Makalah Inflasi

  • View
    20

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

inflation

Text of Makalah Inflasi

INFLASI

MAKALAH

Disusun oleh :

IIS DWI PERMATASARI (140810101163)

SILVIA NINDI ARISTA (1401810101174)

FEBRIANTI NURUL IRBAH (140810101176)

PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JEMBER

2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Inflasi

2.2 Indikator Inflasi

2.3 Penggolongan Inflasi

2.4 Faktor Penyebab Inflasi

2.5 Teori-Teori Inflasi

2.6 Menghitung Inflasi

2.7 Dampak Inflasi

2.8 Penanggulangan Inflasi

BAB 3. KESIMPULAN

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Inflasiini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Ekonomi Moneter 1.

Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari buku panduan serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan Inflasi, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Ekonomi Moneter 1 atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.

Kami berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Inflasi. Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Jember, 28 Februari 2015

Penulis

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara teoritis, pengertian inflasi merujuk pada perubahan tingkat hargasuatubarang dan jasayang padaumumnya terjadi secara terus menerus. Inflasi di dunia ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investasi, kenaikan biaya modal, dan ketidakstabilan perekonomian dimasa mendatang.Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya sektor riil dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa.

Terjadinya inflasi dapat mendistorsi harga-harga relatif, tingkat pajak, suku bunga riil, pendapatan masyarakat akan terganggu dan mendorong investasi yang keliru. Maka dari itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter.Pengaruh inflasi cukup besar pada kehidupan ekonomi, inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang banyak mendapat perhatian para ekonom, pemerintah, maupun masyarakat umum. Berbagai teori, pendekatan dan kebijakan dikembangkan supaya inflasi dapat dikendalikan sesuai dengan yang diinginkan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari inflasi ?

2. Apakah indikator inflasi ?

3. Bagaimana penggolongan inflasi ?

4. Apa saja penyebab dari inflasi ?

5. Apa saja teori-teori inflasi ?

6. Bagaimana cara menghitung inflasi ?

7. Apa saja dampak yang ditimbulkan oleh adanya inflasi ?

8. Bagaimana cara menanggulangi inflasi ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Moneter I,

2. Untuk mengetahui seluk-beluk inflasi.

1.4 Manfaat

Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Mahasiswa, memberikan tambahan pengetahuan mengenai inflasi,

2. Dosen, memberikan pertimbangan dalam memberikan penilaian terhadap tugas yang telah dikerjakan.

3. Masyarakat, memberikan informasi dan pengetahuan mengenai seluk-beluk inflasi.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Inflasi

Secara umum, inflasi diartikan sebagai kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung secara terus menerus dalam periode tertentu. Samuelson (2001) memberikan definisi bahwa inflasi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan tingkat harga umum, baik barang-barang, jasa-jasa maupun faktor-faktor produksi. Definisi tersebut menunjukkan keadaan melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil (intrinsik) mata uang suatu negara. Menurut Boediono (1994:155), definisi inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi. Kenaikan harga-harga yang sifatnya hanya sementara, biasanya karena musiman, seperti menjelang hari raya, bencana, dan sebagainya, juga tidak bisa disebut inflasi. Menurut Lerner (Gunawan, 1995), inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang dan jasa secara keseluruhan. Sedangkan menurut Sukirno (1998), inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku secara umum dalam suatu perekonomian. Sementara itu Mankiw (2000) menyatakan bahwa inflasi merupakan peningkatan dalam seluruh tingkat harga.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, terdapat tiga pokok yang terkandung dalam pengertian inflasi, yaitu :

1. Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, baik barang, jasa maupun faktor produksi. Hal ini berarti bahwa tingkat harga yang terjadi pada waktu tertentu dapat mengalami penurunan atau peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan kecenderungan mengalami peningkatan.

2. Kenaikan tingkat harga berlaku secara umum. Hal ini berarti bahwa kenaikan harga tertentu akan mempengaruhi harga-harga lainnya. Jadi, kenaikan harga tertentu akan diikuti dengan kenaikan harga-harga lainnya, misalnya, jika harga BBM naik, maka kenaikan harga tersebut akan diikuti oleh naiknya harga-harga lainnya. Kenaikan tingkat harga tersebut tidak hanya terjadi yang pada satu atau beberapa jenis barang dan atau jasa saja, melainkan sebagian besar atau bahkan hampir seluruhnya.

3. Peningkatan harga tersebut berlangsung secara terus menerus selama periode waktu tertentu, bukan terjadi pada suatu waktu saja.

2.2 Indikator Inflasi

Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu perekonomian sedang dilanda inflasi atau tidak. Indikator tersebut diantaranya :

1. Indeks Harga Konsumen (IHK), ialah suatu indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dalam suatu periode, dari suatu kumpulan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk atau rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Indikator ini merupakan indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi.

2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan pada tingkat produsen di suatu daerah pada suatu periode tertentu. Jika pada IHK yang diamati adalah barang-barang akhir yang dikonsumsi masyarakat, pada IHPB yang diamati adalah barang-barang mentah dan barang-barang setengah jadi yang merupakan input bagi produsen.

3. Deflator Produk Domestik Bruto(PDB), merupakan indikator yang menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

2.3 Penggolongan Inflasi

Inflasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan tingkat keparahannya, penyebab terjadinya dan asal usul terjadinya.

1. Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dibedakan menjadi :

a. Inflasi ringan, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan dibawah 10% setahun,

b. Inflasi sedang, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan berkisar antara 10% s/d 30% setahun,

c. Inflasi berat, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan berkisar antara 30% s/d 100% setahun,

d. Hiperinflasi, merupakan inflasi yang sangat parah dengan tingkat keparahannya diatas 100% setahun.

2. Berdasarkan penyebab terjadinya, inflasi dibedakan enjadi :

a. Demand Pull Inflation, atau Demand-Side Inflation, atau Demand Shock Inflation, yaitu inflasi yang timbul karena desakan permintaan masyarakat akan barang dan jasa yang begitu kuat. Inflasi ini muncul karena naiknya tingkat pendapatan masyarakat, sehingga masyarakat cenderung membeli barang dan jasa lebih banyak dari yang biasa mereka gunakan. Secara grafis, demand pull inflation bisa digambarkan sebagai berikut :

Kurva tersebut di atas menunjukkan demand pull inflation. Karena permintaan agregat masyarakat akan barang meningkat dari Q1 ke Q2, maka kurva permintaan agregat bergeser dari D1 ke D2. Akibatnya harga umum naik dari P1 ke P2.

b. Cost Push Inflation, atau Supply-Side Inflation, atau Supply Shock Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan karena naiknya biaya produksi. Beberapa contoh penyebab inflasi yang dapat menyebabkan kenaikan pada biaya produksi adalah kenaikan upah pekerja, kenaikan BBM dan kenaikan tarif listrik serta kenaikan tarif angkutan. Dengan adanya kenaikan tersebut maka perusahaan pun akan menaikkan harga jual barang dan jasanya. Secara grafis, cost push inflation dapat digambarkan sebagai berikut :

Kurva tersebut di atas menunjukkan cost push inflation. Karena kenaikan biaya produksi, kurva penawaran agregat bergeser dari S1 ke S2. Akibatnya harga umum meningkat dari P1 ke P2.

c. Mixed Inflation (inflasi campuran), yaitu inflasi yang disebabkan karena permintaan dan penawaran yang tidak setimbang. Bertambahnya permintaan terhadap barang atau jasa mengakibatkan faktor produksi dan