makalah jadi

  • View
    227

  • Download
    14

Embed Size (px)

DESCRIPTION

stogma 2 makalah

Text of makalah jadi

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPertumbuhan dan perkembangan gigi merupakan hal yang harus diperhatikan, khususnya pada pertumbuhan gigi permanen anak. Pada tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi, tidak sedikit ditemukan kasus pada anak yang mengalami gangguan erupsi gigi, hal ini dapat menyebabkan kelainan-kelainan pada pertumbuhan gigi (Hashanur, 2005).Perkembangan dimulai dengan pembentukan lamina gigi. Dental lamina adalah suatu pita pipih yang terjadi karena penebalan jaringan epitel mulut (ektodermal) yang meluas sepanjang batas oklusal dari mandibula dan maksila pada 10 tempat mana gigi-gigi akan muncul kemudian. Dental lamina tumbuh dari permukaan sampai dasar mesenhim (Hashanur, 2005).Pada umumnya, erupsi normal gigi permanen dalam rongga mulut terjadi selama rentang waktu usia kronologis yang berbagai macam dan dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi faktor lokal dan faktor umum, yaitu genetik, jenis kelamin, nutrisi, faktor sosial-ekonomi, tinggi badan dan berat badan, serta hormone (Thomaz, dkk., 2010).Akar gigi susu yang akan diganti oleh gigi tetap secara alamiah akan mengalami resorbsi dan gigi akan kehilangan akarnya yang berfungsi sebagai penyangga, sehingga gigi akan goyang sejalan dengan adanya erupsi gigi permanen. Adakalanya gigi permanen muncul di depan atau di belakang gigi susu sementara gigi susu masih ada dan tidak goyang sama sekali. Hal ini merupakan salah satu kelainan erupsi gigi yang dinamakan persistensi gigi susu (Maulani, 2005)

1.2 Rumusan Masalah1. Apakah ada hubungan orofacial dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi1.3 Tujuan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan organ yang mendukung system orofacial fase pertumbuhan dan perkembangan gigi desidui dan permanen factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan gigi desidui peranan faktor neuromuskular dalam stogmatonatik1.4 HipotesaAda hubungan orofacial dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Regio Orofacial2.1.1 Perkembangan WajahSetelah ujung caput embrio membengkok di sekitar ujung anterior notochorda dan mencapai panjang rata-rata 3mm (sekitar hari ke-25 setelah pembuahan), cavum oris primitivum (stomatodeum) akan berkembang sebagai suatu celah kecil yang dikelilingi oleh capsula otak di bagian atas, pericardium di bagian bawah, processus mandibula dan maxilla pada bagian samping (Dixon, 1993).Processus mandibula dengan cepat akan meluas ke medial untuk membentuk rahang bawah primitif dan memisahkan stomatodeum dari pericardium. Pada saat bersamaan, capsula otak akan terpisah dari cavum oris primitivum melalui pembentukan processus frontonasalis. Sel-sel crista neuralis akan bermigrasi dari posisi semula di bagian samping tubus neuralis dan membentuk lembaran sel jauh di dalam ectoderma embryonicum, bila sudah mencapai regio mata yang sedang berkembang, akan terpisah menjadi dua bagian. Aliran sel-sel ke anterior akan masuk membentuk mesoderma embryonicum dari processus frontonasalis, sedangkan perluasan posterior akan ikut membentuk mesoderma dari arcus pharyngeus. Pembesaran processus facialis embryonicum merupakan akibat proliferasi mesoderma embryonicum yang berkesinambungan, dimana akan terjadi pembentukan tulang-tulang. Batas-batas processus facialis dipisahkan oleh sulcus-sulcus atau lipatan yang terletak diantaranya. Sulcus terisi oleh processus yang kecepatan proses pertumbuhannya tidak sama, menyebabkan terbentuknya wajah khas seperti yang biasa kita temukan pada bayi (Dixon, 1993).Kegagalan processus facialis untuk tumbuh dengan akurat dan untuk saling bergabung satu terhadap yang lain, dimana melibatkan penggabungan atau penutupan selubung ectoderma yang berkontak dengannya, akan menimbulkan cacat perkembangan, dikenal sebagai celah wajah. Celah merupakan akibat terganggunya salah satu atau beberapa tahap penggabungan processus, termasuk induksi normal oleh sel-sel crista neuralis, beberapa keabnormalan pada tahap migrasi atau penggabungan mesoderma embryonicum (Dixon, 1993).

2.1.2 Perkembangan Labium Oris SuperiusPerkembangan labium oris superius pada manusia sampai sekarang ini masih belum diketahui dengan jelas dan bahkan ada dua pendapat yang saling berlawanan tentang apa peranan mesoderma maxillaris pada pembentukan labium oris ini. Salah satu pendapat tersebut diformulasi berdasarkan hasil penelitian klasik dari Frazer yaitu labium oris terbentuk seluruhnya dari processus maxillaris. Pendapat lain yag sudah diterima kalangan luas tentang perkembangan labium oris manusia adalah berdasarkan konsep klasik His, bersama-sama dengan pakar embriologi lainnya pada abad tersebut, menganggap bahwa bagian sentral labium oris, termasuk daerah cekungan yang disebut philtrum, berasal dari processus frontonasalis sedangkan bagian lateral berasal dari processus maxillaris (Dixon, 1993).

2.1.3 Perkembangan PalatumPada tahap perkembangan ini, celah nasalis akan meluas ke belakang dan membentuk orifisium posterior sekunder yang mengarah ke stomatodeum. Jadi melalui cara inilah akan terbentuk cavum nasi primitivum. Cavum nasi dikelilingi di bagian bawah oleh perluasan ke mesial dari processus maxillaris dan juga oleh mesoderma frontonasalis (Dixon, 1993).Walaupun demikian mesenchyma maxillaris juga meluas ke medial di balik otak sedang berkembangan pada atap cavum oris primitivum. Perluasan mesoderma embyonicum dari setiap sisi akan bertemu di garis median dan kemudian mulai meluas ke bawah sebagai processus septal, berhubungan di bagian depan dengan septum nasi primer dari processus frontonasalis. Processus septal ikut membentuk sebagian besar septum nasi definitif (Dixon, 1993).Palatum terbentuk dalam dua bagian, pertama palatum primer dan kedua palatum sekunder. Bagian bawah processus frontonasalis kadang-kadang disebut sebagai segmen intermaxillaris, ikut membentuk regio philtrum dari labium oris superium; segmen premaxillaris yang mengandung empat gigi incisivus dan sebuah processus kecil berbentuk segitiga yang meluas ke belakang sebagai palatum primer. Pada sekitar minggu perkembanga keenam, dua perluasan processus maxillaris akan tumbuh ke arah dalam dan ke bawah sebagai processus palatinus atau lereng yang nantinya akan terletak pada kedua sisi lingua yang sedang berkembang (Dixon, 1993).Pada minggu kedelapan, processus palatinus akan menjadi horizontal, saling berkontak satu sama lain, akan bergabung tepat di bawah ujung bebas septum nasi. Dengan terjadinya perubahan orientasi dari processus palatinus, cavum oris primitivum akan terbagai menjadi tiga bagian: cavum nasi kiri dan kanan diatas palatum sedang berkembang pada kedua sisi septum nasi, dan cavum oris definitif yang terletak di bawah palatum. Pembentukan palatum ini biasanya mengakibatkan orifisium posterior dari cavum nasi bergeser ke belakang, sehingga orifisium ini tidak lagi membuka ke cavum oris tetapi malahan membuka ke bagian atas pharynx (nasopharynx) (Dixon, 1993).Baik septum nasi maupun palatum tampaknya berkembang dalam dua tahapan:a. Septum nasi primer berasal dari processus frontonasalis; palatum primer terbentuk dari perluasan ke belakang processus frontonasalisb. Bagian septum nasi lainnya dan palatum sekundder terbentuk dari jaringan processus maxillaris yang terletak di belakang processus frontonasalis (Dixon, 1993).Bagian-bagian wajah yang terbentuk dari processus frontonasalis mempunyai persarafan sensorik dari cabang-cabang n. opthalmicus cabang n. trigeminus (n. ethmoidalis dan n. nasalis externa). Sedangkan bagian yang terbentuk dari processus maxillaris mempunyai persarafan sensorik berupa cabang-cabang n. maxillaris cabang n. trigeminus (n. nasalis, n. nasopalatinus, n. palatinus dan n. infraorbitalis) (Dixon, 1993).

2.1.4 Cartilago Rangka WajahSebelum pembentukan tulang dan juga selama tahap awal pembentukan tulang, rangka wajah umumnya terbentuk dari cartilago. Cartilago Meckel terbentuk di dalam arcus mandibularis dan meluas dari basis cranii sedang berkembang pada regio capsula optica ke garis median bakal regio dagu, dan bergabung dengan cartilago dari sisi berlawanan. Cartilago capsula nasalis terbentuk pada jaringan processus maxillaris dan meluas ke depan menuju processus frontonasalis. Di bagian belakangnya berhubungan dengan cartilago dari basis cranii. Di dalam bagian cavum nasi primer dan sekunder cartilago ini akan membentuk anyaman skeletal primordial (Dixon, 1993).Bagian lateral capsula dari kedua sisi wajah yang sedang berkembang akan membentuk rangka skeletal bagian luar dari cavum nasi; ujung bebas bagian bawahnya akan membelok ke dalam sebagai suatu concha nasalis inferior yang sedang berkembang. Di dalam kedua bagian septum nasi, processus ini akan membentuk cartilago septi nasi (Dixon, 1993).Pada tahap berikut akan terbentuk os maxilla dan premaxilla pada bagian luar cartilago capsula nasalis dan mandibula berkembang pada bagian luar cartilago Meckel. Vomer akan terbentuk dalam hubungannya dengan tepi bawah cartilago septal (Dixon, 1993).

2.1.5 LinguaMenurut Dixon (1993), lingua terbentuk dalam dua bagian, yaitu:a. Pars anterior lingua (oral), berasal dari tiga tonjolan mesoderma arcus mandibularis, terletak tepat di dalam cavum oris. Ketiga tonjolan ini terdiri dari tonjolan lingual lateral dan struktur garis median di dasar mulut, yang sering disebut sebagai tuberculum impar, terletak di dlam sulcus diantara arcus mandibularis dan arcus hyoideusb. Pars poterior (pharyngeus) tertius berasal terutama dari arcus pharyngeus tertius dan akan tumbuh ke depan. Ke atas arcus pharyngeus secundus (hyoideus) pada dasar mulut untuk bergabung dengan ujung belakang pars anterior lingua. Daerah ini disebut juga sebagai copula atau aminentia hypobranchialis. Bagian belakang eminentia hypobranchialis ini nantinya akan membentuk epiglotis.Perbedaan daerah origo dari bagian-bagian lingua ini menyebabkan terjadinya perbedaan persarafan sensorik pada membran