makalah pkn(baru)

  • View
    598

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of makalah pkn(baru)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Landasan falsafah Indonesia adalah Pancasila yang terdiri atas 5 sila yang saling melengkapi dan menjiwai satu sama lainnya. Sila yang manjadi landasan utama dari kelima sila lainnya adalah sila pertama, yaitu Ketuhanan YME. Adanya sila

Ketuhanan YME tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan dan setiap hukum yang diterapkan di Indonesia harus berlandaskan Ketuhanan. Sila Ketuhanan YME menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memberikan kebebasan dan kewajiban kepada setiap warga negaranya untuk memeluk agama dan mempercayai adanya Tuhan.

Dalam perjalanannya, konsep Ketuhanan YME ini juga mengalami beberapa masalah seperti munculnya organisasi-organisasi atau individu yang menganut paham komunisme ataupun atheis. Tentunya hal tersebut sangat bertolak belakang dengan dasar negara kita yang mengharuskan setiap warga negaranya beragama.

Paham komunis adalah paham yang bercita-cita menghapus hak milik perseorangan dan mengganti hak milik secara bersama (semua diatur dan dimiliki oleh pemerintah). Pada dasarnya komunis itu merupakan ajaran yang menggusur keberadaan Tuhan. Karena dalam konsep komunis, agama hanya semacam eskapisme, usaha untuk keluar dari dunia yang nyata agar dapat masuk ke dunia yang tidak ada penderitaan dan kesusahan atau dunia yang sempurna. Apabila suatu negara menjadikan paham komunis menjadi suatu ideologi, maka dalam negara itu tidak akan ada lagi paham agama.

Sedangkan paham atheis adalah paham yang tidak mempercayai adanya sesuatu yang dijadikan panutan dalam suatu agama, seperti Tuhan, Allah, atau dewa dewi. Paham ini berbeda dengan paham komunis. Karena pada dasarnya yang tidak dipercayai oleh penganut paham komunis adalah agamanya atau ajarannya. Sementara paham atheis tidak percaya pada sosok yang dijadikan sebagai Tuhan dalam suatu agama.

Salah satu faktor yang menyebabkan munculnya paham atheis di Indonesia adalah adanya globalisasi dan perkembangan teknologi. Kedua faktor ini akan1

menyebabkan masuknya paham-paham dari luar yang menyebabkan masyarakat samar akan keyakinan agamanya sendiri.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa hukum yang berkaitan dengan kewajiban beragama di Indonesia? 2. Bagaimana perkembangan paham atheis di Indonesia? 3. Mengapa paham atheis bertentangan dengan dasar negara Indonesia? 4. Bagaimana kontradiksi antara paham atheis dengan dasar negara Indonesia? 5. Bagaimana pengaruh globalisasi dan teknologi terhadap paham atheis di Indonesia? 6. Apakah contoh kasus atheis yang terjadi di Indonesia? 7. Bagaiamana pandangan syariah islam terhadap paham atheis?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk lebih memahami nilai-nilai agama atau filsafat yang terdapat di Indonesia 2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan sila pertama pancasila bila dikaitkan dengan paham Atheisme 3. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perkembangan paham Atheisme di Indonesia di era globalisasi dan teknologi tinggi

1.4 Metode Penulisan Penulisan makalah ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari berita-berita yang memuat tentang kasus Atheisme di Indonesia dan mencari sumber-sumber yang menambah pemahaman mengenai makna dari paham Atheisme itu sendiri serta makna dari nilai agama yang terkandung dalam Pancasila.

1.5 Sistematika Penyajian Dalam makalah ini terdapat empat bab, terdiri dari BAB I Pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, Rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penyajian. Kemudian pada BAB II akan dibahas mengenai paham atheisme yang menjadi inti permasalahan dalam makalah ini. Pada BAB II akan dibahas pula bagaimana perkembangan paham Atheisme di Indonesia. Sementara pada BAB III akan dibahas mengenai kontradiksi antara Pancasila dengan paham Atheisme serta contoh kasus yang terjadi di Indonesia. Lalu pada bab terakhir yaitu BAB IV akan diuraikan

2

kesimpulan serta saran dari penulis berdasarkan dari studi kasus yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya.

3

BAB II PAHAM ATHEISME

2.1 Pengertian Paham Atheisme Atheisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam arti luas, atheisme adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. Orang yang menganut paham atheisme disebut dengan atheis. Atheisme berasal dari Bahasa Yunani (atheos), digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang ada di lingkungannya. Ajaran yang menyebarkan pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah atheis mulai merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan.

Batasan dasar pemikiran atheistik yang paling luas adalah antara atheisme praktis dengan ahteisme teoretis. Bentuk-bentuk atheisme teoretis yang berbeda-beda berasal dari argumen filosofis dan dasar pemikiran yang berbeda-beda pula. Sebaliknya, atheisme praktis tidaklah memerlukan argumen yang spesifik dan dapat meliputi pengabaian dan ketidaktahuan akan pemikiran tentang tuhan/dewa. a. Atheisme Praktis Dalam atheisme praktis atau pragmatis, yang juga dikenal sebagai apatheisme, individu hidup tanpa Tuhan. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna. Tuhan tidak memberikan kita tujuan hidup, ataupun mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Atheisme praktis dapat berupa: a. Ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada tuhan tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya; b. Pengesampingan masalah tuhan dan religi secara aktif dari pemikiran dan tindakan praktis; c. Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan Tuhan dan agama; dan d. Ketidaktahuan akan konsep Tuhan dan dewa.

4

b. Atheisme Teoretis Atheisme teoretis secara eksplisit menentang keberadaan tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen teistik mengenai keberadaan tuhan, seperti misalnya argumen dari rancangan dan taruhan Pascal. Terdapat berbagai alasan-alasan teoretis untuk menolak keberadaan tuhan, utamanya secara ontologis dan epistemologis. Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis. Argumen Ontologis & Epistimologis Atheisme epistemologis berargumen bahwa orang tidak dapat mengetahui Tuhan ataupun menentukan keberadaan Tuhan. Argumen lainnya yang mendukung atheisme yang dapat diklasifikasikan sebagai epistemologis ataupun ontologis meliputi positivisme logis dan ignostisisme, yang menegaskan ketidakberartian ataupun ketidakterpahaman istilah-istilah dasar seperti "Tuhan" dan pernyataan seperti "Tuhan adalah mahakuasa." Argumen Psikologis & Sosiologis Para filsuf seperti Ludwig Feuerbach dan Sigmund Freud berargumen bahwa Tuhan dan kepercayaan keagamaan lainnya hanyalah ciptaan manusia, yang diciptakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan psikologis dan emosi manusia. Hal ini juga merupakan pandangan banyak Buddhis. Karl Marx dan Friedrich Engels berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan dan agama adalah fungsi sosial, yang digunakan oleh penguasa untuk menekan kelas pekerja. Menurut Mikhail Bakunin, "pemikiran akan Tuhan mengimplikasikan turunnya derajat akal manusia dan keadilan; ia merupakan negasi kebebasan manusia yang paling tegas, dan seperlunya akan berakhir pada perbudakan umat manusia, dalam teori dan prakteknya." http://www.confucian.me/profiles/blogs/uraian-tentang-atheisme

2.2 Perkembangan Paham Atheisme di Indonesia Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragama, bahkan sila pertama berbunyi Ketuhanan yang maha esa. Namun, datangnya modernisme, yang juga melahirkan nusantara sebagai bangsa Indonesia, memunculkan atheisme. Atheisme di Indonesia muncul pada era modern dengan datangnya paham komunisme yang surut pada tahun 1965-1966 hingga reformasi tahun 1998 dan muncul kembali pasca reformasi. Sejak masuknya komunisme ke Indonesia melalui ISDV (Perhimpunan Sosialis Demokrat Hindia Belanda) ahteis mulai disebut-sebut.5

Saat era Soekarno, kampanye anti-atheis muncul bersamaan dengan kampanye antikomunis dari lawan-lawan PKI. Seperti saat komunisme pertama datang ke nusantara, ada yang tetap mempertahankan keatesiannya dan ada yang mencoba menyandingkan komunis dan agama seperti tercermin dalam karya sastra saat itu.

Pergesekan antara PKI dengan Islam lebih diakibatkan oleh faktor penerapan UU Pokok Agraria No. 5 tahun 1960. UU Pokok Agraria tersebut membatasi kepemilikan lahan hingga maksimal 2 hektar yang secara otomatis mengambil kelebihan tanah milik para tuan tanah, yang kebanyakan merupakan pemuka agama islam untuk diberikan pada petani tak bertanah secara cuma-cuma. Para tuan tanah menolak menyerahkan kelebihan tanah yang selama ini selalu memberikan penghasilan tambahan pada mereka lewat keringat petani-petani penggarap walaupun akan mendapat ganti rugi dari pemerintah. Penyelewengan pelaksanaan UU Agraria tersebut[vi] membangkitkan gejolak para petani tak bertanah, yang diorganisir oleh BTI, untuk melakukan aksi sepihak, bergejolak dan menyerukan untuk merebut secara paksa. Gesekan tersebut menjadi konflik yang semakin keras terutama di daerah Jawa Timur dan Jawa tengah tempat para tuan tanah sebagian besar merupakan pemuka agama Islam. Peter Edman menulis bahwa pada bulan Februari dan Maret 1965 kekerasan pun mencapai puncaknya seruan-seruan perjuangan keagamaan menjadi semakin marak dan bahkan melampui perjuangn keras yang sedang berusaha diciptakan oleh PKI. Kelompok-kelompok islam militant bertanggung jawab atas terjadinya banyak kekereasan di mana organisasi kepemuddaan NU (Nahdatul Ulama), Anshor, menjadi pelopor dalam konflik-konflik tersebut (Edman, 2005:156). Dalam mempropagandakan gerakan perlindungan atas tanah mereka, para tuan tanah bersama militer dan burjuasi nasional sebagai perang agama dan memberi stereotipe pembuat onar, atheis