17
MANAJEMEN CAIRAN DAN ELEKTROLIT PRA OPERASI DENGAN TERAPI REHIDRASI ORAL PENDAHULUAN Abstrak : Kami berhipotesis bahwa rehidrasi melalui terapi oral dengan menggunakan cairan rehidrasi oral mungkin efektif untuk manajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien bedah sebelum induksi anestesi umum, dan kami meneliti keamanan dan efektivitas dari terapi rehidrasi oral dibandingkan dengan terapi intravena. Metode : Lima puluh pasien wanita yang menjalani operasi payudara secara acak dialokasikan untuk dua kelompok. Sebelum masuk ke ruang operasi dan induksi anestesi umum, 25 pasien minum 1000 ml larutan rehidrasi oral ("oral group") dan 25 pasien yang diinfus dengan 1000 ml larutan elektrolit intravena ("intravenous group"). Parameter yang digunakan adalah konsentrasi elektrolit dalam serum dan urin, volume urin, tanda-tanda vital, muntah dan aspirasi, volume cairan faring-esophagus dan cairan lambung (EPGF), dan pengkajian kepuasan pasien dengan terapi (disurvei melaui kuesioner). Hasil : Setelah pengobatan, konsentrasi natrium serum dan hematokrit menurun dalam batas normal, secara signifikan Oral group lebih tinggi pada dibandingkan intravena group (natrium, 140,8 ± 2,9 mEq·l -1 pada kelompok oral dan 138,7 ± 1,9 mEq·l -1 pada kelompok intravena; P = 0,005; hematokrit, 39,03 ± 4,16% pada oral group dan 36,15 ± 3,41% pada intravena group; P = 0,01). Dari hasil glukosa serum tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Volume urin secara signifikan lebih besar pada oral group (864,9 ± 211,5 ml) dibandingkan pada intravena group (561,5 ± 216,0 ml; P <0,001). Ekskresi fraksional natrium (FEnA), sebagai indeks aliran darah ginjal, meningkat pada kedua kelompok setelah pengobatan (0,8 ± 0,5 pada kelompok oral dan 0,8 ± 0,3 pada kelompok intravena). Kepuasan pasien dengan terapi yang disukai adalah terapi rehidrasi oral, sebagaimana dikaji melalui penilaian faktor-faktor seperti "rasa lapar", "terjadinya mulut kering", dan

Manajemen Cairan Print

Embed Size (px)

DESCRIPTION

medikal bedah

Citation preview

Page 1: Manajemen Cairan Print

MANAJEMEN CAIRAN DAN ELEKTROLIT PRA OPERASI DENGAN TERAPI REHIDRASI ORAL

PENDAHULUANAbstrak : Kami berhipotesis bahwa rehidrasi melalui terapi oral dengan menggunakan cairan rehidrasi oral mungkin efektif untuk manajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien bedah sebelum induksi anestesi umum, dan kami meneliti keamanan dan efektivitas dari terapi rehidrasi oral dibandingkan dengan terapi intravena.

Metode : Lima puluh pasien wanita yang menjalani operasi payudara secara acak dialokasikan untuk dua kelompok. Sebelum masuk ke ruang operasi dan induksi anestesi umum, 25 pasien minum 1000 ml larutan rehidrasi oral ("oral group") dan 25 pasien yang diinfus dengan 1000 ml larutan elektrolit intravena ("intravenous group"). Parameter yang digunakan adalah konsentrasi elektrolit dalam serum dan urin, volume urin, tanda-tanda vital, muntah dan aspirasi, volume cairan faring-esophagus dan cairan lambung (EPGF), dan pengkajian kepuasan pasien dengan terapi (disurvei melaui kuesioner).

Hasil : Setelah pengobatan, konsentrasi natrium serum dan hematokrit menurun dalam batas normal, secara signifikan Oral group lebih tinggi pada dibandingkan intravena group (natrium, 140,8 ± 2,9 mEq·l -1 pada kelompok oral dan 138,7 ± 1,9 mEq·l-1 pada kelompok intravena; P = 0,005; hematokrit, 39,03 ± 4,16% pada oral group dan 36,15 ± 3,41% pada intravena group; P = 0,01). Dari hasil glukosa serum tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Volume urin secara signifikan lebih besar pada oral group (864,9 ± 211,5 ml) dibandingkan pada intravena group (561,5 ± 216,0 ml; P <0,001). Ekskresi fraksional natrium (FEnA), sebagai indeks aliran darah ginjal, meningkat pada kedua kelompok setelah pengobatan (0,8 ± 0,5 pada kelompok oral dan 0,8 ± 0,3 pada kelompok intravena). Kepuasan pasien dengan terapi yang disukai adalah terapi rehidrasi oral, sebagaimana dikaji melalui penilaian faktor-faktor seperti "rasa lapar", "terjadinya mulut kering", dan "pembatasan aktivitas fisik". Volume EPGF yang dikumpulkan setelah induksi anestesi secara signifikan terlihat bahwa pada kelompok mulut lebih kecil dibandingkan dengan kelompok intravena (6,03 ± 9,14 ml pada kelompok oral dan 21,76 ± 30,56 ml pada kelompok intravena; P <0,001). Tidak ada efek samping atau reaksi samping yang diamati dalam kelompok.

Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi rehidrasi oral dengan cairan rehidrasi oral sebelum operasi lebih unggul dibandingkan terapi intravena saat pra operasi untuk penyediaan air, elektrolit, dan karbohidrat, dan terapi ini harus dipertimbangkan sebagai alternatif

Page 2: Manajemen Cairan Print

sebagai terapi cairan intravena untuk manajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien bedah yang dipilih tidak ada alasan untuk curiga keterlambatan pengosongan lambung.

Kata kunci : manajemen pra operasi, Cairan Elektrolit. Terapi hedrasi oral

PENGANTAR Sejak 1970-an, terapi rehidrasi oral telah diakui aman dan secara

klinis efektif untuk pengobatan pasien dengan penyakit kolera [1-4]; itu dianggap sebagai terapi yang efektif untuk penanganan dehidrasi, di Amerika Serikat dan Uni Eropa hal ini telah menarik banyak minat. Juga, penggunaan solusi rehidrasi oral telah direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat untuk pengobatan pasien dengan dehidrasi ringan sampai moderat [5].

Berkaitan dengan pengelolaan pasien bedah, puasa pra operasi sejak hari sebelum operasi memang telah menjadi standar praktek untuk mencegah aspirasi pneumonia pada pasien yang mendapat anestesi umum [6]. Namun, karena kurangnya bukti ilmiah yang cukup, periode puasa pra operasi baru-baru ini dievaluasi ulang, dan komunitas anestesiologi di Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa telah merevisi pedoman praktek untuk puasa praoperasi, sehingga asupan cairan secara oral diijinkan sampai dengan 2 jam sebelum induksi anestesi untuk kelompok pasien bedah. Dan ia tidak ada alasan untuk curiga keterlambatan pengosongan lambung. Telah terbukti bahwa pemberian asupan cairan oral cairan hingga 2 jam sebelum induksi anestesi umumnya tidak meningkatkan volume atau keasaman cairan lambung [7-10]. Selain itu, hal ini merupakan pendekatan untuk meminimalkan stres yang berhubungan dengan operasi yang sesuai dengan manajemen pra operasi dan juga mengurangi komplikasi selanjutnya seperti yang telah disampaikan oleh Fearon et al. [11], karena pemulihan "ditingkatkan setelah operasi "(ERA) protokol, penenganan kelemahan karena puasa pra operasi dan keuntungan dari memberikan karbohidrat sebelum operasi dalam mengurangi retensi insulin pasca operasi. Seperti yang direkomendasikan oleh the World Health Organization (WHO), terapi rehidrasi oral [1] dianggap efektif untuk penanganan dehidrasi, dan metode ini sekarang lebih dipilih di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Dengan memperhatikan

Page 3: Manajemen Cairan Print

manajemen cairan dan elektrolit pasien bedah, terapi cairan intravena sebelum operasi masih merupakan praktek standar di Jepang [12].

Penelitian ini dilakukan untuk meneliti keamanan dan keefektifan dari terapi rehidrasi oral dan dibandingkan dengan terapi intravena untuk manajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien yang menerima anestesi umum sebelum operasi payudara. Secara spesifik, dalam penelitian ini, kami berhipotesis bahwa dalam pra operasi bila dilakukan penggantian terapi dengan larutan rehidrasi oral mungkin tidak akan kalah dengan terapi larutan intravena yang saat ini digunakan, dengan volume yang sama dari dua larutan yang digunakan.

SUBJEK DAN METODEPenelitian ini disetujui oleh institutional review board of the study

institution (Kanagawa Cancer Center, Japan) dan dilakukan sesuai dengan Deklarasi Helsinki. Dan secara sukarela informed consent telah diperoleh dari semua subjek yang terdaftar dalam penelitian.

Subyek adalah pasien wanita dengan status fisik klasifikasi I atau II dari American Society of anestesi (ASA), yang dijadwalkan untuk memasuki ruang operasi pada jam 13.00 untuk menjalani operasi payudara. Pasien sebelumnya menerima operasi gastroesophageal; pasien dengan berat badan 40 kg atau kurang atau 70 kg atau lebih; pasien dengan toleransi glukosa abnormal (glukosa puasa tingkat, lebih dari 110 mg · dl-1); dan pasien yang memakai obat yang mempengaruhi fungsi pencernaan, seperti pencahar, tidak diikutkan dalam penelitian.

Lima puluh pasien secara acak dialokasikan kedalam dua kelompok (25 pasien dalam kelompok intravena dan 25 pasien dikelompok oral), dan semua pasien menyelesaikan pengobatan.

Larutan elektrolit intravena yang diberikan mengandung air, fruktosa, dan elektrolit. Dikemas dalam kantong plastik 500 ml (Fructlact Injeksi, diklasifikasinya sebagai obat Jepang, Otsuka Pharmaceutical, Tokushima, Jepang,) dan larutan rehidrasi oral yang digunakan mengandung air, glukosa, dan elektrolit. Yang digunakan dalam penelitian ini dikemas dalam 500-ml botol plastik (OS-1; Otsuka Pharmaceutical). OS-1 adalah suatu larutan rehidrasi oral yang berbasis pada rekomendasi WHO bagi terapi rehidrasi oral [13,14], dan komposisi didasarkan pada pedoman dari American Academy of Pediatrics (AAP) [15]. Di Jepang, OS-1 telah disetujui sebagai makanan (klasifikasinya digunakan sebagai makanan diet khusus) dan berguna untuk penyediaan dan pemeliharaan air dan elektrolit pada pasien dengan dehidrasi ringan sampai sedang. Secara klinis penelitian ini, telah terbukti efektif untuk penyediaan air dan elektrolit pada pasien dengan dehidrasi, serta pasien pascaoperasi [16,17]. Komposisi dari cairan dalam penelitian ini ditunjukkan dalam Tabel 1.

Page 4: Manajemen Cairan Print

Tabel 1. Komposisi larutan rehidrasi oral dan larutan intravena dalam pemeliharaan elektrolitCairan Rehidrasi oral

(OS-1)Cairan pemeliharaan elektrolit Intravena

(Fructlact Injection; Otsuka Pharmaceutical,

Tokushima, Japan)Volume (ml)Energy (kcal)Carbohydrate (%)Electrolytes (mEq·l-1) Sodium (Na+) Potassium (K+) Magnesium (Mg2+) Lactate Chloride (Cl-) Phosphorus (mmol·l-1) pHOsmolarity

50050

2.5 (glucose 1.8)

50202

31502

3.9Approx. 270 mOsm·l-1

50054

2.7 (fructose)

5020—2050—4.8

Approx. 290 mOsm·l-1

Jadwal dari Protokol penelitian ini ditunjukkan pada Gambar. 1.Pasien mengkonsumsi diet standar pada jam 18.00 sehari sebelum operasi dan kemudian berpuasa (dengan air diizinkan sampai pada jam 21.00). Pada jam 08.00 pada hari operasi, diambil sampel darah dan urin sebelum pemberian sebagai data (Gambar 1). Kemudian pasien dikelompok intravena menerima 1000 ml cairan pemeliharaan elektrolit intravena dengan kecepatan 200 ml·h-1 diberikan selama periode 5 jam sampai masuk ke operasi kamar. Para pasien pada kelompok oral diberikan 1000 ml larutan rehidrasi oral dengan kecepatan 333 ml·h-1

dari jam 08.00 – 11.00. Sehubungan dengan dosis yang diberikan, 1000 ml dipilih untuk kedua kelompok, berdasarkan volume rehidrasi yang dibutuhkan untuk jangka waktu sekitar 12 jam pada subyek sehat dan dengan berat 50 kg, yang dihitung dengan aturan 4: 2: 1 [18]. Dalam kedua kelompok, tidak ada pembatasan kegiatan di lingkungan. Sehubungan dengan kondisi lingkungan, suhu ruangan dipertahankan pada sekitar 24 ° C.

Page 5: Manajemen Cairan Print

Gambar. 1. Jadwal penelitian dan pemeriksaan laboratorium pada kelompok oral (open circles) dan kelompok intravena (closed circles). Fructlact Injeksi (Otsuka Pharmaceutical, Tokushima, Jepang). OS-1, larutan rehidrasi oral (Otsuka Pharmaceutical).

Para pasien tidak dalam pra medikasi dan mereka berjalan ke ruang operasi. Anestesi diinduksi dengan propofol (1,5mg·kg-1), fentanil sitrat (2,0 ug·kg-1), dan vecuronium bromida (0,1 mg·kg-1). Sebuah laring masker (Proseal #3; Laryngeal Mask Company, Henleyon-Thames, UK) digunakan untuk mengamankan jalan napas. Darah dan urin diambil sampel setelahnya sebagai pendataan (Gambar 1) dalam waktu 3 menit setelah induksi anestesi, dan volume dari larutan intravena diberikan selama periode yang kurang dari 10 ml.

Gastric tube (14-Fr, Terumo, Tokyo, Jepang) dimasukkan sedalam 75 cm dari bagian ujung drain tube dari masker laring untuk pengambilan sampel cairan lambung. Selang kemudian ditarik sampai kedalaman 45 cm dari ujung drain tube untuk sampel cairan kerongkongan. Prosedur ini diulang tiga kali, dan gastric tube kemudian ditarik sampai ke faring untuk pengambilan sampel cairan faring. Dalam pengambilan sampel dari cairan kerongkongan-faring dan cairan lambung (EPGF) dilakukan oleh orang yang sama.

Parameter pemeriksaan dan pengamatan serta jadwal ditampilkan pada Gambar 1. Setelah operasi, pasien disurvei melalui kuesioner tentang kepuasan mereka terhadap terapi cairan yang diberikan. Kami membandingkan kejadian muntah dan aspirasi pada saat induksi anestesi

Page 6: Manajemen Cairan Print

antara kedua kelompok, dan juga membandingkan EPGF yang berkaitan dengan volume dan komposisi. Untuk menilai aspirasi paru diperiksa melalui pemantauan oksigenasi (menggunakan oksimeter pulsa) dan dada sinar-X , pemeriksaan dilakukan pada hari yang sama setelah operasi. Untuk silence regurgitasi tidak diperiksa. Untuk analisis komposisi EPGF, pengkajian konsentrasi klorida dan kalium dinilai sebagai indeks dari keberadaan sisa rehidrasi oral larutan. Konsentrasi natrium tidak dinilai karena komposisi mirip cairan lambung dan larutan rehidrasi oral. Efek dari penyediaan air, elektrolit, dan karbohidrat dinilai dengan mengevaluasi perubahan dari data klinis laboratorium. Perubahan elektrolit serum (natrium, kalium, dan klorida), glukosa, kreatinin, dan hematokrit nilai-nilai, serta nilai-nilai kemih (urin pra operasi volume, natrium, dan kreatinin), dibandingkan antara kedua kelompok. Untuk dapat memperkirakan aliran darah ginjal, ekskresi fraksional natrium (FEnA) dan perubahan dalam FEnA (ΔFENa) dibandingkan antara kelompok dan dilakuakn setelah rehidrasi. Tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh diperiksa pada jam 06.00 dan 12.30 (ketika berangkat dari bangsal keruang operasi) dilakukan pada hari operasi, sebelum dan sesudah induksi anestesi, dan pada 11. 00 jam pada hari setelah operasi lalu bandingkan antara kelompok. Tekanan darah dan denyut nadi diukur pada lengan atas terikat dengan manset, menggunakan monitor di samping tempat tidur (BSM-2301; Nihon Koden, Tokyo, Jepang). Suhu tubuh diukur di ketiak kanan, dengan menggunakan sebuah termometer elektronik (ET-C202P01; Terumo).

Sebagai tambahan terhadap penilaian efektivitas diatas, semuanya didasarkan pada hasil data laboratorium klinis, kejadian tingkat perasaan lapar, mulut kering, dan perasaan pembatasan dalam kegiatan fisik, survei menggunakan kuesioner diberikan kepada pasien setelah operasi, yang dibandingkan antara dua kelompok untuk menilai kepuasan pasien terhadap terapi cairan yang diberikan.

Pengukuran elektrolit serum dan konsentrasi glukosa, urin, dan EPGF diukur menggunakan penganalisis otomatis (Hitachi 7170S; Hitachi High-Technologies, Tokyo, Jepang), untuk pengukuran jumlah sel darah diukur menggunakan penganalisis sel darah otomatis (Sysmex XE-2100; Sysmex TMC, Kobe, Jepang), dan pengukuran pH diukur menggunakan pH meter (B-211, Horiba, Kyoto, Jepang).

Analisis StatistikTingkat kejadian muntah dan aspirasi dianalisis menggunakan uji

χ2 (dua-sisi pada α = 0,05). Pemerolehan data statistik deskriptif untuk menilai volume dan komposisi EPGF dari setiap kelompok, dianalisis menggunakan Wilcoxon tes (dua sisi pada α = 0,05). Penilaian deskriptif statistik untuk elektrolit serum (natrium, kalium, dan klorida) glukosa,

Page 7: Manajemen Cairan Print

serum, serum kreatinin, hematokrit, volume urine, natrium urin, dan kreatinin urin dianalisis menggunakan uji-T berpasangan (dua-sisi pada α = 0,05). Perbedaan antara tiap kelompok dalam penilaian pre treatment diamati (dua-sisi pada α = 0,05), pasca-treatment yang diamati nilainya disesuaikan (diuji untuk least square pasca-pengobatan dinilai dengan menggunakan value pretreatment sebagai kovariat), termasuk value pre treatment dalam model analisis (dua-sisi pada α = 0,05). Sehubungan dengan tanda-tanda vital, statistik deskriptif diperoleh untuk masing-masing kelompok pada setiap pengukuran titik waktu dan dianalisis menilai perbedaan rata-rata dari waktu ke waktu menggunakan model marjinal [19]. Penilaian FEnA dianalisis menggunakan uji Wilcoxon (dua sisi di α = 0,05). Parameter untuk menilai kepuasan pasien dianalisis menggunakan uji χ2 (dua-sisi pada α = 0,05). Untuk analisis statistik, digunakan paket perangkat lunak (Release 8.2 TS Tingkat 02M0; SAS Institute Jepang, Tokyo, Jepang).

HASILTidak ada perbedaan signifikan yang diamati untuk usia, tubuh

berat badan, tinggi, penyakit utama, status fisik ASA, atau Prosedur bedah antara kedua kelompok (Tabel 2). Tidak ada perbedaan antara kedua kelompok dalam data laboratorium sebelum treatment, kecuali untuk serum klorida (Gambar 2). Obat yang diberikan pada pasien adalah sama, dan tidak ada penggunaan diuretik. Kreatinin nilai yang selama 24 jam berada dalam batas yang normal. Secara keseluruhan, karakteristik baseline dari kedua kelompok menunjukkan tidak ada perbedaan yang akan mempengaruhi interpretasi hasil penelitian.

Page 8: Manajemen Cairan Print

Gambar 2. Nilai serum elektrolit (natrium, kalium, dan klorida), hematokrit, serum glukosa, dan kreatinin serum. * P = 0,006 diperoleh dari analisis yang disesuaikan dengan menyertakan nilai pretreatment dalam model analisis.

Tabel 2. Dasar karateristik pasienOral group Intravenous

groupStatistical analysisaP value

Number of patients, female

25 25

Age (years)¡Ý20, <40¡Ý40, <60¡Ý60, <80¡Ý80Mean ± SD

312100

55.8 ± 11.4

015100

57.3 ± 10.0

P = 0.29

Body weight (kg)<50¡Ý50, <60¡Ý60, <70Mean ± SD

4147

56.3 ± 6.6

5146

54.8 ± 7.1

P = 1.00

Height (cm)<150¡Ý150, <160

318

314

P = 0.44

Page 9: Manajemen Cairan Print

¡Ý160, <170Mean ±SD

4155.0 ± 4.5

8156.3 ± 6.7

DiagnosisBreast cancerOther

250

250

ASA physical status classifycation

ASA IASA II

187

232

P = 0.14

Surgical procedureMastectomyConservative

223

421

P = 0.67

Kelompok oral yang mendapatkan terapi rehidrasi oral dan kelompok intravena mendapatkan larutan meintenence elektrolit intravena ASA, American Society of anestesi Fisher’s exact test (α = 0.15)

Kejadian seperti muntah dan aspirasi terkait dengan induksi anestesi umum tidak diamati. Gambar 3 menunjukkan hasil data dari EPGF. Secara signifikan volume EPGF lebih rendah pada kelompok oral (6 ± 9 ml pada kelompok oral dan 22 ± 31 ml pada kelompok intravena; P <0,001, dinyatakan sebagai 0,1 ± 0,2 ml · kg-1 pada kelompok oral dan 0,4 ± 0,5 ml · kg-1 pada kelompok intravena; P <0,001). Volume maksimum EPGF adalah 42 ml pada kelompok oral dan 130 ml pada kelompok intravena, dan tidak ada perbedaan dalam komposisi dari cairan yang diamati antara dua kelompok. Berdasarkan konsentrasi elektrolit dan nilai pH, sampel EPGF pada kelompok oral yang tampak seperti campuran cairan lambung dan cairan faring.

Page 10: Manajemen Cairan Print

Gambar 3. Komposisi dan total volume cairan esophageal-pharyngeal dan cairan lambung (EPGF)

Data laboratorium ditunjukkan pada Gambar. 2 dan 4. Pasca treatment (rehidrasi), konsentrasi serum natrium dan nilai hematokrit, yang serupa di kedua kelompok sebelum pengobatan, berkurang pada kelompok intravena (natrium, 140,8 ± 2,9 mEq·l-1 pada kelompok oral dan 138,7 ± 1,9 mEq·l-1 pada kelompok intravena; P = 0,005; hematokrit, 39,03 ± 4,16% pada kelompok oral dan 36,15 ± 3,41% pada kelompok intravena; P = 0,01). Konsentrasi klorida serum pasca treatment serupa pada kedua kelompok (105,2 ± 2,6 mEq·l-1 pada kelompok oral dan 105,2 ± 1,8 mEq·l-1 pada kelompok intravena), perbedaan signifikan diamati (P = 0,006) ketika disesuaikan dengan nilai-nilai pre treatment (diuji untuk sarana kuadrat terkecil pasca-perawatan nilai yang menggunakan nilai pra treatment sebagai kovariat). Tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan pada serum kreatinin dan glukosa dari treatment yang dilakukan. Konsentrasi urin natrium dari treatment yang dilakukan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok oral (132 ± 36 mEq·l-1 pada kelompok oral dan 74 ± 42 mEq·l-1 pada kelompok intravena; P <0,001), dan volume urin secara signifakan juga lebih besar pada kelompok oral (864,9 ± 211,5 ml pada kelompok oral dan 561,5 ± 216,0 ml pada kelompok intravena; P <0,001, dinyatakan sebagai 15,6 ± 4,2 ml·kg-1

pada kelompok oral dan 10,4 ± 4,4 ml·kg-1 pada kelompok intravena; P <0,001: ekskresi natrium urin 117,9 ± 51,2 mEq pada kelompok oral dan 36,8 ± 18,0 mEq pada kelompok intravena). FEnA meningkat pada kedua kelompok (0,8 ± 0,5 pada kelompok oral dan 0,8 ± 0,3 pada kelompok intravena) dan ΔFENa tidak menunjukkan perbedaanyang signifikan

Page 11: Manajemen Cairan Print

antara kedua kelompok. Berkenaan dengan tanda-tanda vital, tekanan darah (sistolik/diastolik) dan denyut nadi tidak terdapat berbeda yang signifikan diantara kelompok. Pada pemeriksaan suhu tubuh didapatkan perbedaan signifikan diantara kelompok (P = 0,01).

Gambar 4. Natrium urin, kreatinin, FEnA, ΔFENa, dan volum urin volume (dari awal rehidrasi sampai induksi anestesi). Ekskresi natrium urin 117,9 ± 51,2 mEq pada kelompok oral dan 36,8 ± 18,0 mEq pada kelompok intravena. * P = 0,08 diperoleh dari analisis yang disesuaikan dengan nilai-nilai pre treatment dalam model analisis

Pertanyaan dan jawaban dalam survey kuesioner ditampilkan dalam Tabel 3. Jawaban yang diperoleh dari 50 pasien (100% tingkat respons). Sedikit pasien dari kelompok oral yang melaporkan rasa lapar, mulut kering, dan pembatasan dalam kegiatan fisik saat menunggu untuk operasi (P=0,04, P=0,001, dan P<0,001, masing-masing). Hasil yang baik (yakni, hasil yang mendukung tanggapan) diperoleh dari kelompok oral.

Tidak ada efek samping atau reaksi sampingan seperti muntah dan aspirasi paru yang diamati pada kedua kelompok.

Tabel 3. Kepuasan pasien (Q & A) dengan terapi (terapi rehidrasi oral atau terapi intravena)

Questions Groups Answers: Statistical

Page 12: Manajemen Cairan Print

Numberand % of patients

analysisaP value

Q 1Apakah Anda merasa lapar sebelum operasi?(rasa lapar)

Oral group

Intravenous group

Yes 5 (20%)No 20 (80%)Yes 12 (48%)No 12 (48%)Diffi cult to answer

P = 0.04

Q 2Apakah mulut Anda kering sebelum operasi?(mulut kering)

Oral group

Intravenous group

Yes 4 (16%)No 21 (84%)Yes 16 (64%)No 9 (36%)

P = 0.001

Q 3Apakah Anda merasa terbatasi dalam kegiatan fisik selama terapi?(perasaan pembatasan dalam kegiatan fisik)

Oral group

Intravenous group

Yes 1 (4%)No 24 (96%)Yes 16 (64%)No 9 (36%)

P < 0.001

Oral group, 25 patients; intravenous group, 25 patientsQ & A, question and answera χ2 test, α = 0.05

DISKUSIKami menganggap bahwa cairan rehidrasi oral efektif untuk

manajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien bedah yang mungkin mengalami dehidrasi, dan kami meneliti keamanan dan efektivitas terapi rehidrasi oral dibandingkan dengan terapi intravena.

Meskipun tidak ada kasus aspirasi atau muntah pada saat induksi anestesi umum yang diamati pada penelitian ini, jumlahnya kasus tidak cukup banyak untuk menarik kesimpulan yang benar-banar valid tentang risiko regurgitasi lambung atau paru aspirasi dengan rehidrasi oral sebelum operasi. Telah dilaporkan bahwa ada risiko aspirasi jika volume isi lambung melebihi 200 ml pada saat induksi anestesi [7], tetapi dalam penelitian ini, tidak ada pasien dari kedua kelompok memiliki volume isi lambung lebih dari 200 ml volume total EPGF. Dari pengamatan ini didapatkan bahwa volume total EPGF lebih kecil pada kelompok oral dibandingkan dengan kelompok intravena, dan alasannya dimungkinkan

Page 13: Manajemen Cairan Print

karena osmolaritas, kepadatan kalori, dan pH larutan rehidrasi oral yang diberikan, merangsang motilitas lambung. Nilai pH EPGF tinggi, yang terjadi mungkin karena kontaminasi oleh air liur, karena sampel yang diambil diperoleh dekat dengan faring. Berkenaan dengan efektivitas terapi oral dan terapi intravena, FEnA dinilai sebagai indeks yang mencerminkan efek penambahan air. FEnA adalah nilai yang menunjukkan persentase natrium yang difiltrasi oleh kapiler glomerulus di ginjal dan indeks kepekaan dari aliran darah di ginjal darah pada subyek dengan fungsi ginjal normal, seperti yang terdaftar dalam penelitian ini [20]. Pada penelitian ini, karena efek puasa pra operasi dari malam sebelum hari operasi, banyak pasien menunjukkan FEnA rendah. Setelah rehidrasi, serum natrium dan hematokrit menjadi lebih rendah pada kelompok intravena dibandingkan kelompok oral. Mengingat ekskresi urin dan konsentrasi natrium yang tinggi pada kelompok oral, perbedaan nilai serum natrium antara kelompok (serta perbedaan nilai hematokrit) dianggap berkaitan dengan perbedaan kecepatan rehidrasi dan waktu rehidrasi diantara kelompok. umumnya, ketika volume sirkulasi darah meningkat akan seiring dengan rehidrasi, peningkatan aliran darah ginjal akan terdeteksi oleh sel-sel juxtaglomeruler di ginjal, dan sebagai hasilnya, sekresi renin akan ditekan dan sekresi angiotensin-aldosteron juga akan dikurangi. Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa volume urin dan ekskresi natrium urin lebih besar pada kelompok oral, dan yang berarti bahwa cairan dan elektrolit lebih cepat diserap saluran pencernaan dari pemberian makanan bolus secara dibandingkan dengan terus-menerus pemberian melalui intravena (seperti yang dilakukan pada kelompok intravena), dan karenanya pada kelompok oral renin dan aldosteron akan ditakan. Namun, berdasarkan pemberian makanan, setelah rehidrasi, konsentrasi serum natrium dan nilai hematokrit berkurang dan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok yang diamati terkait FEnA dan ΔFENa , tekanan darah, dan denyut nadi, sehingga dapat disimpulkan bahwa rehidrasi oral efektif untuk penambahan air dan elektrolit serta pemeliharaan pada pasien pra operasi.

Oleh karena larutan (OS-1) yang digunakan dalam penelitian mengandung karbohidrat 2,5%, serum konsentrasi glukosa berada dalam yang normal batas. Telah dilaporkan bahwa karbohidrat sebelum operasi meminimalkan resistensi insulin pasca operasi dan penekanan imun pasca operasi, sehingga membantu mengurangi komplikasi pascaoperasi [21,22]; melalui asupan cairan oral yang mengandung karbohidrat dianggap tepat karena berarti menyediakan sumber karbohidrat. Dan terakhir, berkaitan dengan kepuasan pasien terhadap terapi, pasien kelompok oral menyatakan kepuasan yang lebih tinggi. Seperti dilaporkan oleh Nygren et al. [23], dengan pemberian oral karbohidrat

Page 14: Manajemen Cairan Print

sebelum operasi membantu untuk mengurangi kecemasan dan juga mengurangi mulut kering dan perasaan lapar. Menyediakan karbohidrat dan air secara oral telah berkontribusi pada kepuasan yang lebih tinggi pada kelompok oral dalam penelitian ini.

KESIMPULANDalam penelitian ini, terapi rehidrasi oral dengan 1000 ml larutan sebelum operasi efektif untuk penyediaan cairan dan elektrolit, dan tidak menunjukkan efek pada parameter klinis, terapi juga diterima dengan baik oleh pasien, sebagaimana dinilai oleh faktor-faktor seperti rasa lapar, terjadinya mulut kering, dan perasaan pembatasan aktivitas fisik, dibandingkan dengan terapi intravena. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi rehidrasi oral pra operasi lebih unggul dibandingkan intravena terapi dalam penyediaan air, elektrolit, dan karbohidrat, dan terapi oral ini harus dipertimbangkan sebagai alternatif untuk menajemen cairan dan elektrolit pra operasi pada pasien bedah dan tidak ada alasan untuk mencurigai keterlambatan pengosongan lambung.

Ucapan Terima Kasih. Didukung oleh Dana Penelitian RS Kanker Kanagawa Prefectural (Kanagawa, Jepang).