of 22 /22
GAGAL GINJAL AKUT (GGA) A . Konsep Dasar 1. Pengertian Gagal ginjal akut adalah sekumpulan gejala yang mengakibatkan disfungsi ginjal secara mendadak atau penurunan fungsi ginjal secara tiba – tiba yang biasanya, tapi tidak seluruhnya reversible (Nursalam, 2006 : 47). Gagal ginjal akut (GGA) adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) laju filtrasi glumerulus, disertai akumulasi nitrogen sisa metabolisme (ureum dan kreatinin) (FKUI, 2001 : 427). 1. Etiologi Diklasifikasikan dalam 3 kelompok, yaitu : a. Praginjal atau sirkulasi. Terjadi akibat kurangnya perfusi ginjal dan perbaikan dapat terjadi dengan cepat setelah kelainan tersebut diperbaiki, misalnya hipovolemia atau hipotensi, penurunan curah jantung, dan peningkatan viskositas darah. b. Pascaginjal atau obstruksi. Terjadi akibat obstruksi aliran urine, misalnya obstruksi pada kandung kemih, uretra, kedua ureter, dan sebagainya. 1

LP Gagal Ginjal Akut

  • Author
    bi-ly

  • View
    108

  • Download
    14

Embed Size (px)

DESCRIPTION

LP Gagal Ginjal Akut

Text of LP Gagal Ginjal Akut

AKUT RENAL FAILURE (ARF)

GAGAL GINJAL AKUT (GGA)A .Konsep Dasar

1.Pengertian

Gagal ginjal akut adalah sekumpulan gejala yang mengakibatkan disfungsi ginjal secara mendadak atau penurunan fungsi ginjal secara tiba tiba yang biasanya, tapi tidak seluruhnya reversible (Nursalam, 2006 : 47).

Gagal ginjal akut (GGA) adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) laju filtrasi glumerulus, disertai akumulasi nitrogen sisa metabolisme (ureum dan kreatinin) (FKUI, 2001 : 427).

1. Etiologi

Diklasifikasikan dalam 3 kelompok, yaitu :

a. Praginjal atau sirkulasi. Terjadi akibat kurangnya perfusi ginjal dan perbaikan dapat terjadi dengan cepat setelah kelainan tersebut diperbaiki, misalnya hipovolemia atau hipotensi, penurunan curah jantung, dan peningkatan viskositas darah.

b. Pascaginjal atau obstruksi. Terjadi akibat obstruksi aliran urine, misalnya obstruksi pada kandung kemih, uretra, kedua ureter, dan sebagainya.

c. Ginjal atau intrinsik atau parenkimal akibat penyakit pada ginjal atau pembuluhnya. Terdapat kelainan histology dan kesembuhan tidak terjadi dengan segera pada perbaikan factor praginjal atau obstruksi, misalnya nekrosis tubular akut, nekrosis kortikal akut, obstruksi vaskular akut, dan nefrektomi.2. Patofisiologi

Hilangnya fungsi ginjal secara mendadak dan hampir lengkap akibat kegagalan sirkulasi renal atau disfungsi tubulus dan glomerulus yang dimanifestasikan dengan anuria (urine kurang dari 50 ml/24 jam), oliguria (urine kurang dari 400-500 ml/24 jam), peningkatan konsentrasi serum urea (azotermia) atau BUN, kreatinin serum, hiperkalemia, dan retensi sodium

3. Manifestasi Klinis Pasien tampak sangat menderita dan letargi disertai mual persisten, muntah, dan diare.

Kulit dan membran mukosa kering akibat dehidrasi, dan napas mungkin berbau urine (feto uremik).

Manifestasi sistem saraf (lemah, sakit kepala, kedutan otot, dan kejang).

Perubahan pengeluaran produksi urine (sedikit, dapat mengandung darah, BJ sedikit rendah, yaitu 1.010).

Peningkatan BUN (tetap), kadar kreatinin, dan laju endap darah (LED) tergantung katabolisme (pemecahan protein), perfusi renal, serta asupan protein. Serum kreatinin meningkat pada kerusakan glomerulus.

Hiperkalemia akibat penurunan laju filtrasi glomerulus serta katabolisme protein menghasilkan pelepasan kalium seluler ke dalam cairan tubuh.

Asidosis metabolik akibat oliguria akut sehingga pasien tidak dapat mengeliminasi muatan metabolikseperti substansi jenis asam yang dibentuk oleh proses metabolik normal.

Abnormalitas Ca++ dan PO4. Peningkatan serum fosfat mun gkin terjadi. Serum kalsium mungkin menurun sebagai respons terhadap penurunan absorpsi kalsium di usus dan sebagai mekanisme kompensasi terhadap peningkatan kadar serum fosfat.

Anemia terjadi akibat penurunan produksi eritropoietin, lesi saluran pencernaan, penurunan usia eritrosit, dan kehilangan darah (biasanya dari saluran pencernaan).

Pemeriksaan Diagnostik

Urinalisis-proteinuria, hematuria, dan berwarna buram.

Peningkatan serum kreatinin dan BUN.

Pemeriksaan kimia urine untuk membedakan berbagai bentuk gagal ginjal akut.

USG untuk memperkirakan ukuran ginjal dan memungkinkan perbaikan sumbatan uropati.

B.Manajement Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).

Pengkajian pada pasien dengan gagal ginjal akut menurut Marilynn E. Doenges (1999) adalah :a) Aktivitas / istirahat

Gejala :kelemahan ekstrem, kelemahan, malise.

Tanda:kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.

b) Sirkulasi

Gejala: riwayat hipertensi lama/berat. Palpitasi ; nyeri dada (angina).

Tanda :hipertensi ; DJV, nadi kuat edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak tangan. Disritmia jantung, nadi lemah halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemia, yang jarang pada penyakit tahap akhir. Friction rub pericardial (respons terhadap akumulasi sisa). Pucat ; kulit coklat kehijauan, kuning. Kecenderungan perdarahan.

c) Integritas ego

Gejala :factor stress, contoh ; finansial, hubungan dan sebagainya.

Tanda :menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.

d) Eleminasi

Gejala:penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, (gagal tahap lanjut).

Tanda :perubahan warna urine, contoh ; kuning pekat, merah, coklat, berawan. Oliguria ; dapat menjadi anuria.

e) Makanan/cairan

Gejala:peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan malnutrisi). Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia), penggunaan diuretic.

Tanda:distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir). Perubahan turgor kulit/kelembaban. Edema (umum, tergantung). Ulserasi gusi, perdarahan gusi, perdarahan gusi/lidah. Penurunan otot, penurunan lemak subcutan, penampilan tak bertenaga.

f) Neurosensori

Gejala:sakit kepala, penglihatan kabur. Kram otot/kejang ; syndrome kaki gelisah, kebas, rasa terbakar pada telapak kaki. Kebas/kesemutan dan kelemahan, khususnya extremitas bawah (neuropati perifer).

Tanda :gangguan status mental, penurunan DTR, tanda Chvostek dan trousseau positif, kejang, fasikulasi otot, rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.

g) Nyeri/kenyamanan

Gejala:nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari)

Tanda:perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah.

h) Pernapasan

Gejala:napas pendek, dispnea nocturnal paroxysmal; batuk dengan/tanpa sputum kental dan banyak.

Tanda:takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi/kedalaman pernapasan (pernapasan kussmaul). Batuk produktif dengan sputum merah muda-encer (edema paru).

i) Keamanan

Gejala:kulit gatal, ada/berulangnya infeksi.

Tanda:pruritis, demam, ptekie, fraktur tulang (defosit fosfat kalsium.

j) Interaksi social

Gejala:kesulitan menentukan kondisi, contoh : tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi/peran biasanya dalam keluarga.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).

1) Diagnosa keperawatan NANDA pada pasien dengan Gagal Ginjal Akut menurut Judith M. Wilkinson (2006 : 614-616) adalah :

a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan asupan cairan akibat kelebihan asupan natrium, retensi natrium, hiperglikemia, ketidakpatuhan terhadap pembatasan cairan, pertukaran antara darah dan dialisat.

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/keletihan akibat anemia, ketidakadekuatan oksigenasi akibat komplikasi jantung dan paru.

c. Ketakutan berhubungan dengan stressor lingkungan/hospitalisasi, ketidakberdayaan, ancaman nyata/imajiner, terhadap kesejahteraaan diri.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan, mual/muntah, pembatasan diet, stomatitis.

e. Defisit perawatan diri berhubungan dengan depresi, nyeri/ketidaknyamanan, intoleransi aktivitas, kerusakan neuromuscular/muskuloskletal.

f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema, kulit kering, pruritus, gangguan sirkulasi vena akibat pembedahan pembuatan akses darah hemodialisis.

3. Intervensi / Implementasi

Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20)

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).

Intervensi/implementasi pada pasien dengan Gagal Ginjal Akut (Wilkinson, 2006) :

a. Kelebihan volume cairan adalah kondisi peningkatan retensi cairan isotonic pada seorang individu.

Tujuan : cairan, elektrolit dan asam basa tubuh dalam keadaan seimbang.

Criteria hasil : -kelebihan volume cairan dapat dikurangi yang dibuktikan dengan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa, dan indicator hidrasi yang adekuat.

-keseimbangan asupan dan haluaran selama 24 jam.

-berat badan stabil.

-lingkar perut normal (ascites tidak ada/berkurang).

-pemeriksaan laboratorium urine dalam batas normal.

Intervensi dan Implementasi

Kaji dan tentukan lokasi adanya edema.

R:edema merupakan kelebihan (air dan natrium) dalam ruang ekstraseluler.

Kaji komplikasi pulmoner dan atau kardiovaskuler yang diindikasikan dengan meningkatnya frekuensi nadi, tekanan darah, bunyi jantung, abnormal dan atau bunyi napas tidak normal.

R: kelebihan volume cairan tubuh mempengaruhi kerja jantung dan bisa terjadi edema paru.

Kaji edema ekstremitas atau bagian tubuh terhadap ganguan sirkulasi dan integritas kulit.

R: edema bagian ekstremitas memerlukan pilihan intervensi yang tepat, penekanan yang lama terhadap edema dapat merusak integritas kulit, juga bahan buangan metabolisme sebagian dibuang melalui keringat.

Pantau secara teratur lingkar abdomen atau tungkai bawah.

R: mengidentifikasi perubahan status kelebihan cairan.

Tinggikan ekstremitas yang mengalami edema.

R : meningkatkan aliran balik vena.

Ubah posisi secara periodic.

R:menghindari penekanan pada kulit terlalu lama, meningkatkan kenyamanan.

Pertahankan keakuratan catatan asupan dan haluaran.

R : memantau perkembangan pengelolaan cairan tubuh yang relevan.

Timbang berat badan setiap hari.

R: memantau kemajuan pengelolaan cairan.

Pantau hasil laboratorium yang relevan terhadap retensi cairan (misal; perubahan elektrolit, peningkatan berat jenis urine, peningkatan BUN, penurunan hematokrit dan peningkatan osmolalitas urin).

R:memantau kemajuan pengolaan cairan.

Anjurkan pasien membatasi masukan dan haluaran cairan jika di indikasikan.

R: mengelola dan mengendalikan keseimbangan cairan tubuh.

Kolaborasi pemberian diueretik.

R:meningkatkan haluaran adekuat, mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.

b. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaan individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas kehidupan sehari-hari yang di inginkan.

Tujuan : pasien mampu mempertahankan/meningkatkan aktivitas optimal.

Criteria hasil : -mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan, penghematan energi dan perawatan diri : aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).

-menyadari dan dapat menerima keterbatasan energi untuk beraktivitas.

-dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.

-mempertahankan/meningkatkan AKS optimal.

Intervensi dan Implementasi

Kaji respons emosi, social dan spiritual terhadap aktivitas.

R : mengidentifikasi factor pendorong aktivitas optimal.

Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas optimal.

R:motivasi pasien adalah factor pendukung utama dalam upaya peningkatan aktivitas optimal.

Pantau respons kardiorespiratori terhadap aktivitas (missal; takikardia, disritmia, dispnea, diaforesis, pucat dan frekuensi respirasi).

R: respons tersebut merupakan factor yang membatasi aktivitas, dan indicator terjadinya kelelahan pada keadaan aktivitas, jika ditemukan maka segera anjurkan pasien untuk beristirahat.

Pantau asupan nutrisi yang dikonsumsi pasien setiap hari.

R: memastikan keadekuatan sumber-sumber energi.

Pantau/dokumentasikan pola istirahat pasien dan lamanya waktu tidur.

R: perubahan pola istirahat, kurangnya kualitas dan kuantitas tidur dapat mengakibatkan keletihan dan kurangnya rentang perhatian.

Ajarkan penggunaan teknik relaksasi selama istirahat (distraksi).

R : meningkatkan kenyamanan, mengurangi kelelahan.

Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu antara istirahat dan aktivitas.

R : menghemat energi, mencegah kelelahan.

Bantu pasien untuk mengubah posisi secara berkala (misal; bersandar, berdiri, duduk, dan ambulansi yang dapat ditoleransi).

R : melatih aktivitas ringan secara bertahap, menghindari kekakuan dan atrofi otot.

Kolaborasi pemberian obat anti nyeri sebelum aktivitas.

R: meningkatkan kenyamanan.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan makanan/diet.

R : meningkatkan nutrisi, menambah energi.

c. Ketakutan berhubungan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan bahaya nyata.

Tujuan :pasien akan memperlihatkan pengendalian/control ketakutan.

Criteria hasil : -mencari informasi untuk menurunkan ketakutan.

-menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan ketakutan.

-mempertahankan penampilan peran dan hubungan sosial.

Intervensi dan Implementasi

Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien.

R: mengidentifikasi sumber ketakutan, memudahkan intervensi.

Kaji nilai pemahaman pasien terhadap proses penyakitnya.

R : mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan kemampuan persepsi pasien.

Jelaskan semua pemeriksaan dan pengobatan untuk pasien/keluarga.

R : meningkatkan pengetahuan tentang penyakit mengurangi ansietas.

Sering berikan penguatan yang positif.

R : membantu mengurangi /menurunkan ketakutan.

Sampaikan penerimaan terhadap persepsi ketakutan pasien.

R : mendukung komunikasi terbuka mengenai sumber ketakutan.

Bantu pasien dalam membangun penilaian yang objektif terhadap suatu peristiwa.

R : menciptakan persepsi positif terhadap kejadian/keadaan, mengurangi ketakutan/kecemasan.

Dukung sikap harapan yang realistis.

R : sebagai suatu cara mengatasi perasaan tidak berdaya.

Kaji kebutuhan akan layanan social dan /atau intervensi psikiatrik.

R : kelompok social mungkin memiliki keberhasilan dalam mengatasi pengalaman yang sama, psikiatri diperlukan untuk mengatasi ketakutan yang berat.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah keadaan individu yang mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

Tujuan :mempertahankan/meningkatkan asupan zat gizi dengan nilai laboratorium normal.

Criteria hasil : -pasien akan memperlihatkan perilaku mempertahankan atau meningkatkan berat badan dengan nilai laboratorium normal.

-pasien mengerti dan mengikuti anjuran diet.

-melaporkan peningkatan intake makanan.

-tidak ada mual/muntah.

Intervensi dan Implementasi

Kaji dan dokumentasikan masukkan makanan, frekuensi makan, jumlah dan jenis makanan.

R : mengidentifikasi perubahan pola makan, memudahkan intervensi.

Kaji dan catat adanya keluhan mual dan muntah.

R : mengidentifikaasi factor penyebab.

Tanyakan mengenai makanan kesukaan pasien.

R : penyajian makanan yang disukai akan mempengaruhi ketertarikan terhadap makanan (hindari makanan yang di kontraindikasikan).

Timbang berat badan pada interval yang tepat.

R : mengetahui perkembangan massa tubuh.

Tawarkan makanan sedikit dengan frekuensi yang sering.

R : meningkatkan intake makanan, mengurangi kontraksi lambung secara berlebih.

Konsultasikan dengan dokter kebutuhan multivitamin, makanan pelengkap, pemberian makanan melalui slang, nutrisi parenteral total.

R : multivitamin merupakan stimulasi untuk meningkatkan nafsu makan, mempertahankan intake nutrisi adekuat.

Kolaborasi ahli gizi untuk pemenuhan jumlah dan jenis makanan yang dibutuhkan dalam diet.

R : pasien dengan kondisi penyakit tertentu membutuhkan pilihan diet yang tepat agar nutrisi tetap adekuat.

e. Defisit perawatan diri adalah seseorang yang mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, makan, dan toileting.

Tujuan :mempertahankan/meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.

Criteria hasil : -pasien menunjukkan sikap mempertahankan AKS optimal.

-perubahan nilai indicator AKS (0-4).

0= mandiri penuh.

1 = membutuhkan alat Bantu.

2 = membutuhkan pertolongan orang lain untuk bantuan, pengawasan, pendidikan.

3 = membutuhkan pertolongan orang lain dan alat bantu.

4 =ketergantungan, tidak dapat berpartisispasi.Intervensi dan Implementasi

Kaji dan dokumentasikan kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari.

R : mengidentifikasi batas kemampuan AKS optimal.

Kaji kemampuan untuk menggunakan alat bantu.

R : menilai tingkat fungsional pasien terhadap aktivitas.

Pantau peningkatan atau penurunan kemampuan untuk beraktivitas.

R : memudahkan intervensi terhadap bantuan AKS sesuai kebutuhan pasien.

Pantau deficit sensori, kognitif atau fisik.

R : deficit dapat menjadi penyulit dalam pemenuhan AKS.

Dukung kemandirian dalam melakukan AKS.

R : motivasi akan meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam melakukan AKS optimal .

Libatkan keluarga dalam penentuan rencana.

R : meningkatkan kerjasama dan hubungan saling percaya dalam penentuan kebutuhan AKS pasien, mengidentifikasi bagian mana yang merupakan mandiri dan tergantung.

Ajarkan keluarga pasien tentang bantuan AKS yang diperlukan psien (mandi, makan, berpakaian, toileting).

R : meningkatkan teknik perawatan mandiri.

Berikan bantuan AKS sesuai keperluan.

R : bantuan diberikan hanya pada bagian yang tidak mampu dilakukan, mempertahankan dan meningkatkan AKS optimal secara bertahap.

f. Kerusakan integritas kulit adalah suatu kondisi seorang individu yang mengalami perubahan dermis dan atau epidermis.

Tujuan : menunjukkanintegritas jaringan : kulit dan membrane mukosa mengalami keutuhan structural dan fungsi fisiologis normal.

Criteria hasil : -suhu, elastisitas, hidrasi, pigmentasi dan warna jaringan dalam rentang yang diarapkan.

-terbebas dari adanya lesi jaringan.

-resolusi pada daerah sekitar eritema kulit.

Intervensi dan Implementasi

Inspeksi dan catat keadaan kulit, adanya dan luasnya lesi, sifat dan karakteristik .

R : memudahkan intervensi.

Observasi ada/tidaknya jaringan nekrotik, jelaskan warna dan bau.

R : memudahkan intervensi.

Kaji ada/tidaknya tanda-tanda infeksi luka local (misalnya ; nyeri palpasi, edema, pruritus, indurasi, hangat, bau busuk, esker dan eksudat).

R : mengidentifikasi gejala, memudahkan intervensi.

Miringkan dan atur posisi kembali secara sering.

R : menghindari penekanan yang terlalu lama pada kulit, menghindari iritasi kulit.

Kaji kebersihan lingkungan, pertahankan sprei bersih dan bebas kerutan.

R : ketika pasien berkeringat, maka akan menempel pada sprei, jika tidak bersih maka kulit akan terus terpajan kelembaban yang berlebihan sehingga dapat mengiritasi kulit.

Anjurkan pasien dan keluarga untuk menjaga kebersihan personal.

R : kebersihan personal mendukung penyembuhan lesi kulit.

Konsultasikan dengan dokter pemberian obat-obatan topikal.

R : mengurangi lesi, eritema dan gatal kulit.

4. Evaluasi

Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan gagal ginjal akut adalah :

Cairan, elektrolit dan asam basa tubuh dalam keadaan seimbang.

Pasien mampu mempertahankan/meningkatkan aktivitas optimal.

Pasien akan memperlihatkan pengendalian/control ketakutan.

Mempertahankan/meningkatkan asupan zat gizi dengan nilai laboratorium normal.

Mempertahankan/meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.

Menunjukkan integritas jaringan : kulit dan membrane mukosa mengalami keutuhan structural dan fungsi fisiologis normal.

YAYASAN EKA HARAP PALANGKARAYA

AKADEMI KEPERAWATANJL. BELIANG NO. 110 Telp/Fax (0536) 3227707

E-Mail : [email protected]

RESUME

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB) III

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GAGAL GINJAL AKUT DOSEN PENGAJAR : KRISTIN ROSELA, SST

DISUSUN OLEH :

MARDINATAPALANGKA RAYA

2006/2007

DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta : Sagung Seto.

Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

DR. Nursalam, M.Nurs (Hons). 2006. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.

Effendy, Nasrul. 1995. Pengantar Proses Perawatan. Jakarta : EGC.

FKUI. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : FKUI.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Kperawatan Ed.7. Jakarta : EGC.

PAGE 17