Click here to load reader

MENGENALKAN ANAK PADA IBADAH GEREJA · Web viewterganggu selama kebaktian. Namun, berhasil membuat anak duduk diam bukanlah cara yang tepat untuk memperkenalkan anak pada ibadah yang

  • View
    237

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of MENGENALKAN ANAK PADA IBADAH GEREJA · Web viewterganggu selama kebaktian. Namun, berhasil...

MENGENALKAN ANAK PADA IBADAH GEREJA

MENGENALKAN ANAK PADA IBADAH MENGENALKAN ANAK PADA IBADAH DI GEREJA

Menurut anak-anak, apakah ibadah gereja itu? tanyakanlah pertanyaan

itu kepada anak-anak. Anda mungkin akan mendapatkan jawaban seperti

ini: "Memberi persembahan kepada guru Sekolah Mingguku." (Anak

mengumpulkan persembahan bukan?), "Pendeta yang tidak punya kaki."

(Dibalik jubahnya, siapa yang dapat mengatakannya?) atau "gereja

yang besar yang memiliki kolam renang."

Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan yang

sesungguhnya. Berikut ini beberapa kegiatan yang akan membiasakan

anak-anak dengan susana gereja ataupun mengenalkan mereka pada

ibadah di dalamnya.

1. Ajaklah anak-anak untuk berkeliling di gereja. Siapkan penjelasan-

penjelasan singkat tentang fungsi dari ruangan-ruangan yang ada

atau simbol-simbol yang mungkin akan Anda jumpai dalam kegiatan

ini. Ini juga merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan kepada

anak-anak tentang letak pintu darurat dan mungkin kelas yang akan

mereka tempati tahun depan.

2. Kenalkan para pemimpin gereja Anda kepada anak-anak. Mintalah

para pemimpin gereja ini untuk mengunjungi kelas Anda dan

menjelaskan tanggung jawab mereka. Fotolah mereka dan tempelkan

di majalah dinding. Jika mungkin, kenalkan guru yang akan

mengajar anak-anak itu tahun depan.

3. Anak yang lebih tua mungkin mau merekam dan menyiapkan beberapa

pertanyaan untuk mewawancarai seorang pemimpin gereja. Hasil dari

wawancaranya itu bisa disharingkan di kelas.

4. Mintalah kepada bendahara gereja untuk menjelaskan kepada anak-

anak tentang beberapa proyek-proyek khusus dan pengeluaran rutin

gereja. Penjelasan ini mungkin akan membantu anak-anak untuk

menjadi murid yang baik dalam merawat peralatan dan perlengkapan

karena mereka tahu bahwa persembahan yang mereka berikan dapat

digunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan itu. Selain

itu, mereka juga bisa menabung. Arti dari memberikan persembahan

dapat digambarkan dengan menggunakan foto proyek pelayanan gereja

yang dibantu keuangannya.

5. Biarkan anak-anak membantu dalam proyek pelayanan di gereja --

melipat buletin, menanam bunga, menyanyi di kelas anak-anak yang

lebih dewasa, dan lain-lain. Bantulah murid Anda untuk memahami

bahwa agar sebuah gereja dapat berjalan dengan baik, karena semua

orang dari berbagai usia dan kemampuan harus terlibat di dalamnya

dan mengambil bagian dalam pelayanan gereja.

6. Biarkan anak-anak bekerjasama untuk menyiapkan sebuah buku tempel

atau majalah dinding dengan judul, "Gerejaku". Gunakan foto dan

gambarlah orang-orang dan ciri-ciri gereja Anda.

7. Pimpinlah murid-murid Anda untuk berdoa bagi orang-orang yang

melayani di gereja Anda, baik itu staf maupun sukarelawan gereja.

8. Jelaskan alasan kita berkumpul bersama sebagai suatu gereja.

Bantulah murid Anda untuk memahami bahwa gereja adalah tempat

untuk memuji, belajar, melayani, dan menikmati persekutuan dengan

saudara-saudara Kristen lainnya.

Masalah dalam mencari pekerja yang bersungguh-sungguh tidak akan

menjadi sangat sulit jika sejak awal Anda sudah mengajarkan kepada

anak-anak bahwa gereja tidak hanya sebuah bangunan. Anda bisa

memastikan agar mereka mengerti bahwa -- mereka adalah gereja!

Bahan diedit dan diterjemahkan dari sumber:

Judul buku: Childrens Ministry

Penulis : Dr. RObert J. Choun dan Dr. Michael S. Lawson

Penerbit : Thomas Nelson Publishers, USA, 1993

Halaman : 93 - 95

BAGAIMANA PERILAKU KITA DI GEREJA

Kehadiran anak dalam kebaktian gereja seringkali dimaksudkan oleh

orangtuanya sebagai sarana untuk mengajar anak beribadah dan duduk

diam. Sikap ini sebagian didasari oleh keinginan agar anak tidak

mengganggu orangtuanya ataupun orang-orang dewasa lainnya selama

kebaktian berlangsung. Seringkali, keinginan ini timbul dari

keyakinan bahwa "latihan" ini penting agar kelak saat ia sudah

besar, dapat bersikap baik dalam kebaktian di gereja. Pada taraf

tertentu, sedikit keresahan dan kebisingan masih dianggap lucu jika

anak itu berusia tiga tahun. Namun orangtua dengan cemas bertanya,

"Tetapi bagaimana jika ia berperilaku seperti itu pada usia 13

tahun?"

Menuntut anak balita duduk diam selama satu jam atau lebih selama

kebaktian tanpa ada sesuatu yang menarik minatnya adalah permintaan

yang berlebihan. Sebagian orangtua mencoba dengan mengancam,

membujuk, atau menyediakan beberapa jenis permainan yang tenang.

Atau, berharap si anak tertidur. Usaha-usaha semacam itu mungkin

berhasil dan orangtua serta orang-orang dewasa lainnya tidak terlalu

terganggu selama kebaktian. Namun, berhasil membuat anak duduk diam

bukanlah cara yang tepat untuk memperkenalkan anak pada ibadah yang

bermakna baginya.

Meminta anak yang paling aktif sekalipun untuk diam bukanlah sesuatu

yang sulit selama si anak menemukan sesuatu yang dapat menarik

perhatiannya. Bahkan, anak usia satu atau dua tahun pun dapat tetap

asyik bermain selama jangka waktu yang cukup lama, jika ada

aktivitas yang menarik hati mereka. Daripada berkutat dengan anak

yang kelebihan energi untuk duduk diam di gereja, lebih bijaksana

jika orangtua menyalurkan energi dalam membantu gereja merencanakan

acara yang menarik untuk anak.

Pada umumnya, lebih baik seorang anak mengikuti acara yang dirancang

untuk memenuhi kebutuhan khusus anak daripada dipaksa mengikuti

acara untuk orang dewasa yang sama sekali tidak dirancang untuk

memenuhi pemahaman dan minat anak. Sementara anak bertumbuh,

jangkauan perhatiannya akan semakin luas. Saatnya akan tiba ketika

apa yang dibicarakan dan dinyanyikan dalam kebaktian orang dewasa

menarik minat mereka, karena sesuai dengan perhatian dan kebutuhan

mereka. Tetapi, hal ini tentunya tidak terjadi pada tahun-tahun

pertama usia mereka. Pada banyak gereja, karena bentuk atau sistem

yang dipakai dan panjangnya waktu kebaktian, kebanyakan anak tidak

dapat memahami dan berpartisipasi secara konsisten dalam kebaktian

sebelum mereka menginjak usia remaja.

Lalu, bagaimana anak dapat belajar untuk duduk diam di gereja? Anak

akan belajar saat ia mulai tumbuh menjadi lebih dewasa dan pada saat

itu, sistem saraf mereka sudah lebih matang. Memaksa anak yang

cenderung aktif untuk menjadi tidak aktif, hanya akan membuat anak

memandang gereja sebagai tempat yang tidak menyenangkan. Seperti

yang dikatakan Timmy kecil saat diberitahu bahwa Allah tidak

menyukai kegaduhan yang dibuatnya, "Apakah Allah tidak menyukai

anak-anak kecil?"

Salah satu cara untuk menolong anak mengembangkan rasa hormat adalah

pemberian teladan dari orang dewasa. Anak-anak tidak menyaksikan

orang dewasa berjalan hilir mudik di ruang pertemuan, berteriak di

tengah orang banyak atau menerbangkan pesawat kertas dalam ruangan.

Tetapi yang dilihat anak-anak di gereja adalah orang-orang dewasa

yang melakukan semua hal normal yang mereka lihat di tempat lain:

berdiri sambil berbicara dengan teman-temannya, tertawa, dan

terkadang makan-minum. Bagi anak, perilaku orang dewasa di dalam dan

di sekitar gedung gereja tidak berbeda dengan perilaku mereka di

rumah, di toko, atau di tempat-tempat umum lainnya. Lalu, mengapa

perilaku anak diharapkan berbeda dari kegiatan-kegiatan normal

mereka di rumah ataupun di sekolah? Orang dewasa seringkali

melakukan hal-hal yang amat membingungkan dengan menerapkan standar

ganda yang tidak mencolok, melalui pernyataan bahwa kita harus

menghormati ruang kebaktian dengan melarang anak-anak melakukan

tindakan-tindakan tertentu.

Orang Kristen yang mendambakan agar anak-anak bertumbuh di

lingkungan gereja harus memiliki kepastian dulu bahwa gereja dapat

menerima anak sebagaimana adanya, bukan seperti yang diharapkan atau

kelak diharapkan oleh orang dewasa. Hal ini bukan berarti anak-anak

diizinkan berlari-lari seenaknya. Tetapi, anak-anak ini layak

dihargai seperti orang dewasa -- manusia berharga karena keberadaan

mereka saat ini -- bukan hanya karena suatu hari mereka akan menjadi

orang penting.

BAGAIMANA PERASAAN KITA TENTANG GEREJA

Meskipun pemahaman anak kecil tentang gereja terbatas, dan perilaku

kekanak-kanakan seringkali tampak tidak pada tempatnya, namun bayi

dan anak batita (bawah tiga tahun) mampu membentuk perasaan yang

kuat tentang gereja dan pengalaman-pengalaman mereka di sana. Dalam

suatu penelitian yang menarik tentang masalah ini, Dr. Ronald

Goldman mengajukan pertanyaan kepada beberapa ratus anak di Inggris.

Ia menemukan bahwa sikap mereka terhadap gereja sedikit sekali

berhubungan dengan pola kehadiran mereka di gereja. Melainkan, satu-

satunya pengaruh terkuat terhadap perasaan-perasaan anak tentang

Search related