Click here to load reader

Makalah Farmasi Otitis Media Akut

  • View
    96

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

otitis media akut

Text of Makalah Farmasi Otitis Media Akut

MAKALAH FARMASI

OTITIS MEDIA AKUT

OLEH :

Arifa Martha SantosoG99142010Eka Satrio Putra

G99141004KEPANITERAAN KLINIK LAB/SMF ILMU FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI

SURAKARTA

2015BAB I

PENDAHULUANOtitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut telinga tengah. OMA merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi di berbagai belahan dunia (Aboet, 2006). Hal ini lebih sering dijumpai di negara-negara dengan tingkat ekonomi yang rendah, salah satunya Indonesia (WHO, 2006). Angka kejadian OMA, sebagai salah satu penyakit infeksi pada telinga hidung tenggorokan (THT) yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran, ditemukan bervariasi di berbagai negara. Ramakrishnan menemukan bahwa OMA merupakan penyakit infeksi yang paling sering terjadi di Amerika Serikat (Ramakrishnan, 2007). Salah satu laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) dalam salah satu programnya yaitu CDCs Active Bacterial Core Surveillance (ABCs) di Amerika Serikat tahun 1999 menunjukkan kasus OMA terjadi sebanyak enam juta kasus per tahun. Meropol, dkk juga mendapati 45-62% indikasi pemberian antibiotik pada anak-anak di Amerika Serikat disebabkan OMA (Meropol et al, 2008). OMA umumnya diawali dengan infeksi virus pada saluran pernapasan atas yang kemudian diikuti oleh invasi bakteri piogenik di telinga tengah (Dhingra, 2010). Tingginya kasus OMA di Indonesia ini perlu menjadi perhatian khusus, sebab OMA yang tidak ditangani secara adekuat dan tetap bertahan dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih serius, yaitu Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK), jika terjadi lebih dari 2 bulan (WHO, 2007).BAB IIOTITIS MEDIA AKUTA. Definisi

Otitis media akut adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Di mana peradangan terjadi pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. Peradangan telinga tengah dikatakan akut bila waktunya kurang dari 3 minggu. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari 1 bulan atau 2 bulan, maka keadaan ini disebut Otitis Media Supuratif Kronis (Djaafar et al, 2012).B. EpidemiologiBayi dan anak beresiko tinggi untuk mengalami otitis media. Insidensinya sebesar 15-20% dengan punck terjadi antara umur 6-36 bulan dan 4-6 tahun. insiden penyakit ini mempunyai kecenderungan menurun setelah usia 6 tahun. insiden tertinggi dijumpai pada laki-laki, kelompok sosial ekonomi rendah, anak-anak dengan celah pada langit-langit, serta anomali kraniofasial lain dan pada musim dingin atau hujan (Nelson et al, 1993). Pada anak, makin sering terserang infeksi saluran nafas atas maka semakin besar resiko terjadinya otitis media akut. Pada bayi terjadinya otitis media akut dipermudah oleh karena tuba eustachius pendek, lebar, dan lebih horizontal dibandingkan pada orang dewasa (Adams et al, 1994).C. EtiologiInfeksi telinga tengah terutama berasal dari saluran pernafasan bagian atas,

masuk ke kavum timpani melalui tuba eustachius. Segala sesuatu yang

mengganggu fungsi tuba akan dapat menyebabkan otitis media. Kadang-kadang (tetapi jarang sekali) infeksi masuk ke kavum timpani melalui perforasi membran timpani yang di sebabkan penyakit atau trauma (FKUI).

Otitis media akut bisa disebabkan oleh bakteri dan virus (Healy et al, 2003). Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA tersering. Bakteri yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumaniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenza (25-30%), dan Moraxella catarrhalis (10-15%). 5% kasus disebabkan patogen lain seperti Streptococcus grup A, dan Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif (Nelson, 1993).Virus juga dapat menyebabkan OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak yaitu Respiratory Syncytial Virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus akan berdampak buruk pada fungsi tuba Eustachius, mengganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunan efisiensi obat antimikroba dengan mengganggu mekanisme farmakokinetiknya (Nelson, 1993).Beberapa mikroorganisme lain yang jarang ditemukan adalah Mycoplasma pneumaniae, Chlamydia pneumaniae, dan Clamydia tracomatis (Healy et al, 2003).

D. Patofisiologi

Secara umum, pada OMA terjadi reaksi inflamasi pada tuba Eustachius. Hal yang paling sering memicu kondisi tersebut adalah infeksi saluran pernafasan atas yang melibatkan nasofaring, walaupun beberapa kondisi lainnya seperti infeksi (terutama infeksi virus), alergi, dan kondisi inflamasi lainnya yang berkaitan dengan tuba Eustachius juga akan memicu manifestasi yang sama. Manifestasi inflamasi dalam hal ini akan menjalar dari nasofaring hingga mencapai ujung medial tuba Eustachius atau secara langsung terjadi di tuba Eustachius, sehingga memicu stasis sehingga mengubah tekanan di dalam telinga tengah. Di sisi lain, stasis juga akan memicu infeksi bakteri patogenik yang berasal dari nasofaring dan masuk ke dalam telinga tengah dengan cara refluks, aspirasi, atau insuflasi aktif. Beberapa variasi juga terdapat pada anak-anak yang cenderung mengalami otitis (otitis-prone children). Pada pasien ini, adanya gangguan neuromuskular atau atau abnormalitas pada tuba Eustachius (tuba Eustachius cenderung terbuka) membuat konten nasofaring dapat dengan mudah mengalami refluks ke telinga tengah, termasuk bakteri patogenik yang berada di nasofaring. Pada akhirnya, semua kondisi ini akan memicu reaksi inflamasi akut yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi, invasi leukosit, fagositosis, dan respon imun lokal yang terjadi di telinga tengah, yang akan bermanifestasi pada gejala-gejala klinis OMA (Donaldson, 2014).Infeksi virus pada telinga tengah cukup sering terjadi pada pasien OMA dan umumnya diikuti dengan infeksi bakteri. Kondisi demikian disebabkan virus memfasilitasi bakteri supaya melekat di mukosa dan memicu inflamasi. Dalam hal ini, virus akan terlebih dahulu merusak lapisan mukosa sehingga mukosa menjadi terpapar dan kondisi ini akan memicu bakteri menjadi patogenik dengan cara melakukan adhesi di permukaan mukosa nasofaring, tuba Eustachius, dan telinga tengah yang sudah mengalami kerusakan. Data lain juga menunjukkan bahwa kerusakan mukosa juga dapat diakibatkan endotoksin oleh invasi bakterisehingga pada akhirnya patogen dapat melekat di permukaan mukosa (Donaldson, 2014).E. Stadium Otitis Media Akuta. Stadium oklusi

Pada stadium ini terdapat sumbatan pada tuba eustachius yang ditandai gambaran retraksi membrane timpani akibat tekanan negatif telinga tengah. Membran timpani kadang tampak normal atau berwarna suram. Efusi mungkin telah terjadi akan tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi (Djaafar et al, 2012).b. Stadium hiperemis atau stadium pre-supurasiPada stadium ini terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang ditandai dengan membran timpani tampak hiperemis disertai edem pada mukosa dan adanya eksudat sekret serosa yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan oklusi tuba berkepanjangan sehingga terjadi invasi bakteri piogenik. Proses inflamasi yang terjadi menyebabkan membran timpani menjadi kongesti. Biasanya pasien mengeluhkan otalgia, rasa penuh di telinga dan demam. Pendengaran mungkin normal atau terjadi gangguan ringan yang tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Gejala berkisar 12 jam sampai 1 hari (Djaafar et al, 2012).

Gambar. Membran timpani stadium hiperemis

c. Stadium supuratif

Stadium ini ditandai edem yang hebat telinga tengah disertai hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani sehingga membran timpani tampak menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien akan merasa sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga yang bertambah hebat. Pasien merasa gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat disertai gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi biasanya demam tinggi, muntah dan disertai kejang (Djaafar et al, 2012).

Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan iskemia membran timpani akibatnya terjadi nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsug di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat lalu menimbulkan nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot.Gambar. Membran timpani stadium supuratif

d. Stadium perforasi

Pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani sehingga nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga. Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotk dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, biasanya anak menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun, dan dapat tertidur nyenyak. Apabila membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi tiga minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika keadaan tersebut berlangsung lebih dari satu setengah hingga dua bulan maka disebut sebagai otitis media supuratif kronik (Djaafar et al, 2012).

Gambar. Membran timpani stadium perforasi

e. Stadium resolusi

Pada stadium ini membran timpani berangsur menjadi normal, perforasi membran timpani kembali menutup dan sekret purulen tidak ada lagi. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan (Djaafar et al, 2012).F. Gejala klinis

Gejala klinis otitis media akut tergantung pada umur dan stadium penyakit. Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media akut adalah suhu tubuh tinggi dapat mencapai 39,5C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba -tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang -kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur dengan tenang. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan disamping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, gejala utamanya nyeri telinga. Gejala klinis OMA biasanya di dahului oleh gejala infeksi salur an nafas bagian atas berupa batuk, pilek dan panas dalam beberapa hari. Apabila proses penyembuhan tidak terjadi maka proses selanjutnya akan timbul gejala sumbatan tuba eustachius yang akut. Gejala dan tanda penyakit OMA itu sendiri bias dimulai dengan di tandai adanya nyeri telinga (otalgia), keluarnya cairan dari telinga, demam, kehilangan pendengaran, tinitus (Djaafar et al, 2012).G. PenatalaksanaanBerdasarkan stadiumnya, penatalaksanaan OMA adalah sebagai berikut :

1. Stadium awal

Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakranial dan ekstrakranial yang mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik (Titisari, 2005) .

2. Stadium oklusi tuba

Pada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 12 tahun pada orang dewasa. Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik (Djaafar, 2007). 3. Stadium hiperemis

Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi tehadap penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis, pada dewasa diberikan amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis (Djaafar, 2007).

4. Stadium supurasi

Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur (Djaafar, 2007). 5. Stadium perforasi

Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3% selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari (Djaafar, 2007).

6. Stadium resolusi

Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan ini berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis (Djaafar, 2007). Berdasarkan macam terapinya, pengobatan OMA dibagi menjadi:a. Terapi simptomatis

Penatalaksanaan OMA harus memasukkan penilaian adanya nyeri. Jika terdapat nyeri, harus memberikan terapi untuk mengurangi nyeri tersebut. Penanganan nyeri harus dilakukan terutama dalam 24 jam pertama onset OMA tanpa memperhatikan penggunaan antibiotik. Penanganan nyeri telinga pada OMA dapat menggunakan analgetik seperti: asetaminofen, ibuprofen, preparat topikal seperti benzokain, naturopathic agent, homeopathic agent, analgetik narkotik dengan kodein atau analog, dan miringotomi (Lieberthal AS et al., 2004).Antihistamin dapat membantu mengurangi gejala pada pasien dengan alergi hidung. Dekongestan oral berguna untuk mengurangi sumbatan hidung. Tetapi baik antihistamin maupun dekongestan tidak memperbaiki penyembuhan atau meminimalisir komplikasi dari OMA, sehingga tidak rutin direkomendasikan (Munilson et al, 2010)Manfaat pemberian kortikosteroid pada OMA juga masih kontroversi (Munilson, 2010). Dekongestan dan antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotika tunggal. Penggunaan Prednisone 2x5mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika efektif menghentikan efusi (Munilson et al, 2010). b. Terapi antibiotik

Antibiotik direkomendasikan untuk semua anak di bawah 6 bulan, 6 bulan 2 tahun jika diagnosis pasti, dan untuk semua anak lebih dari dua tahun dengan infeksi berat (otalgia sedang atau berat atau suhu tubuh lebih dari 39oC ) (Munilson et al, 2010).Terapi antibiotik diberikan pada kasus otitis media akut dan otitis media dengan efusi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi dan mengurangi gejala. Amoksisilin merupakan terapi antibiotik lini pertama dimana strain bakteri yang memproduksi beta laktamase jarang ditemukan. Jika terjadi resistensi maka dapat digunakan cefaclor, amoksisilin klavulanat atau kotrimoksasol (Theone dan Johnson, 1991).

Jika diputuskan perlunya pemberian antibiotik, lini pertama adalah amoksisilin dengan dosis 80-90 mg/kg/hari. Pada pasien dengan penyakit berat dan bila mendapat infeksi -laktamase positif Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis terapi dimulai dengan amoksisilin-klavulanat dosis tinggi (90 mg/kg/hari untuk amoksisilin, 6,4 mg/kg/hari klavulanat dibagi 2 dosis). Jika pasien alergi amoksisilin dan reaksi alergi bukan reaksi hipersensitifitas (urtikaria atau anafilaksis), dapat diberi cefdinir (14 mg/kg/hari dalam 1 atau 2 dosis), cefpodoksim (10 mg/kg/hari 1 kali/hari) atau cefuroksim (20 mg/kg/hari dibagi 2 dosis). Pada kasus reaksi tipe I (hipersensitifitas), azitromisin (10 mg/kg/hari pada hari 1 diikuti 5 mg/kg/hari untuk 4 hari sebagai dosis tunggal harian) atau klaritromisin (15 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi). Obat lain yang bisa digunakan eritromisin-sulfisoksazol (50 mg/kg/hari eritromisin) atau sulfametoksazol-trimetoprim (6-10 mg/kg/hari trimetoprim (Tabel 1). Alternatif terapi pada pasien alergi penisilin yang diterapi untuk infeksi yang diketahui atau diduga disebabkan penisilin resistan S.pneumoniae dapat diberikan klindamisin 30-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi. Pada pasien yang muntah atau tidak tahan obat oral dapat diberikan dosis tunggal parenteral ceftriakson 50 mg/kg (Tabel 1).Jika pasien tidak menunjukkan respon pada terapi inisial dalam 48 -72 jam, harus diperiksa ulang untuk mengkonfirmasi OMA dan menyingkirkan penyebab lain. Jika OMA terkonfirmasi pada pasien yang pada awalnya diterapi dengan observasi, harus dimulai pemberian antibiotik. Jika pasien pada awalnya sudah diberi antibiotik, harus diganti dengan antibiotik lini kedua, seperti amoksisilin-klavulanat dosis tinggi, sefalosporin, dan makrolid (Munilson et al, 2010).

Waktu yang optimum dalam terapi OMA masih kontroversi.11,32,37 Terapi jangka pendek (3 hari azitromisin, 5 hari antibiotik lain) adalah pilihan untuk anak umur diatas 2 tahun dan terapi paket penuh (5 hari azitromisin, 7-10 hari antibiotik lain) lebih baik untuk anak yang lebih muda.26,37 Terdapat beberapa keuntungan dari terapi jangka pendek yaitu: kurangnya biaya, efek samping lebih sedikit, komplian lebih baik dan pengaruh terhadap flora komensal dapat diturunkan.37 Terapi antibiotik jangka panjang dapat mencegah rekurensi dari OMA. Pertanyaan antibiotik apa yang akan digunakan, untuk berapa lama, dan berapa episode OMA untuk menilai terapi belum dievaluasi secara adekuat (Munilson et al, 2010)..c. Terapi pembedahan

Walaupun observasi yang hati-hati dan pemberian obat merupakan pendekatan pertama dalam terapi OMA, terapi pembedahan perlu dipertimbangkan pada anak dengan OMA rekuren, otitis media efusi

(OME), atau komplikasi supuratif seperti mastoiditis dengan osteitis. Beberapa terapi bedah yang digunakan untuk penatalaksanaan OMA termasuk timpanosintesis,miringotomi, dan adenoidektomi (Munilson et al, 2010).

Gambar. Penatalaksanaan OMATabel 1. Antibiotik yang direkomendasikan pada pasien yang diterapi inisial dengan antibiotik atau yang telah gagal 48 72 jam pada terapi inisial dengan observasiSuhu 39oC dan atau otalgia beratPada diagnosis pasien diterapi inisial antibiotikSecara klinis gagal terapi pada 48-72 jam setelah terapi inisial dengan pilihan observasiSecara klinis gagal terapi pada 48-72 jam setelah terapi inisial dengan antibiotik

rekomendasiAlternatif untuk alergi penisilinrekomendasiAlternatif untuk alergi penisilinAmoxicilin-klavulanat 90 mg/kg/hari Bukan tipe I : ceftriaxon 3 hari

Tipe I : klindamicin

TidakAmoxicilin 80-90mg/kg/hariBukan tipe I : cefdinir, cefuroksim, cefpodoksim

Tipe I : azitromicin, klaritomicinAmoxicilin 80-90mg/kg/hariBukan tipe I : cefdinir, cefuroksim, cefpodoksim

Tipe I : azitromicin, klaritomicin

YaAmoxicilin-klavulanat 90 mg/kg/hariCeftriaxon 1 atau 3 hariAmoxicilin-klavulanat 90 mg/kg/hariCeftriaxon 1 atau 3 hariCeftriaxon 3 hariTimpanosintesis, klindamisin

H. Komplikasi

Komplikasi dari OMA dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu melalui erosi tulang, invasi langsung dan tromboflebitis. Komplikasi ini dibagi menjadi komplikasi intratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal terdiri dari: mastoiditis akut, petrositis, labirintitis, perforasi pars tensa, atelektasis telinga tengah, paresis fasialis, dan gangguan

pendengaran. Komplikasi intrakranial yang dapat terjadi antara lain yaitu meningitis, encefalitis, hidrosefalus otikus, abses otak, abses epidural, empiema subdural, dan trombosis sinus lateralis (Munilson et al, 2010).BAB III

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS

1. Nama: An. P2. Umur:5 tahun3. Berat badan : 15 kg4. Jenis kelamin:perempuan5. Agama:Islam

6. Alamat:Sragen 7. Suku/ras:Jawa

II. KELUHAN UTAMA

Nyeri telinga kiriIII. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang dengan keluhan nyeri telinga kiri yang dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Keluhan awalnya dirasakan hilang timbul namun sejak 1 hari SMRS dirasakan semakin memberat. Menurut ibu pasien, pasien merasa sangat kesakitan. Sebelumnya sejak seminggu yang lalu, pasien mengalami demam, batuk, dan pilek, tetapi ibu pasien tidak memeriksakan ke dokter hanya membeli obat penurun panas di warung saja. Telinga berdenging (-), penurunan pendengaran (+) pada telinga kiri, keluar cairan (+) 1 hari yang lalu berwarna kuning, pusing berputar (-). Tidak ada keluhan nyeri menelan maupun nyeri tenggorokan. Tidak ada riwayat memanipulasi telinga (mengorek-korek telinga), kemasukan benda asing, maupun berenang dalam waktu dekat.IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU1. Riwayat keluhan serupa: disangkal

2. Riwayat alergi

: disangkal3. Riwayat asma

: disangkal4. Riwayat keluar cairan : disangkalV. PEMERIKSAAN UMUM

Kesadaran

: composmentis, GCS E4V5M6

Keadaan Umum

: baik, gizi kesan normal

Tanda Vital

:

Tekanan darah: 100/70 mmHg

Frekuensi nadi: 100 x/menit

Frekuensi napas: 22x/menit

Suhu

: 39 oC

Kepala

: dalam batas normal

Thorax

: dalam batas normal

Jantung

: dalam batas normal

Paru-paru (C/P)

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normalVI. PEMERIKSAAN THT

1. Hidung

DextraSinistraGambar

Cavum nasiLapangLapang

Discharge(+)(+)

Concha inferiorEutrofiEutrofi

Meatus nasi mediusTak terlihatTak terlihat

Meatus nasi inferiorTak terlihatTak terlihat

Septum nasiDeviasi (-)Deviasi (-)

Provokasi nyeri(-)(-)

Nyeri pada daerah

Sinus frontalis(-)(-)

Sinus maxillaries(-)(-)

Sinus sphenoidalis(-)(-)

Sinus ethmoidalis(-)(-)

2. Telinga

DextraSinistraGambar

Daun telingaNormotiaNormotia AS AD

Canalis auricularisLapangLapang

Membrane timpaniHiperemis (+), pulsating point (+)Intak

Tragus pain(-)(-)

Hearing loss(-)(-)

Discharge(+), minimal(-)

Tes Pendengaran

Pemeriksaan Rinnesdesde

Pemeriksaan Weber(pasien tidak kooperatif)

Pemeriksaan Swabach

3. Mulut

a. Bibir: sianosis (-), bibir pecah-pecah (-)b. Gingiva: ulserasi (-)c. Gigi: caries dentis (-)d. Lidah: papil lidah atrofi (-)4. Tenggorok

DextraSinistra

TonsilT1-TI, hiperemis (-), kripte melebar (-)

FaringDPP tenang

AdenoidTidak membesar

UvulaTerletak di tengah

5. Kelenjar Getah Bening : tidak membesarVII. DIAGNOSIS

Otitis media akut stadium perforasi Auricula sinistraVIII. TERAPI

Tujuan terapi

a. Menghilangkan penyebab

b. Mengembalikan fungsi tuba eusthacius

c. Menghilangkan gejala penyerta

d. Mencegah komplikasi baik intracranial maupun ekstrakranial Medikamentosa

a. Ear toilet dengan perhidrol 3%b. Amoksisillin

c. Pesudoefedrin

d. TerfenadinPenulisan ResepR / Perhidrol 3 %

No. I

Kapas steril

No. X

S uc

R/Amoksisilin syr 125 mg/5 ml

S 3 dd cth I

R / Paracetamol125 mg/5 ml

Rhinofed tab

/5 ml

Mfla syr ad 60 cc

S 3 dd cth I

Pro : An. P (5 tahun, 15 kg)

IX. PROGNOSIS

Ad vitam: bonam

Ad sanam: bonam

Ad fungsionam: bonam

BAB IV

PEMBAHASAN

A. AmoksisilinAmoksisilin adalah antibiotik dengan spektrum luas. Amoksisilin merupakan antibiotik -laktam yang bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Amoksisilin aktif melawan bakteri gram positif yang tidak menghasilkan -laktamase dan aktif melawan bakteri gram negatif karena obat tersebut dapat menembus poripori dalam membran fosfolipid luar. Untuk pemberian oral, amoksisilin merupakan obat pilihan karena di absorbsi lebih baik daripada ampisilin, yang seharusnya diberikan secara parenteral. Amoksisilin merupakan turunan dari penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana asam lambung. Amoksisilin diabsorpsi dengan cepat dan baik pada saluran pencernaan, tidak tergantung adanya makanan/ Amoksisilin mempunyai spektrum antibiotik serupa dengan ampisilin. Beberapa keuntungan amoksisilin dibanding ampisilin adalah absorbsi obat dalam saluran cerna lebih sempurna, sehingga kadar darah dalam plasma dan saluran seni lebih tinggi. (Istiantoro dan han, 2007).Amoksisilin tersedia sebagai kapsul atau tablet berukuran 125, 250, dan 500 mg dan sirup 125 mg/ 5 ml. Dosis sehari dapat diberikan lebih kecil daripada ampisilin karena absorpsinya lebih baik daripada ampisilin.

Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Observasi dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam dua sampai tiga hari, atau ada perburukan gejala. Ternyata pemberian antibiotik yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya komplikasi supuratif seterusnya (Lieberthal AS et al. 2004). Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin merupakan first-lineterapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae (Lieberthal AS et al. 2004).B. Paracetamol

Kandungan dalam paracetamol yaitu acetaminophen.Paracetamol umumnya digunakan sebagai analgetik dan antipiretik. Sebagai analgesik, paracetamol bekerja denga meningkatkan ambang rasa sakit, sebagai antipiretik, paracetamol bekerja langsung pada pusat pengatur panas yaitu hipothalamus (Sweetman S, 2002).Paracetamol diabsorbsi melalui saluran gastrointestinal.Paracetamol didistribusikan ke hampir seluruh jaringan tubuh. Waktu paruh eliminasi bervariasi antara 1- 3 jam. Sebagian besar dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui urin, terutama dalam bentuk glucoronide dan konjugasi sulfat, kurang dari 5 % dikeluarkan dalam bentuk tetap paracetamol (Sweetman S, 2002).Mekanisme kerja paracetamol yaitu dapat menurunkan panas dengan bekerja pada hipotalamus yang mengakibatkan vasodilatasidan pengeluaran keringat.Pada dosis terapeutik, inhibisi sekresi prostaglandin tidak signifikan pada jaringan perifer sehingga paracetamol memiliki efek inflamasi yang rendah.Dosis paracetamol untuk orang dewasa yaitu 500 mg 1 g boleh diulang setiap 6 jam per hari atau diberikan 4 dosis per hari. Sedangkan pada anak 10-15 mg/kgBB per tiap kali pemberian dan dapat diberikan samapi 4 kali sehari (Sweetman S, 2002).Efek samping dapat terjadi mual, muntah, nyeri perut. Pemberian dalam jangka panjang dapat menyebabkan neutropenia, leukopenia, trombositopenia, dan reaksi hipersensitivitas yang berupa urtikaria, hipotensi (Mashford M., 2007).Kontraindikasi paracetamol yaitu pemberian pada pasien dengan gangguan fungsi hepar dan ginjal, dan penderita dengan reaksi hipersensitivitas pada paracetamol (Mashford M., 2007).Daftar PustakaAboet, A., 2006. Terapi pada Otitis Media Supuratif Akut. Majalah Kedokteran Nusantara, 39 (3): 356Adams, G.L., Boies, L.R.., Hilger, P.A. Alih bahasa Wijaya, Caroline. 1994. Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi ke 6. Jakarta : EGCDhingra. P.L. and Dhingra, S., 2010. Diseases of ear, nose & throat. 5thed. India:Elsevier, pp.69-70.Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. 2012. Kelainan telinga tengah. Dalam: Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi ketujuh. Jakarta: FKUI;p.57-69Donaldson JD, 2014. Acute Otitis Media. eMedicine. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/859316-overview. (diakses tanggal 6 Mei 2014)Healy GB, Rosbe KW. 2003. Otitis media and middle ear effusions. In: Snow JB, Ballenger JJ,eds. Ballengers otorhinolaryngology head and neck surgery. 16th edition. New York: BC Decker. p.249-59Istiantoro YH dan Gan VH. 2007. Penisilin, Sefalosporin, dan antibiotik betalaktam lainnya. Dalam farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapi FKUI. Halaman 664-678Lieberthal AS et al. 2004. Diagnosis and management of acute otitis media. Clinical practice guideline. American Academy of Pediatrics and American Academy of Family Physicians. Pediatric;113(5):1451-1465Mashford M. 2007. Therapeutic Guidelies :Analgetik. Australia : Terapeutic Guidelines Limited. Meropol, S. B., Glick, H. A., Asch, D. A., 2008. Age Inconsistency in The American Academy of Pediatrics Guidelines for Acute Otitis Media. Pediatrics, 121 (4): 657 663.Munilson J, Edward Y, Yolazenia. 2010. Penatalaksanaan Otitis Media Akut. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. http://repository.unand.ac.id/18807/1/Penatalaksanaan%20otitis%20media%20akut_repositori.pdfNelson, W.E., et. al. 1993. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi ke 12. Bagian ke 2. Jakarta : EGC.

Ramakrishnan, K., Sparks, R. A., Berryhill, W. E., 2007. Diagnosis and Treatment of Otitis Media. American Family Physician, 76 (11): 1650 1653.

Sweetman S. 2002. Martindale. The Complete Drug Reference 33rd Edition. London Chicago : Pharmaceutical Press. Titisari, H., 2005. Prevalensi dan Sensitivitas Haemophilus Influenzae pada Otitis Media Akut di PSCM dan RSAB Harapan Kita. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.Theone, DE dan Johnson CE. 1991. Pharmacotherapy of Otitis Media. Pharmacotherapy 11(3):212-21World Health Organization, 2006. Primary ear and hearing care training resource : Advanced Level. WHO Geneva, Switzerland: WHO press, pp.14 -15.World Health Organization, 2007. Situation review and update on deafness,hearing loss and interventi on programmes proposed plans of action for preventionand alleviation of hearing impairment in countries of the south east asia region . New Delhi: WHO, pp.11 -12.

18