24
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Hubungan geopolitik China dan Jepang pada dasarnya, sangat dipengaruhi oleh dinamika system politik dunia. Persaingan antara kedua negara ini juga erat kaitannya dengan sejarah agresi militer yang membentuk relasi yang dingin antara keduanya hingga kini. Disamping itu, kontestasi politik internasional sebelum dan sesudah Perang Dingin telah membentuk pola hubungan antara Jepang dan China yang notabene nya memiliki ideology yang berbeda. Dengan perbedaan ideology tersebut, baik China dan Jepang dimasa system internasional yang bipolar menunjukan keberpihakannya kepada super power yang mendukung ideologinya masing-masing. Namun kemudian, keruntuhan Uni Soviet yang merubah system dunia menjadi unipolar membawa perubahan politik di kawasan Asia Timur pula. Keruntuhan Uni Soviet menyisakan China dan Korea Utara sebagai negara sosialis yang dengan kuat mempertahankan ideologynya hingga kini. Berbeda dengan China, keberadaan negara sosialis yang sangat tertutup seperti Korea Utara di kawasan ini membuat kondisi kawasan cenderung tidak dapat dipredikasi. Tidak dapat diprediksinya Korea Utara, turut pula menimulkan reaksi dari negara-negara kawasan di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam berbagai respon negara tetangga terhadap kemungkinan adanya kepemilikan senjata nuklir Korea Utara. Beberapa waktu ini, peningkatan uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara telah

Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hubungan geopolitik China dan Jepang pada dasarnya, sangat dipengaruhi oleh

dinamika system politik dunia. Persaingan antara kedua negara ini juga erat kaitannya dengan

sejarah agresi militer yang membentuk relasi yang dingin antara keduanya hingga kini.

Disamping itu, kontestasi politik internasional sebelum dan sesudah Perang Dingin telah

membentuk pola hubungan antara Jepang dan China yang notabene nya memiliki ideology

yang berbeda. Dengan perbedaan ideology tersebut, baik China dan Jepang dimasa system

internasional yang bipolar menunjukan keberpihakannya kepada super power yang

mendukung ideologinya masing-masing. Namun kemudian, keruntuhan Uni Soviet yang

merubah system dunia menjadi unipolar membawa perubahan politik di kawasan Asia Timur

pula. Keruntuhan Uni Soviet menyisakan China dan Korea Utara sebagai negara sosialis yang

dengan kuat mempertahankan ideologynya hingga kini.

Berbeda dengan China, keberadaan negara sosialis yang sangat tertutup seperti Korea

Utara di kawasan ini membuat kondisi kawasan cenderung tidak dapat dipredikasi. Tidak

dapat diprediksinya Korea Utara, turut pula menimulkan reaksi dari negara-negara kawasan

di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam berbagai respon negara tetangga terhadap

kemungkinan adanya kepemilikan senjata nuklir Korea Utara. Beberapa waktu ini,

peningkatan uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara telah menarik kekhawatiran dunia.

Hal tersebut di representasikan dalam pembahasan terkait Korea Utara di PBB yang

mendesak negara-negara tetangga untuk melakukan reaksi sebagai upaya pencegahan

terjadinya perang nuklir di dunia.

Berdasrkan hal tersebut, makalah ini akan berfokus pada geopolitik China dan Jepang

yang tercermin dari sikapnya terhadap dinamika kawasan di Asia Timur akibat agresifitas

Korea Utara dalam percobaan nuklir yang secara gencar dilakukan dalam beberapa bulan

terakhir. Kasus ini menjadi penting karena pasca perang dingin, baik China maupun Jepang

lebih memfokuskan kebijakannya pada sektor ekonomi dan pembangunan sehingga

cenderung mengesampingkan masalah keamanan kawasan. Fenomena peningkatan

ketegangan di semenanjung korea ini, mendorong China dan Jepang untuk melakukan respon

terhadap masalah keamanan di kawasannya. Dengan demikian kasus tersebut pada makalah

digunakan untuk dapat melihat peredaan geopolitik dan keamanan China dan Jepang.

Page 2: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

1.2 Pertanyaan Permasalahan

Makalah ini akan berusaha menjawab pertanyaan permasalahan terkait “Bagaimana

perbandingan geopolitik China dan Jepang terkait fenomena peningkatan ketegangan

nuklir di semenanjung Korea ?”

1.3 Kerangka pemikiran

Geopolitik 1

Geopolitik adalah studi tentang pengaruh geografi pada politik internasional dan hubungan

internasional. Geopolitik adalah metode analisis kebijakan luar negeri yang berusaha untuk

memahami, menjelaskan, dan memprediksi perilaku politik internasional terutama dalam hal

geografis variabel. Variabel geografis yang khas adalah lokasi fisik, ukuran, iklim, topografi,

demografi, sumber daya alam, dan kemajuan teknologi negara sedang dievaluasi. Secara

tradisional, istilah ini diterapkan terutama terhadap dampak geografi pada politik, tetapi

penggunaannya telah berevolusi selama abad terakhir untuk mencakup konotasi yang lebih

luas.

Geopolitik secara tradisional mempelajari hubungan antara kekuasaan politik dan ruang

geografis, dan memeriksa resep strategis berdasarkan kepentingan relatif kekuatan darat dan

kekuatan laut dalam sejarah dunia. Tradisi geopolitik punya beberapa kekhawatiran konsisten

dengan korelasi geopolitik kekuasaan dalam politik dunia, identifikasi wilayah inti

internasional, dan hubungan antara kemampuan angkatan laut dan darat. Secara akademis,

studi geopolitik analisis geografi, sejarah, dan ilmu sosial dengan referensi politik spasial dan

pola pada berbagai skala. Juga, studi geopolitik mencakup studi dari ansambel hubungan

antara kepentingan para aktor politik internasional, kepentingan terfokus ke suatu daerah,

ruang, elemen geografis atau cara, hubungan yang membuat sistem geopolitik. Geopolitik

adalah multidisiplin dalam lingkup, dan mencakup semua aspek ilmu sosial-dengan

penekanan khusus pada geografi politik, hubungan internasional, aspek teritorial ilmu politik

dan hukum internasional.

Aliansi 2

1 Devetak et al (eds), An Introduction to International Relations, 2012, p. 492.2 Dr. Sangit Sarita Dwivedi, Alliances In International Relations Theory dalam International Journal of Social Science & Interdisciplinary Research Vol. 1 Issue 8, August 2012, ISSN 2277 3630, diakses dari http://indianresearchjournals.com/pdf/IJSSIR/2012/August/20.pdf pada tanggal 25 April 2013 pukul 16.21 WIB.

Page 3: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

Aliansi memainkan peran sentral dalam hubungan internasional karena dianggap

menjadi bagian integral kenegaraan. Aliansi terbentuk antara dua atau lebih negara untuk

melawan umum musuh. Mereka telah menjadi fokus penelitian yang penting dalam teori

hubungan internasional.

Hal ini dapat dimengerti karena salah satu perdebatan kebijakan luar negeri utama di setiap

pusat negara pada masalah yang bersekutu dengan bangsa dan untuk berapa lama. Negara-

negara kuat dan lemah sama merasakan perlu untuk membentuk aliansi. Negara lemah masuk

ke dalam aliansi ketika mereka membutuhkan perlindungan terhadap kuat negara yaitu,

mereka masuk ke dalam aliansi untuk membela diri. Negara berharap sekutu mereka untuk

membantu militer dan diplomatik pada masa konflik. Itu komitmen dibuat oleh aliansi

mungkin yaitu formal maupun informal, mungkin ada atau mungkin tidak perjanjian antara

mereka.

Dalam hal ini keseimbangan teori kekuatan aliansi yang merupakan alat utama yang

digunakan dalam disiplin hubungan internasional untuk menjelaskan pembentukan dan

jangka waktu aliansi antara negara. Kontras dengan Teori "keseimbangan kekuatan" (BoP)

dan teori "keseimbangan ancaman "(BoT). Menurut teori realis, negara adalah pelaku politik

pusat dan tindakan mereka diatur oleh persepsi kedaulatan, kepentingan nasional dan

keamanan. Realisme terutama berkaitan dengan perlindungan negara dan kelangsungan hidup

negara sebagai aktor diskrit.

Sebelum membahas teori alternatif keamanan negara, istilah dan konsep terkait harus

didefinisikan. Ancaman dalam halini bukanlah sebuah fenomena obyektif. Ini adalah konsep

persepsi. Kemampuan dan niat negara memainkan peran penting dalam menentukan

ancaman. Keamanan: Menurut realis, konsep keamanan adalah lingkaran setan. Dalam

pemahaman yang paling mendasar, untuk menjadi aman adalah untuk bebas dari ancaman

dan bahaya. Negara tidak sempurna aman atau benar-benar tidak aman melainkan mengalami

kondisi baik dalam derajat.

Aliansi: Aliansi digambarkan sebagai proses atau teknik kenegaraan atau jenis

organisasi internasional (Fedder 1968: 68). Arnold Wolfer (1968: 268) mendefinisikan aliansi

sebagai "janji bantuan militer timbal balik antara dua atau lebih negara berdaulat". Aliansi

hanya subset formal fenomena yang lebih luas dan lebih mendasar, daripada "keselarasan"

(Snyder 1990: 105). Tujuan utama dari sebagian besar aliansi adalah untuk menggabungkan

anggota "kemampuan dalam cara yang lebih jauh kepentingan masing-masing.

Koalisi: Snyder dibedakan antara aliansi dan koalisi. Menurutnya (1990: 106), aliansi

terbentuk dalam waktu damai dan koalisi sering ditemukan selama perang. Koalisi

Page 4: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

kekurangan banyak fungsi politik, seperti pencegahan serangan, halangan dan menahan diri

dari theally. Fedder (1968: 80) mendefinisikan koalisi sebagai "satu set anggota bertindak

dalam konser di x waktu mengenai satu sampai n masalah".

Membangun aliansi bukan satu-satunya negara tacic memiliki, ada strategi lain juga.

Menyeimbangkan dan bandwagoning dapat menyebabkan pembentukan aliansi.

Ketika dihadapkan dengan ancaman eksternal, negara baik dapat menyeimbangkan atau ikut-

ikutan. Balancing: Hal ini didefinisikan sebagai bersekutu dengan orang lain terhadap

ancaman yang berlaku. Negara dapat menyeimbangkan dalam berbagai cara. Waltz (1979)

dibedakan antara dua jenis balancing. Negara bisa mencoba untuk menyeimbangkan ancaman

dengan sumber daya mereka sendiri. Ini disebut balancing internal. Atau, mereka dapat

mencari negara lain yang berbagi rasa takut dan sekutu mereka dengan mereka. Hal ini

dikenal sebagai balancing eksternal.

Bandwagoning: Jika sistem gagal untuk memberikan keseimbangan terhadap

agresor, negara-negara individu merespon secara berbeda terhadap ancaman. Bandwagoning

adalah bergabung dengan pihak yang lebih kuat demi perlindungan dan hadiah, bahkan jika

ini berarti ketidakamanan vis-à-vis kekuatan melindungi dan pengorbanan tertentu

kemerdekaan (Schroeder 1994: 430). Menurut Schweller, bandwagoning mengacu bergabung

dengan negara meningkat, baik dari rasa takut atau dari keserakahan (Vasquez dan Elman

2003: 79). Walt didefinisikan bandwagoning sebagai "keselarasan dengan sumber bahaya". Ia

membedakan menjadi dua jenis: ofensif dan defensif. Bandwagoning ofensif adalah

keselarasan dengan keadaan dominan untuk berbagi dalam rampasan kemenangan.

Bandwagoning defensif adalah "bentuk peredaan"; negara sejajar dengan negara agresif

untuk menghindari diserang (Walt 1987: 21). Balancing dan bandwagoning bukan satu-

satunya cara, di mana negara "perilaku terungkap.

Page 5: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

BAB II

PEMBAHASAN

Bagian pembahasan dalam makalah ini pada dasarnya akan dibagi kedalam beberapa

sub-bahasan terkait geopolitik China – Korea Utara dan Jepang – Korea Utara. Hal ini

dimaksudkan untuk dapat melihat dinamika hubungan China maupun Jepang terhadap Korea

Utara dalam periode masa perang dingin dan setelah perang dingin. Priode tersebut dipilih

untuk dapat melihat konsistensi hubungan geopolitik China dan Jepang terhadap Korea Utara

dan pengaruhnya terhadap peningkatan agresifitas Korea Utara di awal tahun 2013.

2.1 Dinamika geopolitik China – Korea Utara.

2.1.1 Hubungan China dan Korea Utara Pada Masa Perang Dingin

China dan Korea Utara memiliki hubungan yang strategis karena secara geopolitik

Korea Utara berbatasan dengan China, dan kedua negara ini memiliki persamaan dalam

hal ideology yaitu sosialis komunis. Pada masa perang dingin, China menjalin hubungan

kerjasama yang sangat erat dengan Korea Utara, bahkan dapat di kategorikan sebagai

hubungan persahabatan dengan perlakuan istimewa. China secara konsisten memberikan

bantuan–bantuan dan juga hubungan perdagangan lunak dalam bentuk barter, mengingat

kondisi ekonomi Korea Utara yang lemah pada saat itu. Hal ini berawal ketika perang

dunia kedua berakhir, di mana semenanjung Korea dibagi menjadi dua bagian akibat

perbedaan ideologi antara Korea Utara dan Selatan. Kedua negara tersebut memiliki basis

pendukung masing-masing yaitu, Korea Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat dan

Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet dan China. Perbedaan tersebut pada akhirnya

mengakibatkan terjadinya perang antara dua kubu (Korea Utara dan Korea Selatan) dan

juga menjadi awal terbentuknya relasi yang erat antara Korea Utara dan China.

Perang Korea merupakan sebuah perang yang terjadi ketika masa perang dingin

antara Korea Selatan dan Utara pada tahun 1950-1953. Pada saat itu Korea Utara

menginvasi Korea Selatan dengan dibantu secara terang-terangan oleh China. Namun,

penyebab China turut serta dalam perang ini akibat serangan balik yang dilakukan oleh

pasukan Korea Selatan yang dibantu oleh pasukan Amerika. China yang bergabung dalam

perang setelah pasukan Amerika menguasai daerah Incheon di Korea Selatan dan mulai

memasuki daerah pusat Korea Utara yaitu Pyongyang.3 Perang ini terus berlangsung

3 Korean War Timeline, http://www.softschools.com/timelines/korean_war_timeline/36/, (26 April 2013, 23.14 WIB)

Page 6: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

hingga pertengahan tahun 1953 dan kedua negara (Korea Utara dan Selatan) masih tetap

berada dalam dukungan sekutu masing-masing.

Dengan melihat dukungan yang diberikan oleh China kepada Korea Utara dalam

perang tersebut, memperlihatkan hubungan yang sangat erat antara keduanya dan menjadi

sekutu yang saling mendukung satu sama lain. Dapat dikatakan juga bahwa selama

Perang Korea berlangsung, China adalah sosok pendukung serta pelindung bagi Korea

Utara. China banyak memberikan bantuan kepada Korea Utara karena kondisi ekonomi

yang tidak stabil pada saat itu. Meskipun Korea Utara memiliki hubungan yang terlihat

harmonis diantara keduanya, namun sebenarnya kedua negara tetangga ini tidak memiliki

hubungan baik. Bantuan yang diberikan oleh China ketika masa perang Korea

berlangsung, bukanlah murni karna China ingin membantu Korea Utara, melainkan

karena adanya kepentingan nasional China didalamnya. Kepentingan yang ingin

diperjuangkan oleh China adalah untuk mempertahankan daerah perbatasan China dan

Korea yaitu Baek-du san. China yang sangat membela Korea Utara pada saat itu,

disebabkan oleh kekhawatiran China terhadap jatuhnya daerah perbatasan tersebut ke

tangan pasukan Amerika Serikat. Apabila Korea Utara runtuh, maka perbatasan tersebut

akan di dominasi dan dikuasai oleh pasukan militer Amerika yang pada saat itu sedang

mencoba menyerang Korea Utara habis-habisan.4

2.1.2 Hubungan China dan Korea Utara Pasca Perang Dingin

Pasca perang Korea, hubungan China dan Korea masih menjadi pendukung satu sama

lain. Selain itu, kedua negara pun membentuk suatu sistem pertahanan yang saling

menguntungkan dan menandatangani perjanjian yang dibentuk pasca perang Korea. Pada

tanggal 11 July 1967, kedua negara (China dan Korea Utara) menyepakati sebuah

perjanjian antar negara tersebut yaitu The Sino-North Korean Treaty of Friendship,

Cooperation and Mutual Assistance. Perjanjian ini merupakan kesepakatan kedua negara

untuk membentuk kerjasama perdamaian dalam bidang ekonomi, budaya, teknologi dan

keuntungan yang akan didapat oleh kedua negara tersebut. Perjanjian tersebut membuat

China berkewajiban dan juga berkomitmen untuk ikut campur serta membela korea Utara

dalam kasus konflik militer. Namun, belakangan ini Korea Utara memutuskan untuk

mencoba senjata nuklirnya dan membuat China berada pada keadaan yang cukup

dilematis. Tindakan yang diambil oleh Korea Utara dapat mengancam stabilitas

4 Timothy Beardson, China Support for North Korea is Rational, http://www.ft.com/cms/s/0/954c33f6-ac0e-11e2-9e7f-00144feabdc0.html#axzz2Rp6o63H8, (29 April 2013, 20.04 WIB)

Page 7: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

keamanan terutama di wilayah Asia Timur, tetapi disisi lain, China tidak bisa bertindak

terlalu keras terhadap Korea Utara karena kedua negara ini telah menandatangani

perjanjian persahabatan sebelumnya.

Semenjak Kim Jong Un memegang kuasa di Korea Utara, hubungan China dan

Korea lebih terlihat pasif, akibat percobaan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara pada

bulan Februari 2013 lalu.5 Menurut Daniel Sneider, seorang direktur Stanford's Asia-

Pacific Research Center, prioritas utama China pada saat ini adalah menjaga stabilitas

negara dan menghindari terjadinya perang.6 Sehingga, pemerintah China memberikan

komando untuk bersikap tenang dalam menghadapi ancaman nuklir yang diluncurkan

oleh Korea Utara. Hal tersebut disebabkan kewajiban China untuk menjaga stabilitas

wilayah Asia Timur termasuk semenanjung Korea. Setelah ancaman nuklir tersebut

diluncurkan oleh Korea Utara, China mendapat tekanan dari berbagai negara, namun

China tetap pada pendiriannya untuk bersikap tenang. Sikap ini dikemukakan juga oleh

juru bicara dari kementrian luar negeri China, Hong Lei, bahwa permasalahan ini harus

diselesaikan dengan bermusyawarah dan seluruh partai politik diharapkan untuk bersikap

tenang.7

Namun, sikap gegabah yang dilakukan oleh Kim Jong Un membuat China

menganggap Korea Utara sebagai sebuah ancaman yang dapat membahayakan kedua

negara tersebut. Keputusan yang diambil oleh Korea Utara terkait dengan percobaan

nuklirnya, membuat China bingung untuk menghadapi negara yang dipimpin oleh Kim

Jong Un ini. Beberapa negara sudah mendesak China untuk memperketat sanksi yang

seharusnya diberikan kepada Korea Utara. Di samping itu, China juga harus berhati-hati

terhadap tindakan yang dilakukannya, karena perlu diingat juga bahwa China sudah

melakukan perjanjian persahabatan dengan Korea Utara. Hal inilah yang pada akhirnya

membuat China bersikap lebih pasif dan kurang responsive untuk menghadapi ancaman

nuklir Korea Utara.

Selain karena faktor historis antara kedua negara, sikap pasif yang ditunjukkan China

disebabkan oleh kekuatan militer yang lebih kuat dibanding Korea Utara. Kecilnya

kemungkinannya untuk terjadi agresi militer dari Korea Utara terhadap China, karena

Korea Utara memiliki ketergantungan akan bantuan yang selama ini di berikan oleh

5 Celia Hatton, Is China ready to abandon North Korea?, http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-china-22062589, (27 April 2013, 00.07 WIB)6 http://www.cfr.org/china/china-north-korea-relationship/p11097, (27 April 2013, 12.27 WIB)7 Shannon Van Sant, China Urged to Pressure North Korea to Stop Threats, http://www.voanews.com/content/china-urged-to-pressure-north-korea/1638503.html, (29 April 2013, 20.24 WIB)

Page 8: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

China. Hal ini membuat China terkesan pasif dalam menghadapi permasalahan ini,

karena China tidak perlu merasa khawatir akan ancaman tersebut. Perlu juga di ingat

bahwa selepas masa perang dingin China telah melakukan pengurangan jumlah bantuan

terhadap Korea Utara yang meliputi bantuan minyak dan sumber–sumber daya energy

lainnya, yang di mana dengan keterbatasan minyak maupun sumber daya energy lainnya

ini membuat Korea Utara akan sulit untuk melakukan tindakan–tindakan maupun agresi

militer yang membutuhkan sumber daya energy dalam jumlah yang tidak sedikit.8

Secara ekonomi Korea Utara memiliki ketergantungan yang kuat terhadap China,

yang menyediakan sebagian besar makanan dan pasokan energi bagi masyarakat Korea

Utara. Nicholas Eberstadt, seorang konsultan di Bank Dunia, mengatakan bahwa sejak

awal 1990-an, Cina telah menjabat sebagai pemasok makanan kepada Korea Utara. Selain

itu China juga telah memberikan sumbangannya sebesar hampir 90 persen dari impor

energi. Bahkan terdapat perkiraan bahwa China menyediakan 80 persen dari barang-

barang konsumen Korea Utara dan 45 persen dari pasokan makanan. Ketergantungan

ekonomi Korea Utara dari China terus tumbuh, seperti yang ditunjukkan oleh

ketidakseimbangan perdagangan yang signifikan antara kedua negara. Snyder mencatat

bahwa pada tahun 2008, impor dari China ke Korea Utara sebesar $ 2.030.000.000,

sementara ekspor ke China termasuk batu bara dan bijih besi sebesar $ 750.000.000.

Beberapa ahli melihat $ 1.250.000.000 defisit perdagangan yang di miliki oleh Korea

Utara sebagai subsidi Cina tidak langsung, mengingat bahwa Korea Utara tidak dapat

membiayai defisit perdagangan melalui pinjaman9.

Dibalik semua bantuan China kepada Korea Utara, China sebagai pemasok bantuan

memiliki kepentingan tertentu dalamnya. Kepentingan ekonomi yang di miliki oleh China

terhadap Korea Utara, memberikan kesan bahwa China merupakan negara yang selalu

merugi terhadap hubungan kerjasama antar kedua negara ini. Namun pada kenyataannya,

China memiliki surplus dalam hubungan perdagangan dengan Korea Utara, dimana nilai

ekspor China ke Korea Utara pada masa pasca perang dingin mencapai 600 juta US

Dollar, sedangkan nilai ekspor Korea Utara ke China hanya 290 juta US Dollar. Nilai

ekspor yang ditetapkan tersebut membuat China memiliki surplus perdagangan dengan

8Weixing Hu, “China’s Security Strategy in A Changing World”, Pasific Focus, VIII/1(Spring, 1993). Hlm.1189 The China-North Korea Realitonship. http://www.cfr.org/China/China-north-korea-relationship/p11097#p3 , (29 April 2013)

Page 9: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

Korea Utara hingga mencapai angka 310 juta US Dollar10. Adanya hal ini, jika dilihat dari

sudut pandang manapun hal ini tentu saja mendatangkan keuntungan bagi China.

Pada dasarnya, saat ini, China memiliki kepentingan yang sama dengan Korea Utara,

yaitu bagaimana mempertahankan sistem politik yang mereka miliki disaat harus

membuka diri pada dunia luar. China dan Korea Utara merupakan negara dengan sistem

satu partai. Lenyapnya rezim Korea Utara yang merupakan aliansinya merupakan sesuatu

yang dipandang oleh China sebagai sesuatu yang harus dibayar dengan harga sangat

tinggi. China tidak ingin melihat pengaruhnya bereduksi atau bahkan tereleminasi.

Selama ini Pyongyang telah menjadi pengikut setia Beijing. Selain itu, Korea Utara

adalah Buffer Zone yang berperan menjaga keamanan China. Dengan demikian bisa

disimpulkan bahwa persepsi China terhdap Korea Utara berkaitan dengan kepentingan

nasional dan persepsi ancaman lingkungan adalah bahwa Korea Utara bisa digunakan

sebagai alat untuk meningkatkan peran pentingnya aktor kunci dalam kemanan Asia

Timur. China memandang bahwa kemungkinan Korea Utara untuk kehilangan kerjasama

dengannya akan sangat merugikan kepentingan kemanan China di Asia Timur.11

2.2 Dinamika geopolitik Jepang- Korea Utara

2.2.1 Hubungan Jepang dan Korea Utara pada Masa Perang Dingin12

Persaingan Korea Utara- Selatan pada dasarnya juga merupakan sumber utama

tingginya ketegangan antara Korea Utara dan Jepang di masa ini. Hal ini menurut Denny

Roy, dapat terlihat dalam dua kesempatan. Pertama, ketika Korea Utara melakukan

tindakan yang konfrontatif menentang Selatan, maka public Jepang wajib mengutuk

tindakan Pyongyang tersebut. Selanjutnya setelah investigasi menyimpulkan bahwa

Korea Utara bersalah, maka Jepang pun memberlakukan sanksi terhadap Korea Utara

selama lebih dari setahun. Pyongyang, yang membantah keterlibatan dalam pemboman

itu, bereaksi dengan turun memberikan sanksi sendiri melawan Jepang yang berupa

suspensi negosiasi perjanjian hak penangkapan ikan yang baru. Reaksi yang sama juga

dilakukan ketika Tokyo mengecam pengeboman pesawat KAL airlines yang dipandang

dilakukan oleh agen-agen Korea Utara.13 Dugaan tersebut membuat pemerintah Jepang 10Harold C. Hinton, “China as An Asian Power”Chinese Foreign Policy Theory and Practice, (New York: Oxford University Press Inc, 1994), hlm.348.11Bonnie S Glaser, “China’s Security Perceptions: Interest and Ambitions”, Asian Survey, 33/3, 1993, hlm. 42.12 Denny Roy, North Korea's Relations with Japan: The Legacy of War dalam Asian Survey, Vol. 28, No. 12 (Dec., 1988), pp. 1280-1293 diakses dari http://www.jstor.org/stable/2644746, pada tanggal 27/04/2013 pukul 15:25 WIB.13 E. A. Wayne, "U.S. and Japan Denounce North Korea on Terror," Christian Science Monitor, January 27, 1988, p. 5.

Page 10: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

menghentikan semua penerbangan maskapai sipil dan melarang kunjungan pejabat antara

kedua negara.

Kedua, meskipun preferensinya untuk pendekatan yang seimbang dalam kaitannya

dengan Korea, Jepang kadang-kadang dipaksa untuk memihak. Tentunya, kebijakan

Jepang yang akan memutuskan mendukung Seoul, kemudian dapat memancing

kemarahan Korea Utara. Sebuah contoh yang jelas terjadi dalam normalisasi hubungan

Jepang dengan Korea Selatan. Dalam kasus 11 warga Korea Utara yang dikenal sebagai

“boat people” yang berlayar ke pelabuhan Jepang pada Januari 1987. Pyongyang

menuntut mereka dikembalikan ke Korea Utara, dan mengklaim kapal itu menuju

pelabuhan Wonsan Korea Utara. Dalam hal ini, Seoul mengimbau prosedur internasional

dan pertimbangan kemanusiaan sehingga mendesakan bahawa orang-orang seharusnya

dibawa ke Korea Selatan.

Pada situasi tersebut, dalam kondisinya Kementerian Luar Negeri Jepang menghadapi

dilemma. Dilema ini terjadi karena Korea Utara masih memegang dua pelaut Jepang yang

diculik pada November 1983 untuk kegiatan spionase yang dituduhkan. Pemerintah

Jepang akhirnya memutuskan untuk mengirim mereka ke Taiwan, dari mana mereka

langsung dibawa ke Korea Selatan. Hal ini tentunya kemudian memunculkan amarah dari

Korea Utara dan mengeluarkan statement yang menegaskan bahawa semua masalah

dengan Jepang di negaranya akan diselesaikan dengan hukum Korea Utara.14 Kejadian-

kejadian tersebut memperlihatkan bahwa ketika Jepang dipaksa untuk membuat sebuah

langkah yang berimplikasi pada zero-sum game bagi Seoul dan Pyongyang, maka akan

ada konsekuansi yang didapatkan oleh Jepang. Pada dasarnya beberapa peristiwa yang

dipaparkan sebelumnya menggambarkan bahwa Perang Korea tidak hanya mempengaruhi

dinamika kawasan semenanjung, tetapi juga berpengaruh ke negara-negara tetangga

seperti Jepang.

Persaingan antara Korea Utara dan Korea Selatan telah menjadi pertimbangan utama,

jika bukan pertimbangan dominan, dalam setiap aspek utama dan episode hubungan

Korea Utara dengan Jepang. Mungkin identifikasi masalah-masalah seperti di atas secara

terus-menerus dalam kegiatan kebijakan luar negeri Korea Utara dapat membantu

menjelaskan perilaku internasional tak terduga dan sering membingungkan dari rezim di

Korea hingga sekarang.

14 Korea Central News Agency, FBIS, DRIAPA, February 8, 1987, pp. D1-2.

Page 11: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

2.2.2 Hubungan Jepang dan Korea Utara Pasca Perang Dingin15

Pada dasarnya pertumbuhan postur pertahanan Jepang kuat dipengaruhi oleh dengan

ancaman yang datang dari Korea Utara. Hal ini tentunya memperhitungkan berbagai

aspek potensi ancaman yang mungkin dilancarkan ke Jepang berdasarkan

perbandingannya dengan ukuran dan kualitas pasukan konvensional Korea Utara dan

weapons of mass destruction (WMD). Tentunya berbagai kemampuan yang tersedia di

Jepang atas bantuan AS mampu mencegah kemungkinan terjadinya searangan. Namun

Jepang disisi lain dengan kemampuan militer yang dimilikinya pada dasarnya cukup

percaya diri untuk dapat mencegah terjadinya perang dikawasan. Akan tetapi, sikap

pemerintah Korea Utara yang tidak dapat diprediksi tentunya mendorong Jepang untuk

terus menjaga aliansi dengan Amerika Serikat.

Ketidakpastian sikap dari Korea Utara kemudian memicu berbagai perubahan postur

pertahanan Jepang, yang semuanya menunjukkan bahwa kedua persepsi substansial dan

ditekankan ancaman berkontribusi yang melepaskan diri dari batasan pasca-perang

terhadap kebijakan keamanan.

Sejak awal terjadinya krisis nuklir Korea Utara, Jepang telah melakuakan dua kali

penataan ulang (tahun 1995 dan 2004) terhadap revisi Pedoman Pertahanan. Dalam hal

kemampuan militer konvensional, sejak pertengahan 1990-an Jepang telah

menstrukturisasi kekuatan JSDF (Japan Self-Defense Forces), yang dimaksudkan untuk

mengalahkan invasi darat Soviet. Jepang telah mulai mendapatkan kemampuan lebih baik

untuk menanggapi ancaman pasca-Perang Dingin dari Korea Utara dan China.

The Ground Self-Defense Force (GSDF) di 2004 Pedoman Pertahanan untuk

mengurangi jumlah tank tempur utama dan bukan untuk menekankan kekuatan tembel

cepat-reaksi melalui pembentukan Kelompok Kesiapan Tengah, mampu merespon Korea

Utara- Jenis serangan gerilya dan melatih untuk pengiriman internasional. The Maritime

Self-Defense Force (MSDF) adalah untuk mengurangi jumlah kapal dan berkonsentrasi

pada investasi kualitatif dalam enam kapal perusak yang dilengkapi dengan sistem

Ballistic Missile Defense (BMD) yang cocok untuk mencegat rudal balistik Korea Utara

dan Cina. Hal ini diketahui telah mempertimbangkan pengadaan rudal jelajah Tomahawk

15 Christopher W. Hughes, "Super-Sizing" the DPRK Threat: Japan's Evolving Military Posture and North Korea dalam Asian Survey, Vol. 49, No. 2 (March/April 2009), pp. 291-311 diakses dari http://www.jstor.org/stable/10.1525/as.2009.49.2.291, pada tanggal 27/04/2013 pukul 03:21 WIB.

Page 12: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

untuk menyediakan Jepang dengan sarana untuk menyerang kembali di Korea Utara rudal

balistik launches.16

Air Self-Defense Force (ASDF), sebagian sebagai reaksi terhadap ancaman Korea

Utara, telah diakuisisi kemampuannya dan sejak tahun 2008 telah mulai mendapatkan

amunisi presisi-dipandu yang bisa menyerang terhadap basis rudal Korea Utara. Para

ASDF menyelesaikan penyebaran Patriot Advanced Capability-3 (PAC) sistem BMD

antara tahun 2006 dan 2008 sekitar Tokyo, dan dipraktekkan penyebaran mereka di pusat

kota Tokyo pada bulan September 2007 dan Januari 2008. Demikian pula, JCG ini,

angkatan laut dekat kedua dalam hal tonase dan kemampuan kapal patroli, telah

memasang 30 senapan mesin jarak jauh pada kapal untuk melawan Korea Utara.17 Jepang

telah meningkatkan kemampuan intelijen secara keseluruhan untuk menanggapi Korea

Utara tes rudal , meluncurkan empat satelit pengumpulan-intelijen antara Maret 2003 dan

Februari 2007. Meskipun Jepang mengklasifikasikan satelit tersebut sebagai "satelit

intelijen multi-tujuan," dorongan yang menentukan untuk program satelit mata-mata

sendiri berasal dari uji coba Taepodong-1; penggunaan militer satelit perdana sejauh itu

telah untuk memantau persiapan untuk Korea Utara rudal launches.18

Respon pemerintah jepang terhadap peningkatan agresifitas Korea Utara dilakukan

oleh pemerintah dengan beberapa cara.19 Jepang telah dikerahkan rudal Patriot dalam

modal karena menyiapkan untuk membela 30 juta orang yang tinggal di Tokyo lebih

besar dari serangan Korea Utara. Dua Patriot Advanced Capability-3 peluncur rudal

permukaan-ke-udara telah ditempatkan di kementerian pertahanan di Tokyo sebelum fajar

pada hari Selasa, seorang juru bicara kementerian mengatakan, sementara Menteri

Pertahanan Itsunori Onodera mengatakan "kita melanjutkan dengan langkah-langkah

termasuk penyebaran PAC-3 seperti kita waspada ".

Laporan lokal mengatakan PAC-3 akan digelar di dua lokasi di daerah Tokyo lebih

besar. Tanggapan Tokyo sejauh ini untuk ancaman yang berasal dari Pyongyang telah

kunci rendah dan bergerak Selasa adalah yang paling terlihat namun bahwa itu bingung.

16 Ishiba Shigeru, “Kōshi Ishiba Mae Bōeichōkan” [Former JDA director general Ishiba as instructor], in Nihon no Bōei Nanatsu no Ronten [Seven debates on Japan’s defense], ed. Kuroi Buntarō (Tokyo: Takarajimasha, 2005), pp. 51–52.17 Richard J. Samuels, “ ‘New Fighting Power’: Japan’s Growing Maritime Capabilities and East Asian Security,” International Security 32:3 (Winter 2007/2008), pp. 84 –112.18 Andrew L. Oros, “Explaining Japan’s Tortured Course to Surveillance Satellites,” Re- view of Policy Research 24:1 (January 2007), pp. 32, 35–36.

19 Japan readies missiles amid North Korea threats, diakses dari

http://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=10876446, pada tanggal 26n April 2013 pukul 17.22 WIB.

Page 13: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

"Pemerintah melakukan upaya maksimal untuk melindungi kehidupan rakyat kita dan

memastikan keselamatan mereka," kata Perdana Menteri Shinzo Abe wartawan, Selasa.

"Sebagai Korea Utara terus membuat komentar provokatif, Jepang, bekerja sama dengan

negara-negara terkait, akan melakukan apa yang harus kita lakukan. "Untuk saat ini, hal

yang paling penting adalah untuk menerapkan sanksi di bawah resolusi Dewan Keamanan

PBB."

PAC-3 baterai juga akan dipasang di gugusan pulau semi-tropis Okinawa, Onodera

mengatakan program siaran televisi pada hari Senin. Dia mengatakan Okinawa adalah

"tempat yang paling efektif dalam menanggapi situasi darurat ... jadi kami harus

mengerahkan unit di Okinawa secara permanen". Angkatan bersenjata Jepang berwenang

untuk menembak jatuh rudal Korea Utara menuju ke wilayahnya, kata seorang juru bicara

kementerian pertahanan. Laporan-laporan intelijen menunjukkan Pyongyang telah

disiapkan dua rudal mid-range pada peluncur bergerak di pantai timur dan merencanakan

ujicoba sebelum 15 April ulang tahun pemimpin pendiri Kim Il-akhir Sung.

Pada dasarnya hal ini menandakan respon cepat dari Jepang terhadap tindakan

konfrontatif yang dilakukan oleh Korea Utara. Jepang dalam hal ini menunjukan berusaha

memaksimalkan kekuatan militernya bahkan di tengah kota Tokyo. Pemerintah Jepang

secara terang-terangan melakukan perlawanan dan bermawas diri dengan mempersiapkan

kekuatan militernya. Dalam hal ini Jepang memanfaatkan hubungan dengan Amerika

Serikat meskipun harus merelakan penggunaan wilayahnya sebagai pangkalan militer

Amerika Serikat namun pada dasarnya Jepang pun mendapatkan keuntungan dari hal

tersebut. Telah disebutkan semula bahwa berbagai badan keamanan yang didirikan

Jepang tidak terlepas dari capur tangan AS didalamnya. Terlihat dalam hal ini, pada

dasarnya hubungan antara Jepang dan AS merupakan pola hubungan aliansi yang

sesungguhnya dilakukan juga untuk memenuhi kepentingannya masing-masing. Dengan

melakukan aliansi pada dasarnya Jepang melakukan Balanceof Threat terhadap Korea

Utara dan Balance of Power terhadap China. Bagi AS hubungan dengan Jepang

memberikannya tempat yang strategis untuk menjaga Korea Utara yang tidak dapat

diprediksi sikap politiknya. AS berusaha terus mengamankan status quo dengan

mendukung Jepang agar rezim nuklir (NPT) yang dibuat olehnya tetap terjaga.

Page 14: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

BAB III

KESIMPULAN

Paparan di atas telah memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik China dan

Jepang dalam pengaruhnya terhadap keberadaan Korea Utara yang hingga saaat ini masih

sangat menutup diri dari dunia internasional. Peningkatan threat nuklir yang dilakukan oleh

Korea Utara berpengaruh terhadap kebijakan keamanan China maupun Jepang.

Bagi China, agresifitas Korea Utara ini pada awalnya hanya ditanggapi secara pasif.

Hal ini dipengaruhi oleh kedekatan hubungan antara China dan Korea Utara secara ideology

dan historis. Namun, agresifitas yang tidak kunjung menurun ini memaksa China yang

mendapat tekanan dari dunia internasionalpun megeluarkan kecaman akan ketidak

setujuannya terhadap perilaku yang dilakukan oleh aliansinya ini. Sikap China yang

cenderung tidak konsisten sekiranya memperhitungkan kepentingannya terhadap Korea Utara

dan kepentingannya terhadap internasional dimana dengan bertumbuhan dan pembangunan

ekonomi China sendiri, ia memerlukan kondisi internasional yang lebih kondusif. Oleh sebab

itu, dalam kasus ini sesungguhnya China mengalami dilemma dalam melaksanakan kebijakan

luar negerinya karena baik Korea Utara dan dunia Internasional memberikan manfaat dan

keuntungan tersendiri bagi kepentigannya. Di satu sisi Korea Utara merupakan aliansi China

yang menjadi bukti ketahanan pemerintah sosialis di dunia, sedang di sisi lian lieralisasi

ekonomi di China memerlukan dukungan dunia internasional terutama karena proteksi yang

masih dilakukannya hingga saat ini yang sewaktu-waktu dapat saja dipermasalahkan oleh

pihak internasional karena sikapnya yang kuarang bersahabat.

Hal ini berbeda dengan Jepang. Dalam sejarahnya, Jepang yang telah mengalami

dampak dari senjata nuklir yang banyak berdampak pada stabilitas negaranyapun bereaksi

keras terhadap sikap agresif Korea Utara. Oleh sebab itu, penguatan aliansi dengan Amerika

Serikat digunakan untuk semakin memperkuat basis militernya sehingga Korea Utara pun

lebih dan turut memperhitungkan kerusakan yang akan terjadi bila terjadi perang nuklilr

karena jelas kekuatan Korea Utara tidak sebanding dengan kapailitas militer Jepang dan

Amerika Serikat. Bagi Jepang, responnya yang keras terhadap Korea Utara sudah menjadi

tindakan yang wajar karena merupakan bentuk survivability negara terhadap ancaman yang

datang dari luar.

Page 15: Makalah Geopolitik - Perbandingan Geopolitik China Dan Jepang Terkait Fenomena Peningkatan Ketegangan Nuklir Di Semenanjung Korea

DAFTAR PUSTAKA

Devetak et al (eds), An Introduction to International Relations, 2012, p. 492. Dr. Sangit Sarita Dwivedi, Alliances In International Relations Theory dalam International Journal of Social Science & Interdisciplinary Research Vol. 1 Issue 8, August 2012, ISSN 2277 3630, diakses dari http://indianresearchjournals.com/pdf/IJSSIR/2012/August/20.pdf pada tanggal 25 April 2013 pukul 16.21 WIB.

Korean War Timeline, http://www.softschools.com/timelines/korean_war_timeline/36/, (26 April 2013, 23.14 WIB) Timothy Beardson, China Support for North Korea is Rational, http://www.ft.com/cms/s/0/954c33f6-ac0e-11e2-9e7f-00144feabdc0.html#axzz2Rp6o63H8, (29 April 2013, 20.04 WIB) Celia Hatton, Is China ready to abandon North Korea?, http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-china-22062589, (27 April 2013, 00.07 WIB) http://www.cfr.org/china/china-north-korea-relationship/p11097, (27 April 2013, 12.27 WIB) Shannon Van Sant, China Urged to Pressure North Korea to Stop Threats, http://www.voanews.com/content/china-urged-to-pressure-north-korea/1638503.html, (29 April 2013, 20.24 WIB)Weixing Hu, “China’s Security Strategy in A Changing World”, Pasific Focus, VIII/1(Spring, 1993). Hlm.118 The China-North Korea Realitonship. http://www.cfr.org/China/China-north-korea-relationship/p11097#p3 , (29 April 2013)Harold C. Hinton, “China as An Asian Power”Chinese Foreign Policy Theory and Practice, (New York: Oxford University Press Inc, 1994), hlm.348.Bonnie S Glaser, “China’s Security Perceptions: Interest and Ambitions”, Asian Survey, 33/3, 1993, hlm. 42. Denny Roy, North Korea's Relations with Japan: The Legacy of War dalam Asian Survey, Vol. 28, No. 12 (Dec., 1988), pp. 1280-1293 diakses dari http://www.jstor.org/stable/2644746, pada tanggal 27/04/2013 pukul 15:25 WIB. E. A. Wayne, "U.S. and Japan Denounce North Korea on Terror," Christian Science Monitor, January 27, 1988, p. 5. Korea Central News Agency, FBIS, DRIAPA, February 8, 1987, pp. D1-2. Christopher W. Hughes, "Super-Sizing" the DPRK Threat: Japan's Evolving Military Posture and North Korea dalam Asian Survey, Vol. 49, No. 2 (March/April 2009), pp. 291-311 diakses dari http://www.jstor.org/stable/10.1525/as.2009.49.2.291, pada tanggal 27/04/2013 pukul 03:21 WIB. Ishiba Shigeru, “Kōshi Ishiba Mae Bōeichōkan” [Former JDA director general Ishiba as instructor], in Nihon no Bōei Nanatsu no Ronten [Seven debates on Japan’s defense], ed. Kuroi Buntarō (Tokyo: Takarajimasha, 2005), pp. 51–52. Richard J. Samuels, “ ‘New Fighting Power’: Japan’s Growing Maritime Capabilities and East Asian Security,” International Security 32:3 (Winter 2007/2008), pp. 84 –112. Andrew L. Oros, “Explaining Japan’s Tortured Course to Surveillance Satellites,” Re- view of Policy Research 24:1 (January 2007), pp. 32, 35–36. Japan readies missiles amid North Korea threats, diakses dari http://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=10876446, pada tanggal 26n April 2013 pukul 17.22 WIB.