Makalah Blok 15

  • View
    30

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Morbun Hanse, Lepra

Text of Makalah Blok 15

Gejala dan Tanda Morbus Hansen, Diagnosis Banding Beserta PenatalaksanaanyaFitriani 10201318

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 1151

Abstrak : Penyakit Hansen atau yang dikenal juga sebagai lepra, tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia. Penyebab mikroba dalam penyakit Hansen adalah Mycobacterium leprae , sebuah organisme asam - cepat yang sulit untuk tumbuh in vitro. anifestasi penyakit bervariasi berdasarkan respon imun host dan dapat berkisar dari tuberkuloid ke kusta lepromatous (pausibasiler hingga multibasiler). Penyakit Hansen biasanya mempengaruhi kulit, saraf, dan mata , dan pasien mungkin hadir dengan lesi kulit, kelemahan, mati rasa, nyeri mata, atau kehilangan penglihatan. Terapi antibakteri modern biasanya terdiri dari kombinasi dapson dan rifampisin dengan atau tanpa clofazimine. Penyakit Hansen berhubungan dengan tipe 1 (reversal) dan tipe 2 (eritema nodosum leprosum) reaksi imunologi, dimana proses penyakit muncul memburuk secara dramatis. Kata kunci: Lepra, Myobacterium leprae

Abstract: Hansen's disease, also known as leprosy, remains an important public health problem throughout the world. The causative microbe in Hansen's disease is Mycobacterium leprae, an acid-fast organism that is difficult to grow in vitro. Manifestations of disease vary based on host immune response and can range from tuberculoid to lepromatous leprosy (paucibacillary to multibacillary disease). Hansen's disease typically affects the skin, nerves, and eyes, and patients may present with skin lesions, weakness, numbness, eye pain, or loss of vision. Modern antibacterial therapy typically consists of combinations of dapsone and rifampin with or without clofazimine. Hansen's disease is associated with type 1 (reversal) and type 2 (erythema nodosum leprosum) immunologic reactions, during which the disease process appears to worsen dramatically. These reactions may occur at any time before, during, or after treatment.Keywords : Leprosy, Mycobacterium leprae

PendahuluanKusta (lepra) termasuk penyakit tertua. Kata kusta berasal dari bahasa India kustha, dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Kata kusta disebut dalam kitab Injil, terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa penyakit kulit lainnya. Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian ke organ lain, kecuali SSP. Selain daripada segi medis, penyakit kusta juga menjadi masalah psikososial penderitanya.1,2 Penyakit yang kusta banyak terdapat dinegara-negara berkembang dan sebagian besar penderitanya adalah masyarakat golongan ekonomi rendah. Hal ini adalah sebagai keterbatasan negara dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan ekonomi pada masyarakat. Pada skenario ini, akan dibahas mengenai perjalanan penyakit, gejala, dan pengobatan dari morbus hansen.AnamnesisPada anamnesis yang yang perlu ditanyakan yaitu: identitas, keluahan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat obstri dan ginekologi (khusus wanita). Riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaaan, obat-obatan dan lingkungan). Identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua atau anggota keluarga terdekat sebagai penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memeastikan bahwa pasien yang dimaksud dan sebagai data penelitian. Keluahan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien ke dokter atau mencari pertolongan. Dari hasil anamnesa didapatkan data bahwa pasien datang dengan keluhan adanya bercak putih pada lengan kiri, sejak 1 bulan, dan tidak ada rasa gatal. Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis, terperinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Berdasarkan skenario kasus dalam melakukan anamnesis, harus diusahaka data sebagai berikut: 3,41. Waktu dan lamanya keluhan berlangsung, pada kasus ini keluhan berupa bercak putih dan berlangsung sejak 1 bulan yang lalu.1. Sifat dan berat serangan, warna bercak, adanya gatal, adanya baal pada bercak/lesi 1. Lokaisasi dan penyebaranya, menetap,menjalar, berpindah-pindah,1. Hubungan nya dengan waktu, 1. Hubungannya dengan aktivitas, 1. Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali,1. Faktor resiko dan pencatus serangan, termasuk faktor yang memperberat atau meringankan keluhan,1. Apakah ada saudara sedarah, atau teman dekat yang mengalami keluahan yang sama,1. Riwayat perjalanan ke daerah endemis untuk penyakit tertentu,1. Perkembangan penyakit, kemungkinan telah tejadi komplikasi atau gejala sisa,1. Upaya yang telah dilakuakn dan bagai mana hasilnya, jenis obat-obatan yang telah diminum pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini dideritaRiwayat penyakit terdahulu untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan penyakit yang pernah ia derita dengan penyakitnya sekarang. Riwayat obstetri harus ditanyakan pada setiap pasien wanita. Tanyakan mengenai menstruasinya, kapan manrche, apakah menstruasi teratur atau tidak, apakah disertai rasa nyeri atau tidak, dan riwayat kehamilan, persalinan dan keguguran. 3,4 Anamnesis susunan sistem bertujuan mengumpulakan data posistif dan negatif yang berhubungan dengan penyakit yang diderita pasien berdasarkan alat tubuh yang sakit.3 Riwayat penyakit keluarga penting untuk mencari kemungkinan penyakit herediter, familial atau penyakit infeksi. 3,4Riwayat pribadi meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan kebiasaan. Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari seperti masaah keuangan, pekerjaan dan sebagainya. Kebiasaan pasien yang harus ditanyakn kebiasaan merokok, minum alkohol dan obat-obatan termasuk obat-obatan terarang. Pasien yang sering melakukan perjalanan juga harus ditanyakan tujuan perjalannan yang telah ia lakukan untuk mencari kemungkinan tertular penyakit infeksi tertentu di tempat tujuan perjalanannya. Bila ada indikasi, riwayat perkawinan dan kebiasaan seksual juga harus di tanyakan. Yang tidak kalah penting adalah menanyakan tentang lingkungan tempat tinggal, termasuk keadaan rumah, sanitasi, sumber air minum, ventilasi, tempat pembuangan sampah dan sebagainya. 3,4Pemeriksaan FisikPada pemeriksaan fisik yang kita lakukan adalah dengan memastikan status lokalisasi dari bercak putih tersebut. Kita perlu melakukan pemeriksaan pada seluruh bagian tubuh, jika memang bercak putih sudah menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu, kita juga memeriksa eflouresensi atau sifat dari luka tersebut. Pada setiap kriteria dari lepra, eflouresensinya juga mempunyai sifat yang berbeda. Pada lepra tipe I (tipe interdeminan), eflouresensi yang muncul adalah berupa makula hipopigmentasi berbatas tegas, anestesi, dan anhidrasi, pemeriksaan bakteriomologi negatif, dan tes lepromin positif. Lepra tipe TT (tuberkolusis), eflouresensi berupa makula eritematosa bulat atau lonjong, permukaan kering, batas tegas, anestesi, bagian tengah sembuh, bakteriologi negatif, tes lepromin positif kuat. Tipe BT (bordeline tuberculoid), eflouresensi berupa makula eritrematousa tak teratur, batas tak tegas, kering, mula-mula akan ada tanda kontraktur, anestesi, bakteriologi bisa negatif atau positif, tes lepromin juga bisa menunjukan hasil positif atau negatif. Tipe BB (mid-borderline) makula eritromatosa, menonjol, bentuk tidak teratur, kasar, ada lesi satelit, penebalan saraf dan kontraktur, pemeriksaan bakteriologi positif, tes lepromin negatif. Tipe BL (boderline lepramatosa) berupa makula infiltrat merah mengkilat, tak teratur, batas tak tegas, pembengkakan saraf, pemeriksaan bakteriologi ditemukan banyak basil, tes lepromin negatif. Tipe LL (lepromatosa) berupa infiltrasi difus berupa nodula simetri, permukaan mengkilat, saraf terasa sakit, anestesi, pemeriksaan bakteriologi positif kuat, tes lepromin negatif.5Selain pemeriksaan fisik kulit, kita harus pula melakukan pemeriksaan saraf tepi pasien (nervus ulnaris, nervus radialis, nervus aurikulas magnus, dan nervus poplitea), mata (lagoftalmus), tulang (kontraktur atau absorbsi), dan rambut (alis mata, kumis, dan pada lesi sendiri). Pemeriksaan anestesi (baal) dan sensitifitas bisa dilakukan dengan tes panas dingin ataupun dengan jarum. Tes keringet dengan melakukan tes Gunawan, yaitu dengan pensil tinta dibuat garis pada lesi hingga keluar lesi, lalu pasien melakukan olahraga sampai berkeringat. Selanjutnya dilihat pada bagian mana tinta melebur karena keringat dab bagian tinta yang tidak melebur karena anhidrasi. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan makula hipopigmentasi positif dengan anestesi.

Gambar 1. Makula Hipopigmentasi6Pemeriksaan PenunjangPada penyakit kusta pemeriksaan yang bisa dilakukan umumny adalah inspeksi, selain itu pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan anestesi dengan menggunakan jarum atau kapas seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan pemeriksaan dengan menggunakan tinta. Selain pemeriksaan terserbut ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk menunjang diagnosa kusta. 7

Pemeriksaan bakterioskopikDibuatlah suatu sediaa dari kerokan jaringan kulit atau usapan dan kerokan mukosa hidung bagian septum lalu diwarnai dengan pewarnaan BTA (Basil Tahan Asam), antara lain Ziehl-Neelsen. Jika hasilnya negatif, maka orang tersebut tidak mengandung kuman M. leprae. Bagian tubuh yang pasti dikerok jaringan kulitnya adalah dibawah cuping telinga berdasarkan pengalaman, tempat tersebut diharapkan mengandung kuman lebih banyak. Cara pengambilannya dengan menggunakan