makalah studi kasus proteksionisme

  • Published on
    13-Jul-2015

  • View
    734

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Setelah berakhirnya Perang Dunia II (PD II), kawasan Asia Timur adalah satu-satunya kawasan di dunia yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kontinyu, dan Jepang adalah negara yang mengalami perekonomian paling sukses di antara negara Asia Timur lainnya1. Pendapatan per kapita yang tingi, SDM yang memadai dan factor factor lainnya membuat negara negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi di dunia. Yang sangat menakjubkan adalah bangkitnya beberapa negara Asia yang muncul sebagai kekuatan dunia yang baru menyusul Jepang, menghapuskan stereotype bahwa negara Eropa dan Amerika dan Barat lainnya adalah negara maju dan tidak ada yang lain. Negara tersebut diantaranya China dan Korea Selatan. Setelah bangkit dari kejatuhan pada PD II, Jepang mencapai pertumbuhan ekonomi secara ajaib (economic miracle) yang menimbulkan banyak

kecemburuan dari negara-negara lain. Salah satu faktor yang berkontribusi besar terhadap kebangkitannya adalah adanya keeratan hubungan antara negara dan pasar (state-market) yang sering disebut sebagai Japan Inc. Negara dan pasar

Lucien Ellington, Learning from the Japanese Economy (updated and revised September 2004), dalam http://www.indiana.edu/~japan/digest15.html, diakses tanggal 26 Desember 2011

1

1

bekerja sama sebagai tim dalam membawa negara kepada ekonomi terbesar kedua di dunia. 2 Jepang pun mulai dikenal sebagi negara dengan kekuatan industri yang besar, dan perekonomiannya yang bersifat pasar bebas menjadikannya pasar pertukaran mata uang (market exchange rates) terbesar kedua di dunia dengan daya beli (purchasing parity power) terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Cina. Perekonomiannya sangat efisien dan kompetitif dalam hal perdagangan internasional3. Jepang mengalami bencana dan mengakibatkan kemerosotan ekonomi baru baru ini4. Bencana itu adalah musibah gempa bumi dan disusul kebocoran reactor nuklirnya di daerah Fukushima. Akibat dari bencana itu, Jepang malah semakin terpuruk ekonominya. Negara ataupun pihak yang harusnya membantu, malah menjauh. Terbukti dengan kebijakan proteksionisme yang dikeluarkan oleh Uni Eropa, menunjukkan sebuah sikap bahwa mereka (Uni Eropa) tidak concern dengan hal hal yang terjadi diluar mereka. Yang semata mata mereka lakukan hanyalah bagaimana mendapatkan keuntungan dari bekerjasama dengan Jepang. Akibat dari kebijakan proteksionisme yang dikleuarkan oleh Uni Eropa tersebut, perekonomian Jepang menghadapi batu sandungan untuk bangkit dari keterpurukan. Jepang adalah negara penghasil komoditas pangan bagi Amerika2 David N. Balaam & Michael Veseth, Introduction to International Political Economy: 2nd edition, (New Jersey: Prentice Hall,Inc.,2001), hal.272. 3

Asia : The best bet for businesses, http://www.atimes.com/atimes/Japan/GH02Dh01.html, diakses tanggal 18 Desember 2011 4 Susanti,Jepang Catat Defisit Perdaganfan Di Bulan Oktober. Diakses 26 Desember, 2011, dari okezone: www.economy.okezone.com

2

Serikat dan Uni Eropa. Dan secara otomatis, akibat dari bencana yang dialami Jepang, terutama terkait nuklir nya yang mengalami kebocoran, otomatis akan mempengaruhi ekspor komoditas nya. Karena, mayoritas Komoditas ekspor Jepang ke Amerika mupun Uni Eropa adalah berasal dari daerah terdekat dengan lokasi kebocoran nuklir, terutama fukushima dengan komoditi bahan pangannya yang berkualitas ekspor ke AS dan beberapa negara Eropa. Uni Eropa yang mengetahui Jepang mengalami kebocoran nuklir, bukannya membantu tetapi malah menerapkan kebijakan protksionisme dengan alasan mereka mengalami krisis pula5. Uni Eropa memberhentikan sementara impor sayur-sayuran dari Jepang, dan Uni Eropa menggunakan produk lokal mereka dan menahan masuknya produk impor Jepang dengan alasan takut untuk mengimpor bahan yang dikhawatirkan telah terkontaminasi nuklir. Khususnya dalam Hubungan Internasional, gejala proteksionisme ini menarik untuk dibahas terkait dengan tindakan Eropa dan menyikapi kasus kebocoran nuklir di negara Jepang yang menjadi salah satu mitra kerjasama terbesar mereka. Jepang menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi dan perdagangan dengan negara negara Eropa, baik yang tergabung dalam Uni Eropa maupun tidak, termasuk juga negara Amerika. Pasca datangnya bencana tsunami yang melanda Jepang pada tahun 2011 menghancurkan struktur ekonomi mereka, terlebih lagi disusul oleh kebocoran reactor nuklir yang mereka miliki, tepatnya di daerah prefektur Fukushima. Dua bencana yang melanda jepang ini jelas berimbas

5

Kusdiantoro, Y. Eropa krisis, ekspor Jepang melambat. Diakses 26 juni, 2011, dari okezone: www.economy.okezone.com

3

pada perekonomian mereka, khususnya di bidang ekspor pada bidang pertanian mereka6. Karena mereka juga mengekspor produk produk pangan mereka ke AS dan Eropa, maka dampak dari bencana kebocoran nuklir ini adalah kebijakan proteksionisme yang dikeluarkan oleh negara negara yang mengekspor produkproduk pangan dari Jepang. Jelas ini menjadi mimpi buruk bagi Jepang. Akibatnya, Jepang mengalami defisit perdagangan yang buruk, terlebih lebih akibat dari kebijakan proteksionisme yang dikeluarkan oleh Eropa dan negara-negara yang mengimpor produk pangan dari Jepang. Sebenarnya banyak pihak yang melarang kebijakan proteksionisme ini, karena akan merugikan pihak produsen / pengekspor barang barang tertentu. Sebelum ada kebijakan proteksionisme ini, Jepang dengan Uni Eropa telah mengadakan kerjasama di bidang ekonomi, khususnya di bidang produk pangan, elektronik dan otomotif.

I.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan penelitian yang akan diangkat adalah: Mengapa Eropa melakukan kebijakan proteksionisme dan apa faktor penyebab tindakan proteksionisme tersebut?

y

Anonym (n.d.). Japan : Partially meltdown likely at 2nd reactor. Retrieved December, 26, 2011, from USATODAY: www.USATODAY.com

6

4

I.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah: a. Memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian HI b. Mengetahui secara mendalam kasus nuklir di Jepang dan akibatnya. Manfaat penelitian ini adalah: a. Bisa menjelaskan fenomena yang terjadi dalam suatu kasus b. Mengetahui apa motif munculnya proteksionisme c. Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu dengan baik. I.4. METODOLOGI PENELITIAN I.4.1. Tipe Penelitian Penelitian ini termasuk ke dalam tipe penelitian deskriptif. Penelitian ini berupaya untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi motif Uni Eropa melakukan kebijakan Proteksionisme ditengha krisis yang melanda keduanya. Serta, penelitian ini berupaya untuk mengungkap alasan-alasan yang belum terungkap mengenai Proteksionisme Uni Eropa ke Jepang. I.4.2. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini memfokuskan pada pola hubungan atau intensitas hubungan kerjasama antara Uni Eropa dan Jepang sebelum kasus nuklir Fukushima dan setelahnya. Namun jika kemudian ditemukan sejumlah data-data yang tidak berasal dari kurun waktu yang telah ditentukan diatas maka hal itu akan dianggap

5

sebagai informasi tambahan yang mungkin memiliki peranan yang cukup penting dalam melaksanakan dan menyelesaikan penelitian yang dilakukan. I.4.3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan datanya adalah library research (Singarimbun, 1989). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif melalui studi kepustakaan yaitu dengan memanfaatkan sumber informasi yang terdapat dalam perpustakaan dan jasa informasi yang tersedia, yang berhubungan dengan permasalahan penelitian tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 KAJIAN TEORI II.1.1 Proteksionisme Proteksionisme adalah kebijakan ekonomi yang membatasi perdagangan antarnegara melalui cara tata niaga, pemberlakuan tarif bea masuk impor (tariff protection), jalan pembatasan kuota (non-tariff protection), sistem kenaikan tarif dan aturan berbagai upaya menekan impor bahkan larangan impor7. Pendeknya, apa pun ancaman terhadap produk lokal harus diminimalkan. Namun, proteksionisme ini bertentangan dengan prinsip pasar bebas.

Frieden, J. and Lake D. International Political Economy : Perspective On Global Power and Wealth, Fourth Edition. 306

7

6

Sebenarnya, perdebatan antara pengaplikasian kebijakan proteksionis ini masih menuai banyak pro dan kontra. Di satu sisi, ada pihak yang setuju dengan adanya proteksionisme ini adalah karena mereka ingin melindungi produk-produk lokal dari serbuan barang barang asing (impor). Dengan melindungi produk lokal, otomatis mereka akan menjaga stabilitas perekonomian domestic serta melindungi komoditi ekspor mereka agar bisa bersaing di kelas nasional bahkan internasional. Di samping, produk lokal yang dilindungi ini biasanya merupakan komoditas ekspor yang bila disubsitusi dengan produk impor maka akan menghambat

berkembanganya kualitas produk dalam negeri. Sisi lain tidak menyetujui adanya kebijakan proteksionis ini karena kebijakan ini sangat tidak kompeten apabila diterapkan dalam kenyataan ekonomi saat ini. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa dalam dunia globalisasi yang menjunjung tinggi adanya pasar bebas ini, kebijakan proteksionis ini justru akan menghambat terwujudnya pasar yang bebas dan terbuka seperti yang diekspektasikan. Adanya kebijakan akan menghalangi masuknya investor investor dari negara ataupun pihak pihak lain yang ingin membuka suatu pasar yang bebas yang ingin diterapkan di dunia modern ini. Singkatnya, mereka yang tidak setuju adanya proteksionis ini karena pasar bebas akan sulit diwujudkan pada era globalisasi ini. Garis besar proteksionisme Ditengah tengah rumitnya perdebatan antara pro dan kontra terhadap kebijakan preteksionisme ini, sebenarnya kita semua hanya perlu menaruh

7

perhatian kita terhadap beberapa hal penting saja.2 Hal penting itu menurut Murray N. Rothbard ada 28: Pertama, proteksionisme itu adalah hanya kekuatan untuk mengekang perdagangan saja. Terlepas dari apa yang sutau pemerintahan inginkan demi tercapainya kepentingan ekonomi mereka, proteksionisme bisa digunakan atau ditinggalkan demi kepentingan ekonominya. Yang kedua, menurut beliau adalah apa saja yang akan terjadi pada konsumen. Apakah nantinya konsumen itu akan diuntungkan dengan adanya kebijakan proteksionis ini tadi ataukah malah semakin dirugikan dengan adanya kebijakan ini tadi. Akan tetapi, dari perdebatan yang ada dan poin poin yang perlu diperhatikan tersebut, kita akan selalu menemukan bahwa pada kenyataannya, kebijakan proteksionisme ini akan selalu berujung pada fungsinya yang melumpuhkan, memaksakan dan mengeksploitasi pihak pihak lain. Kerugian yang akan timbul tidak hanya pada produsen lokal saja, bahkan sampai konsumen asing pun akan terkena imbas dari kebijakan proteksionis ini tadi. Bagi Jepang, kebijakan proteksionisme ini akan semakin memperlambat bangkitnya

y

y

perekonomian mereka, karena kebijakan ini membuat mereka dibanned oleh negara negara yang sebelumnya mengimpor produk produk ekspor dari Jepang.

8

Rothbard, M. N. (1986). Protectionism and The Destruction of Prosperity. Monograph , 1-6

8

II.1.2 Teori Perdagangan Dunia Teori perdagangan dunia mempunyai thesis dasar bahwa setiap negara mempunyai keunggulan komparatif absolute dan relative dalam menghasilkan suatu komoditas dibandingkan negara lain9. Dalam kasus ini, Jepang memiliki keunggulan di bidang produksi bahan bahan pangan. Suatu negara akan mengekspor komoditas yang memiliki keungguan komparatif tersebut dan mengimpor komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif yang lebih rendah. Perdagangan antar negara ini akan membawa dunia pada penggunaan sumber daya langka secara lebih efisien dan setiap negara dapat melakukan perdagangan bebaas yang menguntungkan dengan melakukan spesalisasi sesuai dengan keungulan komparatif yang dimilikinya. Prinsip yang sederhana ini merupakan dasar yang tak tergoyahkan dalam teori perdagangan internasional (Samuelson dan Nordhaus, 1992). Karena teori perdagangan bebas ini membawa dampak positif, sebagian besar negara sepakat melakukan liberalisasi perdagangan internasional. Akan tetapi, David Ricardo pada masanya menjadi seorang ekonom yang menentang kebijakan pemerintah dalam pembatasan perdagangan. Beliau menganggap bahwa pembatasan ini bertolak belakang dengan alsasan utama yang mendorong perdagangan internasional, yakni perbedaan keunggulan komparatif yang menghasilkan suatu komoditas. Bila direfleksikaan dengan kasus Jepang, teori beliau sangat cocok, karena Jepang selaku penghasil komoditi bahan pangan mengekspor barang ke Uni Eropa. Akan tetapi, hal ini akan menimbulkan komoditas ekspor yang lebihTrefler, D.: 1993, Trade liberalization and the theory of endogenous protection: An econometric study of us import policy, Journal of Political Economy 101, 1381609

9

murah dan impor komoditas yang lebih mahal dalam penggunaan sumber daya (Lindert and Kindleberger, 1983). Akhirnya, perdagangan internasional ini tadi akan mendorong peningkatan konsumsi dan keuntungan saja. Sebaliknya, kebijakan pembatasan perdagangan oleh pemerintah justru akan merugikan bagi masyarakat dalam negeri dibanding dengan manfaatnya II.1.2 Konsep Fair Trade Fair trade adalah salah satu argument yang paling populer untuk kasus proteksionisme. Ambil sebuah perumpamaan, bahwa ada sebuah kompetisi yang mengatakan semua pesertanya harus terbuka dan adil. Ketika berbicara mengenai suatu keadilan dalam suatu kondisi kerjasama antara dua pihak, maka yang disebut dengan adil itu adalah sebuah kesepakatan yang telah disetujui oleh kedua pihak tersebut, beserta syarat, kondisi dan ketentuan yang juga telah disetujui bersama oleh pihak pihak yang bekerjasama10. Karena pada kenyataannya, kata adil hanyalah sebuah impian, karena didunia psara bebas, adil berarti siap siap dimanfaatkan oleh pihak pihak yang lebih kuat struktur ekonominya. Fair trade mungkin bisa menjadi suatu alternatif dalam hubungan antara Jepang dengan Uni Eropa, tetapi dengan adanya fair trade ini kedua belah pihak setuju dengan kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui bersama. Semisal dalam kasus ini, Uni Eropa tetap menimpor produk produk pangan dari Jepang, dengan syarat pihak Jepang dan pihak Uni Eropa bekerjasama untuk melakukan pengawasan produk pangan, khususnya dari daerah terdekat10

Joseph E. Stiglitz and Andrew Charlton. (2005). Fair Trade for All: How Trade Can Promote Development. New York: Oxford University Press

10

dengan radiasi nuklir yang bocor. Dengan menyepakatinya, tujuan ekonomi kedua belah pihak sama sama terpenuhi tanpa adanya pihak yang dirugikan, dan perdagangan berjalan dengan adil tanpa merugikan salah satu pihak yang melakukan kerjasama.

11