MAKALAH Otitis Media Akut

  • View
    98

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas oma

Text of MAKALAH Otitis Media Akut

OTITIS MEDIA AKUT

TUGAS MATA KULIAH PERSEPSI SENSORI

NAMA KELOMPOK 3 :

1. ABDUL QODAS

(1410001)

2. ANA SULISTIYOWATI

(141000)

3. FANDI FATULLAH

(14100)

4. IKA RETNO PALUPI N. H

(1410021)5. LULUK BADRIYAH

(1410028)6. SYAIFUL ANAM

(14100)PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ARTHA BODHI ISWARA

2015KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmatNya sehingga penulis menyelesaikan penulisan makalah ini. Adapun tujuan makalah kami yang berjudul OTITIS MEDIA AKUT (OMA) ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Persepsi Sensori.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing Bapak Heri, S.Kep, Ns. yang telah banyak membantu memberikan bimbingan dan arahan.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Surabaya, 7 Desember 2015Kelompok 3DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

2DAFTAR ISI

3BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 4B. Rumusan Masalah 5C. Tujuan 5BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.Definisi OMA

7B. Anatomi dan Fisiologi 7C. Etiologi OMA 12D. Faktor Risiko 13E. Gejala Klinis 14F. Patofisiologi 15

G. Penyebab Anak Sering Terserang OMA 18

H. Pemeriksaan Diagnostik 23I. Penatalaksanaan 24J. Komplikasi 28K. Pencegahan 28

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN OMA

A. Pengkajian 30B. Diagnosa Keperawatan 31C. Intervensi Keperawatan 31

D. Laporan Kasus 34

E. Pembahsan 37BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 39B. Saran 39DAFTARPUSTAKA 40BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut telinga tengah. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan khususnya pada anak-anak. Diperkirakan 70% anak mengalami satu atau lebih episode otitis media menjelang usia 3 tahun. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dari baru lahir sampai umur sekitar 7 tahun, dan setelah itu insidennya mulai berkurang.

Anak umur 6-11 bulan lebih rentan menderita OMA. Insiden sedikit lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding perempuan. Sebagian kecil anak menderita penyakit ini pada umur yang sudah lebih besar, pada umur empat dan awal lima tahun. Beberapa bersifat individual dapat berlanjut menderita episode akut pada masa dewasa. Kadang-kadang, orang dewasa dengan infeksi saluran pernafasan akut tapi tanpa riwayat sakit pada telinga dapat menderita OMA.

Faktor-faktor risiko terjadinya OMA adalah bayi yang lahir prematur dan berat badan lahir rendah, umur (sering pada anak-anak), anak yang dititipkan kepenitipan anak, variasi musim dimana OMA lebih sering terjadi pada musim gugur dan musim dingin, predisposisi genetik, kurangnya asupan air susu ibu, imunodefisiensi, gangguan anatomi seperti celah palatum dan anomaly kraniofasial lain, alergi, lingkungan padat, sosial ekonomi rendah, dan posisi tidur tengkurap.Penatalaksanaan OMA tanpa komplikasi mendapat sejumlah tantangan unik. Pilihan terapi OMA tanpa komplikasi berupa observasi dengan menghilangkan nyeri (menggunakan asetaminofen atau ibuprofen), dan atau antibiotik. Di Amerika Serikat (AS), kebanyakan anak dengan OMA secara rutin mendapat antibiotik. Cepatnya perubahan spectrum patogen menyebabkan sulitnya pemilihan terapi yang paling sesuai. Berkembangnya pengetahuan baru tentang patogenesis OMA, perubahan pola resistensi, dan penggunaan vaksin baru memunculkan tantangan yang lebih lanjut pada penatalaksanaan efektif pada OMA. Food and Drug Administration (FDA) menyetujui penggunaan vaksin pneumokokus konjugat sebagai cara baru dalam menurunkan prevalensi OMA dan mencegah

sekuele dari infeksi telinga.Beberapa peneliti dari Eropa Barat, Inggris, dan AS menyarankan bahwa anak dengan OMA dapat diobservasi saja daripada diterapi segera dengan antibiotik. Di Belanda, pengurangan penggunaan antibiotik untuk OMA sudah dipraktekkan sejak tahun 1990an. Pada tahun 2004, American Academy of Pediatrics dan the American Academy of Family Physicians mengeluarkan rekomendasi diagnosis dan penatalaksanaan OMA. Menurut petunjuk rekomendasi ini, observasi direkomendasikan tergantung pada umur pasien, kepastian diagnosis dan berat-ringannya penyakit. Sekitar 80% anak sembuh tanpa antibiotik dalam waktu 3 hari.B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Otitis Media Akut ?2. Bagaimana anatomi dan fisiologi pada Otitis Media Akut (OMA) ?3. Apa saja penyebab dari OMA ?

4. Apa saja manifestasi klinis dari OMA ?

5. Bagaimana Patofisiologi OMA ?

6. Apa saja pemeriksaan dianostik OMA ?

7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari OMA ?

8. Apa saja komplikasi dari OMA ?

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami kelainan pendengaran pada pasien otitis media.2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu memberikan pengkajian pada pasien dengan otitis media

Mahasiswa mampu memberikan diagnosa pada pasien dengan otitis media

Mahasiswa mampu memberikan intervensi pada pasien dengan otitis media

Mahasiswa mampu memberikan implementasi pada pasien dengan otitis media

Mahasiswa mampu memberikan evaluasi pada pasien dengan otitis media

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAA. Definisi

Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva (Djaafar, 2007).

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah (Buchman, 2003). Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore (Kerschner, 2007).B. Anatomi

Anatomi Telinga Tengah

Telinga dibagi menjadi 3 bagian yaitu : telinga luar, telinga tenga, dan telinga dalam. Telinga tenga adalah suatu rongga yang terletak di tulang tengkorak dan terdiri dari membrane timpani, kavum timpani, antrum mastoid, dan Tuba Eustachius.

Membran Timpani

Membran timpani dibagi menjadi dua bagian yaitu : pars tensa (Membran Sharpnell) yang terletak pada bagian atas dan pars tensa (membrane proria) yang terletak pada bagian bawah.

Pars Tensa yang merupakan bagian yang paling besar terdiri dari tiga lapisan. Lapisan luar disebut Kutaneus (cutaneous layer) terdiri dari lapisan epitel berlapis semu yang halus yang normalnya merefleksikan cahaya. Lapisan dalam disebut lapisan mukosa (mucosa layer) merupakan lapisan yang berbatasan dengan cavum timpani serta lapisan yang terletak di antara keduanya.

Lapisan ini terdiri dari 2 lapis jaringan ikat fibrosa yang bersatu dengan cincin fibrokartilago yang mengelilingi membrane timpani. Pars flaksida tidak memiliki lapisan fibrosa sehingga bagian ini pertama kali akan mengalami retraksi bila terjadi tekanan negatif dalam telinga.Kavum timpaniKavum timpani di bagi menjadi tiga bagian yang berhubungan dengan lempeng membran timpani, yaitu epitimpanum,mesotimpanum,dan hipotimpanum

Epitimpanum dibatasi oleh suatu penonjolan tipis,yaitu tegmen timpani.

Bagian anterior epitimpanum terdapat ampula kanali superior.Pada bagian anterior dari ampula kanlis superior terdapat ganglion genikulatum yang merupakan tanda ujung anterior ruang atik.Atik pada bagian posterior menyempitmenjadi jalan masuk ke antrum mastoid yaitu aditus ad antrum.Mesotimpanum,pada bagian medial dibatasi oleh kapsula otik yang terletak lebih rendah daripada n.fasilialis pars timpani. Promotorium berisi saraf-saraf yang membentuk plektus timpanikus. Promotorium pada bagian posterosuperior terdapat foramen ovale (vestibuler) pada bagian posteroinferior terdapat foramen rotundum (koklear) Orificium timpani tuba Eustachius terletak pada anterosuperior mesotimpanum.Hipotimpanum merupakan suatu ruang dangkal yang terletak lebih rendah

dari membran timpani. Hipotiompanum berbatasan dengan bulbus vena jugularis dan sel-sel mastoid.

Batas-batas kavum timpani meliputi

1. Atap : tegmen timpani

2. Dasar : dinding jugularis dan tonjolan stiloideus

3.Anterior:dinding karotis ostium tuba Eustachius, tensortimpani

4. Posterior : mastoid, stapedius tonjolan piramidal

5. Latelal : membran timpani, skutum

6. Medial : dinding labirin

Rangkaian tulang pendengaran di telinga tengah berukuran kecil dan di hubungkan oleh tendon-tendon otot yang tipis (tensor timpani dan stapedius) manubrium rnaleus menempel pada membran timpani dimana bagian atasnya. membentuk umbo yang merupakan landrmark yang penting clalam mengevaluasimembran timpani. Tulang selanjutnya adalah inkus yang berartikulasi dengan maleus. Kepala maleus dan badan inkus terletak di epitimpani. Prosesus longus inkus berartikulasi dengan stapes. Dasar stapes dihubungkan dengan tingkap lonjong oleh sebuah ligamentum yang elastis. Didalam kavum timpani juga terdapat korda timpa