of 30 /30
MAKALAH AUDITING POLITENIK NEGERI JAKARTA 2015 MATERIALITAS DAN RISIKO Kelas AK 4B PAGI Kelompok 5: M. Agil Fauzan Azim (14130100) Neny Nuraini (14130100)

Makalah Materialitas & Audit.docx

  • Author
    yuni

  • View
    127

  • Download
    11

Embed Size (px)

Text of Makalah Materialitas & Audit.docx

MATERIALITAS DAN RISIKO

2

MAKALAH AUDITINGPOLITENIK NEGERI JAKARTA2015MATERIALITAS DAN RISIKO

Kelas AK 4B PAGIKelompok 5:M. Agil Fauzan Azim (14130100)Neny Nuraini (14130100)Yuni Khasanah (1413010038)

BAB IPENDAHULUAN

I.1 Latar BelakangDalam perkembangannya, jasa profesi auditor semakin dibutuhkan seiring dengan semakin banyaknya pihak-pihak yang menggunakan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Pihak-pihak tersebut menuntut penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan standar yang berlaku dan juga dapat dipercaya. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, digunakanlah jasa auditor sebagai pihak yang secara independen memberikan penilaian terhadap laporan keuangan yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan.Sebagai pihak yang dipercaya untuk memberikan penilaian secara independen terhadap sebuah laporan keuangan perusahaan, auditor dituntut melakukan pekerjaannya seprofesional mungkin dengan menghindari terjadinya kesalahan dalam penilaian. Karena apabila terdapat kesalahan dalam penilaian, maka pihak-pihak yang menggunakan hasil penilaian auditor sebagai dasar pengambilan keputusan.Untuk meminimalisir tingkat kesalahan, auditor diharuskan melakukan perencanaan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk dapat memahami seluk beluk perusahaan yang akan diperiksa laporan keuangannya, sehingga penilaian yang dihasilkan tepat guna dan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat merugikan pihak-pihak terkait di kemudian hari.Konsep-konsep dasar dalam auditing digunakan sebagai dasar perencanaan audit. Diantara konsep-konsep yang ada, konsep materialitas dan risiko termasuk konsep fundamental yang harus dipahami auditor dalam merencanakan dan melakukan kegiatan audit. Konsep materialitas merupakan dasar penerapan standar auditing terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Dengan konsep ini, auditor menentukan standar hal-hal yang tergolong material atau tidak material. Hal ini menjadi sangat penting karena pendapat yang diberikan auditor merupakan pendapat terhadap hal-hal yang bersifat material saja. Maka ruang lingkup pemeriksaan dan penentuan pendapat yang akan diberikan, bergantung pada interprestasi dan pemahaman auditor terhadap nilai-nilai yang termasuk dalam hal yang material ataupun tidak material.Sedangkan konsep risiko merupakan risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.I.2 TujuanSecara umum makalah ini bertujuan memberi pemahaman atas konsep materialitas dan risiko. Sedangkan secara khusus bertujuan untuk :1. Memberi pengertian akan pentingnya pemahaman terhadap konsep materialitas dan risiko2. Membahas secara spesifik tahapan tahapan dalam proses penerapan dalam konsep materialitas dan risiko3. Memberi penjelasan mengenai implementasi konsep materialitas dan risiko dalam perencanaan dan pelaksanaan audit.I.3 ManfaatDengan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :1. Memahami konsep materialitas dan risiko dalam auditing2. Memahami arti pentingnya konsep materialitas dan risiko3. Mengerti tiap tahapan penerapan konsep materialitas dan risiko4. Memahami proses implementasi konsep materialitas dan risiko dalam perencanaan dan pelaksanaan audit.

BAB IIPEMBAHASAN

II.1 Konsep Materialitas dan RisikoMaterialitas dan risiko merupakan konsep-konsep fudamental yang sifatnya penting dalam perencanaan audit dan dalam perancangan atas pendekatan audit yang akan dipergunakan. Paragraf pendapat dalam laporan auditor mengandung dua pertanyaaan penting yang secara langsung berhubungan dengan materialitas dan risiko, seperti paragraf berikut ini : Kami melaksanakan audit berdasarkan standar profesional akuntan publik. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.Frase memperoleh keyakinan yang memadai dimaksudkan untuk memberi informasi kepada para pengguna laporan bahwa auditor tidak dapat memberikan garansi atau memastikan kewajaran dari penyajian laporan keuangan, maka kita lihat bahwa dalam frase tersebut terdapat sejumlah risiko bahwa laporan keuangan tidak disajikan dengan wajar bahkan jika pendapat auditor yang diterbitkan adalah wajar tanpa syarat.Frase bebas dari salah saji material dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada para pengguna laporan bahwa tanggung jawab auditor terbatas pada informasi keuangan yang material saja. Materialitas merupakan hal yang penting karena bukan merupakan hal yang praktis bagi para auditor untuk menyediakan keyakinan bagi nilai-nilai yang tidak material, maka materialitas merupakan faktor pertimbangan utama dalam jenis laporan audit yang tepat untuk diterbitkan dalam keadaan tertentu. Misalnya, apabila ada kesalahan kecil dalam penyajian laporan keuangan perusahaan dan pengaruhnya terhadap periode selanjutnya diperkirakan tidak terlalu berarti, maka dapatlah dikeluarkan suatu laporan tanpa kualifikasi.Seperti yang sudah kita lihat pada paragraf tersebut maka terdapat hubungan yang erat antara materialitas dan risiko. Paragraf tersebut menguraikan audit sebagai suatu proses yang dirancang untuk memperoleh kepastian yang layak (yang mengandung pengertian beberapa tingkat risiko) mengenai apakah laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian yang material.Sehingga dengan dijelaskannya mengenai materialitas dan risiko terhadap penyajian laporan keuangan dalam makalah ini maka kita bisa menyajikan laporan keuangan tersebut dengan secara wajar atau tepat.

II.2 Definisi MaterialitasDefinisi umum materialitas yang diterapkan dalam bidang akuntansi dan selanjutnya berlaku pula dalam pelaporan audit yaitu kesalahan penyajian laporan keuangan dapat dianggap material jika kesalahan penyajian tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna laporan.Dalam penerapan definisi ini, terdapat tiga tingkat materialitas yang digunakan untuk menentukan jenis pendapat yang akan diterbitkan, yaitu :1. Nilainya tidak material2. Nilainya material tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan3. Nilainya sangat material sehingga kewajaran seluruh laporan keuangan dipertanyakanFASB 2 mendefinisikan materialitas sebagai berikut : Besarnya nilai penghapusan atau kesalahan penyajian informasi keuangan yang, dalam hubungannya dengan sejumlah situasi yang melingkupinya, membuat hal itu memiliki kemungkinan besar bahwa pertimbangan yang dibuat oleh seorang yang mengandalkan informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau kesalahan penyajian tersebut.Definisi tersebut memberikan penekanan kepada para pengguna laporan yang menyandarkan diri mereka kepada laporan keuangan dalam membuat berbagai keputusan. Oleh sebab itu, para auditor harus memiliki pengetahuan tentang pihak-pihak yang akan memanfaatkan laporan keuangan klien mereka serta keputusan-keputusan apakah yang akan dibuat.Tanggung jawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian yang material. Jika auditor memutuskan bahwa terdapat suatu salah saji yang material, maka ia akan menunjukkannya kepada sang klien sehingga suatu koreksi atas kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan, maka suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar harus diterbitkan. Oleh karenanya, auditor harus memiliki suatu pengetahuan yang mendalam dalam penerapan prinsip materialitas ini.II.3 Tahap Tahap dalam Penerapan MaterialitasTerdapat lima tahap yang saling terkait satu sama lainnya dalam penerapan materialitas, yaitu :1. Menetapkan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas2. Mengalokasikan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas ini ke dalam segmen-segmen3. Mengestimasi total kesalahan penyajian yang terdapat dalam segmen4. Mengestimasi kesalahan penyajian gabungan5. Membandingkan antara estimasi tentang gabungan dan pertimbangan awal atau pertimbangan yang telah direvisi tentang tingkat materialitas.II.3.1 Menetapkan pertimbangan awal tentang tingkat materialitasIdealnya, auditor pada masa penugasan audit terlebih dahulu menetapkan nilai kesalahan penyajian gabungan dalam laporan keuangan yang menurutnya adalah material. SAS 46 (AU 312) mendefinisikan nilai tersebut sebagai pertimbangan awal tentang tingkat materialitas (preliminary judgement about materiality). Pertimbangan ini disebut sebagai pertimbangan awal tentang tingkat materialitas karena pertimbangan ini merupakan suatu pertimbangan profesional dan dapat berubah selama masa penugasan jika ternyata situasi-situasi yang melingkupinya berubah. Jadi, pertimbangan awal tentang tingkat materialitas adalah nilai maksimum yang diyakini auditor merupakan kesalahan penyajian yang mungkin masih terdapat dalam laporan keuangan dan tetapi tidak mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil oleh para pengguna laporan keuangan. Pertimbangan ini merupakan satu dari sejumlah keputusan paling penting yang harus dibuat oleh auditor.Alasan penetapan suatu pertimbangan awal tentang tingkat materialitas adalah untuk membantu auditor merencanakan bukti audit yang memadai yang harus dikumpulkan. Jika auditor menetapkan nilai dollar yang rendah, maka akan diperlukan bukti audit yang lebih banyak daripada ia menetapkan nilai dollar yang lebih tinggi. Auditor seringkali mengubah kembali pertimbangan awalnya tentang tingkat materialitas selama berlangsungnya proses audit. Pengubahan kembali pertimbangan awal tentang tingkat materialitas disebut revisi atas pertimbangan tentang materialitas. Alasan-alasan dipergunakannya revisi pertimbangan dapat mencakup karena adanya perubahan salah satu faktor yang dipergunakan dalam menentukan pertimbangan awal atau karena adanya kebijaksanaan akibat dari auditor bahwa pertimbangan awal ternyata bernilai terlalu besar atau terlalu rendah.Ada beberapa faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi penetapan pertimbangan awal materialitas untuk seperangkat laporan keuangan tertentu, faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut :a) Materialitas lebih merupakan konsep yang relatif bukannya absolut. Kesalahan penyajian atas besaran tertentu mungkin saja bersifat material bagi perusahaan kecil, sedangkan kesalahan penyajian dengan jumlah dollar yang sama, bagi lainnya yang berskala besar, dapat bersifat tidak material.b) Diperlukan dasar-dasar pertimbangan untuk mengevaluasi tingkat materialitas. Karena tingkat materialitas ini bersifat relatif, maka hal yang wajib untuk memiliki sejumlah dasar pertimbangan agar dapat menentukan apakah kesalahan penyajian tersebut bernilai material. Laba bersih sebelum pajak umumnya merupakan dasar pertimbangan utama yang dipergunakan untuk menentukan tingkat materialitas karena item ini dianggap sebagai item penting dalam penyediaan informasi kepada para pengguna laporan. Sebagai tambahan dalam membangun suatu dasar pertimbangan, merupakan hal yang penting pula untuk memutuskan apakah kesalah saji yang ada secara material dan dapat mempengaruhi kewajaran dari berbagai dasar pertimbangan lainnya yang mungkin dipilih seperti aktiva lancar, total aktiva, kewajiban lancar dan modal pemegang saham.

c) Faktor-faktor kualitatif pun mempengaruhi tingkat materialitasBeberapa jenis salah saji tertentu seringkali dianggap lebih penting bagi para pengguna laporan dibandingkan dengan sejumlah salah saji jenis lainnya, walaupun jika ternyata nilai dollar dari seluruh salah saji tersebut sama nilainya. FASB dan AICPA pada saat ini tidak bersedia menyediakan berbagai panduan spesifik tentang materialitas bagi para praktisi, karena berbagai panduan semacam itu barangkali akan langsung diterapkan tanpa mempertimbangkan semua kompleksitas yang seharusnya mempengaruhi pertimbangan akhir auditor.

II.3.2 Mengalokasikan Pertimbangan Awal Tingkat Materialitas ke Segmen (Salah Saji yang Masih Dapat Ditoleransi)Pentingnya tahap ini adalah karena bukti-bukti audit yang terkumpul berdasarkan segmen-segmen dalam laporan keuangan, bukan keseluruhan dari laporan keuangan. Setelah pertimbangan awal tingkat meterialitas ditetapkan, maka auditor dapat memutuskan bukti-bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan.Mayoritas praktisi mengalokasikan tingkat materialitas ke akun-akun neraca daripada ke akun laba rugi. Hal ini dikarenakan sistem pembukuan double entry yang mengakibatkan salah saji yang terkandung dalam laporan laba rugi mempengaruhi kesalahan salah saji yang sama besar ke akun neraca. Dengan demikian, mengalokasikannya ke akun neraca adalah sangat tepat karena jumlah akunnya lebih sedikit dan prosedur audit difokuskan pada akun-akun neraca.Tingkat materialitas yang dialokasikan ke akun tertentu dinyatakan sebagai salah saji yang masih dapat ditoleransi (tolerable misstatement), dibahas dalam SAS 39 (AU 350). Terdapat tiga kesulitan dalam mengalokasikan tingkat materialitas ke akun-akun neraca, yaitu : Auditor memiliki ekspetasi bahwa sejumlah akun tertentu mengandung lebih banyak salah saji dari akun-akun lain. Salah saji lebih (overstatement) atau kurang (understatement) harus tetap dipertimbangkan. Dua alasan mengapa nilai total salah saji yang dapat ditoleransi diperkenankan melebihi nilai materialitas keseluruhan : Tidaklah mungkin bahwa semua akun akan mengandung salah saji senilai dengan total toleransinya Beberapa akun cenderung mengandung salah saji lebih (overstatement), sementara beberapa akun linnya cenderung mengandung salah saji kurang (understatement), hal ini mengakibatkan nilai bersih cenderung lebih rendah dari nilai total materialitas.

II.3.2 Mengestimasi Nilai Salah Saji serta Membandingkannya dengan Nilai Pertimbangan AwalDua tahap sebelumnya merupakan perencanaan sementara tiga tahap terakhir yang dibahas sekaligus dalam sub bab ini merupakan hasil dari pelaksanaan sejumlah uji audit. Dalam sub bab ini hanya akan menampilkan keterkaitan ketiga tahap tersebut dengan dua tahap sebelumnya.Pada saat auditor menemukan salah saji pada setiap segmen, maka ia harus mencatatnya dalam kertas kerja. Mengestimasi atau mentotal salah saji tiap-tiap segmen adalah tahap ketiga dalam penerapan materialitas. Nilai total tiap segmen disebut suatu estimasi atau suatu proyeksi.Kemudian tahap keempat adalah menggabungkan proyeksi tiap segmen dalam selembar kertas kerja. Pada tahap akhir auditor membandingkan total gabungan salah saji tersebut dengan tingkat materialitas yang ditetapkan sebelumnya.

II.4 Risiko (Risk)Risiko dalam auditing berarti bahwa auditor menerima suatu tingkat ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit. Ketidakpastiaan mengenai kompetensi bahan bukti, efektifitas struktur pengendalian interen klien, dan ketidakpastian laporan keuangan. Kebanyakan dari resiko tersebut sukar diukur dan memerlukan penanganan yang hati-hati dan seksama.

II.4.1 Jenis Jenis RisikoMenurut Arens, dkk terdapat beberapa jenis risiko yang harus dipertimbangkan auditor dalam melakukan pekerjaannya, antara lain : Risiko DeteksiMerupakan ukuran risiko bahwa bukti audit atau segmen tertentu akan gagal mendeteksi keberadaan salah saji yang melebihi suatu nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi, andaikan salah saji semacam itu ada. Terdapat dua poin utama tentang resiko deteksi ini, yaitu : Risiko ini tergantung pada ketiga faktor lainnya yang terdapat dalam model. Risiko deteksi hanya akan berubah jika auditor melakukan perubahan pada salah saji dari ketiga faktor lainnya tersebut. Risiko ini menentukan nilai bukti substantive yang direncanakan auditor untuk dikumpulkan, yang merupakan kebalikan dari ukuran risiko deteksi itu sendiri.

Risiko PengendalianMerupakan ukuran yang dipergunakan auditor untuk menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji material yang melebihi nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi atas segmen tertentu akan tidak terhadang atau tidak terdeteksi oleh pengendalian interen yang dimiliki klien.Risiko pengendalian ini akan memperlihatkan 2 hal, yaitu : Penilaian tentang apakah pengendalian interen yang dimiliki klien efektif untuk mencegah atau mendeteksi salah saji. Kehendak auditor membuat penilaian tersebut senantiasa berada di bawah nilai maksimum (100 persen) sebagai bagian dari rencana audit yang dibuatnya.

Risiko Akseptibilitas Merupakan ukuran atas tingkat kesediaan auditor untuk menerima kenyataan bahwa laporan keuangan mungkin masih mengandung salah saji yang material setelah audit selesai dilaksanakan serta suatu laporan audit wajar tanpa syarat telah diterbitkan. Ketika auditor memutuskan untuk menetapkan suatu tingkat resiko akseptibilitas audit yang lebih rendah, hal tersebut berarti bahwa auditor ingin memperoleh tingkat keyakinan yang lebih tinggi bahwa laporan keuangan tidak mengandung salah saji material.Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penentuan risiko :a) Menilai Risiko Akseptibilitas AuditRisiko perjanjian (engagement risk) adalah risiko yang akan diderita oleh auditor atau firma audit akibat hubungan dengan klien, walaupun laporan audit yang dibuat, bagi klien tersebut telah dibuat dengan benar.b) Faktor Faktor Mempengaruhi Risiko Akseptibilitas AuditKalau auditor ingin memodifikasi bahan bukti mengenai risiko penyajian dengan melakukan pengendalian atas risiko akseptibilitas audit. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat sejumlah factor yang mempengaruhi resiko perjanjian dan selanjutnya mempengaruhi risiko akseptibilitas audit. Dari seluruh faktor tersebut hanya tiga faktor yang akan dibahas, yaitu :1. Derajat Kebergantungan Para Pengguna Eksternal Pada Laporan Sejumlah faktor yang merupakan indikator yang baik atas derajat kebergantungan para pengguna eksternal pada laporan keuangan adalah : Ukuran usaha klien. Secara umum semakin besar perusahaan klien akan semakin beragam penggunaan laporan keuangannya. Ukuran perusahaan ini yang dapat diukur melalui total aktiva ataupun pendapatan berpengaruh pada penetapan risiko audit yang dapat diterima. Distribusi kepemilikan. Pada perusahaan yang dimiliki public pihak-pihak yang berkepentingan akan semakin banyak diantaranya para analisa keuangan, BAPEPAM, dan masyarakat luas. Jumlah dan sifat kewajiban perusahaan. Kalau dalam laporan tercantum sejumlah besar kewajiban, besar kemungkinan laporan akan digunakan banyak pihak yaitu kreditor dan calon kreditur.2) Kemungkinan akan adanya kesulitan keuangan klien yang timbul setelah laporan audit diterbitkan.Jika klien dinyatakan pailit atau menderita kerugian besar setelah audit selesai, besar kemungkinan auditor akan diminta untuk mempertahankan kualitas audit yang dilaksanakannya. Sulit bagi auditor untuk meramalkan kesulitan keuangan sebelum benar benar terjadi, namun beberapa indicator dapat dicatat : Posisi Likuiditas. Kalau klien terus menerus mengalami kesulitan kas dan modal kerja, ini dapat mengidentifikasi kesulitan pembayaran tagihan dikemudian hari. Auditor harus menetapkan kemungkinan dan signifikasi bahwa kesulitan likuiditas ini akan semakin memburuk. Laba (rugi) pada tahun sebelumnya. Kalau klien mengalami penurunan laba atau peningkatan kerugian yang signifikan untuk beberapa tahun, auditor harus mengantisipasi kemungkinan masalah solvency dikemudian hari. Juga harus diperhatikan tingkat perubahan laba dengan saldo laba ditahan yang ada. Metode pertumbuhan pembiayaan. Makin besar klien tergantung pada pinjaman untuk membiayai pertumbuhan perusahaannya, semakin besar pula kemungkinan timbulnya kesulitan keuangan kalu usahanya gagal. Juga penting untuk meneliti apakah aktiva tetap dibiayai dengan pinjaman jangka pendek atau panjang. Perusahaan yang harus mengeluarkan sejumlah besar uang dalam jangka waktu yang relative singkat dapat membawanya pada kebangkrutan. Sifat operasi klien. Jenis usaha tertentu relative lebih resiko dari yang lain. Misalnya, secara relative lebih besar kemungkinan pailitnya sebuah pialang saham dari pada perusahaan alat alat rumah tangga. Kompetensi manajemen. Manajemen yang baik akan terus-menerus waspada terhadap kemungkinan kesulitan keuangan, dan bersedia memodifikasi metode operasinya untuk meminimalisir dampak kesulitan jangka pendek. Kemampuan manajemen ini harus ditetapkan pula dalam evaluasi auditor terhadap kemungkinan timbulnya kesulitan keuangan. 3) Evaluasi auditor atas integritas manajemen Sebagai bagian dari penyelidikan klien baru dan revaluasi klien lama, jika klien dipertanyakan integritasnya, auditor akan menetapkan risiko audit yang dapat diterima yang lebih rendah. Perusahaan dengan integritas rendah seringkali melakukan usaha yang menyebabkan konflik dengan pedagang saham, konsumen, dan aparat Negara. Konflik ini pada gilirannya akan tercemin dalam anggapan pemakai atas kualitas audit dan dapat menyebabkan terutama dan ketidakpastian. Risiko Inheren ( Inherent Risk )Risiko inheren merupakan suatu ukuran yang dipergunakan oleh auditor dalam menilai adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji yang material (kekeliriuan atau kecurangan) dalam suatu segmen sebelum ia mempertimbangkan keefektifan dari pengendalian inheren yang ada. Dengan mengasumsikan tiadanya pengendalian intern, maka risiko inheren ini dapat dinyatakan sebagai kerentaan laporan keuangan terhadap timbulnya salah saji yang material.Hubungan antara risiko inheren dengan risiko deteksi terencana serta dengan bukti audit yang direncanakan adalah sebagai berikut : resiko inheren saling berlawanan dengan resiko deteksi terencana serta memiliki hubungan yang searah dengan bukti audit.a) Menilai Risiko InherenPencantuman risiko inheren dalam model resiko audit merupakan salah satu dari konsep-konsep terpenting dalam auditing. Hal tersebut berarti bahwa auditor harus berupaya untuk memprediksikan dimanakah letak probabilitas salah saji yang paling banyak terjadi serta probabilitas salah saji yang paling sedikit terjadi dalam berbagai segmen laporan keuangan. Informasi tersebut akan mempengaruhi total nilai bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor serta akan mempengaruhi cara-cara auditor dalam mengalokasikan pengumpulan bukti audit ini pada berbagai segmen audit.b) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko InherenAuditor harus melakukan penilaian atas berbagai faktor yang menyebabkan risiko tersebut serta memodifikasi bukti audit agar dapat memasukkan faktor-faktor tersebut kedalam pertimbangan audit. Auditor harus mempertimbangkan beberapa faktor utama pada saat melakukan penilaian atas risiko inheren : Sifat Bisnis Klien. Risiko inheren yang terdapat pada sejumlah akun tertentu dipengaruhi oleh sifat bisnis klien. Pada umumnya, tingkat risiko inheren dari satu bisnis dengan bisnis lainnya sangat beragam, terutama untuk resiko inheren yang terkandung pada akun-akun seperti akun persediaan, piutang dagang dan piutang kredit, serta aktiva tetap. Temuan Audit yang Diperoleh dari Audit-audit Sebelumnya.Salah saji yang diketemukan pada audit tahun sebelumnya kemungkinan besar akan diketemukan kembali pada penugasan audit tahun berjalan. Hal ini diakibatkan karena sebagian besar jenis salah saji umumnya bersifat sistematik atau teratur, serta organisasi-organisasi sering kali mengalami keterlambatan dalam melakukan sejumlah perubahan untuk menghapuskan salah saji tersebut. Penugasan Awal versus Penugasan Ulang. Para auditor memperoleh pengetahuan serta pengalaman tentang kemungkinan terjadinya salah saji setelah mereka melaksanakan penugasan audit pada klien selama beberapa tahun. Mayoritas auditor menetapkan suatu tingkat risiko inheren yang tinggi pada tahun pertama penugasan auditnya serta pada tahun-yahun berikutnya akan mengurangi tingkat risiko tersebut setelah mereka memperoleh sejumlah pengalaman. Pihak pihak TerkaitBerbagai transaksi yang terjadi antara perusahaan induk dan perusahaan anak serta transaksi-transaksi yang terjadi antara pihak manajemen dengan entitas perusahaan merupakan contoh-contoh dari transaksi dengan pihak terkait yang didefinisikan PSAK 7. Berbagai Transaksi Non RutinBerbagai transaksi yang tidak umum dilakukan klien memiliki kemungkinan yang lebih besar akan dicatat secara tidak benar oleh pihak klien daripada pencatatan atas berbagai transaksi yang rutin karena pihak klien kurang memiliki pengalaman dalam melakukan pencatatn atas hal tersebut. Contohnya adalah kerugian kerena pembakaran, pembelian tanah atau bangunan yang besar atau persetujuan sewa guna usaha. Pertimbangan yang Diperlukan untuk Mengoreksi Pencatatan Berbagai Saldo dan Transaksi AkunBerbagai saldo akun memerlukan sejumlah estimasi dalam suatu pertimbangan yang besar dari pihak manajemen. Contoh-contoh atas jenis akun ini adalah cadangan atas piutang tak tertagih, nilai persediaan yang using, kewajiban atas pembayaran waran, serta cadangan kerugian kredit bank. Serupa dengan hal itu, berbagai transaksi atas sejumlah perbaikan utama atau penggantian sebagian aktiva merupakan contoh-contoh dimana sejumlah pertimbangan diperlukan agar dapat mencatat informasi tersebut dengan benar. Penyusun PopulasiSering kali berbagai unsur-unsur individual yang menyusun total populasi turut memberikan pengaruh pada harapan auditor akan salah saji yang material. Misalkan, auditor menetapkan risiko inheren yang tinggi untuk piutang usaha yang telah jatuh tempo daripada piutang usaha yang baru.c) Membuat Keputusan Risiko InherenAuditor harus mengevaluasi semua informasi yang dapat mempengaruhi tingkat risiko inheren serta memutuskan suatu tingkat risiko inheren yang tepat bagi setiap siklus, akun, dan dalam banyak situasi bagi setiap tujuan audit pula. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa pada suatu audit atas persediaan, auditor mencatat bahwa :1. Pada tahun sebelumnya telah ditemukan sejumlah besar salah saji dan2. Pergerakan persediaan mengalami penut\runan pada tahun berjalan.Kebanyakan auditor kemungkinan akan menetapkan tingkat resiko inheren pada tingkat yang relative tinggi (beberapa bahkan menetapakan sebesar 100%) bagi setiap tujuan audit atas persediaan dalam situasi semacam ini.d) Memperoleh Informasi untuk Menilai Risiko InherenPara auditor memulai penilaian mereka atas ridiko inheren selama fase perencanaan serta akan memperbaharui penilaian tersebut sepanjang audit. Pada saat auditor melakukan beraneka jenis pengujian dalam penugasan audit, maka ia akan memperoleh tambahan informasi yang sering pula akan mempengaruhi tingkat penilaian awal.

Risiko KecuranganResiko kecurangan merupakan hal yang paling sulit secara konsep dan praktek untuk memisahkan faktor- faktor kecurangan dalam risiko akseptibilitas audit, risiko inheren, atatu risiko pengendalian. Untuk memenuhi persyaratan standar audit lebih penting bagi auditor untuk menilai risiko dan memberikan respon kepadanya daripada hanya mengidentifikasikan mereka sebagai risiko akseptibilitas audit, risiko inheren, atau risiko pengendalian.Untuk menilai risiko kecurangan, auditor mengumpulkaninformasi untuk menentukan keberadaan kondisi kecurangan. Tiga kondisi pada umumnya hadir saat salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan itu terjadi.1. Insentif / tekananManajemen atau karyawan lain memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan.

2. KesempatanKeadaan memberikan kesempatan untuk manajemen atau karyawan untuk melakukan kecurangan.3. Perilaku / RasionalisasiHadirnya sebuah perilaku, karakter, atau kumpulan nilai etis yang membiarkan manajemen atau karyawan secara sengaja melakukan sebuah tindakan tidak jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang membebankan tekanan yang cukup yang menyebabkan mereka untuk merasionalisasikan ebuah tindakan tidak jujur.Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan auditor atas adanya risiko kecurangan antara lain ;a) Informasi yang Mempengaruhi Risiko KecuranganUntuk menilai luas dimana ketiga kondisi ini hadir, auditor harus mempertimbangakan hal berikut ini : Faktor risiko khusus yang berhubungan dengan pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva. Informasi yang diperoleh dari anggota tim audit yang berpengalaman tentang pengetahuan mereka mengenai perusahaan dan industrinya, termasuk bagaimana dan dimana perusahaan bias dicurigai untuk salah saji yang disebabkan oleh kecurangan. Respon untuk pertanyaan auditor dari manajemen tentang pandangan mereka mengenai risiko kecurangan dan tentang program dan pengedalian yang ada untuk membahas risiko kecurangan khusus yang diidentifikasikan. Hasil prosedur analitis yang diperoleh selama perencanaan yang menunjukan kemungkinan tidak jujur atau hubungan analitis yang tidak diharapakan. Pengetahuan yang diperoleh melalui hal seperti penerimaan klien dan keputusan retensi, ulasan sementara dari laporan keuangan, dan pertimbangan risiko inheren.

b) Membuat Risiko Inheren dari Keputusan KecuranganAuditor menggunakan semua informasi yang diperoleh untuk mengientifikasikan risiko salah saji material karena kecurangan. Auditor bisa mengidentifikasikan risiko yang dapat menembus laporan keuangan sebagai keseluruhan. Auditor juga bisa mengidentifikasikan untuk akun khusus atau kelas transaksi, seperti risiko pencurian inventaris oleh karyawan.

c) Merespon Risiko KecuranganSaat risiko salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan telah diidentifikasikan, pertama-tama auditor harus mendiskusikan penemuan ini dengan manajemen untuk mendapatakan pandangan manajemen tentang potensial kecurangan dan program dan control yang ada yang telah dirancang untuk mencegah atau mendeteksi salah saji. Auditor harus merespon risiko ini dengan tiga cara :1. Merancang dan melakukan prosedur audit untuk mengarah pada risiko kecurangan yang teridentifikasi.2. Mengubah keseluruhan perilaku dari audit untuk merespon risiko kecurangan yang teridentifikasi.3. Melakukan prosedur untuk mengarahkan risiko manajemen menguasai kontrol.II.4.2. Model Risiko AuditPDR = AARIR X CRDimana :PDR : planed detection risk ( resiko deteksi terencana )AAR : acceptable audit risk ( resiko akseptabilitas audit )IR : inheren risk ( resiko inheren )CR : control risk ( resiko kontrol )

Tujuan dari model risiko audit: Model Resiko audit digunakan untuk mengidentifikasikan lebih jauh potensial untuk kesalahan saji dan diman hal ini paling sering terjadi. Model Resiko audit digunakan bagi berbagai tujuan perencanaan untuk memutuskan berapa banyak bukti audit yang akan dikumpulkan pada setiap siklus. Contoh:Dalam menaksir risiko deteksi dalam audit atas persediaan, auditormelakukan pertinbangan berikut ini :1. Berdasarkan pertimbangan auditor,ditentukan risiko akseptabilitas untuk akun Persediaan pada tingkat 5 % (karena risiko audit juga ditetapkan sebesar 5% )2. Berdasarkan pertimbangan auditor, ditentukan risiko deteksi pada tingkat 60%, karena akun Persediaan bersaldo besar, beberapa perhitungannya rumit, frekuensi transaksi yang berkaitan dengan akun Persediaan adalah tinggi.3. Berdasarkan pertimbangan auditor, ditentukan risiko pengendalian sebesar 30% karena pengendalian klien efektif berdasarkan hasil pengujian pengendalian yang dilakukan dalam audit tahun yang lalu.

Berdasarkan berbagai pertimbangan auditor tersebut diatas, risikodeteksi sebesar 0,05 = 0,28 atau 28 %0,60 x 0,30Risiko deteksi sebesar 28 % dapat digunakan oleh auditor dalammemutuskan jumlah bukti audit yang dikumpulkan oleh auditor dalamaudit atas akun Persediaan.

BAB IIIPENUTUPKesimpulan Materialitas merupakan pertimbangan utama dalam penerimaan jenis laporan audit yang tepat untuk diterbitkan. Tanggung jawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian yang material. Jika auditor memutuskan bahwa terdapat suatu salah saji material, maka ia akan menunjukan kepada klien sehingga suatu koreksi dapat dilakukan.Para auditor harus memiliki pengetahuan tentang pihak-pihak yang akan memanfaatkan laporan keuangan klien mereka serta keputusan-keputusan apakah yang akan dibuat. Suatu nilai yang dianggap material ole hang auditor dalam audit mungkin bernilai lebih rendah daripada nilai yang dianggap material pada suatu proses audit yang sejenis.Alasan penetapan suatu pertimbangan awal tentang tingkat materialitas adalah untuk membantu auditor merencanakan bukti-bukti audit yang memadai yang harus dikumpulkan.Asosiasi-asosiasi akuntansi di dunia pada saat ini tidak bersedia menyediakan panduan spesifik mengenai materialitas bagi praktisi. Petimbangannya karena berbagai panduan itu barangkali akan diterapkan secara langsung tanpa mempertimbangkan semua kolektisitas yang seharusnya mempengaruhi pertimbangan akhir auditor.

Konsep Materialitas dan Risiko