Makalah PSDME Jadi

Embed Size (px)

Text of Makalah PSDME Jadi

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    1/21

    Tugas

    Pengolahan Bahan Galian Timah

    Rahimatul Fadhilah ( 03021181320002 )

    Oktarina Sari ( 03021181320024 )

    Muhammad Yusuf Badri ( 03021181320070 )

    Teknik Pertambangan

    Fakultas Teknik

    Universitas Sriwijaya

    2016

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    2/21

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1  Latar Belakang

    Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya alam

    termasuk sumber daya mineral logam. Kesadaran akan banyaknya mineral logam

    ini mendorong bangsa Indonesia untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam

    tersebut secara efisien.

    Dalam pemanfaatanya, tentu saja menggunakan berbagai metode danteknologi sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal dengan hasil yang optimal

    dengan keuntungan yang besar, biaya produksi yang seminim mungkin serta

    ramah lingkungan.

    Salah satu sumber daya mineral logam yang diolah oleh Indonesia adalah

    mineral logam timah. Pengolahan timah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat

    tidak lepas dari peran reaksi kimia fisika. Pencucian maupun pemisahan pada

    timah merupakan nagian dari proses yang melibatalkan reaksi-reaksi kimia fisika.

    1.2  Tujuan

    Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk dapat memahami apa itu bijih

    timah dan proses - proses yang dilakukan untuk memperoleh timah yang

    ekonomis, mulai dari pencucian, pemisahan, pengolahan, sampai pada

     pencatakan.Rumusan Masalah

    1.3 

    Rumusan Masalah

    1.  Apa itu timah ?

    2.  Bagaimana proses eksplorasi timah ?

    3.  Jelaskan bagaimana pengolahan timah ?

    4.  Apa kegunaan timah ?

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    3/21

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    Potensi timah putih di Indonesia tersebar sepanjang kepulauan Riau

    sampai Bangka Belitung, serta terdapat di daratan Riau (Gambar 1) yaitu di

    Kabupaten Kampar dan Rokan Ulu. Sumber daya timah putih yang telah

    diusahakan merupakan cebakan sekunder, baik terdapat sebagai tanah residu dari

    cebakan primer, maupun letakan sebagai aluvial darat dan lepas pantai.

    Gambar 1. Jalur sebaran timah putih

    Endapan aluvial darat mempunyai pola sebaran memanjang mengikuti

    lembah sungai yang masih aktif maupun sungai purba, menerus ke arah lepas

     pantai membentuk pola yang menunjukkan arah dispersi dari cebakan primer

    tertranspot melalui media air, membentuk endapan aluvial darat menerus ke arah

    lepas pantai. Pola sebaran memanjang mengikuti lembah aluvial daratan menerus

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    4/21

    ke arah lepas pantai, dengan komponen penyusun umumnya mengandung kerikil

    sampai berangkal kuarsa memberikan gambaran akan kemungkinaN.

    Penambangan timah putih lepas pantai, selama ini menggunakan kapal

    keruk yang mempunyai kapasitas dapat menjangkau kedalaman 15-50 meter.

    Sumber daya timah putih dengan sebaran berada pada kedalaman dari

     permukaan air lebih dari 50 meter atau kurang dari 15 meter tidak tertambang.

    Penggunaan kapal hisap yang mempunyai kapasitas dapat menjangkau

    kedalaman lebih dari 50 meter memberikan peluang untuk mengusahakan

    endapan timah putih lepas pantai tersebut. Selain itu endapan pada lepas pantai

    yang dangkal kurang dari 15 meter dapat diusahakan oleh masyarakat atau

    untuk pertambangan sekala kecil. Mengingat hal tersebut, maka aktifitas eksplorasi

    untuk mendapatkan sumber daya timah putih khususnya endapan lepas pantai

    kembali marak dilakukan akhir-akhir ini (Gambar 2).

    Gambar 2. Kapal eksplorasi untuk pengeboran cebakan timah aluvial di lepas

     pantai Dabo

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    5/21

    Kadar timah terendah ekonomis (cut off grade) pada tahun 2007 untuk

    endapan timah aluvial pada kisaran kadar 0.01% Sn, atau cebakan bijih timah

     primer dengan kadar sekitar 0.1% Sn.

    Mineral yang terkandung di dalam bijih timah berupa kasiterit sebagai

    mineral utama, pirit, kuarsa, zircon, ilmenit, plumbum, bismut, arsenik, stibnit,

    kalkopirit, kuprit, senotim, dan monasit merupakan mineral ikutan. Mineral-

    mineral ikutan pada bijih timah akan terpisahkan pada proses pengolahan,

    sehingga berpotensi menjadi produk sampingan.

    Penambangan timah putih dilakukan dengan beberapa cara, yaitu

    semprot, penggalian dengan menggunakan excavator, atau menggunakan kapal

    keruk untuk penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam serta

    endapan timah lepas pantai. Kapal keruk dapat beroperasi untuk penambangan

    cebakan timah aluvial lepas pantai yang berada pada kedalaman sekitar 15

    meter sampai dengan 50. Penambangan menggunakan cara semprot dilakukan

    terutama pada endapan timah aluvial darat dengan sebaran tidak luas dan relatif

    dangkal.

    Penambangan dengan menggunakan shovel/excavator dilakukan untukmenggali cebakan timah putih tipe residu, yang merupakan tanah lapukan bijih

     primer, umumnya berada pada lereng daerah perbukitan (Gambar 3).

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    6/21

     

    Gambar 3. Bekas penggalian tanah residu mengandung timah putih, tidak

    direklamasi, Pulau Singkep.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    7/21

    BAB 3

    ISI 

    2.1 Pengertian Timah

    Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki symbol

    Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam

    miskin keperakan, dapat ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi dalam

    udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy, dan digunakan untuk

    melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah diperoleh terutama darimineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida.

    Timah adalah logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan yang

    rendah, berat jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat konduktivitas panas dan

    listrik yang tinggi. Dalam keadaan normal (13  –   1600C), logam ini bersifat

    mengkilap dan mudah dibentuk.

    Timah terbentuk sebagai endapan primer pada batuan granit dan pada daerah

    sentuhan batuan endapan metamorf yang biasanya berasosiasi dengan turmalin

    dan urat kuarsa timah, serta sebagai endapan sekunder, yang di dalamnya terdiri

    dari endapan alluvium, elluvial, dan koluvium.

    2.1.1  Sifat dan Bentuk Timah

    1.  Sifat Timah

    a.  Timah termasuk golongan IV B dan mempunyai bilangan oksidasi

    +2 dan +4.

     b.  Timah merupakan logam lunak, fleksibel, dan warnanya abu-abu

    metalik.

    c.  Timah tidak mudah dioksidasi dan tahan terhadap korosi

    disebabkan terbentuknya lapisan oksida timah yang menghambat

     proses oksidasi lebih jauh.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    8/21

    d.  Timah tahan terhadap korosi air distilasi dan air laut, akan tetapi

    dapat diserang oleh asam kuat, basa, dan garam asam.

    e.  Proses oksidasi dipercepat dengan meningkatnya kandungan

    oksigen dalam larutan.

    f.  Jika timah dipanaskan dengan adanya udara maka akan terbentuk

    SnO2.

    g.  Timah ada dalam dua alotrop yaitu timah alfa dan beta. Timah alfa

     biasa disebut timah abu-abu dan stabil dibawah suhu 13,2 C

    dengan struktur ikatan kovalen seperti diamond. Sedangkan timah

     beta berwarna putih dan bersifat logam, stabil pada suhu tinggi,

    dan bersifat sebagai konduktor.

    h.  Timah larut dalam HCl, HNO3, H2SO4, dan beberapa pelarut

    organic seperti asam asetat asam oksalat dan asam sitrat. Timah

     juga larut dalam basa kuat seperti NaOH dan KOH.

    i.  Timah umumnya memiliki bilangan oksidasi +2 dan +4. Timah(II)

    cenderung memiliki sifat logam dan mudah diperoleh dari

     pelarutan Sn dalam HCl pekat panas.

     j.  Timah bereaksi dengan klorin secara langsung membentuk Sn(IV)

    klorida.

    k.  Hidrida timah yang stabil hanya SnH4.

    2.  Bentuk Timah

    Unsur ini memiliki 2 bentuk alotropik pada tekanan normal.

    Jika dipanaskan timah abu-abu (timah alfa) dengan struktur kubus

     berubah pada 13.2°C menjadi timah putih (timah beta) yang memiliki

    struktur tetragonal. Ketika timah didinginkan pada suhu 13.2°C, ia

     pelan pelan berubah dari putih menjadi abu-abu. Perubahan ini

    disebabkan ketidakmurnian ( impurities ) seperti alumunium dan

    seng, dan dapat dicegah dengan menambahkan antimony atau

     bismuth.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    9/21

    Jika dipanaskan dalam udara, timah membentuk Sn2, sedikit

    asam, dan membentuk stannate salts dengan oksida.

    2.1.2  Keberadaan Timah di Alam

    Timah tidak ditemukan dalam unsur bebasnya dibumi akan tetapi

    diperoleh dari senyawaannya. Timah pada saat ini diperoleh dari mineral

    cassiterite atau tinstone. Cassiterite merupakan mineral oksida dari timah

    SnO2, dengan kandungan timah berkisar 78%.

    Contoh lain sumber biji timah yang lain dan kurang mendapat

     perhatian daripada cassiterite adalah kompleks mineral sulfide yaitu

    stanite (Cu2FeSnS4) merupakan mineral kompleks antara tembaga-besi-

    timah-belerang dan cylindrite (PbSn4FeSb2S14) merupakan mineral

    kompleks dari timbale-timah-besi-antimon-belerang dua contoh mineral

    ini biasanya ditemukan bergandengan dengan mineral logam yang lain

    seperti perak.

    Timah merupakan unsur ke-49 yang paling banyak terdapat di kerak

     bumi dimana timah memiliki kandungan 2 ppm jika dibandingkan dengan

    seng 75 ppm, tembaga 50 ppm, dan 14 ppm untuk timbal. Cassiterite

     banyak ditemukan dalam deposit alluvial/alluvium yaitu tanah atau

    sediment yang tidak berkonsolidasi membentuk bongkahan batu dimana

    dapat dapat mengendap di dasar laut, sungai, atau danau. Alluvium terdiri

    dari berbagai macam mineral seperti pasir, tanah liat, dan batu-batuan

    kecil. Hampir 80% produksi timah diperoleh dari alluvial/alluvium atau

    istilahnya deposit sekunder. Diperkirakan untuk mendapatkan 1 Kg

    Cassiterite maka sekitar 7 samapi 8 ton biji timah/alluvial harus

    ditambang disebabkan konsentrasi cassiterite sangat rendah.

    Dibumi timah tersebar tidak merata akan tetapi terdapat dalam satu

    daerah geografi dimana sumber penting terdapat di Asia tenggara

    termasuk china, Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hasil yang

    tidak sebegitu banyak diperoleh dari Peru, Afrika Selatan, UK, dan

    Zimbabwe.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    10/21

    2.1.3  Senyawa Timah

    1.  Timah, Senyawaan yang terpenting adalah SnF2  dan SnCl2, yang

    diperoleh dengan pemanasan Sn dengan hf dan hcl gas.

    2. 

    Fluoridanya cukup larut dalam air dan digunakan dalam pasta gigi

    yang mengandung fluorida. Air menghidrolisis SnCl2 menjadi klorida

    yang bersifat basa, tetapi dari larutan asam encer SnCl2.2H2O dapat

    terkristalisasi. Kedua halidanya larut dalam larutan yang mengandung

    ion halida berlebihan, jadi:

    SnF2 + F- = SnF3- pK 1

    SnCl2 + Cl- = SnCl3- pK 1

    3. 

    Dalam larutan akua fluorida, SnF3-

     adalah spesies yang utama, tetapiion-ion SnF+ dan Sn2F5 dapat dideteksi.

    4.  Halida larutan dalam pelarut donor seperti aseton, piridin, atau DMSO,

    menghasilkan adduct peramidal, SnCl2OC(CH3)2.

    5.  Ion Sn2+ yang sangat peka terhadap udara, terjadi dalam larutan asam

     perklorat, yang dapat diperoleh dengan reaksi Cu(ClO4)2 + Sn Hg Cu

    + Sn2+ + 2 ClO4-.

    2.1.4  Reaksi –  reaksi Timah

    Timah putih adalah timah yang mudah dibentuk. ada suhu 13,2°C,

    secara perlahan, timah putih berubah menjadi tepung yang bewarna abu-

    abu yang disebut timah abu-abu. Bila timah putih yang dipanaskan akan

    menjadi sangat rapuh yang disebut timah rapuh. Timah putih dipakai

    sebagai pelapis kaleng agar mengkilap dan tahan korosi. Timah juga

    dipakai sebagai logam campuran dalam perunggu (tembaga dan timah)

    dan sebagai logam solder (campuran timah dengan timbal). Timah lebih

    mudah teroksidasi dibandingkan besi, sehingga tidak dapat dipakai

    sebagai pelindung besi.

    1.  Bilangan oksidasi timah dalam senyawa adalah +2 dan +4. Logam ini

    dapat teroksidasi oleh asam yang bukan pengoksidasi menjadi +2.

    Sn + 2HCl SnCl2 + H¬2

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    11/21

    Akan tetapi dengan pengoksidasi kuat, logam timah teroksidasi,

    menjdi +4.

    Sn + 4 HNO3 SnO2 + 4NO2 + 2 H2O.

    2. 

    Reaksi timah dengan Cl2 menghasilkan SnCl2.

    Sn + Cl2 SnCl2.

    3.  Logam Sn larut dalam basa membentuk ion stannit, Sn(OH)42-

    Sn + 2OH + 2H2O Sn(OH)42- + H2(Senyawa timah, seperti SnF2

    dipakai dalam bahan pasta gigi. Senyawa (C4H9)3SnO dipakai

    sebagai fungisida, yaitu zat pembasmi fungi (jamur).

    2.2  Eksplorasi Timah

    Eksplorasi merupakan kegiatan kajian dan analisa sistematis guna mengetahui

    seberapa besar cadangan biji timah yang terkandung. Didalam operasional

    kegiatan eksplorasi melibatkan beberapa komponen seperti surveyor (pemetaan

    awal), sumur bor/small bore ( mengambil sample timah dengan teknik bor tanah),

    lab analisis, hingga pemetaan akhir geologis (geological map).

    Proses eksplorasi sangat menentukan berjalannya suatu proses penambangan

    timah. Karena dari tahap inilah muncul data peta geologis secara lengkap sebagai

     panduan utama dalam kebijakan penambangan timah. Sehingga proses

    selanjutnya dapat ditempuh dengan berbagai analisa operasional yang baik,

    termasuk rencana anggaran dan sebagainya.

    2.2.1  Operasional Penambangan ( Mining )

    Didalam proses penambangan timah dikenal 2 jenis penambangan yaitu :

    1.  Penambangan Lepas Pantai

    Pada kegiatan penambangan lepas pantai, perusahaan

    mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di daerah

    lepas pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas

    mangkok (bucket) mulai dari ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft.

    Kapal keruk dapat beroperasi mulai dari kedalaman 15 meter

    sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu menggali lebih

    dari 3,5 juta meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    12/21

    dioperasikan oleh karyawan yang berjumlah lebih dari 100 karyawan

    yang waktu bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24 jam

    sepanjang tahun.

    Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi

     pencucian untuk mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut

    dengan kapal tongkang untuk dibawa ke Pusat Pengolahan Bijih

    Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan lainnya selain

     bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan

     peleburan yaitu minimal 70-72% Sn.

    2.  Penambangan Darat

    Penambangan darat dilakukan di wilayah daratan pulau

    Bangka Belitung, tentunya system operasional yang digunakan

    tidaklah sama seperti pada wilayah lepas pantai.

    Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa

    semprot (gravel pump).Setiap kontraktor atau mitra usaha melakukan

    kegiatan penambangan berdasarkan perencanaan yang diberikan oleh

     perusahaan dengan memberikan peta cadangan yang telah dilakukan

     pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan tersebut dan

    mengarahkan agar sesuai dengan pedoman atau prosedur pengelolaan

    lingkungan hidup dan keselamatan kerja di lapangan. Hasil produksi

    dari mitra usaha dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang telah

    disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja Sama.

    Pada daerah tertentu, penambangan timah darat menghasilkan

    wilayah sungai besar yang disebut dengan kolong/danau.

    Kolong/danau itulah merupakan inti utama cara kerja penambangan

    darat, karena pola kerja penambangan darat sangat tergantung pada

     pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dalam jumlah besar.

    Sehingga bila kita lihat dari udara, penambangan timah darat selalu

    menimbulkan genangan ari dalam jumlah besar seperti danau dan

    tampak berlobang-lobang besar.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    13/21

    Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa

    Pertambangan (KP) perusahaan dilaksanakan oleh kontraktor swasta

    yang merupakan mitra usaha dibawah kendali perusahaan. Hampir

    80% dari total produksi perusahaan berasal dari penambangan di darat

    mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai

    dengan Tambang Besar berkapasitas 100 m3/jam. Produksi

     penambangan timah menghasilkan bijih pasir timah dengan kadar

    tertentu.

    2.3  Pengolahan Timah

    Timah diolah dari bijih timah yang didapatkan dari batuan atau mineral timah

    ( kasiterit SnO2 ). Proses produksi logam timah dari bijinya melibatkan

    serangkaian proses yang terbilang rumit yakni pengolahan mineral ( peningkatan

    kadar timah/proses fisik dan disebut juga upgrading ), persiapan material yang

    akan dilebur, proses peleburan, proses refining dan proses pencetakan logam

    timah. Pemakaian timah biasanya dalam bentuk paduan timah yang dikenal

    dengan nama timah putih yakni campuran 80% timah, 11 % antimony dan 9%

    tembaga serta terkadang ditambah timbal. Timah putih ini terutama dipakai untuk

     peralatan logam pelindung dan pipa dalam industri kimia, industri bahan

    makanan dan untuk menyimpan bahan makanan.

    Proses pengolahan timah ini bertujuan sesuai dengan namanya yaitu

    meningkatkan kadar kandungan timah dimana Bijih timah diambil dari dalam

    laut atau lepas pantai dengan penambangan atau pengerukan setelah itu

    dilakukan pembilasan dengan air atau washing dan kemudian diisap dengan

     pompa. Bijih timah hasil dari pengerukan biasanya mengandung 20  –   30 %

    timah. Setelah dilakukan proses pengolahan mineral maka kadar kandungan

    timah menjadi lebih dari 70 %, sedangkan bijih timah hasil penambangan darat

     biasanya mengandung kadar timah yang sudah cukup tinggi >60%.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    14/21

     

    Adapun Proses pengolahan mineral timah ini meliputi banyak proses, yaitu :

    2.3.1  Washing atau Pencucian

    Pencucian timah dilakukan dengan memasukkan bijih timah ke dalam

    ore bin yang berkapasitas 25 drum per unit dan mampu melakukan

     pencucian 15 ton bijh per jam. Di dalam ore bin itu bijih dicuci dengan

    menggunakan air tekanan dan debit yang sesuai dengan umpan.

    2.3.2  Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar

    Bijih yang didapatkan dari hasil pencucian pada ore bin lalu dilakukan

     pemisahan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat screen,mesh,

    setelah itu dilakukan pengujian untuk mengetahui kadar bijih setelah

     pencucian. Prosedur penelitian kadar tersebut adalah mengamatinya

    dengan mikroskop dan menghitung jumlah butir dimana butir timah dan

     pengotornya memiliki karakteristik yang berbeda sehinga dapat diketahui

    kadar atau jumlah kandungan timah pada bijih.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    15/21

     

    2.3.3  Pemisahan berdasarkan berat jenis

    Proses pemisahan ini menggunakan alat yang disebut jig Harz.bijih

    timah yang mempunyai berat jenis lebih berat akanj mengalir ke bawah

    yang berarti kadar timah yang diinginkan sudah tinggi sedangkan sisanya,

    yang berkadar rendah yang juga berarti mengandung pengotor atau

    gangue lainya seperti quarsa , zircon, rutile, siderit dan sebagainya akan

    ditampung dan dialirkan ke dalam trapezium Jig Yuba.

    2.3.4 

    Pengolahan Tailing

    Dahulu tailing timah diolah kembali untuk diambil mineral bernilai

    yang mungkin masih tersisa didalam tailing atau buangan. Prosesnya

    adalah dengan gaya sentrifugal. Namun saat ini proses tersebut sudah

    tidak lagi digunakan karena tidak efisien karena kapasitas dari alat

     pengolah ini adalah 60 kg/jam.

    2.3.5  Proses Pengeringan

    Proses pengeringan dilakukan didalam rotary dryer. Prinsip kerjanyaadalah dengan memanaskan pipa besi yang ada di tengah  –  tengah rotary

    dryer dengan cara mengalirkan api yang didapat dari pembakaran dengan

    menggunakan solar.

    2.3.6  Klasifikasi

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    16/21

    Bijih  –   bijih timah selanjutnya akan dilakukan proses  –   proses

     pemisahan /klasifikasi lanjutan yakni:

    1.  Klasifikasi berdasarkan ukuran butir dengan screening

    2. 

    Klasifikasi berdasarkan sifat konduktivitasnya dengan High Tension

    separator

    3.  Klasifikasi berdasarkan sifat kemagnetannya dengan Magnetic

    separator.

    Klasifikasi berdasarkan berat jenis dengan menggunakan alat seperti

    shaking table , air table dan multi gravity separator(untuk pengolahan

    terak/tailing).

    2.3.7  Pemisahan Mineral Ikutan

    Mineral ikutan pada bijih timah yang memiliki nilai atau value yang

    terbilang tinggi seperti zircon dan thorium( unsur radioaktif ) akan

    diambil dengan mengolah kembali bijih timah hasil proses awal pada

    Amang Plant. Mula  –   mula bijih diayak dengan vibrator listrik

     berkecepatan tinggi dan disaring/screening sehingga akan terpisah antara

    mineral halus berupa cassiterite dan mineral kasar yang merupakan

    ikutan. Mineral ikutan tersebut kemudian diolah pada air table sehingga

    menjadi konsentrat yang selanjutnya dilakukan proses smelting,

    sedangkan tailingnya dibuang ke tempat penampungan.

    Mineral  –   mineral tersebut lalu dipisahkan dengan high tension

    separator  –  pemisahan berdasarkan sifat konduktor  –   nonkonduktornya

    atau sifat konduktivitasnya. Mineral konduktor antara lain: Cassiterite dan

    Ilmenite. Mineral nonconductor antara lain: Thorium, Zircon dan

    Xenotime. Lalu masing masing dipisahkan kembali berdasarkan

    kemagnetitanya dengan magnetic separation sehingga dihasilkan secara

    terpisah, thorium dan zircon.

    2.3.8  Proses Pre-Smelting

    Setelah dilakukan proses pengolahan mineral dilakukan proses pre-

    smelting yaitu proses yang dilakukan sebelum dilakukannya proses

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    17/21

     peleburan, misalnya preparasi material,pengontrolan dan penimbangan

    sehingga untuk proses pengolahan timah akan efisien.

    2.3.9  Proses Peleburan ( Smelting)

    Ada dua tahap dalam proses peleburan :

    1.  Peleburan tahap I yang menghasilkan timah kasar dan slag/terak.

    2.  Peleburan tahap II yakni peleburan slag sehingga menghasilkan

    hardhead dan slag II.

    3.  Proses peleburan berlangsung seharian  – 24 jam dalam tanur guna

    menghindari kerusakan pada tanur/refraktori. Umumnya terdapat

    tujuh buah tanur dalam peleburan. Pada tiap tanur terdapat bagian  –  

     bagian yang berfungsi sebagai panel kontrol: single point temperature

    recorder, fuel oil controller, pressure recorder, O2 analyzer,multipoint

    temperature recorder dan combustion air controller.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    18/21

    Udara panas yang dihembuskan ke dalam mfurnace atau tanur berasal

    dari udara luar / atmosfer yang dihisap oleh axial fan exhouster yang

    selanjutnya dilewatkan ke dalam regenerator yang mengubahnya menjadi

     panas.

    Tahap awal peleburan baik peleburan I dan II adalah proses charging

    yakni bahan baku  –  bijih timah atau slagI dimasukkan kedalam tanur

    melalui hopper furnace. Dalam tanur terjadi proses reduksi dengan suhu

    1100  –   15000C. Unsur  –   unsur pengotor akan teroksidasi menjadi

    senyawa oksida seperti As2O3 yang larut dalam timah cair.

    Sedangkan SnO tidak larut semua menjadi logam timah murni namun

    adapula yang ikut ke dalam slag dan juga dalam bentuk debu bersamaan

    dengan gas  –   gas lainnya. Setelah peleburan selesai maka hasilnya

    dimasukkan ke foreheart untuk melakukan proses tapping. Sn yang

     berhasil dipisahkan selanjutnya dimasukkan kedalam float untuk

    dilakukan pendinginan /penurunan temperatur hingga 4000C sebelum

    dipindahkan ke dalam ketel.sedangkan hardhead dimasukkan ke dalm

    flame oven untuk diambil Sn dan timah besinya.

    2.3.10  Proses Refining ( Pemurnian )

    1. 

    Pyrorefining

    Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan panas diatas

    titik lebur sehingga material yang akan direfining cair, ditambahkan

    mineral lain yang dapat mengikat pengotor atau impurities sehingga

    logam berharga dalam hal ini timah akan terbebas dari impurities atau

    hanya memiliki impurities yang amat sedikit, karena afinitas material

    yang ditambahkan terhadap pengotor lebih besar dibanding Sn.

    Contoh material lain yang ditambahkan untuk mengikat pengotor:

    serbuk gergaji untuk mengurangi kadar Fe, Aluminium untuk untuk

    mengurangi kadar As sehingga terbentuk AsAl, dan penambahan

    sulfur untuk mengurangi kadar Cu dan Ni sehingga terbentuk CuS dan

     NiS. Hasil proses refining ini menghasilkan logam timah dengan

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    19/21

    kadar hingga 99,92% (pada PT.Timah). Analisa kandungan impurities

    yang tersisa juga diperlukan guina melihat apakah kadar impurities

    sesuai keinginan, jika tidak dapat dilakukan proses refining ulang.

    2. 

    Eutectic Refining

    Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan crystallizer

    dengan bantuan agar parameter proses tetap konstan sehingga dapat

    diperoleh kualitas produk yang stabil. Proses pemurnian ini bertujuan

    mengurangi kadar Lead atau Pb yang terdapat pada timah sebagai

     pengotor /impuritiesnya. Adapun prinsipnya adalah berhubungan

    dengan temperatur eutectic Pb- Sn, pada saat eutectic temperature

    lead pada solid solution berkisar 2,6% dan aakan menurun bersamaan

    dengan kenaikan temperatur, dimana Sn akan meningkat kadarnya.

    Prinsip utamnya adalah dengan mempertahankan temperatur yang

    mendekati titik solidifikasi timah.

    3.  Electrolitic Refining

    Yaitu proses pemurnian logam timah sehingga dihasilkan

    kadar yang lebih tinggi lagi dari pyrorefining yakni 99,99%( produk

    PT. Timah: Four Nine ).

    Proses ini melakukan prinsip elektrolisis atau dikenal elektrorefining.

    Proses elektrorefining menggunakan larutan elektrolit yang

    menyediakan logam dengan kadar kemurnian yang sangat tinggi

    dengan dua komponen utama yaitu dua buah elektroda  – anoda dan

    katoda  – yang tercelup ke dalam bak elektrolisis.Proses elektrorefining

    yang dilakukan PT.Timah menggunakan bangka four nine (timah

     berkadar 99,99% ) yang disebut pula starter sheetsebagai katodanya,

     berbentuk plat tipis sedangkan anodanya adalah ingot timah yang

     beratnya berkisar 130 kg dan larutan elektrolitnya H2SO4. proses

     pengendapan timah ke katoda terjadi karena adanya migrasi dari

    anoda menuju katoda yang disebabkan oleh adanya arus listrik yang

    mengalir dengan voltase tertentu dan tidak terlalu besar.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    20/21

    2.3.11  Pencetakan

    Pencetakan ingot timah dilakukan secara manual dan otomatis.

    Peralatan pencetakan secara manual adalah melting kettle dengan

    kapasitas 50 ton, pompa cetak and cetakan logam. Proses ini memakan

    waktu 4 jam /50 ton, dimana temperatur timah cair adalah 2700C.

    Sedangkan proses pencetakan otomatis menggunakan casting machine,

     pompa cetak, dan melting kettleberkapasitas 50 ton dengan proses yang

    memakan waktu hingga 1 jam/60 ton.

    Langkah –  langkah pencetakan :

    1.  Timah yang siap dicetak disalurkan menuju cetakan.

    2.  Ujung pipa penyalur diatur dengan menletakkannya diatas cetakan

     pertama pada serinya, aliran timah diatur dengan mengatur klep pada

     piapa penyalur.

    3.  Bila cetakan telah penuh maka pipa penyalur digeser ke cetakan

     berikutnyadan permukaan timah yang telah dicetak dibersihkan dari

    drossnya dan segera dipasang capa pada permukaan timah cair.

    4.  Kecepatan pencetakan diatur sedemikian rupa sehingga laju

     pendinginan akan merata sehingga ingot yang dihasilkan mempunyai

    kulitas yang bagus atau sesuai standar.

    5.  Ingat timah ynag telah dingin disusun dan ditimbang.

    2.4  Kegunaan Timah

    Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa logam timah banyak dipergunakan

    untuk solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%),

    kuningan & perunggu (5,5%), industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi

    lain (11%). Akibat dari petumbuhan permintaan, kegunaan baru dari timah

    ditemukan. Masalah lingkungan, keselamatan dan kesehatan mempengaruhi

    kegunaan timah.Hasil dari riset yang sedang dilakukan di Internatioanal Tin

    Research Institude Ltd., lembaga yang dibiayai industri, banyak pasar baru untuk

    timah sedang dikembangkan.

  • 8/18/2019 Makalah PSDME Jadi

    21/21

    BAB 4

    KESIMPULAN DAN SARAN

    4.1 Kesimpulan

    1.  Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki symbol

    Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam

    miskin keperakan, dapat ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi

    dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy, dan

    digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat.2.  Mineral Utama timah adalah cassiterite.

    3.  Proses penambangan timah dilakukan dengan dua cara yaitu penambangan

    lepas pantai dan penambangan darat.

    4.  Pengolahan mineral timah ini meliputi banyak proses diantarannya washing,

     pemisahan ukuran, pemisahan berdasarkan berat jenis, pengolahan tailing, dll.

    5.  Pemanfaatan logam timah banyak dipergunakan untuk solder(52%), industri

     plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%), kuningan & perunggu (5,5%),

    industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi lain (11%)

    4.2 Saran

    Indonesia sebagai produsen timah putih terbesar di dunia sangat berpeluang

    mengembangkan industri dengan mengandalkan bahan timah putih, agar

    didapatkan nilai tambah berganda berupa pengembangan sektor usaha ikutan yang

    lain dan penciptaan lapangan kerja dan perlu meningkatkan teknologi dan system

     pengolahan timah di Indonesia.