Click here to load reader

Manusia Sebagai Makhluk Individu Dan Makhluk Sosial

  • View
    93

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Manusia Sebagai Makhluk Individu Dan Makhluk Sosial

Text of Manusia Sebagai Makhluk Individu Dan Makhluk Sosial

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL

Disusun Oleh:Dzalilah Zharva Livia Asri(13030194004)Nur Mayanti(13030194012)Ianatusyarifah(13030194049)

JURUSAN KIMIAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS NEGERI SURABAYA2014

BAB IPENDAHULUAN

A. PendahuluanManusia adalah makhluk yang paling kompleks dibandingkan makhluk hidup lainnya. Kekompleksan ini tidak hanya menyangkut masalah fisik semata melainkan juag menyangkut kebutuhan hidupnya,pola perilaku, daya nalar, bahkan kehidupan yang dihadapinya. Berdasarkan itu semua manusia merupakan makhluk hidup tertinggi diantara makhluk hidup lainnya. Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebutsebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dankemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksidengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut juga dengan zoon politicon.Istilah manusia sebagi zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles yang artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai insan politik atau dalam istilah yang lebih populer manusiasebagi zoon politicon, mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas,seperti negara. Sebagai insan politik,manusia memiliki nilai-nilai yang bisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Argumen yang mendasari pernyataan ini adalah bahwa manusia sebagaimana binatang, hidupnya suka mengelompok. Hanya saja antara manusia dan binatang berbeda memiliki cara mengelompok yang berbeda, hewan mengandalkan naluri,sedangkan manusia berkelompok dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan akal pikirannya. Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerjasama. Selain itu juga adanya kepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam kelompok,antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas, nilai kebersamaan dan nilai berorganisasi. Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Melalui kelompok manusia bisamemenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa dikatakankebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhidengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai. Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagaimakluk sosial. Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompok dengan manusia yang lain. Perilaku berkelompok (kolektif) pada diri manusia, juga dimiliki oleh makluk hidup yang lain, seperti semut, lebah, burung bangau, rusa, dansebagainya, tetapi terdapat perbedaan yangesensial antara perilaku kolektif pada diri manusia dan perilaku kolektif pada binatang. Kehidupan berkelompok (perilaku kolektif) binatang bersifat naluri, artinya sudah pembawaan dari lahir, dengan demikian sifatnya statis yang terbentuk sebagai bawaan dari lahir. Contoh bentuk rumah lebah, sejak dahulu sampai sekarang tidak ada perubahan, demikian halnya dengan rumah semut dan hewan lainnya. Sebaliknya perilakukolektif manusia bersifat dinamis, berkembang, dan terjadi melalui prosesbelajar (learning process).

BAB IIPEMBAHASAN

A. Manusia Sebagai IndividuIndividu berasal dari bahasa Latin individium yang berarti sesuatu yang tidak dapat dibagi lagi. Dapat diartikan juga sebagai satu kesatuan yang terkecil dan terbatas. Manusia sebagai individu, bukan berarti manusia sebagai sesuatu yang keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan ang terbatas yanitu sebagai manusai perseorangan. Oleh karenanya sering ada istilah orang seorang atau manusia perseorangan.Menurut Triconomi, jiwa manusia dapat dibedakan menjadi: 1) cipta yang berarti manusia senantiasa berkreasi (bersifat kreatif) selalu mencari hal-hal yang baru, 2) karsa berarti suatu kehendak kodrat manusia untuk mengabadiakan diri kepada kekuasaan yang tertinggi, 3) rasa berarti adanya dorongan dalam diri manusia untuk mencapai keindahan rasa.Individu adalah seorang manusia yang memiliki peranan yang khas dalam lingkungan sosialnya juga mempunyai kepribadian sera polah tingkah laku yang spesifik. Proses yang meningkatkan ciri-ciri individualistas yang melekat pada seseorang sampai ia menjadi dirinya sendiri disebut proses individuasi atau aktualisasi diri.Sifat dan fungsi orang-orang disekitar kita adalah makhluk yang berdiri sendiri, dalam berbagai hal bersama-sama satu dengan yang lain tetapi dalam banyak hal menunjukkan banyak perbedaan. Hal ini menunjukkan tingkat peradaban manusai menjadi deferensiasi dengan corak dan tabiat yang semakin beragam. Timbulnya differensiasi bukan hanya disebabkan oleh pembawaan tetapi berkaitan dengan semua peradaban yang terjadi pada manusia seperti adat istiadat, bahasa, agama, hukum, paham, kebiasaan, ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dari generasi satu ke generasi berikutnya.Menurut pola pribadi, individu dalam bertingkah laku akan menimbulkan beberapa kemungkinan antara lain: (1) menyimpang dari norma kolektif, (2) kehilangan individualitasnya atau takhluk terhadap kolektif, (3) mempengaruhi masyarakat seperti pahlawan.Pengembangan individu menjadi seorang pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya sendiri melainkan juga didukung dan dihambat oleh kelompok yang ada di sekitarnya. Kondisi fisik dan kelengkapan anggota tubuh juga akan berpengaruh besar pada pengembangan pobadi seseorang. Kelengkapan anggota tubuh, ketajaman panca indra dan susunan jaringan syaraf berpengaruh terhadap pengembangan potensi diri seseorang. Hal ini memberikan suatu penjelasan bahwa manusia selain sebagai makhluk individu manusia juga merupakan makhluk sosial dan sekaligus makhluk ber-Ketuhanan. Sebagai makhluk individu, manusia mempunyai karakter yang khas menurut corak kepribadiannya sehingga antara manusia yang satu dengan manusai yang lain pasti berbeda. Demikian juga sebagai bagian manusia Indonesia tentu mempunyai karakter yang khas sehingga kepribadian manusia Indonesia Indonesia tentu mempunyai karakter yang khas dan berneda dengan bangsa lain. Sebagai makhluk sosial, manusia manusia harus mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Pada dasarnya, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan manusia lain. Sebagai makhluk ber-Ketuhanan, setiap individu harus benar-benar menyadari tentang adanya Tuhan, menyadari kebesaran Tuhan dan Kemahakuasaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Usaha untuk menumbuhkankembangkan manusia atau generasi suatu bangsa sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan sebagai makhluk ber-Ketuhanan penekanan ketiganya harus berjalan seiring, serasi, dan seimbang. Jangan sampai terlepas satu sama lain.B. KeluargaSecara umum keluarga diartikan sebagai suatu satuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang ditandai dengan adanya kerjasama ekonomi. Fungsi keluarga antara lain untuk berkembang biak, mensosialisasi atau mendidik anak, menolong, melindungi atau merawat. Deferensiasi peranan dalam keluarga antara lain fungsi solidaritas, alokasi ekonomi, alokasi kekuasaan, alokasi integrasi, dan ekspresi atau menyatakan diri. Deferensisasi penanan dalam keluarga dilakukan berdasarkan pertimbangan umur, perbedaan sex, generasi, perbedaan posisi ekonomi dan pembagian kekuasaan.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan KeluargaBeberapa faktor yang memegang peranan dalam pembentukan keluarga:a. Pemenuhan Dorongan Kebutuhan BiologisDorongan berhubungan dengan berbagai unsur kebudayaan akan melahirkan usaha untuk memiliki kawan hidup. Selanjutnya kebutuhan memuaskan dorongan biologis dengan pasangan hidup yang dipilihnya secara tetap secara tetap dan tenang tanpa persaingan diri.b. Dorongan untuk Mendapatkan AnakDorongan untuk mendapatkan anak amat kuat pada pihak perempuan sesuai kodratnya. Pada pihak laki-laki dorongan memiliki anak berhubungan dengan pertimbangan sosial seperti kebanggaan akan keturunan dan hasrat untuk mewariskan kekayaan dan status.c. Alasan-alasan Ekonomi Dalam hidupnya manusia selalu berusaha mencari nafkah. Dalam keluarga, suami dan istri melakukan fungsi ekonomi baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Hal ini dilakukan untuk menyempurnakan dan memberi kesenangan pada kehidupan manusia.2. Struktur KeluargaSeperti halnya lembaga, keluarga adalah suatu sistem norma dan tata cara yang diterima untuk menyelesaikan sejumlah tugas penting. Keluarga yang didasarkan atas pertalian perkawinan atau kehidupan suami istri maka disebut keluarga kehidupan suami istri(conjugal family). Saat ini istilah itu sering diacu pada keluarga batih(nuclear family). Keluarga hubungan kerabat sedarah(consanguine family) tidak didasarkan pada pertalian darah sejumlah orang kerabat. Keluarga hubungan kerabat sedarah adalah suatu klan luas dari saudara-saudara sedarah dengan pasangan dari anak-anak mereka. Istilah keluarga luas(extended family) seringkali digunakan untuk mengacu pada keluarga batih berikut kerabat lain (Paull B. Horton,1991:267-270).3. Fungsi-fungsi Dalam Keluargaa) Fungsi Pembentukan KepribadianDi dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadian kepada anak-anaknya. Peletakan kepribadian sudah dilakukan sejak anak-anak masih bayi. Pengalaman interaksi sosial dalam keluarga akan menjadi modal dasar dalam membentuk keribadian seseorang dan akan turut menentukan pola tingkah laku seseorang terhadap orang lain dalam pergaulannya di luar lingkungan keluarga.b) Fungsi ReproduksiYang dimaksud fungsi reproduksi adalah fungsi untuk menghasilkan keturunan atau generasi

Search related