of 26 /26
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan,manusia dan alam semesta.Sehingga untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat. Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian yaitu;epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang membahas tentang guna pengetahuan.Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan pembahansannya. Ketiga teori di atas sebenarnya sama-sama membahas tentang hakikat,hanya saja berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda pula.Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas tentang bagaimana 1

Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada

baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan,manusia dan alam semesta.Sehingga

untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-

pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang

lingkup filsafat.

Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau

bagian yaitu;epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita

memperoleh pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat

segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang

membahas tentang guna pengetahuan.Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah

penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan

pembahansannya.

Ketiga teori di atas sebenarnya sama-sama membahas tentang

hakikat,hanya saja berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda

pula.Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat

pengetahuan,bagaimana kita bisa tahu dan dapat membedakan dengan yang

lain.Ontologi membahas tentang apa objek yang kita kaji,bagaimana wujudnya yang

hakiki dan hubungannya dengan daya pikir.Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai

membahas tentang pengetahuan kita akan pengetahuan di atas,klasifikasi,tujuan dan

perkembangannya.

1

Page 2: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

B. Rumusan Masalah

Adapun Rumusan masalah yang muncul dalam makalah ini, yaitu:

1. Apa yang dimaksud Ontologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam Pendidikan

Islam?

2. Apa yang dimaksud dengan Epistemologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam

Pendidikan Islam?

3. Apa yang dimaksud Aksiologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam

Pendidikan Islam?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian ontologi dan Perspektifnya dalam pendidikan

Islam.

2. Untuk mengetahui pengertian Epistomologi dan Perspektifnya dalam

pendidikan Islam.

3. Untuk mengetahui pengertian Aksiologi dan Perspektifnya dalam pendidikan

Islam.

2

Page 3: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ontologi dan Perspektifnya dalam Pendidikan Islam

1. Pengertian Ontologi

Dari sudut etimologi, Ontology berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos yang

beararti ada, dan logos yang berarti pengetahuan, teori atau alasan. Dalam bahasa

Inggris, istilah tersebut diserap menjadi ontology dengan pengertian studi atau ilmu

mengenai yang ada atau berada. Dalam relevansinya dengan filsafat pendidikan

Islam, ontology dipahami sebagai kajian filosofis mengenai hakikat dan esensi

pendidikan Islam, yang dengan itu eksistensi pendidikan Islam dapat dipahami

dengan baik dan diposisikan secara proporsional.1

Ontologi meliputi apa hakikat ilmu itu,apa hakikat kebenaran,dan kenyataan

yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafati

tentang apa dan bagaimana yang ada itu. Paham monisme yang terpecah menjadi

idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, dan pluralisme dengan berbagai

nuansanya merupakan paham ontologik yang pada akhirnya akan menentukan

pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang

ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.2

Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan

meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan dari yang

ada?, apakah sifat dasar kenyataan, dan hal ada yang terakhir?, apakah cara-cara yang

berbeda dalam mana entitas dari kategori logis dapat dikatakan ada?. Secara

ontologis, ilmu membahas lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-

1Marjuni, Filsafat Pendidikan Islam ( Makassar: Alauddin University, 2013) h. 492Purwadi dan Djoko Dwiyanto, Filsafat Jawa “ Ajaran Hidup yang berdasarkan Nilai

Kebijakan Tradisional” (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2006), h. 5

3

Page 4: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaahan yang

berada dalam batas prapengalaman dan pascapengalaman diserahkan ilmu kepada

pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak

pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologi tertentu.

Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuwan yang bersifat empiris ini adalah

konsisten dengan asas epistemologi keilmuwan yang mensyaratkan adanya verifikasi

secara empiris dalam proses penemuan/penyusunan pernyataan yang bersifat benar

secara ilmiah. Penafsiran metafisik keilmuwan harus didasarkan kepada karakteristik

obyek ontologis sebagaimana adanya dengan deduksi-deduksi yang dapat

diverifikasikan secara fisik.3

2. Persfektif Ontologi dalam Pendidikan Islam

Ontologi pendidikan Islam membahas hakikat substansi dan pola organisasi

pendidikan Islam. Secara ontologis, Pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan

manusia sebagai makhluk berakal dan berfikir. Jika manusia bukan makluk berfikir,

tidak ada pendidikan. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan diri

manusia, dijadikan alat untuk mendidik.4

Kajian ontologi ini tidak dapat dipisahkan dengan Sang Pencipta. Allah telah

membekalkan beberapa potensi kepada kita untuk berfikir. Pertanyaan selanjutnya

apakah sebenarnya hakekat pendidikan Islam itu?

3 Kata kunci tentang pendidikan Islam yaitu :

1. Ta’lim, kata ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan

Islam. Mengacu pada pengetahuan, berupa pengenalan dan pemahaman

terhadap segenap nama-nama atau benda ciptaan Allah. Rasyid Ridha,

3 Ibid4 Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), H. 18.

4

Page 5: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

mengartikan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada

jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.5

2. Tarbiyah, kata ini berasal dari kata Rabb, mengandung arti memelihara,

membesarkan dan mendidik yang kedalamannya sudah termasuk makna

mengajar.6

3. Ta’dib, Syed Muhammad Naquib al-Attas mengungkapkan istilah yang

paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib, kata ini

berarti pengenalalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan

ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari

segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan.7

Dari ketiga kata kunci di atas, berbagai pakar telah merumuskan tentang

pendidikan Islam, sebagai berikut:

1. Ahmad. D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan

jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-

ukuran Islam.8

2. Saefuddin Anshari mengatakan pendidikan Islam adalah proses bimbingan

(pimpinan, tuntutan, susulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa

(pikiran, perasaan dan kemauan, intuisi, dsb).9

3. M. Yusuf al Qardawi mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan

manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan

keterampilannya.10

5 H. Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), h. 1246 ibid7 Ibid. h. 1268 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakata:Kencana, 2008) , h. 43.9 ibid10 ibid

5

Page 6: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

4. Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang

diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan

ajaran Islam.11

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah

suatu sistem yang dapat mengarahkan kehidupan peserta didik sesuai dengan ideologi

Islam.

Dengan demikian secara ontologis pemahaman terhadap pendidikan Islam

tidak dapat dipisahkan dengan Allah selaku Pencipta manusia. Karena pendidikan

Islam ditujukan pada terbentuknya kepribadian Muslim yang dapat memenuhi hakikat

penciptaannya, yakni menjadi Pengabdi Allah.

B. Pengertian Epistemologi dan Persfektifnya dalam Pendidikan Islam

1. Pengertian Epistomologi

Epistemologi juga disebut teori pengetahuan. Secara etimologi, istilah

epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos

yang artinya teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang

mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.12

Pembicaraan tentang epistomologi pada pokoknya berhubungan dengan upaya untuk

menjawab bagaimana karakteristik pengetahuan ilmiah, bagaimana metodologi

memperolehnya dan apa kriteria keabsahan dan kebenarannya, serta bagaimana

menguji setiap kebenaran yang diketahui manusia. Secara sederhana, epistomologi

dapat dipahami sebagai ilmutentang metode dalam menemukan dan mentransfer

pengetahuan yang merupakan salah satu bagian utama pendidikan.13

Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan, bagaimana kita mengetahui

benda-benda. Untuk lebih jelasnya, ada beberapa contoh pertanyaan yang

11 ibid12 Purwadi dan Djoko Dwiyanto, opcit. H. 713 Marjuni, opcit H. 54

6

Page 7: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

menggunakan kata “tahu” dan mengandung pengertian yang berbeda-beda, baik

sumbernya maupun validitasnya.14

a. Tentu saja saya tahu ia sakit, karena saya melihatnya.

b. Percayalah, saya tahu apa yang saya bicarakan.

c. Kami tahu mobilnya baru, karena baru kemarin kami menaikinya.

2. Persfektif Epistomologi dalam Pendidikan Islam

Epistemologi pendidikan Islam membahas seluk beluk dan sumber-sumber

pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah SWT, Yang Maha

Mengetahui Sesuatu. Hukum-hukum yang diciptakan Allahpun dapat dipahami

dengan berbagai metode dan pendekatan. Pendidikan Islam merujuk pada nilai-nilai

Al-Qur’an yang universal dan abadi. Serta didukung oleh hadist Nabi Muhammad

SAW.15

Ketiga kata kunci tentang Pendidikan Islam di atas disebutkan dalam Al-

Qur’an dan hadist berikut ini. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama

benda-benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malaikat, lalu

berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku jika kamu memang orang-orang yang benar”

(Al-Baqarah ayat: 31) . “Wahai Tuhanku kasihilah mereka berdua, sebagaimana

mereka berdua telah mendidik aku di masa kecil.”(Al-Isra’ ayat 24). Hadist Nabi

Muhammad SAW “Aku dididik oleh Tuhanku (addabani Rabbi), maka dia

memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan (fa ahsana ta’dibi).16

Selanjutnya objek material Filsafat Pendidikan Islam yaitu segala hal yang

berkaitan dengan usaha manusia untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang

berkembangnya kecerdasan dan kepribadian melalui pendidikan. Objek formal:

14 Anonim. Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi Pendidikan. http://anakpesisirlaut.blogspot.com/2012/11/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html.

15 Mey Khumaera. Filsafat Pendidikan Islam dari Segi Ontologis, Epitomologis, dan Aksiologi, http://meykhumaera.blogspot.com/2012/03/filsafat-pendidikan-islam-dari-segi.html

16 ibid

7

Page 8: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

Usaha yang rasional, mendasar, general, dan sistematis dalam mengembangkan

kecerdasan dan kepribadian melalui pendidikan.17

Untuk lebih jelasnya, objek materi ilmu pendidikan Islam yaitu anak didik.

Sedangkan objek formalnya ialah perbuatan mendidik yang membawa anak, ke arah

tujuan pendidikan Islam. Sehingga secara epistemologi, Kurikulum pendidikan Islam

harus merujuk pada Al-Qur’an dan hadist. Antara lain sebagai berikut:18

Larangan mempersekutukan Allah

Berbuat baik kepada orang tua

Memelihara, mendidik, dan membimbing anak sebagai tanggung jawab

terhadap amanat Allah.

Menjauhi perbuatan keji dalam bentuk sikap lahir dan batin

Menjaui permusuhan dan tindakan tercela

Menyantuni anak yatim

Tidak melakukan perbuatan diluar kemampuan

Berlaku jujur dan adil

Menepati janji dan menunaikan perintah Allah.

Berpegang teguh kepada ketentuan hukum Allah, dsb.

Sumber-sumber yang menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk yang

dapat menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya ada pada

surat Al-Alaq, 96: ayat 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang

menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan

Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran

kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”19

Manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan mengatur waktu (QS.

Al-Ashr, 103 :1-3, “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam

kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan

17 ibid18 ibid19 ibid

8

Page 9: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya

menetapi kesabaran.”20

Manusia mendapatkan bagian dari apa yang telah dikerjakannya, (QS an-

Najm, 53-39). “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang

telah diusahakannya”21

Manusia sebagai makhluk yang memiliki keterikatan dengan moral atau

sopan santun (QS. Al Ankabut 29:8). “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat)

kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk

mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,

maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu

Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”22

Dari sebagian ayat di atas, jelaslah bahwa sumber-sumber pendidikan Islam

berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup

manusia.

Gaya bahasa Alquran dan ungkapan yang terdapat dalam ayat-ayat Alquran

mengindikasikan bahwa Alquran mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan

dengan corak dan ragam yang berbeda sesuai waktu dan tempat. Keragaman metode

pendidikan Alquran yang dimaksudkan untuk memberikan solusi alternative terbaik

bila ditemukan kendala dalam pendidikan Islam khususnya aspek

metodologis.23Menurut M. Arifin, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan

berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar, menuju tujuan

pendidikan.24

Menurut al-Nahwali, dalam Alquran dan sunnah Nabi SW. dapat ditemukan

berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan

membangkitkan semangat. Metode tersebut mampu menggugat puluhan ribu kaum

20 ibid21 ibid22 ibid23 Marjuni, Op. Cit. H. 56

24 M. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan Pendekatan Indispliner (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), H. 197

9

Page 10: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

mukminin. Dan untuk membuka hati umat manusia agar dapat menerima petunjuk

ilahi, di samping mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dalam masa

panjang. Suatu kedudukan yang tidak pernah dirasakan oleh umat-umat lain di muka

bumi.25

C. Pengertian Aksiologi dan Persfektifnya dalam Pendidikan Islam

1. Pengertian Aksiologi

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai ditinjau

dari sudut pandang kefilsafatan. Dewasa ini terdapat banyak cabang pengetahuan

yang bersangkut dengan masalah-masalah nilai, seperti ekonomi, estetika, etika,

filsafat agama, dan epistomologi. Epistomologi berkaitan dengan masalah kebenaran.

Etika bersangkutan dengan masalah kebaikan (dalam arti kesusilaan), dan estetika

bersngkutan dengan masalah keindahan.26

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang

pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi meliputi nilai-

nilai, parameter bagi apa yang disebut sebagai kebenaran atau kenyataan itu,

sebagaimana kehidupan kita yang menjelajahinberbagai kawasan, seperti kawasan

sosial, kawasan fisik materiil dan kawasan simbolok yang masing-masing

menunjukkan aspeknya sendiri-sendiri. Lebih dari itu, aksiologi juga menunjukkan

kaidah-kaidahapa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu.

Aksiologi meliputi nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian

makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan

kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik,

ataupun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini

sebagai suatu yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan

penelitian maupun didalam menerapkan ilmu (Koento Wibisono, 1997). Pada 25 Marjuni., Op. Cit., h. 5726 Sabri, Muh. Saleh, dan Wahyuddin. Filsafat Ilmu. ( Makassar, Alauddin Press, 2009) H. 103

10

Page 11: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan

kemaslahatan manusia.27

2. Persfektif Aksiologi dalam Pendidikan Islam

Aksiologi sebagai cabang filsafat yang mmbahas nilai baik dan nilai buruk,

indah dan tidak indah (jelek), erat berkaitan dengan pendidikan, karena dunia nilai

akan selalu dipertimbangkan, atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam

menentukan tujuan pendidikan.28

Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai, berdasarkan nilai

tersebut, pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum, metode belajar

dan sebagainya. Pendidikan harus terlebih dahulu menentukan nilai mana yang akan

dianut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti nilai terletak dalam tujuan.

Pembahasan nilai-nilai pendidikan terletak di dalam rumusan dan uraian tentang

tujuan pendidikan. Di dalam tujuan pendidikan itukah tersimpul semua nilai

pendidikan yang hendak diwujudkan dalam pribadi peserta didik.

Proses pendidkan tidak mungkin berlangsung tanpa arah tujuan yang hendak

dicapai sebagai garis kebijakannya, sebagai program, dan sebagai tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan dalam isinya maupun rumusannya tidak mungkin ditetapkan tanpa

dimengertidan mengetahui yang tepat tentang nilai-nilai.Kajian tujuan pendidikan

Islam terdiri atas empat macam yaitu:

1. Tujuan Tertinggi/Terakhir: Tujuan akhir ialah tujuan yang hendak dicapai

oleh pendidik terhadap peserta didik melalui suatu proses pendidikan. Jalal

menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut

Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali lagi: seluruh

manusia) menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang

dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam

27 Purwadi, dan Djoko Dwiyanto, opcit. H. 928 Ibid, h.87.

11

Page 12: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

menghendaki agar manusia dididik suapaya ia mampu merealisasikan tujuan

hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup

manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari

ayat 56 Surat a;-Dzariyat:29

Terjemahannya:

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.30

2. Tujuan umum: Tujuan umum berfungsi sebagai arah tercapainya dapat diukur

karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik31.

Menurut Ahmad Tafsir, muslim yang sempurna ialah muslim yang

jasmaninya sehat dan kuat, akalnya cerdas dan pandai, serta hatinya bertaqwa

kepada Allah swt.32 Dengan dasar itu, ia merumuskan tujuan umum

pendidikan Islam, yaitu menciptakan muslim yang sempurna, atau manusia

yang takwa, atau manusia yang beriman, atau manusia yang beribadah kepada

Allah SWT.33

3. Tujuan Sementara: Tujuan sementara merupakan penjabaran dari tujuan akhir

serta berfungsi membantu memelihara arah seluruh usaha dan menjadi batu

loncatan untuk mencapai tujuan akhir.34 Atau dengan kata lain, tujuan yang

akan dicapai setelah peserta didik diberi sejumlah pengetahuan tertentu yang

direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Misalnya peserta

didik dilatih untuk bicara sampai mereka dapat bicara. Jika sudah demikian

halnya, maka tujuan sementara telah diacapai. Akan tetapi, tidak hanya

sampai disitu, peserta didik tersebut harus diajar berbicara dengan baik dan

sopan.35

29 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam ( cet. VIII: Bandung: Rosda, 2008 )30 Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam ( cet. II: Jakarta: Logos, 1999 ) H. 7831 Abu Achmad, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta, Aditya Media, 1992. H

6632 Ahmad Tafsir, Op. Cit. H. 5033 Ibid. H. 5134 Hery Noer Aly. Op. cit., h. 8035 Marjuni, op. cit., h. 64

12

Page 13: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

4. Tujuan Operasional: Tujuan operasional adalah suatu tujuan yang dicapai

menurut program yang telah ditentukan atau ditetapkan dalam kurikulum.

Atau tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan

tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah

disiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu, disebut dengn

tujuan operasional. Dalam tujuan operasional ini, lebih banyak dituntut dari

peserta didik adalah suatu kemampuan, dan keterampilan tertentu. Sifat

operasionalnya lebih ditonjolkan daripada sifat penghayatan dan

kepribadian.36

Berdasarkan apa yang telah diuraikan, dipahami pengetahuan

mengandung nilai, dan kebenaran nilai ilmu pengetahuan yang dikandung

bukan untuk kebesaran ilmu pengetahuan semata yang berdiri hanya mengejar

kebenaran obyektif yang bebas nilai melainkan selalu terikat dengan

kemungkinan terwujudnya kesehjahteraan dan kebahagiaan umat manusia.37

Eksistensi ilmu pengetahuan bukan saja untuk mendesak pengetahuan,

melainkan kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk

kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada Tuhan Yang

Maha Pencipta. Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteknya, dan agama

yang menjadi konteksnya itu. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada

tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam dan memahami eksistensi

Allah, manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidakn

mengarahkan ilmu pengetahuan hanya pada praksisnya atau kemudahan-

kemudahan pada material duniawi. Solusi yang diberikan Alquran terhadap

ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara

mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi

36 Ibid., h. 6537 Anonim., Op. Cit.,

13

Page 14: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

berkah dan rahmat bagi manusia dan alam, bukan sebaliknya membawa

mudharat atau penderitaan.38

Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan

menguji dan mengintegrasikan semua niloai tersebut di dalam kehidupan

manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. Karena untuk

mengatakan sesuatu bernilai baik itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi

menilai secara mendalam dalam arti untuk membina kepribadian ideal.

Berikut ini beberapa contoh yang dapat kita pergunakan untuk menilai

seseorang itu baik, yaitu:39

a. Baik, Bu. Saya akan selalu baik dan taat kepada Ibu!

b. Nak, bukanlah ini bacaan yang baik untuk mu?

c. Baiklah, Pak. Aku akan mengamalkan ilmuku.

BAB III

PENUTUP

38 Ibid39 Ibid

14

Page 15: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam makalah ini adalah:

1. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan

meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan

dari yang ada. Secara ontologis, Pendidikan Islam adalah hakikat dari

kehidupan manusia sebagai makhluk berakal dan berfikir. Jika manusia

bukan makluk berfikir, tidak ada pendidikan.

2. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari

asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.

Epistemologi pendidikan Islam membahas seluk beluk dan sumber-sumber

pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah SWT, Yang Maha

Mengetahui Sesuatu.

3. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang pada

umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Dalam Perspektifnya,

Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai, berdasarkan nilai

tersebut, pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum, metode

belajar dan sebagainya. Pendidikan harus terlebih dahulu menentukan nilai

mana yang akan dianut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti nilai

terletak dalam tujuan.

B. Saran

Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah:

1. Peserta didik sebaiknya dalam menempuh pendidikan berusaha untuk

mengembangkan olah pikir dan daya nalar, sehingga dapat bertindak

sesuai dengan ilmu yang dimiliki.

15

Page 16: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

2. Para pakar dan para pemegang kendali pendidikan Islam diharapkan selalu

untuk memperbaharui metode atau pendekatan dalam membangun

pendidikan Islam secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu. 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Aditya

Media

Anonim. Epistomologi, dan Aksiologi Pendidikan. http://anakpesisirlaut.blogspot.

16

Page 17: Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

com/2012/11/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html.

Arifin., 2004. Ilmu Pengetahuan Islam dan Praktis berdasarkan Pendekatan

Indisipliner. Jakarta: Bumi Aksara

Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia

Jalaluddin. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Marjuni. 2013. Filsafat Pendidikan Islam. Makassar: Alauddin University

Mey Khumaera. Filsafat Pendidikan Islam dari Segi Ontologis, Epitomologis, dan

Aksiologi, http://meykhumaera.blogspot.com/2012/03/filsafat-pendidikan-

islam-dari-segi.html

Nata, Abuddin. 2008. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana

Noer Aly, Hery. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos

Purwadi, & Dwiyanto, Djoko. 2006. Filsafat Jawa “ Ajaran hidup yang berdasarkan

Nilai Kebijakan Tradisional. Yogyakarta: Panji Pustaka

Sabri, Saleh, & Wahyuddin. 2009. Filsfat Ilmu. Makassar: Alauddin Press

Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosada

17