of 28/28
Geopolitik dan Strategi Keamanan: Pola Baru Pertahanan dan Keamanan Irak Pasca Invasi Militer Amerika Serikat di Irak Kelompok 5 Ahmad Rizky Sadali – 0706283052 Ari Setiyanto - 0706283071 Pradipa P. Rasidi - 0806468612 Siska Aprilia P - 0806463441 Ditujukan kepada: M. Salabi, S. Sos sebagai Makalah Pengantar Presentasi dalam Mata Kuliah Geopolitik dan Strategi Keamanan

Makalah Geopolitik Irak

  • View
    126

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Makalah Geopolitik Irak

GEOPOLITIK DAN KEAMANAN:

Geopolitik dan Strategi Keamanan: Pola Baru Pertahanan dan Keamanan Irak Pasca Invasi Militer Amerika Serikat di Irak

Kelompok 5

Ahmad Rizky Sadali 0706283052Ari Setiyanto - 0706283071Pradipa P. Rasidi - 0806468612Siska Aprilia P - 0806463441

Ditujukan kepada: M. Salabi, S. Sos sebagai Makalah Pengantar Presentasi dalam Mata Kuliah Geopolitik dan Strategi Keamanan

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

Depok, April 2010BAB I

PENDAHULUANI.1. Latar Belakang

Pada tanggal 20 Maret 2003, Amerika Serikat dan Inggris melakukan penyerangan militer terhadap Irak untuk menjatuhkan rezim Saddam Hussein. Secara kronologis, penyerangan militer di Irak yang kedua ini, atau seringkali disebut sebagai The Iraq War, The Second Gulf War atau The Occupation of Iraq, berada pada serangkaian peristiwa 9/11 di New York dan Washington, penyerangan terhadap rezim Taliban di Afghanistan, dan mulainya perang global atas terrorisme (global war on terror). Berdasarkan pernyataan dari George Bush sendiri, dan kemudian Tony Blair, Perdana Mentri Inggris, invasi ke Irak bertujuan untuk melucuti senjata pemusnah massal, mengakhiri dukungan Saddam Hussein atas terorisme, dan untuk membebaskan warga Irak. Meskipun pada kenyataannya hanya ada sedikit bukti dari adanya dukungan Saddam dengan Al-Qaeda, sementara menurut dokumen CIA tidak ditemukan adanya senjata pemusnah massal. Di antara yang diketahui, Saddam adalah seorang Baath, yang mendukung pan-Arabisme, sekularisme, dan sosialisme. Hal ini bertentangan dengan pergerakan Islam militan Osama bin Laden. Penyerangan atas Irak selanjutnya berlanjut dengan penempatan tentara A.S di Irak dan penangkapan Presiden Saddam Hussein (13 Desember tahun 2003), yang pada akhirnya diadili dalam pengadilan di Irak dan dieksekusi mati oleh pemerintahan yang baru (30 Desember tahun 2006). Meskipun Saddam Hussein telah ditangkap, namun Amerika Serikat tetap menempatkan tentaranya di Irak. Alasan pemerintahan A.S atas okupasi adalah untuk menjaga ketertiban selama terjadi vakum dalam pemerintahan, sekaligus mengawasi proses pembangunan yang dilakukan di Iraq. Memang, setelah jatuhnya rezim Saddam Hussein (sekitar tahun 2004), mulai terjadi anarki akibat adanya vakum dari pemerintahan yang otoriter yang tiba-tiba jatuh dari kekuasaan. Tentara AS sendiri mengalami kesulitan untuk mengatur situasi yang menjadi semakin kacau akibat penyerangan itu sendiri, sehingga pada akhirnya tercipta pemberontakan-pemberontakan akibat adanya kekecewaan. Kekecewaan ini contohnya adalah dari kalangan Sunni Arab, yang melihat bahwa dijatuhkannya pemerintahan Baath dan cara dipilihnya pemerintahan baru Iraq (Governing Council) adalah diskriminasi terhadap komunitas mereka. Selain itu, beberapa faksi lain juga merasa curiga terhadap niat jangka panjang dari pihak A.S di Irak.

Terdapat banyak kritik terhadap perang di Irak, baik secara internasional maupun pihak dari dalam negeri A.S. sendiri yang pada akhirnya menimbulkan berbagai asumsi tentang tujuan geopolitik A.S yang sebenarnya. Kritik yang sering dikemukakan antara lain adalah banyaknya korban jiwa, baik dari pihak A.S sendiri maupun masyarakat sipil di Irak dan ketidakstabilan di Timur Tengah karena penempatan tentara A.S dan kebijakan publik yang dibuat di Irak menimbulkan friksi antara sekte-sekte yang ada. Diakibatkan karena kerugian-kerugian ini, mulai banyak bermunculan asumsi seperti bahwa adanya imperialisme dari pihak Amerika dan Inggris, dimana hal ini memang didukung oleh fakta bahwa memang ada hal yang sedemikian pada masa Perang Dunia I, II dan Perang Dingin. Hal yang sering dikemukakan adalah bahwa A.S. mengincar minyak di Irak dan di kawasan Teluk Persia khususnya. Berbagai asumsi ini perlu dilihat secara lebih lanjut untuk memahami konteks geopolitik penyerangan A.S di Irak. Selain itu pendudukan tentara A.S di Irak harus dilihat dampaknya secara empiris untuk mengetahui bagaimana geopolitik di Irak sebaiknya ditangani.I.2. Rumusan Permasalahan

Melihat dari latar belakang yang telah dijabarkan sebelumnya, dalam makalah ini kemudian timbul dua pokok permasalahan yang ingin diangkat:

1. Secara geopolitik, mengapa terjadi invasi dan penempatan pasukan Amerika Serikat beserta koalisinya di Irak?

2. Bagaimana invasi ke Irak membentuk pola baru dalam pertahanan dan keamanan Irak, terkait dengan persoalan gerakan insurgensi Irak?

I.3. Kerangka Konseptual

Dalam membahas pergerakan awal Amerika Serikat dan koalisinya dalam invasi Irak, serta pembentukan pola baru isu pertahanan dan kemanan Irak pasca-invasi militer tahun 2003, diperlukan beberapa teori yang mampu menjelaskan persoalan tersebut.I.3.1. Pendekatan RealismSalah satu pendekatan geopolitik dasar yang dapat digunakan untuk melihat masalah dalam makalah inidan juga dalam melihat perpolitikan duniaadalah realism, di antara dua pendekatan lainnya yaitu liberal institutionalism dan globalization. Pendekatan realism telah banyak mempengaruhi pemikiran geopolitik tradisional (traditional geopolitics), sedangkan pendekatan globalization banyak mempengaruhi pemikiran geopolitik kritis (critical geopolitics).Pendekatan ini, yang juga sering disebut sebagai model Westphalian, adalah pendekatan yang paling sering digunakan dalam literatur hubungan internasional dan geopolitik. Realism berasumsi bahwa dunia pada dasarnya tidak menyenangkan dan diisi oleh orang-orang yang mempedulikan dirinya sendiri. Maka orang-orang hanya akan bergerak untuk memperbaiki dirinya masing-masing, dan bukan kehidupan secara kolektif. Asumsi yang mementingkan diri sendiri ini dipratekkan terhadap negara (nation-state), dimana negara dipandang sebagai kekuatan politik yang paling utama di dunia. Analisis dari pendekatan realism melihat bahwa pada akhirnya negara akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai apa yang diinginkannya.

I.3.2. Popular Geopolitics (Geopolitik Populer)

Konsep geopolitik populer melihat kaitan antara geopolitik dengan media massa, baik dari reportase di televisi dan koran-koran maupun dari hiburan dan budaya populer seperti film. Setiap orang memiliki media signature-nya masing-masing, yaitu persepsi yang dibentuk dari akses dan interaksi dengan koran, radio, televisi, dan internet. Sejak abad ke-20 distribusi informasi menjadi hal yang semakin wajar dan meluas, berbagai peristiwa kemudian dilihat melalui bingkai yang dihadirkan oleh media.

Geopolitik populer melihat bagaimana persepsi setiap orang dibentuk mengenai peristiwa-peristiwa yang diberikan melalui bingkai dari media. Meminjam istilah dari Edward Said dalam bukunya Orientalism, geopolitik populer mengkaji pembentukan suatu imagined geographies (geografi yang dibayangkan) akan peristiwa; yakni bagaimana suatu peristiwa yang sama dapat dipandang secara berbeda. Pada kasus pengeboman Lebanon oleh Israel, misalnya, seseorang bisa memandang hal itu sebagai suatu justifikasi yang wajar karena framing dari media yang ia tahu menunjukkan bahwa insurgensi Lebanon yang mulai menyerang lebih dulu. Sebagai suatu tindakan terorisme, sikap Israel untuk merespon serangan insurgensi Lebanon dengan serangan balik dianggap sebagai hal yang wajar. Namun seorang yang laindari framing yang berbedadapat melihat tindakan itu tidak adil karena kerusakan besar yang dihasilkan institusi militer Israel pada populasi sipil.

I.3.3. Perencanaan Strategis Model SWOT

Meminjam formulasi bijak dari Sun Tzu, bila mengetahui lawanmu dan dirimu sendiri, kau tidak akan kalah dalam seratus pertempuran, perencanaan strategi yang baik tidak bisa melepaskan diri dari pengukuran faktor kelebihan dna kekurangan dari pihak-pihak yang bertempur. Menurut model SWOT, ada dua bidang yang melibatkan perencanaan strategi yang baik: 1) pembuatan gambaran jelas mengenai arah yang dituju dan apa yang menjadi tujuan adanya organisasi; 2) menambatkan organisasi pada dasar realitas lingkungan kerja. Strategi harus merinci tujuan kunci untuk mengarahkan indikator-indikator yang dapat dinilai.

Model SWOT mempertimbangkan perencanaan strategis berdasarkan empat hal: strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunities (peluang), dan threat (ancaman).BAB II

ISIII.1. PembahasanII.1.1. Kronologi PenyeranganPerang ini dimulai ketika Amerika Serikat bersama koalisinya, Inggris, Australia, dan Polandia, menyerang Baghdad pada 20 Maret 2003. Justifikasi penyerangan ini adalah klaim akan adanya senjata pemusnah massal, adanya hubungan rezim Saddam dengan terorisme (Al-Qaeda), dan pelanggaran rezim Saddam atas hak-hak asasi manusia. Latar penyerangan ini barangkali masih bisa dilacak dari Perang Teluk Pertamayang sesungguhnya tidak pernah benar-benar berakhir karena tidak adanya perjanjian atau gencatan senjata. Pada Perang Teluk tahun 1990-1991 yang dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait, Irak berada dalam pihaknya sendiri sedangkan Amerika Serikat bekerjasama dengan koalisi beberapa negara seperti Inggris, Kuwait, Perancis, dan Arab Saudi dalam perebutan ladang minyak yang berada dalam kawasan Kuwait. Hasil dari Perang Teluk pertama ini membuat Irak menghancurkan beberapa senjata yang ia pakai selama perang, seperti rudal balistik Scud. Irak juga diperingati untuk menghancurkan senjata pemusnah massal yang ia miliki, walaupun tidak benar-benar dilakukan oleh rezim Saddam. Pihak PBB juga menggelar No Fly Zones di Irak Utara dan Selatan untuk dijadikan sebagai perlindungan terhadap kelompok minoritas Irak yang merupakan oposisi dari pemerintahan Saddam Hussein. Namun, pasca-perang, masih terdapat gempuran militer dari kedua belah pihak. Baik pihak koalisi maupun Irak menyerang satu sama-lain; Irak melakukan serangan udara pada koalisi sementara koalisi membombardir instalasi pertahanan dan radar Irak. Pada tahun 1998, pengawas senjata dari PPB yang ditugaskan untuk mengawasi persenjataan Irak pasca-Perang Teluk, akhirnya meninggalkan Irak. Persistensi Irak yang menahan pihak PBB untuk melakukan pengecekan pada persenjataan militernya memaksa Amerika Serikat dan Inggris untuk menekan Irak lebih keras, dan akhirnya Amerika Serikat meluncurkan operasi yang disebut dengan operasi Desert Fox. Operasi ini bertujuan untuk melemahkan persenjataan Irak dengan melakukan pengeboman pada fasilitas-fasilitas yang dicurigai sebagai tempat penyimpanan atau produksi senjata pemusnah massal. Pada awal 2003, pemerintah Amerika Serikat dan Inggris mengklaim bahea Irak tidak dapat diajak bekerja sama dalam pemeriksaan senjata dari pihak PBB. Sehingga pada Senin, 17 Maret 2003, Presiden Bush mengeluarkan ultimatum bagi Saddam Hussein dan putra-putranya untuk menyerahkan diri dalam waktu 48 jam, bila tidak maka Amerika mengancam untuk melakukan tindakan secara militer. Menghadapi ultimatum itu Saddam menolak menyerahkan diri, sehingga menyebabkan Perang Teluk II dimulai.II.1.2. Uraian Singkat

Amerika Serikat kembali bertempur dengan Irak. Pada awal-awal perang, pertempuran banyak diwarnai dengan tembakan darat dan udara. Koalisi Amerika Serikat pada awal perang bertujuan utama untuk melucuti senjata Irak dan menggulingkan kekuasaan Saddam Hussein serta kelompok partai Baath-nya. Kekuatan militer Irak dilengkapi dengan sayap paramiliter pribadi Saddam, Fedayeen Saddam, dan Al-Quds. Sementara, di sisi lain, kelompok militan Islam Ansar Al-Islam (pendukung Islam) dan Komala Islami Kurdistan (Islamic Society of Kurdistan) justru bekerjasama dengan kelompok koalisi Amerika Serikat. Tanggal 23 Maret 2003, pasukan koalisi Amerika Serikat berhasil menguasai kawasan Irak barat, sedangkan pada saat yang sama pasukan Irak berhasil menyergap Pemeliharaan Perusahaan 507 Angkatan Darat AS. Hingga kemudian tentara koalisi berhasil memasuki daerah pusat kota Baghdad, sementara itu Irak juga semakin merangsek masuk ke Kuwait dan mengirimkan rudal dan membuat kerusakan di Kuwait pada tanggal 29 Maret di tahun yang sama. Pada hari yang sama pemboman bunuh diri pertama kali terhadap pasukan koalisi terjadi, menewaskan empat tentara Amerika di Najaf.

Presiden Bush mendeklarasikan berakhirnya invasi operasional ke Irak tanggal 1 Mei 2003, tapi penyerangan-penyerangan antara Irak dan pasukan koalisi terus berlanjut. Meskipun tanggal 23 Mei 2003 institusi militer dan Kementrian Pertahanan Irak dibubarkan untuk kemudian dibangun kembali oleh pasukan koalisi, bukan berarti Irak sudah memasuki masa damai; justru saat itu gerakan-gerakan militer ireguler dari pasukan insurgensi mencuat. Irak hingga kini belum benar-benar mencapai titik aman, meskipun pada tanggal 13 Desember 2004 Saddam Hussein berhasil ditangkap.

II.2. Analisa Kasus

II.2.1. Mengapa Tentara Amerika Serikat Menduduki Irak?

Alasan resmi yang diutarakan oleh George Bush sebagai landasan untuk menginvasi Irak adalah atas dasar senjata pemusnah massal, adanya keterkaitan Saddam Hussein dengan jaringan terorisme, dan alasan demokratisasi. Namun orang-orang kemudian memberikan jawaban-jawaban alternatif penyebab sesungguhnya mengapa Amerika Serikat ingin menginvasi Irak. Beberapa di antara yang populer adalah alasan minyak dan imperialisme koalisi Amerika Serikat atas Irak. Namun sebelum berlanjut ke hal tersebut, ada baiknya melihat bagaimana invasi akhirnya tetap dilaksanakan walaupun menuai pro dan kontra.II.2.2. Popularitas Pasca Peristiwa 11 September

Peristiwa 11 September pada tahun 2001 sedikit-banyak menanam persepsi pada masyarakat awam mengenai isu yang diangkat betul oleh Amerika Serikat sebagai landasan invasi Irakmeskipun di kemudian hari tidak terbukti. Survei nasional Pew Research Center yang digelar di Amerika Serikat pada tahun 2003 tidak lama setelah invasi dilaksanakan, menunjukkan 72% suara menganggap keputusan untuk melakukan tindakan militer terhadap Irak sebagai keputusan yang tepat, sementara 22% lainnya menganggap itu tidak tepat. Meskipun pada tahap-tahap selanjutnya opini ini berubah drastis dengan hanya 47% suara yang menganggap invasi ini sebagai tindakan yang tepat pada tahun 2005, tapi kiranya polling ini menggambarkan bagaimana Amerika Serikat menerapkan geopolitik populer yang efektif untuk memengaruhi opini publik.

Penabrakan pesawat ke World Trade Center pada 11 September membentuk persepsi awam masyarakat Amerika Serikat atas komunitas Islam dan Timur Tengah sebagai wujud masyarakat yang tribal dan kejam, dengan perwujudannya melalui aksi-aksi teror yang dianggap diarahkan ke masyarakat Barat. Persepsi ini, meminjam istilah Edward Said, membentuk suatu imagined geographies atas komunitas Islam dan Timur Tengah sebagai wujud radikalisme agama yang mengancam kestabilan hak asasi manusia dan demokrasi. Geopolitik populer ini tidak hanya terbentuk melalui media massa, namun juga bisa melalui dunia hiburan seperti film; misalnya Collateral Damage (2002). Persepsi awam masyarakat yang terbentuk melalui media pasca-11 September itu kemudian menanam persepsi bagaimana pentingnya gerakan-gerakan terorisme ini menjadi lawan yang penting bagi Amerika Serikattidak hanya pemerintahan Bush, namun juga warga Amerika Serikat secara umum.

Pemerintahan Bush juga mempopulerkan berbagai istilah yang digunakan untuk merujuk pada hal-hal tertentu yang terkait dengan perihal ini; terutama yang paling gencar dipromosikan adalah jargon global war on terror. Selain jargon populer tersebut, dalam membentuk persepsi awam publik pada Irak, ada pula jargon seperti mother of all bombs, yang digunakan untuk merujuk pada kecurigaan akan adanya senjata pemusnah massal Saddam, coalition of the willing, yang merujuk pada negara-negara pendukung invasi Irak, dan regime change yang merupakan eufemisme untuk menjatuhkan pemerintahan Saddam.

II.2.3. Kepentingan Amerika Serikat

Carl von Clausewitz, ahli militer Prussia, pernah menulis, perang adalah suatu politik dengan cara lain. Dikobarkannya suatu perang, menurut Clausewitz, tidak lepas dari kepentingan politik yang ada di dalamnya. Perang dalam wujud ini tidaklah menjadi tujuan akhir, namun hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan politik yang lebih besar lagi. Bila ada perang, ada tujuan politik lain di dalamnya. Penyebab mengapa Amerika Serikatbeserta koalisinyamemutuskan untuk menginvasi Irak bisa dilihat dari beberapa aspek; dalam makalah ini akan disorot dari beberapa aspek militer dan geopolitiknya saja.

Salah satu argumen adalah invasi militer ke Irak merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kekuatan militer dan politik Amerika Serikat melalui penumbangan rezim Saddam Hussein. Mengaitkan hal ini dengan adanya anggapan hubungan rezim di Irak dengan jaringan terorisme Al-Qaida, juga dengan melihat persepsi populer mengenai terorisme serta komunitas Timur Tengah dan Islam, membuat argumen ini menjadi alasan yang kelihatan cukup valid. Amerika Serikat, untuk pertama kalinya sejak Perang Saudara tahun 1826, diserang oleh kekuatan dari luar ketika terjadi peristiwa 11 September. Pada Perang Dunia II sebelumnya memang terjadi pengeboman Pearl Harbor, tapiterlepas dari kerugian yang ditimbulkanefek serangan Pearl Harbor tidak secara simbolik signifikan, karena ia berada jauh dari pusat Amerika Serikat. Peristiwa 11 September, secara efektif mengurangi deterrence (daya tahan) Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki kekuatan pertahanan yang besar. Atas dasar mengembalikan deterrence yang ia miliki, Amerika Serikat harus menunjukannya dengan cara lain. Penyerangan terhadap Afghanistan memang sudah dimulai pasca-11 September, namun penyerangan negara yang diduga sebagai tempat persembunyian Osama bin Laden tersebut kurang populer. Karena itu, Amerika Serikat membutuhkan Irak sebagai tempat manuvernya.

Sesungguhnya secara militer rezim Saddam saat itu tidak bisa dibilang kuat. Terbukti pada saat invasi, kekuatan militer Saddam terpecah karena kurangnya perlengkapan dan kemampuan militer Irak. Tapi Saddam tetap memiliki potensi untuk membuka peluang ancaman bagi Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan sosok Saddam sebagai wujud yang cukup populer dalam resistensi terhadap kekuatan Barat, di antaranya Amerika Serikat. Pan-Arabisme yang digalang Partai Baath Saddam, serta sikapnya yang radikal dianggap dapat menggerakkan masyarakat Arab. Sesaat sebelum invasi dimulai, misalnya, Saddam menggalang 600 orang imam untuk berkumpul di Kirkuk, menyuarakan semangat untuk melawan Amerika Serikat. Penggalangan itu cukup berhasil membakar sentimen terhadap Amerika Serikat. Karena itu, alasan lain mengapa Amerika Serikat harus berada di Irak, adalah karena potensi radikalitas Saddam yang bisa membawa perlawanan terhadap Amerika Serikat.

Seberapa penting kemudian faktor minyak menjadi pertimbangan invasi ini? Hallensberg berargumen, minyak memang salah satu faktor penentu, namun bukan satu-satunya faktor utama. Sementara Bush sendiri pada tahun 2005 mengklaim, bila Zarqawi dan bin Laden mengendalikan Irak, mereka akan membuat tempat pelatihan baru untuk serangan teroris di masa depan. Mereka akan menguasai ladang minyak untuk membiayai kebutuhan mereka. Pada kaitannya dengan minyak, alasan demokratisasi yang dihembuskan oleh Bush barangkali masih ada benarnya, meskipun tidak melulu hanya karena nilai luhur demokrasi. Diasumsikan, sebuah pemerintahan yang demokratis akan lebih stabil dalam mengatur arus kendali minyak dibandingkan pemerintahan otoriter yang tidak stabil seperti Saddam. Secara geopolitik, keberadaan ladang minyak di Irak memang memiliki posisi penting karena peran strategis yang dimiliki oleh minyak dalam kemiliteran modernhampir seluruh mekanisme senjata, dari penembak artileri hingga kapal induk, membutuhkan minyak sebagai enerji.II.3. Pola Baru Pertahanan dan Keamanan Irak

Pasca-invasi, Perang Irak yang sesungguhnya baru dimulai. Secara garis besar, dapat ditarik garis yang memisahkan dua kekuatan berlawanan pada perang ini: pemerintah Irak dan gerakan-gerakan insurgensi. Dua kekuatan tersebut, baik pemerintah Irak maupun insurgensi, tidak tersusun atas landasan yang homogen.Di pihak pemerintah Irak, terdapat Pasukan Keamanan Irakinstitusi militer yang dibentuk setelah kemiliteran Irak sebelumnya dibubarkan oleh koalisi Amerika Serikat, pasukan koalisi Amerika Serikat, dan private military contractors (kontraktor militer swasta) yang merupakan perusahan-perusahaan penyedia jasa pertahanan dan keamanan yang disewa oleh pemerintah Irak. Sementara itu, di pihak insurgensi juga terdapat berbagai kelompok yang memiliki motivasi berbeda-beda. Terdapat nasionalis Irak yang sebagian merupakan bekas anggota partai Baath Saddam, kelompok Sunni Salafiyah, kelompok militan Syiah, dan kelompok-kelompok yang datang dari luar Irak seperti Al-Qaeda. Evan Kohlman, penemu situs GlobalTerrorAlert.com dan konsultan insurgensi Irak pada Kementrian Pertahanan Amerika Serikat, Kementerian Peradilan, FBI, dan CIA, beranggapan bahwa insurgensi di Irak pasca runtuhnya rezim Saddam disebabkan karena adanya pertarungan fundamentalisme, yaitu antara fundamentalisme Sunni, fundamentalisme Syiah, dan fundamentalisme A.S.

II.3.1. Kelompok-kelompok Insurgensi Irak

Karena tersusun atas kepentingan yang heterogen, kelompok-kelompok insurgensi Irak tidak bisa digeneralisasi sebagai satu kekuatan solid yang sama; walaupun sebagian besar dari mereka memang sama-sama menentang keberadaan pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak. Kohlman sendiri membagi kelompok Sunni menjadi tiga: nasionalis Sunni, Sunni moderat, dan Sunni Salafiyah yang radikal. Namun secara garis besar, dapat ditarik empat golongan kelompok insurgensi Irak.

Golongan pertama merupakan para nasionalis Irak. Sebagian dari mereka adalah bekas anggota partai Baath yang sudah dibubarkan, dan sebagian lainnya merupakan berbagai macam kelompok Sunni dan Syiah yang tidak melandasi perlawanan mereka atas dasar agama seperti kelompok Salafiyah atau para milisi Syiah, namun melandasi perlawanan mereka atas dasar nasionalisme. Golongan pertama ini merupakan golongan yang memicu insurgensi tahap awal selepas jatuhnya rezim Saddam. Kelompok nasionalis Sunni yang diklasifikasi oleh Kohlman merupakan bagian dari golongan ini.

Golongan kedua adalah para Sunni Salafiyah. Golongan ini merupakan kelompok Sunni radikal yang, meminjam bahasa Kohlman, ingin membangun rezim kekhalifahan Islam yang ideal. Para Sunni Salafiyah menekankan perjuangan mereka dengan landasan agama Islam, dan tercatat tidak jarang berseteru dengan kelompok Syiah, dan bahkan kelompok non-muslim lain yang bukan termasuk dalam gerakan insurgensi. Kelompok Sunni Salafiyah klasifikasi Kohlman merupakan bagian dari golongan ini.

Golongan ketiga adalah para milisi Syiah. Menurut Kohlman, kebanyakan serangan milisi Syiah tidak ditujukan kepada koalisi A.S., namun kepada kelompok Sunni. Untuk menganalisis hal ini, perlu diketahu dua kekuatan besar milisi Syiah yang ada di Irak. Pertama, Organisasi Badar, adalah kelompok milisi yang melawan Saddam Hussein sebelum invasi A.S. ke Irak. Kelompok milisi ini, pasca-invasi, sebagian bergabung ke Pasukan Keamanan Irak, sementara sebagian lainnya lagi tetap bergerak sendiri untuk melawan gerakan-gerakan insurgensi Sunni. Kelompok ini, meskipun tampak seperti mendukung pasukan koalisi dan pemerintahan Irak, sesungguhnya berdiri sendiri. Kelompok milisi kedua adalah Tentara Mahdi bentukan Muqtada Al-Sadr yang berdomisili di selatan Irak. Kelompok ini menentang pemerintahan Irak pada tahun 2004 ketika pemerintah Irak melarang koran bentukan Al-Sadr, al-Hawza. Tentara Mahdi juga membentuk pemerintahan bayangan di kawasan selatan Irak, membuat seperangkat aturan keagamaannya sendiri bagi warga Irak di daerah Selatan. Tidak seperti saingannya, Organisasi Badar, Tentara Mahdi tidak jarang berkonflik dengan pasukan koalisi A.S. dan pemerintah Irak.

Golongan keempat adalah kelompok-kelompok yang datang dari luar Irak, seperti Al-Qaeda. Sebagian besar perlawanan yang dating dari luar Irak ini tercatat berasal dari Arab.

Kelompok-kelompok luar ini, oleh Kohlman, dikategorikan sebagai teroris. Dari berbagai macam taktik serangan yang digunakan oleh kelompok insurgensi, golongan ini merupakan yang paling sering menggunakan bom bunuh diri.

Evan Kohlman menyebutkan sejak invasi A.S. ke Irak, jumlah anggota di Al-Qaeda yang berada di Irak menjadi berkembang. Sebelum penyerangan, anggota Al-Qaeda yang murni hanya merupakan 10 persen dari keseluruhan kelompok insurgensi. Sekarang jumlah anggota Al-Qaeda telah bertambah menjadi 50 persen. Kohlman menyatakan bahwa Al-Qaeda pada dasarnya berbeda dengan kelompok insurgensi (Sunni), yang menurutnya bermimpi akan Irak yang damai dimana Syiah dan Sunni dapat hidup secara damai. Al-Qaeda lebih merupakan kelompok terroris; membunuh masyakat sipil yang tidak terlibat tanpa alasan yang jelas.

Alasan mengapa Al-Qaeda justru berkembang setelah penyerangan oleh A.S dan runtuhnya rezim A.S adalah karena orang-orang Irak yang termasuk dalam kelompok nasionalis merasa kecewa melihat Irak menjadi semakin pecah. Al-Qaeda menawarkan semacam mimpi, yaitu tentang masa depan Irak. Pernyataan Kohlman adalah sebagai berikut: There wouldn't be an al-Qaida in Iraq if the U.S. wasn't there. The story of al-Qaida in Iraq begins in 2003. We handed al-Qaida exactly what it was looking for, a real war in the Middle East where it could lead the way. Al-Qaida is like a virus. It goes for weak victims and it uses conflicts to breed. Iraq gives al-Qaida a training ground, a place to put recruits in combat.

Di samping itu, terdapat pula tekanan dari Al-Qaeda untuk bergabung, dimana jika menolak akan menjadi target. Kohlman menjelaskan bahwa bagi orang biasa di Irak terdapat pandangan bahwa apabila berpihak dengan A.S atau pemerintah Irak, maka akan menjadi target bagi Al-Qaeda, apabila memihak yang lain akan menjadi target bagi Syiah. Al-Qaeda menjadi semakin kuat setelah terjadi peristiwa pemboman Mesjid Askariyah di Samarra, di mana mereka menyatakan perang atas Syiah dan keinginan untuk membangun negara Islam di Irak. Melihat hal ini, Kohlman pada akhirnya berkesimpulan bahwa ide demokrasi yang ditawarkan oleh A.S tidak ditanggapi secara baik di Irak.

II.3.2. Peta Kekuatan Insurgensi Irak

Gambar 2.3.2.1. Persebaran Etnis dan Agama di Irak

Kelompok milisi Syiah, terutama Tentara Mahdi, berada di daerah Selatan Irak, memiliki peran tersendiri di kota-kota seperti Najaf dan Basra. Sementara itu, kelompok Syiah yang lebih memihak pemerintah Irak tersebar lebih ke tengah. Di daerah Barat yang dekat ke tengah, serangan-serangan insurgensi umumnya dipromotori oleh baik nasionalis Sunni, Islamis Sunni, dan Al-Qaeda. Sementara itu, gerakan-gerakan para Salafiyah umumnya berada di bagian utara Irak.

Namun di antara semua itu, oposisi terbesar berada pada daerah Segitiga Sunni (diberi warna merah pada peta). Pada masa pemerintahan Saddam, daerah Segitiga Sunni merupakan pendukung kuat rezim Saddam; banyak pegawai-pegawai pemerintah dan pemimpin militer yang berasal dari daerah tersebut. Saddam sendiri lahir di dekat Tikrit, yang berada di bagian selatan Segitiga Sunni. Pasca-invasi A.S. ke Irak, daerah Segitiga Sunni menjadi target oposisi terbesar; diduga banyak dimotori gerakan Sunni nasionalis, Sunni Salafiyah, dan Al-Qaeda.II.4. Solusi atas Permasalahan di Irak

Syarat untuk menghentikan gerakan insurgensi di Irak menurut Kohler adalah bahwa A.S harus dapat memberi alasan yang tepat bagi masyarakat Irak untuk tidak ikut ke dalam Al-Qaeda. Satu-satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menghukum orang-orang yang menyakiti mereka. Saat ini, Syiah masih mengontrol aparat negara seperti kepolisian (Interior Ministry); A.S harus dapat mereformasi kekuatan kepolisian, dan membawa orang-orang yang telah banyak melakukan kesalahan pada rezim Saddam ke pengadilan. Kohlman menilai bahwa Bush tidak mengerti persoalan di Irak. Ia menilai bahwa tidak ada rencana jangka panjang dan bahwa sebenarnya tidak ada bukti yang kuat antara Saddam dan Al-Qaeda. Disebabkan karena banyaknya konflik di Irak sejak masa penyerangan A.S, Kohlman kemudian mengucapkan hal sebagai berikut: I know it's easy to say, but the best solution is not to have invaded at all.

Meskipun Kohlman mengucapkan bahwa A.S sebaiknya tidak menginvasi Irak sejak awal, namun ia menyadari kondisi Irak pada tahun 2007 tidak memungkinkan A.S untuk keluar. Apabila A.S lepas tangan, maka yang terjadi adalah akan terjadi perang perebutan Baghdad dan apabila Baghdad telah jatuh, maka akan terjadi perang di seluruh Irak. Hal ini pada akhirnya akan menunjukkan kegagalan A.S di mata dunia internasional. Maka geopolitik yang diawali oleh keamanan nasional atau war on terrorism telah mengancam kepentingan nasional A.S, dimana apabila A.S gagal menyelesaikan kasus insurgensi di Irak, maka A.S akan kehilangan muka di dunia internasional.

BAB IIIKESIMPULANTerjadi invasi dan penempatan pasukan Amerika Serikat beserta koalisinya di Irak terutama terdapat dua penyebab besar. Pertama, penabrakan pesawat ke World Trade Center pada 11 September membentuk persepsi awam masyarakat Amerika Serikat atas komunitas Islam dan Timur Tengah sebagai wujud masyarakat yang tribal dan kejam, dengan perwujudannya melalui aksi-aksi teror yang dianggap diarahkan ke masyarakat Barat. Kedua, superioritas Amerika Serikat sebagai polisi dunia yang terkait dengan adanya anggapan hubungan rezim di Irak dengan jaringan terorisme Al-Qaeda, juga dengan melihat persepsi populer mengenai terorisme serta komunitas Timur Tengah dan Islam.

Pola kemanan dan pertahanan Irak berubah dengan adanya insurgensi dari pihak-pihak milisi sebagai perlawanan atas invasi Amerika Serikat kepada Irak. Pola pertahanan bukan lagi seperti keadaan perang pada umumnya yaitu dengan militer suatu negara melawan negara yang lain, namun adanya kekuatan milisi yang bertujuan untuk mempertahankan negara mereka dari pihak asing.DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdullah, T.A.J. (2006). Dictatorship, Imperialism & Chaos: Iraq since 1989. London: Zed BooksAngel M. Rabasa, dkk. (2004). The Muslim World After 9/11. Santa Monica: RAND Corporation, hal. 125.

Dodds, Klaus. (1999). Geopolitics in a Changing World. Prentice Hall___________, (2007). Geopolitics: A Very Short Introduction. New York: Oxford University PressHallensberg, Jan dan Hakan Karlsson. (2005). Iraq War: European Perspective on Politics, Strategy, and Operations. London: RoutledgeSchroeder, Peter. (2003). Strategi Politik, terj. Denise Joyce Matindas. Jakarta: Friedrich-Naumann-StiftungThomas G. Mahnken dan Thomas A. Keaney (2007). War in Iraq: Planning and Execution. New York: Routledge, hal. 24.InternetBushs Implicit Answer to Cindy Sheehans Question (9 April 2005). Media Beat. http://www.fair.org/index.php?page=2661, diakses pada 13 April 2010CIAs final report: No WMD found in Iraq - Conflict in Iraq (25 April 2005). SNBC.com. http://www.msnbc.msn.com/id/7634313/, diakses pada 12 April 2010

Defend America. (2003). U.S. Defense Secretary Donald H. Rumsfeld. New York: Pentagon. http://www.defendamerica.mil/iraq/iraqifreedom.html, diakses 11 April Pukul 23.00 WIBFRONTLINE: the insurgency: map. http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/insurgency/map/, diakses pada 14 April 2010

Encyclopdia Britannica. (2010). Iraq War. http://www.britannica.com/EBchecked/topic/870845/Iraq-War, diakses 11 AprilIraqi Insurgency Groups. GlobalSecurity.org. http://www.globalsecurity.org/military/ops/iraq_insurgency.htm, diakses pada 14 April 2010.Pew Research Center (2008). Public Attitudes Toward the War in Iraq: 2003-2008. http://pewresearch.org/pubs/770/iraq-war-five-year-anniversary, diakses pada 12 April 2010Roger A. Lee. (2010). The History Guy: The Third Persian Gulf War (The Iraq War). http://www.historyguy.com/GulfWar.html, diakses 11 April The Iraq insurgency for beginners (2 Maret 2007). Salon.com. http://www.salon.com/news/feature/2007/03/02/insurgency, diakses pada 14 April 2010The White House. (2003). President Discusses Beginning of Operation Iraqi Freedom. Washington DC: The White House. http://georgewbush-whitehouse.archives.gov/news/releases/2003/03/20030322.html, diakses pada 12 April 2010. The White House. (2003). President Discusses Beginning of Operation Iraqi Freedom. Washington DC: The White House. http://georgewbush-whitehouse.archives.gov/news/releases/2003/03/20030322.html, diakses pada 12 April 2010.

Abdullah, T.A.J. (2006). Dictatorship, Imperialism & Chaos: Iraq since 1989. London: Zed Books, hal. viii

CIAs final report: No WMD found in Iraq - Conflict in Iraq (25 April 2005). MSNBC.com. http://www.msnbc.msn.com/id/7634313/, diakses pada 12 April 2010.

Abdullah T.A.J., op. cit., hal. 30

Ibid.

Ibid.

Klaus Dodds. (1999). Geopolitics in a Changing World. Prentice Hall, hal. 31

Klaus Dodds. (2007). Geopolitics: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press, hal. 147.

Ibid., hal. 149.

Peter Schroeder (2003). Strategi Politik, terj. Denise Joyce Matindas. Jakarta: Friedrich-Naumann-Stiftung, hal. 20.

Roger A. Lee. (2010). The History Guy: The Third Persian Gulf War (The Iraq War). http://www.historyguy.com/GulfWar.html, diakses pada tanggal 11 April 2010.

Ibid.

Ibid.

Pew Research Center (2008). Public Attitudes Toward the War in Iraq: 2003-2008. http://pewresearch.org/pubs/770/iraq-war-five-year-anniversary, diakses pada 12 April 2010.

Klaus Dodds, A Very Short Introduction, op. cit., hal. 145.

Jan Hallensberg dan Hakan Karlsson (2005). Iraq War: European Perspective on Politics, Strategy, and Operations. London: Routledge, hal. 18.

Thomas G. Mahnken dan Thomas A. Keaney (2007). War in Iraq: Planning and Execution. New York: Routledge, hal. 24.

Angel M. Rabasa, dkk. (2004). The Muslim World After 9/11. Santa Monica: RAND Corporation, hal. 125.

Hallensberg dan Karlsson, op.cit., hal. 20.

Bushs Implicit Answer to Cindy Sheehans Question (9 April 2005). Media Beat. http://www.fair.org/index.php?page=2661, diakses pada 13 April 2010.

Hallensberg dan Karlsson, op. cit., hal. 25.

Iraqi Insurgency Groups. GlobalSecurity.org. HYPERLINK "http://www.globalsecurity.org/military/ops/iraq_insurgency.htm" http://www.globalsecurity.org/military/ops/iraq_insurgency.htm, diakses pada 14 April 2010.

The Iraq insurgency for beginners (2 Maret 2007). Salon.com. HYPERLINK "http://www.salon.com/news/feature/2007/03/02/insurgency" http://www.salon.com/news/feature/2007/03/02/insurgency, diakses pada 14 April 2010

Mahnken dan Keaney, op. cit., hal. 151.

Ibid., hal. 153.

Ibid.

Iraq insurgency for beginners, op. cit.

Angel M. Rabasa, op. cit., hal. 129.

Ibid

FRONTLINE: the insurgency: map. HYPERLINK "http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/insurgency/map/" http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/insurgency/map/, diakses pada 14 April 2010.

Angel M. Rabasa, op. cit., hal. 131.

PAGE 1 | Halaman