of 31/31
MAKALAH PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sumber Belajar Yang dibimbing Oleh Drs. Amat Nyoto, M.Pd Disusun Oleh : KELOMPOK MENTARI Muhammad Husin (209511419952) M Farid Riza (209511419944) Eka Susanto (209511419948) Makhruz Ali (209511419953) UNIVERSITAS NEGERI MALANG

makalah kelompok jadi

  • View
    40

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah

Text of makalah kelompok jadi

BAB I

MAKALAH

PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR

Untuk Memenuhi Tugas

Matakuliah Sumber Belajar

Yang dibimbing Oleh Drs. Amat Nyoto, M.Pd

Disusun Oleh :KELOMPOK MENTARIMuhammad Husin

(209511419952)

M Farid Riza

(209511419944)

Eka Susanto

(209511419948)Makhruz Ali

(209511419953)

UNIVERSITAS NEGERI MALANGFAKULTAS TEKNIK

S1 Pendidikan Teknik Mesin

November 2011BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan peradaban manusia ditandai dalam tiga tahap mulai dari era pertanian, ke era industri, sampai ke era informasi. Masing-masing era memiliki ciri-ciri dalam sistem kemasyarakatan termasuk dalam keluarga, ekonomi atau perdagangan dan pendidikan(reigeluth, 1994:4). Dalam era pertanian sistem pendidikan diarahkan pada pemberian keterampilan agar peserta didik dapat hidup dengan mengolah dan memanfaatkan sumber-sumber alam agar dapat bertahan hidup. Pada era evolusi industri peserta didik dipersiapkan menyediakan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan industri. Dengan demikian, sistem persekolahan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja sebagai buruh pabrik. Sekolah mengajar peserta didik menghafal dan bukan membelajarkan mereka memecahkan masalah secara kreatif. Peserta didik dipersiapkan menghadapi dan melayani mesin serta bekerja secara mekanis.

Akan tetapi sekarang ini revolusi industri sudah berlalu dan kebutuhan telah berubah. Dewasa ini peserta didik perlu mempelajari kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dan masyarakat. Mereka perlu belajar bagaimana cara untuk mengambil keputusan sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dan bagaimana memilah serta memilih informasi yang tersedia begitu banyak untuk keperluan meningkatkan kemampuan mereka. Dalam keadaan yang demikian lembaga-lembaga pendidikan diharapkan muncul dan melaksanakan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan ini.B. Rumusan Masalah

Ada beberapa rumusan yang dapat di ambil dari permasalahan di atas yaitu :

1. Pergeseran Paradigma

2. Perubahan Proses Pembelajaran

3. Tantangan Dalam Penyelenggaraan pendidikan

4. Peranan Sumber Belajar

5. Belajar Berbasis Aneka Sumber

6. Pusat Sumber Belajar

1

2

7. Mengembangkan PSBC. Tujuan

Tujuan Pengembangan Sumber Belajar adalah untuk menggunakan berbagai sumber untuk belajar dan menelaah peranan aneka sumber belajar yang perlu dikelola secara terpadu dan terintegrasi di lembaga-lembaga pendidikan sehingga proses pembelajaran benar-benar membuat peserta didik sebagai subjek dan selalu menyenangkan kegiatan belajar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pergeseran Paradigma

Perubahan masyarakat akibat perkembangan peradabanya juga ikut mengubah paradigma masyarakat terhadap pendidikan. (Reigeluth 1994: 8) misalnya berpendapat bahwa perubahan itu terutama diakibatkan oleh tuntutan lapangan kerja. Pada era industri penyelenggaraan pendidikan didasarkan antara lain pada tingkat kelas, penguasaan materi, tes berdasarkan norma dan penilaian non-autentik, penyajian berdasarkan pengelompokan bahan ajar, berpusat pada guru, menghafal fakta-fakta yang tidak bermakna, kemampuan membaca dan menulis yang terpisah, dan buku merupakan proses untuk maju secara berkesinambungan, belajar berdasarkan hasil, tes secara individu dengan penilaian berbasis kemampuan, perencanaan belajar yang profesional, belajar koperatif, belajar beranekaragam sumber, guru berfungsi sebagai pemandu atau fasilitator, pembelajaran yang bermakna berdasarkan penalaran dan pemecahan masalah, diarahkan pada kemampuan berkomunikasi, dan menggunakan teknologi maju sebagai sarana utama dalam belajar dan membelajarkan.Lebih rinci dari apa yang dikemukakanReigeluth, sebagai akibat kemajuan teknologi danperubahan di tempat bekerja, Belt (1997)mengenali perbedaan visi pendidikan dalam eraindustri dan era informasi dari aspek pesertadidik, sarana dan prasarana belajar, prosesbelajar dan membelajarkan, serta pola pembelajaran.Berkaitan dengan sarana dan prasarana,dalam era industri buku merupakan satusatunyaalat utama, dan ruang kelas merupakandunia belajar dan membelajarkan. Sedangkanberkaitan dengan proses, belajar dan membelajarkandiselenggarakan berdasarkan tingkatkelas dan usia tertentu serta selesai dalam bataswaktu tertentu dengan tujuan untuk mewujudkanmanusia yang berpendidikan (educated person). Bahan ajar ditentukan dan dikembangkanoleh guru sebagai pembicara utama di kelasdan pembelajaran diarahkan pada penguasaanisi bahan ajar yang diuji dengan menggunakantes berdasarkan norma yang ditetapkan olehkelas atau sekolah. Proses belajar mengutamakanhafalan dan fakta-fakta disajikan secaraterpisah, kemampuan membaca yang terpisah,persaingan antar 3

4

peserta didik. Sementara ituguru berfungsi sebagai penyalur pengetahuan(dispenser of knowledge), membelajarkan sesuaikasus dan sistem membelajarkan yang tertutup.Visi pendidikan di era informasi, menurutBelt, mengalami perubahan yang sangat berarti.Dari aspek sarana dan prasarana pendidikan,buku bukan lagi sumber belajar dan membelajarkanyang utama dan satu-satunya tetapi teknologidan perpustakaan elektronik. Belajar danmembelajarkan tidak hanya dibatasi dalamruang kelas yang tertutup oleh dinding, lantaidan langit-langit, tetapi dunia yang terbuka luasmenjadi ruang kelas. Bahan ajar tidak lagidibatasi pada rancangan yang dibuat guru tetapimengacu pada pertanyaan-pertanyaan yangdiajukan peserta didik. Hasil belajar diuji bukanlagi semata-mata berdasarkan penguasaanmenghafal tetapi mengacu pada kemampuan(outcomes-based) yang ditunjukkan peserta didikdan diukur menggunakan tes berbasiskemampuan (performance based assessment)dengan tujuan membentuk peserta didik menjadipemelajar mandiri (self directed learner). Olehkarena itu, belajar dan membelajarkan tidak lagidibatasi dengan tingkat kelas dan umur tertentu,tetapi merupakan kemajuan yang berkesinambungandengan prinsip belajar sepanjang hayatdan terbuka.Suasana belajar tidak lagimenunjukkan persaingan antar peserta didiktetapi lebih bernuansa kerja sama dan kolaborasidalam kelompok belajar. Guru tidak lagiberfungsi sebagai penyalur pengetahuan tetapilebih berperan sebagai pemandu, mentor, ataufasilitator yang memberikan pendampinganbelajar. Perubahan paradigma tentang pendidikanseperti yang dikemukakan baik olehReigeluth maupun Belt seperti yang diuraikanitu menuntut perubahan dalam penyelenggaraanpendidikan khususnya dalam prosesbelajar dan membelajarkan.Dalam membangun pendidikan menghadapiera informasi, Warren (2002), SekretarisDewan Pendidikan Negara Bagian Michiganserta Ketua Kelompok Kerja Dewan untukMenyongsong Era Informasi, berpendapatbahwa perlu diperhatikan perubahan-perubahanyang telah, sedang dan akan terjadi. Tidakdapat dipungkiri bahwa dalam era informasi iniperubahan yang sangat berarti dan drastisdalam bidang budaya, ekonomi, politik,organisasi, dan teknologi di seluruh dunia,memunculkan tuntutan dan harapan baruterhadap pendidikan. Sungguhpun terdapat kemajuan, perubahan dalam pendidikan dianggaplamban menanggapi tuntutan 5

zaman.Standar pendidikan dan cara-cara bersekolah(schooling) tradisional yang masih berlakudewasa ini dianggap sudah usang dan ketinggalan.Lingkungan belajar dan membel-ajarkanyang lebih berbasis papan tulis dan kapur sertaberpusat pada pembelajar perlu segera diubahmenjadi berbasis teknologi dan berpusat padapemelajar.Dalam era informasi yang sudah mulaimenggejala dalam dekade terakhir abad ke 20serta meledak dalam abad ke 21 ini, reformasi dibidang pendidikan perlu dilakukan terutamadalam memahami dan melaksanakan prosesbelajar dan membelajarkan. Pendapat bahwapendidikan adalah bersekolah dan bukan belajarperlu segera ditinggalkan. Bersekolah mengarahkanpikiran pada bangunan, pendidik yangmengajar dengan menggunakan buku, sertapapan tulis dan kapur di hadapan deretanpeserta didik yang duduk rapi. Bersekolah dalamkeadaan yang demikian adalah berfokus padapendidik dan sistem. Sedangkan belajar adalahberpusat pada peserta didik, proses, dan hasilbelajar. Era informasi menawarkan kebebasankepada peserta didik untuk belajar dan kepadapendidik untuk membelajarkan tanpa batasanwaktu, tempat, ras, suku, agama, golongan,gender, keadaan sosial dan ekonomi, maupuasal usul. Pendidikan yang berorientasi pada erainformasi memungkinkan pendidik melakukanprogram belajar individual kepada masingmasingpeserta didik serta menggunakanteknologi untuk meningkatkan kemampuanpeserta didik.

B. Perubahan Proses PembelajaranC. Tantangan Dalam Penyelenggaraan PendidikanPenyelenggaraan pendidikan nasional sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.Dinyatakan pada pasal 36 ayat 3 bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan 6

memperhatikan (1) tuntutan dunia kerja; (2) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; ( 3) dinamika perkembangan global;Pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. (Panduan Penyusunan KTSP BSNP).

Prinsip-prinsip dasar penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi standar sebagaimana yang ditetapkan dalam Pemendiknas Nomor 23 tahun 26 tentang SKL (48).D. Peranan Sumber Belajar

Sumber belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran yang dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Peranan sumber belajar dalam pembelajaran Individual.Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran individual adalah pada peserta didik, sedang guru mempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator. Sehingga peranan sumber belajar sangat penting, pola komunikasi dalam pembelajaran individual adalah sebagai berikut:7

Dalam pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda yaitu :

(1) Front line teaching method, dalam pendekatan ini guru berperan menunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari.

(2) Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalized system of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual.

(3) Metode proyek, peranan guru cenderung sebagai penasehat dibanding pendidik, sehingga peserta didiklah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.

Sumber belajar hendaknya dirancang berdasarkan prinsip: (a) Dialog, drama, diskusi yang disajikan menarik melalui permainan, kombinasi warna dan suara. (b) Persuasif dan bukan menggurui atau mendikte. (c) Pemilihan sumber belajar yang tepat. (d) Bentuk sajiannya singkat, padat, jelas dan menyeluruh. Dalam pembelajaran individual, peranan guru dalam interaksi dengan peserta didik lebih banyak sebagai konsultan, pengelola belajar, pengarah, pembimbing, penerima hasil kemajuan belajar peserta didik. Waktu yang digunakan untuk melaksanakan tugas dalam pembelajaran individual 10 % dari total waktu belajar, oleh sebab itu frekwensi pertemuannya jarang sekali.

b. Peranan Sumber Belajar dalam Belajar KlasikalPola komunikasi dalam belajar klasikal yang dipergunakan adalah komunikasi langsung antara guru dengan peserta didik. Hasil belajar sangat tergantung oleh kualitas 8

guru, karena guru merupakan sumber belajar utama. Sumber lain seolah-olah tidak ada peranannya sama sekali, karena frekuensi belajar didominari interaksinya dengan guru. Bentuk Komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Pemanfaatan sumber belajar selain guru, sangat selektif dan sangat ketat di bawah petunjuk dan kontrol guru. Di samping itu guru sering memaksakan penggunaan sumber belajar yang kurang relevan dengan ciri-ciri peserta didik dan tujuan belajar, hal ini terjadi karena sumber belajar yang tersedia terbatas. Peranan Sumber Belajar secara keseluruhan seperti terlihat dalam pola komunikasinya selain guru rendah. Keterbatasan penggunaan sumber belajar terjadi karena metode pembelajaran yang utama hanyalah metode ceramah. Menurut Percipal and Ellington (1984), bahwa perhatian yang penuh dalam belajar dengan metode ceramah (attention spannya) makin lama makin menurun drastis. Misalnya dalam 50 menit belajar, maka pada awal belajar attention spannya berkisar antara 12-15 menit, kemudian makin mendekati akhir pelajaran turun menjadi 3-5 menit.

Di samping itu British Audio Visual Association (1985), menyatukam bahwa 75 % pengetahuan diperoleh melalui indera penglihatan, 13 % indera pendengaran, 6 % indera sentuhan dan rabaan dan 6 % indera penciuman dan lidah. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan SOVOCOM COMPANY di Amerika dalam Sadiman (1989: 155-156), tentang kemampuan manusia dalam menyimpan pesan adalah : verbal (tulisan) 20%, Audio saja 10%, visual saja 20%, Audio visual 50%. Tetapi kalau proses belajar hanya menggunakan methode (a) Membaca saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10% (b) Mendengarkan saja pengetahuan yang mengendap hanya 20%. (c) Melihat saja pengetahuan yang mengendap bisa 50%. Dan (e) Mengungkapkan 9

sendiri pengetahuan yang mengendap bisa 80%. (f) Mengungkapkan sendiri dan mengulang pada kesempatan lain 90%. Dari penjelasan tersebut diatas, bahwa guru harus pandai memilih dan mengkombinasikan metode pembelajaran dengan belajar yang ada.

c. Peranan Sumber Belajar dalam Belajar KelompokPola komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam bukunya Educational Technologi in Curriculum Development (1982), menyajikan dua pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola:

a. Buzz sessions (diskusi singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya.

b. Controllet discussion (diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya antara lain adalah bab dari suatu buku, materi dari program audio visual, atau masalah dalam praktek laboratorium

c. Tutorial adalah belajar dengan guru pembimbing, sumber belajarnya adalah masalah yang ditemui dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab dari buku, topik masalah dan tujuan instruksional tertentu.

d. Team project (tim proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar anggota kelompok dengan cara mengenai suatu proyek oleh tim.10e. Simulasi (persentasi untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya).

f. Micro teaching, (proyek pembelajaran yang direkam dengan video).

g. Self helf group (kelompok swamandiri).

E. Belajar Berbasis Aneka Sumber1. Strategi Belajar Weinstein & Major mendefinisikan strategi belajar sebagai tingkah laku dan pemikiran yang dilakukan oleh siswa yang bertujuan untuk mempengaruhi hasil dari sebuah proses .

Chamot mendefinisikan strategi belajar sebagai pikiran dan tindakan sadar yang dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2. Sumber Belajar AECT , Sumber Belajar meliputi semua sumber yang dapat digunakan oleh pelajar baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informasi, untuk memberikan fasilitas belajar. Sumber itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan tata tempat

3. Jenis-jenis Sumber Belajar

Sumber Belajar yang sengaja direncanakan ( by design)

Sumber Belajar karena dimanfaatkan/Sumber Belajar yang tidak direncanakan.

Pesan yaitu informasi yang harus diteruskan oleh komponen lain. Contoh: ide, fakta, ajaran, nilai data, dan lain-lain.

4. Penggolongan Sumber Belajar

Orang yaitu orang yang bertindak sebagai penyimpan dan penyalur informasi. Contoh: guru, pustakawan, tenaga ahli, petugas

laborat, dosen, widyaiswara, instruktur pelatihan, dan lain- lain.

Bahan yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan (penyajian dengan perangkat keras). Contoh: buku teks, modul, transparansi, program video, 11 program multimedia pembelajaran, film, kaset, dan lain- lain.

5. Alat / Media Belajar Alat yaitu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan pesan

Contoh: kaset recorder, VCD player, OHP, TV, kamera, komputer, dan lain-lain.

Lingkungan yaitu situasi/suasana sekitar dimana pesan disampaikan (lingkungan sosial, alam, budaya). Contoh: gedung sekolah, pasar, kebun, bengkel, banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain.

6. Rahap-Tahap Media Sumber Belajar Sumber belajar pra-guru.

Lahirnya guru sebagai sumber belajar utama.

Sumber belajar bentuk cetak.

Sumber belajar produk teknologi komunikasi.

7. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Sumber Belajar Bersifat ekonomis dan praktis (kesesuaian antara hasil dan biaya).

Praktis dan sederhana artinya mudah dalam pengaturannya.

Fleksibel dan luwes, maksudnya tidak kaku dalam perencanaan sekaligus pelaksanaannya.

Sumber sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan waktu yang tersedia.

Sumber sesuai dengan taraf berpikir dan kemampuan siswa.

Guru memiliki kemampuan dan terampil dalam pengelolaannya.

8. Manfaat Selama pengumpulan informasi, terjadi kegiatan berpikir yang kemudian akan menimbulkan pemahaman yang mendalam dalam belajar (McFarlane, 1992)

Mendorong terjadinya pemusatan perhatian terhadap topik sehingga membuat peserta didik menggali lebih banyak informasi dan menghasilkan hasil belajar yang lebih bermutu (Kulthan, 1993) 12 Meningkatkan ketrampilan berpikir seperti ketrampilan memecahkan persoalan.

9. Jenis-Jenis Media Pembelajaran Media yang tidak diproyeksikan (buku teks, modul, dan lain-lain) Media yang diproyeksikan (transparansi, slide, TV, dan lain-lain)

Media audio (radio, kaset recorder, dan lain-lain)

Media visual (foto, grafis, bagan, dan lain-lain) Media berbasis komputer (multimedia pembelajaran interaktif)

Multi media kit

10. Prinsip Dasar Pemilihan Media

Setiap media memiliki lebihan dan kelemahan

Pilihlah media yang memang sangat diperlukan

Penggunaan media harus dapat mempelakukan siswa secara aktif

Sebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana pelajaran

Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar pengisi waktu kosong

Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaan media

11. Nilai-Nilai Praktis Media Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit

12. Dalam Pembelajaran Dapat melampaui batas indra, ruang dan waktu

Dapat diamati secara seragam atau bersama

Memberi kesempatan pengguna untuk mengontrol dirinya kecepatan atau kelambatan dalam belajarnya

Membangkitkan keingintahuan dan motivasi belajar

Dapat memberikan pengalaman belajar dari yang abstrak hingga yang konkrit 13 Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan

13. Manfaat Media Pembelajaran Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik

Pembelajaran lebih interaktif dan lebih hidup

Efisien waktu dan tenaga dalam pembelajaran

Dapat meningkatkan hasil belajar

Pembelajaran berbantuan media siswa dapat belajar secara luas

Media dapat menumbuhkan sikap terhadap materi yang dipelajari

Mengurangi kesibukan guru sehingga lebih produktif

14. Kriteria Pemilihan Tujuan Pembelajaran

Sasaran pengguna (kawasan kognitif, afektif, psikomotor) (karakteristiknya, jumlah pengguna, latar belakangnya si pengguna)

Biaya (terlalu mahal atau terlalu murah untuk disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan)

Ketersediaan (sudah tersedia atau belum, buat sendiri atau harus beli)

Kemampuan media (untuk belajar individual, kelompok kecil, kelompok besar atau massa)

Sederhana Kompleks

15. Prinsip Pembelajaran Konkrit Abstrak

Pengulangan

Respon yang menyenangkan

Individualisasi

Informasikan kemajuan

Langkah kecil untuk tujuan besar

16. Pertimbangan Dalam Materi Pembelajaran

Pilih jenis materi yang diperlukan: (apakah video, animasi, teks, dan lain-lain) 14 Keterkaitan isi materi dengan tujuan & aktivitas pembelajaran

Materi tidak ketinggalan jaman

Materi cukup lengkap, jelas & mudah dipahami oleh siswa

Hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta

17. Pembuatan Media Akan Lebih Menarik Apabila : Visible (mudah dilihat)

Interesting (menarik)

Simple (sederhana)

Useful (bermanfaat)

Accurate (benar)

Legitimate (sah, masuk akal)

Structure (terstruktur)

18. Gaya Belajar Auditorial: Kalau belum mendengar kata-kata, belum dapat memahami pesan dengan baik Visual: Kalau belum melihat belum dapat memahami pesan dengan baik Kinestetik: Kalau belum melakukan belum mengerti dengan baik (Jeannett Vos, 2001) F. Pusat Sumber BelajarAda beberapa macam pusat sumber belajar yaitu :1. Sumber Belajar PraguruPada zaman praguru, sumber belajar utamanya adalah orang dalam lingkungan keluarga atau kelompok karena sumber belajar lainnya dianggap belum ada atau masih sangat langka (Sadiman, 1989: 143). Bentuk benda yang digunakan sebagai sumber belajar antara lain adalah : batu-batu, debu, daun-daunan, kulit pohon, kulit binatang dan kulit karang. Isi pesan itu sendiri ada yang disajikan dengan isyarat verbal dan ada yang menggunakan tulisan. Perbedaan ini terletak pada tingkat kemajuan 15

peradaban masing-masing suku bangsa itu sendiri. Sumber belajar jumlahnya langka, sedangkan pencari pengetahuan jumlahnya lebih banyak, maka pengetahuan diperoleh dengan coba-coba sendiri. Oleh sebab itu kondisi pendidikan masih sederhana dan berada di bawah kontrol keluarga dan anggota masyarakat, pendidikan masih tertutup, rumusan tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dalam kurikulum. Sehingga tidak ada keteraturan isi pembelajaran.2. Lahirnya Guru sebagai Sumber Belajar UtamaPendidikan pada zaman praguru tahap demi tahap berubah. Akibat perubahan itu terjadi pula perubahan pada sistem pendidikan dan pada kondisi sumber belajar komponen lainnya dari sistem tersebut. Dengan demikian terjadi perubahan pada cara pengelolaan, isi ajaran, peranan orang, teknik yang digunakan, desain pemilihan bahan, namun demikian sumber belajar masih sangat terbatas, sehingga kedudukan orang merupakan belajar utama. Proses belajar tidak lagi ditangani oleh anggota keluarga, tetapi sudah diserahkan kepada orang tertentu. Orang yang menangani secara khusus tentang pendidikan disebut Guru dibantu dengan sumber belajar penunjang yang berbentuk masih sederhana dan jumlahnya terbatas sekali. Oleh sebab itu kelancaran Proses Instruksional dan Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru.3. Sumber Belajar Dalam Bentuk CetakAdanya perkembangan industri yang cepat, pada akhirnya dapat diproduksi peralatan dan bahan yang jumlahnya besar. Dengan diketemukannya alat cetak, maka lahirlah sumber belajar baru yang berbentuk cetak lainnya yang belum pernah ada sebelumnya. Konsekuensi diketemukannya sumber belajar tersebut adalah terjadinya perubahan tugas dan peranan guru dalam pembelajaran. Semula guru merupakan sumber belajar utama yang mempunyai tugas sangat berat, dengan lahirnya sumber belajar cetak maka tugas guru menjadi ringan. Contoh sumber belajar cetak adalah: buku, komik, majalah, koran, panplet. Dengan lahirnya sumber belajar cetak ini, maka isi pembelajaran 16

dapat diperbanyak dengan cepat dan disebarkan ke berbagai pihak dengan mudah, sehingga merupakan kejutan baru dalam sistem instruksional pada saat itu.4. Sumber Belajar yang Berasal dari Teknologi KomunikasiDengan diketemukannya berbagai alat dan bahan (hardware dan software) pada abad 17, efeknya sangat besar terhadap sistem pendidikan secara keseluruhan. Setelah timbul istilah teknologi dalam pendidikan yang pada akhir perang dunia kedua mulai berubah menjadi ilmu baru yang disebut teknologi pendidikan dan teknologi instruksional. Pengertian teknologi dalam pendidikan populer dengan istilah audio visual, yakni pemanfaatan bahan-bahan audio visual dan berbentuk kombinasi lainnya dalam sistem pendidikan.Pada akhir perang dunia kedua mulai timbul suatu kecendrungan baru dalam bidang audiovisual kearah dua kerangka konseptual baru yang paralel, yaitu teori komunikasi dan konsep sistem (AECT, 1977). Karena pengaruh-pengaruh ilmu sosial seperti: psikologi, sosiologi, komunikasi, teori belajar, maka cara mendesain sumber belajar lebih terarah, lebih spesipik dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Sumber belajar seperti ini lebih populer dengan istilah media instruksional. Misalnya: program televisi pendidikan, program radio pendidikan, film pendidikan, slide pendidikan, komputer pendidikan dan lain-lain. Keempat perkembangan sejarah sumber belajar ini oleh Eric Ashby dalam Sadiman (1989), disebut sebagai empat perkembangan keajaiban yang terjadi dalam dunia pendidikan sehingga dianggap sebagai revolusi pendidikan.5. Sumber Belajar yang Didesain dan Dimanfaatkan.Sumber belajar yang didesain untuk keperluan belajar telah banyak dikenal orang. Namun demikan tidak semua sumber yang didesain untuk keperluan pendidikan. AECT dalam Miarso (1986: 88) disebutkan bahwa ada kesangsian apakah fasilitas yang ada dalam masyarakat, misalnya museum semuanya itu didesain khusus terutama untuk 17

pembelajaran peserta didik sekolah dalam bidang yang sesuai dengan kurikulum. Kenyataan bahwa sumber-sumber ini dimanfaatkan untuk membantu belajar manusia, membuat semuanya itu menjadi sumber belajar.Kelompok yang kedua, sumber yang dimanfaatkan, sama pentingnya dengan sumber belajar yang didesain. Beberapa sumber dapat dimanfaatkan untuk memberikan fasilitas belajar karena memang sumber itu khusus didesain untuk keperluan belajar. Inilah yang disebut bahan atau sumber instruksional. Sumber yang lain, ada sebagian dari kenyataan yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan digunakan untuk keperluan belajar. Inilah yang disebut sebagai: Sumber belajar dari dunia nyata. Jadi, sebagian sumber menjadi sumber belajar karena didesain untuk itu, sedangkan yang lainnya menjadi sumber belajar karena dimanfaatkan.G. Mengembangkan PSB

Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali 18

ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.Faktor utama pendukung keberhasilan pengelolaan PSB adalah sumber belajar yang memadai dan anggaran dana yang tercukupi serta kualitas kinerja SDM yang cukup baik. Namun kebanyakan faktor penghambat dalam pengembangan PSB adalah kurangnya jumlah SDM untuk mengelolah arsip atau dokumen PSB, sehingga terjadi koleksi tercetak yang tidak dikembalikanya pada tempatnya, pengambilan koleksi tanpa izin, kualitas media pembelajaran yang seharusnya dapat lebih baik. Pengembangan sumber belajar itu dapat dimulai dari yang sederhana atau apa yang ada, namun pemanfaatanya diintegrasikan ke dalam proses belajar-membelajarkan. Secara bertahap sekolah dapat membentuk unit sumber belajar yang di dalamnya terdapat perpustakaan, media audio-visual, alat-alat peraga/praktek, dan komputer. USB lebih sederhana daripada PSB dilihat dari organisasi, koleksi, dan pengelolaanya. Pengembangan USB ini diikuti dengan pengayaan koleksinya yang tidak hanya produk yang dibeli tetapi juga termasuk karya peserta didik dan guru.BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pergeseran paradigma atas pendidikan dan tuntutan akan perubahan proses pembelajaran, sebagai akibat dari kemajuan berpikir dan kebutuhan masyarakat, membuat penyelenggaraan pendidikan pada umumnya dan pengelolaan pembelajaran pada khususnya perlu melakukan inovasi. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah mendayagunakan aneka sumber belajar dan peserta didik diberi kemampuan bagaimana cara belajar sehingga mereka dapat belajar secara mandiri dan sepanjang hayat.Dalam mengembangkan dan memanfaatkan aneka sumber belajar secara optimal, keberadaan USB/PSB sangat diperlukan untuk membantu pendidik dan peserta didik meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran tidak hanya selama tetapi juga diluar jam belajar. USB/PSB dapat mengatasi berbagai kesulitan pendidik dan peserta didik apabila direncanakan dengan baik serta dikelolah secara profesional. USB/PSB pada hakikatnya dapat dikembangkan tidak hanya pada satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi, tetapi juga sangat bermanfaat di pusat-pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat).

B. Saran

USB/PSB di indonesia masih belum berkembang. Perlu adanya perhatian dari pimpinan-pimpinan lembaga pendidikan untuk memfungsikan dan mengembangkan USB/PSB di tempatnya masing-masing. Payung kebijakan berupa peraturan Mentri Pendidikan Nasional akan dapat memotivasi pertumbuhan, perkembangan, dan pemanfaatan USB/PSB secara nasional.

19DAFTAR PUSTAKA

AECT. 1977. Definisi Teknologi Pendidikan. (Diterjemahkan oleh PAU di Universitas Terbuka). Penerbit Manajemen PT. Grafindo Persada. Jakarta.Adaptasi dari : Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta.http: // id.wordpress.com/tag/makalah. Sumber Belajar untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa. Diterbitkan April 15, 2008 .http: // www.freewebs.com/Hijrahsaputra/catatan/manajemen.htm. Manajemen Belajar (MSB). 26 Oktober 2008 .Seels,B. and Richey,C.1994. Teknologi Pembelajaran. (Diterjemahkan oleh Yusufhadi Miarso, dkk. Universitas Negeri Jakarta.