55
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NEFROTIK SYNDROME Disusun oleh TUTOR 7 Anggota : Annisa Labertha 220110100002 Sonya Putri Perdana 220110100009 M. Zaenudin Wasilah 220110100032 Hanna khoirotun nisa 220110100034 Iswari Nastiti 220110100043 Evi Noviyani 220110100051 Wiwi Karlina 220110100056 Aisah Syayidah 220110100083 Djoko Permadi 220110100096 Fabianus Tegar 220110100102 Endah Rahayu 220110100105 S. Ratih Herdina 220110100121 Fakultas Keperawatan

makalah nefrotik sindrom

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah nefrotiksindrom

Citation preview

Page 1: makalah nefrotik sindrom

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NEFROTIK SYNDROME

Disusun oleh TUTOR 7

Anggota : Annisa Labertha 220110100002

Sonya Putri Perdana 220110100009

M. Zaenudin Wasilah 220110100032

Hanna khoirotun nisa 220110100034

Iswari Nastiti 220110100043

Evi Noviyani 220110100051

Wiwi Karlina 220110100056

Aisah Syayidah 220110100083

Djoko Permadi 220110100096

Fabianus Tegar 220110100102

Endah Rahayu 220110100105

S. Ratih Herdina 220110100121

Fakultas Keperawatan

Universitas Padjajaran

2013

Page 2: makalah nefrotik sindrom

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sindrom nefrotik, adalah salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak,

merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari proteinuria masif,

hipoalbuminemia, hiperkolesteronemia serta edema. Yang dimaksud proteinuria masif

adalah apabila didapatkan proteinuria sebesar 50-100 mg/kg berat badan/hari atau lebih.

Albumin dalam darah biasanya menurun hingga kurang dari 2,5 gram/dl. Selain gejala-

gejala klinis di atas, kadang-kadang dijumpai pula hipertensi, hematuri, bahkan kadang-

kadang azotemia.

Pada anak kausa SN tidak jelas sehingga disebut Sindrom Nefrotik Idiopatik ( SNI ).

Kelainan histologis SNI menunjukkan kelainan-kelainan yang tidak jelas atau sangat

sedikit perubahan yang terjadi sehingga disebut Minimal Change Nephrotic Syndrome

atau Sindrom Nefrotik Kelainan Minimal (SNKM). Sarjana lain menyebut NIL (Nothing

In Light Microscopy).

Insidens dapat mengenai semua umur tetapi sebagian besar ( 74% ) dijumpai pada

usia 2-7 tahun dengan perbandingan wanita dan pria 1:2. Pada remaja dan dewasa rasio

ini berkisar 1:1.

2. TUJUAN

Tujuan dibuatnya makalah ini untuk memberikan informasi mengenai asuhan

keperawatan yang akan diberikan pada pasien dengan menderita Simdrom Nefrotik serta

memberikan informasi mengenaiSindrom Nefrotik dan cara mengatasinya. Oleh karena

Page 3: makalah nefrotik sindrom

itu dengan adanya makalah ini semoga dapat membantu dan bermanfaat untuk kita

semuanya.

3. MANFAAT

Dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat memperdalam ilmu

keperawatan yang bersangkutan dengan Sindrom Nefrotik dan juga dapat menjadikan

acuan dalam menetapkan asuhan keperawatan.

Page 4: makalah nefrotik sindrom

BAB 2

ISI

Kasus 3

Seorang anak laki-laki, berusia 4 th, dibawa ke Unit Kesehatan Anak dalam

keadaan edema anasarka. Menurut penuturan ibunya, sekitar 1 bulan yang lalu

klien mengalami bengkak pada periorbita terutama pada saat bangun tidur, muka

sembab, dan mengeluh pusing. Hasil anamnesa riwayat kesehatan: sejak 1 tahun

yang lalu klien mengeluh bengkak-bengkak di seluruh tubuh sampai dengan kelopak

mata. Karena keluhannya ini klien dibawa ke RS Majalaya dan dikatakan bocor

ginjal. Klien kontrol 3 bulan terahir namun tidak ada perbaikan, kemudian klien

dibawa ke RS Al-Ihsan sejak 2012 dan diberi tablet berwarna hijau yang diminum 3

x 2 selama 2 bulan. Selanjutnya 4 tablet/hari selang sehari, keluhan tidak berubah,

klien lalu dibawa ke RSHS. Pola BAK sebelum sakit 3-5x sehari, saat ini berkemih

mulai berkurang baik dari segi frekuensi dan jumlah urin yang dikeluarkan. Dari

pemeriksaan fisik didapatkan ascites (+), TD 130/90 mmHg, hr 112X/M, respirasi

rate 30X/m, rasio insp : eksp 1 : 1, Antropometri: BB: 32, 5 kg, TB: 121,5 cm,

lingkar perut: 68 cm, RR: 28x/ menit, TD: 130/ 90 mmHg, suhu: 36’C.

Hasil Laboratorium:

Hb 13 gr%

Ht 44%

Protein total 6,0

Albumin 2,1

Kolesterol total 345

Trigliserida 172

BUN

Serum kreatinin

30 mg%

0,9 mg%

Urin:

Page 5: makalah nefrotik sindrom

Albumin urin ++++

Warna urine Kuning

Kejernihan Keruh

pH urine 6,5

BJ Urine 1,010

Glukosa urin Negative

Keton urin +

Nitrit urin -

Urobilinogen 0,1

Hasil Small Group Discussion

Chair : S. Ratih Herdina

Scriber 1 : Endah Rahayu

Scriber 2 : Evi Noviyani

Step 1

1. Edema anasarka : Edema (pembengkakan)/ Edema Anasarka : pembengkakan di

seluruh tubuh

2. Antropometri : Alat untuk mengukur berat badan dan tinggi badan

3. Periorbita : daerah disekitar mata

4. Urobilinogen

Step 2

1. Hasil laboratorium normal?

2. Penyebab edema anasarka?

3. Mengapa pasien mengalami muka sembab dan pusing saat bangun tidur?

4. Penyebab bocor ginjal?

5. Tablet hijau? Untuk apa?

6. Pengaruh pola BAK pasien terhadap edema?

Page 6: makalah nefrotik sindrom

7. Organ yang terganggu akibat bocor ginjal?

8. Maksud dari pemeriksaan sebanyak 2 kali?

9. Stadium penyakit?

10. Prognosis dan terapi yang tepat?

11. Ginjal bocor apakah bisa kembali normal atau tidak?

12. Pengobatan lain?

13. Pencegahan?

14. Hubungan penyakit dan TTV?

15. Mengapa ada pemeriksaan ekspirasi dan inspirasi? Mengapa TD dan RR meningkat?

16. Faktor resiko?

17. Diagnose keperawatan proritas?

18. Hubungan penyakit dengan peningkatan BB, hubungan dengan status nutrisi?

19. Deteksi dini?

20. Bagaimana alur rujukan dari daerah?

21. Peran perawat kepada keluarga?

22. Tindakan keperawatan pada anak 4 tahun pada kasus ini?

23. Status cairan?

24. Penatalaksanaan atau ada pembedahannya?

25. Komplikasi?

26. Tindakan awal terhadap pasien seperti ini?

Step 3

9. Sudah kronis, sudah ada kebocoran ginjaldan sudah terjadi penyebaran

Stadium 3, sudah ada penyebaran

3. Tidur → metabolisme ↑ → hormone berpengaruh

Karena pengaruh hormone

6. Pola BAK jarang → penumpukan cariran di tubuh

Ginjal bocor → cairan ke seluruh tubuh

8. Untuk antisipasi jika terjadi komplikasi

Page 7: makalah nefrotik sindrom

15. Ekspirasi >< Inspirasi menunjukkan kemampuan klien dalam bernafas, normal 2:1,

pasien 1:1 → sesak, ada kemungkinan adanya tekanan diafragma

20. Dari RSUD/puskesmas → RS yang lebih besar dengan membawa surat rujukan

Puskesmas → RSUD → RS Provinsi

2. Ginjal bocor → tidak ada penyaringan → shift cairan

10. Buruk, Terapi : urostomi

Pembedahan : nefroktomi

Step 4

DO : TD: 130/90mmHg, RR: 30x/menit, HR: 112x/menit, Rasio Ex:In: 1:1, BB:

32,5 kg, TB: 121,5 cm, LR: 68 cm → RR: 28x/menit, TD: 120/80mmHg, S:

36oC, Ascites (+)

DS : 1 bulan yang lalu bengkak di periorbita, pusingh, bocor ginjal. Pola BAK

sebelum sakit 3-5x/hari. Frequency dan jumlah urin berkurang, edema

anasarka

Medikasi : pemberian tablet berwarna hijau (3x2) selama 2 bulan

Kegagalan glomerulus dalam filtrasi

Proteinuria

↓ protein didalam tubuh

Hipoalbumin

Page 8: makalah nefrotik sindrom

↓ tekanan osmotik dalam darah

Shift cairan

Edema anasarka dan kelopak mata

penekanan di rongga peritoneum

Penekanan pada diafragma

↑ RR

Alkalosis Respiratori (↓CO2)

Noa Rebreathing Mask

(NRM)

LO:

Page 9: makalah nefrotik sindrom

Bagaimana observasi NRM

Anfis ginjal → sampai terjadi urinaria

Obat-obatan (implikasi keperawatan)

Bengkak di periorbital dan peningkatan BB kenapa

Prognosis

Penyebab nefrotik sindrom

NCP

Badan-badan keton (karena dapat menyebabkan penurunan BB)

KONSEP PENYAKIT

Page 10: makalah nefrotik sindrom

Definisi

a. Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein,

penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolestrol

yang tinggi dari lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth.

2001)

b. Sindrom nefrotik adalah entitas klinis yang terjadi akibat kehilangan masiv oleh

protein melalui urine (albuminuria) terutama yang menyebabkan hipoalbuminemia

dan edema. (Abraham M, Rudolph.2006)

c. Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang ditandai dengan proteinuria,

hipoalbuminemia, edema dan hiperkolestrolmia. (Baughman.2000)

d. Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria,

hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria,

hipertensi dan penurunan fungsi ginjal. ( Ngastiyah, 1997)

Etiologi

Page 11: makalah nefrotik sindrom

Secara klinis sindrom nefrotik dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

a. Sindrom Nefrotik Primer

Faktor etiologinya tidak diketahui atau ideopatik (90%). Dikatakan sindrom nefrotik

primer oleh karena sindrom nefrotik ini secara primer terjadi akibat kelainan pada

glomerulus itu sendiri, tanpa ada penyebab lain. Golongan ini paling sering terjadi

pada anak. Termasuk dalam sindrom nefrotik primer adalah sindrom nefrotik

congenital, yaitu salah satu jenis sindrom nefrotik yang ditemukan sejak anak itu

lahir atau usia dibawah 1 tahun.

b. Sindrom nefrotik sekunder

Timbul sebagai akibat dari suatu penyakit sistemik atau sebagai akibat dari berbagai

sebab yang nyata seperti misalnya efek samping obat. Penyebab yang sering

dijumpai adalah:

Penyakit metabolik atau congenital

Seperti Diabetes Mellitus, Amiloidosis, sindrom alport, miksedema

Infeksi

Hepatitis B, malaria, schistosomiasis, lepra, sifilis, streptococcus, AIDS

Toksin dan allergen

Logam berat (Hg), penisillamin, probenesid, racun serangga, bias ular

Penyakit sistemik bermediasi imunologik

Lupus Eritematosus Sistemik, Purpura Henoch-Schonlen, Sarkoidosis

Neoplasma

Tumor paru, penyakit Hodgkin, tumor gastrointestinal

Klasifikasi

Whaley dan Wong (1999 : 1385) membagi tipe-tipe sindrom nefrotik:

1. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS : Minimal Change Nephrotic Syndrome).

Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada anak usia sekolah.

Anakdengan sindrom nefrotik ini, pada biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila

dilihatdengan mikroskop cahaya.

Page 12: makalah nefrotik sindrom

2. Sindrom Nefrotik Sekunder

Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus eritematosus

sistemik,purpura anafilaktik, glomerulonefritis, infeksi system endokarditis,

bakterialis danneoplasma limfoproliferatif.

3. Sindrom Nefrotik Kongenital

Faktor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal.

Bayiyang terkena sindrom nefrotik, usia gestasinya pendek dan gejala awalnya

adalah edemadan proteinuria. Penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan

kematian dapatterjadi pada tahun-yahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan

dialysis.

Klasifikasi menurut ISKDC (1970) dan Habib, Kleinknecht (1971)

Kelainan Minimal (KM)

Glomerulosklerosis (GS)

o Glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS)

o Glomerulosklerosis fokal global (GSFG)

Glomerulonefritis proliferatif mesangial difus (GNPMD)

Glomerulonefritis proliferatif mesangial difus eksudatif (GNPMDE)

Glomerulonefritis kresentik (GNPK)

Glomerulonefritis membrano-poliferatif (GNMP)

o GNMP tipe 1 dengan deposit subendotelial

o GNMP tipe 2 dengan deposit intramembran

o GNMP tipe 3 dengan deposit transmembran/ subepitelial

Glomerulonefritis kronik lanjut (GNKL)

Glomerulopati membranosa (GM)

Page 13: makalah nefrotik sindrom

Sindrom nefrotik primer, faktor etiologinya tidak diketahui. Dikatakan sindrom nefrotik

primer oleh karena sindrom nefrotik ini secara primer terjadi akibat kelainan pada

glomerulus itu sendiri tanpa ada penyebab lain. Golongan ini paling sering dijumpai

pada anak. Termasuk dalam sindrom nefrotik primer adalah sindrom nefrotik kongenital,

yaitu salah satu jenis sindrom nefrotik yang ditemukan sejak anak itu lahir atau usia di

bawah 1 tahun.

Kelainan histopatologik glomerulus pada sindrom nefrotik primer dikelompokkan

menurut rekomendasi dari ISKDC (International Study of Kidney Disease in Children).

Kelainan glomerulus ini sebagian besar ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskop

cahaya, dan apabila diperlukan, disempurnakan dengan pemeriksaan mikroskop elektron

dan imunofluoresensi. Tabel di bawah ini menggambarkan klasifikasi histopatologik

sindrom nefrotik pada anak berdasarkan istilah dan terminologi menurut rekomendasi

ISKDC (International Study of Kidney Diseases in Children, 1970) serta Habib dan

Kleinknecht (1971).

Klasifikasi kelainan glomerulus pada sindrom nefrotik primer

1. Kelainan minimal (KM): Lesi khas sindrom nefrotik pada anak-anak (<15 tahun),

berjumlah sekitar 70% hingga 80% kasus. Istilah lama yang digunakan untuk penyakit

ini adalah nefrosis lipoid, penyakit nil, atau penyakit podosit.

2. Glomerulopati membranosa (GM): penyebab tersering sindrom nefrotik idiopatik pada

orang dewasa (tercatat 30%-40% kasus) Pada anak – anak jarang (<5%) SN Idiopatik

pada orang dewasatersebar secara difus dan menyerang seluruh glomerulus.

3. Glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS): terdapat 10% hingga 15% kasus sindrom

nefrotik idiopatik pada anak dan 10% sampai 20% dari kasus pada orang dewasa. Lesi

tersebut ditandai dengan skelerosis dan hialinosis pada beberapa glomerulus (oleh

karena itu disebut fokal)

4. Glomerulonefritis membrano-proliferatif (GNMP): ditandai dengan penebalan langsung

kapiler dan hiper selularital mesangial. GNMP ditemukan sekitar 5% kasus sindrom

nefrotik idiopatik pada anak-anak (terutama berusia antara 8-16 tahun) dan jarang pada

orang dewasa.

Page 14: makalah nefrotik sindrom

Sindrom nefrotik primer yang banyak menyerang anak biasanya berupa sindrom

nefrotik tipe kelainan minimal. Pada dewasa prevalensi sindrom nefrotik tipe kelainan

minimal jauh lebih sedikit dibandingkan pada anak-anak.

Di Indonesia gambaran histopatologik sindrom nefrotik primer agak berbeda dengan

data-data di luar negeri. Wila Wirya menemukan hanya 44.2% tipe kelainan minimal dari

364 anak dengan sindrom nefrotik primer yang dibiopsi, sedangkan Noer di Surabaya

mendapatkan 39.7% tipe kelainan minimal dari 401 anak dengan sindrom nefrotik primer

yang dibiopsi.3,5

Sindrom nefrotik sekunder, timbul sebagai akibat dari suatu penyakit sistemik atau

sebagai akibat dari berbagai sebab yang nyata seperti misalnya efek samping obat.

Penyebab yang sering dijumpai adalah :

1. Penyakit metabolik atau kongenital: diabetes mellitus, amiloidosis, sindrom Alport,

miksedema.

2. Infeksi : hepatitis B, malaria, Schistosomiasis mansoni, Lues, Subacute Bacterial

Endocarditis, Cytomegalic Inclusion Disease, lepra, sifilis, streptokokus, AIDS.

3. Toksin dan alergen: logam berat (Hg), Trimethadion, paramethadion, probenecid,

penisillamin, vaksin polio, tepung sari, racun serangga, bisa ular.

4. Penyakit sistemik bermediasi imunologik: Lupus Eritematosus Sistemik, purpura

Henoch-Schonlein, sarkoidosis.

5. Neoplasma : tumor paru, penyakit Hodgkin, Leukemia, tumor gastrointestinal.

6. Penyakit perdarahan : Hemolytic Uremic Syndrome

Manifestasi Klinis

Adapun manifesitasi klinik dari sindrom nefrotik adalah :

Page 15: makalah nefrotik sindrom

Apapun tipe sindrom nefrotik, manifestasi klinik utama adalah edema, yang tampak pada

sekitar 95% anak dengan sindrom nefrotik. Seringkali edema timbul secara lambat

sehingga keluarga mengira sang anak bertambah gemuk. Pada fase awal edema sering

bersifat intermiten; biasanya awalnya tampak pada daerah-daerah yang mempunyai

resistensi jaringan yang rendah (misalnya daerah periorbita, skrotum atau labia).

Akhirnya edema menjadi menyeluruh dan masif (anasarka).

Edema berpindah dengan perubahan posisi, sering tampak sebagai edema muka pada

pagi hari waktu bangun tidur, dan kemudian menjadi bengkak pada ekstremitas bawah

pada siang harinya. Bengkak bersifat lunak, meninggalkan bekas bila ditekan (pitting

edema). Pada penderita dengan edema hebat, kulit menjadi lebih tipis dan mengalami

oozing. Edema biasanya tampak lebih hebat pada pasien SNKM dibandingkan pasien-

pasien GSFS atau GNMP. Hal tersebut disebabkan karena proteinuria dan

hipoproteinemia lebih hebat pada pasien SNKM.

Edema paling parah biasanya dijumpai pada sindrom nefrotik tipe kelainan minimal

(SNKM). Bila ringan, edema biasanya terbatas pada daerah yang mempunyai resistensi

jaringan yang rendah, misal daerah periorbita, skrotum, labia. Edema bersifat

menyeluruh, dependen dan pitting. Asites umum dijumpai, dan sering menjadi anasarka.

Anak-anak dengan asites akan mengalami restriksi pernafasan, dengan kompensasi

berupa tachypnea. Akibat edema kulit, anak tampak lebih pucat.

Gangguan gastrointestinal sering timbul dalam perjalanan penyakit sindrom nefrotik.

Diare sering dialami pasien dengan edema masif yang disebabkan edema mukosa usus.

Hepatomegali disebabkan sintesis albumin yang meningkat, atau edema atau keduanya.

Pada beberapa pasien, nyeri perut yang kadang-kadang berat, dapat terjadi pada sindrom

nefrotik yang sedang kambuh karena edema dinding perut atau pembengkakan hati.

Nafsu makan menurun karena edema. Anoreksia dan terbuangnya protein

mengakibatkan malnutrisi berat terutama pada pasien sindrom nefrotik resisten-steroid.

Asites berat dapat menimbulkan hernia umbilikalis dan prolaps ani.

Oleh karena adanya distensi abdomen baik disertai efusi pleura atau tidak, maka

pernapasan sering terganggu, bahkan kadang-kadang menjadi gawat. Keadaan ini dapat

diatasi dengan pemberian infus albumin dan diuretik.

Page 16: makalah nefrotik sindrom

Anak sering mengalami gangguan psikososial, seperti halnya pada penyakit berat dan

kronik umumnya yang merupakan stres nonspesifik terhadap anak yang sedang

berkembang dan keluarganya. Kecemasan dan merasa bersalah merupakan respons

emosional, tidak saja pada orang tua pasien, namun juga dialami oleh anak sendiri.

Kecemasan orang tua serta perawatan yang terlalu sering dan lama menyebabkan

perkembangan dunia sosial anak menjadi terganggu.

Hipertensi dapat dijumpai pada semua tipe sindrom nefrotik. Penelitian International

Study of Kidney Disease in Children (SKDC) menunjukkan 30% pasien SNKM

mempunyai tekanan sistolik dan diastolik lebih dari 90th persentil umur.

Tanda sindrom nefrotik yaitu :

Tanda utama sindrom nefrotik adalah proteinuria yang masif yaitu > 40 mg/m2/jam

atau > 50 mg/kg/24 jam; biasanya berkisar antara 1-10 gram per hari. Pasien SNKM

biasanya mengeluarkan protein yang lebih besar dari pasien-pasien dengan tipe yang

lain.

Hipoalbuminemia merupakan tanda utama kedua. Kadar albumin serum < 2.5 g/dL.

Hiperlipidemia merupakan gejala umum pada sindrom nefrotik, dan umumnya,

berkorelasi terbalik dengan kadar albumin serum. Kadar kolesterol LDL dan VLDL

meningkat, sedangkan kadar kolesterol HDL menurun. Kadar lipid tetap tinggi

sampai 1-3 bulan setelah remisi sempurna dari proteinuria.

Hematuria mikroskopik kadang-kadang terlihat pada sindrom nefrotik, namun tidak

dapat dijadikan petanda untuk membedakan berbagai tipe sindrom nefrotik.

Fungsi ginjal tetap normal pada sebagian besar pasien pada saat awal penyakit.

Penurunan fungsi ginjal yang tercermin dari peningkatan kreatinin serum biasanya

terjadi pada sindrom nefrotik dari tipe histologik yang bukan SNKM.

Tidak perlu dilakukan pencitraan secara rutin pada pasien sindrom nefrotik. Pada

pemeriksaan foto toraks, tidak jarang ditemukan adanya efusi pleura dan hal tersebut

berkorelasi secara langsung dengan derajat sembab dan secara tidak langsung dengan

kadar albumin serum. Sering pula terlihat gambaran asites. USG ginjal sering terlihat

Page 17: makalah nefrotik sindrom

normal meskipun kadang-kadang dijumpai pembesaran ringan dari kedua ginjal dengan

ekogenisitas yang normal.

Komplikasi

- Ateroskelerosis: dicetus karena adanya hiperlipidemia dan hipertensi

- Infeksi sekunder: hilangnya imunoglobin akibat hipoalbuminemia

- Trombosis: (thrombosis vena renalis, thrombosis vena profunda pada tungkai, dan

embolisme paru) akibat gangguan system koagulasi sehingga terjadi penanganan

fibrinogen plasma/factor V, VII, VIII, dan X.

- Syok terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (<1 gm / 100 ml) yang

menyebabkan hipovolemi berat sehingga terjadi syok.

- Efusi Pleura

daftar pustaka : buku patofisologi , sylvia A price, Ed.6 vol 2 EGC Jakarta

Keperawatan Medikal Bedah, Brunner and Suddart vol 2 ed.8 egc Jakarta

Pemeriksaan diagnostik

1. Uji urine

a. Protein urin – meningkat

b. Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria

c. Dipstick urin – positif untuk protein dan darah

d. Berat jenis urin – meningkat

2. Uji darah

a. Albumin serum – menurun

b. Kolesterol serum – meningkat

c. Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi)

d. Laju endap darah (LED) – meningkat

e. Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.

3. Uji diagnostic

Page 18: makalah nefrotik sindrom

Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin

(Betz, Cecily L, 2002 : 335. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC).

Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal.

a) Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama beberapa hari mungkin diperlukan

untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema.

b) Masukan protein ditingkatkan untuk menggantikan protein yang hilang dalam urine dan

untuk membentuk cadangan protein di tubuh.

c) Jika edema berat, pasien diberikan diet rendah natrium.

d) Diuretik diresepkan untuk pasien dengan edema berat dan adrenokortikosteroid

(prednison) digunakan untuk mengurangi proteinuria.

e) Medikasi lain yang digunakan dalam penanganan sindrom nefrotik mencakup agens

antineoplastik (Cytoxan) atau agens imunosupresif (Imuran, Leukeran, atau siklosporin).

Jika terjadi kambuh, penanganan kortikosteroid ulang diperlukan.

Bila diagnosis sindrom nefrotik telah ditegakkan, sebaiknya janganlah tergesa-gesa

memulai terapi kortikosteroid, karena remisi spontan dapat terjadi pada 5-10% kasus.

Steroid dimulai apabila gejala menetap atau memburuk dalam waktu 10-14 hari. Untuk

menggambarkan respons terapi terhadap steroid pada anak dengan sindrom nefrotik

digunakan istilah-istilah seperti tercantum pada tabel 2 berikut :

Istilah yang menggambarkan respons terapi steroid pada anak dengan sindrom

nefrotik

Remisi Proteinuria negatif atau seangin, atau proteinuria < 4 mg/m2/jam selama

Page 19: makalah nefrotik sindrom

 

Kambuh

 

Kambuh tidak sering

 

Kambuh sering

 

Responsif-steroid

Dependen-steroid

 

Resisten-steroid

 

Responder lambat

 

Nonresponder awal

Nonresponder lambat

3 hari berturut-turut.

Proteinuria 2 + atau proteinuria > 40 mg/m2/jam selama 3 hari berturut-

turut, dimana sebelumnya pernah mengalami remisi.

Kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan, atau < 4 kali dalam periode 12

bulan.

Kambuh 2 kali dalam 6 bulan pertama setelah respons awal atau 4 kali

kambuh pada setiap periode 12 bulan.

Remisi tercapai hanya dengan terapi steroid saja.

Terjadi 2 kali kambuh berturut-turut selama masa tapering terapi steroid,

atau dalam waktu 14 hari setelah terapi steroid dihentikan.

Gagal mencapai remisi meskipun telah diberikan terapi prednison 60

mg/m2/hari selama 4 minggu.

Remisi terjadi setelah 4 minggu terapi prednison 60 mg/m2/hari tanpa

tambahan terapi lain.

Resisten-steroid sejak terapi awal.

Resisten-steroid terjadi pada pasien yang sebelumnya responsif-steroid.

 

Protokol Pengobatan

International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC) menganjurkan untuk

memulai dengan pemberian prednison oral (induksi) sebesar 60 mg/m2/hari dengan dosis

maksimal 80 mg/hari selama 4 minggu, kemudian dilanjutkan dengan dosis rumatan sebesar

40 mg/m2/hari secara selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu, lalu

setelah itu pengobatan dihentikan.

CD =4 minggu

AD/ID =4 minggu Tapp.off(remisi)

Page 20: makalah nefrotik sindrom

Stop

Mg 1 2 3 4 5 6 7 8

Remisi Remisi

Gambar protocol pengobatan sindrom nefrotik (serangan 1)

CD = Continuous day : prednisone 60mg/m2/hari atau 2 mg/kgBB/hari

ID = Intermittent day : prednisone 40mg/m2/hari atau 2/3 dosis CD,diberikan 3 hari

berturut turut dalam 1 minggu

AD = Pemberian prednisone berselang-seling sehari

Sindrom nefrotik serangan pertama

1.      Perbaiki keadaan umum penderita :

Diet tinggi kalori, tinggi protein, rendah garam, rendah lemak. Protein 1-2

gr/kgBB/hari, bila ureum dan kreatinin meningkat diberi protein 0,5-1 gr. Kalori

rata-rata 100 kalori/kgBB/hari. Garam dibatasi bila edema hebat. Bila tanpa edema,

diberi 1-2 mg/hari. Pembatasan cairan bila terdapat gejala-gejala gagal ginjal.

Rujukan ke bagian gizi diperlukan untuk pengaturan diet terutama pada pasien

dengan penurunan fungsi ginjal.

Tingkatkan kadar albumin serum, kalau perlu dengan transfusi plasma atau

albumin konsentrat.

Berantas infeksi.

Lakukan work-up untuk diagnostik dan untuk mencari komplikasi.

Berikan terapi suportif yang diperlukan: Tirah baring bila ada edema anasarka.

Diuretik diberikan bila ada edema anasarka atau mengganggu aktivitas. Metode

yang lebih efektif dan fisiologik untuk mengurangi edema ialah merangsang

diuresis dengan pemberian albumin (salt poor albumin) 0,5-1 mg/kgBB selama 1

jam disusul kemudian oleh furosemid IV 1-2 mg/kbBB/hari. Pengobatan ini dapat

diulang setiap 6 jam kalau perlu. Diuretik yang biasa dipakai ialah diutetik jangka

pendek seperti furosemid atau asam etakrinat. Jika ada hipertensi, dapat

ditambahkan obat antihipertensi.

Page 21: makalah nefrotik sindrom

2.     Terapi prednison sebaiknya baru diberikan selambat-lambatnya 14 hari setelah

diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan untuk memastikan apakah penderita mengalami

remisi spontan atau tidak. Bila dalam waktu 14 hari terjadi remisi spontan, prednison

tidak perlu diberikan, tetapi bila dalam waktu 14 hari atau kurang terjadi pemburukan

keadaan, segera berikan prednison tanpa menunggu waktu 14 hari.

Sindrom nefrotik kambuh (relapse)

A. Berikan prednison sesuai protokol relapse, segera setelah diagnosis relapse ditegakkan.

B. Perbaiki keadaan umum penderita.

Cara pemberian pada relapse seperti pada serangan I, hanya CD diberikan sampai

remisi (tidak perlu menunggu sampai 4 minggu)

CD

AD/ID Tapp.Off

Stop

Mg1 2 3 4

Remisi Remisi

Sindrom Nefrotik Nonresponder : Tidak ada respons sesudah 8 minggu pengobatan

prednisone

CD pred CD imunosupresan + ID pred (40mg/m2/hr)

ID pred

1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8

Remisi (-)

Setelah 8 minggu pengobatan prednisone tidak berhasil, pengobatan selanjutnya

dengan gabungan imunosupresan lain ( endoxan secara CD dan prednisone 40 mg/m2/hr

secara ID)

Page 22: makalah nefrotik sindrom

Sindrom Nefrotik Frequent Relapser : initial responder yang relaps >= 2 kali dalam

waktu 6 bulan pertama.

CD imunosupresan + CD prednisone 0,2 mg/kg/hr

1 2 3 4 5 6 7 8

Diberikan kombinasi pengobatan imunosupresan lain dan prednisone 0,2

mg/kgBB/hr, keduanya secara CD.

Sindrom nefrotik kambuh tidak sering

Adalah sindrom nefrotik yang kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan atau < 4 kali

dalam masa 12 bulan.

Induksi

Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/hari,

diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.

Rumatan

Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 40 mg/m2/48 jam, diberikan selang sehari

dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, prednison

dihentikan.

Sindrom nefrotik kambuh sering

adalah sindrom nefrotik yang kambuh > 2 kali dalam masa 6 bulan atau > 4 kali

dalam masa 12 bulan.

Induksi

Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/hari,

diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.

Rumatan

Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 60 mg/m2/48 jam, diberikan selang sehari

dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, dosis prednison

diturunkan menjadi 40 mg/m2/48 jam diberikan selama 1 minggu, kemudian 30

Page 23: makalah nefrotik sindrom

mg/m2/48 jam selama 1 minggu, kemudian 20 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, akhirnya

10 mg/m2/48 jam selama 6 minggu, kemudian prednison dihentikan.

Pada saat prednison mulai diberikan selang sehari, siklofosfamid oral 2-3 mg/kg/hari

diberikan setiap pagi hari selama 8 minggu. Setelah 8 minggu siklofosfamid dihentikan.

Indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak adalah bila pasien tidak respons

terhadap pengobatan awal, relapse frekuen, terdapat komplikasi, terdapat indikasi kontra

steroid atau untuk biopsi ginjal.

Prognosis

Prognosis umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan sebagai berikut :

1. Menderita untuk pertamakalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun.

2. Disertai oleh hipertensi.

3. Disertai hematuria.

4. Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder.

5.Gambaran histopatologik bukan kelainan minimal. Misalnya pada focal

glomerulosklerosis, membranoproliferative glomerulonephritis mempunyai prognosis

yang kurang baik karena sering mengalami kegagalan ginjal.

Pada umumnya sebagian besar (+ 80%) sindrom nefrotik primer memberi respons yang baik

terhadap pengobatan awal dengan steroid, tetapi kira-kira 50% di antaranya akan relapse

berulang dan sekitar 10% tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Biodata

- Nama : An. X

Page 24: makalah nefrotik sindrom

- Umur : 4 tahun

- Jenis Kelamin : laki-laki

- Alamat : -

- Agama : -

- Suku Bangsa : -

- Diagnosa Medis : Sindrom Nefrotik

b. Keluhan utama : Edema Anasarka.

2. Riwayat Utama

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien mengalami anasarka.

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Menurut keterangan ibunya, sekitar 1 bulan yang lalu klien mengalami

bengkak pada periorbita terutama saat bangun tidur, muka sembab da mengeluh

pusing.

Mulai kemarin ibunya mulai menyadari kemaluan anaknya pun bengkak

c. Riwayat Kesehatan Keluarga: (perlu dikaji)

d. Riwayat Pengobatan

Ananda pernah dibawa ke puskesmas dan diberi obat berbentuk tablet kecil-

kecil berwarna hijau, tetapi bengkak tidak juga hilang.

3. Kebutuhan Dasar

a. Pola Makan : (perlu dikaji)

b. Pola Nafas : rasio insporasi dan ekspirasi 1:1

c. Pola Eliminasi : (perlu dikaji)

d. Aktivitas : (perlu dikaji)

e. Pola tidur : (perlu dikaji)

4. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum /TTV

- BB : 32,5 kg

- RR : 28 x/menit

- TD : 130/90 mmHg

Page 25: makalah nefrotik sindrom

- TB : 121,5 cm

- HR : 112 x/menit

- Suhu : 36° C

- LP : 68 cm

b. Pemeriksaan per sistem

- Kardiovasuler : Peningkatan denyut jantung, hipertensi.

- Respirasi : Rasio inspirasi dan ekspirasi 1:1, peningkatan RR,

suara paru rales (-), wheezing (-).

- Gastrointestinal : Asites (+)

- Musculoskeletal : (perlu dikaji)

- Sistem saraf pusat : (perlu dikaji)

- Reproduksi : Kemaluan bengkak.

5. Pemeriksaan Laboratorium

a. Urinalisis

Keruh, protein urin (+++), BUN 30 mg%,

b. Hematologi

Serum kolesterol 345 mg%, serum albumin 2.1 %, serum kreatinin 0.9 mg%,

Hematokrit 44%, Hb 13 g%.

Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1 DS :

An. A mengeluh

mengalami

bengkak pada

periorbita terutama

saat bangun

tidur,muka sembab

dan mengeluh

Hipoalbuminemia, hipoproteinemia

Tekanan onkotik plasma,

tekanan hidrostatik

Perpindahan cairan dari system

vaskuler ke ruangan extraseluler

(transudasi air dan elektrolit ke ruang

Gangguan volume

cairan

Page 26: makalah nefrotik sindrom

pusing

DO:

Dari pemeriksaan

fisik, ascites (+)

Protein urine (+)

(+) (+)

Serum albumin 2,1

gr %

intersisial)

Sirkulasi vol. darah

Mengaktifkan renin-angiotensin

Angiotensin angiotensin I

Angiotensin I→ II oleh enzim

konversi di dalam kapiler paru

Vasokontriksi arteriola perifer dan

merangsang sekresi aldosteron

Aldosteron

Reabsorpsi natrium dan air

Retensi natrium

Edema

Gangguan volume cairan

2 DS :

DO :

BB 32,5 kg

Edema

Ascites

Menekan gaster

Mual, muntah

Gangguan

pemenuhan

kebutuhan nutrisi

Page 27: makalah nefrotik sindrom

Nafsu makan

Dipersepsikan di pusat lapar

Anoreksia

Gangguan nutrisi

3 DS :

DO:

HR 112 x/mnt

RR 30 x/mnt

Edema

Penekanan rongga peritoneum

Mendesak diafragma

Sesak

RR

Gangguan pola napas

Gangguan pola

napas tak efektif

Diagnosa Keperawatan

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan diafragma akibat asites

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kerusakan

metabolisme protein

4. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan retensi Na dan air

5. Risiko infeksi berhubungan dengan imunosupresive dan hilangnya gama globulin

Nursing Care Plan

Page 28: makalah nefrotik sindrom

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria

Hasil

Intervensi

1 Kelebihan volume

cairan

NOC :

Electrolit and acid

base balance

Fluid balance

Hydration

Kriteria Hasil:

Terbebas dari edema,

efusi, anaskara

Bunyi nafas bersih,

tidak ada

dyspneu/ortopneu

Terbebas dari

distensi vena

jugularis, reflek

hepatojugular (+)

Memelihara tekanan

vena sentral, tekanan

kapiler paru, output

jantung dan vital sign

dalam batas normal

Terbebas dari

kelelahan, kecemasan

atau kebingungan

Menjelaskanindikato

r kelebihan cairan

NIC :

Fluid management

Timbang

popok/pembalut jika

diperlukan

Pertahankan catatan

intake dan output yang

akurat

Pasang urin kateter jika

diperlukan

Monitor hasil lab yang

sesuai dengan retensi

cairan (BUN , Hmt ,

osmolalitas urin  )

Monitor status

hemodinamik termasuk

CVP, MAP, PAP, dan

PCWP

Monitor vital sign

Monitor indikasi

retensi / kelebihan

cairan (cracles, CVP ,

edema, distensi vena

leher, asites

Kaji lokasi dan luas

edema

Monitor masukan

makanan / cairan dan

Page 29: makalah nefrotik sindrom

hitung intake kalori

harian

Monitor status nutrisi

Kolaborasi pemberian

diuretik sesuai interuksi

Batasi masukan cairan

pada keadaan

hiponatrermi dilusi

dengan serum Na < 130

mEq/l

Kolaborasi dokter jika

tanda cairan berlebih

muncul memburuk

Fluid Monitoring

Tentukan riwayat

jumlah dan tipe intake

cairan dan eliminasi

Tentukan kemungkinan

faktor resiko dari

ketidak seimbangan

cairan (Hipertermia,

terapi diuretik, kelainan

renal, gagal jantung,

diaporesis, disfungsi

hati, dll )

Monitor berat badan

Monitor serum dan

elektrolit urine

Page 30: makalah nefrotik sindrom

Monitor serum dan

osmilalitas urine

Monitor BP, HR, dan

RR

Monitor tekanan darah

orthostatik dan

perubahan irama jantung

Monitor parameter

hemodinamik infasif

Catat secara akutar

intake dan output

Monitor adanya distensi

leher, rinchi, eodem

perifer dan penambahan

BB

Monitor tanda dan

gejala dari odema

2 Ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

Definisi : Intake nutrisi

tidak cukup untuk

keperluan metabolisme

tubuh.

Batasan karakteristik :

-    Berat badan 20 % atau

lebih di bawah ideal

NOC :

Nutritional Status :

food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

Adanya peningkatan

berat badan sesuai

dengan tujuan

Berat badan ideal

sesuai dengan tinggi

badan

Mampu

mengidentifikasi

Nutrition Management

Kaji adanya alergi

makanan

Kolaborasi dengan ahli

gizi untuk menentukan

jumlah kalori dan nutrisi

yang dibutuhkan pasien.

Anjurkan pasien untuk

meningkatkan intake Fe

Anjurkan pasien untuk

meningkatkan protein

dan vitamin C

Page 31: makalah nefrotik sindrom

-    Dilaporkan adanya

intake makanan yang

kurang dari RDA

(Recomended Daily

Allowance)

-    Membran mukosa dan

konjungtiva pucat

-    Kelemahan otot yang

digunakan untuk

menelan/mengunyah

-    Luka, inflamasi pada

rongga mulut

-    Mudah merasa

kenyang, sesaat setelah

mengunyah makanan

-    Dilaporkan atau fakta

adanya kekurangan

makanan

-    Dilaporkan adanya

perubahan sensasi rasa

-    Perasaan

ketidakmampuan untuk

mengunyah makanan

-    Miskonsepsi

-    Kehilangan BB dengan

makanan cukup

-    Keengganan untuk

makan

-    Kram pada abdomen

-    Tonus otot jelek

kebutuhan nutrisi

Tidak ada tanda

tanda malnutrisi

Tidak terjadi

penurunan berat

badan yang berarti

Berikan substansi gula

Yakinkan diet yang

dimakan mengandung

tinggi serat untuk

mencegah konstipasi

Berikan makanan yang

terpilih ( sudah

dikonsultasikan dengan

ahli gizi)

Ajarkan pasien

bagaimana membuat

catatan makanan harian.

Monitor jumlah nutrisi

dan kandungan kalori

Berikan informasi

tentang kebutuhan

nutrisi

Kaji kemampuan pasien

untuk mendapatkan

nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas

normal

Monitor adanya

penurunan berat badan

Monitor tipe dan jumlah

aktivitas yang biasa

dilakukan

Monitor interaksi anak

Page 32: makalah nefrotik sindrom

-    Nyeri abdominal

dengan atau tanpa

patologi

-    Kurang berminat

terhadap makanan

-    Pembuluh darah

kapiler mulai rapuh

-    Diare dan atau

steatorrhea

-    Kehilangan rambut

yang cukup banyak

(rontok)

-    Suara usus hiperaktif

-    Kurangnya informasi,

misinformasi

Faktor-faktor yang

berhubungan :

Ketidakmampuan

pemasukan atau

mencerna makanan atau

mengabsorpsi zat-zat

gizi berhubungan

dengan faktor biologis,

psikologis atau

ekonomi.

atau orangtua selama

makan

Monitor lingkungan

selama makan

Jadwalkan

pengobatan  dan

tindakan tidak selama

jam makan

Monitor kulit kering dan

perubahan pigmentasi

Monitor turgor kulit

Monitor kekeringan,

rambut kusam, dan

mudah patah

Monitor mual dan

muntah

Monitor kadar albumin,

total protein, Hb, dan

kadar Ht

Monitor makanan

kesukaan

Monitor pertumbuhan

dan perkembangan

Monitor pucat,

kemerahan, dan

kekeringan jaringan

konjungtiva

Monitor kalori dan

intake nuntrisi

Catat adanya edema,

Page 33: makalah nefrotik sindrom

hiperemik, hipertonik

papila lidah dan cavitas

oral.

Catat jika lidah

berwarna magenta,

scarlet

3 Resiko infeksi

Definisi : Peningkatan

resiko masuknya

organisme patogen

Faktor-faktor resiko :

          Prosedur Infasif

          Ketidakcukupan

pengetahuan untuk

menghindari paparan

patogen

          Trauma

          Kerusakan jaringan

dan peningkatan paparan

lingkungan

          Ruptur membran

amnion

          Agen farmasi

(imunosupresan)

          Malnutrisi

          Peningkatan paparan

lingkungan patogen

NOC :

Immune Status

Knowledge :

Infection control

Risk control

Kriteria Hasil :

Klien bebas dari

tanda dan gejala

infeksi

Mendeskripsikan

proses penularan

penyakit, factor yang

mempengaruhi

penularan serta

penatalaksanaannya,

Menunjukkan

kemampuan untuk

mencegah timbulnya

infeksi

Jumlah leukosit

dalam batas normal

Menunjukkan

perilaku hidup sehat

NIC :

Infection Control (Kontrol

infeksi)

Bersihkan lingkungan

setelah dipakai pasien

lain

Pertahankan teknik

isolasi

Batasi pengunjung bila

perlu

Instruksikan pada

pengunjung untuk

mencuci tangan saat

berkunjung dan setelah

berkunjung

meninggalkan pasien

Gunakan sabun

antimikrobia untuk cuci

tangan

Cuci tangan setiap

sebelum dan sesudah

tindakan kperawatan

Gunakan baju, sarung

Page 34: makalah nefrotik sindrom

          Imonusupresi

          Ketidakadekuatan

imum buatan

          Tidak adekuat

pertahanan sekunder

(penurunan Hb,

Leukopenia, penekanan

respon inflamasi)

          Tidak adekuat

pertahanan tubuh primer

(kulit tidak utuh, trauma

jaringan, penurunan

kerja silia, cairan tubuh

statis, perubahan sekresi

pH, perubahan

peristaltik)

          Penyakit kronik

tangan sebagai alat

pelindung

Pertahankan lingkungan

aseptik selama

pemasangan alat

Ganti letak IV perifer

dan line central dan

dressing sesuai dengan

petunjuk umum

Gunakan kateter

intermiten untuk

menurunkan infeksi

kandung kencing

Tingkatkan intake

nutrisi

Berikan terapi antibiotik

bila perlu

Infection Protection

(proteksi terhadap infeksi)

Monitor tanda dan

gejala infeksi sistemik

dan lokal

Monitor hitung

granulosit, WBC

Monitor kerentanan

terhadap infeksi

Batasi pengunjung

Saring pengunjung

terhadap penyakit

Page 35: makalah nefrotik sindrom

menular

Pertahankan teknik

aspesis pada pasien yang

beresiko

Pertahankan teknik

isolasi k/p

Berikan perawatan kulit

pada area epidema

Inspeksi kulit dan

membran mukosa

terhadap kemerahan,

panas, drainase

Ispeksi kondisi luka /

insisi bedah

Dorong masukkan

nutrisi yang cukup

Dorong masukan cairan

Dorong istirahat

Instruksikan pasien

untuk minum antibiotik

sesuai resep

Ajarkan pasien dan

keluarga tanda dan

gejala infeksi

Ajarkan cara

menghindari infeksi

Laporkan kecurigaan

infeksi

Laporkan kultur positif

Page 36: makalah nefrotik sindrom

4 Pola nafas tidak efektif

berhubungan dengan

penekanan diafragma

akibat asites

NOC : Respiratory

Status : Ventilation

RR normal

Nadi normal

Pernafasan tidak

dalam

Tidak terjadi retraksi

otot dada

Tidak Dipsnea,

orthopnea

Tidak ada sputum

atau cairan

NIC : Respiratory

Monitoring

Kaji nadi, RR,

kedalaman dan efek

pernafasan

Catat adanya retraksi

otot dada waktu

bernafas

Catat lokasi trakea

Kaji otot diafragma

Dengarkan bunyi suara

nafas

Kaji sesak nafas

Kolaborasikan dengan

dokter pemberian obat,

pemasangan nebulizer,

oksigen

5 Gangguan pola eliminasi

berhubungan dengan

retensi Na dan air

NOC : Urinary

Elimination

Urin tidak terlalu bau

Warna urin jernih

kuning

Tidak terjadi retensi

urin

Tidak terjadi

inkontinensia urin

Tidak terjadi nyeri

pada saat BAK

Tidak merasa panas

NIC : Urinary Elimination

Management

Kaji dan

Pantau eliminasi

urine termasuk

frekuensi,

konsistensi, volume, war

na.

Pantau tanda dan gejala

retensi urin

Identifikasi faktor

penyebab inkontinensia

Page 37: makalah nefrotik sindrom

saat BAK urin

Berikan penjelasan

tanda dan gejala infeksi

saluran kemih

Ajarkan pasien cara

mengosongkan kandung

kemih

Pasang DC

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L, 2002 : 335. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

International Study of Kidney Diseases in Children, 1970 serta Habib dan Kleinknecht

(1971).

Keperawatan Medikal Bedah, Brunner and Suddart vol 2 ed.8. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Ed.3 Jilid 1. Media Aesculapius

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC

Santosa, Budi. 2005-2006. NANDA. Prima Medika

Price, Silvia A. Buku Patofisiologi, ed.6. Jakarta: EGC

Page 38: makalah nefrotik sindrom