Click here to load reader

Makalah Hukum Wakaf Dan Zakat (Zakat Pertanian Dan Ternak)

  • View
    144

  • Download
    19

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Zakat Pertanian dan Zakat Ternak

Text of Makalah Hukum Wakaf Dan Zakat (Zakat Pertanian Dan Ternak)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan, kami dapat berkumpul dan mengerjakan makalah yang berjudul Zakat Pertanian dan Ternak dengan tepat waktu dan sebaik mungkin.Makalah ini disusun guna menyelesaikan tugas Hukum Wakaf dan Zakat yang akan dikumpulkan dalam waktu dekat ini. Makalah ini juga dikerjakan untuk memenuhi nilai tugas dan mendapatkan nilai yang sebaik mungkin seperti yang kami harapkan.Terima kasih ditujukan kepada bapak Zefrizal, SH., selaku dosen Hukum Wakaf dan Zakat atas waktu yang diberikan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Terima kasih kepada teman-teman kelompok III yang sudah menyisihkan waktunya untuk mencari bahan sebanyak mungkin dan bersama-sama mengerjakan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penyusun masih merasa banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, kami dengan senang hati menerima saran dan kritik dari para pembaca. Kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, November 2014

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR1BAB I PENDAHULUAN3A.LATAR BELAKANG MASALAH3B.RUMUSAN MASALAH4BAB II PEMBAHASAN5A.TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT PERTANIAN51.DASAR HUKUM ZAKAT PERTANIAN52.SYARAT-SYARAT PENUNAIAN ZAKAT PERTANIAN73.KADAR ZAKAT PERTANIAN YANG WAJIB DIKELUARKAN8B.TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT TERNAK101.DASAR HUKUM ZAKAT TERNAK102.SYARAT-SYARAT PENUNAIAN ZAKAT TERNAK113.NISHAB HEWAN TERNAK DAN KADAR ZAKATNYA134.ZAKAT HEWAN TERNAK MILIK BERSAMA (AL-KHALITHAIN)17BAB III PENUTUP18A.KESIMPULAN18B.SARAN19DAFTAR PUSTAKA20

BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANG MASALAHManusia sebagai makhluk hidup yang diciptakan Allah telah dijanjikan rezekinya, baik rezeki dari harta yang diperolehnya maupun dari hal lain yang tidak terduga-duga datangnya. Namun, sering kali manusia tidak menyadari bahwa dibalik rezeki dari harta yang datang padanya bisa saja mengandung kekotoran. Untuk membersihkan segala kekotoran itu, Allah menganjurkan manusia untuk berzakat. Zakat adalah memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nishab selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya. Zakat sendiri bisa bermakna thaharah (bersuci) yang ditinjau dari segi filsafat, dimana yang disucikan atau dibersihkan adalah kekikiran, kebakhilan, dan sifat-sifat buruk dari manusia, serta membersihkan harta yang mungkin saja mengandung kekotoran tanpa kita ketahui. Akan tetapi, bukan sedikit orang yang beranggapan bahwa zakat hanya akan mengurangi harta mereka. Padahal Allah sendiri telah menjanjikan dalam Al-Quran di QS. Al Baqarah: 261 yang pada intinya menyatakan bahwa orang menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menumbuhkan hartanya serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Jadi, jangan takut untuk menafkahkan harta di jalan Allah, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan balasan yang demikian besar nikmatnya. Selain itu, dengan berzakat berarti kita telah bersyukur dan menyadari bahwa harta kita juga merupakan hak orang lain.Zakat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu zakat fitrah dan zakat mal (harta). Zakat mal sendiri terbagi lagi menjadi beberapa bagian, salah satunya yang akan menjadi topik pembahasan kali ini adalah zakat pertanian dan ternak. Ada hasil pertanian dan ternak tertentu yang wajib dizakatkan. Namun, tentunya ada syarat-syarat tertentu yang harus diikuti, seperti apa-apa saja jenis pertanian dan binatang ternak yang wajib dizakatkan, berapa lama batas haul, berapa nishab yang harus dicapai dan lain-lain sebagainya. Untuk itu, disini kami akan membahas secara komprehensif mengenai zakat pertanian dan ternak agar tidak terjadi lagi kebingungan mengenai zakat tersebut dikemudian hari.B. RUMUSAN MASALAH1. Bagaimana sebenarnya tinjauan umum tentang zakat pertanian?2. Bagaimana sebenarnya tinjauan umum tentang zakat ternak?

BAB IIPEMBAHASANA. TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT PERTANIAN1. DASAR HUKUM ZAKAT PERTANIANDi antara nikmat Allah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya ialah dihamparkannya bumi yang dapat dimanfaatkan untuk menanam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, dan yang demikian itu merupakan karunia-Nya.[footnoteRef:1] Zakat diwajibkan pada makanan pokok dari hasil pertanian dan buah-buahan karena dapat menguatkan badan, juga dapat memenuhi kebutuhan pokok. [footnoteRef:2] [1: Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. 2010. Fiqh Ibadah: Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Cet. 2. Jakarta: Amzah, halaman 365] [2: Ibid., halaman 350]

Zakat hasil-hasil pertanian ditetapkan berdasarkan Al-Quran, yaitu:QS. Al-Anaam:141Wahuwal-ladzii ansyaa jannaatin ma'ruusyaatin waghaira ma'ruusyaatin wannakhla wazzar'a mukhtalifan ukuluhu wazzaituuna warrummaana mutasyaabihan waghaira mutasyaabihin kuluu min tsamarihi idzaa atsmara waaatuu haqqahu yauma hashaadihi walaa tusrifuu innahu laa yuhibbul musrifiin(a)

"Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun, yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu), bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya, (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai, orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS.6:141)

QS. Al-Baqarah:267Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu anfiquu min thai-yibaati maa kasabtum wamimmaa akhrajnaa lakum minal ardhi walaa tayammamuul khabiitsa minhu tunfiquuna walastum biaakhidziihi ilaa an tughmidhuu fiihi waa'lamuu annallaha ghanii-yun hamiidun

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah), sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi, untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji." (QS.2:267)

Selain ayat-ayat Al-Quran di atas, Hadist juga menyebutkan kewajiban zakat pertanian, antara lain: Pada pertanian yang tadah hujan atau mata air atau yang menggunakan penyerapan akar (atsariyan) diambil sepersepuluh (sepuluh persen) dan yang disirami dengan penyiraman maka diambil seperduapuluh (lima persen). [HR al-Bukhri] Semua yang diairi dengan sungai dan hujan maka diambil sepersepuluh dan yang diairi dengan disiram dengan pengairan maka diambil seperduapuluh. [HR Muslim]Berdasarkan nash-nash di atas, dapat dilihat bahwa penunaian zakat hasil pertanian adalah wajib.2. SYARAT-SYARAT PENUNAIAN ZAKAT PERTANIANPenunaian zakat pertanian memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi, seperti:a. Zakat diwajibkan pada jenis biji-bijian dan buah-buahan yang menjadi makanan pokok bagi manusia serta dapat disimpan.Makanan pokok itu pada umumnya makanan yang menguatkan badan manusia. Dapat dipahami juga bahwa tak ada zakat pada hasil pertanian yang tidak dapat disimpan, seperti semangka, delima dan lain sebagainya, kecuali untuk diperdagangkan maka si pedagang harus mengeluarkan zakat perdagangan.[footnoteRef:3] [3: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. 2003. Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibatin Muhammatin Tataallaqu bi Arkanil Islam (Tanya Jawab Tentang Rukun Islam). Diterjemahkan oleh Mudzakir Muhammad Arif. Medan: IAIN Sumatera Utara, halaman 182]

b. Hasil pertanian tersebut ditanam oleh manusia.Jika hasil pertanian itu tumbuh sendiri karena perantaraan air atau udara maka tidak wajib dizakati. Oleh, karena itu, tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat pada segala sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya di lembah-lembah padang pasir/pegunungan, atau yang terbawa oleh air dan udara dan tumbuh disana. Hasil-hasil tanaman ini tidak wajib dizakati karena ia tidak memiliki pemilik definitif.[footnoteRef:4] [4: Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Op. Cit., halaman 370]

c. Sudah mencapai nishab.Hasil pertanian tidak wajib dikeluarkan zakatnya sebelum mencapai nishab, yaitu 5 wasq (1 wasq adalah 60 sha, sedangkan 1 sha sama dengan 2,2 kg, jadi 1 wasq kurang lebih sama dengan 132,6 kg).Jadi, kadar nishab hasil pertanian adalah 5 wasq 132,6 kg = 663 kg.[footnoteRef:5] [5: Ibid., halaman 372]

Kadar tersebut ditentukan berdasarkan Hadist, yaitu:Tidak ada zakat pada (hasil pertanian) di bawah lima wasq. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]d. Hasil pertanian tersebut telah sampai haul.Pembayaran zakat untuk tanaman tidak menggunakan penghitungan satu tahun seperti zakat emas dan perak, tetapi pada setiap kali panen.[footnoteRef:6] [6: Syakir Jamaluddin. 2013. Kuliah Fiqh Ibadah. Cet. 3. Yogyakarta: LPPI UMY, halaman 200]

Pemilik hasil pertanian tidak diperkenankan memakan dan memanfaatkan hasil panennya sebelum ia mengeluarkan zakat atas hasil pertanian tersebut.[footnoteRef:7] [7: Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Op. Cit., halaman 371]

Di beberapa daerah di Indonesia, setiap kali memanen padi, pemiliknya membersihkan padinya di sawah sebelum dibawa pulang, ditakari dan langsung dikeluarkan zakatnya dengan diberikan kepada fakir miskin yang ada di daerah itu Mereka takut akan termakan olehnya bagian yang harus dizakatkan itu.[footnoteRef:8] [8: Zakiah Daradjat. 1994. Zakat Pembersih Harta dan Jiwa. Cet. 6. Jakarta: CV Ruhama, halaman 42 ]

3. KADAR ZAKAT PERTANIAN YANG WAJIB DIKELUARKANPada pertanian yang tadah hujan atau mata air atau yang menggunakan penyerapan akar (atsariyan) diambil sepersepuluh (sepuluh persen) dan yang disirami dengan penyiraman maka diambil seperduapuluh (lima persen). [HR al-Bukhri]Merujuk dari Hadist yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa: Hasil pertanian dengan sistem non-irigasi (pengairan tanpa menggunakan tenaga, alat,

Search related