of 35 /35
MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA INTRAVENA UNTUK PASIEN DEWASA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” (FASE ADMINISTRASI) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Rosalia Swari Enggarani NIM: 138114008 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2017 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN … · Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi ... adalah penggunaan obat yang rasional untuk meningkatkan keselamatan pasien

Embed Size (px)

Text of MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN … · Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas...

  • MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

    INTRAVENA UNTUK PASIEN DEWASA RAWAT INAP DI RUMAH

    SAKIT X (FASE ADMINISTRASI)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

    Program Studi Farmasi

    Oleh:

    Rosalia Swari Enggarani

    NIM: 138114008

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2017

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • i

    MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

    INTRAVENA UNTUK PASIEN DEWASA RAWAT INAP DI RUMAH

    SAKIT X (FASE ADMINISTRASI)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

    Program Studi Farmasi

    Oleh:

    Rosalia Swari Enggarani

    NIM: 138114008

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2017

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ii

    Persetujuan Pembimbing

    MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

    INTRAVENA UNTUK PASIEN DEWASA RAWAT INAP DI RUMAH

    SAKIT X (FASE ADMINISTRASI)

    Skripsi yang diajukan oleh:

    Rosalia Swari Enggarani

    NIM: 138114008

    telah disetujui oleh

    Pembimbing Utama

    Aris Widayati, M.Si.,Ph.D.,Apt. tanggal 19 Desember 2016

    Pembimbing Pendamping

    W.S. Astuti, S.Si., Apt. tanggal 17 Desember 2016

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iii

    Pengesahan Skripsi Berjudul

    MEDICATION ERROR PADA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

    INTRAVENA UNTUK PASIEN DEWASA RAWAT INAP DI RUMAH

    SAKIT X (FASE ADMINISTRASI)

    Oleh :

    Rosalia Swari Enggarani

    NIM : 138114008

    Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi

    Fakultas Farmasi

    Universitas Sanata Dharma

    Pada tanggal:

    16 Januari 2017

    Mengetahui

    Fakultas Farmasi

    Universitas Sanata Dharma

    Dekan

    Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt.

    Panitia Penguji : Tanda Tangan

    1. Aris Widayati, M. Si., Ph. D, Apt. .......................

    2. W.S. Astuti, S.Si., Apt. .......................

    3. Dita Maria Virginia, M.Sc., Apt. .......................

    4. Putu Dyana Christasani, M.Sc., Apt. .......................

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Keberhasilan terjadi saat kesempatan

    dan kesiapan menjadi satu

    Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:

    Tuhan Yesus dan Bunda Maria

    Keluarga yang selalu memberi semangat dan kasih sayang

    Almamaterku Universitas Sanata Dharma

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • v

    PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

    Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

    tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

    dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

    Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini,

    maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang-

    undangan yang berlaku.

    Yogyakarta, 1 Januari 2017

    Penulis

    (Rosalia Swari Enggarani)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vi

    LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

    PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vii

    PRAKATA

    Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

    berkat, kasih dan bimbingan-Nya skripsi yang berjudul Medication Error pada

    Penggunaan Antibiotika Intravena untuk Pasien Dewasa Rawat Inap di Rumah

    Sakit X (Fase Administrasi) dapat diselesaikan untuk memperoleh gelar Sarjana

    Farmasi (S. Farm) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

    Keberhasilan dalam skripsi ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.

    Maka, dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih sebesar-

    besarnya kepada:

    1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. dan Ibu W.S. Astuti, S.Si., Apt. selaku

    dosen pembimbing yang telah membimbing, memberi saran, dukungan

    serta meluwangkan waktu dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini.

    2. Ibu Dita Maria Virginia, M.Sc., Apt.dan Ibu Putu Dyana Christasani M.Sc.,

    Apt. selaku dosen penguji atas segala perhatian masukan, dukungan dan

    motivasi demi kemajuan skripsi ini.

    3. Rumah Sakit X yang telah bersedia menjadi tempat pengambilan data dan

    memberikan izin pelaksanaan penelitian.

    4. Seluruh perawat dan mahasiswa profesi ners yang telah bersedia menjadi

    responden dalam penelitian ini.

    5. Orang tua tercinta, Gregorius Warsiatmoko dan Yosefina Iriani M., serta

    Kakak Anselmus Arya W., yang selalu memberikan doa dan kasih sayang

    untuk menyelesaikan naskah ini.

    6. Ignatius Bryansetio Herojati yang selalu berdoa, memberikan kasih sayang,

    semangat dan motivasi untuk menyelesaikan naskah ini.

    7. Sahabat seperjuangan Error Sekar Larasati atas dinamika berharga yang

    telah dilalui bersama, atas semangat, perhatian dan motivasi yang telah

    diberikan kepada penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

    8. Terimakasih kepada sahabat: Olin, Tiara, Sekar, Atika yang banyak

    memberikan semangat dan bersama-sama berbagi suka dan duka saat kuliah

    di Fakultas Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • viii

    9. Sahabat belajar dan bersenang-senang: Sukmana, Kowira, Beni, Esanda,

    Tantri dan Naresca yang selalu sabar dan mendukung saat kuliah di Fakultas

    Farmasi Sanata Dharma Yogyakarta.

    10. Teman-teman FSM-A 2013 dan FKK-A 2013 yang telah banyak

    memberikan masukan dan semangat dalam menyelesaikan naskah ini.

    11. Seluruh dosen dan karyawan yang telah membantu dan mendukung dalam

    proses perkuliahan maupun praktikum selama ini.

    12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam proses

    perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan.

    Oleh karena itu penulis memohon maaf atas segala kesalahan yang ada dan dengan

    senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dalam perbaikan skripsi

    ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi setiap pembacanya. Terima

    kasih dan Tuhan memberkati.

    Penulis

    (Rosalia Swari Enggarani)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ix

    ABSTRAK

    Medication Error (ME) merupakan peristiwa penggunaan obat yang tidak benar

    dan membahayakan pasien saat dalam tanggung jawab tenaga kesehatan. Tujuan

    dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase bentuk-bentuk ME pada fase

    administrasi penggunaan antibiotika intravena untuk pasien dewasa rawat inap di

    Rumah Sakit X. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional

    deskriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling.

    Subjek penelitian adalah perawat ataupun mahasiwa profesi ners. Telah dilakukan

    pengamatan terhadap 18 subjek penelitian yang melakukan administrasi antibiotika

    intravena pada pasien dewasa rawat inap. Hasil pengamatan yakni terdapat 35 fase

    administrasi yang diamati di bangsal A dan di bangsal B 15 fase administrasi.

    Pada bangsal A terdapat eror teknik pemberian (8,6%), eror waktu administrasi

    (20%) dan yang terbesar yakni eror laju administrasi (100%). Hasil observasi

    bangsal B menunjukkan bahwa terdapat eror waktu administrasi (40%), eror

    teknik pemberian (86,7%) dan ME terbesar yakni eror laju administrasi (100%).

    Kesimpulan dari penelitian ini adalah eror laju administrasi merupakan eror terbesar

    yang menjadi penyumbang utama terjadinya ME fase administrasi.

    Kata Kunci: Medication error, antibiotika intravena, fase administrasi

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • x

    ABSTRACT

    Medication Error (ME) is a case of improper use of drugs and the harm to the patient

    when the health personnel responsible. The objective of this study was to determine

    the percentage of ME forms in the administration phase of the use of intravenous

    antibiotics for adult inpatients at X hospital. Method of this study was a

    observational descriptive and then the sampling technique used accidental

    sampling. The study subjects were nurses and student nurses profession. Has been

    carried out observations of 18 study subjects who did the administration of

    intravenous antibiotics for adult inpatients. The results is there were 35

    administration phase observed in the ward "A" and on the ward "B" 15

    administration phase. The observation in ward "A" indicates that there are ME in

    delivery techniques (8.6%), error time of administration (20%) and the largest ME

    was error rate of administration (100%). The results of the observation ward "B"

    indicates that there are error time of administration (40%), error administration

    technique (86.7%) and the largest ME is error rate of administration (100%).

    Conclusion of this study is error administration rate is the biggest error mistaken

    that become a major contributor to the ME of administration phase.

    Keywords: Medication error, intravenous antibiotic, administration phase

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii

    HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. iv

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. v

    LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.................................. vi

    PRAKATA.............................................................................................................vii

    ABSTRAK .............................................................................................................. ix

    ABSTRACT ............................................................................................................... x

    DAFTAR ISI .......................................................................................................... .xi

    DAFTAR TABEL ................................................................................................ .xii

    DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii

    DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xiv

    PENDAHULUAN ................................................................................................... 1

    METODE PENELITIAN.........................................................................................2

    HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................................4

    KESIMPULAN......................................................................................................10

    DAFTAR PUSTAKA............................................................................................11

    LAMPIRAN...........................................................................................................13

    BIOGRAFI PENULIS............................................................................................20

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xii

    DAFTAR TABEL

    Tabel I. Karakteristik Subjek Penelitian .................................................................. 4

    Tabel II. Jumlah Pengamatan Antibiotika Intravena Fase Administrasi .................. 5

    Tabel III. Jumlah Presentase Setiap Bentuk Medication Error ............................... 6

    Tabel IV. Kejadian- Kejadian Bentuk Medication Error ........................................ 6

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar I. Diagram jumlah sampel observasi pada fase administrasi ..................... 4

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Surat izin studi pendahuluan (Rumah Sakit X) ............................. 13

    Lampiran 2. Surat izin penelitian (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) ... 14

    Lampiran 3. Ethical Clearance ............................................................................. 15

    Lampiran 4. Surat izin penelitian (Rumah Sakit X) .......................................... 16

    Lampiran 5. Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek ........................................ 17

    Lampiran 6. Informed Consent ............................................................................. 18

    Lampiran 7. Lembar Observasi ME Fase Administrasi ........................................ 19

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 1

    PENDAHULUAN

    Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 189/MENKES/SK /III/2006

    disebutkan bahwa obat adalah bagian terpenting dari salah satu proses peningkatan

    kesehatan, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan serta pencegahan terhadap suatu

    penyakit. Obat juga dapat merugikan kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau bila

    digunakan secara tidak tepat atau disalahgunakan. Keutamaan dari pelayanan kefarmasian

    adalah penggunaan obat yang rasional untuk meningkatkan keselamatan pasien (patient

    safety).

    Institute of Medicine (IOM) pada tahun 1999 telah memperkirakan 44.000-98.000

    individu meninggal dunia setiap tahunnya disebabkan karena medication error yang sifatnya

    dapat dicegah. Dari penelitian Ong dan Subasyini yang telah dipublikasi pada tahun 2013

    menunjukan bahwa dari 349 proses preparasi dan administrasi terdapat 341 kesalahan yang

    dapat diidentifikasi dan kesalahanan fase administrasi yang terjadi sebesar 88,6%. Hasil

    studi pada tahun 1993 sampai 1998 yang dicatatat oleh Food and Drug Administration

    (FDA) menyebutkan bahwa fase administrasi merupakan medication error yang paling fatal

    yaitu penggunaan obat dengan dosis yang kurang sesuai 41% serta salah rute pemberian dan

    obat sebanyak 16% (Stoppler dan Mark, 2006).

    Berdasarkan hasil pembahasan kongres Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia

    (PERSI) pada tahun 2007 yang dilaporkan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien,

    kesalahan dalam pemberian obat menempati peringkat pertama (24,8%) dari 10 besar

    insiden yang dilaporkan. Kesalahan dalam pemberian obat meliputi prescribing,

    transcribing, dispensing dan administration, menduduki peringkat pertama (Depkes R.I.,

    2008).

    Di Indonesia kejadian medication error sering terjadi namun belum ada data yang

    akurat karena tidak didokumentasikan atau dilaporkan. Menurut penelitian Dwiprahasto

    (2006), di rumah sakit angka medication error dilaporkan sekitar 3-6 kasus, 9% pada pasien

    yang menjalani rawat inap. Salah satu peneliti menemukan bahwa 11% medication error di

    rumah sakit berkaitan dengan kesalahan saat menyerahkan obat ke pasien dalam bentuk dosis

    atau obat yang keliru.

    Dalam penggunaannya obat intravena menimbulkan risiko tertentu karena

    kompleksitas yang tinggi dan memerlukan beberapa langkah dalam tahap preparasi,

    administrasi dan monitoring. Administrasi intravena memiliki risiko dan tingkat keparahan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/51_2006%20NOMOR%20189MENKESSKIII2006%20KEBIJAKAN%20OBAT%20NASIONAL%20_obat.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/IOM%201999.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/ong%20subaysini%20medication-errors-in-intravenous.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/stoppler%20dan%20marks,%202006.PNGfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/1361517912%20(patient%20safety).pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/1361517912%20(patient%20safety).pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/dwiprahasto%202006.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/dwiprahasto%202006.pdf

  • 2

    kesalahan yang lebih tinggi dari administrasi obat lain, maka dari itu penggunaannya harus

    diperhatikan (Westbrook et.al, 2011).

    Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui presentase bentuk kejadian medication

    error pada fase administrasi untuk pemberian antibiotik intravena pasien dewasa rawat inap

    Rumah Sakit X. Penelitian terkait ME di Rumah Sakit X belum pernah dilakukan. Oleh

    karena itu, penelitian ini dilakukan pada fase administrasi karena masih kurangnya data

    terkait ME fase administrasi dan banyaknya jenis obat antibiotika yang digunakan di rumah

    sakit khususnya bangsal penyakit dalam, sehingga penggunaan antibiotika intavena harus

    diperhatikan.

    METODE PENELITIAN

    Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan teknik pengambilan

    sampel menggunakan accidental sampling. Penelitian dilakukan di dua bangsal penyakit

    dalam Rumah Sakit X yakni bangsal A dan bangsal B. Subjek penelitian adalah

    perawat ataupun mahasiwa profesi ners yang sedang bertugas pada masing-masing bangsal

    tersebut. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus September 2016.

    Kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah perawat atau mahasiswa profesi ners yang

    melakukan fase administrasi antibiotika intravena di bangsal penyakit dalam A dan B

    serta bersedia menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi adalah perawat atau

    mahasiswa profesi ners yang melakukan fase administrasi antibiotika intravena untuk

    keperluan skin test.

    Penelitian yang dilakukan ini telah mendapatkan izin dari Badan Perencanaan

    Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten dengan nomor 070/Reg/ 3408/ /S1/ 2016.

    Penelitian ini juga sudah mendapatkan izin dari Komisi Etik Kedokteran dan Kesehatan

    Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dengan nomor KE/FK/1116/EC/2016 untuk

    memperoleh ethical clearance. Penelitian ini juga telah mendapat izin dari pihak Rumah

    Sakit X dengan nomor 070/4238 sebagai tempat penelitian. Selain itu juga dilakukan

    permintaan izin untuk melakukan pengamatan aktivitas subjek penelitian pada saat

    administrasi antibiotika secara intravena kepada pasien dan data pribadi subjek penelitian

    dirahasiakan.

    Instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar Observasi ME Fase

    Administrasi, yang disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ong dan Subasyini

    (2013). Lembar Observasi ME Fase Administrasi kemudian diuji coba agar sesuai dengan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/westbrook%202011.pdf

  • 3

    kondisi rumah sakit X sehingga instrumen penelitian tersebut dapat digunakan untuk

    mencatat hal-hal yang dibutuhkan. Instrumen penelitian ini memuat variabel variabel yang

    diamati, yaitu:

    a. Eror nama pasien jika antibiotika intravena diberikan kepada pasien yang

    namanya tidak sesuai dengan nama yang tercantum direkam medis.

    b. Eror waktu administrasi jika terdapat penyimpangan pemberian antibiotika

    intravena lebih dari 30 menit dari waktu yang direncanakan (Department of

    Health and Human Services Centers (DHHS) for Medicare and Medicaid

    Services (CMS), 2011).

    c. Eror laju administrasi saat tidak sesuai dengan acuan.

    d. Eror teknik pemberian ketika tidak menggunakan alcohol swab, tidak

    menggunakan sarung tangan dan salah cara pemberian.

    Acuan yang digunakan untuk mengetahui ketepatan laju administrasi adalah

    Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Terapi Antibiotik (Kemenkes RI, 2011), Drug

    Information Essentials (MacEvoy, 2011), Drug Information Handbook (American

    Pharmacists Association, 2012), Injectable Drug Guide (Gray et.al, 2011) dan leaflet produk

    obat.

    Pengambilan data dilakukan dengan mengamati langsung fase administrasi

    antibiotika intravena yang dilakukan oleh subjek penelitian untuk pasien dewasa rawat inap

    di kedua bangsal tempat penelitian yakni bangsal A dan bangsal B. Pengamatan di

    bangsal A dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB, 13.00 WIB, 17.00 WIB dan 21.00 WIB.

    Sedangkan di bangsal B pengamatan berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB dan 13.00

    WIB.

    Pengolahan data dilakukan dengan mengkonfirmasi hasil pengamatan yang telah

    tercantum dalam Lembar Observasi ME Fase Administrasi dengan literatur acuan yang

    digunakan dan kemudian menghitung persentase tiap bentuk ME. Kejadian ME yang terjadi

    pada fase administrasi didapatkan dengan cara:

    Presentase bentuk ME= Jumlah eror pada bentuk ME

    jumlah eror yang terjadi pada fase administrasi x 100%

    Jumlah eror yang terjadi pada fase administrasi adalah satu kejadian ME pada satu

    proses administrasi dihitung sebagai satu ME, walaupun ME dalam satu proses administrasi

    yang dilakukan oleh seorang perawat ditemukan lebih dari satu bentuk ME (Pertiwi, 2014).

    Persentase bentuk ME yang tertinggi berkontribusi paling besar dalam kejadian ME fase

    administrasi antibiotika intravena.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Pedoman-Pelayanan-Kefarmasian-untuk-terapi-antibiotik.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/AHFS%20Drug%20Information%20Essentials%20(Updated%20till%20November%202011).chmfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Injectable_Drugs_Guide.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/leafletfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/leaflet

  • 4

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Karakterstik Subjek Penelitian

    Penelitian ini melibatkan 18 subjek penelitian yang terdiri dari 11 perawat dan 7

    mahasiswa profesi ners. Berikut adalah karakteristik subjek penelitian yang disajikan pada

    Tabel I.

    Tabel I. Karakteristik Subjek Penelitian

    Bangsal A

    N=12

    Bangsal B

    N=6

    Total

    N=18

    1. Perawat

    2. Mahasiswa profesi ners

    7

    5

    4

    2

    11

    7

    N=Jumlah subjek penelitian

    Subjek yang dilibatkan selama penelitian yakni perawat dan mahasiswa profesi ners.

    Jumlah perawat yang bersedia mengikuti penelitian dari awal hingga akhir di bangsal A

    sejumlah 7 orang sedangkan di bangsal B sejumlah 4 orang. Jumlah mahasiswa profesi

    ners yang bersedia dilibatkan dalam penelitian berjumlah 5 orang di bangsal A dan 2 orang

    di bangsal B.

    n= jumlah pengamatan antibiotika intravena fase administrasi

    Gambar I. Diagram Jumlah Sampel Observasi pada Fase Administrasi

    Gambar I menunjukaan total observasi sampel sebanyak 52 kali. Terdapat 2 sampel

    dieksklusi karena antibiotika intravena yang di administrasikan untuk keperluan skin test,

    sehingga total sampel yang diinklusi sebanyak 50 sampel.

    Pengamatan antibiotika intravena fase administrasi ditampilkan pada Tabel II yang

    terdiri dari rute pemberian antibiotika dan jenis-jenis antibiotika intravena yang

    diadministrasikan.

    Total observasi (n=52)

    Observasi sampel (n=50)

    Eksklusi (n=2)

    Administrasi antibiotika intravena untuk keperluan skin test

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 5

    Tabel II. Jumlah Pengamatan Antibiotika Intravena Fase Administrasi

    Jumlah antibiotika intravena yang

    diadministrasikan

    Bangsal A

    n=35 (%)

    Bangsal B

    n=15 (%)

    Total

    n=50 (%)

    1. Rute Pemberian Antibiotika:

    a. Injeksi IV Bolus

    b. Intermitten IV Infusion

    2. Jenis-jenis antibiotika intravena

    yang diadministrasikan:

    a. Ceftriaxone

    b. Cefotaxime

    c. Ceftazidime

    d. Meropenem

    e. Cebactam

    f. Diazole

    g. Vicillin SX

    h. Cefoperazone

    i. Cefuroxime

    j. Amikasin

    33 (94,3)

    2 (5,7)

    21 (60)

    5 (14,2)

    3 (8,5)

    2 (5,7)

    1 (2,9)

    1 (2,9)

    1 (2,9)

    -

    -

    1 (2,9)

    15 (100)

    -

    11 (73,3)

    -

    1 (6,7)

    -

    1 (6,7)

    -

    -

    1 (6,7)

    1 (6,7)

    -

    48 (96)

    2 (4)

    32 (64)

    5 (10)

    4 (8)

    2 (4)

    2 (4)

    1 (2)

    1 (2)

    1 (2)

    1 (2)

    1 (2)

    n= jumlah pengamatan antibiotika intravena fase administrasi

    Tabel II menunjukkan sebanyak 50 kali pengamatan dikumpulkan yang terdiri dari

    70% pengamatan di bangsal A (n=35) dan 30% pengamatan di bangsal B (n=15). Pada

    bangsal A terdapat 33 pengamatan rute administrasi antibiotika injeksi IV bolus (94,3%)

    dan 2 pengamatan rute administrasi antibiotika intermitten IV infusion (5,7%). Pengamatan

    jenis antibiotika intravena yang paling banyak diamati pada bangsal A adalah 60%

    ceftriaxone (n=21), 14,2% cefotaxime (n=5), 8,5% ceftazidime (n=3), 5,7% meropenem

    (n=2) dan 2,9% (n=1) untuk masing-masing jenis antibiotika intravena diazole, cebactam,

    amikasin dan vicillin SX .

    Pada bangsal B dilakukan 30% pengamatan (n=15). Semua pengamatan pada

    bangsal B (n=15) merupakan antibiotika intravena dengan rute administrasi injeksi IV

    bolus (100%). Obat antibiotika intravena yang paling banyak diamati adalah 73,3%

    ceftriaxone (n=11) kemudian 6,7% (n=1) untuk masing-masing jenis antibiotika intravena

    ceftazidime, cebactam, cefoperazone dan cefuroxime.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 6

    Tabel III. Jumlah Presentase Setiap Bentuk Medication Error

    Bentuk Medication Error

    Bangsal A

    n = 35 (%)

    Bangsal B

    n = 15 (%)

    1. Eror nama pasien 0 (0) 0 (0)

    2. Eror waktu pemberian obat 7 (20) 6 (40)

    3. Eror laju administrasi 35 (100) 15 (100)

    4. Eror teknik pemberian

    a. Alkohol swab

    b. Sarung tangan

    c. Cara pemberian

    3 (8,6)

    a. 0 (0)

    b. 1 (33,3)

    c. 2 (66,6)

    13 (86,7)

    a. 0 (0)

    b. 13 (100)

    c. 0 (0)

    n= jumlah pengamatan fase administrasi antibiotika intravena

    Berdasarkan hasil Tabel III, Sebanyak 35 (100%) pengamatan di bangsal A

    memiliki setidaknya satu kejadian ME. Eror laju administrasi terjadi di 35 (100%)

    pengamatan, 7 pengamatan eror waktu administrasi (20%) serta terdapat eror teknik

    pemberian (8,6%) yang terdiri dari 1 tanpa sarung tangan (33,3%) dan 2 tidak tepat cara

    pemberian (66,6%) .

    Pada bangsal B sebanyak 15 pengamatan setidaknya memiliki satu kejadian ME.

    Sebanyak 13 pengamatan (86,7%) mengalami eror teknik pemberian yaitu tidak

    menggunakan sarung tangan, 6 pengamatan (40%) tidak diberikan pada waktu seperti yang

    direncanakan di rekam medis dan eror laju administrasi seanyak 15 pengamatan (100%).

    Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel III, eror pada laju administrasi

    merupakan eror yang paling banyak ditemukan. Berdasarkan hasil observasi dari dua

    bangsal yakni bangsal A dan bangsal B eror laju administrasi yakni 100% (n=50).

    Tabel IV. Kejadian- Kejadian Bentuk Medication Error

    Bentuk

    Kejadian ME Bentuk Kejadian Eror

    Nama Antibiotika

    Intravena Acuan

    Eror Waktu

    Pemberian

    1. Penyimpangan waktu

    pemberian 30 menit

    dari waktu yang telah

    direncanakan

    a. Ceftriaxone

    b. Cefotaxime

    a. Ceftriaxone

    b. Cefotaxime

    c. Cefoperazone

    d. Cefuroxime

    Penyimpangan maksimal 30 menit

    dari waktu yang direncanakan dari

    rekam medis (Department of

    Health and Human Services

    Centers (DHHS) for Medicare

    and Medicaid Services (CMS),

    2011).

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdf

  • 7

    Eror Laju

    Administrasi

    1. Pemberian

    antibiotika intravena

    injeksi bolus 1

    menit

    a. Ceftriaxone

    b. Cefotaxime

    Ceftazidime

    Meropenem

    Cefuroxime

    c. Cebactam

    d. Vicillin SX

    e. Cefoperazone

    f. Amikasin

    a. 2- 4 menit (Gray et.al, 2011).

    b. 3-5 menit (American

    Pharmacists Association,

    2012).

    c. Minimal 3 menit (Kemenkes

    RI, 2011).

    d. 10-15 menit (American

    Pharmacists Association,

    2012).

    e. 3-5 menit (leaflet produk obat).

    f. Intermitten IV Infusion 30-60

    menit (American Pharmacists

    Association, 2012).

    2.PPemberian antibiotika

    intermitten IV

    Infusion

    a. Ceftazidime

    diberikan

    selama 70

    menit

    b. Diazole

    diberikan

    selama 25

    menit

    a. 15-30 menit (American

    Pharmacists Association,

    2012).

    b. 30-60 menit (American

    Pharmacists Association,

    2012).

    Eror Teknik

    Pemberian

    1. Eror cara pemberian a. Amikasin

    diberikan secara

    IV bolus.

    b. Ceftriaxone 2g

    diberikan secara

    IV bolus

    Diberikan secara Intermitten IV

    infusion selama 30-60 menit

    (American Pharmacists

    Association, 2012; Gray et.al,

    2011)

    Eror Laju administrasi

    Tabel IV menunjukkan eror laju administrasi yang paling sering terjadi adalah laju

    administrasi terlalu cepat pada injeksi IV bolus. Misalnya cefuroxime diberikan dengan

    injeksi IV bolus dalam waktu kurang dari 1 menit yang seharusnya 3- 5 menit seperti yang

    dianjurkan dalam acuan. Jika laju administrasi obat terlalu cepat dapat berhubungan dengan

    nyeri, plebitis atau peradangan pembuluh darah, dan hilangnya kanul patensi atau

    tertutupnya saluran infus (Cousins et al., 2005). Selain itu pasien tidak hanya mendapatkan

    obat intravena sebanyak 1 jenis obat tetapi ada juga yang mendapatkan 2-3 jenis obat dimana

    setiap jenis obat memiliki kecepatan waktu yang berbeda antara 1 menit sampai 5 menit.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Injectable_Drugs_Guide.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Pedoman-Pelayanan-Kefarmasian-untuk-terapi-antibiotik.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Pedoman-Pelayanan-Kefarmasian-untuk-terapi-antibiotik.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/DIHfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Injectable_Drugs_Guide.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Injectable_Drugs_Guide.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DIH%20cefuroxime.jpegfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/cousins%202005.pdf

  • 8

    Dalam beberapa kasus, laju admnistrasi dari injeksi IV bolus sengaja dilanggar

    karena kurangnya risiko yang dirasakan oleh pasien, panutan yang kurang baik, dan

    teknologi yang tersedia masih kurang (Ong dan Subasyini, 2013). Hal ini juga didukung

    oleh tingginya persentase salah waktu administrasi yaitu penyimpangan lebih dari 30 menit

    dari waktu yang direncanakan. Beban kerja yang tinggi dan salah waktu administrasi

    kemungkinan juga akan meningkat jika perawat harus memberikan setiap injeksi IV bolus

    selama 3-5 menit seperti yang direkomendasikan dalam acuan (Taxis dan Barber, 2013).

    Eror Teknik Pemberian

    Eror teknik pemberian terdiri dari tempat suntikan tidak diusap dengan alcohol swab

    sebelum proses administrasi, tidak menggunakan sarung tangan dan eror cara pemberian.

    Berdasarkan Tabel IV contoh eror cara pemberian yakni amikasin diberikan secara injeksi

    IV bolus. Seharusnya amikasin diberikan secara Intermittent IV infusion (American

    Pharmacists Association, 2012). Amikasin termasuk golongan aminoglikosid. Golongan ini

    mempunyai indeks terapi sempit dengan toksisitas serius pada ginjal dan pendengaran. Jika

    amikasin diberikan secara IV bolus dapat menyebabkan kadar obat dalam serum darah yang

    tinggi sehingga dapat melebihi kadar indeks terapi atau melebihi kadar toksik dalam serum

    darah (Depkes R.I., 2011). Oleh sebab itu pemberian amikasin harus dilakukan secara

    Intermittent IV infusion karena pemberian dengan cara Intermittent IV infusion dapat

    mengurangi besar kadar obat di dalam darah jika dibandingkan dengan IV bolus (Hakim,

    2015). Selain itu juga ceftriaxone 2 gram diberikan secara IV bolus. Larutan obat yang terlalu

    pekat jika diberikan secara IV bolus dapat mengiritasi pembuluh vena intima yang

    menyebabkan plebhitis (RxList, 2015). Untuk itu ceftriaxone 2 gram harus ditambahkan 50-

    100 ml cairan infus yang sesuai dan diberikan secara Intermittent IV infusion selama 30

    menit (Gray et.al, 2011). Selain itu pada bangsal A juga ditemukan 1 pengamatan tidak

    menggunakan sarung tangan (33,3%) dalam proses administrasi antibiotika intravena.

    Pada bangsal B eror yang paling utama yang ditemukan dari teknik pemberian

    adalah 15 pengamatan tidak menggunakan sarung tangan (100%). Administrasi antibiotika

    intravena tidak menggunakan sarung tangan sering terjadi di bangsal B. Perawat

    menggunakan sarung tangan pada saat akan mengganti alat infus atau jika mengobati luka.

    Sarung tangan merupakan Alat Pelindung Diri (APD) yang wajib dalam administrasi

    antibiotika intravena. Terapi intravena memiliki resiko yang besar karena obat langsung

    masuk ke dalam vena, oleh karena itu dalam pemberian obat melalui intravena hendaknya

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/ong%20subaysini%20medication-errors-in-intravenous.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/taxis%20and%20barber.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DIH%20amikasin.jpgfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/Injectable%20Drug%20ceftriaxone.PNGfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/acuan/Injectable_Drugs_Guide.pdf

  • 9

    memperhatikan teknik aseptis. Berdasarkan catatan kasus di Jerman dua pasien meninggal

    karena meningitis yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa di sebuah rumah sakit di

    Jerman pada bulan Juli 2001, dikarenakan tingkat aseptis yang rendah (Mattner

    dan Gastmeier, 2004). Oleh karena itu, penggunaan sarung tangan dalam administrasi

    antibiotika intravena dapat melindungi pasien maupun tenaga kesehatan dari paparan

    menular atau kontaminasi yang dapat ada di tangan.

    Baik di bangsal A maupun bangsal B tidak ditemukan eror dalam pengusapan

    dengan alcohol swab di tempat penyuntikan intravena. Pegusapan dengan alcohol swab di

    tempat penyuntikan intravena penting untung menghindari kontaminasi yang ada dari

    lingkungan sekitar maupun flora normal yang ada di tubuh pasien masuk ke aliran darah

    intravena.

    Eror Waktu Administrasi

    Eror waktu administrasi didefinisikan dengan penyimpangan lebih dari 30 menit dari

    waktu yang direncanakan dari rekam medis (Department of Health and Human Services

    Centers (DHHS) for Medicare and Medicaid Services (CMS), 2011). Berdasarkan Tabel

    IV ditemukan eror waktu administrasi. Pada bangsal A eror waktu administrasi bervariasi

    dari yang terlalu cepat dan terlalu lama. Terlalu cepat berkisar antara 2-13 menit dan terlalu

    lama berkisar 2-29 menit. Sebagian besar eror waktu administrasi pada bangsal B adalah

    kelebihan waktu pemberian berkisar antara 10 menit hingga 49 menit. Contohnya antibiotika

    intravena ceftriaxone dalam rekam medis diberikan pukul 09.00 WIB dengan penyimpangan

    waktu 30 menit berarti batas maksimal diberikan pukul 09.30 WIB. Namun ceftriaxone

    tersebut diberikan pukul 10.08 WIB dimana kelebihan 38 menit dari batas maksimal

    ceftriaxone diadministrasikan. Berdasarkan Department of Health and Human Services

    (DHHS) Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) tahun 2011 jika obat diberikan

    awal atau lebih dari waktu administrasi yang direncanakan akan menyebabkan bahaya atau

    memiliki pengaruh yang signifikan dan berdampak negatif pada efek terapeutik maupun

    farmakologis. Untuk beberapa obat atau pada kondisi kritis, seperti pada pengobatan pasien

    sepsis atau embolisme paru, keterlambatan dalam pemberian obat dapat menyebabkan

    bahaya serius atau kematian (National Patient Safety Agency, 2010). Obat-obat seperti

    insulin dan antibiotika harus diberikan pada waktu yang tepat untuk mempertahankan kadar

    obat dalam darah pada pasien agar menimbulkan efek terapeutik (Hall & Fraser, 2006).

    Pemberian obat terlambat dapat disebabkan peristiwa yang berada di luar kendali perawat,

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/mattner%202004.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/mattner%202004.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/DHHS%20dan%20CMS%202011.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/National%20Patient%20Safety%20Agency%202010.pdffile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/hall%20fraser%202006.jpg

  • 10

    seperti pengiriman obat yang tertunda dari apotek, pasien tidak ada dikamar pada waktu

    pengobatan, kurangnya akses intravena, atau pasien muntah (Stokowski, 2012).

    Eror Nama Pasien

    Eror nama pasien merupakan administrasi antibiotika intravena diberikan kepada

    pasien yang namanya tidak sesuai dengan nama yang direkam medis. Berdasarkan Tabel IV

    ada bangsal A maupun bangsal B tidak ditemukan eror nama pasien. Para perawat sudah

    terbiasa menyebutkan nama pasien saat akan mengadministrasikan antibiotika intravena

    berdasarkan label yang ada dan selain itu juga cara mengadministrasikan antibiotika

    intravena menggunakan wadah per-nomor ruangan sehingga dapat mencegah atau

    mengurangi terjadinya eror pemberian obat ke pasien. Faktor-faktor atau karakteristik yang

    berkontribusi pada salah nama pasien saat administrasi adalah obat yang sama, perintah

    secara verbal, nama pasien yang mirip atau sama, bingung dengan pasien yang keluar dan

    adanya interupsi (Yang, 2013).

    Penelitian ini hanya fokus pada proses eror berdasarkan hasil pengamatan. Penelitian

    ini tidak berusaha menghubungkan proses eror yang diamati dengan efek yang ditimbulkan

    dari eror tersebut. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu peneliti tidak dapat meminimalisir

    bias pada subjek karena subjek merasa diamati atau diawasi yang dapat menyebabkan

    perbedaan proses administrasi dari biasanya. Selain itu juga penelitian ini bersifat subjektif.

    Meskipun demikian metode penelitian ini tepat untuk mengevaluasi medication error yang

    terjadi pada proses administrasi antibiotika intravena mengingat penelitian ini berdurasi

    singkat.

    KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa eror laju administrasi merupakan

    medication error terbesar dalam penyumbang utama terjadinya medication error pada fase

    administrasi. Kejadian medication error dapat merugikan pasien, untuk mencegah dan

    mengurangi kejadian medication error tersebut maka dapat diadakan pelatihan ataupun

    sosialisasi bagi perawat terkait dengan administrasi antibiotika intravena yang berkontribusi

    tinggi menyebabkan eror.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    file:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/stokowski%20medscape%202012.jpgfile:///F:/semester%207/skripsi/revisi/daftar%20pustaka%20skripsi/Hasil%20dan%20pembahasan/Yang%20Anni%20,%202013.pdf

  • 11

    DAFTAR PUSTAKA

    American Pharmacists Association, 2012, 21st Edition. Drug Information Handbook, A

    Comprehensive resource for all Clinicians and Healthcare Professionals. Hudson,

    Ohio, Lexi-Comp.

    Cousins, D.H., Sabatier, B., Begue, D., Schmitt, C., and Hoppe-Tichy, T., 2005. Medication

    Errors in Intravenous Drug Preparation and Administration: a Multicentre Audit in

    the UK, Germany and France. Quality & Safety in Health Care, 14 (3), 190195.

    Departemen Kesehatan R.I., 2008. Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan

    Pasien (Patient Safety). Bakti Husada. Jakarta. hal 3040.

    Departemen Kesehatan R.I, 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonsesia Nomor

    2046/MENKE/PER/XII/2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik.

    Department of Health and Human Services (DHHS) Centers for Medicare and Medicaid

    Services (CMS), 2011. Standard: Preparation and Administration of Drugs. 22

    December.

    Dwiprahasto, I., 2006, Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan Resiko Medication Error

    di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer. Berkala Ilmu Kedokteran. 38 (1), 8.

    Gray, A.,Wright, J., Goodey,V.,and Bruce, L., 2011. Injectable Drug Guide. Pharmaceutical

    Press. United States of America.

    Hakim, Lukman, 2015. Farmakokinetik Klinik. Bursa Ilmu.Yogyakarta. hal: 297-298.

    Institute of Medicine (IOM)., 1999. To Err Is Human: Building a Safer Health Care

    System.Washington, DC: National Academy Press.

    Hall, A., dan Fraser, D., 2006. Medication administration. In P. Potter, A. Perry, J. Ross-

    Kerr, & M. Wood, Canadian fundamentals of nursing (3rd Edition ed., pp. 832-919).

    Toronto: Elsevier Mosby.

    Keputusan Mentri Kesehatan Nomor 189/MENKES/SK/III/2006. Kebijakan Obat Nasional,

    Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

    MacEvoy, G.K., 2011. American Society of Health-System Pharmacist. AHSF Drug

    Information Essentials.

    Mattner, F., dan Gastmeier, P., 2004. Bacterial Contamination of Multiple-Dose Vials: A

    Prevalence Study. American Journal of Infection Control, 32 (1), 1216.

    National Patient safety Agency, 2010b. Reducing harm from omitted and delayed

    medicines in hospital,

    http://www.nrls.npsa.nhs.uk/resources/type/alerts/?entryid45=66720 .

    Ong, W.M. dan Subasyini, S., 2013. Medication Errors in Intravenous Drug Preparation and

    Administration. Medical Journal of Malaysia, 68 (1), 5257.

    Pertiwi, S.M., 2014. Medication Error resep obat racikan pasien pediatri rawat inap di RSUP

    Dr.Sardjito pada periode februari 2014 (tinjauan fase dispensing dan fase

    administration). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

    RxList, 2015. Drug Interaction Center: Ceftriaxone Intravenous, diakses 17 Januari 2017.

    http://www.rxlist.com/rocephin-drug.html

    Stokowski L.A., 2012. Timely Medication Administration Guidelines for Nurses: Fewer

    Wrong-Time Errors. Medscape (online). Diakses 2 Desember 2016.

    http://www.medscape.com/viewarticle/772501_2

    Stoppler, M., and J. W. Marks, 2006. The Most Common Medication Errors. Diakses tanggal

    2 Maret 2016. http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=55234

    Taxis, K. dan Barber, N., 2003. Causes of Intravenous Medication Errors: an Ethnographic

    Study. Quality & safety in health care, 12 (5), 343347.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

    http://www.nrls.npsa.nhs.uk/resources/type/alerts/?entryid45=66720http://www.rxlist.com/rocephin-drug.htmlhttp://www.medscape.com/viewarticle/772501_2http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=55234

  • 12

    Westbrook, J.I., Rob, M.I., Woods, A. dan Parry, D, 2011. Error in the Administration of

    Intravenous Medications in Hospital and the Role of Correct Procedures and Nurse

    Experience. BMJ Quality & Safety. 20 (12), 1027-34.

    Yang, A., 2013. Wrong-Patient Medication Errors: An Analysis of Event Reports in

    Pennsylvania and Strategies for Prevention. Pennsylavania Patient Safety Authority,

    10 (2), 110.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 13

    LAMPIRAN

    Lampiran 1. Surat izin studi pendahuluan (Rumah Sakit X)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 14

    Lampiran 2. Surat izin penelitian (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 15

    Lampiran 3. Ethical Clearance

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 16

    Lampiran 4. Surat izin penelitian (Rumah Sakit X)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 17

    Lampiran 5. Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 18

    Lampiran 6. Informed Consent

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 19

    Lampiran 7. Lembar Observasi ME Fase Administrasi

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 20

    BIOGRAFI PENULIS

    Penulis skripsi yang berjudul Medication Error pada

    Penggunaan Antibiotika Intravena untuk Pasien Dewasa Rawat

    Inap di Rumah Sakit X (Fase Administrasi) memiliki nama

    lengkap Rosalia Swari Enggarani, lahir di Pekanbaru 17 Agustus

    1995. Anak kedua dari pasangan Gregorius Warsiatmoko dan

    Yosefina Iriani Marwulaningsih. Penulis mengawali pendidikan

    di SD Cendana Rumbai pada tahun 2001-2007, SMP Cendana

    Rumbai pada tahun 2007-2010, SMA Stella Duce I Yogyakarta

    pada tahun 2010-2013, dan pada tahun 2013 melanjutkan

    pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama menjadi

    mahasiswa di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, penulis pernah

    menjadi asisten Praktikum Bentuk Sediaan Farmasi (2014). Penulis juga mengikuti beberapa

    kegiatan kemahasiswaan dan kepanitiaan, seperti menjadi anggota divisi konsumsi pada

    acara Paingan Festival (2014), koordinator divisi dana dan usaha pada acara Makrab JMKI

    (2014), anggota organisasi JMKI (Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia) sebagai divisi

    Pengembangan dan Pengkaderan Organisasi Fakultas Farmasi Sanata Dharma periode 2015-

    2016 dan bendahara pada acara Seminar Nasional Herbal Medicine As Alternative and

    Complementary treatment for Patient (2015).

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI