lain-lain

dengan luas 2.886,36 Ha dan persentase 3,73% terhadap luas total.

Pembagian luas tanah kering yang lain adalah meliputi tegalan/kebun

dengan luas 17.863,40 Ha dan persentase 23,09% terhadap luas total,

hutan negara dengan luas 9.729,50 Ha dan persentase 12,57% terhadap

luas total, dan perkebunan dengan luas 3.251,50 Ha dan persentase

4,20% terhadap luas total.

Berdasarkan luas areal di Kabupaten Karanganayar, sebagian

besar dimanfaatkan untuk bangunan, perkebunan, dan hutan Negara,

sedangkan untuk lahan sawah hanya sedikit, seperti lahan untuk

produksi ketela ungu yang rata-rata hanya 670,8 Ha.

2. Keadaan Penduduk

a. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh jumlah

kelahiran, jumlah kematian, dan migrasi yang terjadi di daerah

tersebut. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 2008

dapat dilihat pada Tabel 8.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

43

Tabel 8. Perkembangan Penduduk Kabupaten Karanganyar Tahun 20042008

Tahun Jumlah

Penduduk (Jiwa)

Pertumbuhan Penduduk

(Jiwa)

Persentase (%)

2004 2005 2006 2007 2008

830.640 838.182 844.634 851.366 865.580

7.437 7.542 6.452 6.732

14.214

0,90 0,91 0,75 0,85 1,67

Rata-rata 846.080 8.475,4 1,016

Sumber : Kabupaten Karanganyar dalam Angka 2009

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah

penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 20042008 adalah 846.080

jiwa. Penduduk Kabupaten Karanganyar dari tahun ke tahun

mengalami peningkatan dengan rata-rata persentase pertumbuhan

penduduk sebesar 1,016%. Jumlah penduduk terbanyak terdapat pada

tahun 2008 yaitu 865.580 jiwa. Hal ini dikarenakan pada tahun 2008

terjadi peningkatan jumlah kelahiran sebesar 14.214 jiwa atau sebesar

1,67%,.

b. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat digunakan

untuk mengetahui jumlah penduduk serta besarnya sex ratio di suatu

daerah, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan jumlah penduduk

laki-laki dan perempuan, yang dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan :

S = Sex ratio

M = Jumlah penduduk laki-laki

F = Jumlah penduduk perempuan

k = Konstanta, yang besarnya adalah 100 (Mantra, 2003).

Komposisi penduduk di Kabupaten Karanganyar menurut jenis

kelamin dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini :

kMF

SR =

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

Tabel 9. Komposisi Penduduk Kabupaten Karanganyar menurut Jenis Kelamin Tahun 2008

No. Jenis Kelamin

Jumlah (Jiwa)

Prosentase (%)

Sex Ratio

1. 2.

Laki-laki Perempuan

429.852 435.728

49,67 50,33

Jumlah 865.580 100,00 98,65

Sumber: BPS Kabupaten Karanganyar, 2009

Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk

di Kabupaten Karanganyar menurut jenis kelamin pada tahun 2008

yaitu sebesar 865.580 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki sebesar 408.349

jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebesar 457.231 jiwa. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih besar

daripada jumlah penduduk laki-laki dari keseluruhan jumlah penduduk

di Kabupaten Karanganyar.

Berdasarkan rumus sex ratio diperoleh angka sex ratio

Kabupaten Karanganyar tahun 2008 adalah sebesar 98,65. Hal ini

berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan di Kabupaten

Karanganyar terdapat 99 penduduk laki-laki.

Banyaknya penduduk Kabupaten Karanganyar yang berjenis

kelamin perempuan ini sesuai dengan tenaga kerja agroindustri keripik

ketela ungu yang didominasi oleh tenaga kerja perempuan.

c. Menurut Kelompok Umur

Penduduk berdasarkan kelompok umur dapat dibedakan

menjadi dua kelompok yaitu penduduk usia non produktif dan

penduduk usia produktif. Penduduk usia non produktif yaitu penduduk

yang berusia 0-14 tahun (anak-anak) dan penduduk yang berusia lebih

dari 65 tahun (lansia), sedangkan penduduk usia produktif yaitu

penduduk yang berusia 15-64 tahun (Mantra, 2003).

Komposisi penduduk Kabupaten Karanganyar berdasarkan

kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 10.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

45

Tabel 10. Komposisi Penduduk Kabupaten Karanganyar Menurut Kelompok Umur Tahun 2008

No. Umur Jumlah (Jiwa) Prosentase (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

0 - 4 tahun 5-9 tahun 10-14 tahun 15-19 tahun 20-24 tahun 25-29 tahun 30-34 tahun 35-39 tahun 40-44 tahun 45-49 tahun 50-54 tahun 55-59 tahun 60-64 tahun 65-69 tahun 70-74 tahun 75 tahun ke atas

69.465 73.695 78.095 81.888 76.949 72.015 66.382 60.931 54.694 48.033 41.185 35.742 31.612 27.860 24.135 22.899

8,02 8,51 9,02 9,46 8,89 8,32 7,67 6,32 7,04 5,55 4,76 4,13 3,65 3,22 2,79 2,65

Jumlah 865.580 100,00

Sumber: BPS Kabupaten Karanganyar, 2009

Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa penduduk

Kabupaten Karanganyar terbesar berada pada umur 15-19 tahun

sebesar 81.888 jiwa atau 9,46%. Akan tetapi, apabila dilihat secara

keseluruhan dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk Kabupaten

Karanganyar merupakan penduduk dalam usia produktif yaitu

penduduk yang berusia antara 15-64 tahun. Hal ini sesuai dengan usia

produsen keripik ketela ungu yang rata-rata memiliki usia 46 tahun.

d. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang berperan penting.

Apabila penduduk di suatu wilayah memiliki tingkat pendidikan yang

tinggi maka akan memiliki kemampuan dalam pengembangan

pembangunan di suatu wilayah. Tingkat pendidikan di suatu wilayah

dipengaruhi antara lain oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan,

keadaan sosial ekonomi, dan sarana pendidikan yang ada.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46

Tabel 11. Komposisi Penduduk Kabupaten Karanganyar Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2008

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Tidak Sekolah 65.060 8,17 2. Belum Tamat SD 81.167 10,19 3. Tidak Tamat SD 61.446 7,72 4. Tamat SD/ Sederajat 298.694 37,59 5. Tamat SLTP/ Sederajat 142.701 17,92 6. Tamat SLTA/ Sederajat 117.394 14,75 7. Tamat Akademi/ PT 29.653 3,72

Jumlah 796.115 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Karanganyar, 2009

Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa tingkat

pendidikan penduduk Kabupaten Karanganyar usia 5 tahun keatas,

terbesar yaitu penduduk tamat SD/sederajat sebesar 298.694 jiwa atau

37,59% dari total jumlah penduduk (di atas 5 tahun). Sedangkan

tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Karanganyar terkecil yaitu

penduduk yang tamat akademik/PT yaitu sebesar 29.653 atau 3,72%.

Hal ini dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan penduduk

Kabupaten Karanganyar cukup baik karena sebagian besar penduduk

telah mengenyam pendidikan.

e. Menurut Mata Pencaharian

Komposisi mata pencaharian penduduk suatu daerah

dipengaruhi oleh sumberdaya yang tersedia dan kondisi sosial ekonomi

seperti ketrampilan yang dimiliki, tingkat pendidikan, lapangan

pekerjaan dan modal yang tersedia.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

47

Tabel 12. Komposisi Penduduk Menurut Matapencaharian di Kabupaten Karanganyar Tahun 2008

Lapangan Usaha Jumlah (Jiwa)

Persentase (%)

Pertanian 222.794 30,83 Buruh Industri 104.204 14,42 Buruh Bangunan 49.099 6,78 Pedagang 44.762 6,19 Lain-lain (pengusaha, PNS/POLRI, pensiunan, dan lain-lain)

301.924 41,78

Jumlah 722.653 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Karanganyar, 2009

Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa pengusaha,

PNS/POLRI, pensiunan, dan lain-lain menjadi matapencaharian

penduduk terbesar di Kabupaten Karanganyar, yaitu sebesar 301.924

jiwa atau 41,78%. Terbesar kedua yaitu di sektor pertanian, lahan

pertanian yang masih cukup luas di Kabupaten Karanganyar juga

menyerap cukup banyak tenaga kerja yaitu sebesar 222.794 jiwa

(30,83%).

3. Keadaan Pertanian

Pertanian adalah kegiatan usaha yang meliputi budidaya tanaman

pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Kabupaten

Karanganyar sebagian tanahnya merupakan tanah pertanian yang memiliki

potensi cukup baik bagi pengembangan tanaman agroindustri.

Komoditas tanaman pangan di Kabupaten Karanganyar adalah

padi, yang meliputi padi sawah dan padi gogo. Komoditas lainnya adalah

jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacang tanah, dan kedelai. Produksi

komoditas pertanian tanaman pangan di Kabupaten Karanganyar dapat

dilihat pada Tabel 13.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

48

Tabe