of 50 /50
SUMBER PELUANG INOVASI (Avin Fadilla Helmi – Fakultas Psikologi UGM ) Suatu kenyataan yang tidak terelakkan ketika memulai sebuah usaha (enterpreneruial) adalah bagaimana melihat peluang dan memutuskan untuk mengambil peluang tersebut. Pada dasarnya, peluang itu ada di sekitar kita, tetapi seringkali tidak terlihat, tertutup. Tertutup oleh mata hati kita. Kecemasan, keraguan, ketidakpercayaan atau dikatakan sistem belief yang ada pada diri kita, sehingga sumber daya tidak terlihat secara baik. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita merasa tidak mempunyai ‘apa-apa’ sehingga sumber daya yang ada dalam diri kita atau di sekeliling ‘kita’ tidak terlihat. Peter Drucker mengatakan bahwa ada 7 aspek yang dapat dijadikan sumber peluang untuk berinovasi, yaitu : 1. Yang tak terduga 2. Ketidakselarasan 3. Inovasi berdasarkan kebutuhan proses 4. Perubahan struktur industri/ struktur pasar 5. Perubahan demografi 6. Perubahan persepsi, mood, dan makna 7. Pengetahuan yang baru, baik saintifik maupun non saintifik. Penjelasan 1. Yang tidak terduga Di dunia ini, banyak hal yang merupakan sumber peluang yang tidak terduga. Hal ini mengisyaratkan bahwa walaupun manusia dapat merencanakan dengan sebaikbaiknya, maka kemungkinan ‘terjadi’ sesuatu di luar skenario bisa terjadi. Yang tidak terduga merupakan lokus control di luar diri kita. Jika dijadikan contoh kemalangan, maka 1

MATERI KULIAH Pol Anyar, Lg Dikirim

Embed Size (px)

DESCRIPTION

vvfg

Text of MATERI KULIAH Pol Anyar, Lg Dikirim

SUMBER PELUANG INOVASI (Avin Fadilla Helmi Fakultas Psikologi UGM )

Suatu kenyataan yang tidak terelakkan ketika memulai sebuah usaha (enterpreneruial) adalah bagaimana melihat peluang dan memutuskan untuk mengambil peluang tersebut. Pada dasarnya, peluang itu ada di sekitar kita, tetapi seringkali tidak terlihat, tertutup. Tertutup oleh mata hati kita. Kecemasan, keraguan, ketidakpercayaan atau dikatakan sistem belief yang ada pada diri kita, sehingga sumber daya tidak terlihat secara baik. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita merasa tidak mempunyai apa-apa sehingga sumber daya yang ada dalam diri kita atau di sekeliling kita tidak terlihat. Peter Drucker mengatakan bahwa ada 7 aspek yang dapat dijadikan sumber peluang untuk berinovasi, yaitu : 1. Yang tak terduga 2. Ketidakselarasan 3. Inovasi berdasarkan kebutuhan proses 4. Perubahan struktur industri/ struktur pasar 5. Perubahan demografi 6. Perubahan persepsi, mood, dan makna 7. Pengetahuan yang baru, baik saintifik maupun non saintifik. Penjelasan1. Yang tidak terduga Di dunia ini, banyak hal yang merupakan sumber peluang yang tidak terduga. Hal ini mengisyaratkan bahwa walaupun manusia dapat merencanakan dengan sebaikbaiknya, maka kemungkinan terjadi sesuatu di luar skenario bisa terjadi. Yang tidak terduga merupakan lokus control di luar diri kita. Jika dijadikan contoh kemalangan, maka kasus lumpur panas di Sidoarjo akibat kesalahan dalam proses pengeboran maka tidak ada satupun pihak PT Lapindo Brantas yang membayangkan dampak yang begitu hebat dalam semua aspek kehidupan. Jika pengeboran berjalan dengan baik dan lancar, pihak perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa. Tetapi dengan kemalangan tersebut, maka dapat dipastikan perusahaan akan gulung tikar. Bisakah anda memberikan contoh positif, bahwa yang tidak terduga akan membawa peluang usaha atau mungkin berinovasi?

2. Ketidakselarasan Ketidakselarasan antara harapan konsumen dengan produk/ jasa. tidakselarasan internal dalam ritme logika proses. Ketidakselarasan adalah suatu rentang/ gap antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Dalam berwirausaha banyak sekali situasi yang menunjukkan ketidakselarasan. Lima tahun yang lalu, yang dapat naik pesawat terbang adalah mereka kelas atas saja. Setelah dilakukan deregulasi, dimana swasta dapat mengembangkan perusahaan jasa penerbangan, maka bermuncullanlah berbagai maskapai penerbangan . Dimana peluangnya? Yang pertama, wilayah Indonesia sangat luas dan terdiri dari kepulauan, maka bisnis di bidang perhubungan udara sangat menjanjikan. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat dapat menikmati layanan pesawat terbang dengan harga yang terjangkau? Bermuncullah maskapai penerbangan yang lebih beroreintasi pada kebutuhan dalam memberikan layanan dan bukan berorientasi kenikmatan, sehingga berbagai fasilitas dipangkas demi efisiensi, seperti tidak disediakan makan, di bandara Soekarno Hatta tidak perlu menyewa garba tetapi cukup jalan kaki atau naik bus. Bahkan di tahun 2006, sebuah maskapai penerbangan sama sekali tidak memberikan layanan minum di pesawat dan bahkan menjual minuman tersebut dan tidak ada nomor kursi. Sebuah terobosan. 3: Inovasi berdasarkan kebutuhan proses Inovasi di sini menyempurnakan proses yang sudah ada, menggantikan satu mata rantai proses yang lemah, atau merancang kembali proses yang lama yang sudah ada. Layanan satu atap yang dipelopori oleh pemerintah daerah Kabupaten Sidoarjo dan disusul oleh Pemkab Sragen adalah contoh pemangkasan waktu untuk memperoleh ijin usaha di dua wilayah tersebut. Kecepatan dalam memberikan ijin ini berkorelasi positif dengan jumlah investor yang menanamkan modalnya. Dalam hal ini proses yang dirasakan tidak perlu dipangkas disederhanakan. 4: Perubahan struktur industri/ struktur pasar Oleh karena waktu menjadi sangat berharga, maka konsep one stop service menjadi strategi bisnis yang banyak dilakukan oleh pelaku pasar. Sekarang ini, jasa dokter tergabung dalam layanan kesehatan yang lain yaitu laboratorium medik dan apotik, sehingga dalam satu waktu pasien mendapatkan serangkaian dari layanan kesehatan. Demikian juga dengan konsep mall atau plaza yang menyediakan ruang-ruang untuk seluruh kebutuhan manusia dari supermarket, peralatan elektronik, sampai dengan layanan kebugaran dan kesehatan. 5. Perubahan demografi Perubahan demografi didefinisikan sebagai perubahan penduduk dalam jumlah, struktur umur, komposisi, jenis pekerjaan, status penghasilan, status pendidikan merupakan sumber peluang yang paling mudah diramalkan. Masyarakat Yogyakarta dikenal mempunyai angka harapan hidup yang paling tinggi di atas rata-rata nasional. Dengan demikian manula di tahun-tahun yang akan di Yogyakarta jumlahnya akan semakin meningkat. Kebutuhan khusus untuk manula seperti layanan kesehatan menjadi sumber peluang inovasi. Demikian juga dengan struktur masyarakat Indonesia sekarang ini didominasi oleh keluarga kecil yaitu 2-3 anak tiap keluarga. Hal ini memberikan dampak pada kebutuhan rumah yang lebih kecil sehingga perumahan atau real estat dengan ukuran kecil dan dana terjangkau menjadi trand di kota-kota besar. 6: Perubahan persepsi, mood, dan makna Perubahan persepsi merupakan sumber peluang inovasi. Dengan meningkatnya sebagian daya beli masyarakat maka persoalan makan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar saja. Masyarakat membutuhkan suasana nyaman. Oleh karenanya, di beberapa wilayah tumbuh rumah makan berkelas internasional atau menggunakan konsep alami dengan harga yang cukup mahal. Demikian juga dengan konsep kecantikan bagi wanita. Menurut persepsi wanita, wanita yang cantik adalah yang berkulit putih. Hal ini ditangkap oleh berbagai rumah kecantikan dengan memberikan layanan memutihkan wajah. 7. Pengetahuan yang baru Beberapa perusahaan dengan devisi penelitian dan pengembangan, secara terus menerus mengembangkan produk/ layanan yang baru. Pengembangan berdasarkan riset ini membutuhkan waktu lama dan biasa yang besar.

KEWIRAUSAHAAN DAN INOVASI

A. LATAR BELAKANG Beberapa bukti empiris telah menunjukkan, salah satunya dalah hasil penelitian dari David Mc Clelland bahwa kesejahteraan penduduk di suatu negara dipengaruhi oleh perkembangan ekonominya. Sementara itu perkembangan ekonomi ditentukan oleh sejauh mana penduduk negara tersebut mempunyai spirit kewirausahaan. Spirit kewiarusahaan tidak harus dilakukan dengan cara berwirausaha tetapi dapat ditumbuhkan dalam organisasi yang disebut sebagai intrapreneurship. Realitas memang menunjukkan kerancuan istilah kewirausahaan yang selalu dikonotasikan dengan berwirausaha (entrepreneurial) atau wirausahawan (entrepreneur). Oleh karenanya, perlu diperjelas pengertian ke 3 istilah tersebut. Nama-nama besar seperti Mooryati Soedibyo yang memproduksi komestik tradisional secara modern, Tirto Utomo dengan penemuan air mineral, dan Bill Gates dengan Microsoft. Nama-nama tersebut dikenal sebagai entrepreneur (pengusaha). Mengapa mereka menjadi pengusaha yang sukses? Jika kita amati di sekeliling kita, maka akan kita dapatkan para pengusaha yang berjalan di tempat, tidajk berkembang, dan kemungkinan akan mati. Mengapa ada entrepreneur yang sukses? Mengapa ada yang tidak sukses? Beberapa teori kewirausahaan akan dibahas dalam perkuliahan ini yaitu teori peluang dari ekonomi, teori kewirausahaan berdasarkan perspektif sosiologi, dan perspektif psikologis yang menentukan pengusaha sukses atau tidak. Proses pembelajaran kewirausahaan di Perguruan Tinggi tidak semata-mata diarahkan untuk berwirausaha saja tetapi berwirausaha yang sesuai dengan bidang ilmunya (relevansi).Dengan demikian dalam prespektif ini, yang menjadi fokus dalam kewirausahaan ini adalah upaya menemukan peluang, melakukan kajian, dan mengimplementasi dalam pasar. Hal ini dikenal sebagai inovasi yaitu sebuah ide kreatif dan mengimplementasikannya, baik dalam bentuk produk, jasa,. atau proses bisnis yang lain. Inovasi di Perguruan Tinggi adalah kreativitas dalam bidang ilmu yang telah diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat baik secara sosial maupun ekomonis. Hal ini menjembatani antara hasil riset dengan peluang pasar. Artinya bagaimana temuan-temuan hasil riset, dapat dipasarkan, dan diterima masyarakat. Hal ini sangat relevan dengan visi UGM sebagai Universitas Riset. Dengan pengertian ini menjadi sangat relavan ketika kewirausahaan dapat dilakukan baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi, untuk dijadikan salah satu mata kuliah sebagai bekal mahasiswa ketika lulus. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah jiwa kepemimpinan dan berwirausaha seperti yang tertuang dalam draft arah dan kebijakan Perguruan Tinggi.

SEJARAH DAN PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN Avin Fadilla Helmi & Rista Bintara Megasari*) A. Sejarah Kewirausahaan 1. Periode awal Sejarah kewirausahaan dimulai dari periode awal yang dimotori oleh Marcopolo. Dalam masanya, terdapat dua pihak yakni pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal dan mereka mengambil keuntungan yang sangat banyak terhadap pihak aktif. Sedangkan pihak aktif adalah pihak yang menggunakan modal tersebut untuk berdagang antara lain dengan mengelilingi lautan. Mereka menghadapi banyak resiko baik fisik maupun sosial akan tetapi keuntungan yang diperoleh sebesar 25%. 2. Abad pertengahan Kewirausahaan berkembang di periode pertengahan, pada masa ini wirausahawan dilekatkan pada aktor dan seorang yang mengatur proyek besar. Mereka tidak lagi berhadapan dengan resiko namun mereka menggunakan sumber daya yang diberikan, yang biasanya yang diberikan oleh pemerintah. Tipe wirausahaawan yang menonjol antara lain orang yang bekerja dalam bidang arsitektural. 3. Abad 17 Di abad 17, seorang ekonom, Richard Cantillon, menegaskan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dengan melihat perilaku mereka yakni membeli pada harga yang tetap namun menjual dengan harga yang tidak pasti. Ketidakpastian inilah yang disebut dengan menghadapi resiko. 4. Abad 18 Berlanjut di abad ke 18, seorang wirausahawan tidak dilekatkan pada pemilik modal, tetapi dilekatkan pada orang-orang yang membutuhkan modal. Wirausahawan akan membutuhkan dana untuk memajukan dan mewujudkan inovasinya. Pada masa itu dibedakan antara pemilik modal dan wirausahawan sebagai seorang penemu. 5. Abad 19 Sedangkan di abad ke 19 dan 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal. 6. Abad 10 Pada abad 20, inovasi melekat erat pada wirausahawan di masa sekarang.

B. Pengertian Kewirausahaan Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, dan entrepreneurial, dan entrepreneur. 1. Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur. 2. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar. 3. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. 4. Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha. Berikut ini beberapa perbedaan antara inventor dan entrepreneur. Inventor didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja untuk mengkreasikan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya, ia termotivasi dengan ide dan pekerjaannya. Inventor pada umumnya memiliki pendidikan dan motivasi berprestasi yang tinggi. Menurutnya, standar kesuksesan bukanlah dari moneter semata tetapi dari hak paten yang didapatnya. Sedangkan wirausaha atau entrepreneur lebih menyukai berorganisasi daripada menemukan sesuatu. Ia mengatur dan memastikan agar organisasinya berkembang dan bertahan. Entrepreneur berupaya mengimplementasikan penemuannya sehingga disukai publik namun inventor lebih menyukai menemukan atau menciptakan sesuatu. Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi: 1. Pengambilan inisiatif, 2. Mengorganisasi dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis 3. Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan. Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbul pengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yakni : 1. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut. 2. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan. 3. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul. Dalam hal ini resiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan, fisik dan resiko social. 4. Memperoleh reward. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya. C. Pengambilan Keputusan untuk Berwirausaha Setiap orang memiliki ide untuk berkreasi namun hanya sedikit orang yang tertarik untuk terus melanjutkan sebagai seorang wirausahawan. Berikut ini beberapa paparan yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk berwirausaha: 1. mengubah gaya hidup atau meninggalkan karir yang telah dirintis. Hal ini biasanya dipicu oleh keinginan untuk mengubah keadaan yang statis ataupun mengubah gaya hidupnya karena adanya suatu hal negatif yang menimbulkan gangguan. 2. Adanya keinginan untuk membentuk usaha baru. Faktor yang mendukung keinginan ini antara lain adalah budaya juga dukungan dari lingkungan sebaya, keluarga, dan partner kerja. Dalam budaya Amerika dimana menjadi bos bagi diri sendiri lebih dihargai daripada bekerja dengan orang lain. Hal ini lebih memacu seseorang untuk lebih mengembangkan usaha daripada bekerja untuk orang lain. Selain itu, dukungan pemerintah juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Dukungan ini dapat terlihat melalui pembangunan infrastruktur, regulasi yang mendukung pembentukan usaha baru, stabilitas ekonomi dan kelancaran komunikasi. Faktor selanjutnya adalah pemahaman terhadap pasar. Tentu saja hal ini menjadi penting terutama dalam meluncurkan produk baru ke pasaran. Selanjutnya adalah peranan dari model yang akan mempengaruhi dan juga memotivasi seorang wirausahawan. Faktor yang terakhir adalah ketersediaan finansial yang akan menunjang usaha. D. Peranan Wirausahawan dalam Perkembangan Ekonomi Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis. Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. E. Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Banyak yang salah kaprah dalam memahami konsep kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Sering kali terjebak dalam pengertian entrepreneurial (berwirausaha). Hal ini tidak salah 100 persen jika yang dijual masih merupakan proses dari pengembangan bidang ilmunya (intrapreneurship) dan bukan tidak ada kaitannya dengan pengembangan ilmunya. Pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi tetap dikembangkan dalam kerangka pengembangan ilmu melalui riset-riset yang dilakukan dan dicoba untuk dipasarkan. Sehingga fokus utama pada inventor kemudian baru kewirausahaan. Berdasarkan riset diharapkan mempunyai keunggulan-keunggulan jika dipasarkan. Banyak contoh di sekeliling kita seperti VCO, nata de coco, dll. F. Bahan diskusi 1. Bagaimana dengan situasi di Indonesia? Apakah budaya di Indonesia menghargai peran seorang wirausahawan? Apakah wirausahawan sudah dapat diterima sebagai suatu karir yang dapat disejejarkan dengan karir di tempat kerja yang lain? 2. Bagaimana motivasi awal seorang yang merintis dunia usaha? Apa latar belakang mereka? Bagaimana

dengan diri saudara? 3. Diskusikan dengan teman Saudara, hasil riset seperti apa yang sesuai dengan bidang studi Saudara, yang dapat dipasarkan? ( Disarikan dari Hisrich, R.D. dkk. 2005. Entrepreneurship.sixth edition. New York: McGraw-Hill). Kewirausahaan dari Perspektif Ekonomi: Peluang Usaha

Kewirausahaan dalam perspektif ekonomi A. PengantarTitik fokus pertama dalam kegiatan berwirausaha adalah apakah seseorang melihat peluang usaha di sekitarnya. Peluang usaha ini akan dibahas 3 hal yaitu: 1. Dua perspektif besar peluang usaha yaitu Schumpeterian (1934) dan Kiznerian (1973) 2. Tiga sumber utama peluang usaha yaitu perkembangan teknologi, perubahan kebijakan/ politik, dan perubahan sosial/ demografi. 3. Bentuk lain dari peluang usaha seperti organisasi baru, pasar baru, proses bisnis baru dll B. Peluang Usaha Merupakan situasi dimana orang memungkinkan menciptakan kerangka fikir baru dalam rangka menkreasi dan mengkombinasikan sumberdaya, ketika pengusaha merasa yakin terhadap keuntungan yang diperoleh (Shane, 2003). Perbedaan utama antara peluang kewirausahaan dengan situasi yang lain adalah dalam peluang usaha adalah orang mencari keuntungan yang membutuhkan suatu kerangka fikir yang baru dari pada sekedar mengoptimalkan kerangka fikir yang telah ada. C. Peluang usaha: Schumpeterian (1934) dan Kiznerian (1973) Schumpeter (19340 percaya bahwa informasi baru merupakan suatu yang penting dalam menjelaskan eksistensi peluang usaha. Perubahan teknologi, tekanan politik, faktor-faktor lingkungan makro dan kecenderungan sosial dalam menciptakan informasi baru yang dapat digunakan pengusaha untuk mendapatkan dan mengkombinasikan kembali sumber daya dalam bentuk yang lebih bernilai. Kizner (1973) berpendapat bahwa peluang kewiarusahaan hanya membutuhkan cara baru untuk membuat inovasi berdasarkan informasi yang telah tersedia yaitu belief mengenai cara menggunakan sumber daya yang seefisien mungkin.

Berdasarkan perbedaan tersebut terlihat bahwa Kiznerian lebih mengutamakan peluang dari sesuatu yang telah mapan (cateris paribus). Informasi yang diperlukan bukan informasi yang bersifat radikal sehingga inovasi yang muncul biasa terjadi. Sangat berlainan dengan Schumpeterian, peluang terjadi dalam situasi ketidakseimbangan. Dalam situasi ini, informasi yang didapatkan banyak dan sering kali bersifat radikal. Sifat radikal ini menyebabkan inovasi jarang terjadi karena situasi yang radikal juga jarang terjadi. D. Sumber Peluang usaha: Schumpeterian (1934) Ada tiga kategori sumber peluang usaha yaitu: 1. perubahan teknologi 2. perubahan politik dan kebijakan 3. perubahan sosial dn demografi ke tiga sumber ini menunjukkan perubahan dalam membuat perbedaan nilai sumber daya tertentu dan menciptakan keuntungan yang menjanjikan. 1. Perubahan Teknologi Perubahan teknologi merupakan sumber penting dalam kewirausahaan karena memungkinkan untuk mengalokasikan sumber daya dengan cara yang berbeda dan lebih potensial (Casson, 1995). Faksimili, surat, dan telepon sering digunakan sebelum ditemukannya e-mail. Email ternyata lebih produktif untuk mengirim informasi dibandingkan tipe yang lain. Penemuan internet ini memungkinkan orang membuat kombinasi sumber daya baru yang disebabkan perubahan teknologi. Blau (1978) meneliti wirausahawan mandiri di AS selama dua dekade dan menemukan bahwa perubahan teknologi meningkatkan jumlah wirausahawan mandiri. Demikian juga dengan hasil penelitian Shane (1996) memperlihatkan bahwa jumlah organisasi dari tahun ke 1899 sampai dengan 1988 meningkat seiring dengan meningkatnya perubahan teknologi.2. Perubahan politik dan kebijakan Perubahan politik dan kebijakan terkadang menjadi sumber peluang kewirausahaan karena perubahan tersebut memungkinkan rekombinasi sumber daya agar lebih produktif. Beberapa kejadian empiris mendukung argumen bahwa perubahan politik adalah peluang usaha. Delacoxroix dan Carool (1993) meneliti Koran Argentina dari tahun 1800 - 1900 dan Koran Irlandia 1800 1925 yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara perubahan politis dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan baru. Bahkan perang pun dapat menjadi peluang usaha dengan menyediakan peralatan perang. Di Indonesia dengan perubahan dalam Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, baik ditingkat nasional, propinsi, dan kaputen/ kota memberikan ruang berwirausaha sablon, percetakan, dll. Kebijakan juga dapat menumbuhkan minat berwirausaha. Regulasi ini penting karena menyangkut legalitas sebuah perusahaan. Studi yang dilakukan oleh Kelly & Kelly dan Amburgey (1991) menemukan bahwa pertumbuhan airline di Amerika meningkat setelah adanya paket deregulasi airline. Demikian juga di Indonesia, jika jaman orde baru hanya didominasi dengan 2 atau 3 airline, dalam era reformasi ini lebih dari 10 airline. Sebelum terkena banjir lumpur, Sidoarjo adalah kabupaten yang menerapkan layanan satu atap. Hasilnya memang mampu mendorong iklim usaha karena kemudahan wirausaha mendapatkan ijin usaha. Pengalaman sukses ini telahdiadopsi oleh kabupaten yang lain seperti halnya Kota Yogyakarta dan kabupaten Sragen. 3. Perubahan demografi Struktur demografi mempengaruhi pola usaha. Kita ambil contoh Yogyakarta. Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, juga dikenal sebagai daerah tujuan bagi pensiunan. Hal ini membawa dampak bagi jenis usaha yang dikembangkan di kota Yogyakarta. E. Institusi Pendidikan Institusi pendidikan adalah sumber peluang usaha karena sebagai pusat penelitian. Hasil-hasil penelitian tersebut menjadi dasar peluang usaha. Zucker dkk (1998) meneliti tentang berdirinya perusahaan bioteknologi. Mereka menemukan bahwa jumlah ilmuwan dan universitas ternama dalam suatu daerah tersebut meningkatkan stok dan peningkatan jumlah perusahaan bioteknologi. Universitas bergengsi menghasilkan hak paten yang lebih banyak. UGM dengan Research University merupakan salah satu langkah menghasilkan penelitian-penelitian yang dapat menghasilkan paten dan dapat diterima di pasar. F. Bahan Diskusi Perhatikan jenis usaha yang berkembang di daerah Yogyakarta? Apa saja? Kaitkan jenis usaha tersebut dengan struktur demografi di Yogyakarta. Disarikan dari Shane, S. 2003. A General Theory of Entrepreneurship.the Individual-opportunity Nexus. USA: Edward Elgar. Kasus diambil dari Koran Kedaulatan Rakyat, 11 Mei 2005

IKLIM INVESTASI YANG SUSTAINABLE Meski tahun 2003, dua tahun yang lalu, sudah dicanangkan sebagai Tahun Investasi, namun laporan Bank Dunia menyebutkan, iklim investasi di Indonesia terus memburuk, bahkan masuk kelompok terburuk di dunia. Data menunjukkan, Indonesia berada di urutan ke 138 dari 146 negara yang disurvei terhadap foreign direct investment untuk periode 1998-2000. Dari segi investasi investment risks, Negara ini paling berisiko dibanding Filipina, Korea, Thailand, dan Malaysia. Ada sejumlah masalah yang disorot Bank Dunia. Misalnya, korupsi dan birokrasi yang tidak efisien. Indonesia dinilai sudah menyandang reputasi korup sejak lama, namun sekarang semakin memburuk, yang mengakibatkan biaya tinggi dalam bisnis. Ketika Indonesia dipimpin Soeharto, tulis laporan itu, korupsi terorganisasi. Sehingga bisnis lebih pasti, karena cukup membayar kepada orang yang tepat. Tetapi sekarang, pungutan liar berkembang menjadi lebih acak, yang sulit diperkirakan besarnya. Sementara itu, ada berbagai keluhan dilontarkan pebisnis asing dan domestik yang melakukan ekspansi ke daerah, tetapi mengurungkan investasinya. Menurut penuturannya, ada dua masalah, yakni: persepsi masyarakat yang menganggap pelaku bisnis sebagai rich fat cat, dan regulasi di daerah lewat Perda-Perda yang berorientasi pada peningkatan PAD. Lalu bagaimanakah upaya kita mengeliminir gejala umum desentralisasi itu untuk tidak merambah ke DIY? Sebelumnya marilah kita telusuri dulu hal-hal apa yang menjadi daya tarik bagi calon investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Jawabnya adalah tingkat daya saing yang dimiliki oleh daerah tersebut. Artinya, semakin tinggi tingkat daya saing suatu daerah akan menjadi lokasi pilihan penanaman modal. Selain itu, juga mempersyaratkan tingkat risiko investasi yang rendah, agar memberikan jaminan kelangsungan usaha yang berkelanjutan. Kedua syarat utama itu berhubungan erat dengan pelayanan birokrasi, insentif pajak, harga tanah dan tingkat produktivitas tenaga kerja, ketersediaan SDM dan sumber bahan baku, serta dukungan pra sarana ekonomi. Maka dalam kaitan ini, saya mengajak kepada para Birokrat daerah untuk secara kreatif mencari dan menemukan skema insentif yang kompetitif, sekaligus untuk menaikkan rating daerah, agar calon investor berminat melakukan penanaman modal ke DIY. Garry Hammer dalam bukunya, Competing the Future memaparkan bahawa untuk memenangkan persaingan harus dikembangkan keunggulan kompetensi, baik yang secara alamiah dimiliki oleh suatu Negara atau daerah, maupun hasil kerja keras dan ketekunan yang konsisten dan berkesinambungan dari para Birokrat maupun Usahawannya. Dengan keunggulan kompetensi telah membuat produk industri Jepang tidak dapat digantikan oleh produk Negara lain, yang meski harganya naik pun, tetap saja dibeli konsumen. Terbentuknya daya saing suatu daerah yang berbasis pada kompetensi harus terbuka kesempatan yang luas bagi siapa pun untuk melakukan apa pun yang konstruktif. Setelah itu diperlukan tersedianya pekerja terampil, birokrasi dan politisi profesional yang mampu melahirkan Perda-Perda yang kondusif bagi iklim bisnis dan investasi. Padahal, elite poloitik kita tampaknya cukup tinggi tingkat kompetisinya, namun tingginya tingkat kompetisi itu tidak berbanding lurus dengan tingkat kompetensi Indonesia sebagai bangsa disbanding Negara lain. Dalam Seminar: Birokrasi Daerah dan Upaya Peningkatan Iklim Bisnis dan Investasi di Era Otonomi beberapa waktu lalu saya menyatakan, era globalisasi telah menunjukkan situasi dunia yang serba terbuka yang dicirikan oleh adanya hubungan saling ketergantungan. Dalam konteks regional, maka interdependensi antardaerah otonom menjadi suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Interdependensi tersebut pada akhirnya bermuara pada dua kutub yang saling bertolak belakang. Kutub pertama mengarah pada iklim kompetisi antardaerah, seperti dalam perebutan pasar untuk produk-produk unggulan, menarik investasi, perekrutan SDM, serta kompetisi dalam pengelolaan asset-asset potensial milik daerah. Sebaliknya kutub kedua mengarah pada terbentuknya iklim kolaborasi yang memerlukan kerjasama ekonomi antar daerah otonom yang saling berbatasan.

Agar dapat merespon secara positif berbagai dinamika dalam iklim ko-operatitif tersebut, yaitu paduan antara kompetisi dan kolaborasi, maka diperlukan suasana pembangunan yang kondusif. Pertama, adanya kepastian hukum bagi para investor untuk meminimalkan risiko investasi dan berbagai ketidakpastian. Kedua, menurut kapabilitas good govemance, terutama dalam pelayanan bisnis dan investasi. Ketiga, penerapan instrument insentif, baik yang berbasis fiskal, misalnya pengembalian pungutan retribusi atau pajak daerah kepada investor, maupun non-fiskal dalam hal regulasi atau kebijakan khusus. Keempat, menyangkut kemampuan daerah yang berdekatan untuk bekerjasama dalam pengembangan ekonomi regional, sehingga secara sinergis saling menguatkan sesuai prinsip managed competition. Kelima, pembangunan prasarana dan sarana wilayah lintas batas, misalnya pelayanan transportasi yang menjamin efektivitas dan efisiensi mobilitas orang dan barang dari sentra-sentra produksi menuju outlet-outlet pemasaran, selain itu juga membuka akses wilayah terisolir dan terbelakang. DIY secara keseluruhan kini gencar membangun image sebagai wilayah alternative untuk investasi yang sustainable di Indonesia, karena adanya tradisi sikap mutual trust, mutual respect dan peaceful masyarakatnya terhadap kehadiran investasi. Di samping itu, faktor keamanan lebih merupakan jaminan yang berjangka panjang, sehingga dapat menutup kekurangan DIY yang tidak memiliki pelabuhan ekspor dan industrial park. Oleh sebab itu harus diinformasikan sejak dini, bahwa peluang serta prospek investasi dan bisnis yang didorong Pemerintah Daerah dengan preferensi, karena masih kompetitif, adalah jenis-jenis industri yang non-poluted, non-volumetric dan berbobot ringan, serta jasa-jasa pelayanan software yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekarang tidak bisa lagi kita menawarkan sesuatu potensi yang maya sifatnya. Karena jika pada kenyataannya berbeda dengan apa yang dipromosikan, justru akan menjadi bumerang yang berefek domino bagi kita sendiri.

KEWIRAUSAHAAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGISeperti yang kita ketahui dalam artikel sebelumnya, peluang kewirausahaan membutuhkan formulasi kerangka baru (Casson, 1982). Dalam artikel ini mari kita mengajukan pertanyaan: kenapa seseorang dan bukan yang lain, dapat mengetahui dan melihat adanya peluang? Rumus yang dapat kita ajukan adalah kepemilikan orang tersebut akan informasi dan belief yang dapat mengantarkan seseorang untuk berikir tentang ide-ide inovatif. Karena belief dan kepemilikan informasi tidak sama antara satu orang dengan yang lain maka tidak setiap orang mampu mengenali setiap peluang kewirausahaan yang tersedia (Shane, 2000). Penelitian telah menjelaskan bahwa karakteristik psikologis dan non psikologis dari seseorang mempengaruhi tendensinya untuk mengihat peluang kewirausahaan. Secara umum, yang menyebabkan seseorang mampu melihat peluang usaha dibandingkan yang tidak adalah pertama mereka memiliki akses yang lebih baik akan informasi tentang keberadaan peluang. Kedua, mereka dapat mengenali peluang lebih baik daripada yang lain, walaupun diberikan sejumlah informasi yang sama tentang hal peluang. Biasanya, hanya orang yang memiliki kemampuan kognitif superior yang memiliki kemampuan tersebut. Akses informasi Beberapa orang mampu mengenali peluang lebih baik karena mereka memiliki informasi lebih dibandingkan orang lain (Hayek, 1945; Kirzner, 1973). Informasi ini memungkinkan seseorang untuk mengetahui bahwa sebuah peluang adalah sebuah anugerah ketika orang lain mengabaikan situasi tersebut. Informasi pengalaman hidup yang spesifik, seperti pekerjaan atau kehidupan sehari-hari dapat memberikan akses pada informasi dimana orang lain belum tentu mendapatkannya (Venkataraman, 1997). Pengalaman hidup ini memberikan proses permulaan pada informasi bahwa orang lain telah menggunakan sumberdaya secara tidak lengkap atau tidak proporsional, seperti perubahan teknologi atau perkembangan peraturan yang baru. Pengalaman hidup Aktivitas tertentu memberikan referensi pada pengatahuan yang dibutuhkan untuk mengetahui peluang. Dalam faktanya, penelitian sebelumnya telah menunjukkan kejadian dari dua aspek pengalaman hidup yang meningkatkan probabilitas seseorang untuk mengetahui peluang yaitu pekerjaan dan pengalaman yang berbeda.Pekerjaan Pekerjaan seseorang dapat mengantarkan seseorang untuk menemukan peluang baru. Sebagai contoh, ahli kimia atau fisika lebih dulu dalam menemukan teknologi dibandingkan ahli sejarah karena penelitian memberikan mereka akses pada informasi tentang peluang dimana orang lain tidak mendapatkannya (Freeman, 1982). Diantara tipe-tipe pekerjaan yang menyediakan akses pada informasi, yang paling signifikan adalah Research and Development (Klepper dan Sleeper, 2001). Karena penelitian dan pengembangan menciptakan sebuah informasi baru yang menyebabkan perubahan teknologi, sehingga menjadi sebuah sumber utama dari peluang (Aldrich, 1999) maka orang yang bekerja dalam bidang penelitian dan pengembangan akan lebih cepat mengetahui tentang adanya peluang dan perkembangan teknologi dibandingkan orang lain. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah penemuan VCO oleh dosen MIPA Kimia UGM, Bapak Bambang Prastowo. Beliau adalah seorang peneliti. Beliau menemukan cara untuk mengambil minyak kelapa tanpa ada proses pemanasan. Hasilnya, ternyata minyak tersebut memiliki khasiat yang banyak dan lebih baik. Hasilnya penelitiannya beliau jual dan mendapatkan keuntungan banyak. Variasi dalam pengalaman hidup Variasi dalam pengalaman hidup menyediakan akses pada informasi yang baru dan dapat membantu seseorang dalam menemukan peluang. Penemuan peluang ini kadang seperti menyusun puzzle, karena sebuah kepingan informasi yang baru kadang memiliki elemen yang hilang dan membutuhkan kecermatan bahwa peluang baru telah hadir. Variasi dalam pengalaman menyebabkan seseorang akan menerima informasi yang baru. Selanjutnya, dari hal tersebut individu dapat menemukan kepingan peluang (Romanelli dan Schoonhoven, 2001) karena individu dengan pengalaman hidup dan pekerjaan yang banyak akan memiliki akses dalam pengalaman yang beranekaragam (Casson, 1995). Delmar dan Davidsson (2000) telah membandingkan sampel secara acak dari 405 orang yang memiliki bisnis dengan sebuah kelompok kontrol yang juga dipilih secara acak dan menemukan bahwa dalam proses memulai sebuah bisnis umumnya mereka adalah orang yang sering berpindah-pindah kerja dibandingkan kelompok kontrol. Ikatan Sosial Salah satu cara yang penting agar individu bisa mendapatkan akses informasi tentang peluang kewirausahaan adalah melalui interaksi dengan orang lain atau jejaring sosial mereka. Struktur dari jejaring sosial seseorang akan mempengaruhi informasi apa yang mereka terima dan mengkategorikan informasi tersebut. Ikatan yang kuat pada seseorang yang kita percayai sepenuhnya, juga sangat menguntungkan dalam menemukan peluang. Dalam ikatan yang kuat, terdapat kepercayaan sehingga individu dapat mempercayai sepenuhnya keakuratan informasi yang datang dari orang tersebut. Kepercayaan dalam keakuratan informasi merupakan hal yang penting untuk penemuan peluang karena wirausahawan membutuhkan akses informasi, dan selanjutnya mensintesiskannya. Beberapa penelitian mendukung pendapat ini bahwa ikatan sosial meningkatkan kemungkinan seseorang dalam menemukan peluang kewirausahaan. Sebagai contoh, Zimmer dan Aldrich (1987) mempelajari kelompok etnik yang bekerja secara mandiri di tiga kota di Inggris dan menemukan bahwa kebanyakan pemilik usaha mendapatkan informasi tentang peluang kewirausahaan melalui channel mereka.

KEWIRAUSAHAAN DARI PERSPEKTIF PSIKOLOGI (Avin Fadilla Helmi & Rista Bintara Megasari)A. Pengantar Tinjauan kewirausahaan dari perspektif Psikologi lebih terfokus pada pertanyaan mengapa secara individual ada orang dapat yang memanfaatkan peluang? Mengapa yang lain tidak? Mengapa ada pengusaha yang sukses? Mengapa ada yang tidak sukses? Melihat sebuah peluang menjadi awal suatu ide untuk menancapkan sebuah roda usaha. Namun, hal tersebut perlu ditindaklanjuti dengan upaya eksploitasi peluang sehingga menciptakan keuntungan yang menjanjikan. Dalam hal ini, tidak semua orang mampu melihat peluang usaha. Terdapat beberapa karakteristik kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi dirinya dalam cara mengorganisasikan peluang wirausaha. Kepribadian yang berbeda akan menunjukkan perbedaan cara dalam menghadapi tantangan meski berada dalam situasi yang sama. B. Kharakteristik Psikologis Shane (2003) mengelompokkan karakter psikologis yang mempengaruhi mengapa seseorang lebih memanfaatkan peluang dibandingkan yang lain dalam 4 aspek yaitu: 1. kepribadian 2. motivasi 3. evaluasi diri 4. sifat-sifat kognitif 1. Kepribadian Kepribadian dan motivasi berpengaruh terhadap tindakan seseorang dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan tindakan memanfaatkan peluang. Bahkan ketika sekumpulan orang dihadapkan pada peluang yang sama, mempunyai ketrampilan yang hampir sama, dan informasi yang sama; maka orang dengan motivasi tertentu akan memanfaatkan peluang, sementara yang lain tidak. Ada 5 aspek kepribadian dan motif yang berpengaruh dalam memanfaatkan peluang. a. Ekstraversi Ektraversi terkait dengan sikap sosial, asertif, aktif, ambisi, inisiatif, dan ekshibisionis. Sikap ini akan membantu entrepreneur untuk mengeksploitasi peluang terutama dalam memperkenalkan ide ataupun kreasi mereka yang bernilai kepada calon pelanggan, karyawan, dan sebagainya. Sikap ini membantu entrepreneur untuk mengombinasikan dan mengorganisasikan sumber daya dalam kondisi yang tidak menentu. b. Agreebleeness (Kesepahaman) Sikap ini terkait dengan keramahan, konformitas sosial, keinginan untuk mempercayai, kerjasama, keinginan untuk memaafkan, toleransi, dan fleksibilitas dengan orang lain. Hal ini akan membantu entrepreneur dalam membangun jaringan kerjasama untuk kematangan bisnisnya terutama aspek dari keinginan untuk mempercayai orang lain. c. Pengambilan Resiko Sikap ini berkaitan dengan kemauan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan beresiko. Beberapa resiko yang mungkin dihadapi oleh entrepreneur antara lain pemasaran, finansial, psikologis dan sosial. Seseorang yang memiliki perilaku pengambilan resiko yang tinggi akan lebih mudah dalam mengambil keputusan dalam keadaan yang tidak menentu dan mengorganisasikan sumber daya yang dimilikinya terutama dalam memperkenalkan produknya ke pembeli.

2. Motivasi

Hal yang tak kalah penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan adalah motivasi. Sebagian besar entrepreneur dimotivasi oleh keinginan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam paparan berikut ini akan dibahas mengenai 2 macam kebutuhan yang melandasi motivasi seorang entrepreneur. a. Kebutuhan Berprestasi Merupakan motivasi yang akan memicu seseorang untuk terlibat dengan penuh rasa tanggung jawab, membutuhkan usaha dan keterampilan individu, terlibat dalam resiko sedang, dan memberikan masukan yang jelas. Kebutuhan berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari kemampuan individu dalam menghasilkan sesuatu yang baru terhadap masalah khusus. Selanjutnya, kebutuhan berprestasi juga dicirikan dengan adanya penentuan tujuan, perencanaan, dan pengumpulan informasi serta kemauan untuk belajar. Ciri selanjutnya dari adanya kebutuhan berprestasi adalah kemampuannya dalam membawa ide ke implementasi di masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan berprestasi yang tinggi akan membantu seorang entrepreneur dalam menjalankan usahanya untuk memecahkan masalah sesuai dengan penyebabnya, membantu dalam menentukan tujuan, perencanaan, dan aktivitas pengumpulan informasi. Selain itu, kebutuhan informasi akan membantu entrepreneur untuk bangkit dengan segera ketika menghadapi tantangan. b. Keinginan untuk independent (Need for independence) Faktor ini menjadi penentu kekhasan dari seorang entrepreneur. Selain keinginan yang tidak ingin ditentukan oleh orang lain, keinginan untuk independen akan memicu seorang entrepreneur menghasilkan produk yang berbeda dengan orang lain. Ia akan lebih berani dalam membuat keputusan sendiri dalam mengeksploitasi peluang berwirausaha. Motivasi seseorang juga akan meningkat seiring dengan adanya role model dalam membangun usahanya. Seorang entrepreneur akan berupaya mewarnai bisnisnya karena terinspirasi dengan entrepreneur yang telah sukses sebelumnya. Biasanya hal ini akan terlihat ketika seorang entrepreneur mulai memperkenalkan usahanya ke publik. Role model berperan sebagai katalis dan mentor dalam menjalankan usahanya. Selain itu, jaringan dukungan sosial dari orang-orang di sekitar entrepreneur akan berperan terutama ketika usaha tersebut menghadapi kesulitan ataupun ketika berada dalam keadaan stagnan dalam prosesnya. Keberadaan jaringan ini dikategorikan menjadi: a. Jaringan dukungan moral. Jaringan ini bisa berawal dari dukungan pasangan, teman-teman, dan saudara. b. Jaringan dukungan dari profesional. Jaringan ini akan membantu seorang entrepreneur dalam mendapatkan nasihat dan konseling mengenai perkembangan usahanya. Jaringan ini bisa berawal dari mentor, asosiasi bisnis, asosiasi perdagangan, dan hubungan yang bersifat personal.

3. Evaluasi Diri a. Locus of control Locus of control didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang bahwa ia mampu mengendalikan lingkungan di sekitarnya. Seorang entrepreneur yang memiliki internal locus of control lebih mampu dalam memanfaatkan peluang kewirausahaan. Mereka memiliki kepercayaan dapat memanfaatkan peluang, sumber daya, mengorganisasikan perusahaan, dan membangun strategi. Hal ini dikarenakan kesuksesan dalam menjalankan aktivitas entrepreneur tergantung pada keinginan seseorang untuk percaya pada kekuatannya sendiri. b. Self Efficacy Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang pada kekuatan diri dalam menjalankan tugas tertentu. Entrepreneur sering membuat penilaian sendiri pada keadaan yang tidak menentu, oleh karena itu mereka harus memiliki kepercayaan diri dalam membuat pernyataan, keputusan mengenai pengelolaan sumber daya yang mereka miliki. 4. Karakteristik Kognitif Karakteristik kognitif merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan membuat keputusan. Dalam mengembangkan peluang kewirausahaan, seorang entrepreneur harus membuat keputusan positif mengenai sesuatu yang mereka belum pahami, dalam ketidakpastian, dan informasi yang terbatas. Dalam membuat keputusan positif tersebut dibutuhkan karakteristik kognitif yang membantu entrepreneur untuk memetakan cara bagaimana memanfaatkan peluang wirausaha. Karakteristik tersebut antara lain:a. Overconfidence Overconfidence merupakan kepercayaan pada pernyataan diri yang melebihi keakuratan dari data yang diberikan. Sikap percaya yang berlebihan ini sangat membantu entrepreneur terutama dalam membuat keputusan pada situasi yang belum pasti dan informasi yang terbatas. Mereka akan melangkah lebih pasti dalam menjalankan keputusannya meskipun kesuksesan yang diinginkan belum pasti. Hal ini sebenarnya bias dari rasa optimisme. Overconfidence mendorong orang mampu memanfaatkan peluang usaha (Busenitz dalam Shane, 2003). Beberapa riset yang mendukung teori bahwa overconfidence mendorong memanfaatkan peluang usaha. Shane (2003) mempresentasikan beberapa penelitian yang mendukung kenyataan ini. Gartner dan Thomas pada tahun 1989 melakukan survei terhadap 63 pendiri perusahaan software computer. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka cenderung overconfidence dan perkiraan rata-rata penjualan 29% di atas penjualan tahun sebelumnya. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Cooper dkk tahun 1988 menunjukkan bahwa 33,3% dari yang mereka percaya bahwa mereka akan sukses dan dua pertiga dari yang mereka survei merasa yakin akan kesuksesan yang akan diraihnya. Entrepreneur cenderung lebih overconfidence dibandingkan dengan manajer. Hasil penelitian Busenizt dan Barney tahun 1997 dengan cara membandingkan 124 pendiri perusahaan dan 74 manajer dalam sebuah organisasi besar. Hasilnya menunjukkan bahwa pendiri perusahaan lebih overconfidence dibandingkan dengan manajer. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Amir dkk tahun 2001, yang dilakukan dengan cara wawancara pada 51 pendiri perusahaan dan 28 manajer senior (bukan pendiri) di Kanada. Pendiri perusahaan memperkirakan mereka mempunyai peluang sukses lebih besar dibandingkan dengan perkiraan manajer senior. b. Representatif Representatif merupakan keinginan untuk menggeneralisasi dari sebuah contoh kecil yang tidak mewakili sebuah populasi. Bias dalam representatif akan mendorong seorang entrepreneur dalam membuat keputusan. Ia menjadi lebih mudah dalam membuat keputusan terutama dalam keadan yang tidak menentu. Penelitian mengenai hal ini dilakukan oleh Busenitz dan Barney di tahun 1997, dengan cara membandingkan 124 pendiri perusahaan dengan 74 manajer. Hasilnya menunjukkan bahwa para pendiri perusahaan memiliki sekor representativeness yang lebih tinggi dibandingkan dengan manajer. Hal ini menunjukkan bahwa gaya pemecahan masalah antara entrepreneur dan manajer berbeda. c. Intuisi Sebagian besar entrepreneur menggunakan intuisi daripada menganalisis informasi dalam membuat keputusan. Kegunaan intuisi untuk memfasilitasi pembuatan keputusan mengenai ketersediaan sumber daya, mengorganisasi dan membangun strategi baru. dengan memfasilitasi pembuatan keputusan maka argumen akan muncul, dan intuisi selanjutnya akan meningkatkan performa dalam kegiatan entrepreneur. Beberapa riset mendukung fakta di atas. Shane (2003) melaporkan beberapa hasil penelitian berikut ini. Hasil penelitian Allison dkk membandingkan 156 pendiri perusahaan dan perusahaan yang masuk daftar dalam British Publication Local Heroes sebagai perusahaan yang berkembang dengan 546 manajer. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pendiri perusahaan lebih intuitif dalam pengambilan keputusandibandingkan dengan manajer.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Wirausaha 1. Lingkungan keluarga dan masa kecil Beberapa penelitian yang berusaha mengungkap mengenai pengaruh lingkungan keluarga terhadap pembentukan semangat berwirausaha. Penelitian bertopik urutan kelahiran menemukan bahwa anak dengan urutan kelahiran pertama lebih memilih untuk berwirausaha. Namun, penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut. Selanjutnya pengaruh pekerjaan orang tua terhadap pertumbuhan semangat kewirausahaan ternyata memiliki pengaruh yang signifikan.

2. Pendidikan Faktor pendidikan juga tak kalah memainkan penting dalam penumbuhan semangat kewirausahaan. Pendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang untuk melanjutkan usahanya namun juga membantu dalam mengatasi masalah dalam menjalankan usahanya. 3. Nilai-nilai Personal Faktor selanjutnya adalah nilai-nilai personal yang akan mewarnai usaha yang dikembangkan seorang wirausaha. Nilai personal akan membedakan dirinya dengan pengusaha lain terutama dalam menjalin hubungan dengan pelanggan, suplier, dan pihak-pihak lain, serta cara dalam mengatur organisasinya. 4. Pengalaman Kerja Pengalaman kerja tidak sekedar menjadi salah satu hal yang menyebabkan seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur. Pengalaman ketidakpuasan dalam bekerja juga turut menjadi salah satu pendorong dalam mengembangkan usaha baru. D. Bahan Diskusi Bacalah dengan seksama kasus berikut ini. Coba lakukan analisis mengenai kharakteristik kewirausahaan dari perspektif psikologis. Sumber: Shane, S. 2003. A General Theory of Entrepreneurship.the Individual-opportunity Nexus. USA: Edward Elgar Hisrich,R.D., Peters, M.P., dan Shepherd, D.A. 2005. Entrepreneurship. Sixth Edition. New York: McGraw-Hill Avin Fadilla Helmi & Rista Bentara Megasari

Kasus diambil dari Kedaulatan Rakyat, 1 Maret 2004 Ny. Indriyati, Cikal Bakal Gardena Group Mirintis Usaha Kios Sejak 1960 1). Bagi masyarakat Yogyakarta, nama toko Gardena dan Vinolia, sudah tak asing lagi. Sebagai pemain kawakan dalam dunia bisnis supermarket di Yogya, ke dua toko itu, hingga kini tetap eksis di tengah maraknya bermunculan mall dan supermarket di berbagai lokasi. 2). Bicara tentang perjalanan toko Gardena bersama group usaha yang dikelolanya, yakni Gardena Departemen Store di Yogya dan di Magelang, Vinolia baby and Kids Yogya, Matari shopping mall, Ibis Malioboro, Dynasty fashion, dan Varia fashion, tak lepas dari pemrakarsa dan cikal bakalnya yakni almarhumah Ny. Indriyati yang baru saja dipanggil Tuhan pada tanggal 26 Februari 2004 dalam usia 83 tahun di RS Singapura. Ny. Indriyati meninggalkan 4 orang anak, 9 cucu, dan 1 cicit. 3). Menurut putera sulungnya, Bintoro Sulaksono, semasa hidupnya, Ny. Indriyati pekerja keras dan ulet, apalagi sejak suaminya meninggal pada tahun 1980. Ia harus bertangungjawab penuh dalam mengatur rumah tangga dan usahanya. Kendati tidak didukung latar pendidikan yang tinggi, namun karena karunia Tuhan, Ny. Indriyati mampu mengembangkan suatu jaringan bisnis ritel. 4). Di era tahun 1960 an Indryiati membuka 2 kios di pasar Beringharjo Yogya. Dengan kerja keras dan keuletannya. Pada tahun 1967, ia pun mengembangkan usaha dengan mendirikan toko Vinolia di jalan Solo, yang pada saat itu tercatat sebagai toko yang terlengkap di kawasan itu, yang menyediakan koleksi fashion dan kosmetik. Setiap HUT RI, toko Vinolia aktif berpartisipasi ikut karnaval mobil yang memperagakan koleksi fashionnya. 5). Keberhasilannya mengelola toko dan memimpin karyawannya menjadikan Pemda menunjuk lokasi di seberang lokasi toko itu untuk pengembangan usaha baru. Jadilah tahun 1977, dibuka toko Gardena. Sebagai ungkapan syukurnya, ia menyumbangkan gapura perbatasan kota Yogyakarta dan Sleman. Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 1984, Gardena dikembangkan jadi departemen store dan supermarket yang diresmikan oleh Sri Paku Alam VIII almarhum. Gardena saat itu tercatat sebagai department store dan supermarket pertama di Yogyakarta yang buka non stop dari jam 09.00 s.d 21.00; ditunjang fasilitas eskalator pertama di Yogyakarta. 6). Dengan keinginan untuk dapat melayani masyarakat luas dengan bisnis ritel tersebut, ia mendirikan satu cabang lagi di Magelang. Sikap dan sifatnya dalam mengatur bisnis ritelnya telah banyak memberikan teladan bagi semua staf dan karyawannya. Wanita enerjik ini sangat menjunjung tinggi disiplin kerja dan menghargai staf dan karyawan yang berpotensi maupun berprestasi. Kepedulian terhadap karyawan ditandai dengan mengenal setiap nama mereka. Sikap dan sifat inilah yang membuat karyawan dan staf kagum, menghormati dan mencintainya, kata Bintoro. 7). Disamping kesibukannya dalam mengelola bisnis ritel, ia juga aktif dalam berorganisasi dan aktivitas sosial. Kepeduliannya terhadap lingkungan juga terlihat dengan dilakukannya pembangunan tanggul perbatasan sungai dari Jalan Solo sampai Pengok, sehingga warga kampung Pengok tak mengalami kebanjiran pada waktu hujan. Ia tercatat aktif dalam organisasi IWAPI Yogyakarta, dan aktif juga mengikuti seminar-seminar.8). Setelah tiada, apa yang ditinggalkannya, yakni Gardena Departement store dan supermarket serta toko Vinolia, juga merupakan monumental. Ia selalu menanamkan kepada anaknya, cucu maupun staf dan karyawannya, ucapan Bung Karno Gantungkan cita-citamu di langit dan raihlah bintang-bintang.

MEMULAI BERWIRAUSAHA (Avin Fadilla Helmi )

A. Pengantar Yang sering dikeluhkan oleh para mahasiswa ketika akan memulai berwirausaha, harus memulai dari mana? Selain itu, sering kali mahasiswa bahkan masyarakat umum, dijangkiti penyakit jangan-jangan seperti jangan-jangan saya rugi, jangan-jangan tidak laku ketika akan memulai sebuah usaha. Selain itu, muncul keraguan waduh saingannya banyak, bagaimana mungkin saya dapat memenangkan persaingan? B. Langkah-langkah memulai berwirausaha 1. Mengenali peluang usaha Dalam modul kuliah 3 mengenai peluang usaha dinyatakan bahwa peluang sebenarnya ada di sekeliling kita, hanya saja ada beberapa individu yang mampu melihat situasi sebagai peluang ada yang tidak. Hal ini disebabkan faktor informasi yang dimilikinya. Informasi memungkinkan seseorang mengetahui bahwa peluang ada sat orang lain tidak menghiraukan situasi tersebut. Akses terhadap informasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan hubungan sosial (Shane, 2003). a. Pengalaman hidup. Pengalaman hidup memberikan akses yang lebih mengenai informasi dan pengetahun mengenai penemuan peluang. Dua aspek dari pengalaman hidup yang meningkatkan kemungkinan seseorang menemukan peluang yaitu fungsi kerja dan variasi kerja. b. Hubungan sosial. Sebuah langkah penting dimana seseorang mendapatkan informasi dari interaksi dengan orang lain. Beberapa ahli menyarankan ketika seorang takut berwirausaha secara sendirian, maka mengawali usaha secara kelompok adalah alternative. Oleh karenanya, kualitas dan kuantitas dalam interaksi sosial akan lebih memungkinkan individu akan membuat kelompok dalam berwirausaha. Informasi yang penting ketika akan memulai usaha adalah informasi mengenai lokasi, potensi pasar, sumber modal, pekerja, dan cara pengorganisasiannya. Kombinasi antara jaringan yang luas dan kenekaragaman latar belakang akan mempermudah mendapatkan informasi tersebut. Beberapa sumber peluang usaha antara lain: a. Perubahan teknologi b. Perubahan kebijakan dan politik c. Perubahan sosial demografi 2. Optimalisasi Potensi diri Setelah mengenai peluang usaha maka harus dikombinasikan dengan potensi diri. Keunggulan kompetitif apa yang saya miliki? Yang sering terjadi di masyarakat kita adalah memilih usaha yang sedang trend saat itu. Hal ini sah-sah saja tetapi ketika dalam proses perkembangan tidak membuat inovasi, maka akan sulit bersaing. Counter HP di Yogyakarta merupakan bisnis yang menjamur dalam 3-4 tahun ini. Jika mereka tidak mempunyai keunggulan kompetitif misalnya layanan purna jual, harga yang bersaing, ataukah layanan secara umum baik, maka sulit akan berkembang. Seseorang datang ke sebuah toko untuk membeli HP, sebagian besar karena informasi yang telah didapatkan sebelumnya apakah dari mulut ke mulut ataukah dari koran. Hal ini sangat berbeda dengan ahli terapis untuk anak autis. Kenyataan menunjukkan penderita autis meningkat di masyarakat, sementara layanan atau terapis autis belum terlalu banyak. Keahlian khusus yang langka akan dicari orang tanpa mempertimbangkan aspek lokasi usaha. Usaha jasa berbasis pengetahuan (knowledge intensive service) merupakan satu alternatif usaha yang memiliki keunggulan kompetitif. Biasanya mereka mendirikan usaha misalnya konsultan keuangan, konsultan manajemen, konsultan enjinering karena kemampuan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karenanya, model usaha ini yang seharusnya dikembangkan dalam kewiarausahaan di Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong untuk melakukan riset sesuai dengan bidang ilmunya untuk memiliki pengetahuan baru dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain potensi diri dalam arti pengetahuan yang kita miliki, maka masih perlu mengoptimalkan aspek motivasi dan kepribadian. Dalam modul kuliah 5 kharakteristik kewirausahaan dari perspektif Psikologi maka dapat diperoleh gambaran ada beberapa kaharakteristik yang mendorong kesuksesan usaha dan yang tidak. Oleh karenanya sejauh mana potensi psikologis anda mampu dioptimalkan dalam memulai sebuah usaha? 3. Fokus dalam bidang usaha Peter Drucker pakar dalam kewirausahaan menyatakan bahwa dalam dalam memulai sebuah usaha atau inovasi dilakukan disarankan untuk terfokus - dimulai dari yang kecil berdasarkan sumberdaya yang kita miliki. Vidi catering di Yogyakarta adalah salah satu contoh dimana pendirinya berlatar belakang sarjana teknologi pertanian, jurusan pengolahan makanan. Memulai usaha rantangan untuk anak kost karena tinggal di sekitar kampus, kemudian karena basic knowledge di bidang pengolahan makanan, kemudian berkembang menjadi catering, hotel, dan sekarang ini gedung pertemuan dan paket pernikahan (event organizer).

4. Berani memulai. Dunia kewirausahaan adalah dunia ketidakpastian sementara informasi yang dimiliki oleh yang akan memulai usaha sedikit. Oleh karenanya, sedikit agak gila (overconfidence) dan berani mengambil resiko adalah sangat perlu dilakukan. Lakukan dulu. Jalan dulu. Jika ada kesulitan, baru dicari jelan keluarnya. C. Bahan Diskusi Bacalah dengan seksama kasus berikut ini. Lakukan analisis kasus tersebut berdasarkan upaya yang dilakukan untuk memulai usaha. Sumber Pustaka Shane, S. 2003. A General Theory of Entrepreneurship.the Individual-opportunity Nexus. USA: Edward Elgar Avin Fadilla Helmi

Kasus dari Kompas Minggu, Mei 2005

DEWI PROVITA RINI Sejak Menikah, Dewi Provita Rini (35) sudah memutuskan tidak bekerja di kantor. Dia ingin selalu berada di rumah agar bisa menjadi guru dan pendamping bagi anak-anaknya. Bagi dia, seorang anak harus didampingi langsung orang tua dan tidak bisa pengasuhan anak diserahkan kepada pembantu atau pengasuh anak. Namun Dewi, produsen permainan anak-anak dari kayu, bukanlah orang yang bisa diam di rumah. Sambil menunggu anaknya, dia mencoba berbisnis dengan menjual barang-barang secara kredit kepada para tetangga dan kenalan. Dewi juga pernah menjadi pemasok bahan-bahan untuk sebuah perusahaan catering. Tetapi saya tidak tahan menjadi pemasok untuk catering. Sewaktu-waktu saya bisa di telepon untuk minta dikirim barang. Pernah satu kali mereka minta dikirimi telur. Ternyata telur di peternakan tidak cukup sehingga saya harus menunggu ayam bertelur dulu. Sejak itu saya stres jika mendengar telepon berdering, takut ada pesanan mendadak. Akhirnya saya berhenti menjadi pemasok setelah enam bulan berjalan, cerita Dewi, yang juga pernah bekerja sebagai asisten dosen ketika masih lajang. Berhenti menjadi pemasok, Dewi tergerak untuk berjualan. Namun apa yang dijual, Dewi belum tahu. Sampai pada awal tahun 2002, ketika dia membaca iklan di surat kabar tentang pameran pendidikan, dia tertarik ikut. Ada teman saya yang membuat mainan anak dari kayu. Dia bersedia meminjamkan barang-barang itu untuk saya jual. Jadi, barang-barang yang tidak laku boleh dikembalikan ke dia. Saya cuma bermodalkan uang Rp. 500.000 untuk sewa tempat, cerita ibu dua putri ini. Ternyata semua barang yang dipinjam Dewi dari temannya itu habis terjual. Mungkin karena barang yang dijual sesuai dengan tema pameran. Mainan anak-anak dari kayu semuanya mempunyai nilai pendidikan. Yakni untuk melatih otak maupun motorik halus. Pengunjung yang datang sebagian besar guru, pendidik dan orang tua sehingga mainan saya laku, kenang dia. Sukses dalam menjual mainan anak-anak membuat Dewi terketuk terjun ke dunia bisnis itu. Padahal selama ini dia merasa sulit menemukan bidang bisnis yang cocok buat dia. Orang tua saya pernah menawarkan modal untuk bisnis, tetapi saya tolak karena tidak tahu akan berbisnis apa. Setelah saya menemukan bisnis mainan anak ini, sekarang saya justru mencari-cari modal, ungkap Dewi sambil tertawa. Dewi lalu mulai mempelajari pembuatan mainan kayu itu. Kebetulan di rumahnya yang terletak di bilangan Pondok bambu, Jakarta Timur banyak perajin kayu. Saya minta ke perajin kayu itu, bisa tidak membuat mainan seperti ini. Lalu untuk penawaran, saya menggambar sendiri atau saya sablon. Kebetulan saya juga mempunyai tukang sablon karena suami saya punya usaha sablom, ujar Dewi yang memegang ijazah sarjana akuntansi dari Universitas Trisakti ini. Membuat mainan dari kayu bukan berarti Dewi mematikan usaha kawannya yang meminjamkan barang. Dia sudah merasa jenuh bekerja di bidang itu, dan ingin berhenti. Barangbarang yang dipinjamkan ke saya adalah barang-barang sisa. Jadi saya tidak mematikan usaha dia, kata Dewi menjelaskan. Setelah memutuskan terjun ke bisnis mainan anak, Dewi mulai belajar lagi. Dia membuka internet dan mencari berbagai topik seputar pendidikan. Di sana banyak tersedia contoh mainan yang mempunyai unsur pendidikan dan terapi untuk anak. Sudah saya tetapkan, saya hanya menjual mainan yang mempunyai nilai edukasi. Makanya, saya tidak membuat dan menjual mainan robot, mobil dengan radio kontrol, pedangpedangan, juga pistol-pistolan, ujar dia menegaskan. Mainan edukasi itu juga diusahakan agar tidak berbahaya bagi anak-anak. Contohnya, setiap benda persegi dibuat tidak memiliki sudut, tetapi agak melingkar. Kayu yang dipakai adalah serbuk kayu yang dipadatkan. Selain ringan, kayu ini juga mempunyai warna yang cerah sehingga menarik, kata Dewi. Selain itu Dewi juga rajin datang ke seminar-seminar yang berkaitan dengan pendidikan atau kesehatan. Dia juga membaca buku psikologi pendidikan dan psikologi anak. Dia juga rajin berdiskusi dengan konsumen yang kebanyakan pendidik untuk mendapatkan informasi mainan seperti apa yang dibutuhkan. Setelah mendapat gambaran, baru suami saya mencoba membuat contoh barangnya. Dia insinyur teknik sipil sehingga bisa mengukur dan memotong, kata istri M. Arif ini.Contoh barang itu kemudian dibawa ke tukang untuk dibuat dalam jumlah banyak. saat ini saya tidak lagi memakai tukang di sekitar rumah. Saya sekarang mempunyai dua tukang tetap di daerah Cianjur, jawa barat. Ongkos produktif lebih murah disana, ujar Dewi. Setelah dibuat dan dihaluskan, barang dibawa ke rumah Dewi untuk di beri warna dan dikemas. Di rumahnya, Dewi dibantu lima karyawan untuk melakukan semua pekerjaan itu, termasuk menjaga pameran. Hingga kini pemasaran yang dilakukan Dewi hanyalah lewat pameran. Menurutnya, untuk memenuhi permintaan pameran saja, dia sudah agak kewalahan. Sedikitnya setiap bulan satu kali saya berpameran. Untuk pamerannya sih tidak berat, tetapi setelah itu, pemesanan pasti membeludak, ujar Dewi menjelaskan. Pernah suatu kali dia menerima pesanan dari Angkatan Udara untuk memasok mainan ke seluruh taman kanak-kanak milik Angkatan Udara. Jumlahnya hingga ribuan. Pelanggannya memang sebagian besar adalah sekolah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pendidikan. Saya juga sering mendapat pesanan dari majalah anak. Mereka memesan untuk hadiah bagi pembacanya, ujar dia.Menurut Dewi, ketekunan mengikuti pameran merupakan kunci sukses bisnisnya. Dewi mengakui tidak semua pameran yang diikutinya mendatangkan keuntungan. Ada juga pameran-pameran yang justru membuatnya merugi.Namun Dewi tidak melihat satu per satu pameran, tetapi keseluruhannya dalam satu tahun. Kalau satu tahun, kita akan melihat mengikuti pameran itu mendatangkan keuntungan, terutama pemesanan setelah pameran selesai, kata dia. Untuk memperbanyak macam barang, Dewi juga membeli mainan pendidikan dari Cina. Semua mainan yang dibeli juga harus mempunyai nilai edukasi. Namun, yang dibeli hanyalah mainan yang terbuat dari plastik. Kalau bahan bakunya kayu, produk kita masih bisa bersaing dalam harga. Tetapi kalu dari plastik, produk China lebih unggul, kata Dewi.PEMASARAN yang bisa dibilang cukup sukses itu tanpa disadari membuat usaha Dewi semakin besar. Sekarang dia sudah dipercaya oleh pemasok bahan baku sehingga untuk belanja bisa memakai giro. Dia menaksir, barang-barang yang ada di tempat penyimpanan saat ini bernilai 100 juta. Ini belum termasuk barang-barang yang dia titipkan di beberapa pusat terapi anak. Tanpa terasa modal yang hanya Rp. 500.000 itu sekarang sudah menjadi Rp. 100 juta. Modalnya hanya ketekunan dan tidak takut rugi. tutur Dewi.

INOVASI DAN PERILAKU INOVATIF (Avin Fadilla Helmi) 1. Pengertian Inovasi Istilah inovasi dalam organisasi pertama kali diperkenalkan oleh Schumpeter pada tahun 1934. Inovasi dipandang sebagai kreasi dan implementasi kombinasi baru. Istilah kombinasi baru ini dapat merujuk pada produk, jasa, proses kerja, pasar, kebijakan dan sistem baru. Dalam inovasi dapat diciptakan nilai tambah, baik pada organisasi, pemegang saham, maupun masyarakat luas. Oleh karenanya sebagian besar definisi dari inovasi meliputi pengembangan dan implementasi sesuatu yang baru (dalam de Jong & den Hartog, 2003) sedangkan istilah baru dijelaskan Adair (1996) bukan berarti original tetapi lebih ke newness (kebaruan). Arti kebaruan ini, diperjelas oleh pendapat Schumpeter bahwa inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu menjadi satu kombinasi. Dengan inovasi maka seseorang dapat menambahkan nilai dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran, sistem pengiriman, dan kebijakan, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga stakeholder dan masyarakat (dalam de Jong & Den Hartog, 2003). Kebaruan juga terkait dimensi ruang dan waktu. Kebaruan terikat dengan dimensi ruang. Artinya, suatu produk atau jasa akan dipandang sebagai sesuatu yang baru di suatu tempat tetapi bukan barang baru lagi di tempat yang lain. Namun demikian, dimensi jarak ini telah dijembatani oleh kemajuan teknologi informasi yang sangat dahsyat sehingga dimensi jarak dipersempit. Implikasinya, ketika suatu penemuan baru diperkenalkan kepada suatu masyarakat tertentu, maka dalam waktu yang singkat, masyarakat dunia akan mengetahuinya. Dengan demikian kebaruan relatif lebih bersifat universal. Kebaruan terikat dengan dimensi waktu. Artinya, kebaruan di jamannya. Jika ditengok sejarah peradaban bangsa Indoensia, maka pada jaman tersebut maka bangunan candi Borobudur, pembuatan keris oleh empu, pembuatan batik adalah suatu karya bersifat inovatif di jamannya. Ruang lingkup inovasi dalam organisasi (Axtell dkk dalam Janssen, 2003), bergerak mulai dari pengembangan dan implementasi ide baru yang mempunyai dampak pada teori, praktek, produk, atau skala yang lebih rendah yaitu perbaikan proses kerja sehari-hari dan desain kerja. Oleh karenanya, penelitian inovasi dalam organisasi dapat dilakukan dalam 3 level yaitu inovasi level individu, kelompok, dan organisasi (Adair, 1996; de Jong & Den Hartog, 2003). Jika dilihat dari kecepatan perubahan dalam proses inovasi ada dua macam inovasi yaitu inovasi radikal dan inovasi inkremental (Scot & Bruece, 1994). Inovasi radikal dilakukan dengan skala besar, dilakukan oleh para ahli dibidangnya dan biasanya dikelola oleh departemen penelitian dan pengembangan. Inovasi radikal ini sering kali dilakukan di bidang manufaktur dan lembaga jasa keuangan. Sedangkan inovasi inkremental merupakan proses penyesuaian dan mengimplementasikan perbaikan yang berskala kecil. Yang melakukan inovasi ini adalah semua pihak yang terkait sehingga pendekatan pemberdayaan sesuai dengan model inovasi inkremental ini (Bryd & Brown, 2003; Jones, 2004). Lebih lanjut De Jong & Den Hartog, (2003) menguraikan bahwa inovasi inkremental terlihat pada sektor kerja berikut ini : Knowledge-intensive service (KIS) yakni usahanya meliputi pengembangan ekonomi sebagai contoh konsultan akuntansi, administrasi, R&D service, teknik, komputer, dan manajemen. Sumber utama inovasi dari kemampuan mereka untuk memberikan hasil desain yang sesuai untuk pengguna layanan mereka. Inovasi mereka hadirkan setiap kali dan tidak terstruktur. Supplier-dominated services meliputi perdagangan retail, pelayanan pribadi (seperti potong rambut), hotel dan restaurant. Macam Inovasi berdasarkan fungsi ada dua yaitu inovasi teknologi dapat berupa produk, pelayanan atau proses produksi dan inovasi administrasi dapat bersifat organisasional, struktural, dan inovasi sosial (Brazeal & Herbert, 1997). 2. Perilaku inovatif Pengertian perilaku inovatif menurut Wess & Farr (dalam De Jong & Kemp, 2003) adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal baru, yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai shop-floor innovation (e.g., Axtell et al., 2000 dalam De Jong & Den Hartog, 2003). Pendapat senada dikemukakan oleh Stein & Woodman (Brazeal & Herbert,1997) mengatakan bahwa inovasi adalah implementasi yang berhasil dari ide-ide kreatif. Bryd & Bryman (2003) mengatakan bahwa ada dua dimensi yang mendasari perilaku inovatif yaitu kreativitas dan pengambilan resiko. Demikian halnya dengan pendapat Amabile dkk (de Jong & Kamp, 2003) bahwa semua inovasi diawali dari ide yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide baru yang terdiri dari 3 aspek yaitu keahilan, kemampuan berfikir fleksibel dan imajinatif, dan motivasi internal (Bryd & Bryman, 2003). Dalam proses inovasi, individu mempunyai ide-ide baru, berdasarkan proses berfikir imajinatif dan didukung oleh motivasi internal yang tinggi. Namun demikian sering kali, proses inovasi berhenti dalam tataran menghasilkan ide kreatif saja dan hal ini tidak dapat dikategorikan dalam perilaku inovatif. Dalam mengimplementasikan ide diperlukan keberanian mengambil resiko karena memperkenalkan hal baru mengandung suatu resiko. Yang dimaksud dengan pengambilan resiko adalah kemampuan untuk mendorong ide baru menghadapi rintangan yang menghadang sehingga pengambilan resiko merupakan cara mewujudkan ide yang kreatif menjadi realitas (Bryd & Brown, 2003). Oleh karenanya, jika tujuan semula melakukan inovasi untuk kemanfaatan organisasi, tetapi jika tidak dikelola dengan baik justru menjadi bumerang. Adapun inovasi yang sesuai dengan perilaku inovatif adalah inovasi inkremental. Dalam hal ini, yang melakukan inovasi bukan hanya para ahli saja tetapi semua karyawan yang terlibat dalam proses inovasi tersebut. Oleh karenanya sistem pemberdayaan karyawan sangat diperlukan dalam perilaku inovatif ini. Dalam penelitian ini, inovasi difokuskan bukan pada output inovatif. Fokus penelitian ini perilaku inovatif yang merupakan faktor kunci dari inovasi inkremental (Scott & Bruce, 1994; de Jong & Kemp, 2003). Yang dimaksud dengan perilaku inovatif dalam penelitian ini adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan dan mengimplementasikan hal-hal baru, yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi; yang terdiri dari dua dimensi yaitu kreativitas dan pengambilan resiko dan proses inovasinya bersifat inkremental.Daftar Pustaka Adair, J. 1996. Effective Innovation. How to Stay Ahead of the Competition. London: Pan Books. Byrd, J & Brown, P.L. 2003. The Innovation Equation. Building Creativity and Risk Taking in Your Organization. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffer. A Wiley Imprint. www.pfeiffer.com De Jong, J & Hartog, D D. 2003. Leadership as a determinant of innovative behaviour. A Conceptual framework. http://www.eim.net/pdf-ez/H200303.pdf. 21 April 2006 De Jong, JPJ & Kemp, R. 2003. Determinants of Co-workerss Innovative Behaviour: An Investigation into Knowledge Intensive Service. International Journal of Innovation Management. 7 (2) (Juni 2003) 189 - 212. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005. Janssen, O. 2003. Innovative Behaviour and Job Involvement at the Price Conflict and Less Satisfactory Relations with Co-workers. Journal of Occupational and Organizational Psychology. 76. 347 - 364. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005. Scott, S. G & Bruce, R. A. 1994. Determinants of Innovative behavior: A Path Model Of Individual Innovation in the Workplace. Academy of Management Journal.. 37 (3) 580-607. Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret 2005. PROSES INOVASI DAN PENGELOLAANNYA (Avin Fadilla Helmi )Pengantar Inovasi sebagai suatu proses digambarkan sebagai proses yang siklus dan berlangsung terus menerus, meliputi fase kesadaran, penghargaan, adopsi, difusi dan implementasi (Damanpour dkk dalam Brazeal, D.V. dan Herbert, T.T. 1997). De Jong & Den Hartog (2003) merinci lebih mendalam proses inovasi dalam 4 tahap sebagai berikut: a. Melihat kesempatan bagi karyawan untuk mengidentifikasi kesempatankesempatan. Kesempatan dapat berawal dari ketidakkongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung, adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi, atau adanya indikasi trends yang sedang berubah. b. Mengeluarkan ide. Dalam fase ini, karyawan mengeluarkan konsep baru dengan tujuan menambah peningkatan. Hal ini meliputi mengeluarkan ide sesuatu yang baru atau memperbaharui pelayanan, pertemuan dengan klien dan teknologi pendukung. Kunci dalam mengeluarkan ide adalah mengombinasikan dan mereorganisasikan informasi dan konsep yang telah ada sebelumnya untuk memecahkan masalah dan atau meningkatkan kinerja. Proses inovasi biasanya diawali dengan adanya kesenjangan kinerja yaitu ketidaksesuaian antara kinerja aktual dengan kinerja potensial. c. Implementasi. Dalam fase ini, ide ditransformasi terhadap hasil yang konkret. Pada tahapan ini sering juga disebut tahapan konvergen. Untuk mengembangkan ide dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil. Perilaku Inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras. Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif. Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan dan bernegosiasi. Untuk mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi. d. Aplikasi. Dalam fase ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun dalam proses rutin yang biasa dilakukan.

Proses inovasi (http;//infomgt.bi.no/euram/material/p-luno.doc), terdiri atas: a. mengeluarkan ide yaitu meliputi pembentukan rancangan teknis dan desain. b. resolusi masalah yaitu meliputi mengambil keputusan dan memecah ide ke dalam komponen yang lebih kecil, menentukan prioritas untuk tiap komponen atau elemen, membagi alternatif masalah, dan menilai desain alternatif menggunakan kriteria yang telah dipaparkan dalam tahap pertama fase yang menciptakan penemuan dalam proses inovasi adalah adopsi dan implementasi Proses inovasi (http:/faculty.babson.edu/gordon/ manuscript/ECIS05.doc) adalah sebagai berikut: a. Inisiasi yaitu kegiatan yang mencakup keputusan dalam organisasi untuk mengadopsi inovasi b. pengembangan yaitu kegiatan yang meliputi desain dan pengembangan produk dan perencanaan proses inovasi dalam fase inovasijadi fase ini meliputi mengeluarkan ide dan pemecahan masalah c. implementasi yaitu kegiatan ini meliputi penerapan desain inovasi yang telah dibuat sebelumnya dalam fase pengembangan Adair (1996) mengatakan ada 3 fase dalam proses inovasi sebagai berikut: a. Generating ideas. Keterlibatan individu dan tim dalam menghasilkan ide untuk memperbaiki produk, proses dan layanan yang ada dan menciptkaan sesuatu yang baru. b. Harvesting ideas. Melibatkan sekumpulan orang untuk mengumpulkan dan mengevaluasi ide-ide. c. Developing and implementing these ideas. Mengembangkan ide-ide yang telah terkumpul dan selanjutnya mengimplementasikan ide tersebut. Hussey (2003) berupaya membentuknya dalam tahapan dan dibuat dengan akronim EASIER yaitu: 1. Envisioning yaitu proses ini meliputi penyamaan pandangan mengenai masa depan untuk membentuk tujuan berinovasi. Visi ini harus meliputi ukuran, inovasi apa yang dilakukan untuk organisasi, ruang lingkup inovasi, dan bagaimana visi tersebut sesuai dengan visi organisasi. 2. Activating yaitu penyampaian visi ke publik agar tercapai sebuah komitmen terhadap visi sehingga strategi akan relevan dengan visi begitupula dengan implementasi visi. 3. Supporting yaitu tahapan ini merupakan upaya seorang pemimpin tidak hanya di dalam memberikan perintah dan instruksi kepada bawahan, namun juga keterampilan di dalam menginspirasi bawahannya untuk bertindak inovatif. Dalam hal ini diperlukan kepekaan pemimpin dalam memahami bawahannya. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya bersikap emphatik. 4. Installing yaitu pada tahapan ini merupakan tahapan implementasi. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah kompleksitas strategi yang diperlukan dalam berinovasi dan konsekuensi yang diterima. Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang di dalam memberikan masukan dalam implementasi sebuah inovasi sebagai berikut: a. meyakinkan bahwa konsekuensi yang terjadi dapat dipahami kemudian, b. mengidentifikasi apakah tindakan yang dilakukan membawa perubahan, c. mengalokasikan tanggung jawab dari berbagai tindakan yang diterima, d. memprioritaskan tindakan yang diterima, e. memberikan anggaran yang sesuai, mengatur tim kerja dan struktur yang dibutuhkan, f. mengalokasikan orang-orang yang tepat, g. dan menentukan kebijakan yang dibutuhkan untuk memperlancar implementasi inovasi. 5. Ensuring yaitu kegiatan yang meliputi monitoring dan evaluasi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa tindakan yang dilakukan sudah tepat waktu dan sesuai rencana. Apabila tidak sesuai dengan rencana maka rencana alternative apa yang dapat diambil. Selain itu, tahapan ini juga dipergunakan untuk memantau apakah hasil sesuai dengan yang diharapkan sehingga apabila tidak, maka akan dibuat langkah penyesuaian. 6. Recognizing yaitu tahapan ini meliputi segala macam bentuk penghargaan terhadap bentuk inovasi. Hal tidak hanya meliputi reward dalam bentuk finansial tapi dapat juga berbentuk kepercayaan, ucapan terima kasih yang tulus, serta bentuk promosi. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tahap dalam proses inovasi adalah sebagai berikut: a. Melihat peluang. Peluang muncul ketika ada persoalan yang muncul atau dipersepsikan sebagai suatu kesenjangan antara yang seharusnya dan realitanya. Oleh karenanya, perilaku inovatif dimulai dari ketrampilan melihat peluang. b. Mengeluarkan ide. Ketika dihadapkan suatu masalah atau dipersepsikan sebagai masalah maka gaya berfikir konvergen yang digunakan yaitu mengeluarkan ide yang sebanyak-banyaknya terhadap masalah yang ada. Dalam tahap ini kreativitas sangat diperlukan. c. Mengkaji ide. Tidak Semua ide dapat dipakai, maka dilakukan kajian terhadap ide yang muncul. Gaya berfikir divergen atau mengerucut mulai diterapkan. Salah satu dasar pertimbangan adalah seberapa besar ide tersebut mendatangkan kerugian dan keuntungan. Ide yang realistic yang diterima, sementara ide yang kurang realistic dibuang. Kajian dilakukan terus menerus sampai ditemukan alternative yang paling mempunyai probabilitas sukses yang paling besar. d. Implementasi. Dalam tahap ini, keberanian mengambil resiko sangat diperlukan. Resiko berkaitan dengan probabilitas kesuksesan dan kegagalan, oleh karenanya David Mc Clelland menyarankan pengambilan resiko sebaiknya dalam taraf sedang. Hal ini berakaitan dengan probabilitas untuk sukses yang disebabkan oleh kemampuan pengontrolan perilaku untuk mencapai tujuan atau berinovasi. e. Pengelolaan Perilaku Inovatif Bharawaj & Menon pada tahun 2000 melakukan survey lebih dari 600 unit bisnis mendapatkan hasil bahwa yang menentukan inovasi pada level organisasi adalah: (a) mekanisme kreativitas individual, (b) mekanisme kreativitas organisasi, dan (c) ke dua faktor secara bersama-sama (Hyland & Beckett, 2004). Ulrich (dalam Hyland & Beckett, 2004) mengatakan bahwa ada 3 premis yang berkaitan dengan inovasi yaitu persoalan inovasi, inovasi itu multifaceted, dan inovasi sebuah budaya Hickman & Raia (dalam Hyland & Beckett, 2004) mengatakan bahwa inovasi dapat terjadi dalam lingkungan yang berfikir divergen, imajinasi, ketidakaturan, uncertainty, dan toleransi terhadap ambigiusitas. Bukan dalam sistem berfikir konvergen yang mempertahankan aturan organisasi. Strategi apa yang perlu diperhatikan dalam memunculkan inovasi? Pertama, perlu mempertimbangkan pertambahan keuntungan yang akan dicapai. Hal ini dapat dilakukan melalui pengukuran sampai sejauh mana kompetitor akan sulit mengikuti langkah yang diambil. Kedua apakah ada kemungkinan untuk memperluas keuntungan yang akan diperoleh (Hussey, 2003). Dengan demikian, bagian akhir dari sebuah inovasi adalah sejauh mana langkah yang diambil dapat menguntungkan dan tidak diambil keuntungannya oleh pesaing dan mendapatkan keuntungan. Hussey berupaya membentuknya dalam tahapan yang disebut dengan EASIER yakni: a. Envisioning. Proses ini meliputi penyamaan pandangan mengenai masa depan untuk membentuk tujuan berinovasi. Visi ini harus meliputi ukuran, inovasi apa yang dilakukan untuk organisasi, ruang lingkup inovasi, dan bagaimana visi tersebut sesuai dengan visi perusahaan. b. Activating. Tahap ini meliputi penyampaian visi ke publik. Dengan demikian, akan tercapai sebuah komitmen terhadap visi sehingga strategi akan relevan dengan visi begitu pula dengan implementasi visi. c. Supporting. Dalam tahap ini merupakan upaya seorang pemimpin tidak hanya di dalam memberikan perintahdan instruksi kepada bawahan, namun juga keterampilan di dalam menginspirasi bawahannya untuk bertindak inovatif. Dalam hal ini diperlukan kepekaan pemimpin dalam memahami bawahannya. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya bersikap emphatic. d. Installing. Tahap ini merupakan tahapan implementasi. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah kompleksitas strategi yang diperlukan dalam berinovasi dan konsekuensi yang diterima. Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang di dalam mempertimbangkan implementasi sebuah inovasi: meyakinkan bahwa konsekuensi yang terjadi dapat dipahami kemudian, mengidentifikasi apakah tindakan yang dilakukan membawa perubahan, mengalokasikan tanggung jawab dari berbagai tindakan yang diterima, memprioritaskan tindakan yang diterima, memberikan anggaran yang sesuai, mengatur tim kerja dan struktur yang dibutuhkan, mengalokasikan orang-orang yang tepat, dan menentukan kebijakan yang dibutuhkan untuk memperlancar implementasi inovasi. e. Ensuring. Dalam tahap ini kegiatannya meliputi pemantauan dan evaluasi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa tindakan yang dilakukan sudah tepat waktu dan sesuai rencana. Apabila tidak sesuai dengan rencana maka rencana apa yang dapat diambil. Selain itu, tahapan ini juga dipergunakan untuk memantau apakah hasil sesuai dengan yang diharapkan sehingga apabila tidak, maka akan dibuat langkah penyesuaian. f. Recognizing. Dalam tahap ini meliputi segala macam bentuk penghargaan terhadap bentuk inovasi. Hal tidak hanya meliputi pengukuhan dalam bentuk financial tetapi dapat juga berbentuk kepercayaan, ucapan terima kasih yang tulus, serta bentuk promosi. Inovasi terjadi dalam setiap fase dalam bisnis, yang merupakan bagian esensial dari strategi bisnis. Namun demikian, inovasi bukan sekedar kreativitas individu (Adair, 1996). Stein & Woodman (Brazeal & Herbert,1997) mengatakan bahwa inovasi adalah implementasi yang berhasil dari ide-ide kreatif. Inovasi merupakan proses berfikir mengenai ide yang baru dalam rangka memuaskan pelanggan (Adair, 1996). Oleh karenanya, inovasi yang efektif harus melibatkan tiga dimensi yang saling tumpang tindih yaitu individu tim organisasi. Persoalannya organisasi tidak mempunyai ide yang baru, demikian juga dengan tim, tetapi yang mempunyai ide yang baru adalah individu. Oleh karenanya inovasi membutuhkan tim (Adair, 1996). Budaya atau kepribadian kelompok memainkan peran penting dalam inovasi. Beberapa budaya mendukung inovasi tetapi yang lain tidak. Ketika invididu seorang yang kreatif dan membangun sebuah tim dengan kemampuan pemecahan masalah yang kreatif, kurang optimal jika lingkungan organisasi kurang menghargai pendapat ideide baru (Adair, 1996). Organisasi inovatif dikatakan Bryd & Brown (2003) adalah sebagai berikut: a. adanya dorongan bagi para anggotanya untuk bekerja secara mandiri b. memberikan penghargaan kepada para anggota yang memiliki arahan tersendiri (inner-directed) dan mengembangkan ide-ide mereka c. menilai keunikan dan bakat tiap kontributor d. menampilkan ketangguhan ketika menghadapi hambatan e. mengetahui bagaimana cara berkembang di lingkungan yang ambigu/ tidak menentu f. menciptakan lingkungan yang setiap orang yang berada di dalamnya dihargai dan dinilai karena menjadi dirinya sendiri g. memperkenalkan perilaku penerimaan yang baik

Daftar Pustaka Adair, J. 1996. Effective Innovation. How to Stay Ahead of the Competition. London: Pan Books. De Jong, J & Hartog, D D. 2003. Leadership as a determinant of innovative behaviour. A Conceptual framework. http://www.eim.net/pdf-ez/H200303.pdf. 21 April 2006 Hyland, P.W & Beckett, R.C. 2004. Innovation and enhancement of enterprise capabilities International Journal of Technology Management and Sustainable Development. 3 (1) 35 46. Diakses melalui EBSCO Publisher 23 Maret 2005. Hussey, D.E (eds). 2003. The Innovation Challenge. New York: John Wiley & Sons http://infomgt.bi.no/euram/material/p-luno.doc http:/faculty.babson.edu/gordon/ manuscript/ECIS05.doc

INOVASI BISNIS: WARALABA Pengantar Jika berjalan-jalan di kota-kota besar di seluruh Indonesia, khususnya pusatpusat pembelajaan, pastilah akan kita temukan sederetan outlet makanan cepat saji seperti Mc Donald, KFC, Piza Hut, dll. Ketika anda berjalan-jalan di luar negeri, akan didapatkan sederetan nama-nama raksana bisnis di bidang cepat saji. Yang paling mengejutkan adalah layanan yang diberikan relative sama dan rasa hampir sama (sering kali sedikit disesuaikan dengan taste lokal). Sebagai referensi silahkan kunjungi situs web berikut ini: 1. Buana Bakery, alamat situs http://www.buanabakery.com/info_langkah.php 2. Country Lestari, alamat situs http://countrylestari.com/faq.html 3. Rumah Makan Wong Solo, alamat situs http://www.wongsolo.com/ 4. Pusat Pendidikan Widyaloka, alamat situs http://www.widyalokanet.com/waralaba.html

INOVASI PROSES BISNIS (Avin Fadilla Helmi )Kasus diambil dari Kompas, Rabu, 8 November 2006 Era Terbang dengan Tiket Murah. Terbang dengan membayar tiket mahal kini sudah tidak zaman lagi. Wilayah Asia yang secara geografis luas namun masih dilengkapi dengan infrastruktur kerata api dan jalan raya yang buruk, memang paling pas kalau dihubungkan dengan jaringan udara yang cepat, efisien, dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia dan juga Negara=negar alain, perkembangan angkutan udara yang ada sekarang ini mungkin tak akan terbayangkan beberapa tahun lalu. Perusahaan penerbangan dulu yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan diatur dengan ketat, membuat siapa pun tak pernah membayangkan armada penerbangan murah yang disebut budget airlined atau low-cost carrier (LCC) yang kemudian tumbuh subur di Asia Pasifik. Ketika LCC pertama muncul beberapa tahun silam, banyak yang pesimis kalau perusahaan Bahan diskusi Berdasarkan kasus tersebut, lakukan analisis dengan menggunakan pendekatan inovasi.

8