of 37 /37
MAKALAH “ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN LANSIA DENGAN KATARAK” Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok pada Mata Kuliah Keperawatan Gerontik Dosen Pengajar : Davin Prihar Ninuk, Skep,. Ns,. MKes Disusun oleh : kelompok 5 1. Dwi Novitasari (7312001) 2. Tilawati Solekha (7312034) 3. Wahyu Mukhafido (73120 4. Iqromullah (73120 5. Mei Vidya (73120 6. Ma’ani (73120 FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM

MAKALAH ASKEP GERONTIK

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

Citation preview

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN LANSIA DENGAN KATARAK”

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok pada Mata Kuliah Keperawatan

Gerontik

Dosen Pengajar : Davin Prihar Ninuk, Skep,. Ns,. MKes

Disusun oleh :

kelompok 5

1. Dwi Novitasari (7312001)

2. Tilawati Solekha (7312034)

3. Wahyu Mukhafido (73120

4. Iqromullah (73120

5. Mei Vidya (73120

6. Ma’ani (73120

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM

Jl. Rejoso Kompleks Ponpes Darul Ulum Peterongan Jombang

2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat-Nya maka

kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan

Klien Lansia dengan Katarak.”

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk

menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik di Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum (Unipdu) Jombang.

Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik

pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak kami

harapkan, demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Kami menyampaikan ucapan

terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,

khususnya kepada :

1. Ibu Devin Prihar Ninuk, Skep,. Ns,. MKes, selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah

Keperawatan Gerontik

2. Rekan-rekan S1 Keperawatan Semester 6

3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan

bantuan dalam penulisan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi

para pembaca pada umumnya dalam memajukan pendidikan. Semoga Allah SWT

selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, amin.

Jombang, 09 Mei 2015

Penyusun,

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah

mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan eknomi, perbaikan

linkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau

ilmu kedokteran sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya

jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat.

Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan

usia rata – rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di

negara maju seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia lebih kurang 1000 orang

per hari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun

sehingga istilah “Baby Boom” pada masa lalu berganti menjadi “Ledakan penduduk lanjut

usia”.

Menurut penelitian yang dilakukan terhadap orang lanjut usia di Indonesia yang

dilakukan oleh Prof. Dr.R. Boedhi Darmojo, terjadi peningkatan jumlah lanjut usia yang

sangat signifikan seperti terlihat dalam tabel berikut:

Tabel 1.1 Demografi Orang Lanjut Usia di Indonesia

Tahun 1980 1985 1990 1995 2000 2020

Total penduduk (55 tahun ke

atas)

148 165 183 202 222

a. Total (juta) 11,4 13,3 16 19 22,2 29,12

b. Persentase (%) 7,7 8 8,7 9,4 10 11,09

Harapan hidup 55,30 58,19 61,12 64,05 65-70 70-75

Menurut penelitian Prof. Dr. R. Boedhi Darmojo

Secara individu, pada usia di atas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal

ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Dengan

bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri maka pola penyakit pada lansia

juga bergeser dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (degeneratif).

Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun

sebesar 25,70% diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut menjadi 12,30% (Depkes

RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992).

Perawatan terhadap pasien lansia bisa menjadi tugas yang menantang bagi para tenaga

klinis. Perubahan – perubahan kecil dalam kemampuan seorang pasien lansia untuk

melaksanakan aktivitas sehari – hari atau perubahan kemampuan seorang pemberi asuhan

keperawatan dalam memberikan dukungan hendaknya memiliki kemampuan untuk mengkaji

aspek fungsional, sosial, dan aspek – aspek lain dari kondisi klien lansia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Konsep Teori Lansia?

2. Bagaimana Konsep penyakit Katarak?

3. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Katarak?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep teori dari lansia

2. Untuk mengetahui konsep penyakit katarak

3. Menjelaskan asuhan keperawatan lansia dengan katarak

1.4 Manfaat

1. Menambah wawasan pengetahuan dan penerapan konsep keperawatan pada

kasus lansia dengan katarak.

2. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnosa keperawatan

pada kasus lansia dengan katarak.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP TEORI LANSIA

2.1.1 Batasan Lansia

Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi :

1) Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

2) Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun

3) Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun

4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

2.1.2 Proses Menua

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah

melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho,

1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua

berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan

kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk,

gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan

kurang gairah.

Meskpun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus

menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:

1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,

2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,

3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996)

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan

yangmenuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses

penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah.

Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah –

masalah yang menyertai lansia yaitu:

1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain,

2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya,

3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau

pindah,

4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak

dan

5) Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan

perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar

adalah perubahan gerak.

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri

makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat

terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan – kegiatan rekreasi tak

berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri

usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi

tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk

meningkatkan kebugaran fisiknya.

Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa

perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan

tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan

apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan

terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia

adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan,

ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992).

Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri – ciri

penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994) adalah :

1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.

2) Penarikan diri ke dalam dunia fantasi

3) Selalu mengingat kembali masa lalu

4) Selalu khawatir karena pengangguran,

5) Kurang ada motivasi,

6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan

7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan.

Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang

kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil

kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimal

terhadap diri dan orang lain.

2.1.3 Teori Proses Menua

1. Teori – teori biologi

a. Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies –

spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang

diprogram oleh molekul – molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan

mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin

(terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).

b. Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah (rusak).

c. Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus.

Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga

jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.

d. Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)

Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya

virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.

e. Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.

Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal,

kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

f. Teori radikal bebas

Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas

(kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti

karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat

regenerasi.

g. Teori rantai silang

Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang

kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis,

kekacauan dan hilangnya fungsi.

h. Teori program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah

setelah sel-sel tersebut mati.

2. Teori kejiwaan sosial

a. Aktivitas atau kegiatan (activity theory)

1) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara

langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka

yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.

2) Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia.

3) Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil

dari usia pertengahan ke lanjut usia.

b. Kepribadian berlanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori

ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa

perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh

tipe personality yang dimiliki.

c. Teori pembebasan (disengagement theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara

berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini

mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun

kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :

1) Kehilangan peran

2) Hambatan kontak sosial

3) Berkurangnya kontak komitmen

2.1.4 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia,

antara lain: (Setiabudhi, T. 1999 : 40-42)

1. Permasalahan Umum

a. Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.

b. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia

lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.

c. Lahirnya kelompok masyarakat industri.

d. Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.

e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.

2. Permasalahan Khusus

a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,

mental maupun sosial.

b. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.

c. Rendahnya produktifitas kerja lansia.

d. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.

e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat

individualistik.

f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu

kesehatan fisik lansia

2.1.5 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan

1. Hereditas atau ketuaan genetik

2. Nutrisi atau makanan

3. Status kesehatan

4. Pengalaman hidup

5. Lingkungan

6. Stres

2.1.6 Perubahan – perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

1. Perubahan fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim organ tubuh,

diantaranya sistim pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem

pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastro intestinal, genito urinaria, endokrin dan

integumen.

2. Perubahan mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :

a. Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.

b. Kesehatan umum

c. Tingkat pendidikan

d. Keturunan (hereditas)

e. Lingkungan

f. Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.

g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.

h. Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili.

i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri,

perubahan konsep diri.

3. Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow,

1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini terlihat dalam

berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970)

2.1.7 Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia

Menurut the National Old People’s Welfare Council , dikemukakan 12 macam

penyakit lansia, yaitu :

1. Depresi mental

2. Gangguan pendengaran

3. Bronkhitis kronis

4. Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.

5. Gangguan pada koksa / sendi pangul

6. Anemia

7. Demensia

2.2 KONSEP PENYAKIT KATARAK

2.2.1 Definisi Katarak

Katarak adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur – angsur penglihatan

kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara C.Long, 1996).

Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa

di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998).

Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul

lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65

tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).

Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat

hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan

metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu. Katarak dapat

terjadi pada saat perkembangan serat lensa masih berlangsung atau sesudah serat lensa

berhenti dalam perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.

Katarak adalah kekeruhan pada lensa atau kapsul lensa mata, penyebab umum

kehilangan umum kehilangan pengelihatan yang bertahap. Lensa yang keruh menghalangi

cahay amenembus kornea, yang pada akhirnya mengaburkan tangkapan bayangan pada

retina. Sebagai hasilnya otak menginterpretasikan bayangan yang kabur.

Katarak umumnya mempengaruhi kedua mata. Tetapi katarak masing – masing mata

memburuk sendiri – sendiri. Pengecualian pada katarak traumatic yang biasanya unilateral

dan katarak konginetal yang kondisinya dapat tidak berubah. Katarak merupakan penyakit

yang paling sering dijumpai pada orang dengan usia diatas 70 tahun. Pembedahan

memperbaiki pengelihatan pada sekitar 95% pasien. Tanpa pembedahan katarak akhirnya

menyebabkan kehilangan pengelihatan total.

2.2.2 Etiologi Katarak

1. Ketuaan biasanya dijumpai pada katarak Senilis

2. Trauma terjadi oleh karena pukulan benda tajam/tumpul, terpapar oleh sinar X atau

benda – benda radioaktif.

3. Penyakit mata seperti uveitis.

4. Penyakit sistemis seperti DM.

5. Defek kongenital

2.2.3 Macam – macam Katarak

1. Katarak Senilis

Katarak senilis adalah  jenis katarak yang paling sering dijumpai. Satu-satunya

gejala adalah distorsi penglihatan dan penglihatan semakin kabur. Secara paradoks,

walaupun pada stadium insipien pembentukan katarak penglihatan jauh kabur,

penglihatan dekat mungkin sedikit membaik, sehingga klien dapat membaca lebih

baik tanpa kacamata (“second sight”). Miopia artifisial ini disebabkan oleh

peningkatan indeks refraksi lensa pada stadium insipien.

Tidak ada terapi medik untuk katarak. Ekstraksi lensa diindikasikan apabila

penurunan penglihatan mengganggu aktivitas normal klien. Apabila timbul glaukoma

akibat pembengkakan lensa, diindikasikan ekstraksi lensa secara  bedah. Glaukoma

dan uveitis terinduksi lensa adalah penyulit katarak yang jarang terjadi. Uveitis

terinduksi lensa memerlukan tindakan ekstraksi lensa secara bedah untuk

mengeluarkan sumber peradangan.

Katarak senilis biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, dan klien

mungkin meninggal sebelum timbul indikasi pembedahan. Tidak ada terapi obat

untuk katarak, dan tidak dapat diambil dengan pembedahan laser. Yang dapat

dilakukan adalah tindakan operasi/pembedahan. Tingkat keberhasilan pengembalian

penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95 % pasien. Indikasi dari

pembedahan ini adalah: hilangnya penglihatan yang mempengaruhi aktifitas normal

pasien, bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup atau

katarak yang menyebabkan glaukoma.

Secara ringkas, Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terjadi karena

bertambahnya usia. Ada beberapa macam yaitu:

a. katarak nuklear : Kekeruhan yang terjadi pada inti lensa

b. Katarak kortikal : Kekeruhan yang terjadi pada korteks lensa

c. Katarak kupliform : Terlihat pada stadium dini katarak nuklear atau

kortikal.

Katarak senil dapat dibagi atas stadium :

a. Katarak Insipiens

Katarak yang tidak teratur seperti bercak – bercak yang membentuk gerigi

dengandasar di perifer dan daerah jernih di antaranya.

b. Katarak Imatur

Terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh

lensa sehingga masih terdapt bagian- bagian yang jernih pada lensa.

c. Katarak Matur

Bila proses degenerasi berjala terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama

– sama hasil desintegritas melalui kapsul.

d. Katarak Hipermatur

Merupakan proses degenerasi lanjut sehingga korteks lensa mencair dan dapat

keluar melalui kapsul lensa.

2. Katarak Congenital

Katarak akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetic atau kelainan

herediter sebagai akibat dari infeksi virus prenatal, seperti pada German Measles.

3. Katarak Juvenill

Adalah katarak yang terjadi pada anak – anak sesudah lahir yang muncul

selama proses perkembangan.

4. Katarak Traumatic

Katarak akibat trauma

5. Katarak Ttrauma Toksik

Katarak akibat paparan zat kimia seperti terapi kortikosteroid sistemik, rokok,

alkohol

6. Katarak Komplikata

Katarak akibat penyakit mata yang lain seperti uveitis (glaucoma)

7. Associated Katarak

Katarak yang berhubungan dengan penyakit spesifik karena kelainan sistemik

atau metabolic seperti DM, galaktosemi distrofi miotonik.

2.2.4 Tanda dan Gejala

Keluhan yang timbul adalah penurunan tajam penglihatan secara progresif dan

penglihatan seperti berasap. Sejak awal katarak dapat terlihat melalui pupil yang telah

berdilatasi dengan optalmoskop, slit lamp/shadow test. Setelah katarak bertambah matang

maka retina menjadi semakin sulit untuk dilihat sampai akhirnya reflek fundus tidak ada dan

pupil berwarna putih. Gejala dan tanda Katarak antara lain :

1. Kehilangan pengelihatan secara bertahap dan tidak nyeri.

2. Pengelihatan baca yang buruk.

3. Pandangan seilau yang mengganggu dan pengelihatan buruk pada sinar matahari yang

terang.

4. Pandangan silau yang membutakan akibat lampu sorot mobil pada pengemudi

dimalam hari.

5. Kemungkinan memiliki pengelihatan pada cahaya yang redup dibandingkan dengan

cahaya yang terang.

6. Area putih keabu – abuan dibelakang pupil.

2.2.5 Patofisiologi

Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya keseimbangan atara

protein yang dapat larut dalam protein yang tidak dapat larut dalam membran semipermiabel.

Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang tdak dapat diserap dapat mengakibatkan

penurunan sintesa protein, perubahan biokimiawi dan fisik dan protein tersebut

mengakibatkan jumlah protein dalam lens melebihi jumlah protein dalam lensa melebihi

jumlah protein dalam bagian ynag lain sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal

dengan nama katarak. Terjadinya penumpukan cairan/degenerasi dan desintegrasi pada

serabut tersebut menyebabkan jalannya cahaya terhambat dan mengakibatkan gangguan

penglihatan.

2.2.6 Pemeriksaan

Visus menurun bergantung pada :

1. Tak ada tanda-tanda radang (hyperemia tak ada)

2. Iluminasi oblik tampak kekeruhan yang keabu-abuan atau putih dengan bayangan

hitam disebut iris shadow.

3. Pemeriksaan dengan optalmoskop tampak warna hitam diatas dasar orange disebut

fundus reflek.

4. Pada katarak yang lebih lanjut, kekeruhan bertambah sehingga iris shadow

menghilang dan fundus reflek menjadi hitam saja (negatif).

2.2.7 Penatalaksanaan

Apabila penderita masih dapat dikoreksi kacamata, maka diberikan dahulu kacamata.

Akan tetapi ukuran kacamata penderita biasanya sangat mudah / cepat berubah. Pengobatan

yang paling baik dan tepat saat ini adalah operasi.

1. Operasi katarak (Ekstraksi lensa)

Indikasi :

a. Visus yang menurun yang tak dapat dikoreksi dengan kacamata dan mengganggu

aktifitas.

b. Dahulu penderita dioperasi bila visusnya 1/300 s/d tak terhingga (LP+). Akan

tetapi dengan kemajuan tehnologi saat ini katarak dapat dioperasi pada stadium

apapun, bila penderita sudah terganggu aktivitasnya.

c. Secara klinis : bila ditemukan uveitis atau berkembang kearah glaukoma

d. Secara verbal : - bila monokuler harus stadium matur

- Binokuler : visus orang buta huruf : 5/50

visus orang terpelajar : 5/20

Pemeriksaan pre- op katarak

a. Status lokalis

- Fungsi retina harus baik-dengan test proyeksi

- Tidak boleh ada infeksi pada mata atau jaringan sekitar (missal:uveitis)

- Tak ada glaucoma, bahaya terjadi prolaps bola mata

- Koreksi visus

b. Status generalis, hindari kondisi berikut :

- Hipertensi

- DM karena luka sulit sembuh, mudah terjadi infeksi dan perdarahan post

hifema sulit hilang

- Batuk kronik karena bisa terjadi prolaps bola mata

- Gagal jantung

Post operasi:

a. Tujuan : cegah infeksi dan terbukanya luka operasi

Pasien diminta tidak banyak bergerak dan menghindari mengangkat beban berat

selama sebulan. Mata ditutup selama beberapa hari selama beberapa minggu harus

dilindungi dengan pelindung logam pada malam hari. Kacamata permanent diberikan 6-8

minggu setelah operasi.

2. Macam - macam operasi :

ICCE (Intra Capsular Cataract Extraction)

Merupakan tindakan pengeluaran lensa bersama-sama dengan kapsul

ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction)

Dilakukan dengan merobek kapsul anterior dan mengeluarkan inti lensa dan kortek,

sedang sisa lensa diharapkan keluar bersama dengan aqueoshumour

3. Evaluasi Sesudah Operasi Katarak

Hari 1 sesudah operasi harus sudah dievaluasi yaitu :

a. Perdarahan dibilik mata depan (hifema).

b. Kamera okuli anterior jernih/keruh :

Bila mata depan keruh (flare/sel positif)

- Bilik mata depan keruh (flare /sel positif)

- Mungkin sampai terjadi pengendapan pus di bilik mata depan (hipopion).

- Iris miossi disertai sinekia postrior

c. Perhatikan pupil miosis/midriasis/normal :

- Miosis : biasanya dipergunakan miotikum pada waktu operasi sehingga hari

berikutnya pupil menjadi miosis. Miosis ini dapat terjadi bila terjadi uveitis

anterior, dan biasanya disertai adanya sinekia posterior.

- Midirasis : dapat terjadi bila ada peningkatan tekanan intra okuler (glaucoma)

- Pupil tidak bulat : terjadi bila pada waktu operasi terjadi korpukasi (korpus

viterius keluar).

4. Pengobatan Sesudah Operasi Katarak

Setelah operasi dapat diberi :

a. Kacamata, diberikan bila tanda-tanda iritasi sudah hilang (kurang lebih sesudah

1,5 bulan post op), sudah tidak ada perubahan refraksi (3 x refraksi tiap minggu).

b. Lensa Kontak :

Penglihatan lebih baik daripada kacamata, dan dipakai pada operasi katarak

unilateral (satu mata).

c. Inolan Lensa Intra Okuli (IOL) :

- Implan ini memasukkan ke dalam mata pada saat operasi, menggantikan lensa

yang diambil (ECCE).

- Letaknya permanen

- Tidak memerlukan perawatan.

- Visus lebih baik daripada kacamata / lensa kontak.

2.2.8 Pathway

BAB 3

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

3.1.1 Pengkajian Pre – Operasi

Subyektif :

1. Keluhan penglihatan

a. Kabur secara total

b. Hanya melihat baik pada tempat yang redup

c. Hanya dapat melihat rangsangan cahaya saja

d. Ganda / majemuk pada satu mata.

2. Indikator verbal dan non verbal dari ansietas.

3. Pemahaman tentang pembedahan katarak termasuk :

a. Sifat prosedur

b. Resiko dan keuntungan

c. Obat anestesi

d. Pilihan untuk rehabilitasi visual setelah pembedahan, seperti implan lensa

intraokuler, kontak lensa dan kacamata katarak (kacamata afakia).

4. Jumlah informasi yang dicari klien.

Obyektif :

1. Tidak terdapat tanda-tanda peradangan kecuali pada katarak komplikata yang

penyakit intra okulernya masih aktif.

2. Pada pemeriksaan penyinaran lensa tampak kelabu atau kekeruhan yang memutih.

3. Pada pemeriksaan optalmoskop pada jarak tertentu didapatkan kekeruhan yang

berwarna hitam dengan latar belakang berwarna merah.

4. Pada pemeriksaan refraksi meningkat. Pada penderita yang tadinya menderita

presbiopia kemudian menderita katarak, pada stadium awal dapat membaca tanpa

menggunakan kacamata baca.

5. Observasi terjadinya tanda-tanda glaucoma karena komplikasi katarak, tersering

adalah glaucoma seperti adanya rasa nyeri karena peningkatan TIO, kelainan lapang

pandang.

3.1.2 Pengkajian Post – Operasi

Data Subyektif

1. Nyeri

2. Mual

3. Diaporesis

4. Riwayat jatuh sebelumnya

5. Sistem pendukung, lingkungan rumah.

Data Obyektif

1. Perubahan tanda-tanda vital

2. Respon yang lazim terhadap nyeri.

3. Tanda-tanda infeksi :

- Oedema

- Kemerahan

- Infeksi kojunctiva (pembuluh darah konjunctiva menonjol).

- Drainase pada kelopak mata dan bulu mata.

- Zat purulen

- Peningkatan suhu

- Nilai lab : peningkatan leukosit, perubahan leukosit, hasil pemeriksaan kultur

sensitifitas abnormal.

4. Ketajaman penglihatan masing-masing mata

5. Kesiapan dan kemampuan untuk belajar dan menyerap informasi

3.2 DIAGNOSA

3.2.1 Diagnosa Pre – Operasi

1. Gangguan persepsi sensori penglihatan b.d distorsi penglihatan

2. Resti cidera b.d peningkatan TIO

3. Gangguan interpretasi terhadap warna b.d perubahan warna nucleus

4. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan

5. Potensial terhadap kurang perawatan diri b.d kerusakan penglihatan

3.2.2 Post-operatif

1. Resiko tinggi terhadap cedera b.d perdarahan intraokuler

2. Resiko tinggi infeksi b.d perawatan tidak aseptik

3. Nyeri b.d trauma pembedahan, peningkatan TIO, dan proses inflamasi

3.2.3 Intervensi Keperawatan

1. Gangguan persepsi sensori penglihatan b.d distorsi penglihatan.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan terjadi peningkatan

ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan

berkompensasi terhadap perubahan.

Kriteria Hasil :

a. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

b. Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

Intervensi :

a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat

R/ : untuk menentukan intervensi selanjutnya

b. Dorong dalam mengekspresikan penurunan ketajaman

R/ : agar penurunan penglihatan lanjut dapat dicegah

c. Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan,

misalnya dengan mendekatkan kebutuhan pasien

R/ : memungkinkan pasien melihat objek lebih dekat

d. Orientasikan pasien terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya

R/ : memberikan peningkatan kenyamanan

2. Ansietas b.d kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien menunjukkan

pemahaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.

Kriteria Hasil :

a. Menunjukkan pemahaman tentang penyakit

b. Dapat melakukan pengobatan secara teratur

Intervensi :

a. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa.

R/ : meningkatkan pemahaman pasien

b. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.

R/ : dapat bereaksi silang pada obat yang diberikan

c. Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien.

R/ : meningkatkan pehamaman pasien

d. Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan

saat defekasi, membongkok pada panggul, dll.

R/ : dapat meningkatkan TIO

e. Anjurkan klien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu dan menggunakan

kaca mata gelap saat keluar

R/ : mencegah cidera kecelakaan pada mata

f. Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-

tiba.

R/ : intervensi dini dapat mencegah terjadinya komplikasi.

3. Resiko tinggi terhadap cedera b.d peningkatan TIO

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami

cidera dan faham terhadap factor yang menyebabkan cidera.

Kriteria hasil :

a. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko

dan untuk melindungi diri dari cedera.

b. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.

Intervensi :

a. Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan

aktifitas, penampilan, balutan mata.

R/ : membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerjasama dalam

pembatasan yang diperlukan

b. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai

keinginan.

R/ : menurunkan tekanan pada mata yang sakit

c. Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata,

membongkok.

R/ : menurunkan TIO

d. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.

R/ : digunakan untuk melindungi dari cidera kecelakaan dan menurunkan gerakan

mata

e. Observasi pembengkakan lika, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.

R/ : menunjukkan prolaps iris atau rupture luka disebabkan oleh kerusakan

jahitan atau tekanan mata

f. Kolaborasi dengan memberikan obat sesuai indikasi.

R/ : untuk mengurangi gejala peningkatan TIO

4. Resiko tinggi infeksi b.d perawatan tidak aseptik

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi tidak

terjadi

Kriteria hasil :

a. Penyembuhan luka tepat waktu

b. Bebas drainase purulen

c. Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi ( tumor, rubor, dolor, kalor, fungsiolesa )

Intervensi :

a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebalum mengobati mata

R/ : menurunkan jumlah bakteri pada tangan

b. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata

R/ : teknik aseptic menurunkan resiko penyebaran bakteri

c. Tekankan pentingnya tidak menggaruk mata yang dioperasi

R/ : mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi

d. Observasi tanda infeksi, misalnya kelopak mata bengkak, kemerahan.

R/ : untuk menentukan intervensi yang tepat

e. Berikan obat sesuai indikasi, misalnya antibiotic

R/ : untuk mencegah infeksi

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Katarak merupakan gangguan pada lensa mata akibat dari hidrasi lensa atau

denaturasi protein ataupun keduanya yang berjalan secara progresif. Katarak ini sering

mengenai pada orang-orang usia produktif dan juga pada orang yang sudah lanjut usia, hal ini

mungkin terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan

terjadinya katarak seperti terkena pajanan sinar radiasi secara langsung dan berkala, trauma,

penyakit sistemik, adanya zat pathogen yang menginvasi dan juga kurangnya pengetahuan

terhadap bagaimana cara mencegahnya.

4.2 Saran

Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami konsep teori

lansia, konsep penyakit katarak dan asuhan keperawatan katarak pada lansia. Dengan

demikian, diharapkan nantinya pembaca dapat melakukan perawatan dan pengobatan

terhadap lansia dengan katarak.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Purwadianto. 2000. Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis. Jakarta :

Binarupa Aksara

Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 6.

Jakarta : EGC

………………………... 2000. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik.

Jakarta : EGC

Doengoes, Mariyln E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan

dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC

Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Jakarta : Gramedia

Sidarta Ilyas. 1997. Katarak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Tamim Radjamin RK, Dkk. 1993. Ilmu Penyakit Mata. Surabaya : Airlangga University

Press