Makalah PKN

  • View
    56

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Makalah PKN

Daftar Isi

Kata Pengantar Pendahuluan . Alamat Lengkap Penyusun

ii 2 3

Sejarah Singkat Kabupaten Sleman 3-4 Kepala Daerah 5 Periode Terakhir. 4-5

Kecamatan di Kabupaten Sleman 5 Keunggulan Kabupaten Sleman...... 6 Potensi Daerah. 7-13 SDA, SDM, dan Pembangunan Daerah .. 13-18 Hasil Pembangunan Daerah Setelah Berlakunya UU No 32 Tahun 2004 18-22 Kesimpulan.. 23 Saran 24 Daftar Pustaka. 25

1

PENDAHULUANIndonesia merupakan Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Wilayah NKRI terdiri dari beberapa daerah yang tersebar di penjuru Nusantara. Daerah-daerah tersebut dibagi menjadi beberapa tingkatan atau sub bagian. Yakni wilayah provinsi, wilayah kabupaten/kota, wilayah kecamatan, dan wilayah kelurahan/desa.

Sub bagian dari masing-masing daerah melakukan pemerintahan daerahnya sendiri. Hal ini disebut juga sebagai otonomi daerah. Otonomi daerah dijadikan sebagai asas dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai amanat UUD 1945 (Pasal 18) dan Pancasila. Pada dasarnya atauran-aturan tentang otonomi daerah telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Namun, secara resmi UU yang mengatur tentang Pemerintahan Daerah adalah UU No I/1945 tentang KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah). Pembentukan KNID (Pemerintah Daerah) dilakukan saat sidang PPKI II yang berlangsung tanggal 19 Agustus 1945.

Sejak adanya KNID dan UU yang mengatur hal tersebut, perkembangan pengaturan otonomi daerah bagi Pemerintah Daerah di Indonesia menjadi lebih baik dan terarah. Setelah UU No. I/1945 munculah pembaruan-pembaruan tentang UU yang yang

mengatur Pemerintahan Daerah diantaranya UU No. 22/1948 tentang desentralisasi dan pembagian wilayah menjadi 3 (Dati I, Dati II, Dati III, Desa). Semasa RIS muncul UU No. I/1957 tentang Pembentukan Daerah Istimewa, tingkat I Yogyakarta, tingkat II Kutai, tingkat III Berau (Kalimantan). Selanjutnya muncul UU No. 18/1965 tentang Dekosentrasi, Desentralisasi, dan Pembagian wilayah menajdi 3. Kemudian di tahun 1974 dikeluarkan UU No.5/1974. UU tersebut sudah memiliki aturan yang cukup lengkap tentang pemerintah daerah berikut kewaijban maupun kebijaksanaan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah.

UU No. 5/1974 berlaku cukup lama hingga ada pembaruan UU No. 22/1999 yang mengatur tentang Pemerintah Daerah. Selanjutya UU ini melakukan amandemen sehingga terbentuk UU No. 32/2004 tentang Pemda. Dibentuk pula UU No. 33/2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah yang berasal dari amandemen UU No. 25/1999.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai Pemerintahan Daerah Kabupaten Sleman yang terdapat di Provinsi Yogyakarta. Makalah ini akan membahas mengenai kepala dearah, banyaknya kecamatan di daerah tersebut, potensi yang dimiliki daerah, keunggulan daerah, serta keadaan daerah setalah adanya otonomi daerah. 2

Alamat Lengkap PenyusunDusun Kelurahan Kecamatan Kabupaten Provinsi : Ngentak RT O1 RW 23 No 30B : Sinduharjo : Ngaglik : Sleman : Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah Singkat Kabupaten Sleman

Keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya. Dalam Rijksblad tersebut juga disebutkan bahwa kabupaten Sulaiman terdiri dari 4 distrik yakni : Distrik Mlati (terdiri 5 onderdistrik dan 46 kalurahan), Distrik Klegoeng (terdiri 6 onderdistrik dan 52 kalurahan), Distrik Joemeneng (terdiri 6 onderdistrik dan 58 kalurahan), Distrik Godean (terdiri 8 onderdistrik dan 55 kalurahan). Berdasarkan Perda no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari tersebut tepat pada Hari Senin Kliwon, Tanggal 12 Rejeb Tahun Je 1846 Wuku Wayang. Berdasar pada perhitungan tahun Masehi, Hari Jadi Kabupaten Sleman ditandai dengan surya sengkala "Rasa Manunggal Hanggatra Negara" yang memiliki sifat bilangan Rasa= 6, Manunggal=1, Hanggatra=9, Negara=1, sehingga terbaca tahun 1916. Sengkalan tersebut, walaupun melambangkan tahun, memiliki makna yang jelas bagi masyarakat Jawa, yakni dengan rasa persatuan membentuk negara. Sedangkan dari perhitungan tahun Jawa diperoleh candra sengkala "Anggana Catur Salira Tunggal". Anggana=6, Catur=4, Salira=8, Tunggal=1. Dengan demikian dari candra sengkala tersebut terbaca tahun 1846. Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat diturunkan statusnya menjadi distrik di bawah wilayah Kabupaten Yogyakarta. Dan baru pada tanggal 8 April 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei angka 2 (dua). Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai wilayah Kabupaten dengan Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17 Kapenewon/Kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo. Melalui Maklumat Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah Kelurahan, maka 258 Kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi 86 kelurahan/desa. 3

Kelurahan/Desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan. Namun, secara umum dasar hukum pembentukan Kabupaten Sleman adalah berdasarkan UU No 15 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Daerah Istimewa Yogayakrta. Dasar Hukum tersebut ditetapkan tanggal 8 Agustus 1950. Luas Daerah Kabupaten Sleman sampai saat ini adalah 574,82 km2. Populasi pendudukunya mencapai 1.093.110 jiwa berdasarkan hasil survey tahun 2011. Sedangkan kepadatan penduduknya 1.901,66 jiwa/km2 . Sekarang ini, wilayah Kabupaten Sleman terdiri dari 17 Kecamatan dan 86 Kelurahan.

Kepala Daerah 5 Periode terakhir :No 1. Drs. Nama Periode Sri Tahun Foto

Purnomo, MSI 2010-2015

2.

Drs.

Ibnu Tahun 2000-2005 dan Tahun 2005-2010

Subiyanto, Akt.

3

Tahun 1990-2000

Drs. Ilyas

Arifin

4

4

Tahun 1985-1990

Drs. Samirin

Kecamatan di Kabupaten Sleman

Luas Jml Banyaknya No Kecamatan (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Moyudan Godean Minggir Gamping Seyegan Sleman Ngaglik Mlati Tempel Turi Prambanan Kalasan Berbah Ngemplak Pakem Depok Cangkringan Desa (3) 4 7 5 5 5 5 6 5 8 4 6 4 4 5 5 3 5 Dusun (4) 65 57 68 59 67 83 87 74 98 54 68 80 58 82 61 58 73 (5) (Ha) Penduduk Kepadatan (jiwa) (6) (Km2) (7) 1.216 2.133 1.267 2.249 1.583 1.774 1.712 2.351 1.428 755 1.064 1.524 1.750 1.243 701 3.069 549

2.762 33.595 2.684 57.245 2.727 34.562 2.925 65.789 2.663 42.151 3.132 55.549 3.852 65.927 2.852 67.037 3.249 46.386 4.309 32.544 4.135 44.003 3.584 54.621 2.299 40.226 3.571 44.382 4.384 30.713 3.555 109.092 4.799 26.354

5

Keunggulan DaerahSektor yang mempunyai keunggulan kompetitif adalah sektor yang mempunyai multiplier effect yang besar terhadap kegiatan perekonomian lain dan pengembangan kawasan sekitarnya, mempunyai permintaan pasar yang tinggi dan menarik minat swasta untuk menanamkan modalnya. Salah satu sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dalam rangka pengembangan ekonomi wilayah Kabupaten Sleman adalah sektor pariwisata. Kabupaten Sleman merupakan hub aktivitas pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dimana dalam peta kepariwisataan nasional, potensi DIY menduduki peringkat ketiga setelah Bali dan Jakarta. DIY memiliki keragaman obyek wisata spesifisitas obyek dengan karakter mantap dan unik seperti Kraton dan Candi Prambanan ditunjang dengan kesiapan sarana penunjang wisata serta sumber daya manusia yang berkualitas. Di DIY terdapat tidak kurang dari 70.000 industri kerajinan tangan, dan sarana lain yang amat kondusif seperti fasilitas akomodasi dan aneka ragam sarana transportasi, aneka jasa boga, biro perjalanan umum, serta dukungan pramuwisata yang memadai, tim pengamanan wisata yang disebut sebagai Bhayangkara Wisata memperkuat daya saing DIY sebagai propinsi tujuan utama (primary destination) tidak saja bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Sementara itu Propinsi Jawa Tengah, dengan berbagai obyek wisatanya yang salah satunya menjadi ikon pariwisata internasional yaitu Candi Borobudur menambah keragaman tujuan wisata. Posisi strategis Kabupaten Sleman yang terletak diantara DIY dan Jawa Tengah menjadikan Kabupaten Sleman sebagai channel untuk aktivitas pariwisata DIY-Jawa Tengah. Ditambah dengan keberadaan Bandara Adisutjipto di wilayah Kabupaten Sleman memberikan kemudahan aksesibiltas bagi wisatawan ke DIY-Jawa Tengah pada umumnya dan Kabupaten Sleman khususnya. Keuntungan ini menjadikan Sleman sebagai pusat aktivitas pariwisata. Peluang ini ditangkap oleh seluruh civitas pariwitasa di Kabupaten Sleman dengan layanan wisata seperti pengembangan destinasi wisata, penyediaan sarana prasarana wisata, dan lain-lain.

6

Potensi Daerah1. Potensi Komoditi Pertanian, Peternakan, dan Perikanan

a) Salak Pondoh Sentra produksi tanaman ini berada di kecamtan Tempel, Turi dan Pakem. Kondisi salak pondoh saat ini tergambarkan sbb: No 1 2 3 4 Uraian Luas Areal (ha) Produksi (ton) Produktivitas (kg/rpn) Jumlah rumpun 2009 2.106,00 5.443,59 2,58 4.310.100 2010 2.437,00 5.003,01 2,32 4.451.299 2011 2.164,00 3.760,59 2,58 4.607.922

(gambar salak pondoh dan perkebunan salak pondoh di wilayah Sleman) b) Mendong Kondisi produk mendong dengan sentra di Kecamatan Minggir: No 1 2 Luas Areal (ha) Jumlah Tanaman (ton) Uraian 2009 2010 150,00 313,09 2011 95,00 259,51

7

(gambar mendong, mendong yang dibentangkan, dan hasil kerajinan dari mending) c) Sapi potong Budidaya dan produksi sapi potong tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Hasil budidaya tergambarkan sebagai ber