25
Metabolisme Energi dan Pengaturan Suhu Tubuh Kevin Giovanno 102011208 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana PENDAHULUAN Di dalam tubuh terdapat suatu mekanisme yang berfungsi sebagai pengaturan kerja homeostatis atau keseimbangan. Seperti juga pengaturan panas dan energi. Di dalam tubuh juga ada suatu mekanisme yang mengatur pengeluaran panas agar teratur dan tidak terlalu berlebihan atau kekurangan. Panas yang dihasilkan tubuh sebagian besar terdiri dari proses fisiologis tubuh dalam mengolah dan metabolisme beberapa sumber bahan makanan atau dapat terjadi akibat faktor lingkungan. Kondisi pengeluaran panas yang berlebihan dapat juga terjadi akibat beberapa sebab klinis atau secara patologis yang menyebabkan produksi panas dalam tubuh terjadi berlebihan akibat dari laju metabolisme tubuh yang meningkat. Setelah mempelajari mengenai mekanisme pengaturan suhu dan metabolisme energi di dalam tubuh baik ditinjau dari segi fisiologis, biokimia maupun dari beberapa sebab yang patologis

Metabolisme Energi Dan Pengaturan Suhu Tubuh

Embed Size (px)

DESCRIPTION

metabolisme energi

Citation preview

Metabolisme Energi dan Pengaturan Suhu TubuhKevin Giovanno102011208Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

PENDAHULUANDi dalam tubuh terdapat suatu mekanisme yang berfungsi sebagai pengaturan kerja homeostatis atau keseimbangan. Seperti juga pengaturan panas dan energi. Di dalam tubuh juga ada suatu mekanisme yang mengatur pengeluaran panas agar teratur dan tidak terlalu berlebihan atau kekurangan. Panas yang dihasilkan tubuh sebagian besar terdiri dari proses fisiologis tubuh dalam mengolah dan metabolisme beberapa sumber bahan makanan atau dapat terjadi akibat faktor lingkungan. Kondisi pengeluaran panas yang berlebihan dapat juga terjadi akibat beberapa sebab klinis atau secara patologis yang menyebabkan produksi panas dalam tubuh terjadi berlebihan akibat dari laju metabolisme tubuh yang meningkat. Setelah mempelajari mengenai mekanisme pengaturan suhu dan metabolisme energi di dalam tubuh baik ditinjau dari segi fisiologis, biokimia maupun dari beberapa sebab yang patologis kita akan dapat menjelaskan mengenai: mekanisme pengaturan suhu tubuh, metabolisme energi, organ-organ yang terkait dalam mekanisme suhu tubuh, serta pengukuran kadar panas basal tubuh. dan dapat lebih lagi mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari

PEMBAHASANPatogenesis demam1. Definisi demamDemam adalah suatu keadaan suhu tubuh diatas normal, yaitu diatas 37,2C (99,5F) sebagai akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh interleukin-1 (IL-1). Demam sangat berguna sebagai pertanda adanya suatu proses inflamasi, biasanya tingginya demam mencerminkan tingkatan dari proses inflamasinya. Dengan peningkatan suhu tubuh juga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri maupun virus.

Suhu tubuh normal adalah berkisar antara 36,6C 37,2C. Suhu oral sekitar 0,2 0,5C lebih rendah dari suhu rektal dan suhu aksila 0,5C lebih rendah dari suhu oral. Suhu tubuh terendah pada pagi hari dan meningkat pada siang dan sore hari. Pada cuaca yang panas dapat meningkat hingga 0,5C dari suhu normal. Pengaturan suhu pada keadaan sehat atau demam merupakan keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas.1

Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes. Pada kebanyakan anak demam disebabkan oleh agen mikrobiologi yang dapat dikenali dan demam hilang sesudah masa yang pendek. Demam pada anak dapat digolongkan sebagai (1) demam yang singkat dengan tanda-tanda yang khas terhadap suatu penyakit sehingga diagnosis dapat ditegakkan melalui riwayat klinis dan pemeriksaan fisik, dengan atau tanpa uji laboratorium; (2) demam tanpa tanda-tanda yang khas terhadap suatu penyakit, sehingga riwayat dan pemeriksaan fisik tidak memberi kesan diagnosis tetapi uji laboratorium dapat menegakkan etiologi; dan (3) demam yang tidak diketahui sebabnya (Fever of Unknown Origin = FUO).1

2. Patogenesis demamJalur akhir penyebab demam yang paling sering adalah adanya pirogen, yang kemudian secara langsung mengubah set-point di hipotalamus, menghasilkan pembentukan panas dan konversi panas. Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam, terdapat 2 jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh seperti toksin, produk-produk bakteri dan bakteri itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen yang disebut dengan sitokin yang diantaranya yaitu interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF), interferon (INF), interleukin-6 (IL-6) dan interleukin-11 (IL-11). Sebagian besar sitokin ini dihasilkan oleh makrofag yang merupakan akibat reaksi terhadap pirogen eksogen. Dimana sitokin-sitokin ini merangsang hipotalamus untuk meningkatkan sekresi prostaglandin, yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh.2Pirogen eksogen biasanya merangsang demam dalam 2 jam setelah terpapar. Umumnya, pirogen berinteraksi dengan sel fagosit, makrofag atau monosit, untuk merangsang sintesis interleukin-1 (IL-1). Mekanisme lain yang mungkin berperan sebagai pirogen eksogen, misalnya endotoksin, bekerja langsung pada hipotalamus untuk mengubah pengatur suhu. Radiasi, racun DDT dan racun kalajengking dapat pula menghasilkan demam dengan efek langsung terhadap hipotalamus. Beberapa bakteri memproduksi eksotoksin yang akan merangsang secara langsung makrofag dan monosit untuk melepas IL-1. Mekanisme ini dijumpai pada scarlet fever dan toxin shock syndrome. Pirogen eksogen dapat berasal dari mikroba dan non-mikroba.Sementara Pirogen endogen terdiri dari Interleukin-1 (IL-1) yang disimpan dalam bentuk inaktif dalam sitoplasma sel sekretori, dengan bantuan enzim diubah menjadi bentuk aktif sebelum dilepas melalui membran sel kedalam sirkulasi. Interleukin-1 (IL-1) dianggap sebagai hormon oleh karena mempengaruhi organ-organ yang jauh. Penghancuran interleukin-1 (IL-1) terutama dilakukan di ginjal.Interleukin-1 (IL-1) terdiri atas 3 struktur polipeptida yang saling berhubungan, yaitu 2 agonis (IL-1 dan IL-1) dan sebuah antagonis (IL-1 reseptor antagonis). Reseptor antagonis IL-1 ini berkompetisi dengan IL-1 dan IL-1 untuk berikatan dengan reseptor IL-1. Jumlah relatif IL-1 dan reseptor antagonis IL-1 dalam suatu keadaan sakit akan mempengaruhi reaksi inflamasi menjadi aktif atau ditekan. Selain makrofag sebagai sumber utama produksi IL-1, sel kupfer di hati, keratinosit, sel langerhans pankreas serta astrosit juga memproduksi IL-1. Pada jaringan otak, produksi IL-1 oleh astrosit diduga berperan dalam respon imun dalam susunan saraf pusat (SSP) dan demam sekunder terhadap perdarahan SSP.Fungsi Utama Interleukin-1: Induksi demam Stimulasi Prostaglandin-E2 (PGE-2) Aktivasi sel-T dan sel-B Reaksi fase akut Respon inflamasi Proteolisis otot Supresi nafsu makan Absorpsi tulang Stimulasi Kolagenase Rasa kantuk/tidur3. Stadium demamTingakatan demam terdiri dari : 1. Stage of chillFase rasa dingin disertai menggigil : heat loss menurun heat production meningkat

2. Stage of fastigium highest point di mana tingkat krisis dari penyakit. heat loss meningkat heat production menurun

Mekanisme pengeluaran panasPanas secara terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil sampingan metabolism, dan panas tubuh juga secara terus menerus dibuang ke lingkungan sekitar. Bila kecepatan pembentukan panas tepat sama seperti kecepatan kehilangan, orang dikatakan berada dalam keseimbangan panas. Tetapi bila keduanya di luar keseimbangan, panas tubuh, dan suhu tubuh jelas akan meningkat atau menurun.1

Kehilangan panasPengeluaran panas tubuh biasanya terjadi saat suhu lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh. Panas tubuh keluar dan pindah dari tubuh ke benda sekitar yang berupa benda padat, cair, ataupun gas.Pengeluaran panas dapat secara3 : Radiasi Konveksi Konduksi Evaporasi Memanaskan udara inspirasi Melalui urin dan feses

a. RadiasiRadiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Kehilangan panas dengan cara radiasi dalam bentuk sinar panas infra merah, suatu jenis gelombang elektromagnetik yang beradiasi dari tubuh ke lingkungan, yang lebih dingin daripada suhu tubuh.1 Kehilangan ini meningkat bila suhu sekeliling kita menurun. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh.

b. KonveksiPergerakan udara dikenal sebagai konveksi, dan pembuangan panas dari tubuh dengan cara arus udara konveksi sering dinamakan kehilangan panas dengan cara konveksi. Sebenarnya, panas pertama kali harus dikonduksi ke udara dan kemudian dibawa menjauhi tubuh oleh arus konveksi.Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi sekitar tubuh karena kecenderungan udara yang dekat dengan kulit bergerak ke atas waktu udara tersebut dipanaskan. Oleh karena itu, orang telanjang yang duduk dalam ruangan yang sejuk kehilangan sekitar 12 persen panasnya dengan cara konduksi ke udara dan kemudian dengan cara konveksi menjauhi tubuh.

c. KonduksiKonduksi (hantaran) adalah pemindahan panas antara benda-benda yang berbeda suhunya yang berkontak langsung satu sama lain, dengan panas mengalir menuruni gradient suhu dari benda yang lebih hangat ke benda yang lebih dingin melalui pemindahan dari molekul ke molekul. Semua molekul terus menerus bergetar, dengan molekul yang panas bergerak lebih cepat daripada molekul yang dingin. Ketika molekul-molekul dengan kandungan panas yang berbeda saling bersentuhan maka molekul yang lebih hangat bergerak lebih cepat dan memicu molekul yang lebih dingin untuk menjadi lebih hangat. Karena itu, asalkan waktunya cukup maka suhu dua benda yang saling bersentuhan akhirnya akan sama.

d. EvaporasiEvaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan sistem pernafasan.Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui evaporasi.Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual (yang dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.Berkeringat adalah proses pengeluaran panas evaporative aktif di bawah control saraf simpatis. Laju pengeluaran panas evaporative dapat diubah-ubah dengan mengubah banyaknya keringat, yaitu mekanisme homeostasik penting untuk mengeluarkan kelebihan panas sesuai kebutuhan. Pada kenyataannya, ketika suhu lingkungan melebihi suhu kulit, berkeringat adalah satu-satunya cara untuk mengeluarkan panas, karena pada keadaan ini tubuh memperoleh panas melalui radiasi dan konduksi.

e. Memanaskan udara inspirasi dan pengeluaran panas melalui urine dan fesesMemanaskan udara inspirasi bergantung pada suhu lingkungan, disaat lingkungan yang suhunya lebih rendah dari suhu tubuh, pemanasan udara inspirasi terjadi lebih banyak. Pengeluaran panas melalui urine dan feses juga mempengaruhi pengeluaran panas tubuh walaupun hanya sedikit. Contohnya, disaat kita demam, urine yang dikeluarkan suhunya lebih tinggi dari suhu urine biasa, hal ini membantu pengeluaran panas tubuh kita saat demam.

Pengaruh hormon tiroid

Hipotalamus mensekresi TRH TRH merangsang hipofisis anterior mensekresi TSH TSH merangsang pertumbuhan kelenjar tiroid kelenjar tiroid mensekresi hormon tiroid (T3 dan T4) terjadi peningkatan laju metabolism dan produksi panas, peningkatan pertumbuhan dan perkembangan SSP, serta peningkatan aktivitas simpatis4.Efek dari hormon tiroid:1. Menaikan laju metabolisme2. Efek kalorigenik 3. Menaikan metabolisme KH ( glikolisis, glukogenesis, kecepatan absorpsi dr GIT, sekresi insulin )4. Menaikan metabolisme lemak5. Menaikan metabolisme protein6. Pada sistem KV ( aliran darah, curah jantung, frekuensi denyut jantung, kekuatan denyut jantung)7. Pada kulit ( kecepatan aliran darah pada kulit karena efek kalorigenik)

Metabolisme KHKarbohidrat yang masuk kedalam tubuh akan diserap dalam bentuk monosakarida. Polisakarida akan dipecah oleh enzim-enzim menjadi glukosa yang akan masuk kedalam metabolisme pencernaan. Berdasarkan bentuknya molekul glukosa dibedakan menjadi 2 jenis yaitu D-glukosa dan L-glukosa. Faktor yang jadi penentu dari bentuk glukosa ini adalah posisi gugus H (hidrogen) dan alkohol (-OH) dalam struktur molekulnya. Di dalam tubuh manusia glukosa yang telah diserap oleh usus halus kemudian akan terdistribusi ke dalam semua sel tubuh melalui aliran darah. Didalam tubuh glukosa tidak hanya dapat tersimpan dalam bentuk glikogen didalam otot dan hati namun juga dapat tersimpan pada plasma darah dalam bentuk glukosa darah. Didalam tubuh selain akan berperan sebagai bahan bakar bagi proses metabolisme, glukosa juga akan berperan sebagai sumber energi utama bagi kerja otak. Melalui proses oksidasi yang terjadi di dalam sel-sel tubuh, glukosa kemudian akan digunakan untuk mensintesis molekul ATP yang merupakan molekul dasar penghasil energi didalam tubuh. Dalam konsumsi keseharian, glukosa akan menyediakan hampir 60-70% dari total kebutuhan energi tubuh.Untuk dapat menghasilkan energi, proses metabolisme glukosa akan berlangsung melalui 2 mekanisme utama yaitu melalui proses anaerob dan proses aerob. Proses metabolisme secara anaerob akan berlansung dalam sitoplasma sedangkan proses aerob akan berjalan dengan menggunakan enzim sebagai katalis didalam mitokondria dengan oksigen (O2)5.a.Proses glikolisisProses ini berlangsung dengan menggunakan bantuan enzim yang berfungsi sebagai katalis didalam sitoplasma yang terdapat pada sel eukariotik. Inti dari keseluruhan proses glikolisis adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat. Tahap metabolisme energi berikutnya akan berlangsung pada kondisi aerob dengan menggunakan bantuan oksigen. Bila oksigen tidak tersedia maka molekul piruvat hasil dari proses glikolisis akan terkonversi menjadi asam laktat. Sebelum masuk kedalam siklus asam sitrat molekul piruvat akan teroksidasi didalam mitokondria menjadi asetil koA dan CO2. Molekul asetil koA yang merupakan hasil akhir dari konversi piruvat kemudian akan masuk kedalam siklus asam sitrat. Siklus ini merupakan tahap akhir dari proses metabolisme energi glukosa. Inti yang terjadi pada siklus asam sitrt adalah mengubah 2 atom karbon yang terikat didalam molekul asetil koA menjadi 2 molekuk CO2, membebaskan koenzim A serta memindahkan energi yang dihasilkan pada siklus ini kedalam senyawa NADH, FADH dan GTP. Secara keseluruhan proses metabolisme glukosa akan menghasilkan CO2 dan H2O.b.Proses glikogenesisGlikogenesis adalah pembentukan glikogen oleh glukosa yang bekerja sebagai energi cadangan terutama dihati dan diotot. Proses glikogenesis akan meningkat setelah makan dengan merangsang keluarnya insulin sehingga menurukan kadar glukosa darah. Glikogen merupakan polisakarida (alfa-D-glu) dan memiliki ikatan glikosidik alfa-1,4 pada rantai lurus dan ikatan glikosidik alfa-1,6 pada percabangan. Glikogen total otot 3-4 kali lebih besar dari glikogen hati. Fungsi glikogen adalah sebagai simpanan glukosa dan penyediaan glukosa darah. Enzim yang berperan adalah glukosa-6 pospatase yang akan mengkatalisis glukosa-6 pospat menjadi glukosa dan hanya terdapat dihati. Enzim lain adalah UDP-glukosa pirpfosforilase yang digunakan untuk membentuk UDP-glu dari glukosa-1 p + UTP dengan melepaskan 2pi. Enzim glikogen sintase akan membentuk unit glukosil 1 dari glikogen primer + UDP-glukosa. Enzim percabangan akan memindahkan segmen glukosa dari glikogen ke cabang lain bila sudah terbentuk 11 glukosa.c.Proses glikogenolisisProses pemecahan glikogen menjadi glukosa di hati dan otot. Di hati akan meningkatkan kadar glukosa darah. Di otot glikogenolisis akan menghasilkan piruvat dan laktat dalam olahraga. Enzim yang berperan adalah fosforilase yang merupakan enzim regulator yang mengkatalisis reaksi pemecahan ikatan glikosidik. Glukan transferase memindahkan 3 segmen glukosa dari sisa glukosa ke rantai lurus yang berdekatan dan meninggalkan 1 glukosa pada cabang tersebut. Dan enzim terakhir adalah debranching enzim yang menghidrolisis tempat percabangan dengan memutus 1 molekul glukosa pada cabang tersebut dan menghasilkan glukosa bebas.d.Proses glukoneogenolisisMerupakan reaksi pembentuk karbohidrat dari senyawa yang bukan karbohidrat, contohnya asam amino glukogenik, laktat, dan gliserol. Tujuannya adalah untuk menyediakan glukosa didalam tubuh misalnya saat letih dan puasa.Metabolisme lemak

Metabolisme Asam lemak jenuhAsam lemak jenuh dapat masuk ke dalam sel untuk mengalami oksidasi. Di dalam sel, oksidasi asam lemak akan terjadi di dalam mitokondria. Namun asam lemak yang masuk ke dalam mitokondria umumnya berukuran kecil. Bila jumlah atom C pada asam lemak lebih dari 12, maka akan ada molekul pembawa yang disebut sebagai karnitin yang akan membawa asam lemak jenis ini masuk untuk mengalami oksidasi di dalam mitokondria. Di dalam mitokondria, jenis oksidasi asam lemak jenuh ini ialah oksidasi beta. Oksidasi ini merupakan oksidasi utama yang terjadi di dalam mitokondria. Senyawa awal dari proses metabolisme ini ialah asil ko-A yang merupakan bentuk aktivasi dari molekul asam lemak bebas. Pada proses oksidasi ini memerlukan koenzim NAD dan FAD yang akan menghasilkan energi melalui rantai pernapasan. Oksidasi asam lemak jenuh dapat meghasilkan asetil ko-A dan propionil ko-A (bila jumlah atom C ganjil). Asetil ko-A dapat masuk ke dalam siklus asam sitrat.5Selain itu proses oksidasi asam lemak jenuh dapat berlangsung di peroksisom. Namun proses ini tidak dapat menghasilkan ATP. Asam lemak rantai panjang umumnya mengalami oksidasi di peroksisom. Pada oksidasi ini dihasilkan oktanoil-koA dan asetil ko-A. Proses oksidasi alfa asam lemak dapat berlangsung di jaringan otak. Proses ini juga tidak menghasilkan ATP dan tidak perlu pengaktifan oleh asil ko-A.Oksidasi omega berlangsund di hepar. Dimana proses oksidasi ini memerlukan NADPH dan dikatalisis oleh sitokrom P-450 serta dapat menghasilkan asam dikarboksilat. Metabolisme Asam lemak tidak jenuhPada reaksi ini jumlah ATP yang dihasilkan lebih sedikit dibanding asam lemak jenuh. Hal ini dikarenakan akan dipakai 2 ATP pada reaksi oksidasi beta yang merupakan bagian dari reaksi yang menghasilkan FADH2. Produk oksidasinya sama dengan oksidasi asam lemak jenuh, akan tetapi jumlah ATP berbeda.

Asam lemak juga dapat disintesis dengan menggunakan jalur sintesis de novo maupun pemanjangan gugus asam lemak. Jalus sintesis de novo merupakan jalur ekstramitokondria yang mengubah asetil ko-A menjadi asam palmitat. Jalur ini akan berlangsung bila ada kelebihan kalori makanan. Sumber utama jalur ini ialah karbohidrat. Melalui proses glikolisis dan oksidasi piruvat akan dihasilkan asetil Ko-A. Awalnya asetil ko-A akan diubah ke malonil ko-A dengan bantuan asetil ko-A karboksilase. Selanjutnya malonil ko-A akan masuk ke kompleks enzim untuk menghasilkan asam palmitat. Kompleks enzim ini terdiri dari 7 enzim yang akan menambah 2 atom C pada setiap kerja enzimnya.6

EikosanoatMerupakan senyawa yang berasal dari asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh disini bersifat essensial, yaitu asam linoleat (6), asam alfa linolenat (3) dan asam arakhidonat (9). Sintesis eikisanoat melalui jalan metabolisme siklooksigenasi dan lipokigenase. Akan menghasilkan leukotrien, prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan.

TriasilgliserolSintesis triasilgliserol terjadi di hati, jaringan adiposa dan mukosa usus. Proses ini terutama terjadi di mikrosom. Proses di mukosa usus terjadi melalui reaksi berikut:2-monoasilgliserol + 2 asil ko-A triasilgliserol + 2 koATriasilgliserol diangkut dalam khilomikron ke limfe untuk masuk ke dalam darah.

Proses di hati terjadi melalui reaksi berikut:Gliserol 3-P + 3 asil-koA triasilgliserol + 3 koA + PiGliserol 3-P bisa didapat melalui gliserol maupun glukosa melalui proses glikolisis. Namun gliserol disini tidak dapat dipakai karena keatifan glikokinase yang rendah. Proses di jaringan adiposa melalui :Gliserol 3-P + 3 asil-koA triasilgliserol + 3 koA + PiTidak seperti di hati dan mukosa usus, triasilgliserol yang terbentuk disini akan disimpan di jaringan adiposa. Sedangkan proses katabolisme triasilgliserol terutama terjadi di jaringan adiposa dengan jalan memotong asam lemak satu per satu hingga tersisa gliserol. Enzim yang berperan yaitu triasil gliserol lipase, diasil gliserol lipase dan monoasil gliserol lipase. Sedangkan triasilgliserol yang terdapat di dalam VLDL dan khilomikron dihidrolisis oleh lipoprotein lipase yang terdapat pada dinding pembuluh darah.

Benda ketonProses ketogenesis terjadi di mitokondria dan hati. Proses ini memakai asetil-KoA sebagai bahan baku. Pada proses ini dibutuhkan enzim tiolase, HMG-koA sintase, HMG-koA liase dan beta 3-OH butirat .Jenis bedan keton yang dihasilkan ialah aseton, asam asetoasetat dan asam beta 3-OH butirat. Kedua asam ini bisa saling interkonversi.Benda keton yang terbentuk bisa dibawa darah ke jaringan ekstrahepatik untuk diaktifkan menjadi asetil ko-A. Sementara aseton akan keluar melalui udara pernapasan.Ketogenesis meningkat pada peningkatan asam lemak bebas dalam darah yang bisa terjadi pada keadaan kelaparan, DM tidak terkontrol, diet tinggi lemak dan hormon yang meningkatkan lipolisis. Akibat peningkatan ketogenesis dapat menyebabkan ketosis dan asidosis metabolik. LipoproteinLemak dalam darah ditranspor dalam bentuk lipoprotein. Lipoprotein didalam darah dapat dipisahkan dengan cara ultrasentrifugasi dan elektroforesa. Bila dipisahkan lipoprotein akan tersusun dari yang memiliki berat molekul terkecil (lapisan atas) hingga berat molekul terbesar (lapisan bawah). Dengan cara ultrasentrifugasi didapat susunan dari atas ke bawah ialah khilomikron, VLDL, LDL dan HDL.Khilomikron disintesis dalam sel usus dengan menggunakan protein apo-B48 dalam ribosom dan retikulum endoplasma kasar serta sintesis lipid di retikulum endoplasma halus. Setelah itu terjadi penggabungan antara komponen lipid dan protein di retikulum endoplasma halus. Kemudian terjadi sintesis apo-AI dan apo-AII membentuk khilomikron yang belum sempurna. Tambahan apo-C dan apo-E akan menyempurnakan khilomikron. Pada badan golgi dapat terjadi penambahan karbohidrat pada lipoprotein ini.VLDL disintesis bagian proteinnya menggunakan apo-B100 di ribosom dan retikulum endoplasma kasar sedangkan lipid disintesis di retikulum endoplasma halus. Dalam retikulum endoplasma halus juga akan bergabung membentuk VLDL nascent seperti khilomikron. Kemudian akan mendapat penambahan apo-E dan apo-C serta karbohidrat.HDL disintesis dengan menggunakan apo A1. HDL awalnya berbentuk diskoid hingga menjadi sferis yang merupakan HDL sempurna. Dalam HDL terdapat banyak fosfolipid.

Hubungan demam dengan Basal Metabolic Rate (BMR)

Yang dimaksud dengan Basal Metabolic Rate pada hakekatnya ialah produksi panas per satuan waktu pada orang yang dalam keadaan basal. Dimana saat demam maka terjadi peningkatan laju metabolisme di dalam tubuh akibat tubuh mengeluarkan energi yang banyak agar dapat dikonversikan menjadi panas. Akibat adanya aktivitas peningkatan metabolisme tubuh maka suhu inti tubuh atau core temperature pun meningkat. Hal ini menyebabkan BMR seseorang pun dapat meningkat, Dimana berdasarkan mekanisme yang ada, yang terjadi adalah setiap terjadi peningkatan suhu sebesar 1oC maka Basal Metabolisme Rate akan meningkat sebesar 13 14% dan apabila dikonversikan dalam Farenheit, maka saat peningkatan 1oF maka akan mengalami peningkatan sebesar 7%2. BMR pun dapat diukur secara kasar yaitu dengan mengalikan 24 kkal/hari/kg dengan berat badan, sehingga didapatkan hasil perkiraan kasar dari Basal Metabolisme Rate atau Laju Metabolisme Basal.Syarat untuk mendapatkan keadaan basal:Yang paling baik adalah bila pemeriksaan silakukan pagi hari waktu subjek (orang yang akan diperiksa) baru bangun tidur, belum melakukan aktivitas apa-apa. Tetapi keadaan ini tidak selalu dapat dilaksanakan, oleh karena itu untuk mendekati keadaan basal ini maka sebelum pemeriksaan aktivitas subjek sangat dibatasi dan diperlukan istirahat terlebih dahulu selama minimal jam.1. Pemeriksaan dilakukan subjek dalam keadaan tiduran.2. Istirahat pada suasana tenang.3. Ruangan dalam batas suhu nyaman.4. 10-12 jam terakhir subjek tidak makan, boleh minum air tawar.5. Malam hari sebelum pemeriksaan subjek dapat tidur nyenyak dan cukup waktu.6. 2 hari terakhir (48 jam) tidak makan banyak protein.7. Pada waktu pemeriksaan subjek harus bebas dari pengaruh obat-obatan.Besarnya metabolisme basal dapat dinyatakan dalam satuan KJ/m2/jam atau kcal/m2 luas permukaan badan/jam.Rumus Reed memperkirakan BMR:BMR = 0.75 {(frekuensi nadi) + 0.74 (tekanan nadi)} 72

PENUTUPSetelah mempelajari mengenai patogenesis demam hingga metabolisme energi yang ada maka dapat disimpulkan bahwa demam dapat meningkatkan aktivitas laju metabolisme basal dikarenakan demam mengakibatkan meningkatnya metabolisme tubuh, sebagian besar dikonversi menjadi energi panas di dalam tubuh. aktivitas panas didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan di dalam tubuh dan diatur oleh pusat regulasi thermostat yaitu oleh hipothalamus dan dibantu kelenjar endokrin seperti hipofisis yang mengeluarkan hormon-hormon yang berperan dalam membantu proses demam

DAFTAR PUSTAKA1. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2011.2. Hariyanto W. Mengapa Kita Demam. Jakarta. Penerbit Arcan; 1995. h. 1-23.3. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.4. Ganong WF.BukuAjar Fisiologi Kedokteran.Edisi 20. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.5. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.6. Metabolisme nutrisi. http://Biologiku.net/Metabolisme-nutrisi. diunduh pada tanggal 22/10/2012