57
MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI PELAJAR Karya Tulis Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam menyelesaikan program SMA Oleh: Ade Bimi Malidianti No Induk : 07.3939 Kelas : XII IPS 1 SMA LABSCHOOL JAKARTA 2009/2010 LEMBAR PENGESAHAN

MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

  • Upload
    others

  • View
    54

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN

BAGI PELAJAR

Karya Tulis

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas

dalam menyelesaikan program SMA

Oleh:

Ade Bimi Malidianti

No Induk : 07.3939

Kelas : XII IPS 1

SMA LABSCHOOL JAKARTA

2009/2010

LEMBAR PENGESAHAN

Page 2: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Karya tulis ini telah dibaca dan disetujui oleh;

Guru Pembimbing

Marsono, S.Pd.

Guru Penguji 1

Sanin, S.Pd.

Guru Penguji 2

Ika Maharani, S.Pd.

Dan diketahui oleh wali kelas,

Nuniek Qurniasih, S.Pd.

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena

rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Page 3: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Karya tulis ini merupakan salah satu tugas yang harus dilengkapi dalam

menyelesaikan pendidikan di SMA Labschool Jakarta. Dalam karya tulis ini,

penulis mengangkat tema filsafat bagi pelajar, khususnya filsafat ilmu dan

filsafat pendidikan. Penulis terinspirasi dalam mengangkat tema tersebut

berdasarkan pengalamannya sebagai pelajar di kehidupan sehari-hari. Dan

penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang

membacanya, khususnya didedikasikan bagi pelajar yang merupakan generasi

penerus bangsa agar dapat memahami hakikat ilmu dan menjalani pendidikan

dengan sungguh-sungguh. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1) Kedua orang tua penulis, H.Hardianto Harsono dan Lieke Roosdianti

yang senantiasa memberikan dukungan dan doa sehingga karya tulis ini

dapat diselesaikan.

2) Drs. M. Fakhruddin, M.Si. selaku kepala SMA Labschool Jakarta.

3) Mrs. Nuniek Qurniasih, S.Pd. sebagai wali kelas yang memberi

dorongan semangat kepada penulis.

4) Bapak Marsono, S.Pd. sebagai guru pembimbing yang menuntun

pembuatan karya tulis ini di setiap prosesnya.

5) Ibu Elly Hastuty dan Bapak Christianto Eka yang turut membantu dalam

pembuatan karya tulis ini.

6) Choirunnisa, Niki, Monika, Valellum Wetadigna Emyris, Bhargava

Rakawicesa yang memberikan inspirasi bagi penulis khususnya dalam

menghayati karya tulis ini.

Page 4: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

7) Syifa, Maulia, Dea, dan teman-teman penulis yang tidak dapat

disebutkan satu per satu, atas persahabatan dan solidaritas yang begitu

bermakna dan membantu penulis dalam pembuatan karya tulis ini.

Dalam pembuatan karya tulis ini tentu saja tidak luput dari kekurangan,

oleh karena itu penulis mohon maklum dan meminta maaf jika ada kesalahan

dan kata-kata yang kurang berkenan.

Penulis

Page 5: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

“Hakikat ilmu adalah sebab fundamental dan kebenaran universal. Dengan

memahami filsafat ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu yang paling

mendasar, sehingga dapat pula dipahami sebagai perspektif ilmu.” (Kunto

Wibisono)

Page 6: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan...................................................................................... ii

Kata Pengantar .............................................................................................. iii

Daftar Isi ........................................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang masalah ................................................................. 1 1.2 Perumusan Masalah ....................................................................... 3 1.3 Tujuan Pembahasan ....................................................................... 4 1.4 Ruang Lingkup ............................................................................... 4 1.5 Sistematika Penulisan ..................................................................... 4

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Filsafat……………………………………………...……………............ 6

2.1.1. Pengertian Filsafat………………………………………………..… 8 2.1.2. Objek dan Metode Filsafat………………………………………... 11 2.1.3. Ciri-Ciri Filsafat……………………………………………………… 16 2.1.4. Asal dan Peranan Filsafat ………………………………………... 17 2.1.5. Kegunaan Filsafat …………………………………………...….…. 20 2.1.6. Cabang – Cabang Filsafat……………………………………….... 21

2.2. Filsafat Ilmu………………………………………….…………………… 22

2.2.1 Definisi Ilmu Pengetahuan……………………………………….. 22 2.2.2 Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan………………………………….….... 22 2.2.3. Keragaman dalam Klasifikasi Ilmu Pengetahuan………….….. 23 2.2.4. Pengertian Filsafat Ilmu…………………………………………… 26 2.2.5. Objek Filsafat Ilmu………………………………………………... 27 2.2.6. Problema Filsafat Ilmu………………………………………….... 27

2.3. Filsafat Pendidikan………………………………………………………28

2.3.1. Makna Pendidikan…………………..……………………………...28 2.3.2. Tujuan Pendidikan………………………………………………... 29 2.3.3. Pengertian Filsafat Pendidikan…………………………….……. 29 2.3.4. Kebutuhan akan Filsafat Pendidikan………………………….…. 30 2.3.5. Peranan Filsafat Pendidikan…………………………………….... 31

Page 7: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………....………... 34

3.1. Pelajar, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan……………..………....… 35

3.2. Pelajar dan Filsafat……………………………………………………… 38

3.3. Pelajar dan Filsafat Ilmu………………………………………………… 40

3.4. Pelajar dan Filsafat Pendidikan……………………………………....... 43

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………….... 48

4.1. Kesimpulan………………………………………………………………. 48

4.2. Saran……………………………………………………………………... 49

4.3. Daftar Pustaka…………………………………………………….…….. 50

Page 8: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua orang pasti bersentuhan dengan ilmu pengetahuan. Sejak masih

berusia dini, kita menimba ilmu di sekolah dan berusaha menjadi yang terbaik.

Kita berusaha sekeras mungkin agar mendapat nilai yang memuaskan, menjadi

juara kelas, masuk lembaga pendidikan yang bergengsi dan lain-lain. Tak

terhitung berapa kardus buku pelajaran yang telah kita baca, berapa lembar

kertas yang digunakan untuk mencatat, dan betapa otak dan psikis kita

terbebani ketika menghadapi suatu ujian. Banyak pengorbanan, baik yang

secara legal seperti murni belajar dengan keras, atau yang secara illegal

seperti mencontek dan bekerja sama, semua hal itu dilakukan agar kita

dipandang sebagai orang yang berilmu

Page 9: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Namun ketika penulis menelaah lebih lanjut, dari realita yang telah diuraikan

diatas, terdapat kesan bahwa pada era modern ini kedudukan ilmu

pengetahuan hanyalah menjadi sebuah formalitas, identitas, dan tolak ukur

semata. Formalitas dalam konteks ini adalah orang mengejar ilmu

pengetahuan hanya untuk nilai hitam diatas putih. Pada umumnya

masyarakat juga terlalu mengkotak-kotakkan cabang ilmu pengetahuan,

bahkan cenderung memandang sebelah mata ilmu yang bukan objek kajian

mereka, itulah yang dimaksud mereka hanya mementingkan identitas. Selain

itu, fokus mereka dalam menimba ilmu umumnya bertitik akhir dalam usaha

mereka untuk mencapai kesuksesan dan kepuasan materiil, mengingat ilmu

menjadi tolak ukur pada rekrutmen profesi.

Memang tidak ada salahnya jika ingin meraih kesuksesan melalui ilmu

pengetahuan. Tetapi jika hal tersebut tidak didasari kesadaran bahwa kita

perlu memahami dan mengkaji ilmu pengetahuan secara menyeluruh dan

mendalam, maka akan timbul berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam

pencapaian tujuan tersebut. Seperti contohnya mencontek dalam ujian,

menyewa joki snmptn, membeli karya skripsi, dan banyak hal lainnya.

Di satu sisi, seseorang yang begitu lurus dan jujur dalam menimba

ilmu pun dapat menghadapi kesulitan. Dia bisa menjadi seseorang yang

begitu ambisius dalam mengejar nilai. Dia selalu ingin menjadi yang terbaik

sehingga tak segan menjatuhkan orang lain yang dianggap menjadi

saingannya. Atau mungkin saja kesulitan itu dapat berupa tekanan psikis

karena seseorang tidak dapat menemukan metode yang tepat untuk dirinya

Page 10: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

dalam belajar. Dia menimba ilmu dengan paksaan dan penderitaan yang luar

biasa karena terbebani obsesi untuk selalu menjadi sempurna dalam prestasi

belajarnya.

Penulis berpendapat hal ini disebabkan karena lunturnya pemahaman

mengenai esensi dasar perlunya mengkaji sebuah ilmu pengetahuan. Dan

melalui karya tulis ini, penulis ingin mengenalkan filsafat sebagai induk dari

segala ilmu pengetahuan, terutama filsafat ilmu dan filsafat pendidikan agar

pembaca khususnya pelajar dapat menjiwai ilmu pengetahuan dan

mengaplikasikan manfaat filsafat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya

dalam belajar.

1.2. Perumusan Masalah

· Apakah perbedaan dan persamaan antara filsafat dan ilmu

pengetahuan?

· Bagaimana filsafat dapat membantu memberi pengaruh kepada kaum

pelajar dalam memahami esensi dari ilmu pengetahuan itu sendiri?

· Apakah pemahaman konsep filsafat dapat membantu pelajar dalam

proses belajar?

· Apakah manfaat memahami filsafat bagi pelajar?

1.3. Tujuan Pembahasan

· Memperkenalkan filsafat khususnya bagi kalangan pelajar

Page 11: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

· Menekankan pentingnya memahami filsafat, terutama filsafat ilmu dan

filsafat pendidikan

· Menggugah pelajar untuk menimba ilmu pengetahuan dengan

sungguh-sungguh dan memahami makna pendidikan

· Menguraikan konsep filsafat yang dapat membantu dalam metode

belajar

1.4. Ruang Lingkup

Dalam karya tulis ini, penulis akan mengkaji mengenai bagaimana

filsafat ilmu dan filsafat pendidikan sangat diperlukan. Khususnya bagi para

pelajar yang duduk di institusi pendidikan untuk memahami esensi dari

kegiatan belajar mengajar yang mereka alami setiap hari, serta membantu

mereka dalam proses belajar yang selama ini dianggap menjadi beban.

Adapun uraian mengenai bagaimana filsafat ilmu dan pendidikan itu sendiri

diperlukan oleh seorang guru, hanyalah sebagai pelengkap dalam mengkaji

keseluruhan topik karya tulis ini.

1.5. Sistematika Penulisan

Penulis menyusun karya tulis ini bersumber dari kajian pustaka dan

menggunakan pendekatan analisis deskriptif.

Page 12: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Ada orang yang tahu di tahunya

Ada orang yang tahu di tidak tahunya

Ada orang yang tidak tahu di tahunya

Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya

Page 13: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Filsafat

Kita banyak menemukan berbagai macam nama tokoh-tokoh yang

berjasa dalam bidang ilmu pengetahuan di buku-buku pelajaran yang kita

baca. Buku-buku tersebut mengutip dan terkadang mengkaji tentang teori-

teori, hipotesis, analisis, atau sudut pandang suatu tokoh. Seiring dengan

bertambahnya materi yang kita baca, kita menyadari bahwa tiap tokoh

memiliki spesialisasi terhadap bidang ilmu tertentu, seperti Auguste Comte

yang merupakan Bapak Sosiologi, Jean-Jacques Rousseau yang mengkaji

politik dan kewarganegaraan, dan lain-lain.

Page 14: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Namun pada suatu momen, penulis menemukan bahwa ada beberapa

tokoh pula yang ternyata mengkaji dan menjadi ahli dalam beberapa bidang

ilmu secara bersamaan. Dan tak jarang ilmu-ilmu yang mereka kaji tersebut

saling kontras satu sama lain. Contoh tokoh yang dimaksud penulis tersebut

adalah Aristoteles. Kita mengenal salah satu teori Aristoteles tentang asal-

usul munculnya makhluk hidup yaitu teori Abiogenesis. Di sisi lain, beliau

juga menciptakan teori bahwa jarang ditemukan kasus dimana pria dan

wanita dapat menjadi sepasang sahabat sejati, karena seringkali hal tersebut

akhirnya bergeser menjadi perasaan cinta. Dalam kasus ini, beliau juga

membahas tentang psikologi. Bahkan penulis pun pernah menemukan salah

satu teori Aristoteles di salah satu buku mengenai politik.

Penulis lalu merasa sangsi dengan fakta tersebut, mengingat realita

pada era kini, ilmu pengetahuan begitu terklasifikasi dan sangat kecil

kemungkinan bagi seseorang untuk menjadi ahli dalam beberapa bidang

sekaligus. Bagaimana pada saat itu para cendekiawan dapat begitu ahli

bahkan hampir di semua bidang? Pasti ada sesuatu yang menjadi sumber

dari berbagai macam ilmu pengetahuan, dan sesuatu tersebut adalah filsafat.

2.1.1. Pengertian Filsafat

Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi

dan terminologi.

a) Arti secara etimologi

Page 15: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Kata filsafat yang dalam bahasa Arab falsafah, yang dalam bahasa

Inggris dikenal dengan istilah philosophy, adalah berasal dari bahasa

Yunani philo-sophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang

berarti cinta (love) dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom),

sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of

wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Seorang filsuf adalah

pecinta atau pencari kebijaksanaan.

b) Arti secara terminologi

Arti terminologi maksudnya arti yang dikandung oleh istilah atau

pernyataan ‘filsafat’. Lantaran batasan filsafat itu banyak, maka

sebagai gambaran dikenalkan beberapa batasan menurut para filsuf

ternama:

- Aristoteles

Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang

terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,

ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).

- Plato

Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai

pengetahuan kebenaran yang asli.

- Notonagoro

Page 16: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Filsafat itu menelaah hal-hal yang menjadi objeknya dari sudut

intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak

berubah, yang disebut hakikat.

Dengan memberikan batasan-batasan yang tentunya belum

sepenuhnya dicantumkan, dapat ditarik benang merahnya sebagai

kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang

menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan

mempergunakan akal pada sampai hakikatnya. Filsafat bukannya

mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari

adalah hakikat dari suatu fenomena.

Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah

sesuatu itu. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala

sesuatu. Ada/Being merupakan implikasi dasar. Jadi segala

sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti dia adalah ‘being’.

Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan keadaan. Jadi,

filsafat membahas lapisan terakhir dari segala sesuatu atau

membahas masalah-masalah yang paling dasar.

Tujuan filsafat adalah mencari hakikat dari sesuatu objek/gejala

secara mendalam. Adapun pada ilmu pengetahuan empiris hanya

membicarakan gejala-gejala. Membicarakan gejala untuk masuk

ke hakikat itulah dalam filsafat. Untuk sampai ke hakikat harus

melalui suatu metode yang khas dari filsafat.

Page 17: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Jadi dalam filsafat itu harus refleksi, radikal, dan integral.

Refleksi di sini berarti manusia menangkap objeknya secara

intensional dan sebagai hasil dari proses tersebut, yakni

keseluruhan nilai dan makna yang diungkapkan manusia dari

objek-objek yang dihadapinya.

Radikal berasal dari kata radix (berarti akar). Jadi, filsafat itu

radikal berarti filsafat harus mencari pengetahuan sedalam-

dalamnya (sampai ke akar-akarnya). Radikalitas di sini berarti

dalam pengertian sejauh akal manusia mampu menemukannya,

sebab filsafat tidak akan membicarakan yang jelas berada di luar

jangkauan akal budi yang sehat. Filsafat tidak membatasi objeknya

seperti ilmu-ilmu pengetahuan. Di samping itu, filsafat itu radikal

karena berusaha untuk mencari hakikat dari objek yang dibahas.

Filsafat tidak berhenti pada pengetahuan periferis (kulit atau

penampakannya) tetapi filsafat ingin menembus hingga inti

masalah dengan mencari manakah faktor-faktor fundamental yang

membentuk adanya sesuatu.

Filsafat itu integral berarti mempunyai kecenderungan untuk

memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai suatu keseluruhan.

Jadi, filsafat ingin memandang objeknya secara integral.

2.1.2. Objek dan Metode Filsafat

a) Objek Filsafat

Page 18: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu

penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu

pengetahuan pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi

dua, yaitu objek material dan objek formal.

- Objek Material Filsafat

Objek material, yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian

atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material dapat diartikan

pula sebagai hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu

disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal

konkret ataupun hal yang abstrak.Objek material dari filsafat ada

beberapa istilah dari para cendekiawan, namun semua itu

sebenarnya tidak ada yang bertentangan. Mengutip pendapat

Mohammad Noor Syam, “Para ahli menerangkan bahwa objek

filsafat itu dibedakan atas objek material atau objek materiil filsafat;

segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil

konkret, phisis maupun nonmaterial abstrak, psikis. Termasuk pula

pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, dan nilai-nilai.

Dengan demikian objek filsafat tak terbatas”. (Mohammad Noor

Syam, 1981, hlm.12)

- Objek Formal Filsafat

Objek formal, yaitu sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari

penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut pandang

dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak

hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama

Page 19: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

membedakannya dari bidang lain. Satu objek material dapat

ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan

ilmu yang berbeda-beda. Misalnya objek materialnya adalah

“manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang

berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari

manusia di antaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan

sebagainya.

c) Metode Filsafat

Kata metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan

kata depan meta (menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata beda

hodos (jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti

penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Sebenarnya

jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan definisi dari

para ahli dan filsuf sendiri. Karena metode ini adalah suatu alat

pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan

filsuf itu sendiri.

Namun hanya beberapa metode yang khas bagi filsafat yang

dianggap paling penting dan berpengaruh sepanjang sejarah filsafat.

Metode yang khas itulah yang dibahas oleh Anton Bakker dalam

bukunya Metode-Metode Filsafat, yakni:

- Metode Kritis dari Plato dan Socrates

Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika,

yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan.

Page 20: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan,

menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.

- Metode Intuisi oleh Plotinus dan Henri Bergson

Guna menyelami hakikat segala kenyataan diperlukan intuisi yaitu

suatu tenaga rohani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri

dari akal, kecakapan untuk menyimpulkan serta meninjau dengan

sadar. Intuisi adalah naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri,

yang telah diciptakan untuk memikirkan sasaran serta memperluas

sasaran itu menurut kehendak sendiri tanpa batas.

- Metode Skolastik oleh Aristoteles dan Thomas Aquinas

Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi

atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik

kesimpulan-kesimpulan.

- Metode Geometris dan Metode Empiris

Rene Descartes menjadi tokoh pencetus metode geometris dan

metode empiris didukung oleh Hobbes, Locke, Berkeley, dan

Hume. Ia berpendapat bahwa ada ketersusunan alami dalam

kenyataan yang ada hubungannya dengan pengertian manusia. Di

samping itu, ia berusaha keras untuk menemukan yang benar.

Adapun yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa

yang jelas dan terang (clear and disticly)

Page 21: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

.

- Metode Transendental oleh Immanuel Kant

Aliran rasionalisme dan empirisme akhirnya diatasi oleh filsafat

Immanuel Kant. Filsafatnya terutama ditekankan kepada aktivitas

pengertian dan penilaian manusia. Jadi, dalam hal ini tidak

menurut aspek atau segi kejiwaan sebagaimana dalam empirisme,

akan tetapi sebagai analisis kritis.

- Metode Dialektis oleh Hegel dan Karl Marx

Jalan untuk memahami kenyataan bagi Hegel adalah mengikuti

gerakan pikiran atau konsep. Asal mulai berpikir secara benar, ia

akan dibawa oleh dinamika pikiran itu sendiri, dan akan dapat

memahami seluruh perkembangan sejarah pula. Struktur di dalam

pikiran adalah sama dengan proses genetis dalam kenyataan,

maka metode dan teori atau ksistem tidak dapat dipisahkan.

Karena mengikuti dinamika di dalam pikiran dan kenyataan itu,

maka metode Hegel disebut metode dialektis. Dialektis itu

diungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang

bertentangan, kemudian didamaikan (tesis-antitesis-sintesis).

- Metode Fenomenologi oleh Husserl

Fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang

segala sesuatu yang menampakkan diri, atau suatu aliran yang

membicarakan tentang gejala. Pada prinsipnya metode ini ingin

Page 22: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

mencapai “hakikat segala sesuatu”, maksudnya agar mencapai

“pengertian yang sebenarnya” atau “hal yang sebenarnya” yang

menerobos semua gejala yang tampak.Usaha untuk mencapai

hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan.

- Metode Analitika Bahasa

Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan

sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. (Anton Bakker, 1984,

hlm.21-22). Keistimewaannya dalam metode ini ialah semua

kesimpulan dan hasilnya senantiasa didasarkan pada penelitian

bahasa yang logis. (Sudarsono, 1993, hlm.96-102)

2.1.3. Ciri-Ciri Filsafat

Menurut pendapat Drs. Sri Suprapto Wirodiningrat, filsafat mempunyai

tiga ciri yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.

a) Menyeluruh

Artinya, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan

hanya ditinjau dari satu sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan

ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu

lain, hubungan ilmu dengan moral,seni,dan tujuan hidup.

b) Mendasar

Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental

atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar

Page 23: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi tidak hanya berhenti

pada periferis (kulitnya) saja, tetapi sampai tembus ke kedalamannya.

c) Spekulatif

Artinya hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran

selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar

untuk menjelajah wilayah pengetahuan baru.

2.1.4. Asal dan Peranan Filsafat

a) Asal Filsafat

Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk “berfilsafat”, yaitu

sebagai berikut.

- Keheranan

Banyak filsuf menunjukkan rasa heran sebagai asal filsafat. Plato

misalnya mengatakan: “Mata kita memberi pengamatan bintang-

bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini member dorongan

untuk menyelidiki. Dari penyelidikan ini berasal filsafat.”

- Kesangsian

Filsuf-filsuf lain, seperti Augustinus dan Rene Descartes

menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran.

Page 24: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Manusia heran, tetapi kemudian ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu

oleh pancaindranya kalo ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat

yang ingin kita lihat? Di mana dapat ditemukan kepastian? Karena

dunia ia penuh dengan berbagai pendapat, keyakinan, dan

interpretasi.

- Kesadaran Akan Keterbatasan

Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat

kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam

sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan

terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau

kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya manusia

mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkan bahwa di luar manusia yang

terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas.

b) Peranan Filsafat

Menyimak sebab-sebab kelahiran filsafat dan proses

perkembangannya, sesungguhya filsafat telah memerankan

setidaknya tiga peranan utama dalam sejarah pemikiran manusia.

- Pendobrak

Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam

penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena

dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia

yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Manusia menerima

Page 25: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

begitu saja segala penuturan dongeng dan takhayul tanpa

mempersoalkannya lebih lanjut. Keadaan tersebut berlangsung

cukup lama. Kehadiran filsafat telat mendobrak pintu dan tembok

tradisi yang begitu sakral dan selama itu tidak dapat diganggu-

gugat. Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup

panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat

benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang

mencengangkan.

- Pembebas

Filsafat bukan sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan

kebiasaan dengan penuh dengan berbagai mitos dan mite itu,

melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu.

Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan

kebodohannya. Sesungguhnya, filsafat telah, sedang, dan akan

terus berupaya membebaskan manusia dari kekurangan dan

kemiskinan pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi

picik dan dangkal.

- Pembimbing

Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistis dan

mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional.

Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan

dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir secara luas

dan lebih mendalam, yakni berpikir secara universal sambil

Page 26: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

berupaya mencapai radix dan menemukan esensi suatu

permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir

yang tidak teratur dan logis. Filsafat membebaskan manusia dari

cara berpikir yang begitu fragmentaris dengan membimbing

manusia untuk berpikir secara integral dan koheren.

2.1.5. Kegunaan Filsafat

Menurut sebagian para filsuf kegunaan secara umum dari filsafat

adalah sebagai berikut.

a) Plato

Berpikir dan memikirkan itu sebagai suatu nikmat yang luar biasa

sehingga filsafat diberi predikat sebagai keinginan yang maha

berharga.

b) Rene Descartes

Tokoh ini terkenal dengan ucapannya cogito ergo sum (Karena

berpikir maka saya ada). Ia menyangsikan segala-galanya, tetapi

dalam serba sangsi itu ada satu hal yang pasti, ialah bahwa aku

bersangsi dan bersangsi berarti aku berpikir. Berfilsafat berarti

berpangkalan kepada suatu kebenaran yang fundamental atau

pengalaman yang asasi.

c) Alfred North Whitehead

Page 27: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Filsafat adalah keinsafan dan pandangan jauh ke depan dan

kesadaran akan hidup pendeknya, kesadaran akan kepentingan

yang member semangat kepada seluruh peradaban.

d) Maurice Marleau Ponty

Jasa dari filsafat baru ialah terletak dalam sumber

penyelidikannya, sumber itu adalah eksistensi dan dengan sumber

itu kita bisa berpikir tentang manusia.

2.1.6. Cabang – Cabang Filsafat

Filsafat secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua

kelompok, yaitu filsafat sistematis dan sejarah filsafat. Filsafat

sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan

pemikiran filsafat. Di dalamnya meliputi logika, metodelogi,

epistemologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat

ketuhanan (teologi), filsafat manusia, dan kelompok filsafat khusus

seperti filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat komunikasi, dan lain-

lain. Adapun sejarah filsafat adalah bagian yang berusaha meninjau

pemikiran filsafat di sepanjang masa sejak zaman kuno hingga zaman

modern. Bagian ini meliputi sejarah filsafat Yunani (Barat), India, Cina

dan sejarah filsafat Islam.

Page 28: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

2.2 Filsafat Ilmu

2.2.1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris science,

yang berasal dari bahasa Latin scientia dari bentuk kata kerja scire

yang berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya

pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada

segenap pengetahuan sistematik.

2.2.2. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan yang bagaimanakah yang membedakan antara

pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lainnya? Ada banyak versi

tentang bagaimana ciri-ciri ilmu pengetahuan itu sendiri, namun pada

dasarnya mengarah pada konsep yang sama.

Van Melsen (1985) mengemukakan ada delapan ciri yang

menandai ilmu, yaitu sebagai berikut.

a) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu

keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya

sistem dalam penelitian maupun harus susunan logis.

b) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat

kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan.

Page 29: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

c) Universalitas ilmu pengetahuan.

d) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan

tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif.

e) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua

peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu

pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.

f) Progresivitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat

ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru

dan menimbulkan problema baru lagi.

g) Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori

terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan

data-data baru.

h) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai

perwujudan keterkaitan antara teori dengan praktis.

2.2.3. Keragaman dalam Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

a) The Liang Gie

The Liang Gie membagi pengetahuan ilmiah berdasarkan dua

hal, yaitu ragam pengetahuan dan jenis pengetahuan. Untuk

lebih jelasnya digambarkan dalam tabel berikut.

Page 30: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

No. Jenis Ilmu Ragam Ilmu Ilmu Teoritis Ilmu Praktis

1 Ilmu-ilmu matematis Aljabar Geometri

Accounting Statistik

2 Ilmu-ilmu fisis Kimia Fisika

Ilmu keinsiyuran Metalurgi

3 Ilmu-ilmu biologis Biologi molekuler Biologi sel

Ilmu pertanian Ilmu peternakan

4

Ilmu-ilmu psikologis

Psikologi eksperimental Psikologi perkembangan

Psikologi pendidikan Psikologi perindustrian

5 Ilmu-ilmu sosial Antropologi Ilmu ekonomi

Ilmu administrasi Ilmu marketing

6 Ilmu-ilmu linguistic

Linguistik teoritis Linguistik perbandingan

Linguistik terapan Seni terjemahan

7

Ilmu-ilmu interdisipliner Biokimia

Ilmu lingkungan

Farmasi Ilmu Perencanaan Kota

b) Cristian Wolff

Wolff mengklasifikasi ilmu pengetahuan ke dalam tiga

kelompok besar, yaitu ilmu pengetahuan empiris, matematika,

dan filsafat. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Wolff ini

dapat diskemakan sebagai berikut.

- Ilmu pengetahuan empiris

o Kosmologis empiris

o Psikologi empiris

- Matematika

o Murni

Page 31: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

§ Aritmatika

§ Geometri

§ Aljabar

o Campuran: mekanika, dan lain-lain.

- Filsafat

o Spekulatif (metafisika):

§ umum-ontologi,

§ khusus (psikologi,kosmologi,teologi)

o Praktis

§ Intelek –Logika

§ Kehendak: ekonomi, etika,politik

§ Pekerjaan fisik: teknologi

c) Jurgen Habermas

Pandangan Jurgen Habermas tentang klasifikasi ilmu

pengetahuan sangat terkait dengan sifat dan jenis ilmu,

pengetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas, dan

tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Page 32: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Sifat Ilmu

Jenis Ilmu

Pengetahuan yang Dihasilkan Akses kepada Realitas Tujuan

Empiris-analitis

Ilmu alam dan sosial empiris

Informasi

Observasi

Penguasaan teknik

Historis-hermeneutis

Humaniora

Interpretasi

Pemahaman arti via bahasa

Pengembangan intersubjektif

Sosial-kritis

Ekonomi,sosiologi, Politik

Analisis Self-Reflexion

Pembebasan kesadaran non-reflektif

2.2.4. Pengertian Filsafat Ilmu

Cabang filsafat yang membahas masalah ilmu adalah filsafat ilmu.

Tujuannya adalah mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan dan

cara bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Jadi, filsafat ilmu adalah

penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk

memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan

ilmiah itu sendiri. Istilah lain dari filsafat ilmu adalah theory of science (teori

ilmu), metascience (Adi-ilmu), dan science of science (ilmu tentang ilmu).

2.2.5. Objek Filsafat Ilmu

a) Objek Material Filsafat Ilmu

Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu

pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah

tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara

umum.

b) Objek Formal Filsafat Ilmu

Page 33: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat

ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih

menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan seperti

apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana cara memperoleh

kebenaran ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan bagi manusia? Problem

inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan,

yakni landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

2.2.6. Problema Filsafat Ilmu

Banyak sekali pendapat filsuf ilmu mengenai kelompok atau perincian

problem apa saja yang diperbincangkan dalam filsafat ilmu. Dari beberapa

pendapat mengenai problem filsafat ilmu dapat ditarik benang merahnya,

yakni sebagai berikut.

a) Apakah konsep dasar dari ilmu? Maksudnya bagaimana filsafat ilmu

mencoba untuk menjelaskan praanggapan dari setiap ilmu, dengan

demikian filsafat ilmu dapat lebih menempatkan keadaan yang tepat

bagi setiap cabang ilmu. Dalam masalah ini filsafat ilmu tidak dapat

lepas begitu saja dari cabang filsafat lainnya.

b) Apakah hakikat dari ilmu? Artinya langkah-langkah apakah suatu

pengetahuan sehingga mencapai yang bersifat keilmuan.

c) Apakah batas-batas dari ilmu? Maksudnya apakah setiap ilmu

mempunyai kebenaran yang bersifat sangat universal ataukah ada

norma-norma fundamental bagi kebenaran ilmu.

2.3. Filsafat Pendidikan

Page 34: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

2.3.1. Makna Pendidikan

Makna pendidikan dapat dilihat dalam pengertian secara khusus

dan pengertian secara luas. Dalam arti khusus, Langeveld mengemukakan

bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa

kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya.

Pendidikan dalam arti khusus ini menggambarkan upaya pendidikan yang

terpusat dalam lingkungan keluarga.

Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk

meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang

hayat.Dalam Undang-undang RI nomor 2 tahun 1989 tentang sistem

pendidikan nasional, disebut bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk

menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,pengajaran, dan/atau

pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

2.3.2. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau

pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok.

Tujuan pendidikan harus mengandung tiga nilai yaitu autonomy, equity, dan

survival.

a) Autonomy yaitu member kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan

secara maksimum kepada individu maupun kelompok, untuk dapat

hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.

b) Equity (keadilan), berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus

memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk

Page 35: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan

ekonomi, dengan memberinya pendidikan dasar yang sama.

c) Survival berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin

pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi

berikutnya.

2.3.3. Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan menurut Al Syaibany (1979:30) adalah

pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang

pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan

falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan

kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam

menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis.

2.3.4. Kebutuhan akan Filsafat Pendidikan

Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan

masalah hidup dan kehidupan manusia, di mana pendidikan merupakan

salah satu aspek dari kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang

dapat melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan

filsafat. Mengapa pendidikan membutuhkan filsafat? Karena masalah-

masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang

hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-

masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak

terbatasi oleh pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan yang faktual, tidak

Page 36: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Hubungan filsafat

dengan pendidikan dapat kita ketahui, bahwa filsafat akan menelaah suatu

realitas dengan lebih luas, sesuai dengan ciri berpikir filsafat, yaitu radikal,

sistematis, dan universal. Konsep tentang dunia dan pandangan tentang

tujuan hidup tersebut akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan

pendidikan.

2.3.5. Peranan Filsafat Pendidikan

Peranan filsafat pendidikan secara umum dapat dikaitkan dengan

empat hal, yaitu metafisika, epistemologi, aksiologi, dan logika.

Metafisika merupakan bagian dari filsafat spekulatif. Yang menjadi

pusat persoalannya adalah hakikat realitas akhir. Metafisika mencoba

mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah alam semesta

memiliki bentuk rasional? Apakah alam semesta memiliki makna? Siapakah

manusia? Dari mana asalnya?

Dengan lahirnya sains, banyak orang beranggapan bahwa metafisika

merupakan barang kuno. Menurut mereka, penemuan ilmiah betul-betul

dapat dipercaya karena dapat diukur, sebaliknya pemikiran metafisika tidak

Page 37: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

dapat dibuktikan kebenarannya dan tidak memiliki aplikasi praktis. Tetapi

dewasa ini kita kenal bahwa metafisikan dan sain merupakan dua kegiatan

yang berbeda, memiliki nilai dan manfaat dalam lapangannya masing-

masing. Keduanya berusaha menyusun pertanyaan-pertanyaan umum.

Tetapi, metafisika berkaitan dengan konsep-konsep yang kejadiannya tidak

dapat diukur secara empiris, seperti pernyataan :”Allah adalah pencipta alam

semesta. Tujuan akhir manusia adalah hidup bahagia dunia dan akhirat.”

Dalam hal ini tidak berarti bahwa metafisika menolak sains. Sebaliknya,

sains sendiri menimbulkan masalah tentang hakikat realitas. Metafisika

berusaha untuk memecahkan masalah hakikat realitas yang tidak mampu

sains pecahkan.

Selain itu, pendidikan berkaitan pula dengan epistemologi. Kegunaan

memahami epistemologi bagi pendidikan yang dikemukakan oleh Imam

Barnadib (1976:12) sebagai berikut:

Epistemologi diperlukan antara lain dalam hubungan dengan

penyusunan dasar kurikulum. Kurikulum yang lazimnya diartikan sebagai

sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, dapat diumpamakan sebagai

jalan raya yang perlu dilewati oleh siswa atau murid dalam usahanya untuk

mengenal dan memahami pengetahuan. Agar mereka berhasil dalam

mencapai tujuan perlu diperkenalkan sedikit demi sedikit hakikat dari

pengetahuan.

Page 38: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Aksiologi sebagai cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai

buruk, indah dan tidak indah (jelek), erat berkaitan dengan pendidikan,

karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan, atau akan menjadi dasar

pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Di dalam tujuan

pendidikan itulah tersimpul semua nilai pendidikan yang hendak diwujudkan

di dalam pribadi peserta didik.

Logika atau penalaran merupakan suatu proses berpikir yang

membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu

memiliki dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan

suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dikatakan sah kalau

proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan dengan cara tertentu

tersebut.

Page 39: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

llmu hanya dapat maju apabila masyarakat berkembang dan berperadaban.

Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Muqaddimah.

Page 40: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

BAB III

PEMBAHASAN

Setelah mengemukakan landasan teori mengenai filsafat ilmu dan

filsafat pendidikan, dalam bab ini penulis akan mengkaji keterkaitan antara

pelajar dengan kedua hal tersebut. Dalam latar belakang karya tulis ini,

penulis telah menyebutkan beberapa macam masalah penyimpangan yang

dilakukan para pelajar yang umumnya disebabkan karena mereka merasa

terbebani dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan itu. Beban yang

mereka rasakan itu salah satunya dikarenakan oleh kurangnya pemahaman

Page 41: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

yang mendalam mengenai apa yang mereka pelajari, mengapa mereka

harus mempelajari itu, apa nilai-nilai yang mereka dapat belajar, dan lain-

lain. Bagaimana pemahaman filsafat ilmu dan filsafat pendidikan dapat

membantu meningkatkan motivasi belajar serta prestasi pelajar, secara garis

besar akan penulis kemukakan dalam 2 sudut pandang, yaitu secara teknis

dan secara filosofis.

Namun sebelum membahas hal tersebut, penulis akan menjelaskan

mengenai pelajar, masalah-masalah yang dialami pelajar, dan mengapa

dalam karya tulis ini pelajar yang menjadi titik fokus sebagai subjek yang

sangat perlu memahami filsafat ilmu dan filsafat pendidikan.

3.1. Pelajar, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan

Definisi pelajar itu sendiri adalah pelaku atau peserta didik dalam suatu

pendidikan. Pelajar menjalani proses kegiatan belajar mengajar di suatu

institusi pendidikan untuk menimba ilmu pengetahuan. Pada dasarnya, posisi

ilmu pengetahuan dan pendidikan bagi manusia itu sendiri adalah suatu

kebutuhan. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat lepas

dari manusia. Namun, status quo adalah pelajar pada umumnya merasa

bahwa mempelajari ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sulit dan

membebankan,ditambah lagi oleh sistem pendidikan yang dianggap tidak

mendukung kebutuhan pelajar.

Ilmu pengetahuan yang “menyulitkan” dalam konteks ini dapat berupa

materi yang terlalu banyak dan kompleks, tata bahasa yang sulit dimengerti,

melibatkan perhitungan matematis yang rumit, dan lain-lain. Sedangkan dari

Page 42: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

sistem pendidikan itu sendiri, yang dimaksud tidak mendukung adalah ketika

pelajar merasa diforsir oleh sistem pengukuran ilmu seperti ujian, nilai dan

ranking. Kesulitan juga dapat dirasakan pelajar karena merasa bahwa

kurikulum pendidikan dirasa tidak sesuai mencakup mata pelajaran yang

dianggap terlalu banyak dan tidak penting, kalender akademik yang terlalu

padat, dan standar nilai yang dianggap yang terlalu tinggi. Faktor-faktor lain

seperti cara guru mengajar, peraturan sekolah yang dianggap terlalu ketat,

juga turut mempengaruhi pelajar sehingga merasa terbebani dengan

kegiatan belajar-mengajar mereka di sekolah.

Masalah-masalah tersebut menyebabkan munculnya berbagai

penyimpangan seperti mencontek, mencuri soal, menyewa joki snmptn, dan

banyak hal lain yang bentuknya semakin berkembang seiring dengan

pertumbuhan teknologi. Mungkin secara teknis mereka akan mendapat nilai

yang bagus, ranking yang bagus, namun itu semua palsu karena mereka

tidak jujur dalam prosesnya. Mereka tidak memahami landasan filosofis

mengenai mengapa mereka harus mempelajari ilmu dan bertindak jujur

dalam pelaksanaannya di sistem pendidikan.

Di satu sisi, mungkin ada sejumlah pelajar yang telah memahami

landasan filosofis mengenai pentingnya mempelajari ilmu dan dapat

melaksanakannya dengan jujur pada sistem pendidikan, namun sayangnya

mereka kurang menguasai landasan teknis. Landasan teknis yang dimaksud

di sini adalah metode-metode yang berkenaan dalam pencapaian prestasi

yang biasa diukur di suatu sistem pendidikan dalam bentuk nilai dan ranking.

Page 43: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Termasuk di dalamnya juga ketika mereka mengalami kesulitan dalam

pemecahan soal, meskipun mereka telah memahami secara teoritisnya.

Pelajar adalah generasi penerus bangsa, tumpuan harapan bangsa.

Jika dari sejak masa muda mereka telah melakukan beberapa

penyimpangan, hal itu dapat berkembang menjadi bentuk-bentuk

penyimpangan lain seperti tindak korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu

jika mereka tidak mengerti esensi dasar dari bersekolah dan menimba ilmu,

maka kita tidak akan melahirkan generasi-generasi yang dapat

mencerdaskan dan memajukan bangsa. Pelajar yang dimaksud perlu untuk

mengetahui esensi dalam karya tulis ini adalah pelajar yang memasuki usia

remaja-matang yaitu pelajar SMA. Akan lebih baik jika esensi itu ditanamkan

sejak kecil, namun dalam hal ini pelajar SMA memiliki urgensi yang tinggi

untuk memahami esensi dasar karena dalam usia SMA adalah titik di mana

remaja begitu bergejolak dalam upaya pencarian jati dirinya. Gejolak tersebut

harus diarahkan dengan benar sehingga tidak menjerumuskan diri mereka.

3.2. Pelajar dan Filsafat

Pelajar pada umumnya memiliki pandangan bahwa filsafat adalah ilmu

yang sulit untuk dipelajari. Filsafat hanya untuk kalangan tertentu saja, yang

dalam konteks ini mereka anggap kalangan cendekiawan. Namun pada

Page 44: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

hakekatnya, berfilsafat adalah suatu kebutuhan bagi manusia. Filsafat dapat

memenuhi kebutuhan akibat implikasi dari keheranan, kesangsian, dan

keterbatasan yang dimiliki oleh manusia. Banyak pelajar yang mengeluh dan

merasa tidak mampu ketika mempelajari sesuatu yang dianggap sulit,

mereka panik ketika merasa heran dan tidak mampu mereka pahami. Namun

jika mereka memahami filsafat, mereka akan menyadari bahwa keheranan

dan kesangsian itu adalah sesuatu manusiawi karena pada dasarnya kita

memiliki keterbatasan. Tapi setelah itu diperlukan pemahaman bahwa hal

tersebut adalah titik di mana kita harus mulai berpikir dan akhirnya

menemukan kebenaran atas segala pertanyaan kita.

Selain karena kebutuhan akan filsafat, pelajar juga mampu untuk

berfilsafat. Bukti bahwa filsafat yang selama ini dianggap sulit ternyata dapat

dipelajari oleh pelajar adalah bahwa dalam proses menimba ilmu

pengetahuan, pelajar secara tidak sadar telah menggunakan metode-metode

filsafat di dalamnya. Contoh konkretnya dapat kita lihat dalam proses

pemecahan soal. Ketika kita akan mengerjakan soal studi kasus, secara

tidak sadar kita menggunakan metode analisis-kritis. Ketika kita mengerjakan

soal pilihan ganda dan merasa hoki atau beruntung karena mendapatkan

nilai bagus padahal dasarnya kita tidak memahami materi secara

menyeluruh, saat itulah kita menggunakan metode intuisi, suatu tenaga

rohani yang membuat kita dapat menyimpulkan serta meninjau dengan

sadar. Dan banyak kasus juga dimana kita dapat mengerjakan soal dengan

cara menganalisis definisi-definisi yang ada, itulah metode analitika bahasa.

Page 45: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Tidak hanya di bidang pendidikan, namun di kehidupan sehari-hari pun

sebenarnya para pelajar berfilsafat. Seperti contohnya di SMA Labschool

Jakarta, sejak masa orientasi siswa kita sudah dikenalkan untuk berfilsafat

dengan mencoba mencari filosofi name tag dan segala atribut. Filsafat juga

dapat berupa kata-kata bijak yang dapat memotivasi diri seperti

contohnya,”Sang juara bukanlah seseorang yang selalu menang, tetapi sang

juara adalah seseorang yang tidak pernah menyerah.”

Masih banyak lagi contoh kata-kata bijak yang merupakan salah satu

bentuk dari cara berpikir filsafat, seperti yang dapat kita lihat di lingkungan

SMA Labschool Jakarta. Ini adalah salah satu bentuk filsafat etika. Fakta-

fakta tersebut membuktikan bahwa secara alamiah filsafat adalah suatu

kebutuhan, sesuatu yang mampu dipelajari dan familiar bagi kalangan

pelajar, hanya saja keberadaannya kurang disadari.

3.3. Pelajar dan Filsafat Ilmu

Status quo, hanya sebagian kecil pelajar yang tahu bahwa filsafat

memiliki cabang-cabang yang fokus pada objek-objek tertentu. Salah satu

cabang yang sangat berkenaan dengan pelajar adalah filsafat ilmu. Seperti

yang telah dijelaskan pada Bab 2, bahwa filsafat ilmu adalah penyelidikan

tenyang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk memperolehnya.

Pelajar sebaiknya memiliki pemahaman mengenai filsafat ilmu. Tidak

perlu menjadi jenius untuk memahami filsafat ilmu. Ada tiga landasan utama

dalam problema filsafat ilmu, yaitu landasan ontologis, epistemologis, dan

aksiologis.

Page 46: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

a) Landasan ontologis, yaitu landasan mengenai apa ilmu yang sedang

kita pelajari.

b) Landasan epistemologis, yaitu landasan mengenai bagaimana cara

ilmu itu diperoleh, mengapa kita harus mempelajari ilmu tersebut, dan

lain-lain yang dapat menjelaskan bagaimana suatu pengetahuan

dapat menjadi suatu ilmu.

c) Landasan aksiologis, yaitu nilai-nilai apa yang kita dapat dalam

mempelajari ilmu tersebut.

Pemahaman terhadap tiga landasan tersebut akan membantu pelajar

dalam mengatasi segala keluhan yang dirasakan dalam proses

pembelajaran ilmu pengetahuan. Misalnya ketika kita mempelajari

sejarah. Landasan ontologisnya, sejarah adalah ilmu yang mempelajari

tentang perubahan. Landasan epistemologisnya, kita harus mempelajari

sejarah agar dapat belajar sesuatu dari masa lalu, dan kita

mempelajarinya dengan menganalisis bagaimana suatu peristiwa dapat

terjadi dan membuat perubahan. Landasan aksiologisnya, kita mendapat

nilai-nilai nasionalisme,patriotisme,dan lain-lain.

Seperti yang umumnya terjadi, salah satunya adalah keluhan

mengenai begitu banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari.

Mereka menganggap ada beberapa pelajaran yang tidak penting dan

tidak sesuai dengan fokus objek studi mereka. Namun mereka sendiri

pun tidak dapat menjelaskan bagaimana mereka berpendapat bahwa

Page 47: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

beberapa mata pelajaran itu tidak penting. Mereka tidak memahami tiga

landasan dalam mempelajari suatu ilmu

Contoh kasus, ada anggapan bahwa pelajaran geografi tidak penting

untuk dipelajari oleh pelajar yang berada di jurusan ilmu sosial. Alasan

mereka adalah karena mata pelajaran tersebut dianggap terlalu

mengarah ke ilmu alam dan tidak ada kaitannya dengan ilmu sosial.

Padahal faktanya, ilmu geografi itu sendiri sangat berkaitan dengan ilmu

sosial. Dalam mata pelajaran geografi kita mempelajari industri, bedanya

dengan mempelajari industri di ekonomi adalah dalam geografi kita

mempelajari lebih dalam mengenai keterkaitan antara industri dan

lingkungan. Sehingga kelak diharapkan jika kita menjadi seorang

pengusaha, kita tetap memperhatikan kelestarian lingkungan karena

dewasa ini begitu banyak kasus mengenai lingkungan yang dalam

konteks ini melibatkan pelaku ekonomi serta mempengaruhi proses

produksi industri itu sendiri.

Begitu pula sebaliknya. Pelajar jurusan ilmu alam juga mengeluhkan

beberapa pelajaran yang dianggap tidak penting dan tidak sesuai dengan

fokus objek studinya. Namun jika ditelusuri, memang pada hakikatnya

semua ilmu itu berkaitan. Kita tidak perlu mengkotak-kotakkan ilmu

pengetahuan dan mengabaikan bahkan merendahkan yang berada di

luar kotak tersebut, karena pada dasarnya ilmu adalah satu kesatuan

yang utuh. Atau mungkin yang akhir-akhir ini jarang diperhatikan adalah

ilmu bahasa. Banyak yang meremehkan cabang ilmu yang satu ini.

Page 48: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Padahal, kemampuan intelektual seseorang ditentukan dengan

kemampuannya dalam berbahasa.

Jujun S.Suriasumantri dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Ilmu,

Sebuah Pengantar Populer” mengelompokkan “bahasa” sebagai salah

satu sarana berpikir ilmiah. Manusia dapat berpikir dengan baik karena

dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat

berpikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang kita lakukan dalam

kegiatan ilmiah. Demikian juga tanpa bahasa maka kita tak dapat

mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain.

Oleh karena itu, tidak perlu merasa terbebani dalam mempelajari

banyak mata pelajaran, karena implikasi dari keterkaitan antar ilmu

adalah dengan mempelajari suatu ilmu maka akan mempermudah kita

dalam mempelajari ilmu yang lain.

Secara filosofis, filsafat ilmu membantu dalam memahami esensi dari

mempelajari suatu ilmu. Karena muncul pemahaman tersebut, maka akan

meningkatkan motivasi belajar. Dan secara teknis, karena motivasi

belajar meningkat, hal itu akan memudahkan pelajar dalam menjalani

proses belajar-mengajar dan proses pemecahan soal dalam ujian.

Keterkaitan antar ilmu pula yang memudahkan pelajar dalam proses

pemahaman konsep suatu materi.

3.4. Pelajar dan Filsafat Pendidikan

Salah satu sarana untuk menimba ilmu pengetahuan adalah melalui

suatu institusi pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bentuk

Page 49: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

penyajian ilmu. Ada banyak metode pendidikan yang merupakan implikasi

dari sistem pendidikan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemahaman

filsafat ilmu perlu dilengkapi dengan pemahaman filsafat pendidikan karena

keduanya merupakan hal yang saling berkesinambungan dan tidak bisa

dilepaskan dari kehidupan pelajar.

Filsafat pendidikan seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2, adalah

pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang

pendidikan. Berdasarkan pada sumber-sumber pustaka yang penulis

temukan, umumnya filsafat pendidikan diaplikasikan untuk kegiatan

mengajar bagi para guru. Belum ditemukan sumber pustaka yang mengkaji

bagaimana pelajar juga perlu memahami filsafat pendidikan.

P enulis berpendapat bahwa selain pemahaman filsafat pendidikan

dibutuhkan oleh seorang guru, pelajar juga perlu untuk memahaminya. Hal

ini disebabkan karena pada dasarnya, pendidikan melibatkan proses

interaksi antara tenaga pendidik dengan yang dididik. Ketika tenaga pendidik

telah memahami esensi dari suatu proses pendidikan tetapi tidak didukung

atau tidak direspon dengan baik oleh pelajar, maka tujuan pendidikan tidak

dapat dicapai dengan baik.

Keluhan yang dikemukakan pelajar mengenai pendidikan contohnya

mengenai kurikulum yang dianggap tidak sesuai, kalender akademik yang

padat, cara mengajar yang tidak mendukung,tekanan psikis yang mereka

alami ketika nilai atau peringkat mereka turun, dan lain-lain. Namun kembali

filsafat dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan yang ada. Inti dari

problema filsafat pendidikan pada dasarnya sama dengan filsafat ilmu, yaitu

Page 50: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

berdasarkan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pelajar

sebaiknya tidak menghakimi bahwa suatu sistem pendidikan itu dianggap

tidak sesuai tanpa menelusuri sscara mendalam tentang bagaimana sistem

tersebut dapat tercipta. Mereka harus meyakini bahwa sesuatu yang ada itu

ada karena alasan-alasan yang mendasar.

Seperti contohnya, banyak pelajar yang menginginkan kurikulum

layaknya di luar negeri, di mana pelajar memiliki otoritas dalam memilih mata

pelajaran sesuai dengan minat mereka. Secara umum masyarakat juga

terkesan mengagung-agungkan kurikulum luar negeri. Namun jika kita

telusuri lebih lanjut, apakah benar bahwa jika kurikulum luar negeri tersebut

diaplikasikan akan sesuai dengan karakteristik pelajar Indonesia? Kurikulum

dirancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik negara masing-

masing. Masalah otoritas dalam memilih mata pelajaran, apakah kita yakin

bahwa seluruh pelajar se-Indonesia telah memiliki kematangan berpikir yang

sama, apalagi jika dibandingkan dengan pelajar di negara-negara maju pada

umumnya?

Filsafat pendidikan jika dipandang dari suatu sudut pandang ternyata

juga dapat berkaitan dengan ideologi negara, termasuk di dalamnya

karakteristik suatu bangsa dan tujuan suatu negara. Salah satu bentuk

kontrol negara dalam pendidikan adalah pengadaan mata pelajaran agama,

sebagai salah satu pengamalan sila pertama pancasila. Pelajaran

kewarganegaraan yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan rasa

nasionalisme. Bahkan muatan lokal (mulok) yang selama ini dianggap

kurang krusial, sebenarnya memiliki makna yang mendalam untuk

Page 51: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

melestarikan kebudayaan daerah. Penerapan mulok berbeda-beda di tiap

daerahnya, sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Seperti contohnya

sekolah yang berada di kawasan Jawa Barat menerapkan sastra dan

kebudayaan Sunda sebagai mulok, di kawasan Jawa Tengah menerapkan

sastra dan kebudayaan Jawa, dan lain-lain. Mungkin kritikan lebih banyak

berasal dari pelajar Jakarta, di mana Jakarta merupakan kota yang begitu

multikultur sehingga penerapan mulok di wilayah ini tidak seragam. Namun,

penulis berpendapat bahwa mulok tetap penting untuk mengkritisi segala isu-

isu kontroversial yang ada di sekitar Jakarta maupun secara keseluruhan

negara.

Keluhan-keluhan yang bersifat teknis, salah satunya adalah mengenai

ujian, nilai, dan peringkat. Menjadikan nilai atau peringkat sebagai motivasi

utama dalam belajar memang bukan sesuatu yang salah. Namun, tanpa

pemahaman yang mendasar mengenai mengapa kita harus belajar,

mengapa kita harus ujian, mengapa nilai kita sekian, mengapa peringkat kita

sekian, maka fondasi motivasi itu akan menjadi lemah. Akan muncul

penyimpangan-penyimpangan seperti mencontek karena fokus orientasi

mereka hanyalah nilai yang bagus dan peringkat yang tinggi. Selain itu juga

dapat menyebabkan tekanan psikis yang justru membuat mereka terobsesi

dan terbebani dalam proses belajar. Namun, jika kita telah memahami bahwa

esensi dari pendidikan adalah proses, bukan hasil, maka secara otomatis

nilai dan peringkat kita akan membaik dengan alamiah. Kita dapat menjalani

segala sesuatunya dengan senang hati dan tanpa beban, tidak ada pelajaran

Page 52: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

yang dianggap sulit, karena kita tahu bahwa pada dasarnya kita

membutuhkan ilmu pengetahuan tersebut.

Page 53: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

Cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.

Rene Descartes (1596-1650)

Page 54: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Dari keseluruhan isi karya tulis ini, dapat kita simpulkan bahwa

pemahaman filsafat ilmu dan filsafat pendidikan sangat dibutuhkan untuk

mengatasi masalah-masalah atau keluhan-keluhan yang dialami oleh pelajar

saat ini. Pada intinya, pelajar perlu memahami tiga landasan utama, yaitu

landasan ontologis (apa), landasan epistemologis (mengapa,bagaimana),

dan aksiologis (nilai-nilai). Dalam konteks ini khususnya dapat menjadi

landasan berpikir bagi pelajar dalam memahami ilmu pengetahuan.Tidak

hanya terbatas pada dunia pendidikan saja, namun cara berpikir filsafat juga

perlu diterapkan oleh pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Karena seperti

pada pengertiannya secara etimologi,

Page 55: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

filsafat artinya cinta kebijaksanaan. Dengan berfilsafat, kita terbiasa berpikir

bijaksana dalam segala sesuatunya, dan pemikiran tersebut akan mendorong

kita untuk melakukan segala sesuatu dengan bijak pula.Terutama bagi pelajar

yang berada dalam usia remaja yang masih mengalami krisis jati diri,

pemahaman mengenai apa dan mengapa mereka melakukan sesuatu,

menentukan pilihan, sangat diperlukan demi perkembangan mereka di masa

depan. Bangsa ini membutuhkan pelajar-pelajar yang hebat sebagai generasi

penerus.

4.2. Saran

Sebaiknya pemahaman mengenai filsafat, khususnya filsafat ilmu dan

filsafat pendidikan bagi pelajar diperkenalkan sejak dini. Hal itu dapat dilakukan

secara informal maupun formal. Salah satu bentuk formal adalah seperti yang

diterapkan di beberapa negara maju dengan cara memasukkan filsafat sebagai

salah satu mata pelajaran dalam kurikulum.

Alternatif lain yang disarankan penulis bagi pembaca yang masih duduk di

bangku sekolah jika ingin mengasah cara berpikir filsafat adalah dengan

mengikuti lomba debat bahasa Inggris yang berformat debat parlementer.

Karena dinamika dan tema-tema yang diperdebatkan dalam jenis lomba

tersebut menuntut peserta-pesertanya untuk berpikir kritis dan mendalam serta

mengembangkan argument-argumen yang sarat akan landasan filosofis.

Page 56: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …

DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. 2008. Jakarta:

Bumi Aksara.

Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. 2009. Bandung: Alfabeta.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. 2009.

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Page 57: MEMAHAMI FILSAFAT ILMU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAGI …