of 25 /25
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem imun atau system kekebalan tubuh merupakan semua mekanisme tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Keberadaan system imun dalam tubuh manusia sangat penting, hal itu dikarenakan system imun akan menyerang antigen yang masuk kedalam tubuh sehingga kita terhindar dari berbagai penyakit. Selain sebagai benteng pertahanan dari berbagai antigen, system imun juga berperan dalam peremajaan sel-sel yang telah mengalami kerusakan dan kematian serta berperan dalam membersihkan sisa-sisa sel buangan. Bagi orang-orang yang mempunyai kelainan terhadap system imun, mereka akan memiliki gangguan-gangguan yang disebabkan oleh system imun mereka sendiri. Tubuh manusia secara terus menerus terancam berbagai benda asing, agen infeksi atau sel-sel abnormal. Tubuh memiliki mekanisme pertahanan tubuh baik secara non spesifik maupun spesifik

Makalah Sistim Imun Dan Hematologi II

Embed Size (px)

DESCRIPTION

oke

Text of Makalah Sistim Imun Dan Hematologi II

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangSistem imun atau system kekebalan tubuh merupakan semua mekanisme tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Keberadaan system imun dalam tubuh manusia sangat penting, hal itu dikarenakan system imun akan menyerang antigen yang masuk kedalam tubuh sehingga kita terhindar dari berbagai penyakit.Selain sebagai benteng pertahanan dari berbagai antigen, system imun juga berperan dalam peremajaan sel-sel yang telah mengalami kerusakan dan kematian serta berperan dalam membersihkan sisa-sisa sel buangan. Bagi orang-orang yang mempunyai kelainan terhadap system imun, mereka akan memiliki gangguan-gangguan yang disebabkan oleh system imun mereka sendiri.Tubuh manusia secara terus menerus terancam berbagai benda asing, agen infeksi atau sel-sel abnormal. Tubuh memiliki mekanisme pertahanan tubuh baik secara non spesifik maupun spesifik Respon non spesifik kulit, air mata bersin, pagositosis oleh lekosit. Respon spesifik imunitas humoral dan imunitas cell- mediated Sistem imunitas tidak memiliki kemampuan penurunan kemampuan berespon infeksi berat, immunodeficiency.Sehingga penting bagi perawat pengetahuan fungsi dan respon dari system immunitas sehinga dapat dilakukknnya pencegahan peningkatan homeostatis dan membantu klien mempertahankan tingkat kesehatan secara optimal dan dapat mengantisipasi kemungkinan masalah yang kompleks yang berhubungan degan fungsi imun.1.2 Rumusan Masalah1. Apa sajakah diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan gangguan system imun ?2. Apa rencana keperawatan pada pasien pada gangguan system imun?3. Bagaimana implementasi keperawatan pada pasien pada gangguan system imun ?1.3 Tujuan1.3.1 Tujuan UmumTujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pembuatan makalah mata kuliah sistem imundanhematologi II dengan judul Diagnosa Keperawatan, Intervesi Dan Implementasi Pada Pasien Dengan Gagnguan Pada Sistem Imun sehingga mahasiswa mengetahui diagnosa yang sering muncul pada pasien dengan gangguan system imun beseta dengan rencana keperawatannya.1.3.2 Tujuan Khusus1. Untuk diagnosa yang muncul pada pasien dengan gangguan pada system imun.2. Untuk mengetahui rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan pada system imun.3. Untuk mengetahui implementasi pada pasien dengan gangguan pada sistem imun.

BAB 2PEMBAHASAN

2.1. Definisi DiagnosaMenurut gordon, diagnosis keperawatan adalah diagnosis yang dibuat oleh perawat professional yang menggambarkan tanda dan gejala yang menunjukkan masalah kesehatan yang dirasakan klien dimana perawat berdasarkan pendidikan dan pengalaman mampu menolong klien. The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) merupakan klasifikasi diagnosis keperawatan pertama pada tahun 1973 dan diakui sebagai klasifikasi keperawatan pertama. Diagnosa keperawatan merupakan dasar dalam menetukan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang diharapkan dan dapat dipertanggungjawabkan oleh perawat. 2.2. Tipe DiagnosaAda tiga tipe diagnosa keperawatan menurut nanda yaitu :1. Diagnosa keperawatan aktual yaitu respon manusia saat ini terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang didukung oleh sekelompok batasan karakteristik (tanda dan gejala) dan termasuk faktor yang berhubungan (etiologi) yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan atau pemeliharaan kesehatan2. Diagnosa keperawatan resiko yaitu menunjukkan respon manusia yang dapat timbul pada seseorang atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan faktor resiko yang memberi kontribusi pada peningkatan kerentanan3. Diagnosa keperawatan kesejahteraan yaitu menguraikan respon manusia terhadap tingkat kesehatan pada individu atau kelompok yang mempunyai potensi peningkatan derajat kesehatan lebih tinggi2.3. Komponen Diagnosa1. Problem (masalah atau kebutuhan)Problem (P) adalah suatu pernyataan klien terhadap masalah kesehatannya baik itu aktual maupun potensial.2. Etiologi (penyebab)Etiologi (E) adalah penyebab atau alasan yang diperkirakan menjadi penyebab respon yang telah diidentifikasi. Etiologi merupakan bagian kedua dari format pes yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dari suatu diagnosa keperawatan yang dirasa emergensi. Etiologi juga dapat diungkapkan sebagai berhubungan dengan atau faktor pendukung yang menyebabkan masalah utama timbul. Diagnosa keperawatan sering diikuti oleh beberapa etiologi yang meliputi psikologis, biologis, hubungan, lingkungan, situasi, perkembangan atau sosiokultural.3. Signs and symptoms (tanda dan gejala)Yaitu manifestasi yang diidentifikasi dalam pengkajian yang menyokong diagnosa keperawatan. Sign and symptoms (S) biasanya didefinisikan sebagai karakteristik klien yang dapat diobservasi, pengukuran respon klien terhadap masalah kesehatan yang ada. Yang dimaksudkan dengan karakteristik tersebut adalah yang mengikuti setiap diagnosa keperawatan, setiap pernyataan masalh dan etiologi yang biasanya memerlukan penjelasan yang lebih spesifik agar dapat memberi gambaran kebutuhan klien secara jelas.

2.4. Definisi PerencanaanRencana tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus. Perencanaan keperawatan meliputi perumusan tujuan, tindakan dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah kesehatan dan keperawatan klien dapat diatasi2.5. Tujuan Perencanaan1. Tujuan administratif Mengidentifikasikan fokus keperawatan kepada klien Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi kesehatan klien Menyediakan suatu kriteria guna evaluasi keperawatan2. Tujuan klinik Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan Mengkomunikasikan dengan staf perawat Menyediakan kriteria hasil sebagai evaluasi Rencana tindakan yang spesifik2.6. Langkah-langkah Perencanaan1. Menentukan prioritas2. Kriteria hasilSetiap diagnosa sedikitnya mempunyai satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencermikan masalah klien dan dapat menghubungkan antara jangka panjang dan jangka pendek. Kriteria hasil dapat diukur dengan mengunakan SMART yaitu Spesifik (yang tak bermakna ganda), Measurable (dapat diukur, diraba, didengar, lihat dan rasa), Achievable (dapat dicapai), Reasonable (dapat dipertanggungjawabkan) dan Time (waktu). Sedangkan Komponen dalam tujuan yaitu menggunakan KAPP (Kognitif, Afektif, Psikomotor, dan Perubahan fungsi).3. Rencana tindakana. Karakteristik rencana tindakan Konsisten Berdasar prinsip Berdasar situasi individu klien Digunakan untuk mencapai suatu situasi yang aman dan terapeutik Menetapkan suatu situasi pengajaranb. Penyusunan rencana tindakan Hipotesa Untuk memprediksi alternatif tertentu yang sesuai untuk mencapai kriteria hasil Brainstorming Teknik mengumpulkan ide lebih dari 1 orangc. Hal-hal yang harus diperhatikan Waktu : harus diberi waktu (bisa jangka panjang, jangka pendek) Menggunakan kata kerja Fokus pertanyaan 5W + 1H

d. Prinsip rencana tindakan O : Observasi meliputi kaji, evaluasi, observasi, monitor, ukur dll N : Ners meliputi tindakan perawat seperti relaksasi, mobilisasi, atur posisi, dll E : Education yaitu pendidikan kesehatan meliputi ajarkan, beritahu, jelaskan dll C : Colaboration meliputi berikan obat, dll4. Pencatatan / dokumentasia. Tujuan Perawatan individu Perawatan yang kontinyu Komunikasi Evaluasib. Karakteristik Ditulis oleh perawat Dilaksanakan setelah kontak pertama kali dengan klien Diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh perawat Informasi baru (harus selalu diperbaharui)2.7. ImplementasiMerupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.Tahap implementasiTahap 1 : persiapanTahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.Tahap 2 : intervensiFocus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen,dependen,dan interdependen.Tahap 3 : dokumentasiPelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.2.8. EvaluasiPerencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut:1. Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang telah disusun.2. Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi.Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :1. Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan perbaikan/ kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.2. Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.3. Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan.

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Diagnosa Keperawatan1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.2. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan/absorpsi nutrient yangdiperlukan untuk pembentukan sel darah merah.3.2. RencanaKeperawatanNoTujuan/ KHIntervensiRasionalTtd

1.Setelah dilakukan tindakan keperaawatan selama 1x24 jam, pasien dapat aktivtas, dg KH:1. Px melaporkan peningkatan toleransi aktivitas.2. TTV normal: TD: 110mmHg RR: 16-24x/ mnt T: 36-37,5 C NADI: 60-100X/MNT

1. Kaji kemampuan ADL pasien

2. Kaji kehilangan atau gangguankeseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.

3. Observasi tanda-tanda vital sebelum dansesudah aktivitas.

4. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila di indikasikan.

5. Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bilaterjadi kelelahan dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya.1. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan2. Menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 dpt mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera3. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan4. Mengoptimalkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru5. Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan.

2.Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, pasienmenunjukantanda-tanda infeksi tidak terjadi, denganKH:1. Tidak terjadi infeksi2. TTV normal: TD: 110mmHg RR: 16-24x/ mnt T: 36-37,5 C NADI: 60-100X/MNT

1. Ajarkan cara cuci tangan yang baik pdpasien.

2. Berikan perawatan kulit, perianal danoral dengan cermat

3. Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan.

4. Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam.5. Berikan antiseptic topical ; antibioticsistemik (kolaborasi)

1. mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. 2. menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi

3. membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu.4. Adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan

5. Mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local.

3.Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam px menunjukkan tanda2 kebutuhan nutrisi terpenuhi denganKH: Pasienmenunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai laboratorium normal. Tidak mengalami tanda mal nutrisi. Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan BB yang sesuai.1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.

2. Observasi dan catat masukkan makanan

3. Timbang berat badan setiap hari.

4. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan.

5. Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan.6. Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka.

7. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.

8. Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi.1. Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi.2. Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.3. Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi4. Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster.5. Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

6. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.7. membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.8. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi

3.3. Contoh ImplementasiTglDxImplementasiRespon Pasien

12/9/201511. Mengkaji kemampuan ADL pasien

2. Mengkaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.3. Mengobservasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas

4. Memberikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan mengurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila di indikasikan.5. Menggunakan teknik menghemat energi, menganjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan, menganjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya.DS : Pasien menceritakan kebiasaannya sehari - hari DO : Pasien tampak antusiasDS : - DO : Pasien Kooperatif

DS: -DO : -TD: 110mmHg RR: 24x/ mnt T: 37,5 C NADI: 100X/MNTDS : -D DO : Paasien merasa nyaman

DS : Pasien mengatakan bersedia melakukan anjuran dari perawatDO : Pasien tampak antusias

21. Mengajarkan caracuci tangan yang baik pada pasien.

2. Memberikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat.

3. Memantau/batasi pengunjung. Memerikan isolasi bila memungkinkan.

4. Memantau suhu tubuh. Mencatat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam.5. Memberikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik (kolaborasi)DS : Pasien mengatakan senang dengan edukasi yang diberikan perawatDO : Pasien kolaboratifDS : Pasien mengatakan bersedia di lakukan tindakan DO : Pasien kooperatifDS : -DO: Pasien tampak merasa nyaman

DS : DO : 37.5 C

DS : -DO : Pasien kooperatif

31. Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.2. Mengobservasi dan mencatat masukkan makanan3. Menimbang berat badan setiap hari.

4. Memberikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan.

5. Mengobservasi dan mencatat terjadinya mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan.6. Memberikan dan membantu oral hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, menggunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka.7. Mengkolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.8. Mengkolaborasi ; memberikan obat sesuai indikasi.DS :DO : Pasien merasa senangDS :DO : Pasien merasa senangDS : Pasien mengatakan bersedia untuk melakukan anjuran dari perawatDO: Berat Badan pasien mengalami kenaikan dari 47 menjadi 49 kgDS : Pasien mengatakan mau makan sedikit tapi seringDO : Pasien tampak antusiasDS : -DO : Pasien sudah tidak mengalami mual dan muntahDS : Pasien mengatakan senang dengan tindakan perawatDO : pasien kolaboratif

DS : -DO : Pasien Koopeatif untuk mentaat proram diet yang direncanakanDS :DO : Pasien Kooperatif

BAB 4PENUTUP4.1. KesimpulanProses keperawatan merupakan suatu kegiatan yang terorganisir dengan menggunakan metode yang sistematis dalam memberikan ASKEP kepada individu, kelompok, keluarga dan masyarakat terhadap masalah kesehatan yang dialami.4.2 Saran1. Perawat harus memiliki kemampuan professional dalam melaksanakan pengkajian, karena pengkajian data merupakan dasar utama dari pelaksanaan proses keperawatan.2. Pengkajian keperawatan harus dilakukan secara sistematis untuk memperoleh data akurat.3. Dalam menentukan diagnose harus disesuaikan dengan kebutuhan klien.4. Data yang diperoleh harus akurat dan bukan kesimpulan perawat.5. Perawat tidak boleh langsung membuat keputusan tentang kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA

Martin Tucker, Susan dkk . 2003. Standar Perawatan Pasien Proses Diagnosis dan Evaluasi Edisi V . Jakarta: EGCJuall Lynda Carpenito. 2003. Buku Diagnosis Keperawatan Edisi 13. Jakarta : EGChttp://iniduniakeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/proses-keperawatan-intervensi.html diakses tanggal 28 September 2015