21
1. DEFINISI FRAKTUR COSTAE Costae merupakan salah satu komponen pembentuk rongga dada yang memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap organ didalamnya dan yang lebih penting adalah mempertahankan fungsi ventilasi paru. Fraktur Costae adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang / tulang rawan yang disebabkan oleh rudapaksa pada spesifikasi lokasi pada tulang costae. Fraktur costae akan menimbulkan rasa nyeri, yang mengganggu proses respirasi, disamping itu adanya komplikasi dan gangguan lain yang menyertai memerlukan perhatian khusus dalam penanganan terhadap fraktur ini. Pada anak fraktur costae sangat jarang dijumpai oleh karena costae pada anak masih sangat lentur. 2. ETIOLOGI FRAKTUR COSTAE Costae merupakan tulang pipih dan memiliki sifat yang lentur. Oleh karena tulang ini sangat dekat dengan kulit dan tidak banyak memiliki pelindung, maka setiap ada trauma dada akan memberikan trauma juga kepada costae. Fraktur costae dapat terjadi dimana saja disepanjang costae tersebut.Dari keduabelas pasang costae yang ada, tiga costae pertama paling jarang mengalami fraktur hal ini disebabkan karena costae tersebut sangat terlindung. Costae ke 4-9 paling banyak mengalami fraktur, karena posisinya sangat terbuka dan memiliki pelindung yang sangat sedikit, sedangkan tiga costae terbawah yakni costae ke 10-12 juga jarang mengalami fraktur oleh karena sangat mobile. Secara garis besar penyebab fraktur costae dapat dibagi dalam 2 kelompok :

LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

1. DEFINISI FRAKTUR COSTAE

Costae merupakan salah satu komponen pembentuk rongga dada yang

memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap organ didalamnya dan

yang lebih penting adalah mempertahankan fungsi ventilasi paru.

Fraktur Costae adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang / tulang rawan

yang disebabkan oleh rudapaksa pada spesifikasi lokasi pada tulang costae.

Fraktur costae akan menimbulkan rasa nyeri, yang mengganggu proses respirasi,

disamping itu adanya komplikasi dan gangguan lain yang menyertai memerlukan

perhatian khusus dalam penanganan terhadap fraktur ini. Pada anak fraktur costae

sangat jarang dijumpai oleh karena costae pada anak masih sangat lentur. 

2. ETIOLOGI FRAKTUR COSTAE

Costae merupakan tulang pipih dan memiliki sifat yang lentur. Oleh karena

tulang ini sangat dekat dengan kulit dan tidak banyak memiliki pelindung, maka

setiap ada trauma dada akan memberikan trauma juga kepada costae. Fraktur

costae dapat terjadi dimana saja disepanjang costae tersebut.Dari keduabelas

pasang costae yang ada, tiga costae pertama paling jarang mengalami fraktur hal

ini disebabkan karena costae tersebut sangat terlindung. Costae ke 4-9 paling

banyak mengalami fraktur, karena posisinya sangat terbuka dan memiliki pelindung

yang sangat sedikit, sedangkan tiga costae terbawah yakni costae ke 10-12 juga

jarang mengalami fraktur oleh karena sangat mobile.

Secara garis besar penyebab fraktur costae dapat dibagi dalam 2 kelompok :

a. Disebabkan trauma

Trauma tumpul

Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur

costae antara lain: Kecelakaan lalulintas, kecelakaan pada pejalan kaki,

jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat

perkelahian.

Trauma Tembus

Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costae :Luka

tusuk dan luka tembak

Trauma tajam lebih jarang mengakibatkan fraktur iga, oleh karena luas

permukaan trauma yang sempit, sehingga gaya trauma dapat melalui sela

iga. Fraktur iga terutama pada iga IV-X (mayoritas terkena). Perlu diperiksa

Page 2: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

adanya kerusakan pada organ-organ intra-toraks dan intra abdomen.

Kecurigaan adanya kerusakan organ intra abdomen (hepar atau spleen) bila

terdapat fraktur pada iga VIII-XII. Kecurigaan adanya trauma traktus

neurovaskular utama ekstremitas atas dan kepala (pleksus brakhialis,

subklavia),bila terdapat fraktur pada iga I-III atau fraktur klavikula

b. Disebabkan bukan trauma

Yang dapat mengakibatkan fraktur costae ,terutama akibat gerakan

yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena

adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur,seperti pada gerakan

olahraga : Lempar martil, soft ball, tennis, golf.

3. KLASIFIKASI FRAKTUR COSTAE

a. Menurut jumlah costae yang mengalami fraktur dapat dibedakan :

Fraktur simple

Fraktur multiple

b. Menurut jumlah fraktur pada setiap costae dapat :

o Fraktur segmental

o Fraktur simple

o Fraktur comminutif

c. Menurut letak fraktur dibedakan :

o Superior (costae 1-3 )

o Median (costae 4-9)

o Inferior (costae 10-12 ).

d. Menurut posisi :

o Anterial

o Lateral

o Posterior.

e. Fraktur costae atas (1-3) dan fraktur Skapula

o Akibat dari tenaga yang besar

o Meningkatnya resiko trauma kepala dan leher, spinal cord, paru,

pembuluh darah besar

o Mortalitas sampai 35%.

f. Fraktur Costaee tengah (4-9) :

o Peningkatan signifikansi jika multiple. Fraktur kosta simple tanpa

komplikasi dapat ditangani pada rawat jalan.

Page 3: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

o MRS jika pada observasi

o Penderita dispneu

o Mengeluh nyeri yang tidak dapat dihilangkan

o Penderita berusia tua

Memiliki preexisting lung function yang buruk.

g. Fraktur Costaee bawah (10-12) :

Terkait dengan resiko injury pada hepar dan spleen

4. PATOFISIOLOGI FRAKTUR COSTAE

Fraktur costae dapat terjadi akibat trauma yang datangnya dari arah

depan,samping ataupun dari arah belakang.Trauma yang mengenai dada biasanya

akan menimbulkan trauma costae,tetapi dengan adanya otot yang melindungi

costae pada dinding dada,maka tidak semua trauma dada akan terjadi fraktur

costae.

Pada trauma langsung dengan energi yang hebat dapat terjadi fraktur

costae pada tempat traumanya .Pada trauma tidak langsung, fraktur costae dapat

terjadi apabila energi yang diterimanya melebihi batas tolerasi dari kelenturan

costae tersebut.Seperti pada kasus kecelakaan dimana dada terhimpit dari depan

dan belakang,maka akan terjadi fraktur pada sebelah depan dari angulus

costae,dimana pada tempat tersebut merupakan bagian yang paling lemah.

Fraktur costae yang “displace” akan dapat mencederai jaringan sekitarnya

atau bahkan organ dibawahnya.Fraktur pada costae ke 4-9 dapat mencederai

a.intercostaelis ,pleura visceralis,paru maupun jantung ,sehingga dapat

mengakibatkan timbulnya hematotoraks,pneumotoraks ataupun laserasi jantung.

5. MANIFESTASI KLINIS FRAKTUR COSTAE

a. Sesak napas

Pada fraktur costae terjadi pendorongan ujung-ujung fraktur masuk

ke rongga pleura sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan struktur dan

jaringan pada rongga dada lalu dapat terjadi pneumothoraks dan

hemothoraks yang akan menyebabkan gangguan ventilasi sehingga

menyebabkan terjadinya sesak napas.

b. Tanda-tanda insuffisiensi pernapasan: Sianosis, takipnea

Pada fraktur costae terjadi gangguan pernapasan yang disertai

meningkatnya penimbunan CO2 dalam darah (hiperkapnia) yang

bermanifestasi menjadi sianosis.

Page 4: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

c. Nyeri tekan pada dinding dada

Pada fraktur costae terjadi pendorongan ujung-ujung fraktur masuk

ke rongga pleura sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan struktur dan

jaringan pada rongga dada dan terjadi stimulasi pada saraf sehingga

menyebabkan terjadinya nyeri tekan pada dinding dada.

d. Kadang akan tampak ketakutan dan kecemasan

Rasa takut dan cemas yang dialami pada pasien fraktur costae

diakibatkan karena saat bernapas akan bertambah nyeri pada dada.

e. Adanya gerakan paradoksal

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK FRAKTUR COSTAE

a. Rontgen standar

Rontgen thorax anteroposterior dan lateral dapat membantu

diagnosis hematothoraks dan pneumothoraks ataupun contusio pulmonum,

mengetahui jenis dan letak fraktur costaee. Foto oblique membantu

diagnosis fraktur multiple pada orang dewasa. Pemeriksaan Rontgen toraks

harus dilakukan untuk menyingkirkan cedera toraks lain, namun tidak perlu

untuk identifikasi fraktur iga.

b. EKG

c. Monitor laju nafas, analisis gas darah

d. Pulse oksimetri

7. PENATALAKSANAAN FRAKTUR COSTAE

Berdasarkan letak fraktur maka dapat dibagi menjadi:

a. Fraktur 1-2 iga tanpa adanya penyulit/kelainan lain : konservatif (analgetika)

b. Fraktur >2 iga : waspadai kelainan lain (edema paru, hematotoraks,

pneumotoraks)

c. Penatalaksanaan pada fraktur iga multipel tanpa penyulit pneumotoraks,

hematotoraks, atau kerusakan organ intratoraks lain, adalah:

• Analgetik yang adekuat (oral/ iv / intercostael block)

• Bronchial toilet

• Cek Lab berkala : Hb, Ht, Leko, Tromb, dan analisa gas

darah

• Cek Foto Ro berkala

Page 5: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

Dengan blok saraf interkostal, yaitu pemberian narkotik ataupun relaksan

otot merupakan pengobatan yang adekuat. Pada cedera yang lebih hebat,

perawatan rumah sakit diperlukan untuk menghilangkan nyeri, penanganan batuk,

dan pengisapan endotrakeal.

Berdasarkan tahapan penatalaksanaan:

A. PRIMARY SURVEY

o Airway dengan kontrol servikal

Penilaian:

o Perhatikan patensi airway (inspeksi, auskultasi, palpasi)

o Penilaian akan adanya obstruksi

Management:

o Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line

immobilisasi

o Bersihkan airway dari benda asing.

B. Breathing dan ventilasi

Penilaian

Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan kontrol

servikal in-line immobilisasi

Tentukan laju dan dalamnya pernapasan

Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan

terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks simetris atau tidak,

pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera lainnya.

Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor

Auskultasi thoraks bilateral

Management:

Pemberian oksigen

Pemberian analgesia untuk mengurangi nyeri dan membantu

pengembangan dada: Morphine Sulfate. Hidrokodon atau kodein yang

dikombinasi denganaspirin atau asetaminofen setiap 4 jam.

Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat

akibat fraktur costaee

Bupivakain (Marcaine) 0,5% 2 sampai 5 ml, diinfiltrasikan di

sekitar n. interkostalis pada costae yang fraktur serta costae-costae di

atas dan di bawah yang cedera. Tempat penyuntikan di bawah tepi

Page 6: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

bawah costae, antara tempat fraktur dan prosesus spinosus. Jangan

sampai mengenai pembuluh darah interkostalis dan parenkim paru

Pengikatan dada yang kuat tidak dianjurkan karena dapat membatasi

pernapasan.

C. Circulation dengan kontrol perdarahan

Penilaian

Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal

Mengetahui sumber perdarahan internal

Periksa nadi: kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus.

Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda

diperlukannya resusitasi masif segera.

Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.

Periksa tekanan darah

Management:

o Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal

o Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel

darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, golongan darah dan

cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).

o Beri cairan kristaloid 1-2 liter yang sudah dihangatkan dengan tetesan

cepat

o Transfusi darah jika perdarahan masif dan tidak ada respon os

terhadap pemberian cairan awal.

o Pemasangan kateter urin untuk monitoring indeks perfusi jaringan.

D. Disability

o Menilai tingkat kesadaran memakai GCS

o Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, refleks cahaya dan awasi

tanda-tanda lateralisasi.

E. Exposure/environment

o Buka pakaian penderita

o Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan temapatkan pada

ruangan yang cukup hangat.

Tambahan primary survey

o Pasang monitor EKG

Page 7: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

o Kateter urin dan lambung

o Monitor laju nafas, analisis gas darah

o Pulse oksimetri

Pemeriksaan rontgen standar

Lab darah

Resusitasi fungsi vital dan re-evaluasi

Penilaian respon penderita terhadap pemberian cairan awal

Nilai perfusi organ (nadi, warna kulit, kesadaran, dan produksi urin)

serta awasi tanda-tanda syok.

SECONDARY SURVEY

o Anamnesis à AMPLE dan mekanisme trauma

o Pemeriksaan fisik

Kepala dan maksilofasial

Vertebra servikal dan leher

Thorax

Abdomen

Perineum

Musculoskeletal

Neurologis

Reevaluasi penderita

Rujuk

o Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu menangani pasien karena

keterbatasan SDM maupun fasilitas serta keadaan pasien yang masih

memungkinkan untuk dirujuk.

o Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan, dan kebutuhan penderita

selama perjalanan serta komunikasikan dnegan dokter pada pusat rujukan

yang dituju.

6. Penatalaksanaan umum untuk fraktur

Prinsip penanganan pada fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan

pengembalian fungsi serta kekuatan normal dengan rehabilitasi.

a. Reduksi

Reduksi adalah usaha dan tindakan memanipulasi atau

mengembalikan fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk

Page 8: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

kembali seperti letak asalnya. Metode untuk mencapai reduksi fraktur adalah

dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka. Metode yang dipilih

untuk reduksi fraktur bergantung pada sifat frakturnya.

Pada fraktur iga digunakan reduksi terbuka dengan fiksasi interna

yang digunakan dengan menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah

dengan operatif untuk menghindari cacat permanen. Alat fiksasi interna yang

digunakan berupa pin, kawat, sekrup, plat. Indikasi Operasi (stabilisasi)

pada flail chest bersamaan dengan Torakotomi karena sebab lain seperti

hematotoraks.

b. Imobilisasi

Imobilisasi digunakan dengan mempertahankan dan mengembalikan

fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi

penyatuan, untuk itu pasien dengan fraktur iga dianjurkan untuk tidak

melakukan aktivitas fisik untuk sementara waktu. Perawat berpartisipasi

membantu segala aktivitas perawatan mandiri pasien. Pada fraktur iga tidak

dianjurkan dilakukan pembebatan karena dapat mengganggu mekanisme

bernapas.

a. Rehabilitasi

Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan, mengoptimalkan serta

stabilisasi fungsi organ selama masa imobilisasi. Bersama ahli fisioterapi

secara bertahap dilakukan aktifitas fisik yang ringan hingga tahap pemulihan

fungsi organ terjadi.

Page 9: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

8. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR COSTAE

A. Diagnosa Keperawatan

a) Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera

jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.

b) Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera

vaskuler, edema, pembentukan trombus)

c) Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan

membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)

d) Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi

restriktif (imobilisasi)

e) Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen,

kawat, sekrup)

f) Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit,

taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)

g) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan

b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan

kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada

B. Intervensi Keperawatan

a) Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera

jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.

Tujuan:    Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan

menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur,

istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan

aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

Page 10: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

1.  Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat dan atau traksi.

2.  Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena.

3.  Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif.

4.  Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi)

5.  Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas dipersional)

6.  Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan.

7.  Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.

8. Evaluasi keluhan nyeri (skala, petunjuk verbal dan non verval, perubahan tanda-tanda vital)

1. Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi.

2. Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/nyeri.

3. Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler.

4. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot.

5. Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama.

6. Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri.

7. Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer.

8. Menilai perkembangan asuhan keperawatan dan adanya masalah lain pada klien

b) Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah

(cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)

Tujuan   : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria

akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara aktif

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1.    Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera.

2.    Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat.

3.    Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen.

4.    Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan.

5.    Pantau kualitas nadi perifer, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan kulit

1. Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi.

2. Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk.

3. Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi.

4. Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan trombus vena.

Page 11: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

distal cedera, bandingkan dengan sisi yang normal.

5. Mengevaluasi perkembangan masalah klien dan perlunya intervensi sesuai keadaan klien.

c) Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli,

perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru,

kongesti)

Tujuan     :   Klien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi

dengan kriteria klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam

batas normal

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1.    Instruksikan/bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif.

2.    Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien.

3.    Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin, heparin) dan kortikosteroid sesuai indikasi.

4.    Analisa pemeriksaan gas darah, Hb, kalsium, LED, lemak dan trombosit

5.    Evaluasi frekuensi pernapasan dan upaya bernapas, perhatikan adanya stridor, penggunaan otot aksesori pernapasan, retraksi sela iga dan sianosis sentral.

1. Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.

2. Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti paru.

3. Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan tromboemboli. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak.

4. Penurunan PaO2 dan peningkatan PCO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas; anemia, hipokalsemia, peningkatan LED dan kadar lipase, lemak darah dan penurunan trombosit sering berhubungan dengan emboli lemak.

5. Adanya takipnea, dispnea dan perubahan mental merupakan tanda dini insufisiensi pernapasan, mungkin menunjukkan terjadinya emboli paru tahap awal.

d) Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri,

terapi restriktif (imobilisasi)

Tujuan   :   Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada

tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional

meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh

menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

Page 12: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

1.    Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio, koran, kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien.

2.    Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien.

3.    Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi.

4.    Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien.

5.    Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.

6.    Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari.

7.    Berikan diet TKTP.

8.    Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi.

9.    Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi.

1. Memfokuskan perhatian, meningkatakan rasa kontrol diri / harga diri, membantu menurunkan isolasi sosial.

2. Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi.

3. Mempertahankan posis fungsional ekstremitas.

4. Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien.

5. Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, penumonia)

6. Mempertahankan hidrasi adekuat, men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi.

7. Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mem-pertahankan fungsi fisiologis tubuh.

8. Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual.

9. Menilai perkembangan masalah klien.

e) Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi

(pen, kawat, sekrup)

Tujuan   :   Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan

perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan

sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi

terjadi

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

Page 13: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

1.     Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit).

2.      Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips.

3.     Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal

4.      Observasi keadaan kulit, penekanan gips / bebat terhadap kulit, insersi pen / traksi.

1. Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas.

2. Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif konstan pada imobilisasi.

3. Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal.

4. Menilai perkembangan terhadap masalah klien.

f) Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan

kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang

Tujuan   :   Klien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas

drainase purulen atau eritema dan demam

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1.    Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protokol

2.    Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen.

3.    Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi.

4.    Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah lengkap, LED, Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang)

5.      Observasi tanda-tanda vital dan  tanda-tanda peradangan lokal pada luka.

1. Mencegah infeksi sekunderdan mempercepat penyembuhan luka.

2. Meminimalkan kontaminasi.

3. Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus.

4. Leukositosis biasanya terjadi pada proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi.

5. Mengevaluasi perkembangan masalah klien.

Page 14: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

g) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

Tujuan     :   klien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1.      Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran.

2.      Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik.

3.      Ajarkan tanda/gejala klinis yang memerluka evaluasi medik (nyeri berat, demam, perubahan sensasi kulit distal cedera)

4.      Persiapkan klien untuk mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan.

1. Efektivitas proses pemeblajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program pembelajaran.

2. Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik.

3. Meningkatkan kewaspadaan klien untuk mengenali tanda / gejala dini yang memerulukan intervensi lebih lanjut.

4. Upaya pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi maslaha sesuai kondisi klien.

Page 15: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR COSTAE

Untuk Memenuhi Tugas Profesi

Departemen Keperawatan Gawat Darurat

RSU Dr. Saiful Anwar, Malang

Oleh:

Adinda Mawada Rahma

NIM. 140070300011174

Page 16: LP TRAUMA FRAKTUR COSTAE FIX dinda.docx

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015