27
MAKALAH “ ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN NEPHROTIC SYNDROM“ DI SUSUN OLEH : BUSTOMI IMAM MASYKUR RAHMA WANTI DZAKI AL-IDRUS DOSEN PEMBIMBING : DIAH OKTAVIANI S.KEP.NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI (STIKES YARSI) PONTIANAK 2013 – 2014 KATA PENGANTAR

Makalah Sindrom Nefrotik (Autosaved) Baru

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah kmb

Citation preview

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN NEPHROTIC SYNDROM

DI SUSUN OLEH :BUSTOMI IMAM MASYKURRAHMA WANTIDZAKI AL-IDRUSDOSEN PEMBIMBING : DIAH OKTAVIANI S.KEP.NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI(STIKES YARSI)PONTIANAK 2013 2014KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbilalamin puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat serta hidayahnya kami dapat menyelesaikan salah satu tugas pada mata kuliah keperawatan medical bedah ( KMB ) III.Makalah ini berisikan tentang asuhan keperawatan pada pasien Nefrotik Syndrome. Peyusunan makalah ini tidak terlepas dari kerja sama kawan-kawan kelompok 8. Seluruh rekan kelompok 8, yang telah memberikan banyak masukan dan diskusi-diskusi yang sangat membantu.Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada ibu Dyah Oktaviani S.kep.N.s selaku dosen pembimbing kami hingga makalah ini selesai.Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan baik dari segi isi materi maupun sistematika penulisan.Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Pontianak, maret 2014

Kelompok 8

BAB 1PENDEHULUANA. Latar BelakangSindrom nefrotik (SN) ialah keadaan klinis yang ditandai oleh proteinuria masif, hipoproteinemia, edema, dan dapat disertai dengan hiperlipidemia. Angka kejadian Sindrome nefritik di Amerika dan Inggris berkisar antara 2-7 per 100.000 anak berusia di bawah 18 tahun per tahun, sedangkan di Indonesia dilaporkan 6 per 100.000 anak per tahun, dengan perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1. Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta, sindrom nefrotik merupakan penyebab kunjungan sebagian besar pasien di Poliklinik Khusus Nefrologi, dan merupakan penyebab tersering gagal ginjal anak yang dirawat antara tahun 1995-2000( dona L,Wong. 2004 ).Semua penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga mengakibatkan kebocoran protein (khususnya albumin) ke dalam ruang Bowman akan menyebabkan terjadinya sindrom ini. Etiologi Sindrome nefrotik secara garis besar dapat dibagi 3, yaitu kongenital, glomerulopati primer/idiopatik, dan sekunder mengikuti penyakit sistemik seperti pada purpura Henoch-Schonlein dan lupus eritematosus sitemik.Sindrom nefrotik pada tahun pertama kehidupan, ssterlebih pada bayi berusia kurang dari 6 bulan, merupakan kelainan kongenital (umumnya herediter) dan mempunyai prognosis buruk. Pada tulisan ini hanya akan dibicarakan Sindrome nefrotik idiopatik.Menurut kelompok kami tertarik untuk mengetahu lebuh dalam apa itu syndrome nefrotik dan manifestasi klinis dari pada syndrome nefrotik itu sendiri ( Williams & Wilkins 2009 ).

B. Tujuan Penulisan1. umumUntuk mendapatkan gambaran tentang asuhan keperawatn dengan sindrom nefrotik serta factor-faktor yang berhubungan dengan masalh tersebut.2. Khusus Tujuan dari penulisan makalah diharapkan mahasiswa mampu:a. Mengidentifikasi anatomi fisiologib. Mengidentifikasi konsep dasar1) Definisi2) Etiologi3) Patofisiologi4) Manifestasi klinik5) Komplikasi6) Pemeriksaan penunjang 7) penatalaksanaanC. Ruang lingkup Dalam makalah, penulisan ini hanya membahas tentang asuhan keperawatan Sindrome Nefrotik.

D. Metode penulisan Penulisan makalah ini dengan menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan cara mencari dan membaca literature yang ada di perpustakaan dan di internet.E. Sistematika PenulisanMakalah ini disusun secara teoritis dan sistematis yang terdiri dari 4 (empat) bab, yaitu sebagai berikut:BAB IPENDAHULUANa) Latar belakangb) Ruang lingkupc) Tujuan penulisand) Metode penulisane) Sistematika dari penulisanBAB IITINJAUAN TEORITISa) Anatomi dan fisiologib) Konsep dasar1) Definisi2) Etiologi3) Patofisiologi4) Manifestasi klinik 5) Komplikasi 6) Pemeriksaan penunjang7) Penatalaksanaan BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SINDROMENEFROTIKBAB IVKESIMPULAN DAN SARANDAFTAR PUSTAKA

BAB IITINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi FisiologiGinjal merupakan organ terpenting dalam mempertahankan homeostatis cairan tubuh secara baik.Berbagai fungsi ginjal untuk mempertahankan homeostatic dengan mengatur volume cairan, keseimbangan osmotik, asam basa, aksresi sisa metabolisme, system pengaturan hormonal dan metabolism.Ginjal terletak dalam rongga abdomen, retroperitoneal primer kiri dan kanan kolumna vertebralis, dikelilingi oleh lemakdan jaringan ikat di belakang peritoneum.Batas atas ginjal kiri setinggi iga ke-11, ginjal kanan setinggi iga ke 12, batas bawah ginjal kiri setinggi vertebra lumbalis ke-3. Tiap-tiap ginjal mempunyai panjang 11,25cm, lebar 5-7 cm, tebal 2,5 cm. ginjal kiri lebih panjang dari ginjal kanan, berat ginjal pada laki-laki dewasa 150-170 gram, wanita dewasa 115-155 gram. Bentuk ginjal seperti kacang, sisi dalam menghadap ke sisi vertebra torakalis, sisi luarnya cembung dan diatas setiap ginjal terdapat sebuah kelenjar suprarenal.

B. Konsep Dasar1. DefinisiGlomerulus merupakan gulungan pembuluh darah kapiler yang berada di dalam sebuah kapsul sirkuler, yang disebut kapsula Bowman.Secara bersamaan, glomerulus dan kapsul bowmandisebutdengankorpuskulumrenalis.Ginjalmanusiamemilikisekitarsatujutaglomerulus di dalamnya. Glomerulus terdiri atas tiga tipe sel intrinsik: sel endotel kapiler, selepitel yang dipisahkan dari sel endotel oleh membranbasalis glomerular, serta sel mesangial.Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotic. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate ( GFR ). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 ( luas permukaan tubuh ). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90cc/menit/luas permukaan tubuh anak ( Donna L, Wong, 2004 ).Syndrome nefrotik merupakan gangguan klinis di tandai dengan peningkatan protein dalam urin secara bermakna ( proteinuria ), penurunan albumin dalam darah ( hipoalbuminemia ), edema, dan serum kolestrol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah ( hiperliipidemia ).tanda-tanda tersebut dijumpai di setiap kondisi yang sangat merusak membrane kapiler glomerolus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerolus ( Smeltzer dan Bare 2001 ).Jadi menurut definisi kelompok kami Syndrome nefrotik ( SN ) adalah suatu syndrome ( kumpulan gejala-gejala ) yang terjadi akibat penyakit yang menyerang ginjal dan menyebabkan proteinuria ( protein di dalam air kemih ) menurunnya kadar albumin dalam darah, penimbunan garam dan air yang berlebihan, meningkatnya kadar lemak dalam darah, syndrome ini bisa terjadi pada segala usia, pada anak-anak, paling sering timbul pada usia 18 bulan sampai 4 tahun, dan lebih banyak menyerang pada anak laki-laki.

2. EtiologiSindrom nefrotik dapat disebabkan oleh GN primer dan sekunder yang disebabkan infeksi, keganasan, penyakit jaringan penghubung ( connective tissue disease ), obat atau toksin, dan akibat penyakit sistemik seperti ;Glomeruluonefritis primer: a. GN lesi minimal ( GNLM ) b. Glomerulosklerosis fokal ( GSF )c. GN membranosa ( GNMN ) d. GN membranoproliferatif ( GNMN ) ne. GN proliferati lainf. Glomerulonefritis sekunder akibat infeksi :g. HIV, hepatitis virus B dan Ch. Sifilis, malaria, skistosomai. Tuberkolosis,lepra

Keganasan Adenokarsinoma paru, payudara, kolon, limpoma Hodgkin, mieloma multipel, dan karsinoma ginjal.

Penyakit jaringan penghubungl upus eritematosus sistemik, arthritis rheumatoid, MCTD ( mixedconnective tissue disease )

Efek obat dan toksin obat antiiflamasi non-steroid, preparat emas,penisilinamin, probenesid, air raksa, kaptopril, heroin

Lain-lain:Diabetes militus, amiloidosis, pre-eklamsia, rejeksi alograf kronik, refluks vesikoureter, atau sengatan lebahPenyebab sekunder yang sering dijumpai misalnya pada GN pasca infeksi streptokokus atau infeksi virus hepatitis B, akibat obat miisalnya obbat anti inflamasi non-steroid atau prefarat emas organik, dan akibat penyakit sistemik misalanya pada lupus eritematosus sistemik dan diabetes militus ( Donna L. Wong, 2004 ).3. Patofisiologi Manifestasi primer syndrome nefrotik adalah hilangnya plasma protein, terutama albumin ke dalam urin.Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya jika albumin terus menerus hilang melalui ginjal.Ahirnya terjadi hipoalbuminemia.Menurunnya tekanan onkotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari system vaskuler ke dalam ruangan cairan ekstraseluler.Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan system rennin-angio-tensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah ( hiperlipidemia).Syndrome nefrotik dapat terjadi di hamper setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerolus. Meskiipun secara umum penyakit ini di anggap menyerang anak-anak,namun syndrome nefrotik juga teerjadi pada orang dewasa termasuk lansia. Penyebab mencakup glomerulosklerosis interkapiler,amiloidosis ginjal, penyakit lupus erythematosus sistemik dan thrombosis vena renal ( Brunner and Suddarths 2002 )

4. Patofisiolagi5. Manifestasi klinis Manifestasi utama syndrome nefrotik adalah edema. Edema biasanya lunak dan cekung bila di tekan ( pitting ), dan umumnya ditemukan disekitar mata ( periorbital ), pada area ekstremitas ( sacrum, tumit dan tangan ), dan pada abdomen ( asites ). Gejala lain seperti malese, sakit kepala iritabilitas dan keletihan umumnya terjadi ( Brunner and Suddarths 2002 ).

6. komplikasi

a. Oedem umum ( anasarka ), terutama jelas pada muka dan jaringan periorbitalb. Proteinuria dan albuminemia.c. Hipoproteinemi dan albuminemia.d. Hiperlipidemi khususnya hipercholedterolemi.e. Lipid uria.f. Mual, anoreksia, diare.g. Anemia, pasien mengalami edema paru.

7. Pemeriksaan Penunjanga. Laboratorium1) UrineVolume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguria). Warna urine kotor, sediment kecoklatan menunjukkan adanya darah, hemoglobin, mioglobin, porfirin.2) DarahHemoglobin menurun karena adanya anemia.Hematokrit menurun.Natrium biasanya meningkat, tetapi dapat bervariasi.Kalium meningkat sehubungan dengan retensi seiring dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).Klorida, fsfat dan magnesium meningkat. Albumin

b. diagnostik Biopsi ginjal memungkinkan identifikasi histology terhadap lesi.

7. Penatalaksanaana. medika mentos 1)Prednisolon digunakan secra luas. Merupakan kortokisteroid yang mempunyai efek samping minimal.Dosis dikurangi setiap 10 hari hingga dosis pemeliharaan sebesar 5 mg diberikan dua kali sehari.Diuresis umumnya sering terjadi dengan cepat dan obat dihentikan setelah 6-10 minggu.Jika obat dilanjutkan atau diperpanjang, efek samping dapat terjadi meliputi terhentinya pertumbuhan, osteoporosis, ulkus peptikum, diabeters mellitus, konvulsi dan hipertensi.2)Jika terjadi resisten steroid dapat diterapi dengan diuretika untuk mengangkat cairan berlebihan, misalnya obat-obatan spironolakton dan sitotoksik ( imunosupresif ). Pemilihan obat-obatan ini didasarkan pada dugaan imunologis dari keadaan penyakit.Ini termasuk obat-obatan seperti 6-merkaptopurin dan siklofosfamid.

b. tindakan medis1. kemoterafi2. pembedahan3. operasi

c. tindakan keperawatan1) Diperlukan tirah baring selama masa edema parah yang menimbulkan keadaan tidak berdaya dan selama infeksi yang interkuten. Juga dianjurkan untuk mempertahankan tirah baring selama diuresis jika terdapat kehilangan berat badan yang cepat.2) Diit. Pada beberapa unit masukan cairan dikurangi menjadi 900 sampai 1200 ml/ hari dan masukan natrium dibatasi menjadi 2 gram/ hari. Jika telah terjadi diuresis dan edema menghilang, pembatasan ini dapat dihilangkan. Usahakan masukan protein yang seimbang dalam usaha memperkecil keseimbangan negatif nitrogen yang persisten dan kehabisan jaringan yang timbul akibat kehilangan protein. Diit harus mengandung 2-3 gram protein/ kg berat badan/ hari. Anak yang mengalami anoreksia akan memerlukan bujukan untuk menjamin masukan yang adekuat.3) Perawatan kulit. Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit. Trauma terhadap kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester atau verban harus dikurangi sampai minimum. Kantong urin dan plester harus diangkat dengan lembut, menggunakan pelarut dan bukan dengan cara mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan kering dan scrotum harus disokong dengan popok yang tidak menimbulkan kontriksi, hindarkan menggosok kulit.4) Perawatan mata. Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak mata dan untuk mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air hangat.

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a. Kaji keadaan umum klien1) Identitas klienNama, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan, agama, dara keluarga2) Keluhan Utamaa) Tanyakan kepada klien kaluhan utamab) Alasan klien masuk rumah sakitc) Tanyakan apa yang klien rasakan3) Riwayat Penyakit SekarangPada pasien yang mengalami nephrotik syndrom sering muntah , muka sembab, nafsu makan menurun , konstipasi , diare , urine menurun4) Riwayat Penyakit Dahulutanyakan apakah pasien pernah menderita penyakitkronis , penyakit turunan atau penyakit menular5).Riwayat Penyakit Keluargatanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab nefrotik syndrom

b. Pengkajian Sistem Tubuh1) Sistem pernapasanBunyi nafas ronkhi karena efusi felura , pengembngan ekspansi paru sama atau tidak.

2) Sistem kardiovaskularMunkin akan ditemukan adanya bunyi jantung abnormal, kardiomegali.

3) Sistem pencernaanPada abdomen terdapat asites, nyeri tekan, hepatomegali4) Sistem perkemihanDaerah genetalia terdapat pembengkakan pada labia atau skrotum.5) Sistem muskuloskeletalDi bagian ekstermitas terdapat edema di bagian ekstermitas atas dan bawah biasanya di bagian sakrum, tumit dan tangan.

3.2 Diagnosa Keperawatan a. Pola nafas tidak efektif b.d penekanan diafragma akibat asitesb. Kelebihan volume cairan b.d edemac. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kerusakan metabolisme protein3.3 Intervensi Keperawatana. Pola nafas tidak efektif b.d penekanan diafragma akibat asitesTujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan tidak terjadi asites sehingga tidak ada penekanan diafragma dan pola nafas jadi efektifIntervensi:1) Kaji nadi, RR, kedalaman dan efek pernafasan2) Catat adanya retraksi otot dada waktu bernafas3) Catat lokasi trakea4) Kaji otot diafragma5) Dengarkan bunyi suara nafas6) Kaji sesak nafas7) Kolaborasikan dengan dokter pemberian obat, pemasangan nebulizer, oksigenb. Kelebihan volume cairan b.d edemaTujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan edema berkurang atau hilang.Intervensi. 1) Ubah posisi, berikan posisi kaki lebih tinggi dari kepala, lihat permukaan kulit2) Pertahan kan catatan intek dan out put yang akurat3) Pasang kateter jika diperlukan4) Monitor hasi lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN,HMT)5) Monitor status hemodinamika6) Monitor indikasi retensi kelebihan cairan7) Kaji kalori dan luas edema8) Monitor status nutrisi9) Kolaborasi medis atau dokter jika cairan berlebihan muncul dan memburukc. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kerusakan metabolisme proteinTujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.Intervensi: 1) Kajia adanya alergi makanan 2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien3) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi4) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori5) Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang di butuhkan6) Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli giziBAB 4PENUTUP

1. KesimpulanSindroma Nefrotic (SN) adalah gambaran klinis dengan ciri khusus proteinuri masif lebih dari 3,5 gram per 1,73 m2 luas permukaan tubuh per hari (dalam praktek, cukup >3,0-3,5 gr per 24 jam) disertai hipoalbuminemi kurang dari 3,0 gram per ml. Pada SN didapatkan pula lipiduria, kenaikan serum lipid lipoprotein, globulin, kolesterol total dan trigliserida, serta adanya sembab sebagai akibat dari proteinuri masif dan hipoproteinemi. Beberapa ahli penyakit ginjal menambahkan kriteria lain :1.Lipiduria yang terlihat sebagai oval fat bodies atau maltase cross bodies.2.Kenaikan serum lipid, lipoprotein, globulin, kolesterol total dan trigliserida3.Sembab.2. Masalah keperawatan1. Gangguan pola nafas 2. Kelebihan volume cairan 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4. Hipertensi 5. PK :Anemia6. Proteinuria 7. Intoleransi aktivitas 8. Resiko Gangguan integritas kulit 9. Gangguan pola eliminasi:ur

3. Saran1. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca, terutama mahasiswa keperawatan2. Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan.3. Semoga makalah ini dapat menjadi pokok bahasan dalam berbagai diskusi dan forum terbuka.

DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, gloria M., butcher, howard K., dochterman, J. McCloskey.2012. nursing interventions classificatoin(NIC).Fifth Edition. Lowa : mosby Elsavier.

Carpenito, L. J.1999. Hand Book of Nursing (Buku Saku Diagnosa Keperawatan), alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC.

Donna L, Wong. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Anak, alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC.

Interna publishing pusat penerbit ilmu penyakit dalm jilid II edisi V diponegoro 71 jakarta pusat 2009.

Jhonson,marion. 2012. Lowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St. Louis ,Missouri ; Mosby.

NANDA international. 2012.nursing diagnoses :definition &classification 2012-2014. Jakarta : EGC

Wolters kluwer | lippincott williams & wilkins 2009. kapita selekta penyakit dengan implikasi keperawatan edisie 2 .